Kerusakan Rumah karena Angin Kencang di Undaan Kudus Mulai Dibenahi Warga 

Sebuah rumah warga yang rusak parah akibat bencana angin kencang di Undaan, Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Warga di Undaan Kudus, mulai membenahi kerusakan akibat angin kencang yang melanda wilayah setempat, Senin (13/3/2017). Ada tiga desa di Kecamatan Undaan, Kudus, yang dilanda bencana angin puting beliung. Yaitu Desa Glagah Waru, Berugenjang dan juga Kalirejo.

M Suryono, warga Berugenjang mengatakan, akibat angin kencang di desanya berakibat rumah rusak. Kerusakan melanda dua RW.  Yakni di RW 1 dan 2. Di RW 1, rumah yang rusak ringan hingga sedang berjumlah 27 rumah. Sementara, RW 2 mencapai 10 rumah.

“Tidak terlalu banyak yang rusak. Dan rumah warga yang rusak juga kategori ringan dan sedang saja. Kerusakan seperti genting rumah yang hilang, dan juga kayu penyangga. Bahkan ada juga dinding rumah warga yang ambrol meski tidak terlalu parah,” kata Suryono di Kudus.

Kejadian angin puting beliung sangat menakutkan warga sekitar pukul 14.00 WIB. Mulanya, mendung membayangi. Tak lama kemudian, hujan deras turun bercampur angin kencang. Akibat angin puting beliung itu, sejumlah rumah rusak.

Warga segera bergotyong royong membenahi kerusakan. Seperti halnya menata genting rumah yang porak-poranda.  Sejumlah warga juga kebagian memberikan laporan ke pemerintah.

Editor : Akrom Hazami

 

Angin Kencang di Undaan Kudus juga Sebabkan Pohon Tumbang dan Jaringan Listrik Terganggu

Tampak salah satu rumah yang rusak akibat bencana angin kencang di Kecamatan Undaan, Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kerusakan akibat hujan disertai angin kencang di Kecamatan Undaan, Kudus, tak hanya merusak rumah, tapi juga pohon tumbang dan listrik terganggu, Senin (13/3/2017).

Camat Undaan Catur Widiyanto mengatakan, hujan dan angin menerjang wilayahnya selama hampir 30 menit. Selain mengakibatkan rumah rusak, ada juga kerusakan lain. Yakni pohon tumbang dan jaringan listrik terganggu.

Pohon tumbang tampak terjadi di sepanjang jalan Berugenjang-Wonosoco, Undaan. “Hujan campur angin sangat kencang. Sejumlah pohon sampai tumbang,” kata Catur di Kudus, Senin.

Pihaknya berkoordinasi dengan BPBD setempat untuk membantu membersihkan pohon yang tumbang. Mengingat tidak sedikit pohon yang menutupi akses jalan. Adapun jaringan listrik yang terganggu yaitu di Desa Glagahwaru. Pihaknya telah koordinasi dengan PLN. Termasuk juga meminta PLN membenahi kabel listrik yang putus.

Seperti diketahui, sebanyak tiga desa di Kecamatan Undaan, Kudus, dilanda bencana angin puting beliung, yaitu Desa Glagah Waru, Berugenjang dan juga Kalirejo.

Editor : Akrom Hazami

Bencana Angin Kencang, Ratusan Unit Rumah di Undaan Kudus Rusak


Warga melakukan pembenahan rumah yang rusak akibat bencana angin kencang di Kecamatan Undaan, Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)#angi

MuriaNewsCom, Kudus – Sebanyak tiga desa di Kecamatan Undaan, Kudus, dilanda bencana angin puting beliung, Senin (13/3/2017). Kejadian itu berakibat ratusan unit rumah di tiga desa tersebut rusak.

Camat Undaan Catur Widiyanto mengatakan, puting beliung menyerang tiga desa sekitar pukul 13.30 WIB siang. Tiga desa yang paling parah diserang amukan angin, meliputi Desa Glagah Waru, Berugenjang dan juga Kalirejo.

“Angin puting beliung yang menyerang kawasan Undaan itu sekitar 30 menit lamanya. Meski hanya sebentar saja, namun cukup membuat kerusakan yang cukup parah,” kata Catur di Kudus, kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, dari data yang dihimpun sementara, untuk Desa Glagahwaru, total rumah yang rusak akibat puting beliung mencapai 103 rumah. Kerusakan pada rumah tersebut bervariatif, dengan kerusakan ringan hingga sedang.

Sementara, untuk Desa Kalirejo, angin menyerang RT 02 RW 04. Dari pusaran angin, mampu merusak rumah dengan jumlah 45  rumah. Tingkat kerusakan dengan kategori ringan sampai dengan rusak sedang.

“Untuk Desa Berugenjang masih dalam proses pendataan. Namun perkiraan kerusakan ringan hingga sedang juga mencapai jumlah puluhan rumah,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

Tingkatkan Keselamatan, Papan Peringatan dan Evakuasi Disiapkan di Wonosoco Kudus

Warga berada di lokasi Desa Wisata Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kades Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kudus, Setiyo Budi mengatakan, pihak desa tengah mempersiapkan jalur evakuasi kepada wisatawan jika terjadi bencana sewaktu-waktu. Papan evakuasi diletakkan di berbagai tempat, untuk memudahkan pengunjung.

“Selama ini yang kurang memang jalur evakuasi khususnya papan petunjuk. Jadi, kami akan pasang di sana guna memandu wisatawan jika bencana datang kesana,” kata Budi, di Kudus, Senin (20/2/2017).

Bencana yang beberapa kali menghantam adalah banjir bandang. Meski hanya sebentar, namun banjir yang datang mampu merusak sebagain besar infrastruktur desa dan area wisata. Hal itu karena volume air yang tinggi, serta arus yang deras.

Bahkan, banjir bandang juga sempat menelan korban. Seperti beberapa waktu lalu, satu orang warga tewas karena terseret banjir bandang. Untuk itu, pihak desa meningkatkan fasilitas keamanan dengan papan petunjuk jalur evakuasi. “Sebenarnya saat banjir, sebagian lokasi masih aman karena tidak terendam air. Namun banyak pendatang yang tidak tahu, untuk itu bakal kita arahkan,” ungkap dia.

Editor : Akrom Hazami

Biar Tak Rugi karena Banjir, Petani Undaan Percepat Panen Tanaman Padi

Petani memanen padinya di kawasan lahan sawah yang terendam banjir di Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Petani di Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, tidak ingin rugi hanya gara-gara dilanda banjir. Mereka pun menyegerakan diri memanen hasil tanaman padinya.

Sebenarnya padi memang telah memasuki masa panen, pada Januari-Februari 2017. Biasanya jika tidak banjir, mereka membiarkan tanamannya supaya hasil panen lebih bagus. Tapi karena banjir, maka mereka segera memanen, ketimbang mengalami rugi. Sejumlah lahan masih banjir hingga sekarang.

Kades Undaan Lor Edy Pranoto, mengatakan sejumlah petani di wilayahnya memang mulai memanen padinya sejak bulan lalu. “Apalagi kini padi sudah tua, sudah kuning semuanya. Jadi ya harus dipanen supaya tidak rugi.  Jika menunggu air surut, akan butuh waktu yang cukup lama,” katanya saat meninjau panen warga, Senin (20/2/2017).

Sementara untuk harga gabah sudah berangsur membaik, yaitu dengan harga Rp 270 ribu per kuintal gabah basah. Sebelumnya, harga lebih hancur, yakni di kisaran Rp 2.200 hingga Rp 2.200 saja per kuintal.

Dengan harga tersebut, petani terpaksa menjualnya, karena membutuhkan modal untuk kembali mengolah lahan.  Dia menambahkan, para penebas padi sudah untung dengan membeli gabah dengan harga tersebut. Penebas memiliki keuntungan yakni sekitar Rp 300 untuk per kilogramnya.

Adapun kini, setiap satu kuintal gabah basah bisa menghasilkan 47 kilogram beras. Atau lebih kecil dibandingkan dengan hasil gabah kering. Biasanya dari gabah kering bisa menghasilkan 57 kg beras.

Editor : Akrom Hazami

Camat Undaan : Pembukaan Pintu Air Bendung Wilalung Harus Sesuai SOP, Jika Dilanggar Fatal Akibatnya

Camat Undaan Catur Widiyanto memantau debit air di Bendung Wilalung, Kabupaten Kudus, Kamis. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus –  Camat Undaan Catur Widiyanto mengatakan, aksi yang dilakuan warga Jati, untuk meminta membuka pintu air Bendung Wilalung, Rabu (15/2/2017), tak bisa dilakukan karena terganjal SOP. Jika itu sampai dilanggar, maka dampaknya bisa sangat fatal mengingat ribuan orang akan terdampak.

Hal itu diungkapkannya saat meninjau Bendung Wilalung, Kamis (16/2/2017). Dikatakan kalau SOP harus dijalankan, yaitu jika debit airnya mencapai 800 meter kubik per detik. Jika belum, maka pintu bendung tak bisa dibuka meskipun warga menginginkan hal tersebut.

“Selama ini sudah ada kesepakatan antarwilayah dalam pembuatan SOP. Dan kesepakatan itu juga dibuat untuk kepentingan bersama dan keamanan bersama pula, jadi tidak bisa demikian,” katanya.

Menurutnya, jika sampai pintu dibuka tak sesuai aturan, ribuan warga bakal ngamuk. Khususnya warga yang terdampak seperti dari Pati. Sebab, pintu air tersebut akan langsung mengarah ke Pati, yang mana sebagian besar saat ini sawahnya akan panen

 

Tidak hanya Pati, namun juga di Undaan. Jika sampai terbuka, dipastikan warga bisa marah karena hanya mengakomodasi sejumlah kalangan saja, sementara warga lainnya bakal menjadi korban. “Saya sudah ketemu dengan mereka. Saya jelaskan tentang dampak jika dibuka, dan mereka bersedia menerimanya setelah dijelaskan lebih lanjut,” ucapnya

Untuk itu, dia meminta pengertian atas apa yang terjadi. Jika banjir yang dirasakan tak kunjung surut, maka bukan karena pintu air Wilalung tak terbuka, namun lebih pada curah hujan tinggi dan kiriman dari wilayah pegunungan Muria. “Air laut juga sedang tinggi, jadi tidak bisa ngurangi airnya yang mengendap. Jadi tunggu dulu sampai air bisa mengalir kembali,” ungkapnya.

Saat ini, debit air Wilalung per pukul 13.00 WIB mencapai 560 meter kubik per detik. Jumlah tersebut dianggap tinggi, dan masuk dalam siaga III. Petugas jaga harus waspada.  Melihat hal itu, dia juga melakukan komunikasi secara aktif dengan pihak bendung. Sebab jika sampai terbuka lagi, maka akan disampaikan kepada warga melalui kepala desa tentang air yang akan dialirkan.

Editor : Akrom Hazami

Harga Gabah di Kudus Anjlok


Warga menunjukkan lahan sawah di Kecamatan Undaan,Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi),

MuriaNewsCom, Kudus – Wakil Ketua Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) sistem Kedungombo, Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kudus, Haryono mengatakan, saat ini harga jual gabah Rp 2,5 juta per ton atau Rp 2.500 per kilogram.

“Pada panen kali ini kualitas bagus. Tapi karena tak ada panas maka susah untuk menjemur padi. Jadi harganya anjlok,” kata Haryono.

Pada saat awal panen raya sebelum akhir Januari lalu, harga gabah masih mencapai kisaran Rp 3.600 per kilogram. Harga lalu merosot ke angka Rp 3.000 per kilogram. Dan kini anjlok hingga Rp 2.000 per kilogram.

Kondisi makin buruk yakni dengan banyak tengkulak atau penebas yang tidak bersedia membeli. Alasannya, saat ini panen berlangsung secara serentak sehingga untuk penggilingan beras sudah penuh.

Di samping itu juga, petani kesulitan dalam melakukan penjemuran gabah karena tidak adanya panas. Sementara jika terus dibiarkan, gabah akan rusak dan tumbuh menjadi benih. Petani yang sewa lahan malahan makin terpukul.  Untuk biaya sewa lahan per bahu saja, petani harus mengeluarkan dana antara Rp 16 juta hingga Rp 18 juta, serta biaya pengolahan lahan sekitar Rp 5 juta.  

Kades Undaan Lor Edy Pranoto mengatakan harga jual gabah saat ini memang kurang bagus. Sejumlah petani terpaksa harus memanen padinya lebih awal. Sebab jika dibiarkan, padi akan membusuk. “Di Desa Undaan Lor, saat ini terdapat 425 hektare tanaman padi. Sebagian mulai dipanen, dan sebagian lainnya kondisinya tergenang air. Jadi kondisi memperihatinkan,” kata Edy.

Yusrul, warga Kaliwungu Kudus mengatakan, harga padi anjlok, dan bahkan jarang penebas yang mau membeli. Hal itu menyulitkan petani karena pasti merugi.

Editor : Akrom Hazami

Sekeluarga Terbakar Akibat Gas Meledak di Kudus masih Dirawat

 Salah satu korban masih menjalani perawatan akibat gas yang meledak di Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Salah satu korban masih menjalani perawatan akibat gas yang meledak di Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Sekitar lima orang mengalami luka bakar akibat gas elpiji 3 kilogram (kg) meledak, di Desa Lambangan, Gang 12, Kecamatan Undaan, Kudus, Kamis (2/2/2017) sore.  Saat ini, lima korban masih menjalani perawatan di Klinik Mardi Santosa dan RS Mardi Rahayu.

Kelima korban adalah Ramisih (47) alami luka bakar di wajah, tangan, kaki, perut dan punggung, luka bakar kulit melepuh di atas 60 % dan dirawat di Klinik Mardi Santosa Desa Kalirejo, Undaan.  Sodikin, suami Rumisih (48) mengalami luka bakar ringan di tangan dan kaki. Hanya berobat jalan dan tidak dirawat.

Korban selanjutnya, Eva Yuliyana (13) anak mereka mengalami luka bakar di muka, tangan, kaki. Luka bakar 40 % dan dirawat di Klinik Mardi Santosa, Lailatul Mutlifah (20) anak mereka mengalami luka bakar ditangan dan kaki. Hanya rawat jalan. Korban terakhir, Devan Awan Nugroho cucu mereka berusia 15 bulan di rujuk ke RS Mardi Rahayu. Luka bakar di tangan dan kaki. Luka bakar 20 %.

Info yang dihimpun, kejadian bermula tabung gas elpiji melanda atap dapur rumah dan mengakibatkan korban luka bakar serius, dari rumah milik keluarga Sodikin. Peristiwa terjadi sore pada sekitar pukul 16.00 WIB.

Kapolsek Undaan AKP Anwar dari hasil keterangan korban kepada polisi, kejadian tersebut menimpa sore hari kemarin.  Saat itu, Ramisih  baru membeli gas dan diletakkan dapur. Kemudian meminta tolong suaminya untuk memasang tabung gas. Namun karena gas tak ada karetnya, dia berniat mengganti karet, namun malah gas bocor dan tersambar api dari obat nyamuk di dekatnya.

Seketika api muncul, hingga cepat menyambar. Ironisnya, api juga menyambar anggota keluarga lainnya. “Hati-hati saat menyalakan gas, pastikan tak ada api yang menyala,” imbau Anwar.

Editor : Akrom Hazami

 

Panen Raya  di Undaan, Alat Perontok Padi Dikerahkan

Bupati Kudus Musthofa naik mobil alat perontok padi di Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Selasa. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Bupati Kudus Musthofa naik mobil alat perontok padi di Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Selasa. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Para petani di Desa Undaan Lor,  Kecamatan Undaan. Kabupaten Kudus, melakukan panen raya sekarang. Pada panen raya kali ini ada perbedaan dari sebelumnya, yaitu adanya alat canggih yang digunakan.

Suharto, anggota Kelompok Tani Mudi Waluyo Desa Undaan Lor mengatakan, alat tersebut merupakan Combi, yang biasa dikenal dengan nama alat perontok padi di persawahan. Dengan adanya alat tersebut, maka hasil panen bisa lebih maksimal. “Ini dalam satu jam mampu memanen sampai dengan 0,8 hektare. Jadi lebih cepat untuk panennya ketimbang panen manual,” kata Suharto kepada MuriaNewsCom di lokasi panen, Selasa (31/1/2017).

Keuntungan lain selain lebih cepat, alat tersebut juga mampu membuat hasil panen lebih bersih. Dengan alat itu, juga mampu mengurangi angka kehilangan padi saat panen hingga lima persen. Sementara jika panen biasanya, hasil panen yang hilang hingga 10 persen.

Alat tersebut biasanya disewa petani dengan harga Rp 45 ribu per kuintal padi. Alat disewa oleh gapoktan, kemudian dimanfaatkan anggotanya secara maksimal. Untuk kali ini, alat tersebut dipinjam dari PT Pura dengan tanpa biaya alias gratis. “Harapannya paguyuban atau kelompok tani mampu memiliki alat tersebut. Soalnya sangat membantu dan selama ini yang punya penebas besar. Kalaupun beli, juga biayanya besar mencapai Rp 390an juta,” ungkapnya.

Dalam panen raya, juga hadir Bupati Kudus Musthofa beserta SKPD, Ketua DPRD Kudus Mas’an, Kajari Kudus dan Dandim Kudus.

Editor : Akrom Hazami

 

Wonosoco Undaan Antisipasi Banjir

Kades Wonosoco menunjukkan lokasi sungai pertemuan sungai dari Pati dan Purwodadi di Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Kades Wonosoco menunjukkan lokasi sungai pertemuan sungai dari Pati dan Purwodadi di Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Satu dari daerah desa yang menjadi ancaman banjir adalah Desa Wonosoco, Undaan, Kudus. Selama beberapa tahun terakhir, desa yang berbatasan dengan Purwodadi itu terus berbenah mengantisipasi bencana banjir.

Kades Wonosoco Undaan Setiyo Budi mengatakan, selama ini beberapa perubahan terus dilakukan dengan melihat situasi lapangan. Menjadi daerah yang berpotensi banjir, maka pihaknya mengeluarkan biaya yang tak sedikit untuk menanganinya. “Hampir tiap tahun kami melawan banjir. Apalagi selama musim penghujan seperti ini, banjir bisa datang kapanpun,” katanya kepada MuriaNewsCom, Kamis (19/1/2017).

Menurutnya, untuk 2017 ini saja, pihak desa tengah mengalokasi dana sejumlah Rp 150 jutaan untuk membuat sudetan bawah tanah. Sudetan dilakukan di bawah tanah milik warga, yang mana sebelumnya sudah diberitahu atas rencana tersebut. “Warga sadar akan potensi banjir yang besar. Makanya dia sepakat tanahnya digunakan untuk arus air agar sungai tidak kewalahan menampung air,” ujarnya.

Menurutnya, sudetan tersebut sifatnya berada di bawah tanah. Sudetan seperti terowongan bawah tanah dalam ukuran besar. Sehingga bagian atas tanah masih bisa digunakan untuk keperluan pemiliknya. Sudetan atau sungai buatan tersebut memiliki kedalaman sekitar dua meter. Kemudian lebar mencapai satu setengah meter, yang mampu memecah arus air sungai. Sementara panjangnya mencapai 40 meter.”Kami menggunakan cor semua, melihat anggaran yang terbatas, maka kami harus memutar otak untuk menangani bencana banjir,” ungkapnya.

Rencana pembuatan sudetan didapat lantaran posisi sungai yang melengkung. Sehingga ketika sentoran air tinggi, maka air banjir pasti tumpah ke kawasan rumah penduduk. Untuk itulah dibuatkan sudetan, yang mampu memecah arus air.

Dia menjelaskan, sebenarnya banjir di kawasan Wonosoco merupakan kiriman dari Purwodadi dan Pati Sukolilo. Dua daerah tersebut mengirim air banjir lewat sungai yang mengarah ke sungai Desa Wonosoco. Akibat dari hal itu, desa kerap dilanda banjir bandang.

Selain membuat sudetan, kata kades, pihaknya juga sempat melebarkan sungai dari dua arah tersebut. Hasilnya cukup mengagumkan dengan tak ada bencana banjir bandang selama 2016. Karena, aliran air dapat ditampung dalam sungai. “Sebenarnya air hanya lewat saja, tapi karena tampungan terbatas, maka sampai luber. Bahkan bisa membanjiri pemukiman warga,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

Ketua DPRD Kudus : Tanggul Sungai Wulan di Undaan Bisa Ditangani Gotong-Royong

Warga berada di pinggir tanggul Sungai Wulan yang ada di Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Ketua DPRD Kudus Mas’an berada di pinggir tanggul Sungai Wulan yang ada di Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Ketua DPRD Kudus Mas’an mengatakan,  dalam penanganan tanggul yang ambrol di Undaan, membutuhkan kerja sama sejumlah pihak. Termasuk juga warga sekitar, khususnya bagi warga yang terdampak dari adanya tanggul ambrol.

Hal itu dikatakan saat meninjau lokasi longsor. Dikatakannya, pemerintah desa setempat sebagai fasilitator bisa mengajak warga bersama-sama mengatasi persoalan. “Minimal dengan pembatas jenis bambu yang ditata. Dengan demikian tumpukan tanah yang jadi tanggul akan tertahan dan tak mudah longsor,” katanya di Undaan, Kudus, Kamis (19/1/2017).

Struktur tanggul memang rawan longsor. Sebab tanggul berbentuk langsung menjulang. Lain halnya jika tanggul dibuat landai layaknya tangga, maka tanah akan lebih kokoh. Pihaknya khawatir jika hujan intensitas tinggi berakibat tanggul kembali longsor. Apalagi perkiraan hujan tinggi akan sampai pada Februari mendatang. Maka potensi longsor masih dimungkinkan terjadi.

“Kalau sampai longsor, maka air akan membanjiri persawahan dulu. Dan petani akan gagal panen lantaran terendam air. Padahal lahan persawahan sudah siap panen,” ungkapnya.

Tanggul longsor  bukanlah kali pertama terjadi. Sebelumnya, pada 2015 lalu longsor juga terjadi. Saat itu kondisi sangat parah lantaran tanggul yang tersisa hanya satu meter saja. “Dulu langsung ditangani, jadi tanggul tak jadi ambrol. Namun kini sudah longsor lagi tanggulnya,” ucapnya. “Kalau warga mau gotong royong, saya bisa kerahkan masa. Ada KNPI yang siap membantu dan juga warga lainnya yang juga bisa dilibatkan,” jelas dia.

Sementara, Camat Undaan Catur W mengatakan, longsoran tanggul masih dalam taraf wajar, dan warga diminta tidak usah cemas lantaran masih dianggap aman. “Tanggul longsor yang berada di Undaan Lor masih jauh dari bibir sungai dan permukiman, jadi masih aman,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

Kantor Koramil Undaan Dipenuhi Tanaman Sayuran

 Danramil 03/Undaan Kudus, Kapten Inf Sri Widodo saat mengecek salah satu tanaman di halaman kantornya, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)


Danramil 03/Undaan Kudus, Kapten Inf Sri Widodo saat mengecek salah satu tanaman di halaman kantornya, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom,Kudus – Danramil 03/Undaan Kudus, Kapten Inf Sri Widodo menerapkan pola ketahanan pangan untuk para anggotanya. Hal itu diwujudkan dengan memperbanyak tanaman sayuran, yang berada di halaman samping kantor Koramil setempat.

Sri mengatakan, pihaknya sudah menggalakkan penanaman sayuran sejak Mei 2016 lalu. Penanaman berbagai jenis sayuran telah dilakukan di satu lokasi. “Kami menanam cabai, tomat, terong, serta kangkung. Ini adalah tanaman sayur yang kami tanam selain buah-buahan,” katanya kepada MuriaNewsCom di lokasi, Senin (9/1/2017). 

Dalam setahun ini sudah berhasil memanen hingga beberapa kali. Bahkan untuk cabai yang harganya kini lambung tinggi, tidak terlalu berpengaruh. Sebab tanaman cabai cukup banyak dibanding tanaman lainnya. Sedikitnya 70 tanaman cabai sudah ditanam di halaman.

Berbagai jenis cabai yang ditanam, adalah cabai kriting, cabai merah, cabai rawit dan cabai hijau. Semuanya tumbuh subur lantaran mendapat perawatan yang serius. Termasuk juga dengan pemupukan yang dilakukan secara teratur.

Dikatakan, penanaman ini juga termasuk dalam Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (MKRPS). Yakni minimal anggota TNI harus mampu mencukupi kebutuhan secara sendiri, minimal untuk anggota sendiri.

Belakangan ini terdapat instruksi dalam perihal perwujudan ketahanan pangan. Dengan yang demikian, maka pihaknya tinggal melanjutkan kegiatan penanaman sayuran, yang mampu dimanfaatkan oleh anggota. “Peningkatan tetap dilakukan, dan dengan penanaman sayuran ini maka 18 petugas termasuk saya juga dapat memanfaatkannya di kebutuhan harian,” jelasnya.

Diceritakan, sebenarnya dulu pernah ada yang bilang kalau tanaman bakalan mati sebelum berbuah. Karena, tanah yang digunakan adalah tanah padas yang dianggap tak cocok untuk bercocok tanam. Namun pernyataan itu ditepis dengan hasilnya yang melimpah. “Meski berbuah banyak namun kendala masih juga banyak. Seperti serangan hama tikus, yang banyak merusak tanaman yang ada. Khususnya tanaman kangkung,” ujarnya.

Selain hama, curah hujan tinggi, juga mampu merusak sebagian lahan tanaman. Sehingga belakangan produksi panen mengalami penurunan jumlah.

Editor : Akrom Hazami

 

Gara-gara Kantor Balai Desa Kalirejo Tutup saat Jam Layanan, Semua Perangkat Dapat SP 1

Acara pembinaan yang diberikan khusus oleh Camat Undaan kepada Perangkat Desa Kalirejo di aula kecamatan setempat, Kamis (5/1/2016). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Acara pembinaan yang diberikan khusus oleh Camat Undaan kepada Perangkat Desa Kalirejo di aula kecamatan setempat, Kamis (5/1/2016). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Seluruh perangkat Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan, Kudus, mendapatkan Surat Peringatan pertama (SP 1) dari kepala desa. SP 1 diberikan setelah pelayanan buruk diberikan oleh petugas kepada warganya.

Agus Harianto, Kepala Desa Kalirejo mengatakan SP 1 sudah diberikan kepada seluruh perangkat desa atas kelalaiannya pulang sebelum waktunya. Dia merasa malu kepada warganya. Untuk itulah dia meminta maaf kepada warganya dan menghukum dengan menjatuhkan SP tersebut.

“Total perangkat ada 12, semuanya saya SP tanpa kecuali. Saya sendiri yang memberikan SP. SP mulai berlaku mulai sehari setelah ditegur dan diberikan pengarahan oleh pak camat,” katanya kepada MuriaNewsCom  di Kudus, Kamis (5/1/2017).

Dia berterimakasih kepada camat yang perhatian dengan memberikan bimbingan. Jika hukum yang berjalan dari masyarakat di Kalirejo, maka dipastikan dampaknya bakal lebih fatal.

Camat Undaan Catur Widiyatno mengungkapkan, lamanya SP berlaku hingga tiga bulan. Jika selama tiga bulan ke depan masih melakukan hal yang tidak sesuai, maka SP II Dapat menyusul diberikan.

Selain itu, jika dalam tiga bulan juga menjumpai permasalahan yang sama pula. Maka SP III bakal dilayangkan, dan dampaknya adalah posisi sebagai perangkat akan dicopot karena tak bisa berkerja sesuai aturan. “Yang copot jabatan adalah kades. Dan kades sudah bersedia melakukan hal itu jika anggotanya melakukan kesalahan kembali,” jelasnya.

Selama tiga bulan ke depan, kata Catur, pihaknya langsung yang akan mengawasinya. Untuk itu, diperingatkan supaya perangkat dapat disiplin dan bekerja sesuai dengan aturan.

Editor : Akrom Hazami

Balai Desa Kalirejo Undaan Kudus Tutup di Jam Pelayanan, Camat Sita Monitor

Monitor komputer yang dikembalikan ke pihak Desa Kalirejo di Aula Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol hadi)

Monitor komputer yang dikembalikan ke pihak Desa Kalirejo di Aula Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Perlakuan mengecewakan terjadi  pada pelayanan di kantor Pemerintah Desa Kalirejo, Undaan. Karena, saat jam buka pelayanan, kantor desa sudah tertutup.

Padahal, pada jam tersebut masih ada warga yang datang untuk membutuhkan pelayanan. Akhirnya, Camat Undaan Catur Widiyatno mengambil inisiatif menyita monitor milik pemerintah desa itu.

Catur mengatakan, pihaknya mengetahui keluhan masyarakat mulanya mulai dari media sosial Facebook. Tak hanya sekali, sejumlah warga juga menuangkan keluhan yang sama.

Setelah mendapat laporan dari media sosial, Selasa (3/1/2017) ada laporan langsung dari masyarakat di tempat yang sama. Keluhan tersebut muncul saat warga hendak mengurus sesuatu, namun kantor malah tutup. Warga tersebut mengeluh dan lapor ke pihak kecamatan.

“Mendengar hal itu, saya sendiri yang datang ke lokasi. Dan benar saja kantor balai desa dalam keadaan tutup dan parahnya lagi terkunci dan tak ada seorangpun di kantor desa,” kata dia kepada MuriaNewsCom. 

Melihat hal itu, dia langsung meminta kepada petugas untuk membuka balai desa. Kemudian dia menyita dua buah monitor komputer yang kemudian dibawa ke kecamatan. Dia heran dengan kantor yang tutup padahal masih jam pelayanan.

“Saat itu saya juga mendatangi kantor desa lainnya. Seperti Balai Desa Lambangan, serta Balaidesa Medini. Dan di kedua balai desa lainnya masih buka dan masih lengkap petugasnya,” ujarnya 

Ditambahkan, monitor yang dibawa ke kantor kecamatan. Dan baru diberikan Rabu (4/1/2017) saat memanggil semua perangkat Desa Kalirejo. “Jam buka kan sampai jam 15.00 WIB. Lha itu baru jam 12.30 WIB malah sudah tutup,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Unik, Biji Salak jadi Bahan Dasar Kopi di Undaan Kudus

Salah satu warga meramu minuman kopi berbahan dasar buah salak di Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Salah satu warga meramu minuman kopi berbahan dasar buah salak di Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Di Desa Ngemplak, Kecamatan Undaan, Kudus, para pemuda berkreasi membuat minuman kopi berbahan dasar biji salak. Jika biasanya kopi menggunakan biji kopi, namun kini menggunakan biji salak.

Secara rasa, kopi berbahan biji salak mirip dengan kopi pada umumnya. Bahkan saat diminum, rasa yang muncul merupakan rasa murni kopi. Bedanya, saat usai meminum, meninggalkan aroma kopi yang kental dalam mulut.

Tri Azwar Anas, pembuat kopi biji salak menyebutkan kalau ekspresimen tersebut sudah beberapa kali dilakukan. Dan setelah dibuat kembali, ternyara banyak juga dari masyarakat yang menyukai kopi yang berbahan biji salak tersebut.

“Kami melihat banyak biji salak yang terbuang. Kami mencoba membuat sebagai kopi, dengan sharing dengan ibu saya,” katanya kepada MuriaNewsCom dalam kegiatan Karang Taruna Expo Undaan di Desa Kalirejo.

Dia yang juga anggota karang taruna menyebutkan, pengembangan produk juga masih dibahas dalam tingkat karang taruna. Para anggota sangat antusias dalam hal pengembangan.

Sebenarnya sudah cukup lama membuat ide semacam ini. Namun kendalanya adalah bahan baku yang hanya terdapat saat musim panen salak. Sedangkan saat tidak musim cukup susah mendapatkan.

Hal lain juga, tidak adanya tanaman salak yang tumbuh di desa tersebut membuat susah dalam memproduksi. Sehingga kalau mau membuat kopi biji salak harus menyiapkan uang guna membeli salak terlebih dahulu. “Kopi ini belum bisa dipasarkan secara luas, bahan dasar jelas menjadi kendala dan juga kami belum bisa memutuskan berapa harga yang harus dikeluarkan untuk itu,” ujarnya.

Dijelaskan, proses pembuatan kopi biji salak cukup  mirip pembuatan kopi bubuk pada umumnya.Yyakni dengan menjemur  biji salak selama dua hingga tiga hari saat cuaca panas. Setelah itu, biji salak baru digoreng untuk kemudian digiling.

Proses penggilingan dianggap mudah hancur, lantaran sudah memulai proses pemanasan dan juga goreng. Sehingga biji salak menjadi lebih mudah hancur ketimbang biji salak sebelum diproses sama sekali. “Dalam biji salak juga memiliki banyak khasiat. Seperti kandungan antioksidan yang bagus dan dibutuhkan oleh tubuh dan juga lainnya,” ungakapnya.

Editor : Akrom Hazami

Lagi, Wonosoco Undaan Kudus Banjir

Warga menerobos tingginya air banjir di Desa Wonosoco, Undaan, Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga menerobos tingginya air banjir di Desa Wonosoco, Undaan, Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Hujan deras yang melanda Kudus bebebepa hari terakhir membuat kawasan Wonosoco, Undaan, kebanjiran. Banjir mengepung wilayah Wonosoco dan membuat titik itu terancam terisolasi.

Siyami, warga Undaan mengatakan banjir menggenangi ruas persawahan. Selain itu juga air banjir juga merendam beberapa titik jalan di wilayah tersebut. Termasuk jalan di daerah sekitar.

“Hujan kemarin memang sangatlah deras, bahkan hujan mulai datang mulai sore hari sampai dengan malam,” kata Siyami kepada MuriaNewsCom, di lokasi, Senin (28/11/2016).

Akibat hujan dengan intensitas yang tinggi sungai Londo yang terdapat di wilayah menjadi penuh, bahkan sempat melimpas.

Menurutnya, banjir yang datang dimungkinkan dari derasnya hujan yang melanda. Banjir menggenangi sejak Minggu (27/11/2016) malam. Hingga pagi hari, air masih datang dan membuat genangan air kian meninggi.

“Kasian petaninya, padahal sudah pada tanam. Mudah-mudahan dapat segera surut dan padi bisa diselamatkan. Sehingga kerugian tidak banyak,” imbuhnya.

Selain Wonosoco, daerah lain yang juga terendam di Desa Lambangan dan juga Berugenjang, dan Undaan. Ketiganya adalah daerah yang berdekatan satu dengan lainnya .

Editor : Akrom Hazami

Jembatan Bambu di Kalirejo Kudus Hanyut Setiap Tahun

Warga melintasi jembatan bambu di Dukuh Ngemplak, Desa Kalirejo, Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga melintasi jembatan bambu di Dukuh Ngemplak, Desa Kalirejo, Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Jembatan bambu di Dukuh Ngemplak, Desa Kalirejo, Undaan, Kudus, ternyata sangat memprihatinkan kondisinya. Jembatan itu tiap tahun pasti hanyut lantaran air sungai yang mengalir deras.

Sekretaris Desa (Sekdes) Kalirejo Faiq Maulana menyatakan, kondisi semacam itu sudah berlangsung bertahun-tahun. Kondisi jembatan yang hanya menggunakan kayu seadanya, membuat jembatan cukup rapuh. Meski demikian, jembatan tersebut merupakan jembatan satu-satunya yang menghubungkan antara dukuh Ngemplak Lor dan Ngemplak Kidul.

“Kami berharap dapat mendapatkan jembatan yang permanen, sehingga warga tidak memiliki kendala perhubungan antardukuh,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, pembangunan jembatan tak dapat dilakukan oleh desa. Sebab desa tidak memiliki kewenangan membangun jembatan. Pembangunan jembatan menjadi kewenangan kabupaten setelah berkoordinasi dengan Balai Pengelolaan Sumber Daya Air Sungai Serang Juwana (BPSDA Seluna).

Untuk pembangunan pengganti jembatan bambu sepanjang 30 meter dan lebar 4 meter dibutuhkan biaya sekitar Rp 1,5 miliar. Pihaknya terus mendorong dinas teknis terkait untuk percepatan pembangunan JUT dan JITUT termasuk jembatan yang melintasinya

“Jembatan ini juga sebagai sarana dalam menghubungkan desa. Selain itu, jembatan hanya bisa dilalui dengan jalan kaki saja. Sehingga jika mengangkut hasil panen memutar lewat yang cukup jauh,” ungkapnya

Kusyoto, warga setempat mengatakan, jembatan di desanya belum sepenuhnya dalam kondisi bagus. Selain itu petani harus menempuh jalan lebih jauh untuk mengangkut hasil pertanian karena jembatan antara JUT tidak layak. Beberapa kali warga membuat jembatan bambu sepanjang kurang lebih 30 meter di atas Sungai Juwana, selalu hanyut diterjang banjir. 

“Ini dari warga sendiri, jadi seadanya saja. Dan tidak bisa permanen karena hanya dari kayu dan bambu saja,” ungkapnya.

Kasi Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kecamatan Undaan Rifai menegaskan, seluruh desa di Undaan mendesak percepatan pembangunan JUT, JITUT dan jembatan penghubung. Sarana dan prasarana antara desa pun perlu disinkronkan untuk optimalisasi hasil pertanian.

Pihaknya segera mengupayakan penyusunan perencanaan melalui musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang) tingkat kabupaten, agar percepatan jalan usaha tani (JUT) dan jaringan irigasi terpadu usaha tani (JITUT) dan jembatan penghubung dapat direaliasikan.

“Mudah-mudahan dapat segera terwujud, dan dapat dimaksimalkan,” imbuhnya

Editor : Akrom Hazami

Genangan Air di Jalan Raya Undaan Kudus Kerap Bahayakan Pengendara

genangan

Pengguna jalan melintas di titik di Kecamatan Undaan Kudus yang jadi langganan genangan air, Jumat. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Murianewscom, Kudus – Jalan raya di Kecamatan Undaan, Kudus, kerap membahayakan warga yang melintas. Khususnya saat hujan atau setelahnya. Dipastikan akan muncul genangan air di beberapa permukaan jalan.

Hal ini diakui oleh Camat Undaan Catur Widiyatno melalui Kasi Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Rifai. Dia mengatakan sepanjang jalan dari Desa Ngemplak hingga Undaan Kidul, serta Desa Kalirejo, adalah di antara titik yang kerap tergenang air.

Desa itu tidak memiliki saluran air. Sementara saluran air hanya ada di Desa Undaan Tengah. Kapasitas saluran tersebut kecil sehingga air hujan yang tertampung tidak maksimal.

Pemerintah kecamatan telah mengusulkan pembangunan gorong- gorong dan trotoar di sepanjang jalan utama di Kecamatan Undaan, sejak 2015. Titik itu memiliki panjang sekitar 5 km atau dari Desa Ngemplak sampai Undaan Kidul.

Selain itu, lanjutnya, usulan pembangunan gorong-gorong juga di desa yang berjarak sekitar 500 meter dari kantor Kecamatan Undaan. Atau hingga perbatasan Desa Sambung, serta dari Jembatan Sungai Juwana (Kalirejo) hingga Pasar Desa Kalirejo.

“Usulan kami juga untuk talud penahan di saluran pembuang sepanjang dua kilometer antara Desa Sambung hingga Medini,” katanya kepada MuriaNewsCom, Jumat (11/11/2016).

Usulan telah disampaikan di Musrenbang tingkat kecamatan hingga kabupaten,  serta pembuatan Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD). Namun hingga kini usulan belum terealisasi.

Menurutnya, selama sepanjang sisi jalan raya Undaan belum ada saluran pembuang atau gorong- gorong, maka air akan tetap menggenangi. Dalam kondisi jalan yang tergenang air itulah pengendara berpotensi celaka.

“Percikan air saat ada kendaraan besar melintas, membahayakan pengguna jalan lain. Parahnya dapat menimbulkan kecelakaan. Selain pembangunan gorong-gorong, kami juga minta dibangunkan trotoar di atasnya. Hal itu untuk menambah kerapian dan keindahan jalan,”ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

Camat Undaan Kudus Akan Pertemukan Pemuka Desa Wates dan Undaan Lor

Warga berada di lokasi sawah yang digenangi air di Desa Wates, Kecamatan Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga berada di lokasi sawah yang digenangi air di Desa Wates, Kecamatan Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Camat Undaan, Kudus, Catur Widiyatno melalui Kasi Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD), Rifai mengatakan, kecamatan akan mempertemukan kembali pihak Desa Wates dan Undaan Lor.

Solusi pemecahan harus didapat setelah pengerukan dianggap kurang membuahkan hasil. Pemerintah kecamatan memastikan akan menindaklanjuti hal tersebut. Tindak lanjut akan dilakukan dengan cara mengumpulkan kembali sejumlah pihak guna mencari solusi tentang masalah petani di Wates.

“Dalam waktu dekat ini akan diadakan pembahasan kembali. Hal itu karena melihat kondisi secara langsung habis dikeruk, ternyata tidak terlalu ada perubahan,” kata Rifai mendatangi lokasi.

Pengerukan selesai lebih cepat. Karena awalnya prediksi diberikan membutuhkan waktu sampai tiga pekan . Namun hanya memakan dua pekan.

Pengerukan dilakukan sebelumnya sudah ada kesepakatan antara dua desa, yakni Desa Wates dengan Desa Undaan Lor.

Sekitar 120 hektare sawah di Desa Wates, sejak dimulainya musim tanam pertama (MT I) awal Oktober hingga sekarang ini tak bisa ditanami. Hal itu disebabkan adanya gangguan air yang menggenang. Genangan yang menimpa petani sebenarnya juga sudah dialami bertahun- tahun lalu.

Persoalan tersebut sebelumnya juga sempat memanas. Sehingga membuat Bupati Kudus Musthofa datang langsung ke lokasi. Kedatangan bupati waktu itu untuk memecahkan masalah dua desa yang berdampingan di Undaan.

Editor : Akrom Hazami

Tanggul Sungai Wulan di Medini Ambles, Banjir Ancam Undaan Kudus

 

 Camat Undaan Catur Widiyatno saat meninjau lokasi tanggul yang ambles di Desa Medini, Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)


Camat Undaan Catur Widiyatno saat meninjau lokasi tanggul yang ambles di Desa Medini, Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Tanggul yang terdapat di Undaan, tepatnya di bantaran Desa Medini di bagian kanan mengalami ambles. Kondisi demikian jika tak segera tertangani bisa berpotensi banjir.

Camat Undaan Catur Widiyatno, mengatakan tanggul tersebut  ambles di bagian kanan. Tanggul yang ambles itu praktis akan mengurangi kekuatan tampungan air.  Sehingga berisiko terjadinya banjir saat limpasan sungai Wulan datang.

“Apalagi ini masih musim hujan, sehingga kesiagaan harus dilakukan agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Panjang tanggul yang ambles sekitar 200 meter dengan lebar sekitar 6 meter. Bagian yang ambles, di ujung gang 3 sekitar 75 meter, serta di gang 14, gang15 dan gang 16, masing- masing sekitar 50 meter.

Selain itu, bangunan tanggul juga merekah. Bila debit air Sungai Wulan mencapai 800 meter kubik per detik, maka hampir dipastikan air akan mengarah ke permukiman.

“Kami khawatir, lantaran Sungai Wulan pernah menggenangi kawasan permukiman tersebut,” ujarnya

Untuk itu, pemantauan terkait hal itu terus dilakukan, agar jika terjadi hal yang tak diharapkan. Di antaranya dengan peningkatan komunikasi antarwarga.

Sejauh ini, koordinasi dengan sejumlah pihak mulai dari tingkat kabupaten hingga Bakorwil I Pati sudah dilakukan.  Tapi memang sampai sekarang belum ada penanganan.

Pihaknya berharap, tanggul dapat segera diatasi. Sehingga warga bisa lebih tenang. Kalau bisa, tambahnya, penanganan dapat segera dilakukan agar saat hujan deras, limpasan air tidak membanjiri permukiman.

Sarana pengairan tersebut sudah pernah diperbaiki pada 2008 lalu. Setelah itu, tidak ada peninggian lagi pada penahan debit Sungai Wulan di Desa Medini. Sedangakn jarak tanggul dengan Sungai Wulan mencapai 400 meter. Sedangkan jarak tanggul dengan Jalan Kudus-Purwodadi sekitar 600 meter.

Editor : Akrom Hazami

 

Saluran Irigasi di Undaan Lor dan Wates Kudus Akan Diuruk

Warga berada di lahan sawah di Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga berada di lahan sawah di Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus –  Kasi Pemberdayaan Masyarakat Kecamatan Undaan, Kudus, Rifai,  mengatakan, saluran irigasi yang memisahkan Desa Wates dan Undaan Lor, Kecamatan Undaan, sudah mulai diuruk. Waktu pengurukan diperkirakan mencapai sebulan.

“Melihat panjangnya saluran yang harus dikeruk, maka membutuhkan waktu sampai dengan sebulan lamanya. Apalagi alat berat yang datang cukup kecil sehingga membutuhkan waktu lebih banyak,” kata Rifai saat mendatangi lokasi.

Menurutnya, normalisasi sudah dilakukan mulai kemarin. Adapun panjang yang harus dinormalisasi sekitar 2,5 kilometer. Normalisasi mengenai sawah milik warga Undaan Lor dan juga Wates.

Sebelumnya, usai Bupati Kudus Musthofa datang ke lokasi menyelesaikan perkara, normalisasi dengan membuat saluran  tidak kunjung dilakukan. Perselisihan antara dua desa masih berlanjut.

Namun, setelah Camat Undaan Catur Widiyatno mendatangi lokasi lagi beberapa waktu yang lalu, kedua desa akhirnya sepakat kembali dan pengerukan pun akan dilakukan.

Permasalahan tersebut muncul karena Kades Wates khawatir kalau pengurukan yang masuk wilayah Undaan Lor tidak disetujui warga. Sehingga apa yang dilakukan akan sia-sia.

“Undaan Lor sudah sepakat, jika tidak sepakat atau ada masalah, maka akan kami buatkan saluran air yang masuk ke saluran irigasi sawah Undaan Lor,” ungkapan.

Secara lokasi, sawah Undaan Lor memang lebih rendah ketimbang Wates. Saluran dibuat untuk menyelamatkan petani Wates dalam tanam. Sementara jika air dibuang ke Undaan Lor, maka dapat membanjiri sawah Undaan Lor yang struktur tanah lebih rendah.

Kades Undaan Lor Edy Pranoto menambahkan, pihak petani tidak ada masalah tentang pengurukan. Hanya, dia berharap pengurukan lebih dalam sehingga dapat digunakan dalam waktu yang  lama.

“Kalau perlu sampai 1,5 meter biar mampu menampung banyak dan air dapat mengalir,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Senangnya Warga Karangrowo Terima Paket Sembako Murah dari Jamkrindo

 

Suasana pasar murah yang digelar Jamkrindo Cabang Kudus di Balai Desa Karangrowo, Undaan, Jumat (24/6/2016). Di kegiatan ini, warga cukup membayar Rp 25 ribu untuk paket sembako seharga Rp 150 ribu. (MuriaNewsCom/Sundoyo Hardi)

Suasana pasar murah yang digelar Jamkrindo Cabang Kudus di Balai Desa Karangrowo, Undaan, Jumat (24/6/2016). Di kegiatan ini, warga cukup membayar Rp 25 ribu untuk paket sembako seharga Rp 150 ribu. (MuriaNewsCom/Sundoyo Hardi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kegiatan pasar murah yang digelar Perusahaan Umum Jaminan Kredit Indonesia (Perum Jamkrindo) Cabang Kudus di Balai Desa Karangrowo, Kecamatan Undaan, Jumat (24/6) pagi disambut antusias warga setempat. Kegiatan yang merupakan bagian dari program BUMN Hadir Untuk Negeri ini sedianya baru akan dimulai pukul 08.00 WIB. Namun, balai desa sudah dipadati warga sejak pukul 07.00 WIB.

”Kami mendapat pemberitahuan dari perangkat desa, kalau ada pasar murah. Makanya, saya segera ke balai desa. Ternyata di sini (balai desa, red) sudah banyak yang berkumpul. Menjelang lebaran seperti sekarang, kami sangat senang dengan adanya pasar murah ini,” kata Sumi, warga Dukuh Ngelo yang merupakan satu dari tiga dukuh di wilayah Desa Karangrowo.

Kepala Desa Karangrowo Heri Darwanto mengatakan, pasar murah ini benar-benar murah. Untuk paket sembako seharga Rp 150 ribu yang terdiri dari 10 kilogram beras, 2 liter minyak goreng, dan dua kilogram gula pasir, warga cukup menebusnya dengan membayar Rp 25 ribu. Dalam pasar murah kemarin, terdapat 385 paket sembako yang dialokasikan untuk warga di Dukuh Ngelo, Kaliyoso, dan Krajan.

”Kami mengucapkan terima kasih kepada Jamkrindo atas penyelenggaraan kegiatan ini. Pasar murah ini benar-benar membantu warga kami yang sebentar lagi merayakan Idul Fitri,” ucap Heri.

Sementara itu, Kepala Perum Jamkrindo Cabang Kudus Andi Ina Aryanti mengatakan, pemilihan Desa Karangrowo sebagai lokasi pasar murah merupakan hasil dari survei lapangan yang dilakukan sebelumnya. Dia berharap, kegiatan ini memberikan manfaat positif bagi warga setempat.

Selain menggelar pasar murah, Jamkrindo juga menyelenggarakan santunan bagi 50 anak yatim. ”Sedangkan, dana yang terkumpul dari penjualan paket sembako di pasar murah, seluruhnya disumbangkan kepada pengurus tempat ibadah yang ada di desa ini,” jelas dia.

 Kepala Jamkrindo Kanwil V Semarang Sugeng (kiri) menyerahkan paket sembako murah kepada warga didampingi Kepala Jamkrindo Cabang Kudus Andi Ina Aryanti (dua dari kanan) dan Kades Karangrowo Heri Darwanto di Balai Desa Karangrowo, Undaan, Jumat (24/6/2016).


Kepala Jamkrindo Kanwil V Semarang Sugeng (kiri) menyerahkan paket sembako murah kepada warga didampingi Kepala Jamkrindo Cabang Kudus Andi Ina Aryanti (kanan) dan Kades Karangrowo Heri Darwanto di Balai Desa Karangrowo, Undaan, Jumat (24/6/2016). (MuriaNewsCom/Sundoyo Hardi)

Kepala Kanwil V Semarang Jamkrindo Sugeng yang hadir dalam acara menjelaskan, program BUMN Hadir Untuk Negeri berlangsung serentak di sejumlah wilayah di Tanah Air. Untuk puncak acaranya digelar di Garut, Jawa Barat dan dihadiri Menteri BUMN  Rini Soemarno. Selain di Jawa Tengah, BUMN Hadir Untuk Negeri juga menggelar kegiatan sosial di Jawa Timur, Jambi, Bengkulu, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur.

Selain itu, juga di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Maluku, NTB, NTT  Sulawesi  Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Utara. ”Kegiatan ini merupakan bagian dari program CSR (Corporate Social Responsibility) Jamkrindo kepada masyarakat sekitar. Kami puas dengan pelaksanaan pasar murah yang berlangsung di Balai Desa Karangrowo ini.  Apalagi, selain antuasiasme yang tinggi, warga juga tertib,” terang Sugeng.

Editor : Sundoyo Hardi

 

5000 Nampan Nasi Barokah Disajikan untuk Pengajian Maulidan Nanti Malam di Undaan

Jpeg

Ribuan nampan untuk tempat nasi barokah disiapkan panitia dari jemaah ABG Undaan untuk pengajian nanti malam. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Sekitar 5000 nampan nasi barokah akan tersaji pada pengajian Maulid Nabi Muhammad SAW di gedung Kanzus Shalawat Jemaah Angudi Barokahe Gusti (ABG) Cabang Kudus. Ribuan nasi tersebut diperuntukkan untuk pengunjung pengajian nanti malam, Minggu (31/1/2016) tepatnya Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan.

Salah satu panitia pengajian Maulid Nabi Muhammad SAW jemaah Angudi Barok Gusti (ABG) Cabang Kudus Zainul mengatakan, untuk nasi barokah panitia sediakan sekitar 5000 nampan. ”5000 nampan itu, terdiri dari beras sekitar 3,5 ton, 50 ekor kambing, dan 2 ekor kerbau. Itu semua dari donatur,” katanya.

Pengajian yang dihadiri Habib Muhammad Luthfi Bin Yahya dari Pekalongan ini, pada tahun lalu dikunjungi ribuan jemaah baik dari Kudus maupun luar kota. ”Pengunjung itu dari mana saja. Akan tetapi pihak panitia membagikan undangan resmi sekitar 300 undangan. Baik itu untuk Pemkab, Kejaksaan, Polres, Kodim dan tokoh masyarakat. Namun untuk pengunjung lainnya itu jumlahnya ribuan,” tuturnya.

Disaat yang sama, panitia lainnya Masudi mengutarakan, untuk pembagian nasi barokah itu tentunya disaat puncak acara, yaitu nanti Minggu (31/1/2016) malam . Tepatnya setelah di doakan oleh Habib Luthfi.

Editor : Titis Ayu Winarni

Uji Pengetahuan Agama, Siswa MTs NU Tamrinut Thullab Praktik Ceramah

Salah satu siswa MTs NU Tamrinut Thullab, Undaan Lor sedang berlatih berceramah dihadapan guru pembimbing dan teman-temannya. Hal itu guna mengekplor kemampuan siswa dalam hal ilmu agama. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Salah satu siswa MTs NU Tamrinut Thullab, Undaan Lor sedang berlatih berceramah dihadapan guru pembimbing dan teman-temannya. Hal itu guna mengekplor kemampuan siswa dalam hal ilmu agama. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

KUDUS – Guna memperdalam materi agama, maka setiap siswa harus bisa mengembangkan ilmu tersebut pada khalayak. Yaitu dengan memperaktikkan ceramah atau pidato di depan muka umum. Begitu juga dengan MTs NU Tamrinut Thullab, Undaan Lor. Semua siswanya yang duduk di kelas VIII dan IX diharapkan dapat mempraktikkan ceramah agama pada rekannya yang lain. Lanjutkan membaca