Khawatir Listrik Padam, SMPN 2 Penawangan Grobogan Pilih Nyalakan Genset saat UNBK

Petugas sekolah menjaga genset untuk mengantisipasi jika ada gangguan aliran listrik dari PLN, di salah satu SMP di Grobogan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski berlangsung lancar namun pelaksanaan UNBK di SMPN 2 Penawangan, Grobogan menyisakan cerita menarik. Sebabnya, pihak sekolah memilih menyalakan genset untuk memasok listrik buat keperluan UNBK.

“Di sini memang ada listrik dari PLN. Tetapi kami khawatir jika listrik PLN padam saat UNBK. Makanya kami pilih menggunakan genset saja. Soalnya, di sini aliran listrik tidak stabil,” Kepala SMPN 2 Penawangan Agus Prasetyo, Rabu (3/5/2017).

Menurutnya, genset akan digunakan selama UNBK yang berlangsung empat hari. Biaya sewa genset termasuk pembelian bahan bakarnya sekitar Rp 1 juta per hari.

“Meski pakai genset tetapi pelaksanaan UNBK dua hari ini lancar,” katanya.  

Kabid Pembinaan SMP Disdik Grobogan Mus Hadi Purwanto menyatakan, semua sekolah, terutama yang melaksanakan UNBK diminta menyediakan genset. Hal itu untuk mengantisipasi jika ada gangguan aliran listrik dari PLN.

“Penyediaan genset itu memang sebuah kewajiban. Ini untuk mengantisipasi jika listrik PLN padam saat ujian berlangsung,” jelasnya.

Dari laporan yang diterima, hanya SMPN 2 Penawangan saja yang menyalakan genset dalam waktu penuh selama UNBK berlangsung. Sekolah lainnya belum ada yang menggunakan genset karena tidak ada pemadaman listrik.

“Sampai saat ini, hanya satu sekolah saja yang pakai genset saat UNBK. Bagi kami tidak masalah kalau pakai genset. Yang penting pelaksanaan ujiannya lancar,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

Kepala SMPN 1 Kaliori: UNBK Bukan untuk Gengsi

Ratusan siswa SMPN 1 Kaliori ketika sampai di SMAN 1 Rembang untuk mengikuti UNBK , Selasa (2/5/2017). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Meski berstatus sebagai sekolah negeri, namun SMPN 1 Kaliori baru kali pertama menggelar Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) pada tahun 2017 ini.

Kepala SMPN 1 Kaliori Nur Hasan mengatakan, meski saat ini pihaknya belum bisa menyelenggarakan UNBK secara mandiri, karena masih mendompleng di SMAN 1 Rembang, namun, hal tersebut bukan sesuatu yang memaksakan dan hanya untuk mengejar gengsi.

“Meski belum memiliki fasilitas sendiri yang memadai untuk melaksanakan UNBK, tetapi ini bukan sebagai bentuk gengsi dengan sekolah lain. Ini tak lain, untuk memicu semangat dan mental siswa. Mau tidak mau, setidaknya anak-anak juga harus didorong untuk menggelar UNBK. Kalau tahun ini sudah bisa berjalan, secara otomatis nanti adik-adik kelasnya juga akan ikut terdorong dan berkeinginan untuk maju,” katanya.

Pelaksanaan UNBK pertama kali yang jatuh tepat pada Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei ini, katanya, juga sebuah momentum yang baik untuk memacu siswa agar lebih maju.

Selain itu, pihaknya juga mendorong dan memberikan kesempatan kepada guru lainya untuk menjadi operator UNBK, sehingga nantinya memiliki pengalaman dan tahun depan sudah memiliki tenaga ahli untuk pelaksanaan UNBK.

Dia menambahkan, untuk menggelar UNBK, pihak sekolah juga tak memaksa setiap siswa atau guru. Sebelumnya, pihak sekolah sudah memberikan edaran semacam pilihan.”Awal masuk tahun baru pelajaran lalu, kita sudah mengedarkan pilihan kepada guru dan murid. Apakah mereka ingin menggelar UNBK atau UNKP.Ternyata mayoritas guru dan siswa memilih UNBK,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

35 Sekolah di Rembang Ikuti UNBK Tingkat SMP

Ratusan siswa SMPN 1 Kaliori turun dari truk polisi sesampainya di SMAN 1 Rembang untuk mengikuti UNBK, Senin (2/5/2017).(MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Sebanyak 4.653 siswa dari 35 SMP dan MTs di Kabupaten Rembang, mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) yang digelar mulai hari ini, Selasa (2/5/2017).

Meski demikian, belum secara keseluruhan menggelar UNBK secara mandiri. Sebagian masih ada yang menginduk pada sekolah lain, karena, fasilitas komputer dan lainnya tidak memungkinkan untuk bisa melaksanakan UNBK secara mandiri.

Seperti halnya SMPN 1 Kaliori. Untuk pelaksanaan UNBK, pihak sekolah masih menginduk ke sekolah lain, yakni ke SMAN 1 Rembang. Jarak antara SMPN 1 Kaliori dengan SMAN 1 Rembang sekitar 10 kilometer.

Terkait cukup jauhnya lokasi antarsekolah tersebut, pihak SMPN 1 Kaliori berinisiatif menggandeng pihak Polres untuk bisa menyediakan armada untuk mengangkut siswa yang akan ikut ujian nasional tersebut.

Kepala SMPN 1 Kaliori Nur Hasan mengatakan, dengan menggandeng pihak kepolisian, dinilai lebih aman bagi siswa. Apalagi, jalur Kaliori ke Rembang merupakan jalur pantura yang cukup rawan kecelakaan.

Menurutnya, untuk peserta UNBK dari SMPN 1 Kaliori sendiri sebanyak 270 siswa, yang terbagi menjadi dua gelombang. “Kita bagi menjadi dua sesi. Setiap sesinya ada 135 siswa. Gelombang pertama yang pagi dijemput lebih dahulu, pun demikian nantinya yang gelombang kedua juga dijemput,” katanya.

Sementara itu, Gito Siswoyo guru bidang komputer SMAN 1 Rembang mengatakan, untuk kesiapan pelaksanaan UNBK, pihaknya sudah sudah menyiapkan fasilitas ruang laboratorium, genset dan sebagainya.

“Kita saat ini siapkan genset untuk jaga-jaga di saat pemadaman listrik. Sedangkan laboratoriumnya sudah disiapkan sebanyak 4 lab,” bebernya.

Editor : Kholistiono

Beberapa SMP dan MTs di Jepara Belum Bisa Selenggarakan UN Mandiri

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Beberapa siswa SMP/MTs di Jepara terpaksa mengikut ujian nasional di sekolah lain. Hal itu lantaran, sekolah belum bisa menyelenggarakan ujian nasional (UN) secara mandiri. 

Hal itu diungkapkan Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Jepara Ali Maftuh, Senin (1/5/2017). Menurutnya, hal itu terjadi karena sebagian sekolah belum mendapatkan akreditasi. Mereka adalah sekolah yang relatif masih baru. Hal lain yang menyebabkan adalah, kurangnya siswa kelas IX yang mengikuti ujian.

“Banyak hal yang menyebabkan hal itu, yang menentukan dari badan asesor negara. Kalau dia sudah terakreditasi walaupun C, dia bisa menyelenggarakan ujian nasional sendiri. Biasanya adalah sekolah yang relatif masih baru sekitar lima tahun, tiga tahun,” katanya. 

Catatan Disdikpora Jepara, tahun 2017 dari jumlah 87 SMP se-Kabupaten Jepara hanya 79 di antaranya yang melaksanakan UN. Sementara di jenjang MTS, dari jumlah 105, hanya 90 yang menggelar ujian nasional.

Terkait siswa yang tak bisa mengikuti ujian di sekolahnya sendiri, Maftuh menyebut tak menjadi soal. Hal itu karena siswa yang bersangkutan tak perlu pergi ke luar daerah yang jauh untuk berujian nasional. 

“Misalnya, sekolah asalnya di Donorojo, ya dia (siswa) bisa memilih yang menyelenggarakan ujian nasional di dekat daerah itu,” tambahnya.

Di samping itu, mekanisme ujian nasional sudah ditentukan oleh sekolah yang menjadi induk. “Kalau menggabung ke sekolah lain, yang bertanggung jawab yang digabungi. Mulai dari penyediaan ruang kelas dan sebagainya,” jelas Maftuh.

 Editor : Kholistiono

4.967 Siswa di Rembang Bakal Ikuti UNKP Tingkat SMP

Ilustrasi Ujian Nasional.(MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Rembang – Sebanyak 4.967 siswa dari 62 SMP dan MTs se-Kabupaten Rembang bakal mengukuti Ujian Nasional Berbasis Kertas dan Pensil (UNKP) pada pekan depan, yakni 2,3,4 dan 8 Mei 2017.

Kabid Pembinaan SMP pada Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dindikpora) Rembang Ahmad Solhan mengatakan, secara keseluruhan SMP dan MTs di Rembang jumlahnya mencapai 95 sekolah. Sedangkan yang melaksanakan UNKP sebanyak 62 sekolah.

Menurutnya, untuk hari pelaksanaan UNKP sama dengan pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Hanya saja, untuk jam dimulainya ujian, untuk UNKP dimulai pukul 10.30 WIB hingga 12.30 WIB.

Kemudian, UNKP juga masih memberlakukan sistem posko atau sub rayon, sebagai tempat pengambilan dan pengumpulan Lembar Jawab Ujian Nasional (LJUN).

“Untuk rayonnya sendiri berada di Dindikpora. Sedangkan untuk sub rayonnya akan ditempatkan di SMPN 1 Sulang, SMPN 3 Pamotan dan SMPN 1 Kragan,” imbuhnya.

Selain itu, ia juga berharap, terkait masih banyaknya sekolah yang menggelar UNKP tersebut, tahun depan dapat mendaftarkan diri untuk menggelar UNBK. “Mudah-mudahan tahun depan sekolah ini bisa menggelar UNBK. Saya juga berharap, nantinya sekolah yang menggelar UNKP bisa berjalan lancar,” harapnya.

Editor : Kholistiono

Siswa SMPN 1 Kaliori Bakal Dijemput Polisi untuk Ikuti UNBK

Ratusan siswa SMPN 1 Kaliori saat bersiap siap menuju SMAN 1 Rembang untuk simulasi UNBK beberapa waktu lalu dengan menggunakan armada dari Polres Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Dari puluhan sekolah menengah pertama di Rembang yang bakal mengikuti pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) adalah SMPN 1 Kaliori. Namun demikian, untuk pelaksanaan ujian itu, SMPN 1 Kaliori masih menumpang menggunakan fasilitas di SMAN 1 Rembang.

Terkait hal itu, ada 270 peserta ujian nasional dari SMPN 1 Kaliori yang harus pergi ke SMAN 1 Rembang untuk bisa melaksanakan UNBK. Jarak tempuh dari sekolah ke SMAN 1 Rembang sekitar 10 kilometer.

Dalam hal ini, pihak sekolah bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk memfasiltiasi masalah transportasi. Nantinya, ratusan siswa yang bakal mengikuti ujian tersebut, bakal diantar dan dijemput dengan mobil dari Polres Rembang.

Hal itu dilakukan supaya keberangkatan siswa untuk menuju ke sekolah dapat berjalan lancar. Mengingat, jarak SMP menuju SMAN 1 Rembang melintasi jalur pantura yang dinilai rawan kecelakaan. Sehingga, dinilai lebih aman, jika siswa diangkut bersamaan dengan armada dari Polres Rembang.

Kepala SMPN 1 Kaliori Nur Hasan mengatakan, kerja sama dengan pihak polres mengenai antar jemput siswa yang akan mengikuti UNBK ini sudah sejak Februari lalu.

“Antar jemput itu sudah dilakukan sejak simulasi pertama pada Februari, simulasi kedua Maret dan nantinya akan dilanjutkan pada UNBK utama pada tanggal 2,3,4 dan 8 Mei mendatang. Kita menggandeng pihak kepolisian, demi keamanan anak-anak saat berangkat UNBK ,” katanya.

Dari informasi yang ada, dari ke 270 anak peserta UNBK tersebut, sudah disiapkan armada sebanyak 3 hingga 4 truk Polres Rembang.

“Untuk armadanya sendiri ada sebanyak 3 hingga 4. Dan nantinya, akan stand by mulai pukul 06.00 WIB di SMP. Setelah itu, berangkat menuju SMAN 1 Rembang pukul 06.30 WIB. Sesampainya di sana, nantinya anak anak akan mulai persiapan,” ungkapnya.

Kemudian,untuk antar jemput peserta UNBK tersebut, akan dilakukan sebanyak 2 kali sehari. Mengingat, kegiatan UNBK tidak akan dilakukan secara bersama.

“Berhubung UNBK ini akan ada dua sesi, maka Pak Polisi tentunya akan mengantar dan menjemput dua kali. Yakni sesi pertama akan dimulai pukul 07.30 WIB hingga 09.30 WIB. Sedangkan sesi kedua akan dimulai 10,00 WIB hingga 12.00 WIB,” bebernya.

Editor : Kholistiono

UNBK, Sekolah Siapkan Genset dan Laptop Cadangan

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Rembang – Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dindikpora) Rembang mengimbau supaya 33 sekolah tingkat pertama, baik SMP dan MTs yang melakukan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) dapat menyiapkan genset dan laptop cadangan.

Pasalnya, melihat pengalaman yang ada di SMA dan SMK beberapa lalu, ada sedikit gangguan yang mendera di beberapa sekolah lantaran gangguan komputer.

Kabid Pembinaan SMP pada Disdikpora Rembang Ahmad Solhan mengatakan, setiap SMP dan MTs yang menggelar UNBK harus bisa mewaspadai gangguang yang ada.

“Kalau masalah error soal tidak bisa diunduh itu mungkin servernya yang error. Namun bila kendala mengenai listrik padam dan komputer error, maka sekolah harus menyiapkan laptop cadangan dan genset,” katanya.

Sebab menilik pengalaman beberapa waktu lalu di SMA maupun SMK, ada beberapa sekolah yang mengalami kendala komputer error. “Kalau di MA Annuroniyah kemarin komputernya yang error. Sehingga sekolah mengganti laptop cadangan. Sedangkan untuk listrik padam, memang kemarin kita tidak pernah mendapatkan laporan itu,” ungkapnya.

Perlu diketahui, untuk tahun ini, dari jumlah keseluruhan SMP dan MTs yang ada di Rembang yakni 95 sekolah, baru ada sebanyak 33 sekolah yang melaksanakan UNBK.

“Dari 33 SMP dan MTs yang saat ini sudah mengikuti UNBK, yakni sebanyak 10 sekolah melaksanakan UNBK secara mandiri dan 23 sekolah masih bergabung ke sekolah lainnya,” paparnya.

Dia menambahkan, khusus bagi sekolah yang menggabung UNBK di sekolah lain, tentunya juga harus bisa menyedialan laptop. “Dan jangan hanya menggantungkan sekolah itu,” imbuhnya.

Untuk diketahui, jadwal UNBK tingkat SLTP akan dilakukan pada tanggal 2,3,4 dan 8 Mei 2017 mendatang. Sehingga pihak Dindikpora berharap semua sekolah yang menggelar UNBK bisa menyiapkan segala sesuatunya.

Editor : Kholistiono

Ke Jepang, Siswi SMA 1 Kudus Absen UNBK

Sejumlah siswa SMA 1 Kudus mengerjakan UNBK, Senin (10/4/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Seorang siswa SMA 1 Kudus, absen mengikuti UNBK SMA di sekolahnya, Senin (10/4/2017). Absennya siswa dipastikan tak hanya sehari, tapi juga selama penyelenggaraannya yakni hingga empat hari ke depan.

Kepala SMA 1 Kudus Shodiqun, mengatakan, siswanya yang absen UNBK adalah Evelia Levina, siswa kelas 12 jurusan IPA. Tidak ikutnya dalam UNBK, disebabkan yang bersangkutan sedang berada di luar Jepang.

“Absennya siswa sudah dilaporkan ke saya, namun bagaimana lagi dia sudah terpilih mengikuti kegiatan Japan Science and Technology Agency (JST) di Jepang. Jadi beberapa hari perginya,” kata Shodiqun di tempat kerjanya, kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya,siswa SMA 1 Kudus yang berangkat ke Jepang tak hanya satu siswa. siswa lain yang  juga ke Jepang adalah Thalita Anindya Ramadanti, siswa kelas XI. Dikatakan, kalau siswa tersebut merupakan siswa yang berprestasi, sehingga bisa terpilih mewakili Indonesia dalam ajang yang besar itu. Selain itu, kegiatan yang bekerja sama dengan Kemendikbud itu juga melalui proses seleksi yang tak mudah.

“Sebenarnya acara tersebut sempat menjadi perbincangan dalam beberapa kegiatan. Karena kegiatan ke Jepang bareng dengan momen UNBK. Dan lagi, UNBK adalah dari Kemendikbud dan progam di Jepang juga kerjasama dengan Kemendikbud,” ungkapnya.

Rencananya, siswa yang absen UNBK akan mengikuti UNBK susulan. Itu sudah menjadi risiko karena tidak mengikuti UNBK.

Editor : Akrom Hazami

 

SMK di Kudus Akan UNBK Susulan pada 18 April

Sejumlah siswa SMK Wisudha Karya Kudus mengerjakan UNBK. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Siswa SMK di Kudus, bakal melangsungkan UNBK susulan 18 April 2017.  Itu dilakukan lantaran dalam UNBK, Kamis (6/4/2017) terjadi masalah.

Pengawas SMK Kudus Yulis Arif, mengatakan masalah tidak munculnya soal dalam UNBK hanya terjadi pada dua mata pelajaran  saja. Yaitu jurusan Audio Video serta jurusan Perbankan Syariah.”Kami sudah mendapat laporan. Semuanya siswa yang menempuh mata ujian tersebut akan mengikuti UNBK susulan yang dilaksanakan bulan ini juga,” katanya saat dihubungi MuriaNewsCom, Jumat (7/4/2017).

Menurutnya, untuk  ujian Perbankan Syariah, terdapat di satu sekolah, yaitu SMK Taman Siswa Kudus. Jumlah siswanya mencapai puluhan orang dan terdapat satu kelas yang mengambil jurusan tersebut.

Sedangkan untuk Audio Video, di antara sekolah yang terdapat jurusan tersebut adalah SMK Wisudha Karya. Di sana ada satu kelas yang terdiri dari 37 siswa.

Sementara, panitia UNBK SMK Wisudha Karya Fakhrudin, mengatakan jurusan Audio Video selain di sekolahnya juga ada yang lain.

Sementara, Kepala Badan Pengendali Pendidikan Menengah dan Khusus Wilayah II Kanwil Pati, Santoso mengatakan kalau kondisi tersebut tak hanya tejadi di wilayah Kudus, tapi juga di Eks Keresidenan Pati.

“Permasalahan ini adalah permasalahan nasional, yang bermasalah servernya, jadi semuanya kena. Jadi para siswa akan melakukan UN susulan, itupun menggunakan UNBK,” jelasnya saat dihubungi.

Editor : Akrom Hazami

Siswa UNBK SMK Jurusan Audio Video di Kudus Bakal Ujian Susulan

Sejumlah siswa SMK mengerjakan UNBK. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Semua siswa yang dipulangkan dalam UNBK SMK mata pelajaran Audio Video, akibat eror, direncanakan bakal melangsungkan ujian susulan. 

Diketahui, terjadi masalah pada soal UNBK SMK pada Kamis (6/4/2017) pagi. Hal itu berujung pada pemulangan peserta ujian.

Panitia UNBK SMK Wisudha Karya (Wiskar) Fakhrudin,  mengatakan kalau berita acara sudah diberikan usai siswa keluar ruangan. Kemudian, berdasarkan konfirmasi yang dilakukan, maka jalan yang memungkinkan adalah melangsungkan UNBK susulan.

“Itu merupakan solusi. Rencananya ujian susulan pada18 April mendatang. Namun secara pastinya berjalan atau tidak masih menunggu,” katanya kepada MuriaNewsCom di Kudus.

Tidak sedikit siswa kecewa. Tapi karena tidak ada jalan lain selain menghentikan UNBK jurusan Audio Video, maka mereka menerima.

Dihentikannya ujian, membuat siswa merasa terbebani dengan UNBK susulan. “Dampak psikologis jelas terlihat dari dalam diri siswa. Apalagi UNBK tadi sama sekali tak bisa dilakukan. Jadi kami juga memberikan pengarahan kepada siswa apa yang terjadi,” ungkap dia.

Editor : Akrom Hazami

Soal UNBK SMK Jurusan Audio Video Tak Muncul, Siswa di Kudus Terpaksa Dipulangkan

Sejumlah siswa SMK Wisudha Karya Kudus mengerjakan UNBK. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – UNBK SMK di Kudus mengalami masalah di hari keempat, Kamis (6/4/2017). Dengan mata pelajaran ujian jurusan Audio Video. Saat ujian, soal tak muncul di komputer siswa. Seperti yang terjadi di SMK Wisudha Karya (Wiskar).

Panitia UNBK SMK Wiskar, Fakhrudin mengatakan, dalam UNBK Jurusan Audio Video di bagian pertama atau pagi hari. Saat peserta ujian log in, soal UNBK tak muncul dalam layar monitor. “Hampir semua tidak muncul soalnya. Dari 37 siswa jurusan Audio Video, hanya dua soal saja yang muncul soalnya. Sedangkan sisanya tidak muncul soalnya,” kata Fakhrudin saat dihubungi MuriaNewsCom, di tempat kerjanya.

Melihat hal tersebut, pihaknya langsung melakukan koordinasi. Hasilnya, sekolah mempersilakan semua siswanya untuk pulang lebih dulu. Dia mengatakan, kesalahan dalam UNBK Jurusan Audio Video tak hanya terjadi pada sekolahnya, tapi juga di Kudus secara keseluruhan.

“Banyak percakapan di grup WA, yang isinya tidak muncul soal UNBK jurusan Audio Video. Dan akhirnya dipulangkan karena tak bisa mengerjakan UNBK,” ungkapnya.

Temuan tersebut juga sudah dilaporkan ke pihak yang menangani. Sekolah menunggu kebijakan dari pemerintah terkait kelanjutan UNBK mata ujian jurusan Audio Video.

Editor : Akrom Hazami

Kisah Perjuangan Siswa SMK Wisudha Karya Kudus Kerjakan UNBK di Atas Kursi Roda

Sunaryo, siswa di SMK Wisudha Karya Kudus saat mengerjakan soal UNBK, Selasa (4/4/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Sunaryo, siswa di SMK Wisudha Karya Kudus, harus berjuang mengerjakan soal UNBK. Dia harus mengerjakan soal di atas kursi roda.

“Saya dulu kecelakaan menabrak pohon, akhirnya tangan kanan patah dan kaki kanan juga patah. Meski sudah dirawat di tempat sangkal putung tapi masih belum pulih sepenuhnya,” kata Sunaryo usai mengerjakan soal, di sekolahnya, Selasa (4/4/2017).

Apalagi, saat ini ruang ujiannya berada di lantai 2, maka hal itu membuatnya harus berjuang lebih keras. Untuk mencapai kesana lanjut dia, dia selalu diangkat bersama para teman satu kelasnya. Kondisi tersebut menjadi pemandangan setiap mau mengikuti dan selesai mengerjakan UNBK.

“Dalam keseharian juga demikian, jika ada kelas di lantai dua, maka teman-teman yang membantu saya naik ke lantai dua. Ini sudah berjalan sekitar sebulan,” ujarnya.

Dalam UNBK kali ini, dia merasa tertolong dengan model komputer. Meski agak kaku saat menggunakan komputer dalam mengerjakan, tapi itu jauh lebih mudah ketimbang sistem manual yang harus melingkari jawaban.

Kasmuni, guru setempat mengatakan, teman satu ruang Sunaryo kerap membantunya. Terutama saat mengangkat dan menurunkanya dari lantai 2. “Sebelumnya saya was-was, lantaran dia kecelakaan sebelum ujian praktik sekolah. Namun mendekati hari pelaksanaan dia sudah berangkat meski harus menggunakan kursi roda,” ucapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Hari Pertama UNBK, Kudus dan Jepara Lancar, Pati Ada Sedikit Gangguan

Kepala Badan Pengendali Pendidikan Menengah dan Khusus wilayah II Kanwil Pati, Santoso di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Pada hari pertama UNBK SMK, untuk wilayah Kudus dan juga Jepara berlangsung dengan aman. Namun untuk wilayah Pati, ada SMK yang mengalami gangguan teknis dalam pengerjaan soal yaitu berupa padamnya aliran listrik.

Itu disampaikan Kepala Badan Pengendali Pendidikan Menengah dan Khusus wilayah II Kanwil Pati, Santoso. Menurutnya, berdasarkan pantauan yang dilakukan Senin (3/4/2017) pagi tadi hingga siang, di Pati ada sekolah di Juwana yang mengalami listrik padam. Akhirnya selama beberapa menit terpaksa peserta harus terganggu prosesnya.

“Tapi hanya sebentar saja matinya, sekitar tiga menitan. Setelahnya langsung dinyalakan listriknya kembali menggunakan genset yang sudah dipersiapkan pihak sekolah,” kata Santoso saat meninjau UNBK di SMK Wisudha Karya Kudus.

Menurutnya, untuk pemantauan di Kudus, dianggap aman dan tidak ditemukan gangguan. Begitu pula dengan di Jepara, yang juga dilakukan langsung olehnya Senin pagi sebelum ke Kudus. Sementara, wilayah Eks Kerisidenan Pati yang lain seperti Rembang dan Blora, terdapat petugas lain yang melakukan pengecekan. Dan hingga siang tadi belum ada laporan.

Dikatakan, kalau keberadaan genset memang penting untuk sekarang. Apalagi faktor alam tak bisa ditebak meskipun sudah ada surat pemberitahuan tentang tidak adanya pemadaman listrik.
Editor : Akrom Hazami

Siapkan Aplikasi Android, Pelaksanaan UNBK SMK Terpantau Cepat di Grobogan

Kepala Sekolah SMKN 1 Purwodadi Sukamto sedang berkeliling ruangan untuk memantau kesiapan pelaksanaan ujian nasional hari pertama, Senin (3/4/2017) (MuriaNewsCom / Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pelaksanaan ujian nasional SMK di Grobogan bisa dipantau dengan cepat dengan bantuan teknologi. Sebab, sudah ada aplikasi khusus yang disiapkan.

“Sebelumnya, memang sudah kita bikinkan aplikasi untuk digunakan saat penyelenggaraan ujian nasional. Dengan aplikasi kita bisa memantau kondisi dengan cepat,” kata Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK Kabupaten Grobogan Sukamto pada wartawan, Senin (3/4/2017).

Dijelaskan, melalui aplikasi tersebut pihak sekolah atau penanggung jawab ujian diminta secepatnya membuat laporan. Formulir laporan sudah disediakan dalam aplikasi tersebut.

Misalnya, jumlah siswa yang tidak mengikuti ujian nasional hari pertama untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. Kemudian, jika ada permasalahan yang terjadi di sekolah tersebut selama penyelenggaraan ujian nasional juga sudah ada formulir laporannya.

“Aplikasi bisa diakses lewat android. Laporan bisa kita pantau lewat grup WhatsApp khusus yang sudah kita bikin sebelumnya,” jelas Sukamto yang menjabat Kepala SMKN 1 Purwodadi itu.

Melalui aplikasi tersebut, pihaknya sudah menerima laporan adanya satu siswa yang tidak ikut ujian nasional. Yakni, siswa dari SMK Kristen Purwodadi yang ternyata sudah menyatakan keluar, beberapa saat sebelum pelaksanaan ujian nasional.

Kemudian, laporan gangguan lewat aplikasi SMK Darul Falah Gubug. Di sekolah tersebut, pelaksanaan ujian nasional sempat molor sekitar 20 menit dari jadwal. Masalahnya, sinkronisasi dengan server belum bisa terhubung karena jaringan internet sempat terganggu.

“Untuk laporan gangguan baru ada di satu sekolah. Namun, gangguan tidak lama karena cepat ditangani. Untuk mengantisipasi gangguan listrik, sekolah juga sudah sediakan genset,” ungkapnya.

Ditambahkan, pelaksanaan ujian nasional untuk SMK di Grobogan tahun ini berbeda dari sebelumnya. Sebab, semua SMK menyelenggarakan model Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK).

“Untuk tahun ini, SMK di Grobogan 100 persen selenggarakan UNBK. Jumlah siswa yang tercatat sebagai peserta ujian nasional yang dimulai hari ini ada 5.911 orang,” katanya.

Jumlah SMK negeri dan swasta se-kabupaten ada 50 sekolah. Dari jumlah ini, sebanyak 37 SMK menyelenggarakan UNBK secara mandiri. Sedangkan 13 SMK bergabung atau menumpang sekolah lain dalam menyelenggarakan UNBK. 

Editor : Akrom Hazami

Demi UNBK, Sekolah di Kudus Siapkan Genset

Sejumlah siswa di SMK Wisudha Karya mengerjakan soal UNBK di sekolahnya, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Selama pelaksanaan UNBK SMK tahun ini, sekolah yang menyelenggarakan UNBK menyiapkan genset untuk kebutuhan listrik. Genset tersebut disiagakan guna menjaga jikalau aliran listrik padam.

Kepala SMK PGRI 2 Kudus Kartono mengatakan, pihaknya sudah mendatangkan genset yang bagus untuk kebutuhan siswanya selama UNBK. Genset disewa selama empat hari dan disiagakan pada UNBK tahun ini.

“Kami tahu kalau pemerintah sudah memberikan surat kepada PLN terkait UNBK agar tak ada pemadalam listrik. Namun kendala alam tak bisa dikendalikan seperti pal listrik yang terganggu dan sebagainya. Untuk jaga-jaga kami menyiapkan genset,” kata Kartono di Kudus, Senin.

Menurutnya, biaya sewa genset cukup mahal, yaitu sejumlah Rp 1 juta setiap harinya. Dan biaya tersebut tetap berlaku, meskipun genset tak digunakan. Sekolah tidak ingin UNBK mengalami gangguan. Apalagi, kali ini tak hanya 106 siswanya mengikuti UNBK, tapi ada 15 peserta asal SMK Al Hidayah Jepara  yang gabung.  “Genset ini selalu siap, jadi jika listrik tiba-tiba padam, maka sekitar tiga menit akan kembali hidup dan siswa dapat melanjutkan UNBK kembali,” ujar dia.

Di SMK Wisudha Karya juga demikian. Sekolah menyiapkan genset selama UNBK berlangsung. Itu juga sebagai bentuk persiapan dalam hal jikalau ada listrik padam. “UNBK diselenggarakan dalam tiga sesi, pagi, siang dan sore hari. Jadi kami harus selalu siaga jika ada kendala teknis seperti aliran listrik yang padam,” ungkap Fakhrudin, panitia UNBK SMK Wisudha Karya di tempat berbeda.

Editor : Akrom Hazami

Meski Jauh, 15 Siswa Jepara Ini Tetap Ikuti UNBK di SMK 2 PGRI Kudus

Kepala SMK PGRI 2 Kudus Kartono tampak berada di depan papan berisi info denah duduk peserta UNBK, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Sekitar 15 siswa SMK Al Hidayah Jepara, mengikuti kegiatan UNBK di SMK PGRI 2 Kudus, selama empat hari ke depan. SMK Al Hidayah Jepara belum bisa mengadakan UNBK sendiri.

Kepala SMK PGRI 2 Kudus Kartono mengatakan, peserta yang gabung UNBK dari Jepara merupakan peserta dengan jurusan Usaha Perjalanan Wisata. Bergabungnya siswa Jepara karena masih SMK Al Hidayah belum terakreditasi.

“Untuk itu berdasarkan aturan harus menggabung atau menginduk ke sekolah lain yang sama jurusan. Dan yang terdekat adalah di sini,” kata Kartono di SMK PGRI 2 Kudus, Senin.

Dikatakan, sebenarnya jarak Jepara dengan SMK PGRI 2 Kudus cukup jauh. Untuk itu pihaknya memberikan tawaran agar bersedia untuk menginap di SMK PGRI 2 Kudus, dengan fasilitas yang disiapkan. Hanya, tawaran tersebut tak diterima dan siswa memilih laju.

“Setiap pagi mulai jam 06.00 WIB sudah pada datang siswanya. Meski jauh, mereka sangat bersemangat dalam mengikuti UNBK di Kudus ini,” ujarnya. 

Para siswa Jepara datang lebih awal, disebabkan jadwal ujian dimulai pukul 07.30 WIB. Sedangkan sebelum 07.00 WIB, semua siswa harus sudah memasuki ruangan ujian. “Mereka masuk pertama. Jadi setiap hari dilakukan UNBK jam pertama dan membuat mereka harus datang pagi-pagi pula,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

50 SMK di Grobogan Selenggarakan Ujian Nasional Berbasis Komputer

Beberapa siswa SMK Pembangunan Nusantara Gabus yang mengikuti UNBK di SMKN 1 Purwodadi sedang melihat info denah ruangan dan tempat duduk yang ditempel di tempat pengumuman. (MuriaNewsCom / Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pelaksanaan ujian nasional untuk SMK di Grobogan tahun ini berbeda dari sebelumnya. Sebab, semua SMK menyelenggarakan model Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Hal itu disampaikan Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK Kabupaten Grobogan Sukamto pada wartawan, Senin (3/4/2017).

“Untuk tahun ini, SMK di Grobogan 100 persen selenggarakan UNBK. Jumlah siswa yang tercatat sebagai peserta ujian nasional yang dimulai hari ini ada 5.911 orang,” katanya.

Dijelaskan, jumlah SMK negeri dan swasta se-kabupaten ada 50 sekolah. Dari jumlah ini, sebanyak 37 SMK menyelenggarakan UNBK secara mandiri. Sedangkan 13 SMK bergabung atau menumpang sekolah lain dalam menyelenggarakan UNBK.

“Seperti di tempat kami, ada 4 SMK yang nunut UNBK di sini. Yakni, SMK Pembangunan Nusantara Gabus, SMK Islam Terpadu Pelita Purwodadi, SMK Nusantara Grobogan, dan SMK Terpadu Irsyadut Thulab Purwodadi,” jelas Sukamto yang menjabat Kepala Sekolah SMKN 1 Purwodadi itu.

Untuk menyelenggarakan UNBK kali ini tersedia 73 server atau ruang kelas komputer. Kemudian, untuk mengantisipasi gangguan juga disiapkan 33 server cadangan.

Penyelenggaraan ujian nasional dibeberapa sekolah dilakukan dalam beberapa sesi. Hal ini disebabkan jumlah peserta cukup banyak, sementara kapasitas server maksimal dipakai untuk 40 siswa.

“Ada sekolah yang melaksanakan ujian nasional hanya 1 dan 2 sesi saja. Tetapi ada yang sampai 3 sesi, seperti di tempat kami,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

2018, Disdikpora Rembang Targetkan 50 Persen SMP dan MTs Laksanakan UNBK

Beberapa siswa saat mengikuti simulasi UNBK beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaMewsCom, Rembang – Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dindikpora) Rembang menargetkan, pada 2018 mendatang, sekolah menengah pertama yang melaksanakan ujian nasional berbasis komputer (UNBK) bisa mencapai 50 persen.

Kabid Pembinaan SMP pada Disdikpora Rembang Ahmad Solhan mengatakan, untuk tahun ini, dari jumlah keseluruhan SMP dan MTs yang ada di Rembang yakni 95 sekolah, baru ada sebanyak 33 sekolah yang melaksanakan UNBK.

“Ke depan, dalam perkembangannya, tentu siswa dituntut untuk bisa mengikuti informasi dan teknologi. Untuk itu, kita targetkan sekolah yang bisa mengikuti UNBK juga bertambah. Sebab, pelaksanaan ujian nasional ini memang lama-kelamaan meninggalkan kertas,” katanya.

Menurutnya, dari 33 SMP dan MTs yang saat ini sudah mengikuti UNBK, yakni sebanyak 10 sekolah melaksanakan UNBK secara mandiri dan 23 sekolah masih bergabung ke sekolah lainnya. “Memang masih banyak sekolah yang numpang di sekolah lain untuk pelaksanaan UNBK ini. Karena, mereka belum memiliki fasilitas komputer untuk menunjang UNBK,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

SMPN 1 Rembang Gelar Simulasi UNBK

Siswa SMPN 1 Rembang sedang mengikuti simulasi UNBK di SMKN Rembang, Selasa (21/3/2017). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – SMPN 1 Rembang menggelar simulasi ujian nasional berbasis komputer (UNBK). Pelaksanaan simulasi kali ini, dilakukan di SMKN 1 Rembang, Selasa (21/3/2017).

Wakil Kepala SMPN 1 Rembang Edy Sri Irianto mengatakan, pelaksanaan simulasi dilakukan selama dua hari, yakni 20-21 Maret. Simulasi UNBK diikuti sebanyak 282 siswa. “Untuk UNBK kita masih numpang di SMKN 1 Rembang. Karena, kita belum memiliki fasilitas komputer yang bisa menunjang pelaksanaan UNBK. Sebelumnya, kami juga telah melaksanakan simulasi pada akhir Februari lalu,” ujarnya.

Dirinya menyampaikan, jika dalam simulasi kali ini, masih ada beberapa kendala yang dihadapi siswa. Hal itu terkait pengoperasian atau cara mengerjakan soal, yang masih ada beberapa siswa yang kurang begitu lancar. Sehingga, seharusnya menjawab soal, justru malah log out.

“Untuk itu, dengan adanya simulasi ini, kita berharap siswa bisa lebih lancar ketika nantinya mengerjakan soal pada pelaksanaan UNBK. Siswa kami berharap bisa mengingat apa yang dilakukan pada simulasi ini, dan tak bingung lagi nanti,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

UNBK, Memaksakan Diri Hanya untuk Gengsi

Ali Muntoha
muntohafadhil@gmail.com

UJIAN Nasional (UN) memang kini bukanlah sebuah momok yang begitu menakutkan seperti tahun-tahun sebelumnya. UN bukan lagi menjadi satu-satunya penentu kelulusan bagi siswa, ini yang membuat siswa bisa bernafas lega. Di tataran pusat pun masih mencuat perdebatan perlu tidaknya digelar UN ini, hingga kemudian muncul wacana untuk melakukan moratorium.

Bahasan yang lagi hangat saat ini tak lagi hanya sebatas perlu tidaknya UN, tapi sistem yang digunakan dalam ujian yang berbasis komputer (Ujian Nasional Berbasis Komputer /UNBK). Banyak sekolah yang berlomba-lomba untuk menggelar ujian dengan sistem computer based ini, tanpa mengukur kemampuannya.

Penyebabnya karena satu, yakni gengsi dan harga diri sekolah. Sekolah merasa akan terlihat sangat mentereng jika bisa menggelar UNBK. Namun sayang, kadang obsesi ini tak dibarengi dengan kemampuan yang memadai. Ujung-ujungnya siswa yang akan menjadi korban.

Beberapa sekolah akan menjadikan siswanya sebagai ”sapi perahan” menarik iuran sebanyak-banyaknya untuk menyiapkan berbagai macam peralatan untuk menggelar UNBK (biasanya sekolah swasta). Karena syarat sekolah untuk menggelar UNBK adalah setidaknya memiliki fasilitas perangkat komputer minimal 1/3 + 10 dari jumlah siswa yang ikut UNBK.

Hanya demi gengsi, sekolah akan menggunakan berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Padahal biaya yang diperlukan juga tidak sedikit, belum lagi masalah jaringan dan koneksi internet. Tentunya orang tua siswa yang akan ketiban sampur untuk membayar iuran-iuran guna melengkapi infrastruktur penunjang UNBK itu.

Kenapa? karena hingga saat ini pemerintah belum mengalokasikan anggaran apapun untuk penyiapan sarana dan prasarana menggelar UNBK di sekolah-sekolah. Baik pemerintah provinsi ataupun pemerintah daerah, hingga pusat pun belum menyediakan anggaran untuk ini. Sekolah-sekolah akhirnya memanfaatkan dana BOS yang tak seberapa itu untuk membeli perangkat komputer. Sisanya orang tua siswa yang harus menanggung.

Sekolah-sekolah yang tak tega memeras wali muridnya, namun tetap ingin menggelar UNBK, juga ada. Sekolah seperti ini akan memboyong siswa-siswanya untuk nebeng ujian di sekolah lain yang punya peralatan komplit untuk menggelar UNBK.

Karena sesuai aturan jika sekolah memang tidak memiliki perangkat komputer sesuai yang dipersyaratkan, sekolah diperbolehkan menginduk ke sekolah terdekat. Kembali lagi, siswanya yang jadi korban. Secara psikologis, siswa akan lebih nyaman mengikuti ujian di sekolahnya sendiri ketimbang harus nebeng di sekolah lain. Belum lagi masalah jarak dengan sekolah yang ditebengi itu tak jarang lebih jauh dari rumahnya.

Ini terlihat di Kabupaten Rembang. Ada puluhan sekolah yang ngotot tetap menggelar UNBK meskipun infrastrukturnya tak memadai. Akhirnya sekolah-sekolah itu harus menginduk ke sekolah lain. Catatan Dinas Pendidikan Rembang di tingkat SMP/MTs ada 23 sekolah yang menitipkan siswa-siswinya untuk mengikuti UNBK di sekolah lain.

Hal ini cukup disayangkan. Jika sekolah memang belum mampu untuk menggelar UNBK seharusnya tak perlu ngotot, apalagi sampai nebeng ke sekolah lain. Toh masih ada sistem UN yang berbasih kertas dan pensil yang masih bisa digunakan.

Seruan-seruan seperti ini sudah sangat sering dilontarkan berbagai pihak. Namun kenyataan di lapangan masih banyak sekolah yang ngotot karena demi gengsi.

Fakta seperti ini harusnya menjadi pelajaran, terutama bagi pemerintah. Jika memang mensyaratkan digelar UNBK, pemerintah juga harus berusaha untuk membantu memenuhi infrastruktur di sekolah-sekolah. Jangan hanya mengeluarkan kebijakan tanpa ada solusi.

Bagaimanapun juga meski UN tak lagi menjadi faktor utama penentu kelulusan, pada kenyataannya nilai UN tetap menjadi hal yang utama untuk menempuh pendidikan selanjutnya. Sehingga kebijakan mengenai UN ini harus didesain dengan lebih membumi tanpa harus memberatkan. (*)

23 SMP dan MTs di Rembang Gelar UNBK Secara Gabungan

Kabid Pembinaan SMP pada Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Rembang Achmad Solhan.(MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Sebanyak 23 dari 33 SMP dan MTs, baik negeri maupun swasta di Kabupaten Rembang dipastikan tidak dapat menggelar ujian nasional berbasis komputer (UNBK) secara mandiri, namun akan dilaksanakan secara gabungan dengan SMA dan SMK serta MA.

“Ada 33 SMP dan MTs negeri maupun swasta yang akan melaksanakan UNBK pada Mei mendatang. Namun dari jumlah tersebut, hanya 10 sekolah yang bisa melakukan UNBK mandiri. Sedangkan 23 SMP dan MTs lainnya melakukan UNBK dengan meminjam fasilitas SMA/SMK/MA setempat,” ujar Kabid Pembinaan SMP pada Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Rembang Achmad Solhan.

Menurut dia, tidak dapatnya 23 SMP dan MTs tersebut menggelar UNBK secara mandiri bagi para siswanya, karena terkendala dengan peralatan komputer yang terbatas.

“Memang masih banyak sekolah yang kelengkapannya kurang untuk melaksanakan UNBK secara mandiri. Intinya semua SMP dan MTs sudah siap, walaupun harus meminjam fasilitas SMA dan SMK maupun MA,” kata dia.

Menurutnya, tahun 2017, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan memperluas pelaksanaan ujian berbasis komputer, baik untuk ujian nasional (UN) maupun ujian sekolah berstandar nasional (USBN). Penyelenggaraan UN dijadwalkan berlangsung pada Mei mendatang untuk tingkat SMP.

Untuk UN SMP/MTs akan dirancang menjadi dua gelombang sebagai solusi untuk masalah kekurangan komputer. Gelombang pertama UN SMP/MTs akan berlangsung pada 2, 3, 4, dan 15 Mei 2017, sedangkan gelombang kedua akan dilaksanakan pada 8, 9, 10, dan 16 Mei 2017.

Berikut ini 23 SMP dan MTs yang mengikuti UNBK di sekolah lain :

  1. SMPN 1 Kaliori menggelar UNBK di SMAN 1 Rembang
    2. SMPN 2 Kaliori menggelar UNBK di SMK Muhammadiyah Rembang
    3. SMPN 2 Lasem menggelar UNBK di SMK NU Lasem
    4. SMPN 3 Lasem menggelar UNBK di SMK NU Lasem
    5. SMPN 1 Pamotan menggelar UNBK di SMA N 1 Pamotan
    6. SMPN 1 Rembang menggelar UNBK di SMK N 1 Rembang
    7. SMPN 3 Rembang menggelar UNBK di SMK Muhammadiyah Rembang
    8. SMPN 4 Rembang menggelar UNBK di SMK Muhammadiyah Rembang
    9. SMPN 5 Rembang menggelar UNBK di SMA N 2 Rembang
    10. SMPN 6 Rembang menggelar UNBK di SMK Al Mubaarok Rembang
    11. SMPN 2 Sale menggelar UNBK di SMKN 1 Sale
    12. SMPN 2 Sedan menggelar UNBK di SMKN 1 Sedan
    13. SMP Adi Sucipto Sale menggelar UNBK di SMKN 1 Sale
    14. SMP Al Yaqin Sluke menggelar UNBK di SMA Al Yaqin Sluke
    15. SMP Hamong Putra Lasem menggelar UNBK di SMK Yos Sudarso
    16. SMK Muhammadiyah Pamotan menggelar UNBK di SMK Muhammadiyah Pamotan
    17. SMP NU Lasem menggelar UNBK di SMK NU Lasem.
    18. MTs Negeri Lasem menggelar UNBK di MAN Lasem
    19. MTs Al Mubaaroq Rembang menggelar UNBK di SMK Al Mubaroq Rembang
    20. MTs Islamiyah Syafiiyah Sedan menggelar UNBK di MA Islamiyah Syafiiyah Sedan
    21. MTs Muallimin Muallimat menggelar UNBK di MA Muallimin Muallimat
    22. MTs Wali Songo Kaliori menggelar UNBK di SMK Wali Songo Kaliori
    23. MTs Arrohman 1 Bulu menggelar UNBK di MA Arrohman Bulu.

Sedangkan SMP dan MTs yang melaksanakan UNBK secara mandiri adalah :

  1. SMPN 1 Lasem
    2. SMPN 2 Rembang
    3. SMP Muhammadiyah Rembang
    4. SMP OV Slamet Riyadi Rembang
    5. MTs Negeri Pamotan
    6. MTs Negeri Sale
    7. MTs Negeri Sulang
    8. MTs Negeri Sumber
    9. MTs Al Anwar Sarang
    10. MTs Riyadlotut Thalabah Sedan

 

Editor : Kholistiono

Jelang UN, SMPN 2 Rembang Matangkan Persiapan

Kepala SMPN 2 Rembang Lilik Murdiatno. Menjelang pelaksanaan UN, pihaknya kini sudah melakukan persiapan matang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Pada tahun 2017, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan memperluas pelaksanaan ujian berbasis komputer, baik untuk ujian nasional (UN) maupun ujian sekolah berstandar nasional (USBN). Penyelenggaraan UN dijadwalkan berlangsung pada bulan April sampai dengan Mei tahun 2017.

UN untuk SMK/MAK akan dilaksanakan terlebih dahulu pada tanggal 3 sampai dengan 6 April 2017. Untuk SMA/MA, UN akan dilaksanakan pada 10 sampai dengan 13 April 2017. Kemudian untuk UN SMP/MTs akan dirancang menjadi dua gelombang sebagai solusi untuk masalah kekurangan komputer. Gelombang pertama UN SMP/MTs akan berlangsung pada 2, 3, 4, dan 15 Mei 2017, sedangkan gelombang kedua akan dilaksanakan pada 8, 9, 10, dan 16 Mei 2017.

Terkait dengan pelaksanaan UN tersebut, SMPN 2 Rembang kini sudah melakukan persiapan, di antaranya dengan menggelar simulasi. “Pada Februari kemarin, kita sudah menggelar simulasi UNBK. Kemudian pada 20-21 Maret mendatang, kita juga akan melakukan simulasi kembali,” ujar Kepala SMPN 2 Rembang Lilik Murdiatno.

Pihaknya, dalam hal ini akan memantau hasil simulasi UNBK yang dilaksanakan tersebut. Jika dari hasil simulasi tersebut, nilai siswa berada di bawah 70, maka pihaknya akan memberikan pembinaan lebih intensif lagi, khususnya mata pelajaran yang nilainya rendah tersebut.

Kemudian, terkait dengan fasilitas komputer, pihaknya menegaskan jika semuanya sudah siap secara maksimal. “Fasilitas komputer kita kita miliki ada 96 unit. Atau sepertiga dari jumlah peserta UNBK sebanyak 279 siswa. Tentunya ini sudah siap secara maksimal,” ucapnya.

Editor : Kholistiono

SMP di Kudus Siap Lakoni UNBK Serentak

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Kudus – Kepala Disdikpora Kudus Joko Susilo mengatakan, dari hasil yang didapat selama pendataan selama ini, tingkat SMP yang akan mengikuti UNBK mencapai 100 persen. Jumlahnya, yaitu SMP negeri sebanyak 27 sekolah dan 20 sekolah dari swasta.

“Ini merupakan suatu hal yang bagus. Semua SMP bisa menerapkan UNBK. Berbeda dengan tahun sebelumnya, yang hanya sebagian saja yang menggunakan UNBK,” kata Joko di Kudus, Rabu (1/3/2017).

Menurutnya, dari jumlah yang menggunakan model UNBK, meliputi  SMP yang murni  sebanyak 16 sekolah negeri. Sementara untuk sekolah swasta ada enam sekolah yang juga menggunakan UNBK.

Banyaknya sekolah yang menggunakan model UNBK tahun ini, disebabkan bolehnya menggunakan fasilitas luar sekolah. Yang artinya, sekolah boleh meminjam atau menggunakan fasilitas komputer yang digunakan untuk mengikuti UNBK. “Apalagi kan waktunya berbeda, antara UN SMA dan SMP. Jadi untuk tingkat SMP bisa meminjam fasilitas SMA untuk UN. Dan itu diperbolehkan,” ungkapnya.

Selain itu, lanjut dia, sekolah diperbolehkan untuk meminjam milik siswa, atau guru yang memiliki komputer atau laptop. Dengan demikian semua sekolah bisa menggunakan UN secara online tahun ini secara keseluruhan 

Editor : Akrom Hazami

UNBK di Kudus, Sekolah Akan Pinjam Siswa

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Kudus – Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kudus Joko Susilo mengimbau sekolah yang melaksanakan UNBK pada tahun ini tidak harus memiliki alat baru. Namun dapat memanfaatkan yang ada, termasuk meminjam milik siswa.

“Jadi tak harus baru. Apa yang ada dapat dimaksimalkan. Seperti halnya milik siswa juga bisa dipakai. Yang penting lancar,” kata Joko di Kudus, Jumat (17/2/2017).

Sekolah tak harus memaksakan dapat alat anyar. Selain terkendala anggaran, spesifikasi alat juga sangat berpengaruh. Ditambah lagi, pengadaan alat tidak bisa cepat karena butuh dana dan proses panjang. Jika siswa tak memiliki alat, bisa meminjam pihak lain.

Bisa dengan meminjam ke guru atau meminjam ke instansi lainnya, guna mendukung kesuksesan UNBK. “Pihak sekolah bisa membantu dalam menyukseskan. Seperti menjaga jaringan internet secara stabil, memilih komputer atau laptop yang speknya sesuai dan tak ngadat,” pungkas Joko. 

Bidang Humas dan Sarana Prasarana SMAN 1 Gebog Yudi Susiyanto mengatakan, persiapan UNBK tahun ini cukup mendadak. Padahal ketersediaan perangkat komputer di sekolahnya masih kurang. Kalau pengadaan komputer baru, waktunya tidak mencukupi sehingga harus meminjam.

“Awalnya sekolah masih mempertimbangkan untuk ujian tertulis. Namun, pemerintah tahun ini mengoptimalkan UNBK. Sehingga sekolah harus tetap mempersiapkan UNBK,” ungkap dia.

Yudi menambahkan, peserta ujian di SMAN 1 Gebog ada 287 siswa. Sehingga membutuhkan 104 komputer untuk tiga sesi. Dengan jumlah itu, juga harus tersedia empat server. Sementara komputer yang saat ini sudah tersedia masih kurang 50 persen. “Kami masih mengupayakan, bisa pinjam ke sejumlah pihak termasuk dengan meminjam ke semua guru dan kalau perlu siswa yang memiliki laptop,” ucap dia.

Editor : Akrom Hazami

Puluhan Madrasah di Kudus Siap Ikuti UNBK

ILUSTRASI

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Kudus – Peserta UNBK tak hanya diikuti oleh sekolah negeri. Namun puluhan sekolah swasta tingkat madrasah, juga siap mengikutinya. Puluhan madrasah itu meliputi tingkat MA dan MTs.

Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Kudus Hambali melalui Kasi Pendidikan Madrasah Su’udi mengatakan, sekolah di lingkup madrasah sudah ada yang ikut UNBK. Yakni ada 13 MA. Sedangkan tingkat MTs berjumlah 7 madrasah. “Tahun ini cukup banyak dari madrasah yang siap UNBK. Jadi ini merupakan tingkat kemajuan dalam jenjang pendidikan di tingkatkan madrasah,” katanya kepada MuriaNewsCom, di Kudus, Sabtu (21/1/2017).

Biasanya sebuah MTs, juga ada MA. Untuk itu, kebanyakan dari MTs yang melaksanakan UNBK karena MA-nya menyelenggarakan. Jadi mereka bergabung. Kalau untuk MTs yang belum ikut UNBK, pihaknya masih mencari solusi.

Dia mengaku, saat mengikuti rapat di Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah untuk ujian manual, soal memang dikirim dalam bentuk softcopy. Tiap kelas akan menyediakan satu printer. Hal itu tergolong baru dalam hal pemberian soal UN. Hanya untuk teknis secara resmi masih menunggu aturan. “POS Unas belum jadi, dan konsep yang ada di dalamnya, sementara seperti itu. Itu bisa saja berubah. Dalam waktu dekat ini kami akan mengundang kepala MTs dan MA untuk sosialisasi mengenai Unas,” ujarnya.

Sementara itu, jumlah MA secara keseluruhan ada 35 unit dan MTs sekitar 65 sekolah.  Perbandingannya yang ikut UNBK dan yang tidak sangat jauh. Kalau memang tidak memungkinkan UNBK, terpaksa memang manual. “Kami tetap upayakan MTs yang belum bisa UNBK, memang harus bergerak cepat karena mencari sekolah yang sudah UNBK, kalau digabung-gabungkan melihat kapasitasnya, ini yang perlu kami ketahui,” imbuhnya.

Dia menambahkan, kendala yang paling banyak ditemukan adalah fasilitas komputer yang terbatas. Untuk itulah dicari solusi untuk mengatasi persoalan komputer tersebut.

Editor : Akrom Hazami