Begini Jurus Petugas Dinkes Grobogan Lakukan Vaksinasi Siswa

Petugas dari Dinas Kesehatan Grobogan melangsungkan kegiatan vaksinasi MR di SMPN 5 Purwodadi, Senin (7/8/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Petugas Dinkes Grobogan ternyata tidak hanya butuh kemampuan medis saja saat melaksanakan pemberian vaksin measles rubella (MR) pada anak sekolah. Mereka juga dituntut punya jurus lain biar kegiatan vaksinasi berlangsung lancar. Yakni, bisa merayu anak sekolah supaya mau diberi vaksin.

Rayuan ini diperlukan karena tidak semua anak dengan senang hati mau diberikan vaksin. Soalnya, vaksin MR itu diberikan lewat jarum suntik. Kondisi ini menyebabkan sebagian anak merasa takut saat melihat jarum suntik yang dibawa petugas.

“Memang ada anak yang takut dikasih vaksin ketika lihat jarum suntik. Kalau ada yang takut seperti ini maka harus kita rayu dulu,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Grobogan Lely Atasti, usai kegiatan vaksinasi pada siswa SMPN 5 Purwodadi, Senin (7/8/2017).

Menurut Lely, pembarian vaksin MR sudah dilakukan mulai pekan pertama bulan Agustus ini. Sejauh ini, sudah sekitar 3.000 anak yang telah mendapat vaksin.

Pemberian vaksin hanya pada anak usia 9 bulan hingga anak usia 15 tahun. Sasarannya adalah anak-anak yang duduk di bangku sekolah. Mulai PAUD, SD, SMP dan sebagian siswa SMA.

Target pelaksanaan vaksinasi di Grobogan sebanyak 325.000 anak. Ditargetkan, pelaksanaan vaksinasi MR selesai akhir September mendatang.

Lely menambahkan, bagi anak yang belum divaksinasi pada saat petugas datang sekolah,  diminta untuk datang ke puskesmas terdekat. Pemberian vaksin itu diperlukan guna mencegah anak-anak supaya tidak terkena penyakit campak.

Editor : Akrom Hazami

 

Tak Pakai Vaksin Pemerintah, DKK Kudus Minta RS Mardi Rahayu Uji Lab Vaksinnya

vaksin

 

MuriaNewsCom, Kudus – DKK menjamin vaksin yang diambil dari mereka adalah vaksin asli. Namun faktanya, tidak semua instansi kesehatan mengambil vaksin dari pemerintah.

Seperti halnya di RS Mardi Rahayu. Melihat hal itu, DKK meminta pihak rumah sakit untuk melakukan uji laborat kepada semua jenis vaksin yang dimiliki.

“Jumlah vaksin di bawah 10, semuanya ambil bukan dari pemerintah, makanya harus dilakukan uji lab agar jelas hasilnya,” kata Kepala DKK Dokter Maryata kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, jauh sebelum vaksin palsu ramai, DKK sudah melakukan kunjungan ke berbagai rumah sakit. Sepeti halnya ke Mardi Rahayu. Oleh DKK, Mardi Rahayu diberikan masukan untuk membeli lemari pendingin yang buka ke atas untuk menyimpan vaksin. Hanya oleh pihak rumah sakit dinilai tidak setuju lantaran mahalnya biaya.

“Biaya menyimpan vaksin memang mahal. Namun itulah yang benar seharusnya,” ujarnya.

Kini, kata Maryata proses uji vaksin sudah berjalan. Hanya untuk waktunya tidak diketahui lantaran uji dilakukan di Jakarta melalui provinsi. Dia berharap vaksin tersebut asli, sehingga tidak membuat masalah pada belakangan nanti.

Yuniati Bodro M, perwakilan RS Mardi Rahayu saat pertemuan dengan BPJS dan DKK 29 Juni lalu menjelaskan, kalau pihaknya mengambil vaksin dari rekanan. Hanya selama ini belum ada keluhan terkait vaksin yang diberikan.

“Jumlahnya ada banyak, akan kami tes semuanya. Sehingga dapat meyakinkan kalau vaksin tersebut asli,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami