Saat Menkeu Sri Mulyani Puji Waduk Logung Kudus di Facebook

Akrom Hazami
red_abc_cba@yahoo.com

DIBERITAKAN MuriaNewsCom akhir pekan lalu, Waduk Logung Kudus ditinjau sejumlah pejabat pusat. Adalah Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati, serta Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono.

Mereka memantau sejumlah titik pengerjaan di lokasi proyek Waduk Logung. Secara keseluruhan, mereka mengambil kesimpulan bahwa proses pengerjaan Waduk Logung berjalan lancar dan sesuai dengan apa yang diharapkan.

Kendati pengerjaan baru selesai 42 persen, tapi itu tak masalah. Mengingat target selesai pembangunan yakni di 2018. Rupanya, diam-diam, perjalanan dan hasil pantauan ke Waduk Logung memberi kesan tersendiri bagi Sri Mulyani. Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia (World Bank) itu akhirnya memperlihatkan kesannya. Di antaranya tampak melalui status di media sosial Facebok  melalui akun pribadinya.

Dalam akun Facebook Sri Mulyani Indrawati, Minggu (12/2/2017) pukul 11.00 WIB. “Hari Jumat tanggal 17 Februari 2017 saya bersama Menteri PU Pera, Gubernur Jawa Tengah beserta Bupati Kudus dan jajarannya mengunjungi proyek pembangunan bendungan Logung di Kudus. Saya ingin memastikan bahwa uang yang dibayarkan masyarakat melalui pajak dapat bermanfaat kembali untuk masyarakat.

Bendungan yang akan selesai di tahun 2018 ini dapat mengairi irigasi seluas 5.355ha , menyediakan air baku 200lt/detik untuk 130.909 jiwa serta difungsikan juga senagai pembangkit listrik sebesar 0.5MW.

Salut kepada insinyur-insiyur Indonesia yang dapat membangun sendiri bendungan setinggi 55m dengan panjang 350m ini.

Begitulah status di FB sang menteri yang dikutip MuriaNewsCom. Apa yang tertulis itu merupakan harapan pemerintah pusat terhadap jalannya proyek pembangunan Waduk Logung Kudus. Tentu itu juga menjadi harapan warga Kudus dan sekitarnya.

Terus dipantauanya pengerjaan, tak lepas dari besarnya anggaran yang digelontorkan. Setidaknya, menurut Kementerian PU PR, Logung menghabiskan dana yang diperkirakan capai Rp 604 miliar, nilai besar yang berasal dari pajak yang dibayarkan masyarakat.

Data dari Kementerian PUPR Logung ini,  kapasitas Waduk Logung 20 juta kubik. Waduk memanfaatkan lahan 5.333 hektare untuk pengelolaan banjir Kudus. Waduk tersebut nantinya akan memanfaatkan sejumlah aliran sungai, salah satunya Sungai Logung.

Kontrak kerja pembangunan waduk dimulai akhir 2014, lalu pelaksanaan mulai 2015, dan ditargetkan selesai pada 2018. Dengan pembangunannya dirancang oleh insinyur terbaik negeri ini. Pemerintah berharap jika kelak hasil pembangunan bisa berfungsi maksimal.

Bahkan, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengingatkan kepada pelaksana proyek untuk tidak sekadar menjadikan bangunan waduk. Tapi juga manfaatnya bisa terasa di masyarakat setempat.

Apa yang menjadi kebanggaan pusat juga tertuju pada Pemerintah Kabupaten Kudus.  Pemerintah pusat menganggap pemerintah kabupaten telah berhasil melakukan perannya. Seperti halnya melancarkan proses pembebasan lahan, dan pemantauan yang intensif terhadap jalannya proyek pembangunan.

Pemantauan pemerintah daerah terhadap proyek itu, seyogyanya dilakukan sesering mungkin.  Biar pembangunan dan hasilnya, berjalan sesuai harapan. Tentunya, jalan komunikasi yang baiklah yang ditempuh. Jangan sebaliknya. (*)

Ganjar Emoh Jika Bendungan Logung Kudus Hanya Asal Jadi

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat ikut mengunjungi lokasi pembangunan Waduk Logung, Kabupaten Kudus, bersama Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat mengunjungi lokasi proyek Waduk Logung Kudus,  mengatakan, dalam pembangunan Logung jangan hanya asal jadi. Tapi juga harus lebih melihat jauh ke depan yaitu dalam hal aspek penggunaanya bagi masyarakat

Hal itu disampaikannya di lokasi, Jumat (17/2/2017). Saat itu dia bersama dengan Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono. Dia mengatakan, kalau aspek fungsinya adalah hal yang sangat penting.

“Infrastruktur sangat diutamakan. Selain jalan juga pembuatan bendungan semacam ini. Jadi dalam pembangunan juga dilihat seberapa penting atau keuntungan masyarakat yang dapat memanfaatkan seperti apa,” kata Ganjar.

Daerah pembuatan Logung merupakan daerah yang tandus. Dengan adanya tampungan air, maka masyarakat bisa melihat manfaatnya. Seperti halnya pertanian, yang harapannya setiap tahun bisa terus meningkat.

Apalagi, kata dia, biaya pembangunannya tidak sedikit yakni sekitar Rp 600 miliar. Maka praktis, manfaatnya juga harus besar. Jika itu tercapai maka berarti tepat sasaran pula penggunaan anggaran dari negara, atau APBN.

“Semakin tahun beban APBN selalu meningkat, untuk itu dalam pembuatan progam harus melihat sisi manfaat yang lebih baik dan juga fokus. Jadi APBN akan benar-benar bermanfaat bagi masyarakat dan melihat pada kebutuhan masyarakat,” tambahnya.

Sementara, Bupati Kudus Musthofa menuturkan keinginannya yakni Waduk Logung bisa selesai tahun ini. Mengingat dia ingin melihat manfaatnya. Terutama saat masih menjabat bupati. “Saya tinggal sebentar lagi (menjabat), jadi saya tidak mau jika peresmiannya, saya hanya penonton saja,” ungkap dia saat pemaparan pembangunan Logung.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga : Menteri Keuangan dan Menteri PUPR Datang ke Logung Kudus

Menteri PUPR : Pengerjaan Logung Ada Peningkatan Sedikit

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, bersama Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati saat mengunjungi lokasi proyek Waduk Logung, Kudus, Jumat. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, mengunjungi Waduk Logung, Kabupaten Kudus, Jumat (17/2/2017). Kunjungan tersebut guna memastikan apakah proyek pengerjaan sudah berjalan sebagai mana mestinya atau tidak.

Basuki mengatakan kalau sampai kini pembangunan Waduk Logung sudah mencapai 42 persen. Jumlah tersebut sudah ada peningkatan mendekati satu persen dari target yang seharusnya terpenuhi.  “Masih ada peningkatan sedikit, jadi masih aman,” kata Basuki saat meninjau lokasi pembangunan Waduk Logung.

Menurutnya, pembangunan Logung menelan biaya sampai Rp 604 miliar. Pembangunan dimulai dengan kontrak di akhir 2014 lalu dan langsung dimulai. Rencana selesainya akan dilakukan sesuai dengan kontrak, yaitu pada 2018 nanti. “Insya Allah selesai 2018, untuk kemudian dapat langsung dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar,” ujarnya.

Baca juga : Menteri Keuangan dan Menteri PUPR Datang ke Logung Kudus

Ditambahkan, Sri Mulyani, pemerintah daerah sudah sangat berperan dalam pembangunan Logung. Terbukti dengan adanya pembebasan tanah yang baik. Selain itu juga tampak dari pengerjaan Logung yang masih berlangsung. “Ini bisa menjadi komunikasi dan kerja sama yang baik antara pemerintah kabupaten dengan pemerintah pusat. Kerja sama semacam ini perlu ditingkatkan kembali,” ucapnya.

Dia menegaskan kalau pembangunan akan selesai 2018 mendatang. Kemudian yang diperhitungkan adalah manfaat dari masyarakat secara umumnya.

Editor : Akrom Hazami

PPKom Proyek Logung Akan Bantu Pengembangan Area Sekitar Waduk

Pekerja menyelesaikan proyek pembangunan Waduk Logung Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom)

Pekerja menyelesaikan proyek pembangunan Waduk Logung Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – PPKom Proyek Bendung Logung Kudus, Zulfan Arief Mustafa mengatakan pihaknya akan membantu mengembangkan area sekitar waduk dengan membangun infrastruktur dasar. Di antaranya ini terkait rencana pembuatan tempat wisata.

Diketahui, tempat wisata akan dibangun di Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe dan Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo. “Proses sekarang, pengerjaan infrastruktur sedang dikaji untuk diusulkan ke Kementrian PUPR, yakni dermaga,” kata Zulfan di Kudus, Senin (16/1/2017).

Sementara, kata dia, berbagai hal usulan tentang proyek wisata Logung masih dalam proses pembahasan dan kajian lebih lanjut. Kemudian, hasil dari kajian bakal dilanjutkan dengan usulan ke pemerintah pusat.

Dia menyebutkan kalau pemanfaatan area sekitar waduk atau sabuk hijau sebenarnya merupakan upaya awal untuk pengembangan. Pihaknya berharap Pemerintah Kabupaten Kudus bisa turut serta dalam pengembangan area sekitar Waduk Logung.

“Pemkab dapat lebih memanfaatkan Logung. Itulah yang kami harapkan. Dengan demikian, pemkab dapat menggandeng masyarakat. Kemudian mereka bekerja sama dengan warga,” ungkapnya.

PPKom berharap jika waduk selesai dibangun, maka infrastruktur penunjang bisa juga dibangun.

Editor : Akrom Hazami

Daerah Sekitar Waduk Logung Kudus Akan Dibangun Tempat Wisata

Area pembangunan Waduk Logung di Kudus yang nantinya juga akan dibangun objek wisata di sekitarnya. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Area pembangunan Waduk Logung di Kudus yang nantinya juga akan dibangun objek wisata di sekitarnya. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Wacana pembangunan wisata Logung di Kudus, nampaknya akan serius diwujudkan. Hal ini seperti yang diungkapkan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus Yuli Kasianto.

“Dari Kementerian, juga daerah, menyatakan Logung merupakan kawasan titik wisata. Jadi, nantinya kementerian pula yang bakalan membantu dalam mewujudkannya,” katanya kepada MuriaNewsCom di Kudus, Kamis (12/1/2017).

Dalam pengelolaan wisata Logung, nantinya tak hanya dikelola oleh pemkab saja. Namun pemkab juga memastikan akan menggandeng masyarakat sekitar. Hal itu juga sebagai cara pembinaan desa wisata. Nantinya warga juga diuntungkan dengan adanya wisata baru di kawasan Logung. Diharapkan pertumbuhan ekonomi juga makin meningkat.

“Dengan demikian maka pemecahan tempat kumpul atau keramaian baru akan muncul. Dan selama ini memang sebelah timur Kudus memang kurang tersentuh,” tambahnya.

Hardjono, Ketua Forkoma Kembung berharap ada kejelasan tentang hal itu. Jika memang melibatkan warga harus ada keterangan yang jelas. Bahkan kalau perlu ada pengumuman yang resmi menyebutkan kalau warga dilibatkan.

“Semua harus jelas, dan juga harusnya kami yang terdampak Logung diutamakan untuk pengembangan wisata di sana nantinya,” ujarnya.

Sebelumnya, Dodi Wiriawan, konsultan perencanaan Logung menyebutkan kalau pihaknya sangat setuju akan adanya pembangunan wisata di Logung. Dan potensi tidak hanya wisata alam, tapi juga hal-hal lainnya.

“Nantinya banyak spot spot yang bagus untuk wisata. Seperti halnya dengan pembuatan home stay dan lain sebagainya. Itu sangat diminati pendatang karena bosan dengan suasana hotel. Terlebih lagi didukung dengan pemandangan yang bagus,” ungkap dia.

Berbagai wisata yang nantinya muncul antara lain wisata air, speed boot, flying fox, serta wahana hiburan lain yang bernuansa alam.

Editor : Akrom Hazami

Rencana Pembangunan Sabuk Hijau di Waduk Logung Bikin Resah Warga Kandangmas

Warga mengikuti sosialisasi pembangunan Waduk Logung di Balai Desa Kandangamas, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Selasa (10/1/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga mengikuti sosialisasi pembangunan Waduk Logung di Balai Desa Kandangamas, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Selasa (10/1/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Masyarakat yang terkena dampak pembangunan waduk Logung Kudus khawatir pembangunan sabuk hijau di lokasi itu akan memakan tanah mereka.

Hal itu seperti diungkapkan Sukimin, warga Kandangmas, Dawe yang hadir dalam sosialisasi di aula balai desa. Dia khawatir jika rencana pembangunan sabuk hijau bakal merebut lahan sawah yang dimilikinya.

“Saya punya tanah di sana. Itupun sudah digunakan dalam pembangunan waduk Logung. Jika sampai sabuk hijau yang dibangun menggunakan tanah baru, maka tanah kami akan kena,” katanya saat sosialisasi Selasa (10/1/017).

Menurutnya, jika sampai sabuk hijau digunakan dari tanah warga lagi, maka dipastikan akan ada aksi penolakan.

Sementara, Dodi W, konsultan perencanaan Waduk Logung mengatakan, warga tidak usah khawatir atas sabuk hijau. Sebab, sabuk hijau nantinya tak menggunakan tanah baru, melainkan tanah lama yang sudah ada.

“Jadi tidak usah khawatir, tidak akan mengganggu tanah milik masyarakat. Sebab ini sudah ada dalam perencanaan yang kami lakukan,” jawabnya.

Bahkan, dia juga mengungkapkan kalau sabuk hijau nantinya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Pemanfaatan dapat dilakukan dengan cara menanam pohon berbuah, yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar.

“Masyarakat dapat menanam  pohon keras, seperti durian, rambutan dan lain sebagian. Asalkan, kelestarian alam dapat dijaga lantaran itu merupakan aspek penting Logung berupa sabuk hijau,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

Ini Lho Tuntutan Pengunjuk Rasa Waduk Logung Kudus

Pewarkilan warga menyampaikan tuntutannya kepada pejabat proyek  Waduk Logung, Kabupaten Kudus, Jumat. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Pewarkilan warga menyampaikan tuntutannya kepada pejabat proyek  Waduk Logung, Kabupaten Kudus, Jumat. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Forum Komunikasi Masyarakat Korban Embung Logung (Forkoma Kembung) protes di depan lokasi proyek Waduk Logung, Jumat (23/12/2016). Mereka menyuarakan tiga tuntutan.

Syaikhul Adib, koordinator aksi menyebutkan tiga tuntutan berasal dari aspirasi warga. Tiga tuntutan itu disampaikan warga kepada pejabat pekerjaan proyek pembuatan Bendung Logung. Tepatnya saat mereka melakukan audiensi.

Audiensi dipimpin oleh Kapolres Kudus AKBP Andy Rifa’i, yang juga memimpin pengamanan aksi. Turut hadir juga dari Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang, serta Asisten I Setda Pemkab Kudus Agus Budi S.

“Kami punya tiga tuntutan. Pertama, banyak patok yang sampai perumahan warga. Padahal tidak dalam pembangunan. Kedua, tanah Logung banyak memenuhi sungai, sehingga sungai di bawah penuh lumpur dan mengganggu penambang penambang pasir. Sedangkan ketiga adalah soal perusakan tanah sengketa yang masih proses. Kami minta menghormati proses dengan tidak menjalankan proyek di lokasi tanah itu,” kata dia.

Perwakilan Waduk Logung,  Dodi menyebutkan, kalau soal patok tidak masalah. Patok tesebut merupakan merupakan patokan bantu untuk mengukur Bendung Logung. Dan soal lumpur, ke depan bakal dievaluasi.

“Kami menerima dari BPN sudah ada ukurannya. Jadi inilah yang dikerjakan dalam pembangunan Logung,” jelasnya.

Agus Budi S, Asisten I Pemkab Kudus menyebutkan kalau soal harga serta ukuran bukan Pemkab Kudus yang menentukannya. Sebab sudah ada tim apraisal yang menentukan harga, dan juga dari BPN yang ikut mengukur.

Adi Susatyo, perwakilan bagian hukum Pemkab Kudus mengatakan kalau mengacu putusan PN Kudus, pengerjaan waduk di tanah sengketa tak menuai masalah. Pembangunan akan tetap dilakukan.

Dalam pembahasan masih mentok. Mereka menyepakati pada awal 2017 mendatang akan dilakukan pembahasan lebih lanjut, terkait tuntutan warga itu.

Editor : Akrom Hazami

Pengunjuk Rasa Waduk Logung Kudus Kibarkan Bendera Merah Putih Raksasa 

Pengunjuk rasa mengibarkan bendera merah putih berukuran besar di lokasi pengerjaan Waduk Logung, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Pengunjuk rasa mengibarkan bendera merah putih berukuran besar di lokasi pengerjaan Waduk Logung, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Forum Komunikasi Masyarakat Korban Embung Logung (Forkoma Kembung) melakukan aksi agar pengerjaan proyek waduk Logung dihentikan, di lokasi proyek, Jumat (23/12/2016).  

Syaikhul Adib, koordinator aksi dalam orasinya menyampaikan, jika kedatangan dan aksi warga tersebut hanya untuk satu tujuan, yakni menghentikan pembangunan Logung hingga kasus tanah yang saat ini sudah ada di Mahkamah Agung (MA) selesai. Jika tidak, maka warga akan tetap menggelar aksi.

“Soal tanah ini kan, kasus hukumnya masih dalam proses, dan ini pakai uang Negara, jadi tolong hargai proses yang berlaku. Jangan seenaknya seperti ini,” katanya.

Peserta aksi mencapai ratusan orang. Mereka berasal dari dua kecamatan, Jekulo dan Dawe. Dalam aksi, mereka juga membawa bendera raksasa dan membacakan selawat. Pembacaan selawat dilantunkan di depan pintu gerbang waduk.

Lantunan selawat terdengar cukup keras. Selawat dilantunkan secara terus menerus. Terutama di sela-sela aksi. Sementara bendera raksasa itu, berukuran kisaran tujuh meter. Bendera dibawa oleh sejumlah warga dan dikibarkan selama aksi berlangsung.

Saifudin, warga yang turut dalam aksi menyebutkan kalau pihaknya menuntut tanah miliknya diukur sesuai dengan ukuran sebenarnya. Dia merasa diperlakukan dengan tidak adil lantaran tanahnya hilang dalam ukuran ribuan meter persegi.

“Sertifikat saya 10 ribuan meter persegi, dari pembangunan logung hanya delapan ribuan saja. Padahal, saya juga sudah bertanya kepada BPN dan katanya malah tanah saya 11 ribuan meter. Saya juga tiap tahun bayar pajak,” katanya.

Selain mempermasalahkan ukuran, dia juga mempermasalahkan harga konsinyasi. Harga yang diinginkan senilai Rp 300 ribu per meter persegi, yang mana sesuai dengan harga kini. Namun yang didapat malahan Rp 31 ribu untuk per meter persegi.

Sebelumnya diberitakan, tatusan warga yang tergabung Forkoma Kembung, menggelar aksi unjuk rasa di area Waduk Logung di Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo. Sebelumnya, warga melakukan aksi jalan kaki dari Desa Selalang.

Editor : Akrom Hazami

Forkoma Kembung Gagal Aksi Tuntut Penghentian Proyek Logung Kudus

Sejumlah armada pengerjaan proyek Logung melintas tak jauh dari area pembangunan, akhir pekan ini. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Sejumlah armada pengerjaan proyek Logung melintas tak jauh dari area pembangunan, akhir pekan ini. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Rencana aksi yang dilakukan Forum Komunikasi Masyarakat Korban Embung Logung (Forkoma Kembung)‎, gagal. Hal itu disebakan izin untuk aksi tidak diturunkan, sehingga aksi tak dapat dilakukan.

“Belum jadi aksinya, soalnya belum ada izin terkait hal itu. Jadi dimungkinkan pekan depan saat izin sudah turun dari kepolisian,” kata koordinator Forkoma Kembung, Harjono singkat kepada MuriaNewsCom.

Hanya, tuntutan yang diajukan masih tetap, yakni agar pembangunan Logung dapat dihentikan, khususnya pada lokasi tanah yang masih dalam proses MA. “Kami akan melakukan aksi, namun prosedur tetap kami berikan sesuai dengan aturan. Kami sudah siaga 250-an warga yang sudah siap dari Kecamatan Dawe dan Jekulo,” ujarnya.

Dia mengaku, Jumat (16/12/2016) lalu memang surat untuk kepolisian terkait aksi belum dilayangkan. Sehingga,  untuk aksi juga belum bisa dilakukan. Hal itu juga yang menyebabkan aksi yang direncakan hari ini gagal.

Sementara, Deputi KSO pelaksana lapangan proyek Bendung Logung, Untung Tri Uripto, mengatakan pihaknya mempersilakan warga jika ingin menggelar aksi damai di lokasi proyek. Hal itu merupakan bentuk menyuarakan aspirasi warga.

Hanya, pada Sabtu – Minggu, tak ada aktivitas pengerjaan di lahan konsinyasi. Sebab pengelola membuat kebijakan libur untuk sebagian pekerja di sana, sehingga jumlah karyawan juga sangat sedikit pada Sabtu Minggu. “Kalau Sabtu Minggu ya kita konsentrasi pada bidang pekerjaan lain, bukan pada pembangunan Logung seperti hari biasanya,” jawabnya.

Mengenai pengerjaan proyek di lokasi sengketa, kata dia, tidak ada masalah. Sebab putusan PN juga dianggap memperbolehkan, sehingga tidak menyalahi aturan yang berlaku. Bahkan, dia mengaku kalau selama ini sudah lunak kepada warga. “Kalau kami tidak menghargai warga, maka sejak dulu juga sudah kami lakukan pengerjaan di Logung pada tanah yang dilaporkan ke MA. Tapi kan kami biarkan dulu,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

Pembangunan Logung Kudus Didesak Dihentikan

Sejumlah armada pengangkut material pembangunan Waduk Logung melintas di area lokasi proyek, Jumat. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Sejumlah armada pengangkut material pembangunan Waduk Logung melintas di area lokasi proyek, Jumat. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Forum Komunikasi Warga Dampak Logung (Forkemakembung) Kudus mendesak pekerjaan proyek Logung dihentikan. Hal itu dilakukan lantaran tanah yang masih sengketa milik warga dianggap belumlah final. Mekainkan masih diproses di Mahkamah Agung (MA).

Kordinator Forkemakembung Harjuno mengatakan selama proses kasasi masih dalam penanganan MA. Maka pembangunan tidak dapat dilakukan. Khususnya, di daerah yang masih dalam proses sengketa 

Kan masih belum selesai. Jadi tidak bisa dilakukan pekerjaan di wilayah yang masih bermasalah tersebut,” katanya kepada MuriaNewsCom, Jumat (16/12/2016).

Menurutnya, Forkemakembung mengambil keputusan untuk aksi. Sebab warga merasa diperlakukan tidak adil. Selain proses di MA yang masih berjalan, tanah kerukan juga dianggap dibuang ke sungai Logung yang berada di sekitar waduk.

Tanah buangan itu, kata dia, bakal mengakibatkan bencana di kemudian hari. Yakni dengan limpasan air yang memasuki tanah warga. Dikhawatirkan, limpasan sungai saat banjir bakal merusak lahan pertanian warga. 

Selain itu, warga juga mengkhawatirkan tentang tanah yang sudah dipatok. Bagi warga, hal itu menghawatirkan karena patokan tanah jauh melebihi pembangunan Logung. Hal itu diminta untuk dijelaskan kepada warga.

“Besok kami akan aksi, sedikitnya 250 warga siap turun jalan menyuarakan hak kami. Semua warga dari dua kecamatan (Dawe dan Jekulo) akan menggelar aksi,” jelasnya.

Jumlah peserta aksi yang ikut kemungkinan masih terus bertambah. Karena banyaknya warga yang terdampak. Mereka direncanakan akan mendatangi lokasi sengketa yang digarap. Hal itu dilakukan sebagai bentuk protes dan meminta pembangunan untuk tidak dilanjutkan. 

Kapolres Kudus AKBP Andy Rifa’i mengatakan, terkait aksi yang dilakukan warga, diminta tidak perlu anarkis. Jalan terbaik juga tengah diupayakan untuk kesejahteraan bersama, baik warga maupun pembangunan Logung.

“Kami siagakan 500 petugas dalam aksi besok. Namun kami meminta aksi berjalan damai dan tidak berbuat yang anarkis serta menjaga ketertiban,” inbaunya.

Editor : Akrom Hazami

Percepatan Waduk Logung Kudus Terkendala Cuaca

Pekerja menyelesaikan pengerjaan penyelesaian Waduk Logung Kudus, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Pekerja menyelesaikan pengerjaan penyelesaian Waduk Logung Kudus, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Rencana percepatan pembangunan bendung Logung Kudus, terkendala cuaca. Besar kemungkinan Logung tak terselesaikan tahun ini seperti keinginan Bupati Kudus Musthofa.

Konsultan Sosial Masyarakat Proyek Waduk Logung, Dodi Indra Wirawan, mengatakan, persoalan cuaca sangat penting dalam pengerjaan waduk. Dalam hal ini, soal timbunan tanah, misalnya. Itu tidak boleh asal-asalan, lantaran memiliki standar yang jelas.

“Untuk material tanahnya saja membutuhkan tanah yang khusus. Jadi harus dibawa ke laboratorium untuk mengetahui speknya. Jika terlalu banyak air dan zat lain, maka tidak terpakai,” katanya kepada MuriaNewsCom di Kudus, Rabu (7/12/2016).

Dia menjelaskan, jika bendungan menggunakan batu, dimungkinkan cepat selesai lantaran tidak akan ribet menggunakan tanah. Namun melihat struktur bangunan yang perlu menggunakan tanah, maka prosedur itu harus dijalani.

Menurutnya, penimbunan yang mencapai 50 meter juga baru tercapai sekitar lima meter. Dengan demikian maka untuk menimbun juga membutuhkan waktu yang lama, terlebih saat cuaca seperti sekarang dengan curah hujan cukup tinggi.

Kendala hujan sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Hujan diprediksi akan selesai sekitar Maret 2017 ke depan. Sehingga sampai Maret, penimbunan dipastikan tidak akan tercapai dengan lancar. ”Kualitas menjadi hal yang sangat penting. Jadi tidak bisa dikesampingkan dengan asal jadi,” ujarnya

Namun, kata dia, meskipun terkendala cuaca, namun tidak berarti tidak dapat mengerjakan dengan sesuai waktu. Sebab, pekerja masih dapat mengerjakan konstruksi bangunan pada sisi lainnya, yang tidak terpengaruh cuaca.

Dia menambahkan, kementrian PUPR dan pemerintah daerah sama-sama menunggu percepatan penuntasan Waduk Logung. Diharapkan dapat dipercepat penyelesaiannya di tahun 2017 dari target normatif 2018. Hanya, pelaksana kegiatan tetap harus memperhatikan faktor cuaca yang dimungkinkan akan sedikit menghambat penuntasan infrastruktur pengairan itu.

Saat ini saja, progres pembangunan bendungan masih kurang dari target. Jika ditargetkan 40,43 persen, maka hingga kini baru mencapai 40,38 persen. Untuk itulah ke depan pembangunannya akan dikebut lagi.

Editor : Akrom Hazami

PPKom Waduk Logung Sayangkan Polres Kudus Lamban Tangani Kasus Jamasri

waduk

Pekerja masih melakukan pengerjaan proses pembangunan Waduk Logung di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Hampir enam bulan lamanya kasus Jamasri, warga yang melaporkan kasus pengerusakan lahan oleh pihak pembangunan Logung, berjalan. Lamanya penanganan sangat disayangkan lantaran dapat menganggu proses pembangunan lebih lanjut

Hal itu diungkapkan Pejabat Pembuat Komitmen (PPKom) Waduk Logung, Zulfan Arief Mustafa di Kudus, Rabu (9/11/2016). Dia mengatakan, pembangunan waduk Logung harus terus dikerjakan, termasuk dengan urusan tanah milik Jamasri. Sayangnya, proses yang masih berlarut-larut membuat pengerjaan sangat terganggu.

“Seharusnya penanganan dapat segera dilakukan. Jika tidak, maka prosesnya seperti ini sehingga sangat menganggu proses pengerjaan Logung,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Jamasri adalah warga yang menolak konsinyasi. Dia menginginkan ganti rugi yang dianggapnya layak. Untuk itulah tanah miliknya kini diberikan pembatas dengan proyek Logung.

Pihaknya masih menunggu sikap dari polres. Meski upaya hukum berjalan, namun pembangunan juga harus tetap berjalan. Untuk itulah diminta agar penyelesaian masalah dapat segera ditangani.

Terkait pembangunan, saat ini proses yang sedang dilakukan adalah pengurukan bagian dasar bendung. Proses pengurukan masih berjalan hingga tahun depan karena luasnya Logung.

Saat ini progres pembangunan juga mengalami penurunan. Jika ditargetkan sudah 39,4 persen, namun kini baru mencapai 39,1 persen atau selisih 0,03 persen. Hal itu karena berbagai faktor yang menghambat, di antaranya tanah milik Jamasri dan juga cuaca yang memasuki musim hujan.

“Kami acuannya 2018, sesuai dengan kesepakatan. Namun kami upayakan adanya akselerasi percepatan. Hanya untuk berapa lama belum bisa terjawab,” ujarnya.

Dengan demikian, maka besar kemungkinan kalau waduk Logung tidak akan selesai pada 2017 mendatang. Terlihat masih banyaknya kerjaan dan malah tidak sesuai dengan target. Selain itu juga cuaca yang tidak menentu juga dapat menjadi penghambat.

Terpisah Kasubag Humas Polres Kudus, AKP Sumbar Priyono, mengatakan kalau laporan terkait Jamasri masih dalam penanganan. Namun hingga kini masih belum ada perkembangan. “Informasi masih tetap, belum ada perkembangan terkait hal tersebut,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami