Koperasi di Grobogan Diharapkan Permudah Modal UMKM

Bupati Grobogan Sri Sumarni memberangkatkan peserta jalan sehat dalam rangka Hari Koperasi, Jumat (14/7/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski keberadaan koperasi sudah berumur cukup lama namun sejauh ini berbagai permasalahan masih membelit lembaga tersebut. Kondisi itu menyebabkan koperasi kurang bisa bersaing dengan lembaga lainnya, padahal kesempatan untuk maju sangat terbuka. 

Hal itu disampaikan Bupati Grobogan Sri Sumarni saat menghadiri acara jalan sehat dalam rangka Hari Koperasi, Jumat (14/7/2017).

Menurut Sri, permasalahan yang sering dihadapi koperasi adalah masih kurangnya sumber daya manusia yang dimiliki. Kondisi ini bisa berakibat pada kurangnya kemampuan mengakses pasar, modal dan menjalin kerja sama kemitraan dengan badan usaha lainnya.

”Keterbatasan mengakses potensi-potensi itulah yang menyebabkan koperasi kurang mampu bersaing. Oleh sebab itu, koperasi harus berbenah diri untuk lebih meningkatkan kemampuan SDM yang dimiliki supaya bisa eksis,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, bupati berharap kepada para pengelola koperasi agar memberikan perhatian yang lebih pada pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Dalam hal ini, koperasi diharapkan mau memberikan suntikan modal yang lebih besar pada sektor UMKM ini, melalui koperasi simpan pinjam. Sebab, selama ini para pengusaha UMKM sering terhambat untuk mengembangkan usahanya akibat minimnya modal yang dimiliki.

Di sisi lain, para pengusaha UMKM cukup kesulitan untuk mendapatkan kucuran kredit dari lembaga perbankan. Hal ini disebabkan tidak memadainya agunan yang dimiliki para pengusaha UMKM dibandingkan dengan dana yang diminta.

Ia mengatakan, pada dasarnya, kelompok UMKM itu sebenarnya merupakan kelompok usaha yang tangguh. Terbukti, saat krisis ekonomi menghantam Indonesia, beberapa waktu lalu, tidak membuat pelaku UMKM ini gulung tikar. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa UMKM memiliki sisi positif lain, yakni punya daya tahan dan daya lentur yang baik dalam menjalankan usahanya.

”Dengan kenyataan ini saya berharap agar koperasi-koperasi yang ada mau memberikan kucuran modal yang lebih banyak pada pengusaha UMKM ini,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

UMK Adakan Goes to UMKM Lokal ke Level Global

Salah satu pembicara saat hadir dalam kegiatan Seminar Manajemen dan Goes to UMKM bertajuk Mengembangkan UMKM yang Kuat Guna Memenangkan Persaingan Global di Auditorium Kampus UMK, Senin (13/3/2017). (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Kabupaten Kudus memiliki beragam potensi dan produk-produk yang berpeluang besar mendapatkan pasar di dunia global. Untuk itu, perlu upaya-upaya terus menerus agar berbagai produk lokal di Kudus, semakin banyak yang bisa diterima oleh pasar internasional.

Itu disampaikan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Muria Kudus (UMK) Mochamad Edris usai membuka Seminar Manajemen dan Goes to UMKM bertajuk Mengembangkan UMKM yang Kuat Guna Memenangkan Persaingan Global di Auditorium Kampus UMK, Senin (13/3/2017).

‘’Banyak potensi dari produk UMKM yang dimiliki Kabupaten Kudus. Tiga di antaranya yang sudah dikenal, yaitu Jenang Kudus, Batik Khas Kudus, dan Kopi Rempah,’’ ujarnya ditemui di sela-sela seminar.

Karena itulah, Edris mengemukakan, dalam seminar manajemen yang digelar untuk kali kedua ini, tiga pakar dari bidang usaha itu, dihadirkan sebagai narasumber. ‘’Agar mahasiswa tidak sekadar mengetahui teori terkait UMKM, produk UMKM hingga manajerialnya,’’ katanya.

Lebih dari itu, lanjutnya, supaya mahasiswa memiliki pemahaman yang luas, sehingga bisa mengambil manfaat besar bagi masa depannya. ‘’Kami berharap, ke depan di antara mahasiswa yang hadir ini, ada yang bisa membuka usaha berbasis keunggulan lokal,’’ tuturnya.

Yuli Astuti dari Muria Batik, mengutarakan, untuk membuka sebuah usaha, modal finansial bukanlah hal utama yang paling menentukan. ‘’Yang terpenting adalah tekad dan kemauan keras untuk belajar dan menekuni sebuah usaha,’’ paparnya.

Dia pun mengaku, menekuni usaha batik karena prihatin dengan hilangnya Batik Khas Kudus. ‘’Saya kemudian bertekad belajar serius sejak 2005, dan selama tiga tahun pertama belum banyak menghasilkan (keuntungan), sehingga hampir putus asa,’’ kisahnya.

Namun dia mengaku terpanggil untuk bertahan dan lebih serius memproduksi batik khas Kudus, sehingga buahnya pun sudah bisa dirasakan. ‘’Kini batik Kudus sudah dikenal luas. Saya sudah sering melakukan pameran ke berbagai kota, bahkan ke luar negeri,’’ paparnya.

Sementara itu, selain Yuli Astuti, hadir dalam kesempatan itu sebagai narasumber, M. Ikrom dari marketing dari PT. Mubarokfood Cipta Delicia) dan Nono Anik Sukasni dari Prima Pradnadita (Saqinano)

Editor : Akrom Hazami

 

Gubernur Kagum dengan Produk UMKM di Grobogan

Warga melihat stan pameran di Kabupaten Grobogan, Kamis. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Acara Musrenbangwil eks Keresidenan Semarang yang digelar di pendapa kabupaten, Kamis (9/3/2017) juga diramaikan dengan pameran UMKM.

Selain dari Kabupaten Grobogan, Semarang, Demak, Kendal serta Kota Semarang dan Salatiga, stan pameran juga menampilkan produk UMKM dari beberapa dinas dan instasi setempat.

Dari pantauan di lapangan, beragam produk UMKM terpajang di stan pameran yang ditempatkan di pelataran kantor Setda Grobogan tersebut. Antara lain, kerajinan tangan, berbagai olahan produk makanan dan minuman, dan batik.

Ada juga produk hasil pertanian, perkebunan dan perternakan. Selain itu, ada juga stan dari Bank BKK Purwodadi, Bank Jateng, SMKN 2 Purwodadi dan Polres Grobogan yang ikut mendukung acara tersebut.Keberadaan stan pameran UMKM juga mengundang daya tarik para pejabat yang hadir serta masyarakat. Sebagian di antaranya bahkan terlihat membeli barang yang terpajang.

“Saya tertarik dengan produk tempe higienis produksi Dinas Pertanian Grobogan. Makanya, mumpung ada saya sempatkan beli untuk oleh-oleh,” kata salah seorang pengunjung stan pameran yang berasal dari Kota Semarang tersebut.

Tidak hanya pengunjung, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo juga menyatakan kekagumannya terhadap aneka produk UMKM tersebut. Hal itu terlihat saat Ganjar meninjau stan pameran, sebelum membuka acara Musrenbangwil.

Dalam kesempatan itu, Ganjar meminta agar lembaga keuangan pemerintah, khususnya Bank Jateng dan BKK ikut mendorong kemajuan pelaku UMKM. Caranya, dengan menyalurkan kredit lunak pada mereka.

“Salah satu kendala pelaku UMKM adalah soal modal. Makanya, kita dorong Bank Jateng dan BKK ikut menaruh perhatian pada mereka supaya usahanya bisa berkembang,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

Sinergi Forum UMKM Kudus dengan Pegadaian, Buat Pelaku Usaha Makin Pintar dan Laris Produknya

Motivator bisnis Tommy Funz memberikan tips dan trik bagaimana meningkatkan pemasaran produk, kepada anggota Forum UMKM Kudus, dalam acara yang digelar Kamis (16/2/2017), di RM Ulam Sari. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Forum Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Kudus terus berupaya membuat anggotanya, menjadi pintar dalam usaha mereka. Salah satunya dengan membuat workshop yang menambah ilmu bagi anggotanya.

Kegiatan yang digelar bekerja sama dengan Pegadaian Kudus di Rumah Makan Ulam Sari, Kamis (16/2/2017), itu, memang menjadi salah satu upaya agar pelaku usaha di Kudus, mengetahui bagaimana membuat produk mereka menjadi laris di pasaran.

Ketua Forum UMKM Kudus Yuli Astuti mengatakan, kegiatan ini digelar sebagai salah satu bentuk upaya pemberdayaan kepada anggotanya. ”Supaya ilmu dari para anggota yang ada di forum, bisa semakin meningkat. Termasuk mengetahui strategi yang bisa dipakai dalam rangka membuat produk mereka laris di pasaran,” terangnya.

Pelaku usaha di Kudus, menurut Yuli, memang perlu untuk terus menambah ilmu mereka dalam hal pemasaran. Sehingga adanya kegiatan ini, dinilai tepat untuk membagi ilmu mengenai hal itu. ”Saya sangat senang karena memang acara ini juga didukung banyak pihak. Terutama pihak Pegadaian Kudus, ya. Sehingga kita bersinergi bersama. Terutama pelaku usaha supaya bisa meningkatkan jualan produknya,” tuturnya.

Salah satu pengisi acara adalah Tommy Funz, yang merupakan seorang entrepreuner dan motivatir bisnis. Kepada peserta, dia memaparkan bagaimana membuat jualan laris lewat internet. Banyak manfaat yang diperoleh, jika pelaku usaha memanfaatkan internet untuk jualan produk mereka.

”Misalnya saja di media sosial seperti Facebook. Banyak yang bisa kita dapatkan atau manfaatkan dari sana. Bagaimana membuat akun Facebook kita, menjadi tempat jualan. Kemudian juga kita sampaikan trik dan tipsnya, untuk bisa membuat produk kita makin dikenal orang dan makin laris,” paparnya.

Sementara itu, Deputi Bisnis Pegadaian Area Pati Musonif mengatakan, kegiatan ini selain memberikan ilmu kepada pelaku usaha di Kudus, juga bisa menjadi salah satu cara untuk menjadi ajang bersosialisasi dengan pihaknya.

”Karena Pegadaian itu sekarang kan, produknya macam-macam. Kita ingin supaya masyarakat juga memahaminya. Salah satunya dari sektor pelaku usaha ini. Ke depannya, kita bisa saling bersinergi dengan para pelaku usaha ini. Satu wadah yang sangat bagus saya pikir, dengan dibuatnya acara ini,” paparnya.

Editor: Akrom Hazami

 

Produk UMKM Kudus Direncanakan Dipamerkan ke Mancanegara

Pelaku UMKM melakukan pameran produk yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Pelaku UMKM melakukan pameran produk yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Pemkab Kudus memberikan fasilitas kepada pengusaha Kudus guna memamerkan produknya ke tingkat yang lebih tinggi. Tak hanya lingkup Naisonal, namun juga pameran dipamerkan dalam skala internasional.

Kepala Dinas Perdagangan dan Pengelolaan Pasar (Disdagsar) Kabupaten Kudus Sudiharti mengatakan, barang dagangan yang dipamerkan merupakan produk unggulan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Tujuannya adalah menebalkan dan mempromosikan agar pengusaha di Kudus juga makin laku dan diketahui oleh dunia luas.

“Kami juga bertujuan tak hanya mengangkat dan memperkenalkan produk Kudus dalam skala nasional, tetapi juga ke lingkup lebih luas hingga ke mancanegara,” ungkapnya Kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, beberapa lokasi di kota besar sudah dibidik dan bebebepa lainnya sudah dilakukan pameran. Seperti halnya di Semarang, Jakarta, Yogyakarta dan Kudus, yang berakhir dengan sukses dan meriah.

Sedangkan salam waktu dekat, pemkab kembali menggiatkan hal yang sama. Rencananya, ajang serupa di pusat perbelanjaan Thamrin City Mall Jakarta Pusat, awal Desember 2016. Rangkaian terakhir road show dagang untuk memperkenalkan produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) digelar di Depo Pelita Mall Purwokerto, 8-11 Desember nanti.

Menurutnya, pameran di Jakarta akan diikuti 18 peserta dan di Purwokerto disiapkan 24 peserta untuk menjaring pembeli potensial di kawasan sekitar. Produk yang ditawarkan antara lain bordir, batik, hasil konveksi, jenang, dan kopi Muria. Upaya memperkenalkan produk unggulan Kudus tersebut telah dimulai dengan menggandeng Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) dari 20 kabupaten di Jawa Tengah.

“Kami juga akan menampilkan kembali pameran dagang di Jakarta, 1-4 Desember nanti. Yang kami pamerkan seperti bordir, diharapkan bisa menarik minat para buyer dari berbagai kalangan,” katanya.

Tiap peseta bakal mendapatkan transportasi, penginapan selama pameran berlangsung, berikut stan. Sedangkan untuk pemilik ditugasi menghias stan semenarik mungkin. Dijelaskan, kegiatan ini adalah mempromosikan produk Kudus ke luar. Dengan total anggaran Rp 7 miliar. Jumlah itu untuk semuanya, termasuk pula dengan publikasi.

Kata dia, Kudus memiliki sentra bordir di sejumlah tempat. Seperti di Desa Padurenan dan Karangmalang Kecamatan Gebog, Desa Purwosari di kawasan perkotaan, serta Desa Peganjaran Kecamatan Bae. Kualitas kerajinan bordir asal Kudus dikenal sangat bagus. Perdagangan bordir juga dinilai lebih menjanjikan.  Maka tak salah jika produk bordir yang ditawarkan dalam pameran dagang di pusat ibukota itu sebagian besar menyasar kalangan menengah ke atas.

Transaksi dagang  bukan menjadi sasaran utama, Tetapi yang lebih penting adalah pascakegiatan itu, yakni menjadikan produk UMKM Kudus bisa lebih dikenal. “Kami juga menggandeng artis Ivan Gunawan atau Igun. Dia juga siap mempromosikan hasil karya Kudus ke jenjang yang jaug lebih tinggi lagi Seperti Miss Universe di Filipina,” paparnya.

Editor : Akrom Hazami

Bupati Kudus Ajak Kerja Sama UMKM dengan Blora

Bupati Kudus Musthofa bersalaman dengan Bupati Blora Djoko Nugroho dalam rangka kerja sama UMKM di Blora. (ISTIMEWA)

Bupati Kudus Musthofa bersalaman dengan Bupati Blora Djoko Nugroho dalam rangka kerja sama UMKM di Blora. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Blora – Tujuan utama keberadaan pemerintah adalah menyejahterakan masyarakat. Baik itu pemerintah pusat maupun pemerintah daerah di wilayah provinsi maupun kabupaten atau kota. Untuk bisa meraih tujuan tersebut ada tahapan dan proses yang harus dilewati. Sehingga, perlu adanya keseriusan bersama semua pihak. Salah satunya jalinan kerja sama antardaerah.

Sebagaimana yang berlangsung di pendapa rumah dinas Bupati Blora, Kamis (24/11/2016). Yakni berupa penandatanganan MoU kerja sama Pemkab Kudus dengan Pemkab Blora. Yang tujuannya adalah meraih kemajuan bersama di segala bidang. Salah satu poin dalam kerja sama tersebut adalah peningkatan kesejahteraan melalui ekonomi kerakyatan.

Untuk itu, juga dilakukan pengukuhan Forum UMKM Kabupaten Blora oleh Musthofa Bupati Kudus yang juga pembina Forum UMKM Jateng. Musthofa mengatakan bahwa dengan forum UMKM tersebut akan memperluas jaringan bisnis. Sehingga produk UMKM Blora tidak hanya dipasarkan di pasar lokal saja, melainkan bisa dikenal dengan semakin luas. “Apalagi jika didukung dengan pemanfaatan IT, pemasaran tak terbatas tempat dan waktu,” kata Musthofa.

Dikatakannya, kekuatan pelaku UMKM ini penyangga ekonomi kerakyatan yang sesungguhnya. Potensi yang begitu besar akan menjadi luar biasa manakala potensi yang ada digerakkan dengan tepat. “Kami (negara) telah hadir memberikan fasilitas permodalan hingga pemasaran. Melalui fasilitas kredit apapun, silakan karena itu membantu peningkatan produktivitas usaha,” imbuhnya.

Adanya berbagai kredit usaha, ini sudah seharusnya dimanfaatkan sebaik-baiknya. Yaitu KUR, Mitra25, atau KUP semua adalah fasilitas. Bahkan KUP hasil gagasannya memberikan pinjaman usaha tanpa jaminan dengan bunga ringan.

Sementara itu, Bupati Blora Djoko Nugroho menyambut baik terbentuknya forum UMKM Kabupaten Blora. Menurutnya ini kesempatan emas pelaku usaha semakin produktif untuk meraih sukses. “Saya berharap semua pelaku usaha ini tetap bersemangat dan memiliki kreativitas,” pesan Bupati Blora.

Editor : Akrom Hazami

Promosi UMKM lewat Program Inbox, Buat Kudus Dikenal Luas

iklan-pemkab-kudus-munyus-tyg-15-nov-2016

Bupati Kudus Musthofa saat ikut meramaikan perhelatan musik, Inbox, di alun-alun setempat, beberapa pekan lalu. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Kudus – Banyaknya produk dari para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang ada di Kabupaten Kudus ini, memang harus terus menerus dipromosikan.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus memiliki banyak cara untuk mempromosikan produk-produk UMKM tersebut. Salah satu yang cukup membuat banyak orang suka adalah dengan masuk ke program televisi, Inbox SCTV.

Ya, beberapa waktu lalu, Kudus memang menjadi salah satu lokasi program acara Karnaval Inbox, yang berlangsung selama dua hari di kawasan Alun-alun Simpang Tujuh Kudus.

Dalam program yang disiarkan langsung itu, Bupati Kudus H Musthofa memperkenalkan aneka produk UMKM Kudus, yang memang patut dibanggakan. Ada batik, ada kerajinan tangan hiasan rumah, dan lain sebagainya. Termasuk biola bambu yang menjadi salah satu ciri khas dari Kudus.

”Ini adalah biola bambu yang memang satu-satunya dibuat di Kudus. Saya selalu mendorong pelaku UMKM untuk bisa membuat sesuatu yang berbeda. Salah satunya biola bambu ini,” katanya.

Dukungan Pemkab Kudus terhadap para pelaku UMKM juga terus dilakukan. Bupati mengatakan jika melalui Dinas Perindustrian Koperasi dan UMKM, pihaknya membantu penuh supaya produk-produk UMKM Kudus bisa dikenal luas.

”Salah satunya melalui program Inbox ini, semoga produk-produk UMKM dari Kudus bisa dilihat banyak orang. Seluruh Indonesia, bahkan dunia. Sehingga para pelaku UMKM yang ada di wilayah ini, akan semakin memiliki tempat, dan produknya akan laris,” tuturnya.

Belum melihat program Inbox yang berisi promosi produk UMKM Kudus itu, silakan tonton sendiri video berikut ini.

Editor: Merie

 

Pameran UMKM Kudus di 4 Kota Besar Terancam Gagal

Pelaku UMKM mengikuti salah satu kegiatan pameran produk, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Pelaku UMKM mengikuti salah satu kegiatan pameran produk, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom,Kudus – Pameran produk UMKM Kudus di empat kota besar, terancam gagal. Sebab sampai sekarang, belum menemukan lokasi penyelenggaraan yang strategis.

Kepala Dinas Perdagangan dan Pasar (Dagsar) Kudus Sudiharti mengatakan, pihaknya telah melakukan pengecekan ke beberapa lokasi yang diinginkan. Namun tempat itu sudah dipesan lebih dulu oleh pihak lain. “Kalaupun masih jalan, harus dilakukan pengecekan lokasi lainnya yang juga tidak kalah ramai. Sehingga, tujuan untuk mempromosikan perdagangan Kudus tidak hilang,” katanya kepada MuriaNewsCom, Rabu

Kesiapan pameran tersebut, hingga kini masih dalam proses lelang. Padahal, rencananya kegiatan tersebut akan dilakukan mulai Oktober mendatang di empat kota besar.  Yaitu Semarang, Yogyakarta, Jakarta, dan Purwokerto. Kegiatan berjudul Sosialiasi,  Pengenalan Produk Perdagangan Kudus itu bakal berlangsung lama. Sebab, untuk tiap daerah akan berlangsung lima hari.

“Untuk peserta pameran kami lakukan seleksi. Jadi tidak semua yang mengajukan akan kami ajak. Sekarang ini juga masih dalam proses seleksi, dan bakal kami umumkan dalam waktu dekat,” ujarnya.

Tiap peserta bakal mendapatkan fasilitas transportasi, penginapan selama pameran dan stan. Peserta juga mendapat tugas menghias stan semenarik mungkin. Tujuan dari kegiatan ini adalah mempromosikan produk Kudus ke luar. Berbeda dengan pameran produk lainnya, kali ini semuanya berasal dari Kudus.

“Total anggaran Rp 7 miliar. Jumlah itu untuk semuanya, termasuk pula dengan publikasi,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

Kudus Didorong jadi Kota Perdagangan

Pelaku UMKM melakukan pameran di salah satu ekspo di Kudus. (MuriaNewsCom)

Pelaku UMKM melakukan pameran di salah satu ekspo di Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

Murianewscom, Kudus – Banyaknya pengusaha di Kudus membuat pemerintah setempat mendorongnya menjadi kota perdagangan. Hal itu kini sedang digagas dan diupayakan dengan berbagai hal.

Kabid Promosi dan Perlindungan Konsumen Ddisdagsar Kudus Imam Prayitno, menuturkan jika pengusaha di wilayahnya banyak. “Usaha sudah ada bermacam-macam, jadi kita dorong agar usahanya lancar . Dengan demikian, upaya menjadikan Kudus sebagai kota perdagangan juga dapat berwujud, ” katanya kepada Murianewscom.

Langkah yang dilakukan, kata dia, dibagi menjadi dua hal. Pertama melakukan kegiatan pameran dengan cara yang berbeda. Seperti halnya yang akan dilakukannya dalam waktu dekat ini, puluhan pedagang akan dibuatkan ekspo.

Itu untuk mengenalkan produk Kudus kepada masyarakat luas. Setelah dikenal, pedagang bisa meneruskannya.

Cara lain juga, adalah dengan membuatkan promosi berbasis web. Cara tersebut dianggap pas, lantaran sekarang sudah serba internet dan serba canggih.

“Ini merupakan program jangka pendek, sehingga ke depan, rencananya maksimal Desember harus sudah terealisasi semuanya,” ungkapnya.

Pihaknya berharap kejayaan Kudus dalam perdagangan bisa teraih lagi. Mengingat dulu pernah terjadi. “Seperti halnya Nitisemito. Dulu pada zamannya sangat dikenal, dan menjadi perdagangan yang besar . Kudus juga disebut sebagai Gusjijang, yang mana di antaranya adalah berdagang,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Cara Hemat Pelaku UMKM Ikut Kepesertaan BPJS

umk

Kepala BPJS Kesehatan Kudus Agus Purwono. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Bagi para pelaku usaha, terdapat cara khusus agar murah dalam mengikuti kepesertaan BPJS. Jika cara tersebut dilaksanakan, maka seluruh anggota keluarga menjadi tanggungan BPJS.

Kepala BPJS Kesehatan Kudus Agus Purwono, mengatakan kalau pelaku UMKM dapat dikenakan BPJS seperti seorang karyawan. Dalam membayar iuran, cukup 5 persen dari UMK Kudus saat ini.

“Tidak usah mandiri, nanti jatuhnya mahal. jadi daftarnya khusus. Nanti iurannya sama seperti karyawan, yakni 5 persen dari UMK,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, jika UMK Kudus sekarang Rp 1,6 juta, maka 5 persen adalah di angka Rp 80 ribuan. Iuran itu dapat dibayarkan tiap bulan, dan mampu menanggung satu keluarga maksimal lima orang.

Dengan demikian, kata dia, pelaku usaha akan lebih hemat. Selain itu, jika ada hal yang tidak diinginkan menyangkut kesehatan, dapat segera ditangani tanpa khawatir soal biaya karena akan ditanggung.

Dia menambahkan, sebenarnya konsep BPJS berbeda dengan lainnya. Jika yang lain adalah iuran banyak manfaat kecil, maka di BPJS iuran minimal dengan manfaat yang besar. Hal itu, lantaran yang dilakukan adalah subsidi silang

“Kami sebenarnya juga sedang menggarap hal ini. Namun, hingga kini masih belum maksimal. Ke depan pelaku UMKM bakal menjadi sasaran agar menjadi peserta JKN KIS,” ungkapnya.

Menurutnya, Kabupaten Kudus menjadi kabupaten tertinggi kepesertaan BPJS. Sebab, untuk Kudus sudah di angka 70 persen ikut peserta. Hal itu, tertolong dengan adanya banyak perusahaan, yang sudah mendaftarkan karyawannya.

Editor : Akrom Hazami

 

Begini Cara Dinas Perinkop dan UMKM Pacu Pelaku Usaha Bisa Bersaing di Era MEA

f-UMKM

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Dinas Perindustrian Koperasi dan UMKM Kudus menginginkan, pelaku usaha di Kudus semakin terpacu dengan adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Karena, penguatan ekonomi di Kudus tergantung dari tumbuh kembangnya pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Terkait dengan hal itu, Kepala Dinas Perindustrian Koperasi dan UMKM Kudus Hadi Sucipto melalui Kabid Perindustrian Koesnaini menyatakan, pihaknya bakal memberikan pelatihan terhadap pelaku usaha yang berhubungan dengan promosi produk.

“Setiap bulan ada pelatihan untuk pelaku usaha. Dalam hal ini, pelaku usaha juga dilatih bagaimana untuk memasarkan produk secara tepat dan bagaimana pula melakukan inovasi. Dengan begitu, diharapkan produk-produk milik UMKM bisa berkembang,” katanya.

Tidak hanya itu, untuk bisa bersaing di era MEA, dinas bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan di Kudus juga memberikan pelatihan bagi buruh pabrik yang terkena PHK.

Koesnaini mengatakan, hal ini juga untuk mengurangi angka pengangguran di Kudus, khususnya adanya PHK karyawan perusahaan.

”Kalau buruh dari pabrik diberhentikan bekerja, kemudian tidak ada bekal keterampilan sama sekali, bisa menambah daftar panjang angka pengangguran. Hal inilah yang harus dicegah, dan kami melalui pendekatan dengan pabrik di Kudus, agar buruh yang di PHK diajukan ke dinas untuk mendapatkan pelatihan usaha,” terangnya.

Dia menambahkan, dana pelatihan tersebut dari Dana Bagi Hasil Cukai dan Hasil Tembakau (DBHCHT). Menurutnya, buruh yang terkena PHK perusaan bisa melaporkan ke Dinas Perindustrian Koperasi dan UMKM untuk mendapatkan pelatihan kewirausahaan. Misalnya, pelatihan membuat kue, produk kerajinan tangan atau konveksi.

”Jadi perusahaan itu membekali keterampilan buruh yang dikeluarkan, dan uang pesangon yang diberikan bisa dimanfaatkan untuk membuka usaha, sehingga tidak terus menganggur,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

UMKM yang Dikelola Perempuan Diminta Harus Bisa Bersaing

 

 

Workshop Usaha Mikro Berbasis Perempuan Pedesaan di Pendopo Kabupaten Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Workshop Usaha Mikro Berbasis Perempuan Pedesaan di Pendopo Kabupaten Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Dalam rangka memperingati HUT Jepara ke-467 dan Festival Kartini IV 2016, Dinas Koperasi, UMKM dan Pengelolaan Pasar Jepara mengadakan Workshop Usaha Mikro Berbasis Perempuan Pedesaan di Pendopo Kabupaten Jepara.

“Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan perempuan dalam pengelolaan usaha kecil dan juga dapat membantu keluarga sejahtera,” kata Kabid UMKM Ririen Hariyanti, dalam membuka acara tersebut, Kamis (14/4/2016).

Kegiatan ini diikuti sebanyak 58 peserta, yang semuanya dari kaum wanita yang mempunyai usaha bergerak di bidang batik, tenun, katering dan makanan ringan (camilan), dengan narasumber dari Surakarta seorang praktisi dan konsultan, yakni Sularni dan Hernia Eka K.

Menurut Sularni, perempuan tidak boleh kalah dengan laki-laki dalam berkarier dan berusaha. Dengan kemampuannya, perempuan dapat menjadikan sesuatu yang tidak berarti menjadi berarti untuk dapat meningkatkan kesejahteraan keluargannya.

“Dengan kegiatan ini, kita akan menjadikan wanita yang kreatif dalam meningkatkan kualitas hidup perempuan, serta dapat meningkatkan ilmu pengetahuan dan wawasan serta kreativitas untuk dapat menjadi perempuan yang produktif di berbagai sektor,” terangnya.

Selain itu, lanjutnya, perempuan dapat meningkatkan partisipasiperempuan dalam masyarakat. Dia juga mengatakan, untuk menjadikan perempuan yang kreatif dan penuh adanya inovatif diperlukan keberanian untuk melakukan atau mendirikan kewirausahaan.

“Dengan kata lain, mereka yang melakukan upaya-upaya kreatif dan inovatif dengan jalan mengembangkan ide dan meramu sumberdaya untuk menemukan peluang dan perbaikan hidup merupakan pengembanngan diri kita untuk melakukan perubahan menjadi pengusaha,” ungkap Sularni.

Selanjutnya, Sularni mengemukakan bahwa untuk menjadi sukses seseorang harus proaktif dengan tujuan akhir dalam pikiran untuk berkarier, serta dapat mendahulukan prioritas dan berpikir, berusaha untuk mengerti terlebih dahulu dalam mewujudkan apa yang harus dilakukan.

“Diharapkan nantinya para perempuan di pedesaan dapat mempunyai peran yang penting dalam mengisi pembangunan di daerah masing-masing dapat memajukan dan menyejahterahkan hidup perempuan agar mampu bersaing dan berkiprah dalam berbagai usaha sama dengan pria,” jelasnya.

Sementara itu, Hernia Eka mengingatkan kepada kaum wanita yang mempuyai usaha harus sudah siap untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Dimana MEA sudah diberlakukan pada bulan Desember 2015, hal ini bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi kemajuan sosial dan pengembangan budaya serta meningkatkan mutu produktifitas agar bisa bersaing dengan negara lain yang ada di ASEAN.

“Untuk menghadapai MEA ini UMKM harus sudah siap dengan cara meningkatkan wawasan dan pengetahuan. Selalu melakukan inovasi produk yang dihasilkan dan dapat memasarkan dengan cepat, dengan melakukan sosialisasi melalui berbagai media baik cetak maupun elektronik untuk dapat membangun kemitraan dengan beberapa produk lainnya,” kata Hernia Eka.

Editor : Kholistiono

Jepara Target Penambahan 1000 UMKM dan 25 Koperasi Tiap Tahun

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Jepara – Kabupaten Jepara menargetkan penambahan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sebanyak 1000 usaha dan 25 Koperasi untuk setiap tahunnya. Program itu seiring dengan program pemerintah pusat yang menginginkan penambahan usaha kecil dan koperasi semakin banyak demi pembangunan.

Kepala Dinas Koperasi, UMKM dan Pengelolaan Pasar Kabupaten Jepara, Dwi Riyanto mengemukakan, sampai saat ini, di Kabupaten Jepara terdapat 75 ribu UMKM dan 752 koperasi. Target tiap tahun, harus ada 1.000 UMKM baru dan 25 koperasi.

”Untuk saat ini saja ada puluhan pengajuan pendirian koperasi baru,” ucap Dwi Riyanto kepada MuriaNewsCom.

Khusus untuk pengajuan Koperasi memang ada aturan-aturan tersendiri, tidak seperti UMKM. Bahkan, mulai 8 April nanti pengajuan legalitas Koperasi harus langsung ke kementerian. Salah satu penyebabnya adalah di tingkat pusat sudah ada Kementerian secara khusus menangani bidang koperasi.

”Aturan baru itu berlaku bagi yang akan berdiri, maupun perubahan. Untuk koperasi lama tak perlu mengurus perizinan baru,” katanya.

Dia menjelaskan, biasanya proses pengajuannya dari notaris ke dinas koperasi lanjut ke Bupati. Namun nantinya akan ke Kementerian Koperasi. Meski demikian, adanya kebijakan ini bukan berarti bidang koperasi di Dinasnya tidak ada. Justru perlu dikuatkan sebab proses pengajuan tetap melalui dinasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Terbentur Aturan, UMKM di Jepara Hanya Dibantu Penguatan Sumber Daya Manusia

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Jepara – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara tidak mampu berbuat banyak untuk meningkatkan pembangunan sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Para pengusaha UMKM di Jepara hanya mendapatkan pelatihan untuk penguatan sumber daya manusia (SDM), baik skill maupun pemasaran saja. Hal ini seiring dengan telah diberlakukannya kebijakan pelarangan pemberian bantuan berupa hibah.

Hal itu diakui oleh Kepala Dinas Koperasi, UMKM dan Pengelolaan Pasar Kabupaten Jepara, Dwi Riyanto. Menurutnya, khusus untuk UMKM, sementara ini bantuan hanya diintensifkan untuk penguatan SDM. Terutama dengan memberikan pelatihan dengan intensitas yang lebih banyak. Seperti, pengiriman pelaku UMKM ke pelatihan skill atau keterampilan dan pemasaran.

Sebenarnya hal ini sudah diberlakukan sejak tahun lalu. Kami belum memiliki skema pengganti hibah. Sebab, anggaran untuk hibah untuk UMKM sudah tidak ada. Untuk sementara, pengalihannya dengan memberikan banyak pelatihan SDM dan pengembangan mutu,” ujar Dwi kepada MuriaNewsCom, Sabtu (27/2/2016).

Lebih lanjut dia menjelaskan, kekurangan pemberian bantuan itu bisa ditutupi dengan program dari pemerintah pusat. Salah satunya dengan program pemberian pinjaman lunak. Untuk UMKM ada kredit usaha rakyat (KUR).

“Kami bersyukur karena pelaku usaha bisa memaklumi kondisi ini. Sejauh ini sudah tidak ada yang minta, sebab sudah tersosialisasi melalui berbagai cara, termasuk oleh bupati dan wabup, dan melalui kelompok usaha masing-masing,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

Baca juga : Pelaku UMKM Jepara Berharap Produknya Tembus ke Pasar Modern

Wacana Pengelolaan IPAL Domestik dan UMKM di Rembang Bakal Direalisasikan 2016

Plt Kabid Penyajian Dampak dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan Budi Priyanggodo (28/12/2015)

Plt Kabid Penyajian Dampak dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan Budi Priyanggodo (28/12/2015)

 

REMBANG – Badan Lingkungan Hidup (BH) Kabupaten Rembang akan melakukan pengelolaan Instalasi pengolahan air limbah (IPAL) domestik dan IPALUMKM pada tahun 2016 nanti.
Hal tersebut disampaikan oleh Plt Kabid Penyajian Dampak dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan Budi Priyanggodo kepada MuriaNewsCom. Menurutnya, IPAL domestik akan diujicobakan ke lingkungan sekolah. Sedangkan IPAL UMKM direncanakan ke wilayah industri tekstil.

“Rencana untuk tahun 2016 kami anggarkan pembuatan limbah domestik yang akan diujicobakan di wilayah sekolah. Kami ingin menerapkan lingkungan yang bersih dan sehat dari lingkungan sekolah sebagai proyek percontohan bagi sekolah-sekolah yang lainnya,” ujarnya, Senin (28/12/2015).

Diharapkan, dengan adanya IPAL domestik, tingkat pencemaran lingkungan terutama di lingkungan sekolahan bisa diminimalisasi. Karena sebenarnya, lanjut Budi, limbah domestik jika diolah bisa menjadi bahan yang berguna atau bisa dijadikan pupuk organik.

“Kemudian, selain IPAL domestik kami juga akan mengadakan pengelolaan limbah UMKM. Rencananya nanti kita ke industri tekstil, karena di Rembang sendiri, industri tekstil banyak sekali dan berpotensi menimbulkan pencemaran. Nantinya kalau tidak dikelola dengan baik menjadi berbahaya,” jelasnya.
Budi menambahkan, BLH menfasilitasi pembuatan IPAL sebagai stimulan untuk melihat bagaimana perkembangannya. “Kalau perkembangannya bagus, nanti kita akan meningkatkan lagi. Selain dari APBD, nanti juga akan mencoba untuk bekerjasama dengan perusahaan dari anggaran CSR yang bisa untuk meningkatkan kegiatan yang lebih banyak lagi,” pungkasnya. (AHMAD WAKID/KHOLISTIONO)

Loram Expo 2015 Siapkan 120 Stan UMKM

Duta Wisata Loram Kulon yang turut hadir di Loram Expo juga membantu memperkenalkan potensi daerahnya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Duta Wisata Loram Kulon yang turut hadir di Loram Expo juga membantu memperkenalkan potensi daerahnya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Sedikitnya 120 stan usaha mikro kecil menengah (UMKM) akan disedikan panita Loram Expo 2015. Pameran usaha kecil yang digelar di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, juga sekaligus untuk menyemarakkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1436 H.

Panitia Loram Expo Anis Aminuddin mengutarakan, untuk stan yang tersedia kurang lebih ada 120 tempat. Dan itupun harus mengacu pada kegiatan sebelumnya. Untuk sementara ini pendaftar sudah ada sekitar 60 pelaku UMKM. Baik dari Desa Loram ini maupun luar daerah. Dengan adanya pameran UMKM ini tentunya untuk meningkatkan kemajuan bagi pelaku usaha kecil.

”Untuk stan, nantinya kami bagi menjadi tiga tempat. Yakni Gedung Muslimat NU Loram Kulon, halaman Balai Desa Loram Kulom, dan sebelah utara Balai Desa Loram Kulon,” paparnya.

Dari informasi yang dihimpun MuriaNewsCom, acara tesebut digelar satu pekan sebelum acara maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada Kamis (24/12/2015).

”Acara ini dimulai tanggal 18 hingga 24 Desember 2015. Selain itu, untuk administrasi stan kami kenakan ada tiga kelas. Yakni yakni kelas I yang  berada dalam gedung Muslimat dikenakan Rp 250 ribu/pekan, kelas II yang berada di halaman balai desa Rp 150 ribu/pekan, serta kelas III yang ada disebelah utara balai desa Rp 125 ribu/pekan,” ujarnya.

Dia menambahkan, dari ke 120 stan yang disiapkan nantinya ada lima stan khusus yang berada di  gedung Muslimat yang diperuntukan untuk pelaku UMKM baru. Lima stan tersebut pun tanpa dipungut biaya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Untuk Menyambung Hidup, Dua Lansia Kurang Mampu Ini Harus Rela Bergelut dengan Plastik Bekas

Dua lansia di Desa Undaan sedang melakukan pengelupasan plastik (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Dua lansia di Desa Undaan sedang melakukan pengelupasan plastik (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, dua lansia kurang mampu di Desa Undaan Tengan, Kecamatan Undaan, harus rela bergelut dengan plastik bekas setiap harinya.

Adalah Suyati dan Warni (65). Lansia yang tingggal di Gang 9 RT 2 RW 5 Undaan Tengah ini, setiap harinya melakukan pengelupasan plastik bekas, yang nantinya bakal di daur ulang.

“Kerjaan ini memang kami jadikan untuk membantu bantu suami guna memenuhikebutuhan hidup. Sebab, suami saya sebagai buruh bangunan, honornya tidak seberapa. Sehingga kami melakukan kerjaan pengelupasan plastik bekas ini,” kata Suyati.

Dari kerjaannya ini, katanya, dirinya diberi upah sebesar Rp 1.500 untuk per kilogramnya dari penampung. “Pengelupasan plastik bekas ini satu kilogramnya di beri upah Rp 1.500. Dalam satu pekan, hanya mendapat Rp 30 ribu. Plastik-plastik bekas tersebut, kami setorkan ke juragan setiap satu pekan sekali,” pungkasnya. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)

Hai Pencinta Es Tebu, Perhatikan Fakta Berikut

Penjual es tebu mangkal di salah satu sudut di Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono

Penjual es tebu mangkal di salah satu sudut di Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono

 

KUDUS – Setiap orang yang membeli minuman segar alami es tebu, pasti banyak yang mempertanyakan mengapa penjual tersebut ada yang menempel tulisan tebu ijo di gerobaknya serta ada yang tidak. Hal itu dilakukan supaya dapat menarik minat pembeli. Sehingga pembeli juga bisa membedakan rasa dari tebu tersebut.

Salah satu penjual es tebu yang biasa mangkal di Jalan Mejobo depan PDAM Kudus Eko Santoso mengatakan, papan tulisan es tebu ijo sengaja ditempel. Supaya konsumen tahu bahwa tebu itu berbagai jenis macamnya.Seperti hanya es tebu ijo semacam ini.

Terkait perbedaan antara tebu hijau dan merah dia juga menjelaskan bahwa dari segi fisik, tebu hijau kulitnya lebih tipis.Sedangkan tebu merah kulitnya keras dan kasar. Dan itupun di saat mengelupasnya tebu hijau hanya sekadar dikelupas sedikit saja serta dibersihkan degan kain. Sedangkan tebu merah harus dikelupas degan tuntas.

“Selain fisik luar, tebu hijau dan merah juga mempunyai perbedaan yang menonjol. Yakni bila tebu hijau hanya sekali dapat digiling untuk diambil sarinya, namun untuk tebu merah dapat berulang kali dilakukan penggilingan. Perbedaan itu karena tulang tebu hijau lebih lunak dan mudah putus, sedangkan tebu merah sangat keras dan ulet,” ujarnya.

Diketahui bahwa es tebu hijau dikatakan lebih mahal dibanding dengan tebu merah. Hal itu juga disebabkan mahalnya pasaran tebu hijau. “Es tebu hijau memang rata rata Rp 2.500 per gelas. Sedangkan es tebu merah Rp 2.000 per gelas. Sebab harga tebu hijau satu kuintal Rp 140 ribu, sedangkan tebu merah satu kuintal Rp 100 Ribu. Selain itu, tebu hijau jarang ditemukan di Kudus,” paparnya.

Selain perbedaan perbedaan fisik dan harganya, ada satu lagi yang bisa membuat konsumen lebih tahu, yakni terkait rasa tebu tersebut. “Untuk tebu hijau baik yang masih muda atau tua, rasanya tetap manisnya pas. Sedangkan Untuk tebu merah, yang muda rasanya ada sedikit campuran asin.Sedangkan yang tua manisnya terlalu legit atau kentel,” terangnya. (Edy Sutriyono/AKROM HAZAMI)

Ratna Beberkan Rahasia Membuat Cincin Akik dari Batok Kelapa

atna tengah melubangi batok kelapa untuk dijadikan cincin akik. (MuriaNewsCom/Lismanto)

atna tengah melubangi batok kelapa untuk dijadikan cincin akik. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Ratna Septi Anggrahenie (48), warga Desa Winong, Pati saat ini baru mengembangkan cincin akik yang terbuat dari batok kelapa. Kendati baru dirintis, tetapi Ratna tak segan untuk membeberkan rahasia membuat cincin akiknya tersebut.

Salah satu yang harus dipersiapkan, kata Ratna, di antaranya batok kelapa dengan tekstur paling keras. Sayangnya, batok dengan tekstur keras sulit dijumpai di Pati.

“Batok kelapa yang bagus berasal dari Bali. Di Pati, batok kelapa yang mendekati tekstur itu berasal dari Kecamatan Sukolilo. Ini bagus untuk membuat cincin akik,” ujar Ratna kepada MuriaNewsCom, Senin (2/11/2015).

Setelah itu, lanjutnya, buat garis melingkar menyesuaikan ukuran batu akik, kemudian dipotong secara melingkar menggunakan alat bor duduk.

“Kalau sudah, diperhalus menggunakan gerenda. Pasang batu dalam cincin batok dengan direkatkan menggunakan lem khusus. Itu sudah selesai. Tinggal jual,” pungkasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Kreatif! Warga Winong Pati Ciptakan Cincin Akik dari Batok Kelapa

Ratna menunjukkan cincin akik yang dibuat dari tempurung kelapa. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ratna menunjukkan cincin akik yang dibuat dari tempurung kelapa. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Kreativitas Ratna Septi Anggrahenie (48), warga Desa Winong, Kecamatan Pati yang mengembangkan ragam kerajinan dari batok kelapa tak berhenti pada satu karya. Saat ini, ia mengembangkan kreativitasnya dengan menciptakan cincin akik dari tempurung kelapa.

Kendati gairah batu akik saat ini sudah melesu, tetapi tidak membuat Ratna enggan berkarya di bidang akik. Ia menilai, pengembangan cincin akik yang dibuat dari tempurung kelapa sebagai sebuah karya seni klasik yang menawan, untuk disodorkan kepada pencinta akik.

”Bisnis akik memang saat ini melesu. Tapi, saya tidak bicara soal dari aspek bisnis. Ini bicara soal seni yang memanfaatkan limbah tempurung kelapa menjadi cincin akik,” ujar Ratna saat ditemui MuriaNewsCom di rumahnya, Senin (2/11/2015).

Satu cincin akik dibanderol mulai dari Rp 30 ribu hingga Rp 100 ribu. Tak hanya model melingkar, Ratna rencananya akan mengembangkan bentuk cincin dengan berbagai model. Salah satu yang diminati, antara lain cincin berbentuk hati atau daun waru. (LISMANTO/TITIS W)

Ditangan Petani Mejobo Ini Kotoran Kerbau Jadi Lebih Bermanfaat

Para petani tengah menjemur kotoran kerbau untuk dijadikan pupuk kandang pada proses penanaman palawija Maret mendatang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Para petani tengah menjemur kotoran kerbau untuk dijadikan pupuk kandang pada proses penanaman palawija Maret mendatang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Jangan anggap remeh kotoran kerbau, karena ternyata dari kotoran tersebut mampu dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman. Ditangan para petani asal Desa Gulang, Kecamatan Mejobo ini mereka mampu mengubah kotoran kerbau yang tidak memiliki nilai lebih, menjadi pupuk yang ampuh dan berkhasiat.

Para petani tersebut mengolah kotoran kerbau untuk dijadikan pupuk kandang. Dan digunakan sebagai pupuk pada proses penanaman palawija atau buah-buahan pada musim tanam mendatang.

Salah satu Petani Desa Gulang, Kecamatan Mejobo, Jamian menjelaskan, pupuk kandang ini nantinya digunakan pupuk saat menanam melon pada Maret mendatang. Sebab dengan menggunakan kotoran kerbau ini, bisa mempercepat tumbuhnya bibit melon.

”Bila menggunakan kotoran kerbau, maka proses tumbuh bibit di dalam pot sampai dengan penanaman ke sawah itu hanya memerlukan waktu 1 pekan. Sedangkan bila menggunakan tanah biasa, bisa memakan waktu lebih dari 1 pekan,” ungkap Jamian.

Pupuk kandang yang selalu dibuatnya tersebut juga tidak harus dicampuri dengan obat-obatan kimia lainnya. Sehingga tetap terjaga kealamiannya.

”Dalam pembuatan pupuk kandang tersebut tidak usah dicampuri dengan yang lain. Toh ini juga khasiatnya sudah bagus. Untuk lahan seluas 2 hektare hanya memerlukan 5 kuintal pupuk kandang saja. Dan itupun kesemua kotoran kerbau tersebut kami dapat dari peternakan kerbau saya sendiri. Jadi sangat ekonomis,” paparnya.

Dia menambahkan, yang penting permulaan pembibitan mulai dari penanaman biji ke dalam pot, setidaknya jangan sampai menggunakan obat kimia. Namun menggunakan bahan alami saja. Sehingga pada masa pertumbuhannya juga alami. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Asyiknya Joget Bareng TNI

Siswa bersama anggota TNI berjoget mengikuti alunan musik (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Siswa bersama anggota TNI berjoget mengikuti alunan musik (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

KUDUS – Ratusan siswa di Kecamatan Gebog berjoget bareng bersama anggota TNI Kodim 0722/Kudus. Ratusan siswa seolah terkena hipnotis musik yang di suguhkan.

Ratusan siswa dan anggota TNI berjoget di Lapangan Pengkol,Desa Getassrabi,Kecamatan Gebog. Para siswa dari pagi tadi, sekitar pukul 07.00 WIB sudah memadati lapangan milik desa tersebut.

Dandim 0722/Kudus Letkol Inf Arh Ibnu Sekelan mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari hiburan dalam rangkaian kegiatan bakti sosial HUT TNI ke-70 dan HUT Kodam ke-65. “Musik sebagai hiburan saja.Selain siswa, masyarakat umum juga dapat berpartisipasi dalam kegiatan ini. Pagi tadi juga dilaksanakan senam bersama,” jelasnya.

Dirinya mengatakan, dalam kesempatan tersebut, juga dilaksanakan pasar murah, donor darah dan pengobatan gratis. Dengan hal seperti ini, pihaknya berharap, TNI bisa lebih dekat lagi dengan masyarakat.(FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Warga Serbu Pasar Murah di Desa Getasrabi

Pasar murah yang diadakan Kodim 0722/Kudus di Desa Getasrabi, Gebog (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Pasar murah yang diadakan Kodim 0722/Kudus di Desa Getasrabi, Gebog (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Dalam rangkaian HUT TNI ke- 70 dan Kodam ke-65, Kodim 0722/Kudus menggelar pasar murah. Dalam kegiatan tersebut, barang yang dijual harganya berada di bawah harga pasaran. Hal ini, membuat masyarakat sekitar langsung menyerbu pasar murah tersebut.

Dandim 0722/Kudus Letkol Inf Arh Ibnu Sekelan mengatakan, pihaknya sengaja melaksanakan kegiatan tersebut, agar masyarakat dapat merasakan manfaat dari kegiatan itu.

“Kami kerja sama dengan beberapa swalayan. Namun tidak berarti tanpa partisipasi masyarakat. Sebab, kami juga menggandeng masyarakat untuk ikut berjualan dalan bazar kali ini,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Dalam kegiatan pasar murah ini, pihaknya tidak menginginkan hanya sekedar meriah saja, namun, barang yang dijual juga harus terjangkau oleh masyarakat. Jika harga yang dijual di atas atau sama dengan harga pasar, pihaknya tidak mau kerja sama.

Seperti halnya beras sebanyak 3 kg hanya dibanderol Rp 15 ribu. Selain itu elpiji 3 kilogram yang secara HET Rp 16 ribu dijual dengan harga Rp 15 ribu saja, dan masih banyak lagi lainnya harga yang murah.

Selain itu, Kodim juga memberikan sembako gratis. Hal itu untuk membantu masyarakat di Gebog dalam memenuhi kebutuhan hariannya. “Ada 100 paket yang sudah kami bagikan kepada masyarakat. Kami di sini juga mengadakan donor darah dan pengobatan gratis,” jelasnya. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Ini Penampakan Sandal Jepit di Jepara yang Bikin Kagum Dunia

 

Salah satu contoh karya seni kaligrafi di atas sandal di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Salah satu contoh karya seni kaligrafi di atas sandal di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Pemuda asal Desa Jambu Timur, Kecamatan Mlonggo, Jepara, M Nur Fawaid berhasil menjalankan bisnis ukir sandal jepit.Kegemarannya berjejaring sosial, ia manfaatkan untuk memasarkan produk kreativitasnya.

Selain motif dari barang stok, dia dan kawa-kawan pondoknya juga melayani permintaan motif sesuai keinginan pemesan. “Biasanya tokoh kartun seperti Doraemon, Naruto, Angry Birds atau logo klub sepak bola kesayangan seperti Barcelona, Real Madrid dan Manchester United,” kata Fawaid kepada MuriaNewsCom.

Selain itu, dia juga dapat mengukir tokoh nyata seperti Sukarno persis yang ada dalam foto-foto yang selama ini beredar. Motif batik juga tak luput menjadi bahan kreasinya.

Hasil produk sandal jepit ukir yang ia buat juga tak monoton, itu-itu saja. Bisnis sandal carving Jepara-nya itu juga mampu membuat hiasan-hiasan dinding berbahan baku sandal jepit polos.

Selama ini ia kerap diminta membuatkan kaligrafi dengan menggabungkan dua pasang atau empat sandal jepit. Kemudian, hasil ukirannya ia bingkai dengan figura. Bahkan, hiasan dinding sandal jepit itu dikembangkan menjadi jam dinding kreatif.

Selama ini hasil ukiran yang menurutnya bagus adalah ketika mendapatkan pesanan membuat logo Nahdlatul Ulama menjadi hiasan dinding. Hasil produknya pernah diikutkan lomba bazar pelatihan Disdikpora di Banjarnegara mewakili Kabupaten Jepara pada 2014 lalu. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Waduh! Ancaman Kehilangan Pengukir di Jepara Kian Dekat

Seorang perempuan di Jepara sedang melakukan aktifitas mengukir (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Seorang perempuan di Jepara sedang melakukan aktifitas mengukir (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Kabupaten Jepara yang terkenal sebagai kota ukir terancam kehilangan pengukir. Bahkan, ancaman tersebut semakin dekat, seiring dengan minimnya generasi muda yang bersedia menjadi pengukir. Ditambah lagi dengan makin banyaknya investor yang mendirikan pabrik non mebel, sehingga membuat generasi muda memilih menjadi karyawan pabrik.

Hal itu mulai dirasakan belakangan ini oleh sejumlah pengukir. Salah satunya Komunitas Pengukir Jepara yang diketuai Umam. Menurut Umam, pihaknya sudah mulai cemas jika nantinya citra Jepara sebagai Kota Ukir semakin terkikis secara pelan.

“Perhatian pemerintah terhadap ukir Jepara masih minim. Sehingga membuat kecemasan itu semakin besar,” kata Umam kepada MuriaNewsCom.

Kekhawatiran itu juga dikatakan Kabag Humas Pemkab Jepara Hadi Priyanto. Menurut Hadi, para tukang ukir dan kayu di jepara sudah mulai merasa gelisah. Salah satu alasannya karena upah mereka kecil hingga bidang ini tidak menarik lagi bagi generasi muda.

“Banyak yang kemudian memilih bekerja di pabrik dan bangunan. Mereka juga cemas citra Jepara sebagai Kota Ukir akan pupus,” katanya. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)