Tukang Ukir dan Kayu di Jepara Dilanda Galau

Seorang perempuan di Jepara sedang melakukan aktifitas mengukir (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Seorang perempuan di Jepara sedang melakukan aktifitas mengukir (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Ratusan bahkan ribuan tukang ukir dan kayu di Kabupaten Jepara sudah mulai merasakan kegelisahan dan keresahan. Karena, sejak dulu hingga saat ini gaji yang diperoleh mereka masih terbilang kecil. Akibatnya, generasi muda enggan menjadi pengukir dan tukang kayu. Mereka memilih bekerja di pabrik yang belakangan mulai berdiri di kota ukir.

“Dari dulu hingga sekarang, gaji pengukir tidak ada peningkatan yang signifikan. Hal ini yang menjadi alasan utama mengapa minat generasi muda untuk menjadi pengukir sangat kecil,” ujar Ketua Komunitas Tukang Ukir Jepara Umam kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, gaji seorang pengukir di Jepara yang notabene kota ukir, hanya berkisar Rp 40 ribu per hari. Jumlah tersebut dianggap masih jauh dari harapan, lantaran pekerjaan sebagai seorang pengukir tidaklah mudah.

”Kalau kami minta gaji yang lebih banyak, justru pekerjaan akan diserahkan ke orang lain. Kami tidak memiliki nilai tawar lagi,” kata Umam.

Dia menambahkan, sejauh ini pihaknya menginginkan agar Pemerintah Kabupaten Jepara dapat memperhatikan para pengukir dan tukang kayu. Sebab, label Jepara sebagai kota ukir sejak puluhan tahun lalu itu hanya dapat dipertahankan jika masih ada pengukir. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Keren! Dengan Sedikit Sentuhan, Pemuda Ini Bisa Raup Untung Jutaan Rupiah dari Sandal Jepit

Sandal jepit ukir karya M Nur Fawaid, warga Desa Jambu Timur, Kecamatan Mlonggo (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Sandal jepit ukir karya M Nur Fawaid, warga Desa Jambu Timur, Kecamatan Mlonggo (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Kreatifitas seseorang memang tak ada habisnya. Berbagai cara dapat dilakukan oleh seseorang untuk sekedar berekspresi hingga menghasilkan keuntungan finansial. Salah satu pemuda ini memiliki inovasi yang cukup menarik dan tak boleh dipandang sebelah mata.

Dia berhasil memanfaatkan sandal jepit yang biasa digunakan alas kaki menjadi sebuah hiasan yang menarik. Dia mampu membuat gambar dengan cara mengukir berbagai bentuk diatas sandal jepit sehingga nilai jual sandal jepit yang semula berkisar Rp 10 ribu, bisa menjadi Rp 50 ribu bahkan lebih dari itu.

Pemuda ini bernama M Nur Fawaid, warga  Desa Jambu Timur, Kecamatan Mlonggo Jepara. Dia memulai mengukir sandal jepit sekitar 2013. Kreatifitas itu dapat meningkatkan nilai, jauh dari bahan produk itu sendiri.

Fawaid bercerita, semua itu berangkat dari kreatifitas kecil yang dilakukan terus menerus. Ia mulai melakukannya sewaktu masih belajar di Pondok Pesantren Nurul Huda, Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan asuhan KH Abdul Ghani.

Ia mulai melirik aktifitas mengukir sandal di pondoknya karena memiliki unsur kreatif, menyenangkan dan menguntungkan. Fawaid perlahan dapat memberikan motif di atas sandal jepit karet yang polos itu berkat seniornya di pondok.

”Saya jual melalui orang per orang. Selain itu, saya kembangkan pemasaran via online,” ujar pemuda kelahiran 1993 itu.

Bisnis kecil-kecilan itu ternyata menjanjikan. Karena, keuntungan dapat mencapai 700 persen lebih dari modal awal. “Dari modal sekitar Rp 300 ribu dapat omzet Rp 1 juta lebih,” imbuhnya. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Bukan Hoax, Pedagang Es Tebu Sukses Ini Beberkan Caranya jadi Kaya

Salah seorang penjual es tebu yang beroperasi di Jalan Pati-Tayu tengah melayani pembeli. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

Salah seorang penjual es tebu yang beroperasi di Jalan Pati-Tayu tengah melayani pembeli. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Musim kemarau ternyata membawa berkah bagi sebagian orang. Salah satunya, penjual es tebu yang laris manis selama musim kemarau berlangsung.

“Musim kemarau begini, biasanya saya bisa menjual 90 hingga 120 cup es tebu dengan harga Rp 2.500 per cup. Saya jual di pinggiran jalan raya. Banyak pengguna jalan yang kehausan mampir dan beli es tebu,” kata Wawan, penjual es tebu asal Desa Majoagung, Kecamatan Trangkil, Senin (28/9/2015).

Ia mengatakan, peluang berjualan es tebu saat ini memang banyak dilirik kalangan wirausahawan. Dengan modal awal di kisaran Rp 7 juta, modal itu bisa kembali hanya dalam waktu 2 hingga 3 bulan saja.

“Es tebu itu dibuat dari tebu hijau murni, tanpa campuran apa pun. Jadi, pembeli lebih suka karena murni tanpa tambahan apa pun. Sari tebu langsung diberikan es batu. Peminat semakin banyak,” bebernya.

Wawan mengaku mendapatkan tebu hijau dari salah seorang yang memperoleh tebu dari Kediri. “Tidak semua tebu cocok untuk jualan es tebu. Hanya tebu hijau yang rasanya pas dan cocok digiling,” imbuhnya.

Meski saat ini diminati, namun risiko juga bisa menghampiri kapan saja. Musim penghujan menjadi salah satu tantangan paling berat bagi penjual es tebu. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Ini Usaha Hebat, Pekerjaanya Enteng, Hasilnya Rp 7 juta Per Bulan

 

Seorang penjual es tebu tengah memeras sebatang tebu dalam mesin giling khusus tebu. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

Seorang penjual es tebu tengah memeras sebatang tebu dalam mesin giling khusus tebu. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Dalam beberapa bulan terakhir, penjual es tebu yang diperas dalam suatu gilingan menjamur di berbagai daerah. Salah satunya, penjual tebu yang menjamur di sepanjang Jalan Pati-Tayu.

Wawan, misalnya. Penjual es tebu yang biasa beroperasi di Jalan Pati-Tayu, Desa Tambaharjo, Kecamatan Pati bisa menghabiskan 50 kilogram tebu dalam sehari. “Sehari, rata-rata saya menjual es tebu sebanyak 50 kg,” ujarnya kepada MuriaNewsCom, Senin (28/9/2015).

Tebu sebanyak itu dihabiskan, mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 19.00 hingga 20.00 WIB. “Kadang buka jam delapan pagi, kadang jam sembilan pagi. Tutupnya tidak mesti. Kalau laris, bisa tutup jam lima sore. Standarnya tutup jam tujuh malam,” imbuhnya.

Dalam sehari, Wawan mengaku mengantongi omzet antara Rp 200 ribu hingga Rp 250 ribu. Dalam sebulan saja, pendapatan Wawan tembus Rp 6 sampai Rp 7 juta. Wow, sekali bukan?. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Ini Persewaan Perlengkapan Bayi di Kudus yang Oke

Persewaan perlengkapan bayi di Desa Samirejo, Dawe, Kudus. (MuriaNewsCom/Hana Ratri)

Persewaan perlengkapan bayi di Desa Samirejo, Dawe, Kudus. (MuriaNewsCom/Hana Ratri)

 

KUDUS – Bagi masyarakat Kudus, mungkin masih asing dengan Lutunna Rental. Ya, Lutunna Rental ini merupakan usaha mandiri yang dikelola mantan jurnalis, yakni Asri Candra Puspita. Pipit, panggilan akrabnya, mengelola bisnis ini sejak masih kuliah. Awalnya, bisnis ini dirintis oleh rekannya, Siti Nurul Adhimiyati. Lalu, Asri diajak bekerja sama dan hingga kini Asri dipercaya mengelola Lutunna Rental ini.

“Semua berawal dari Siti Nurul, yang memang hobi ikut PKM alias Program Kreativitas Mahasiswa. Tidak disangka, ia mendapat hibah dari Dikti dari program tersebut. Saat itu ia mendapat bantuan Rp 10 juta dan akhirnya memilih usaha persewaan perlengkapan bayi. Saat itu di Semarang masih langka, sedangkan di kota lain sudah ada bisnis tersebut,” kata Pipit, saat ditemui di kediamannya di Desa Samirejo RT 03 RW 04 Dawe.

Sukses di pasar Semarang, Pipit harus ikut suaminya menetap di Jepara. Di sana, ia meneruskan pengelolaan Lutunna ini. Khusus untuk wilayah Jepara, Pati, dan Kudus.

Ada berbagai macam perlengkapan yang disewakan Asri kepada pelanggan. Seperti Stroller, Tempat Duduk Bayi, Kereta Dorong, Pakaian Bayi, hingga MPASI pun disewakan olehnya. Per bulan, ia mematok tarif Rp 40-50ribu untuk setiap perlengkapan yang disewakan.

“Pelanggan saat ini masih banyak di Jepara dan Pati. Di Kudus masih kurang peminatnya,” jelas Pipit.

Dalam sebulan, ia mendapatkan omzet bersih Rp 1-2jutaan. Omzet tersebut diputar balik untuk membeli perlengkapan baru dan disewakan kembali dengan harga tadi.

Pipit tidak menyangka respons masyarakat terhadap persewaan perlengkapan bayi ini sangat tinggi. Meskipun ia hanya mempromosikan lewat media sosialita seperti blog, fb maupun twitter atau WA.

“Kalau untuk di Jepara, paling jauh di wilayah Jepara kota. Untuk Kudus dan Pati juga masih di lingkup kota,” pungkasnya. (Hana Ratri/AKROM HAZAMI)

Atasi Persaingan Sengit, Pemdes Peganjaran Bentuk Kelompok UMKM

Juwariyah salah satu pedagang toko kelontong di Peganjaran. Baginya yang terpenting adalah usaha dapat berjalan lancar dan mendapat bantuan modal untuk memperbesar usaha. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Juwariyah salah satu pedagang toko kelontong di Peganjaran. Baginya yang terpenting adalah usaha dapat berjalan lancar dan mendapat bantuan modal untuk memperbesar usaha. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Untuk mengurangi persaingan negatif diantara pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), maka pemerintah Desa Peganjaran, Kecamatan Bae memberlakukan pengelompokan pengusaha. Hal itu dilakukan untuk memantau, serta mendata usaha tersebut. Supaya tercipta pertumbuhan ekonomi warga yang baik tanpa adanya persaingan tidak sehat.

Kepala Desa Peganjaran Munaji menjelaskan, di desanya terdapat 115 UMKM, mulai toko kelontong, pedagang kecil, dan usaha konveksi. Itu yang terlihat secara kasat mata, karena masih banyak lagi usaha kecil yang baru bermunculan. Namun untuk meredam persaingan negatif diantara mereka, pemdes membuat kelompok usaha dan mendatangkan dinas terkait untuk melakukan pembinaan.

”Kami hanya sekadar mewadahi atau menengahi saja. Namun untuk pembinaannya, nanti kita datangkan dinas terakait supaya pelaku UMKM bisa diarahakan, dibina, dan dibantu permodalannya,” paparnya.

Selain itu, jika dibentuk kelmpok usaha, maka mereka bisa saling berkomunikasi dan bekerja sama memasarkan produknya. Mereka juga bisa memperbesar kinerja mereka dalam berorganisasi. Sehingga terbentuk sebuah usaha yang besar.

Dengan pengelompokkan UMKM yang disesuaikan dengan jenis usaha dan besar kecilnya usaha tersebut. Diaharapkan membuat pertumbuhan usaha kecil di wilyah Peganjaran berjalan maksimal. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Pusat Konsultasi Bisnis UMKM Bakal Genjot Potensi 500 Usaha Kecil

Seorang penjual lontong tuyuhan di sentra wisata kuliner Lontong Tuyuhan di Desa Tuyuhan Kecamatan Pancur. Dinperindagkop dan UMKM Kabupaten Rembang berencana menggenjot potensi 500 usaha kecil melalui pusat konsultasi bisnis (PKB) UMKM. (MURIANEWS / AHMAD FERI)

REMBANG – Status Pusat Konsultasi Bisnis (PKB) UMKM sebagai lembaga baru ternyata tidak berdampak terhadap kepercayaan Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi (Dinperindagkop) dan UMKM Kabupaten Rembang. 

Lanjutkan membaca