Menikmati Keindahan Waduk Kedung Ombo dari Atas Perahu

 Perahu di Waduk Kedung Ombo sedang bersiap membawa penumpang berkeliling melihat pemandangan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Perahu di Waduk Kedung Ombo sedang bersiap membawa penumpang berkeliling melihat pemandangan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Keindahan objek wisata Waduk Kedung Ombo (WKO) ternyata tidak hanya bisa dilihat dari daratan saja. Tetapi bisa juga dinikmati dari atas perahu mesin yang banyak tersedia di kawasan wisata itu.

Ongkos naik perahu ini boleh dibilang murah. Setiap orang hanya dikenakan Rp 10 ribu saja.  “Dengan biaya sebesar ini, kita antarkan pengunjung berkeliling kawasan waduk selama 30 menit. Dari dermaga sini mengitari pulau-pulau di tengah waduk dan kembali ke dermaga,” kata Yeni Purwanto (21), salah satu tukang perahu di WKO.

Di tengah kawasan WKO memang terlihat ada beberapa pulau. Ada yang ukurannya besar dan kecil. Pada pulau-pulau itu masih terdapat banyak pohon penghijuan dan tanaman hias. 

Dulunya, pulau itu merupakan kawasan pedesaan yang masuk wilayah Boyolali. Seiring dibangunnya waduk untuk keperluan irigasi pertanian, warga di desa-desa itu direlokasi ke tempat lainnya.

Jumlah perahu yang ada di WKO ternyata cukup banyak. Total ada 11 perahu yang hampir semuanya milik warga Bonolayar, Sragen yang letaknya di pinggir timur waduk.

Pemilik perahu ini mencari penumpang bergantian, sesuai antrian. Mirip seperti di pangkalan ojek. Pada hari biasa, tiap perahu hanya dapat muatan satu kali jalan. Tiap muatan, biasanya ada 40 penumpang. Kalau hari Minggu atau hari besar tukang perahu bisa narik dua sampai tiga kali.

“Penumpang perahu paling ramai kalau lebaran. Kalau hari biasa, seperti ini kondisinya,” kata Yeni yang mengaku sudah ikut belajar jadi tukang perahu sejak kelas tiga SD itu.

Beberapa pengunjung yang dimintai komentarnya mengaku cukup senang bisa mengelilingi WKO naik perahu mesin berkapasitas sekitar 50 orang itu. Dengan melihat pemandangan dari perahu bisa membuat pikiran fresh.

“Setiap ke sini sama istri, saya pasti sempatkan naik perahu kalau cuaca tidak hujan. Setelah berkeliling pikiran rasanya jadi segar dan rasa capek bisa hilang. Habis muter-muter naik perahu terus makan ikan bakar jadi tambah semangatnya,” kata Agus Winarno, warga Jajar, Kelurahan Purwodadi.

Editor : Kholistiono

Berwisata di Waduk Kedung Ombo Belum Lengkap Kalau Tidak Bawa Pulang Oleh-oleh Khas yang Satu Ini

Beberapa ikan terlihat sedang dibakar dan siap untuk disajikan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Beberapa ikan terlihat sedang dibakar dan siap untuk disajikan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Hampir di semua lokasi wisata pasti punya oleh-oleh khas yang bisa dibawa pulang pengunjung. Termasuk juga di lokasi wisata Waduk Kedung Ombo (WKO).

Oleh-oleh khas yang ada di sini jenisnya kuliner, tepatnya ikan bakar.“Saya sudah beberapa kali berkunjung ke sini. Setiap pulang, pasti bawa ikan bakar buat oleh-oleh yang di rumah dan tetangga,” kata Rumiyanti, salah satu pengunjung yang mengaku berasal dari Blora itu.

Di sekitar lokasi wisata yang diresmikan Presiden Soeharto tahun 1991 itu memang terdapat banyak warung yang menyediakan menu ikan bakar. Jumlahnya mencapai belasan. 

Sebagian besar, ikan yang tersedia adalah jenis nila. Ada juga jenis ikan mas dan tombro. Terkadang, ada pula yang menyediakan ikan segar hasil tangkapan dari kawasan WKO. Tetapi, jumlahnya tidak begitu banyak dan tidak selalu ada setiap hari.

“Ikan bakar ini dijamin segar karena diambil langsung dari karamba yang ada di sekitar waduk. Di sekitar waduk, banyak warga yang membudidaya ikan di dalam karamba. Selain di dalam obyek wisata, di luar sana juga banyak warung yang menjual ikan bakar,” kata Mbak Sri, salah satu penjual ikan bakar.

Harga ikan bakar di situ boleh dibilang cukup terjangkau. Harga ikan yang sudah dibakar mulai Rp 7.500 sampai Rp 40.000 per ekor. Harga ini tergantung besar kecilnya ikan.

Bagi yang ingin menikmati ikan bakar di tempat, juga disediakan nasi ditambah sambal dan lalapan. Beberapa pengunjung bahkan ada yang hanya beli ikan plus sambal dan lalapan saja. Sementara bekal nasinya sudah bawa dari rumah. 

Biasanya, mereka ini menggelar tikar di pinggiran waduk dan menyantap makanan sambil melihat pemandangan. Di sekitar obyek wisata, banyak sekali tempat-tempat teduh yang biasa dipakai istirahat dan makan.

Lalu bagaima rasa ikan bakar WKO ini? Jangan salah, meski hanya dikasih bumbu sederhana, cita rasa ikan bakar disitu tidak kalah lezat dengan masakan restoran besar. Terlebih, jika makannya rame-rame, menu ikan bakarnya jadi terasa lebih lezat.

“Menu ikan bakar Kedung Ombo memang top. Saya tadi sudah habis dua ikan bakar ukuran besar,” kata Amali, warga Jepara yang mampir kesitu dalam perjalanan menuju Solo.

 Editor : Kholistiono

Volume Air Berkurang, Area Sabuk Hijau Waduk Kedung Ombo Ditanami Ribuan Pohon

Bupati Grobogan Sri Sumarni beserta pejabat lainnya melangsungkan penanaman pohon di area sabuk hijau Waduk Kedung Ombo, Rabu (30/11/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Bupati Grobogan Sri Sumarni beserta pejabat lainnya melangsungkan penanaman pohon di area sabuk hijau Waduk Kedung Ombo, Rabu (30/11/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Upaya mencegah makin berkurangnya volume air di Waduk Kedung Ombo (WKO) dilakukan dengan cara menanami area sabuk hijau (green belt) dengan ribuan pohon penghijauan. Acara penanaman yang diberi tajuk Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air (GN-KPA) itu dilangsungkan Rabu (30/11/2016).

Acara penanaman area sabuk hijau secara simbolis dilakukan Bupati Grobogan Sri Sumarni berserta perwakilan dari Pemkab Sragen, dan Boyolali. Seperti diketahui, kawasan WKO memang berada di tiga wilayah kabupaten tersebut.

Hadir pula dalam kesempatan itu, Kepala Dinas PSDA Jateng Prasetyo Budhie Yuwono dan pejabat dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana.

Aksi penanaman kembali area sabuk hijau dilakukan di Pulau Dombang yang berlokasi di tengah Waduk Kedung Ombo. Kawasan ini masuk wilayah Desa Wonoharjo, Kecamatan Kemusu, Boyolali. Rombongan pejabat naik perahu mesin selama 10 menit menuju lokasi penghijauan.

Kepala Dinas PSDA Jateng Prasetyo Budhie Yuwono menyatakan, luas area sabuk hijau di kawasan Waduk Kedung Ombo sekitar 2.000 hektare. Dari luasan ini, sekitar 800 hektar atau 40 persen dalam kondisi kritis karena adanya penebangan liar.

Adanya penebangan liar ini dalam jangka panjang membawa dampak negatif. Yakni, bisa mempercepat proses  sedimentasi waduk lantaran makin sedikitnya pohon yang bisa menahan tanah.

“Pada awalnya volume waduk bisa menampung sekitar 720 juta meterkubik. Sekarang ini tinggal 688 juta meter kubik air yang bisa tertampung atau berkurang sekitar 40 juta meter kubik,” katanya. 

Jika hal itu dibiarkan, maka makin lama air yang ditampung menyusut terus. Padahal air WKO diharapkan bisa tetap mengairi 60.000 hektare lahan pertanian di sejumlah kabupaten. Seperti, Grobogan, Kudus, Pati, Demak dan Jepara.

“Melihat kondisi ini, maka salah satu upaya penyelamatan adalah melakukan reboisasi di area sabuk hijau. Total, ada 4.000 pohon yang akan kita tanam di sana,” imbuhnya.

Sementara itu, Bupati Grobogan Sri Sumarni mengapresiasi upaya penghijauan yang dilakukan di area sabuk hijau tersebut. Ia berharap, agar tanaman yang sudah ditanam dirawat dengan baik sehingga tujuan dari penghijauan bisa tercapai. 

Di sisi lain, Sri Sumarni juga meminta pada masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar sabuk hijau bisa menjaga tanaman penghijauan yang ada. “Keberadaa tanaman di area sabuk hijau itu penting sekali untuk menyimpan air serta menahan erosi dan mencegah proses sedimentasi waduk. Jadi mari kita jaga bersama tanamannya,” ujarnya. 

Editor : Kholistiono

Nikmatnya Menyantap Ikan Bakar Kedung Ombo yang Maknyus

Penjual ikan bakar sedang membakar ikan. (ag-xin.blogspot.co.id)

Penjual ikan bakar sedang membakar ikan. (ag-xin.blogspot.co.id)

 

GROBOGAN – Bagi pengunjung obyek wisata Waduk Kedung Ombo (WKO) rasanya kurang lengkap jika belum mencicipi menu makanan ikan bakar. Di sekitar kawasan obyek wisata yang ada di Desa Rambat, Kecamatan Geyer itu banyak sekali warung makan yang menyediakan menu ikan bakar.

”Ikan bakar ini dijamin segar karena diambil langsung dari karamba yang ada di sekitar waduk. Di sekitar sini, banyak warga yang membudidaya ikan di dalam karamba. Selain di dalam obyek wisata, di luar sana juga banyak warung yang menjual ikan bakar,” kata Winarno, warga di sekitar WKO.

Kebanyakan, ikan yang tersedia adalah jenis nila dan ikan mas. Terkadang, ada pula yang menyediakan ikan segar hasil tangkapan dari kawasan WKO. Tetapi, jumlahnya tidak begitu banyak dan tidak selalu ada setiap hari.

Harga ikan bakar boleh dibilang cukup terjangkau. Untuk satu porsi harganya berkisar Rp 17.500 saja. Porsi yang ditawarkan ini terdiri satu ekor ikan nila bakar, lalapan dan sambel ditambah segelas es jeruk.

”Harga yang ini untuk ukuran ikan yang standar. Kalau ingin ikan yang lebih besar harganya tambah sedikit, sekitar Rp 5.000 sampai Rp 10.000 tergantung ukurannya,” cetus Ningsih, salah satu penjual ikan bakar.

Jika mau lebih hemat, bisa beli ikan bakarnya saja dan sudah dapat bonus sambal plus lalapan. Sementara nasi dan minumannya bisa bawa sendiri dari rumah, kalau kebetulan pergi ke sana dengan rombongan. Di sekitar obyek wisata, banyak sekali tempat-tempat teduh yang biasa dipakai istirahat dan makan.

Di setiap warung makan, pasti tersedia ikan yang dalam kondisi sudah dibakar. Namun, bisa juga pembeli minta dibakarkan lagi ikan yang masih segar.

Meski hanya dikasih bumbu sederhana, cita rasa ikan bakar di kawasan WKO tidak kalah dengan masakan restoran besar. Terlebih, jika makannya ramai-ramai, menu ikan bakarnya jadi terasa lebih lezat.

”Menu ikan bakarnya memang top. Saya tadi sudah habis dua porsi besar,” kata Fandi, warga Sragen yang berwisata dengan keluarganya. (DANI AGUS/TITIS W)

FP3A Sepakat Pengambilan Air Kedung Ombo

Bendung Wilalung  Undaan. Bendungan air yang digunakan irigasi sawah. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Bendung Wilalung Undaan. Bendungan air yang digunakan irigasi sawah. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Koordinator Federasi Perkumpulan Petani Pemakai Air (FP3A) sistem Kedung Ombo, Kaspono, menyatakan sejak awal pihaknya memang mengusulkan agar pengambilan air dapat dilakukan di bagian hulu.

Dia menjelaskan, pengertiannya, air baku diambil mulai dari pertigaaan Sungai Lusi dan Sungai Serang hingga bendung Klambu.

”Silahkan mengambil diantara tempat tersebut, tidak masalah,” katanya.

Sebenarnya, secara logika pengambilan air di tempat manapun dipastikan juga memberi dampak pada stok irigasi untuk puluhan ribu petani irigasi teknis Kedung Ombo. Pasalnya, diambil dari titik manapun air tentu akan berkurang. Mengenai air yang diambil, masih tetap seperti kesepakatan semula, yakni 500 liter per detik.

”Kalau air berkurang tentu mengganggu irigasi petani yang memang menggunakan sumber tersebut,” imbuhnya.

Pengambilan air baku SPAM di bagian hulu, lebih disebabkan karena antisipasi dampak psikologis saja. Seandainya terjadi persoalan terkait krisis air di sumber tersebut, maka potensi gesekan dapat dikurangi. (FAISOL HADI/TITIS W)

Soal Teknis Pengambilan Air, Langsung Dikelola BBWS

Bendung Wilalung  Undaan. Bendungan air yang digunakan irigasi sawah. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Bendung Wilalung Undaan. Bendungan air yang digunakan irigasi sawah. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Koordinator SPAM Dadi Muria, Achmadi Safa mengatakan, mengenai teknis pengambilan air baku, sepenuhnya dilakukan oleh Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana di Semarang. Sebab perjanjian yang dilakukan teknis yang mengetahui langsung dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).

”Mereka pula yang menentukan neraca pengambilan air baku untuk Kabupaten Grobogan, Jepara, dan Kudus. Kami hanya menjalankan pendistribusiannya saja,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, beberapa waktu yang lalu sudah dilakukan kajian terkait penggunaan air dari sumber tersebut untuk kepentingan SPAM. Hasilnya, diperoleh kesepakatan untuk pengambilan sebesar 500 liter per detik. Rinciannya, Kabupaten Kudus dan Jepara masing-masing mendapatkan 200 liter per detik, sedangkan Grobogan memperoleh 100 liter per detik.

”Dengan jumlah tersebut ratusan pelanggan baru PDAM, khususnya di daerah Undaan dan Jati,” ujarnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Air Baku SPAM Diambil dari Kedung Ombo, Dijamin Tak Ganggu Pengguna Lama

Bendung Wilalung  Undaan. Bendungan air yang digunakan irigasi sawah. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Bendung Wilalung Undaan. Bendungan air yang digunakan irigasi sawah. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Para pengguna lama air Kedung Ombo tidak perlu risau mengenai proyek Sistem Penyediaan Air Minum Dadi Muria (SPAM Dadi Muria). Sebab diupayakan tidak mengusik pengguna lama waduk Kedungombo.

Hal itu diutarakan Koordinator SPAM Dadi Muria, Achmadi Safa, menurutnya model pengambilan air dilakukan dengan mengambil air jauh sebelum bendung Klambu. Pengambilan air baku akan diambil di pertigaan sungai Lusi dan Serang beberapa kilometer, sebelum bendung Klambu.

”Kami tetap menghormati pengguna tetap air tersebut, dan juga menghormati pengguna lama yakni petani irigasi teknis waduk Kedung Ombo,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Dia berharap, pengambilan air di titik tersebut diharapkan dapat mengurangi potensi gesekan dengan pengguna lama. Sebab pengambilan air juga untuk kepentingan dan kebutuhan bersama pula.

Dia menambahkan, pengambilan air nantinya juga bakal digunakan untuk warga Undaan. Sehingga warga juga dapat menikmati air bersih untuk kebutuhan harian mereka. (FAISOL HADI/TITIS W)

Pekan Depan WKO Mulai Gelontorkan Air, Petani Siap Masuk Masa Tanam

Saluran Irigasi Primer WKO di Desa Sugihan, Kecamatan Toroh terlihat kering setelah dua bulan tidak ada pasokan air. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Saluran Irigasi Primer WKO di Desa Sugihan, Kecamatan Toroh terlihat kering setelah dua bulan tidak ada pasokan air. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Penghentian penggelontoran air di saluran irigasi Waduk Kedung Ombo (WKO) akan segera berakhir. Rencananya, pintu utama WKO akan mulai dibuka pekan depan, (1/9/2015).

Pembukaan pintu air itu sesuai kesepakatan bersama dari beberapa perkumpulan petani di Grobogan, Kudus, Demak, Pati dalam rapat rakor alokasi air sistem WKO beberapa hari lalu. Pasokan air ke saluran irigasi itu sendiri sudah dilakukan sejak awal Juli lalu.

Kepala Dinas Pengairan Kabupaten Grobogan Subiyono mengatakan, untuk tahap awal, air dari WKO nanti digelontorkan dulu ke Bendung Sedadi dan Klambu. Kemudian, untuk pasokan air ke Bendung Sidorejo dan Kali Lanang baru digelontorkan pada 15 September.

”Air dari Kedung Ombo rencananya digelontorkan mulai pukul 06.00 WIB. Untuk volume penggelontoran disesuaikan dengan kondisi lapangan dan biasanya sekitar 50 sampai 60 meter kubik/detik,” kata Subiyono pada wartawan.
Menurutnya, dibukanya pintu air Waduk Kedungombo itu dilakukan untuk persiapan masa tanam pertama (MT 1) tahun 2015. Pada pasa musim tanam padi ini para petani memerlukan banyak air untuk mengolah lahan, serta persiapan persemaian.

Ditambahkan, sampai saat ini, elevasi WKO masih ada 86,59 meter. Dengan debit sebanyak ini, air WKO hanya dapat mencukupi kebutuhan sekitar tiga bulan saja. Untuk itu, para petani diminta menggunakan air seefektif mungkin dan berdoa agar dalam masa tiga bulan nanti sudah turun hujan. (DANI AGUS/TITIS W)

Kesulitan Cari Tempat Wisata, Waduk Kedungombo Jadi Sasaran Saat Lebaran

Pengunjung berkeliling naik perahu di Waduk Kedungombo. (MuriaNewsCom / Dani Agus)

Pengunjung berkeliling naik perahu di Waduk Kedungombo. (MuriaNewsCom / Dani Agus)

GROBOGAN – Salah satu obyek wisata di Grobogan, yakni Waduk Kedungombo (WKO) masih jadi pilihan warga saat ingin rekreasi selama libur lebaran. Selama momen lebaran ini, ribuan pengunjung yang datang ke WKO di Desa Rambat, Kecamatan Geyer tersebut. Lanjutkan membaca

Waduk Kedung Ombo Rusak Parah, Penyaluran Air Dilakukan Pengiritan

saluran primer dari Waduk Kedung Ombo yang kondisinya rusak parah. (MuriaNewsCom/DANI AGUS)

saluran primer dari Waduk Kedung Ombo yang kondisinya rusak parah. (MuriaNewsCom/DANI AGUS)

GROBOGAN – Rencana perbaikan saluran irigasi Waduk Kedung Ombo tampaknya tidak bisa dilakukan menyeluruh. Sebab, tingkat kerusakan saluran khususnya saluran primer ternyata cukup parah. Jika semuanya diperbaiki maka butuh alokasi dana yang luar biasa besar. Lanjutkan membaca

Air Kedung Ombo Dihentikan, Kades Krangganharjo ”Nggembor” Minta Perbaikan Saluran Irigasi

Saluran irigasi di Kecamatan Toroh rusak berat dan butuh perbaikan secepatnya. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Saluran irigasi di Kecamatan Toroh rusak berat dan butuh perbaikan secepatnya. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

GROBOGAN – Behentinya pasokan air dari Waduk Kedung Ombo (WKO) ke saluran irigasi mulai awal Juli lalu harus dimanfaatkan dengan baik untuk memperbaiki saluran primer irigasi yang rusak.

Hal itu perlu dilakukan mengingat fungsi saluran primer itu cukup vital sebagai penyuplai pasokan air utama dari WKO menuju areal persawahan. Disamping itu, tujuan dihentikannya pasokan air memang untuk tujuan perbaikan saluran irigasi.

”Saluran primer yang kondisinya kritis ada beberapa titik. Saya harapkan, saluran utama yang rusak ini benar-benar ditangani semuanya sehingga pasokan air musim tanam berikutnya bisa lancar,” ungkap Kepala Desa Krangganharjo, Kecamatan Toroh Jasminto yang diwilayahnya banyak titik saluran irigasi longsor.

Kepala Dinas Pengairan Grobogan Subiyono menyatakan, penutupan WKO atau masa pengeringan itu biasa dilakukan tiap tahun, yakni pada kurun waktu Juli hingga awal September. Selain untuk menghemat debit air, penutupan itu digunakan pihak BBPSDA untuk mengecek dan memperbaiki saluran irigasi primer.

Menurutnya, untuk titik saluran yang longsor atau rusak semuanya sudah didata. Nantinya, saluran yang tingkat kerusakannya paling parah akan mendapat penanganan lebih dahulu. Diharapkan dalam masa pengeringan semua saluran rusak bisa teratasi. (DANI AGUS/SUPRIYADI)

Air Waduk Kedung Ombo Dihentikan Sementara

petugas pengairan mengecek pintu air irigasi di Grobogan. Sementara watktu air dari Waduk Kedungombo dihentikan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

petugas pengairan mengecek pintu air irigasi di Grobogan. Sementara watktu air dari Waduk Kedungombo dihentikan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

GROBOGAN – Gelontoran air dari Waduk Kedung Ombo ke saluran-saluran irigasi teknis akan dihentikan untuk sementara waktu. Kebijakan itu dilakukan oleh Balai Besar Pengelolaan Sumber Daya Air (BBPSDA) Jateng dengan beberapa pertimbangan. Salah satunya adalah untuk menghemat debit air di WKO pada musim kemarau serta melakukan perbaikan saluran irigasi. Lanjutkan membaca