Petani Undaan Kudus Curhat ke Bupati Gara-gara Rugi Pas Panen

Bupati Kudus Musthofa saat melakukan peninjauan di salah satu sudut sawah di Kecamatan Undaan, Selasa. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Bupati Kudus Musthofa saat melakukan peninjauan di salah satu sudut sawah di Kecamatan Undaan, Selasa. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom Kudus – Para petani yang berada di Kudus, khususnya Undaan kerap kali mengeluhkan ruginya hasil panen. Bahkan meskipun hasil panennya bagus, petani tetap merasa rugi lantaran tidak sesuai hasilnya.

Hal itu diungkapkan Bupati Kudus Musthofa di Kudus, Selasa (31/7/2017).  Menurutnya, para petani mengeluhkan kerugian saat usai panen. Kondisi tersebut dialami petani sudah cukup lama, yang disebabkan harga beli padi yang selalu anjlok saat panen.

“Ada sejumlah petani dan kelompok tani yang mengeluh demikian. Termasuk juga para petani di wilayah Undaan Lor saat panen raya semacam ini,” katanya kepada MuriaNewsCom saat kegiatan panen raya di Desa Undaan Lor 

Menurutnya, dari hasil keluhan para petani, pihaknya bakal melakukan komunikasi dengan pihak Bulog. Dari sana bisa diketahui apakah Bulog mampu membeli sesuai dengan keinginan petani ataukah tidak. Jika Bulog bisa membeli sesuai dengan keinginan petani, tentunya harga tersebut nilai yang wajar. Sebab Bulog memiliki aturan dalam pembelian gabah atau padi dari para petani. “Kalau harganya Rp 370 ribu per kuintal dari sawah, maka petani sudah masuk. Tapi belum tahu apakah Bulog bersedia demikian ataukah tidak demikian? tanyanya.

Hanya keluhan para petani tak melulu soal rendahnya harga padi panen, tapi juga dengan benih bantuan dari pusat yang diterima oleh para petani. Para petani mengeluhkan hal itu karena di sejumlah titik digratiskan bantuan benih, namun daerah lainnya harus membelinya dengan harga yang bervariatif.

Menyikapi hal itu, Bupati meminta pihak yang terkait dapat bertugas sebagaimana mestinya. Jika memang bantuan bentuknya gratis, maka sudah semestinya digratiskan kepada petani. Lain halnya jika harus membayar, maka harus ada aturannya. “Bagi wilayah yang sudah membagi dengan membayar saya meminta LPJ, berasal dari mana saja uangnya, dapat berapa dan digunakan untuk apa saja uangnya. LPJ tak harus formal, tulisan tangan juga boleh,” ungkap dia.

Editor : Akrom Hazami

Lagi-lagi Balai Desa Tutup di Jam Pelayanan, Desa Wates Ditegur Camat Undaan Kudus

camat-daan

Camat Undaan Catur W siap memberikan sanksi kepada perangkat desa yang tak patuh dengan aturan. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Setelah Perangkat Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan, Kudus, diperingati pemerintah kecamatan, kini gantian Pemerintah Desa Wates. Pemerintah desa itu mendapat peringatan karena kesalahan serupa, yakni kantor balai desa ditinggalkan perangkatnya saat jam pelayanan.

Camat Undaan Catur W mengatakan, kejadian tidak pas tersebut didapatinya pada Kamis (5/1/2017). Saat itu dia melakukan sidak ke sejumlah desa di Undaan. Hasilnya, dia mendapati kantor Desa di Wates dalam keadaan tertutup.

“Saat itu kantor tertutup sekitar jam 13.30 WIB. Namun pintu tidak terkunci dan ada seorang di dalamnya. Padahal jumlah perangkat ada 10 orang,” katanya kepada MuriaNewsCom di tempat kerjanya, Senin (9/1/2016).

Mendapatkan hal tersebut, Jumat (6/1/2017) pihaknya seketika memanggil Pemdes Wates. Pemerintah desa diberikan pengarahan atas sikap yang tidak sepantasnya itu.

Beruntung, pihak kecamatan tidak memberikan Surat Peringatan seperti yang diberikan ke Pemdes Kalirejo. Meski hanya teguran keras, namun diyakini itu ampuh untuk membuat aparat pemerintah desa menjadi jera dan tak berbuat seenaknya.

“Karena masih ada orang meski satu, jadi peringatan keras kami berikan kepada seluruh perangkat desa. Mereka tidak sepatutnya melakukan hal itu,” ujarnya.

Pihaknya dalam waktu dekat ini bakalan melakukan sidak lainnya terkait pelayanan. Pihaknya tak mau warga yang butuh keperluan ke desa, tapi terganggu. Terutama terganggung hanya gara-gara kantaor desa tutup di jam pelayanan.

Selain itu juga, pihaknya juga membuat pos aduan di kantor kecamatan. Aduan dapat dilayangkan masyarakat di Undaan. Termasuk aduan jika ada kantor desa yang tutup saat jam pelayanan.

Selain itu, dalam tiap apel juga disinggung terkait pelayanan yang diutamakan. Seperti halnya saat apel Senin (9/1/2017). Dalam apel pagi dia mengimbau supaya tak ada lagi kasus kantor balai desa tutup atau kosong saat jam kerja.

“Ini merupakan pembelajaran bagi kantor desa lainnya. Khususnya di wilayah kecamatan Undaan supaya tidak tutup sebelum waktunya. Perbuatan itu jangan sampai ada lagi di kemudian hari,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Balai Desa Kalirejo Undaan Kudus Tutup di Jam Pelayanan, Camat Sita Monitor

Monitor komputer yang dikembalikan ke pihak Desa Kalirejo di Aula Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol hadi)

Monitor komputer yang dikembalikan ke pihak Desa Kalirejo di Aula Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Perlakuan mengecewakan terjadi  pada pelayanan di kantor Pemerintah Desa Kalirejo, Undaan. Karena, saat jam buka pelayanan, kantor desa sudah tertutup.

Padahal, pada jam tersebut masih ada warga yang datang untuk membutuhkan pelayanan. Akhirnya, Camat Undaan Catur Widiyatno mengambil inisiatif menyita monitor milik pemerintah desa itu.

Catur mengatakan, pihaknya mengetahui keluhan masyarakat mulanya mulai dari media sosial Facebook. Tak hanya sekali, sejumlah warga juga menuangkan keluhan yang sama.

Setelah mendapat laporan dari media sosial, Selasa (3/1/2017) ada laporan langsung dari masyarakat di tempat yang sama. Keluhan tersebut muncul saat warga hendak mengurus sesuatu, namun kantor malah tutup. Warga tersebut mengeluh dan lapor ke pihak kecamatan.

“Mendengar hal itu, saya sendiri yang datang ke lokasi. Dan benar saja kantor balai desa dalam keadaan tutup dan parahnya lagi terkunci dan tak ada seorangpun di kantor desa,” kata dia kepada MuriaNewsCom. 

Melihat hal itu, dia langsung meminta kepada petugas untuk membuka balai desa. Kemudian dia menyita dua buah monitor komputer yang kemudian dibawa ke kecamatan. Dia heran dengan kantor yang tutup padahal masih jam pelayanan.

“Saat itu saya juga mendatangi kantor desa lainnya. Seperti Balai Desa Lambangan, serta Balaidesa Medini. Dan di kedua balai desa lainnya masih buka dan masih lengkap petugasnya,” ujarnya 

Ditambahkan, monitor yang dibawa ke kantor kecamatan. Dan baru diberikan Rabu (4/1/2017) saat memanggil semua perangkat Desa Kalirejo. “Jam buka kan sampai jam 15.00 WIB. Lha itu baru jam 12.30 WIB malah sudah tutup,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Ratusan Hektare Sawah di Undaan Alami Puso, Petani Merugi

Petani mengendarai sepeda di kawasan Undaan, Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Petani mengendarai sepeda di kawasan Undaan, Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Banjir yang menggenang di wilayah Undaan Kudus membuat tanaman padi yang baru di tanam mengalami puso. Kondisi tersebut membuat petani merugi lantaran sudah banyak yang dikeluarkan untuk biaya tanam.

Sunarto, penyuluh pertanian wilayah Undaan mengatakan, puso menimpa di semua wilayah pertanian yang terendam air. Jumlahnya bervariasi, tergantung kedalaman air yang menggenangi areal persawahan. “Ada tiga desa yang terkena puso. Untuk Berugenjang ada 75 hektare lahan sawah yang tenggelam, sedangakan yang puso sejumlah 45 hektare,” katanya kepada MuriaNewsCom

Sementara untuk wilayah Wonosoco, hampir secara keseluruhan mengalami genangan air. Totalnya sejumlah 250 hektare. Dari jumlah tersebut, hampir dapat dipastikan semuanya mengalami puso, akibat tergenang air dalam waktu yang cukup lama. Lambangan, ada 65 hektare lahan pertanian warga yang juga tenggelam akibat banjir. Dari jumlah tersebut, 50 hektare tanaman padi sudah dipastikan puso karena mati tenggelam.

Sukiran, kelompok tani Lambangan menambahkan, warga berharap adanya bantuan dari pemkab untuk para petani. Terlebih, warga yang mayoritas petani sudah mengalami kerugian dalam jumlah yang cukup besar. “Kami menantikan bantun pemerintah. Kami hanya rakyat kecil saja yang membutuhkan bantuan,,” ungkapnya

Setiyo Budi, Kades Wonosoco menambahkan, debit air di kawasan Wonosoco Undaan perlahan sudah mulai surut . Meski demikian, tanaman petani masih tenggelam dan tak terselamatkan

Editor : Akrom Hazami