Usaha Bersama Komunitas Bisa Dorong Desa Lebih Produktif

Tatyana Warastuti meresmikan UBK yang dijalankan oleh Desa Loram Kulon dan Loram Wetan berupa produk sabun cuci. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Tatyana Warastuti meresmikan UBK yang dijalankan oleh Desa Loram Kulon dan Loram Wetan berupa produk sabun cuci. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Selain membuka kegiatan Loram Expo, Desa Loram Kulon dan Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati juga membuka Usaha Bersama Komunitas (UBK) yang diprogramkan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendesa).

Nantinya UBK tersebut dikelola oleh ke dua desa untuk dijadikan badan usaha milik desa. Sehingga masyarakatnya menjadi lebih produktif sesuai dengan usaha yang dijalankan.

Salah satu staf Kemendesa, Tatyana Warastuti mengatakan program ini memang difokuskan kepada desa yang mempunyai produktivitas tinggi. Misalkan Loram Wetan dan Loram Kulon.

Meski begitu, pihaknya juga tidak mematok program tersebut harus tersasar kepada desa yang mayoritas warganya mempunyai usaha kecil saja. ”Kalau UBK itu tergantung dari perdes dan APBDesnya masing-masing. Sebab UBK itu memang dianggarkan dari dana desa. Selain itu, bagi desa yang tidak mempunyai keahlian khusus atau mempunyai usaha, juga bisa membuat UBK tersebut dengan desa lainnya,” paparnya.

Selain itu, lanjut Tatyana, dalam produk UBK tersebut diserahkan kepada pihak desa. Baik itu pembuatan sosis atau sabun seperti halnya di Loram. Dengan adanya UBK tersebut, diharapkan anggotanya bisa mejalankan usahanya untuk lebih maju.

”Kami sebagai Kemendesa, hanya bisa memfasilitasi, memantau perkembangan serta mengarahkan. Sehingga desa yang mempunyai UBK bisa maju dengan dana desa yang ada,” harapnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Asah Otak Produksi Puzzle Hantarkan Sholikin Jadi Pengusaha Sukses

puzzle

Sholikin sedang membuat puzzle di rumahnya dengan peralatan sederhana. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Sholikin (50) warga Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati bisa menyulap papan bekas menjadi mainan anak-anak yang mampu mengasah kreativitas.

Papan bekas yang didapat dari perusahan swasta di Kudus tersebut, diolah Sholikin menjadi mainan puzzle. Diketahui, puzzle merupakan mainan anak-anak yang sekaligus bisa mengasah kemampuan psikomotorik atau keaktifan berpikir otak. Yaitu dengan cara merangkai gambar, sehingga menjadi gambar yang utuh.

”Dalam pembuatan mainan ini, kami mencari papan bekas di salah satu perusahan. Setelah itu, papan tersebut saya beli, dan saya buat mainan berupa puzzle,” paparnya.

Ia mengaku, menekuni pekerjaan sebagai perajin puzzle sekitar empat tahun. Sehingga beragam gambar dan bentuk puzzle, mampu dibuatnya dengan lihai tanpa menggunakan mesin pabrik.

”Puzzle ini bermanfaat, terlebih bisa meningkatkan pendapatan yang lumayan,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Sholikin, dalam waktu satu bulan, ia mampu membuat puzzle sekitar 1.500 buah. Hasil kerajinannya tersebut, ia pasarkan ke pelanggannya baik di Pasar Kliwon Kudus dan Pasar Mayog, Jepara.

Untuk harga puzzle tersebut, Sholikin membanderol dengan harga Rp 3 ribu per puzzle ke para pedagang grosir yang ada di pasar. ”Alhamdulillah, dengan usaha ini dapat menumbuhkan ekonomi, serta dapat membantu pembiayaan sekolah ke tiga anak saya,” imbuhnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)