Bangkitkan Antusiasme Nikmati Kopi Muria, Lakukan Edukasi Pengolahan Kopi

Tampak kegiatan tradisi Wiwitan Kopi. (MuriaNewsCom/Merie)

Tampak kegiatan tradisi Wiwitan Kopi. (MuriaNewsCom/Merie)

 

KUDUS – Penikmat kopi sekaligus pemilik Kedai Kopi Tong, Doni Dole menambahkan, kopi Muria memiliki cita rasa khas yang berbeda dari daerah lain. Aroma kopi Muria wangi dan ada rasa rempah-rempah serta akar-akaran.
Sayangnya, kata Doni meski cita rasa khas namun kopi Muria masih diolah secara tradisional. Padahal hal itu tak cukup untuk membangkitkan antusiasme masyarakat untuk mencicipi kopi Muria.

Berpijak dari kondisi itu, pihaknya pun berupaya mengenalkan cara pengolahan kopi yang lebih modern. Ada yang disajikan dengan gentong, V60, siphon, turkies dan lain sebagainya.

”Kualitas kopi Muria tergolong cukup. Tapi kalau tak diolah dengan baik maka hasilnya tak maksimal. Makanya kita edukasi petani dan sekaligus penikmat kopi agar kopi Muria lebih dikenal masyarakat,” ucap Doni.

Areal kebun kopi di kawasan Pegunungan Muria selain menempati lahan milik warga, juga menggunakan tanah milik negara yang dikelola Perhutani Jawa Tengah. Petani menanam kopi di bawah tegakan pohon-pohon besar di kawasan hutan lindung itu. (MERIE/TITIS W)

Dinas Pertanian Keluarkan Jurus Jitu untuk Pasarkan Kopi Muria

Tampak kegiatan tradisi Wiwitan Kopi. (MuriaNewsCom/Merie)

Tampak kegiatan tradisi Wiwitan Kopi. (MuriaNewsCom/Merie)

 

KUDUS – Kepala Dinas Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Kabupaten Kudus Budi Santoso berjanji bakal melakukan berbagai langkah agar kopi khas lereng Pegunungan Muria Kudus lebih dikenal khalayak luas. Salah satu caranya dengan melakukan branding Kopi Muria.

”Kopi khas pegunungan muria sudah dikenal banyak orang. Tapi memang masih susah memasarkannya. Karena itu, kami melakukan branding supaya lebih maju,” kata Budi Santoso saat mengikuti tradisi Wiwitan Kopi di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Senin (24/8/2015).

Ia menjelaskan, branding kopi ini menjadi salah satu cara yang paling jitu. Ini mengingat total lahan kopi di Kabupaten Kudus mencapai 452 hektare. Meski, mayoritas lahan kopi itu ditanami bibit jenis robusta, namun ada juga jenis arabica.

”Melihat potensi itu, sayang kalau tak dimanfaatkan secara maksimal. Kami yakin baik robusta ataupun arabica muria bisa terkenal,” ujarnya.

Ia menambahkan, khusus di lereng Pegunungan Muria yang masuk wilayah Desa Colo, luas lahan kopi sekitar 90 hektar. Tiap hektar lahan tahun ini mampu menghasilkan kopi dengan kisaran 1,5- 2 ton. Harga kopi panenan petani jika masih dalam bentuk biji kopi basah (belum dikeringkan atau diolah) sekitar Rp550 ribu per kwintal.

”Agar kualitas yang dihasilkan bagus. Lokasi ini juga sudah dikelola kelompok sadar wisata (pokdarwis) jadi tidak hanya menawarkan kopi khas Muria saja, namun juga pemandangan alamnya,” jelas Budi. (MERIE/TITIS W)

Hmm…!Nikmatnya Sensasi Kopi Muria yang Wangi

Tampak kegiatan tradisi Wiwitan Kopi. (MuriaNewsCom/Merie)

Tampak kegiatan tradisi Wiwitan Kopi. (MuriaNewsCom/Merie)

 

KUDUS – Pada tradisi Gawe Wiwit Kopi yang digelar di Desa Colo, Kudus, rupanya memperlihatkan kondisi kopi lokal yang oke.

Pada acara yang dihadiri pencinta kopi asal beberapa kota di Indonesia. Mereka menikmati kopi Muria yang diracik oleh peramu kopi lokal, Doni Dole.
“Aroma kopi Muria wangi dan ada rasa rempah-rempah serta akar-akaran,” katanya.

Menurutnya, kualitas kopi Muria tergolong cukup nikmat. Tapi kalau tak diolah dengan baik maka hasilnya tak maksimal. Makanya kita edukasi petani dan sekaligus penikmat kopi agar kopi Muria lebih dikenal masyarakat,” ucap Doni.
Kepala Biro Perlindungan SDA dan Kelola Sosial Perum Perhutani Divre Jateng, Imam Fuji Raharjo tak henti-hentinya dibuat kagum dengan kegiatan. (MERIE/AKROM HAZAMI)

Ada Tradisi Wiwitan Kopi di Kudus yang Mempesona Lho

Tampak kegiatan tradisi Wiwitan Kopi. (MuriaNewsCom/Merie)

Tampak kegiatan tradisi Wiwitan Kopi. (MuriaNewsCom/Merie)

 

KUDUS – Siapa sangka di Kudus juga mempunyai tradisi perayaan kopi yang mempesona. Tak percaya? Hal ini dilakukan warga Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Warga menggelar tradisi yang disebut Wiwitan Kopi, Senin (24/8).

Samiyono (35), tokoh Desa Colo mengatakan, kegiatan itu dilakukan sebagai bentuk syukur. Karena hasil kopi yang melimpah. “Ini bentuk syukur kita karena panen kopi tahun ini lumayan bagus,” kata Samiyono.

Dalam kesempatan itu, ada beragam menu menjadi hidangan. Yakni ayam ingkung, ikan, tempe, dan gudangan dan nasi putih ambengan. Menu itu langsung menggoda selera warga.

Sebagai informasi, total lahan kopi di Kabupaten Kudus seluas 452 hektare. Dengan jenisnya yang paling banyak adalah bibit jenis robusta, dan jenis arabica.
Sementara di lereng Pegunungan Muria yang masuk wilayah Desa Colo, luas lahan kopi sekitar 90 hektare. Lahan petani itu setiap hektarenya mampu memproduksi kopi dengan kisaran 1,5- 2 ton.

Kepala Dinas Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Kabupaten Kudus Budi Santoso tampak antusias dengan kegiatan itu.

“Lokasi ini juga sudah dikelola kelompok sadar wisata (pokdarwis) jadi tidak hanya menawarkan kopi khas Muria saja namun juga pemandangan alamnya,” kata Budi. (MERIE/AKROM HAZAMI)

Warga Kendeng Gelar Upacara Wiwit Tanam

Warga Kendeng sedang duduk di depan sesaji yang akan digunakan untuk menggelar upacara wiwit tanam padi organik di Desa Kedumulyo, Kecamatan Sukolilo, Senin (15/5/2015). (MURIANEWS/LISMANTO)

PATI – Warga Kendeng yang tergabung dalam Musyawarah Masyarakat Pati untuk Kendeng Sejahtera (Mustika) bekerja sama dengan Nusantara Organic SRI Center menggelar upacara wiwit tanam padi organik System of Rice Intensification (SRI) di Desa Kedumulyo, Kecamatan Sukolilo, Senin (15/6/2015).

Lanjutkan membaca