Panen Brambang Melimpah, Warga Sidoharjo Pati Nanggap Wayang Kulit

Dalang asal Solo, Ki Bayu Aji Pamungkas saat memainkan wayang di Desa Sukoharjo, Wedarijaksa, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Warga Desa Sidoharjo, Kecamatan Wedarijaksa, Pati memanfaatkan momen akhir bulan Apit dalam kalender Jawa untuk mengagendakan bersih desa dengan wayang kulit.

Pagelaran itu sekaligus menjadi wujud rasa syukur petani setempat karena panen bawang merah yang melimpah.

Kepala desa setempat, Bogi Yulistanto mengatakan, komoditas utama yang dihasilkan petani di Desa Sidoharjo adalah bawang merah dan padi. Karena itu, padi dan brambang diikat di atas panggung pada pagelaran wayang kulit agar pertanian warga diberkahi.

“Kondisi bawang merah cukup bagus, tapi harganya yang saat ini masih kurang memuaskan. Di sini, petaninya hampir separuh lebih merupakan anak muda. Mereka suka bertani bawang merah,” ungkap Bogi, Senin (28/8/2017).

Bupati Pati Haryanto yang hadir dalam pagelaran wayang tersebut memberikan apresiasi kepada pemerintah desa yang masih nguri-uri budaya Jawa melalui kesenian. Sebab, kesenian dan budaya tradisional saat ini mulai dilupakan di tengah kemajuan teknologi informasi yang begitu pesat.

Menurutnya, ada tiga hal penting yang bisa diambil manfaat saat petani mengungkapkan rasa syukur pada prosesi bersih desa melalui kesenian. Pertama, pembersihan desa dari aspek jasmani, lingkungan maupun spiritual.

Jiwa masyarakatnya dibersihkan agar tidak gampang iri, dengki dan sifat-sifat buruk lainnya. Sebaliknya, bersih desa bisa dimanfaatkan untuk gladi agar manusia punya sifat yang bersih, baik dan bertindak sesuai dengan ajaran agama.

Kedua, kesenian bisa memupuk semangat persatuan dan kesatuan bangsa, karena masyarakat “tumplek blek” menonton bersama tanpa membedakan status sosial. Ketiga, tontotan tradisional bisa meningkatkan tali silaturahmi dan persaudaraan.

Sementara Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo menambahkan, potensi pertanian di Kabupaten Pati sangat luar biasa. Bawang merah menjadi salah satu komoditas andalan yang dihasilkan dari bumi Wedarijaksa.

“Setiap tahun, Pati selalu memberikan kontribusi yang baik untuk ketahanan pangan nasional. Hal itu tidak lepas dari perjuangan para petani di Pati. Kami berharap, Pati akan terus menjadi lumbung pertaniannya Indonesia,” tutur Firman.

Pagelaran wayang sendiri mengambil lakon “Pendawa Manunggal”. Lakon itu mengisahkan perjuangan Pandawa dalam merebut tahta kepemimpinan Kurawa yang mendasarkan ego, kepentingan pribadi, dan angkara murka dalam setiap kebijakannya untuk rakyat.

Editor : Ali Muntoha

Bupati Grobogan Minta Bayu Aji Pamungkas Tularkan Ilmu pada Dalang Lokal

Bupati Grobogan Sri Sumarni menyerahkan wayang Arjuna pada Ki Bayu Aji Pamungkas sebagai tanda dimulainya pertunjukan wayang kulit di alun-alun Purwodadi, Selasa (22/8/2017) malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Dalang kondang Ki Bayu Aju Pamungkas (putra Ki Anom Suroto) diminta membantu meningkatkan kemampuan dalang lokal yang ada di Grobogan. Permintaan itu dilontarkan Bupati Grobogan Sri Sumarni saat membuka pertunjukan wayang kulit di Alun-alun Purwodadi, Selasa (22/8/2017) malam.

”Selama ini, Adik Bayu sudah sering tampil di Grobogan. Selain menghibur penggemar wayang kulit, saya berharap juga bisa menularkan ilmu pedalangan pada dalang lokal yang ada disini,” katanya.

Menurut Sri, hingga saat ini potensi dalang yang tergabung daam wadah Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Grobogan masih bisa ditingkatkan. Selama ini, dalang-dalang lokal itu masih mendapatkan kesempatan tampil rutin dalam ajang pentas wayang kulit di pendopo kabupaten yang digelar tiap malam Jumat Kliwon.

”Kemampuan dalang lokal ini sebenarnya cukup bagus. Dengan tambahan ilmu dari dalang kenamaan seperti Bayu Aji, saya optimis kemampuan dalang lokal ini nanti bakal bertambah pesat dan lebih dikenal pecinta wayang kulit,” imbuhnya.

Menanggapi permintaan tersebut, Bayu Aji menyatakan siap membantu menularkan ilmu yang dimiliki pada dalang lokal di Grobogan. Ia menilai, kemampuan beberapa dalang lokal sudah cukup mumpuni. Hanya saja, mereka perlu tambahan inovasi, kreasi dan jam pentas serta ketekunan berlatih. 

Editor: Supriyadi

Putra Ki Anom Suroto Kesengsem Penampilan Dalang Cilik Asal Grobogan

Ki Bayu Aji Pamungkas (kiri baju hitam) menyaksikan pentas dalang cilik Ahmad Cannavaro Heriyanto di alun-alun Purwodadi, Selasa (22/8/2017) malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pagelaran wayang kulit di Alun-alun Purwodadi, Grobogan berlangsung meriah, Selasa (22/8/2017) malam. Hadirnya dalang cilik Ahmad Cannavaro Heriyanto makin menambah semarak pagelaran kesenian tradisional yang digelar dalam rangka menyemarakkan HUT ke-72 Kemerdekaan RI tersebut.

Dalang cilik Cannavaro, saat ini masih duduk kelas III di SDN 02 Bandungsari, Kecamatan Ngaringan, Kabupaten Grobogan. Cannavaro malam itu tampil sebagai dalang pembuka pagelaran. Meski usianya baru 8 tahun, namun penampilannya sempat mengundang decak kagum para penonton.

Malam itu, putra Kades Bandungsari Ledy Heriyanto tampil sekitar satu jam, mulai pukul 20.30 WIB. Dalang cilik itu memainkan wayang dengan lakon Kikis Turunggono. Saat Cannavaro tampil, penabuh gamelan dan larasatinya dibawakan oleh karang taruna Eka Bakti Desa Bandungsari.

“Dalang cilik ini, kemampuannya sudah terlihat cukup bagus. Saya rasa, bocah ini merupakan sosok dalang muda ini cukup potensial di masa depan,” cetus Darmono, salah seorang penggemar wayang kulit yang menyaksikan pentas di Alun-alun itu.

Ki Bayu Aji Pamungkas yang malam itu jadi dalang utama juga terlihat serius menyaksikan penampilan Cannavaro dari awal hingga selesai. Putra dalang kondang Ki Anom Suroto itu menonton dengan duduk lesehan di belakang tumpukan wayang, persis dibelakang Cannavaro pentas.

Saat dimintai komentarnya seputar penampilan dalang cilik itu, Bayu mengaku sangat bangga. Sebab, masih ada generasi berikutnya yang mau bergelut untuk melestarikan kesenian tradisonal warisan leluhur tersebut.

“Saya bangga sekali dengan Adik Cannavaro yang mau berlatih jadi dalang sejak kecil. Apa yang dilakukan patut diapresiasi,” ungkap Bayu.

Menurutnya, penampilan dalang cilik Cannavaro itu dinilai sudah lumayan bagus. Meski begitu, supaya kemampuannya bertambah ada beberapa hal yang harus dilakukan. Yakni, tekun belajar dan berlatih serta butuh jam terbang lebih banyak.

“Selain terus belajar, untuk bisa mengembangkan kemampuannya ndalang butuh kesempatan tampil lebih banyak. Penampilan seperti malam ini ini bisa jadi salah satu sarana untuk menambah jam terbang dan mengasah kemampuan,” katanya.

Pagelaran wayang kulit juga dihadiri Bupati Grobogan Sri Sumarni. Hadir pula, Dandim Letkol Jan Piter Gurning, Kajari Edi Handojo, Sekda Moh Sumarsono dan para pejabat lainnya.

Editor: Supriyadi

Wayang Kulit Jumat Kliwon di Grobogan Diharapkan Rutin Digelar

Warga menyaksikan pementasan wayang kulit di pendapa Pemkab Grobogan, Jumat (20/1/2017) dini hari. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga menyaksikan pementasan wayang kulit di pendapa Pemkab Grobogan, Jumat (20/1/2017) dini hari. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sejumlah pihak meminta agar pagelaran wayang kulit setiap malam Jumat Kliwon di pendapa kabupaten Grobogan terus dilestarikan. Sebab, ajang kesenian tradisional itu masih digemari banyak orang. Terbukti, dalam setiap pentas ada ratusan warga yang datang menyaksikan pagelaran wayang hingga usai.

“Hampir setiap malam Jumat Kliwon saya selalu nonton wayang kulit di pendapa sini. Saya berharap pagelaran wayang ini tetap dilestarikan dan jadi ikon tersendiri buat Grobogan,” ujar Suwito, penggemar wayang kulit dari Desa Depok, Kecamatan Toroh.

Kabid Kebudayaan Disporabudpar Grobogan Marwoto menyatakan, untuk tahun 2017 ini, pagelaran wayang tiap Jumat Kliwon dipastikan tetap dilangsungkan. Sebab, sudah ada alokasi dana dari APBD.

“Kalau tidak salah, tahun 2017 ini ada 10 kali pagelaran Jumat Kliwon. Khusus malam Jumat Kliwon yang jatuh pada bulan Ramadan, pagelaran wayangnya ditiadakan. Pada bulan lainnya, ada terus,” katanya.

Menurutnya, pagelaran wayang kulit setiap malam Jumat Kliwon itu sudah menjadi agenda rutin selama beberapa tahun terakhir. Sejauh ini, animo warga untuk menyaksikan pagelaran kesenian tradisional itu masih cukup tinggi.

“Pagelaran wayang seperti ini memang perlu kita lestarikan. Terutama pada generasi muda agar tahu kalau kita punya kesenian tradisional yang luar biasa,” ujarnya.

Selain memberikan hiburan warga, pagelaran wayang kulit itu juga dilakukan untuk memopulerkan seniman lokal. Sebab, dalam pagelaran tersebut sebagian besar dalang yang ditampilkan adalah dari wilayah Grobogan sendiri.

“Jumlah dalang lokal tercatat masih ada sekitar 50 orang. Tiap pagelaran, dalang yang tampil ada dua orang. Jadi, mainnya bergantian. Hal ini salah satu tujuannya supaya para dalang bisa dapat kesempatan tampil,” ujarnya.

Editor : Akrom Hazami

Dalang Muda dari ISI Surakarta Semarakkan Pagelaran Wayang Kulit di Pendapa Grobogan

Dalang muda yang juga mahasiswa ISI Surakarta Didik Sudrajat saat tampil di pagelaran wayang kulit malam Jumat Kliwon di Pendapa Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Dalang muda yang juga mahasiswa ISI Surakarta Didik Sudrajat saat tampil di pagelaran wayang kulit malam Jumat Kliwon di Pendapa Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Pagelaran wayang kulit di Pendapa Kabupaten Grobogan, Kamis (19/1/2017) malam berlangsung meriah. Hadirnya dalang muda Didik Sudrajat makin menambah semarak pagelaran wayang yang digelar rutin tiap malam Jumat Kliwon tersebut. Malam tadi merupakan pagelaran perdana wayang kulit tahun 2017.

Dalam pagelaran perdana ini ada dua orang dalang yang tampil. Pada sesi awal, pagelaran wayang dengan lakon Alap-alapan Sukesi itu dimainkan dalang senior Ki Wahyoko. Kemudian saat pertengahan hingga selesai gantian dalang muda Didik Sudrajat yang unjuk kebolehan.

Kedua dalang tersebut sama-sama berasal dari Wirosari. Dalang muda Didik Sudrajat saat ini masih kuliah semester V di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Semasa anak-anak, mahasiswa berusia 20 tahun itu mengenal wayang kulit dan belajar ndalang dari Ki Wahyoko.

Meski masih muda, namun penampilan Didik saat memainkan wayang kulit dinilai sudah cukup bagus. Terutama, saat memainkan adegan perang.

“Sabetan yang dimainkan tadi kelihatan sudah mantap dan ada beberapa inovasinya. Kemudian, saat sesi goro-goro sudah bisa melontarkan humor yang menghibur penonton.  Saya rasa, sosok dalang muda ini cukup potensial,” kata Hartejo, salah seorang penggemar wayang kulit yang selalu hadir di pendapa tiap malam Jumat Kliwon.

Kabid Kebudayaan Disporabudpar Grobogan Marwoto saat dimintai komentaranya menyatakan, sependapat dengan penilaian penonton. Menurutnya, penampilan dalang muda yang masih jadi mahasiswa itu memang sudah lumayan bagus.

“Didik Sudrajat ini sudah mengenal wayang sejak kecil. Selain terus belajar, untuk bisa mengembangkan kemampuannya ndalang butuh kesempatan tampil lebih banyak. Pagelaran rutin di pendapa tiap malam Jumat Kliwon ini bisa jadi salah satu sarana untuk menambah jam terbang,” kata Marwoto yang hadir pula di pendapa.

Editor : Kholistiono

Asyiknya Menikmati Pertunjukan Wayang Gojek

Wayang Gojek dalam sebuah pementasan (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Wayang Gojek dalam sebuah pementasan (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Ada cara baru untuk menikmati wayang, dengan kemasan yang lebih santai dan humoris. Wayang ini, tidak hanya cocok untuk kalangan orang tua, namun, segmennya cocok untuk anak muda, yakni Wayang Gojek.

Pemimpin Wayang Gojek Ki Waryoto Giok mengatakan, setiap pertunjukan selalu diwarnai dengan tawa penonton. Karena, pertunjukan Wayang Gojek selalu menghibur. Selain sangat ramai, cerita yang dibawakan dalam pementasan juga mengangkat berbagai kisah yang diadaptasi dengan kehidupan sekarang.

“Kita konsep dengan hal yang berbeda. Bersikap agak humor, namun tetap memiliki pesan yang penting terhadap masyarakat,” katanya.

Wayang Gojek sendiri, juga dikemas lebih dinamis dan menarik. Ini sebagai alternatif baru untuk hiburan masyarakat.

Koordinator sekaligus anggota Wayang Gojek Danny Lutvi mengatakan, Wayang Gojek sudah sering manggung dalam sebuah acara. Konsepnya sangat unik, selain ada wayang buatan asli Wayang Gojek, pertunjukan juga langsung dari para anggota.

“Ramai, dan pastinya seru. Makanya beberapa kali selalu dipanggil untuk meramaikan suatu acara, bahkan pernah juga sampai di Blora,” jelasnya.

Dia berharap dengan adanya alternatif semacam ini,orang dapat terhibur. Selain itu juga, dapat menjadi acuan dalam mengembangkan kesenian lokal. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Lho Kok Arjuna, Petruk, dan Temannya Gojek di Gebog, Ada Apa?

Pertunjukan Wayang Gojek dalam memeriahkan HUT RI ke 70 di Desa Gribig, Kecamatan Gebog Minggu (30/8/2015) malam lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Pertunjukan Wayang Gojek dalam memeriahkan HUT RI ke 70 di Desa Gribig, Kecamatan Gebog Minggu (30/8/2015) malam lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Pementasan Wayang Gojek menghibur masyarakat Desa Gribig, Kecamatan Gebog Minggu malam (28/8/2015). Kegiatan tersebut dalam rangka memeriahkan peringatan HUT RI ke 70 dan peluncuran salah satu perumahan.
Pemimpin Wayang Gojek Ki Waryoto Giok, menjelaskan, dalam pertunjukan tersebut sangat ramai. Diceritakan naskah yang diangkat dari perdagangan namun diadaptasi dengan kehidupan sekarang dan dikemas humor.

“Kita agak humor, namun tetap memiliki pesan yang penting terhadap masyarakat,” katanya .

Menurutnya, dalam pementasan Srikandi meminta pendapat Punokawan. Sejumlah saran diberikan oleh Semar, Petruk, Gareng dan Bagong. Akhirnya dengan sejumlah pertimbangan yang matang, Arjuna pun memutuskan untuk pindah tempat tinggal di Desa Gribig, Kecamatan Gebog.

Giok mengatakan, pertunjukan Wayang Gojek dalam memeriahkan HUT RI baru kali pertama dilakukan. Melalui pementasan yang dibawakan juga mengandung pesan-pesan untuk masyarakat.

”Kalau biasanya dalam peringatan HUT RI, masyarakat mementaskan Wayang Kulit atau kethoprak. Namun, kali ini ada Wayang Gojek yang dikemas lebih dinamis dan menarik. Ini sebagai alternatif baru untuk hiburan masyarakat,” katanya.

Dalam pertunjukan tersebut, sejumlah pesan untuk menjaga kerukunan antar tetangga, menjaga kebersihan lingkungan dan tata cara bermasyarakat dengan baik disampaikan dengan lugas dan menarik.

Camat Gebog Saiful Huda mengungkapkan cukup mengapresiasi dengan pertunjukan yang diselenggarakan. Karena, selama ini banyak tontonan televisi yang kurang mendidik. Dengan adanya pertunjukan wayang yang dikemas berbeda tentu menjadi hiburan alternatif bagi masyarakat terutama anak-anak.
”Kami berharap, kegiatan-kegiatan positif terus dilakukan,” harapnya. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Ada-Ada Saja, Dalang Tampil Edan di Grobogan Bikin Warga Lupa Tidur

Pentas dalang Joko Edan memukau warga Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Pentas dalang Joko Edan memukau warga Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Ribuan warga terpuaskan dengan penampilan apik yang disuguhkan dalang kondang Ki Joko Edan saat pentas di halaman Setda Grobogan, Jumat malam (21/8).

Hal itu setidaknya bisa dibuktikan dengan masih setianya penggemar wayang kulit menyaksikan pagelaran hingga usai.

“Kesempatan melihat pentas Joko Edan tidak setiap saat bisa didapat. Makanya, saya dan beberapa teman menyempatkan waktu untuk nonton,” ungkap Pratomo, warga Kecamatan Wirosari yang mengaku sebagai penggemar berat Joko Edan.

Meski sudah berusia 67 tahun, namun penampilan Joko Edan masih terlihat prima. Malam itu, dalang kelahiran Yogyakarta tersebut menyuguhkan pentas wayang kulit dengan lakon Bima Bekti atau Pendowo Kumpul. Sebuah cerita yang di dalamnya sarat pesan-pesan untuk berbuat kebaikan.

Pertujukkan wayang juga dimeriahkan dengan penampilan pelawak lokal, Rabies dan Ceplis. Guyonan pelawak dari Wirosari yang tampil menjelang tengah malam itu mampu menghilangkan kantuk penonton.

Pentas wayang kulit itu dibuka Wakil Bupati Grobogan Icek Baskoro. Hadir pula dalam acara itu, Ketua DPRD Sri Sumarni dan sejumlah pimpinan FKPD. Sejumlah pejabat dan anggota DPRD Grobogan ikut berbaur dengan warga menyaksikan jalannya pentas. (DANI AGUS/AKROM HAZAMI)

Dalang Kondang Ki Joko Edan Berbagi Resep Hebatnya, Tertarik?

Wabup Grobogan Icek Baskoro menyerahkan Wayang Bima pada Ki Joko Edan sebelum pentas dimulai. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Wabup Grobogan Icek Baskoro menyerahkan Wayang Bima pada Ki Joko Edan sebelum pentas dimulai. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Dalang kondang Joko Hadiwidjoyo atau yang lebih terkenal dengan sebutan Ki Joko Edan diminta membantu meningkatkan kemampuan dalang lokal di Grobogan.

Permintaan itu dilontarkan Wakil Bupati Grobogan Icek Baskoro saat membuka pertunjukan wayang kulit di halaman setda, Jumat malam (21/8).

“Sekarang Pak Joko sudah jadi warga Grobogan, tepatnya warga Desa Tegowanu Kulon, Kecamatan Tegowanu. Oleh sebab itu, saya berharap agar pak Joko bisa menularkan ilmu pedalangan pada dalang lokal,” kata Icek.

Menurut Icek, hingga saat ini potensi dalang yang tergabung daam wadah Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Grobogan masih bisa ditingkatkan.

Selama ini, dalang-dalang lokal itu masih mendapatkan kesempatan tampil rutin dalam ajang pentas wayang kulit di pendapa kabupaten yang digelar tiap malam Jumat Kliwon.

“Kemampuan dalang lokal ini sebenarnya cukup bagus. Dengan tambahan ilmu dari dalang kenamaan seperti pak Joko, saya optimistis kemampuan dalang lokal ini nanti bakal bertambah pesat dan lebih dikenal pecinta wayang kulit,” imbuhnya.

Sekadar diketahui, belum lama ini Joko Edan menikah dengan Kepala Desa Tegowanu Kulon, Kecamatan Tegowanu Dwiningsih. Setelah menikah, dalang kelahiran Yogyakarta itu menyatakan sudah pindah domisili di desa yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Demak tersebut.

Menanggapi permintaan tersebut, Joko Edan menyatakan siap membantu menularkan ilmu yang dimiliki pada dalang lokal di Grobogan. Joko menilai, kemampuan beberapa dalang lokal sudah cukup mumpuni. Hanya saja, mereka perlu tambahan inovasi, kreasi dan jam pentas. (DANI AGUS/AKROM HAZAMI)

Malam Ini Joko Edan Diharapkan Tampil ‘Ngedan’

Persiapan pentas wayang Joko Edan di halaman Setda Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Persiapan pentas wayang Joko Edan di halaman Setda Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Buat warga Grobogan yang gemar kesenian tradisional wayang kulit, malam nanti datang saja ke halaman Setda Grobogan. Karena, mulai pukul 21.00 WIB nanti ada pagelaran wayang kulit dengan dalang kondang Joko Hadiwidjoyo atau yang lebih terkenal dengan sebutan Ki Joko Edan.

Asisten III Pemkab Grobogan Mokh Nursyahid mengatakan, pagelaran wayang kulit itu merupakan puncak acara menyemarakkan HUT ke-70 Kemerdekaan RI. Sebelumnya, sudah banyak rangkaian acara yang digelar. Yaitu, lomba-lomba, karnaval, malam tirakatan, tabur bunga, dan upacara bendera.

”Seluruh unsur FKPD Grobogan kita undang untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit. Acara ini terbuka dan bisa dinikmati oleh masyarakat umum,” ungkap Nursyahid yang juga bertindak sebagai Ketua Panitia Hari Kemerdekaan itu.

Mengenai lakon atau cerita yang dibawakan, Nursyahid menyatakan belum dapat kepastian. Meski demikian, dia berharap agar dalang Ki Joko Edan bisa menampilkan seluruh kemampuannya agar masyarakat terhibur dengan pertunjukkan wayang kulit. (DANI AGUS/TITIS W)

Begini Cara MPR RI Gaet Hati Masyarakat Blora Sosialisasikan 4 Pilar Kebangsaan

Pertunjukan wayang kulit jadi alat MPR RI sosialisasikan 4 Pilar Kebangsaan di Alun-alun Blora. (MuriaNewsCom/Priyo)

Pertunjukan wayang kulit jadi alat MPR RI sosialisasikan 4 Pilar Kebangsaan di Alun-alun Blora. (MuriaNewsCom/Priyo)

BLORA – Dalam rangka mensosialisasikan empat pilar Kebangsaan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia, mengadakan pagelaran wayang kulit di Alun-alun, Blora, Jumat (25/7/2015). Acara yang digelar bekerjasama dengan Dinas Perhubungan Pariwisata Kebudayaan Komunikasi dan Informatika (DPPKKI) Blora untuk pelestarian budaya dan menghibur masyarakat, pagelaran wayang kulit menampilkan dalang Sigit Aryanto dari Rembang itu akan diisi sosialisasi tentang empat pilar kebangsaan.

”Perwujudan Empat Pilar Kebangsaan Indonesia yang menjadi dasar kekuatan bangsa Indonesia saat ini dirasakan harus segera diimplementasikan kedalam perwujudan dan yang lebih kongret dan nyata. Untuk itu kami sebagai bagian dari bangsa Indonesia merasa perlu untuk membantu pemerintah dalam upaya mensosialisasikan perwujudan Empat Pilar Kebangsaan Indonesia tersebut,” kata Kepala DPPKKI Blora Slamet Pamuji melalui Kepala Bidang Kebudayaan, Suntoyo.

Dia mengungkapkan, banyak orang yang belum faham arti dari empat pilar kebangsaan yang selama ini sudah sering di bicarakan banyak orang. Sehingga ia pun menyadari bahwa perwujudan ini masih jauh dari sempurna.

”Kami yakin bangsa Indonesia akan menjadi bangsa besar yang bisa merajai dunia, apabila kembali lagi ke Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 45 dan NKRI.kami juga berharap khususnya wilayah blora dengan adanya sosialisasi ini semakin kondusif dan semakin memperkokoh keamanan diwilayah blora” terangnya. (PRIYO/SUPRIYADI)

Kirun Ajak Pemda se Jawa Tiru Kebijakan Bupati Blora Dalam Pelestarian Wayang

Bupati Blora saat berdialog dengan bintang tamu Kirun pada pagelaran wayang kulit malam Jumat Pon di Pendapa Kabupaten Blora. (MURIANEWS/PRIYO)

BLORA – Kebijakan Bupati Blora Djoko Nugroho melalui Dinas Perhubungan Pariwisata Kebudayaan Komunikasi dan Informatika (DPPKKI) bersama Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) Kabupaten Blora yang mencanangkan pagelaran Wayang Kulit Selapanan, yakni sebulan sekali melaksanakan pentas wayang kulit dalang lokal, mendapatkan apresiasi positif dari berbagai kalangan.

Lanjutkan membaca