72 Stan Ramaikan Kudus Ekspo

Suasana pada pembukaan Kudus Ekspo di alun-alun setempat. (Tribratanewskudus)

Suasana pada pembukaan Kudus Ekspo di alun-alun setempat. (Tribratanewskudus)

MuriaNewsCom, Kudus – Sekitar 72 stan pameran meramaikan Kudus Ekspo 2016 di alun-alun setempat. Kegiatan berlangsung 26 Oktober-30 Oktober 2016.

Dikutip Tribratanewskudus, anggota Kepolisian Resor Kudus melaksanakan pengamanan pembukaan puluhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM)  Kudus Ekspo 2016, Rabu (26/10/2016) pukul 19.00 WIB.

Kegiatan Kudus ekspo dibuka oleh Bupati Kudus  Mustofa dan disaksikan Forkopinda serta masyarakat Kudus dengan tema Kudus Inkop UMKM Ekspo 2016.

Dalam acara Ekspo ini menampung 72 stan yang diikuti oleh puluhan UMKM. Masing-masing stan bisa diisi oleh lebih dari satu UMKM yang berpartisipasi. Sekitar 44 digunakan untuk UMKM binaan Dinas Perindustrian, Koperasi, dan UMKM. Sedangkan 28 lainnya digunakan untuk UMKM binaan dari dinas lainnya.

Stan-stan yang disiapkan tersebut merupakan fasilitas dari Pemkab Kudus untuk para pelaku UMKM yang bisa digunakan secara gratis. Stan gratis bagi UMKM ini berada di alun-alun dan di sisi timur, persis di depan Ramayana merupakan stan berbayar untuk para sponsorsip.

Stan ini ada sekitar 40 yang dikelola oleh even organizer (EO). Kegiatan pameran ini, diikuti oleh UMKM dengan produk makanan, minuman, bordir, pakaian jadi, mukena, jilbab, asesoris, souvenir, dan berbagai produk unggulan Kudus.

Target pada pameran ini adalah memperkenalkan produk UMKM Kudus kepada masyarakat luas. Sedangkan target transaksi pada ekspo kali ini senilai Rp 300 juta. Menurutnya, keberhasilan pelaksanaan Kudus Ekspo pada tahun-tahun sebelumnya, membuat program ini terus dilanjutkan hingga sekarang.

Namun, sejumlah perbaikan terus dilakukan, seperti penataan stan yang lebih merata, sehingga pengunjung tidak berpusat pada stan depan atau setelah pintu masuk. Tak hanya ekspo, kegiatan ini nanti juga dilengkapi dengan aneka kuliner khas Kudus, job fair, serta pagelaran seni dan budaya.

Rangkaian kegiatan lainnya adalah pertunjukkan musik Inbox yang digelar tiga kali. Untuk acara Inbox kata dia, akan dilaksanakn Sabtu pagi, Sabtu Sore, dan Minggu pagi.

Editor : Akrom Hazami

Expo Industri, Koperasi dan UMKM Akan Digelar di Kudus Akhir Bulan Ini

Pemkab Kudus sedang melakukan pembahasan kegiatan Expo Industri, Koperasi dan UMKM. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Pemkab Kudus sedang melakukan pembahasan kegiatan Expo Industri, Koperasi dan UMKM. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Pemkab Kudus menggelar kegiatan Expo Industri, Koperasi dan UMKM pada 26 hingga 30 Oktober 2016. Dalam kegiatan itu, pemkab menggunakan biaya APBD yang bersumber dari DBHCHT sekitar Rp 900 juta.

Kepala Dinas Perindustrian, Koperasi dan UMKM Kudus Hadi Sucipto mengatakan, sumber dana berasal APBD. Jumlah tersebut digunakan untuk biaya stan produk milik warga Kudus.

“Ada 72 stan yang kami tampilkan. Dari jumlah tersebut 20 persen merupakan industri dari eks buruh rokok yang kami berikan pembinaan,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Stan yang ditampilkan adalah berbagi jenis produk, mulai dari kuliner, konveksi, kerajinan serta berbagai produk unggulan lainnya. Expo tersebut dilakukan di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus. Peserta tidak dipungut biaya sedikitpun karena ini juga dianggap bentuk dari promosi.

Selain bentuk pameran, peserta stan juga diperbolehkan menjual dagangannya secara langsung maupun via pesanan. Target penjualan sekitar Rp 300 juta.

“Untuk jangka panjang adalah produk mereka banyak dikenal. Sehingga banyak pesanan dan mampu memajukan usaha mereka,” ungkapnya.

Sekda Kudus Noor Yasin menambahkan, selain kegiatan Expo, dalam rangkaian kegiatan juga disuguhkan dengan berbagai hiburan yang apik. Di antaranya adalah pagelaran seni dan budaya serta kegiatan menarik lainnya.

“Kami juga akan ada job fair-nya. Jadi bagi masyarakat yang hendak mencari kerja tidak usah bingung karena kami juga menyediakan itu semua,” ungkapnya

Ditambahkan, keberhasilan pelaksanaan Expo pada tahun-tahun sebelumnya, membuat program ini terus dilanjutkan hingga sekarang. Namun, sejumlah perbaikan terus dilakukan, seperti penataan stan yang lebih merata, sehingga pengunjung tidak berpusat pada stan depan saja.

Editor : Akrom Hazami

Pameran UMKM Kudus di 4 Kota Besar Terancam Gagal

Pelaku UMKM mengikuti salah satu kegiatan pameran produk, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Pelaku UMKM mengikuti salah satu kegiatan pameran produk, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom,Kudus – Pameran produk UMKM Kudus di empat kota besar, terancam gagal. Sebab sampai sekarang, belum menemukan lokasi penyelenggaraan yang strategis.

Kepala Dinas Perdagangan dan Pasar (Dagsar) Kudus Sudiharti mengatakan, pihaknya telah melakukan pengecekan ke beberapa lokasi yang diinginkan. Namun tempat itu sudah dipesan lebih dulu oleh pihak lain. “Kalaupun masih jalan, harus dilakukan pengecekan lokasi lainnya yang juga tidak kalah ramai. Sehingga, tujuan untuk mempromosikan perdagangan Kudus tidak hilang,” katanya kepada MuriaNewsCom, Rabu

Kesiapan pameran tersebut, hingga kini masih dalam proses lelang. Padahal, rencananya kegiatan tersebut akan dilakukan mulai Oktober mendatang di empat kota besar.  Yaitu Semarang, Yogyakarta, Jakarta, dan Purwokerto. Kegiatan berjudul Sosialiasi,  Pengenalan Produk Perdagangan Kudus itu bakal berlangsung lama. Sebab, untuk tiap daerah akan berlangsung lima hari.

“Untuk peserta pameran kami lakukan seleksi. Jadi tidak semua yang mengajukan akan kami ajak. Sekarang ini juga masih dalam proses seleksi, dan bakal kami umumkan dalam waktu dekat,” ujarnya.

Tiap peserta bakal mendapatkan fasilitas transportasi, penginapan selama pameran dan stan. Peserta juga mendapat tugas menghias stan semenarik mungkin. Tujuan dari kegiatan ini adalah mempromosikan produk Kudus ke luar. Berbeda dengan pameran produk lainnya, kali ini semuanya berasal dari Kudus.

“Total anggaran Rp 7 miliar. Jumlah itu untuk semuanya, termasuk pula dengan publikasi,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

Puluhan Pelaku UMKM Kudus Siap Pamerkan Usaha di 4 Kota Besar

umkm

Pelaku UMKM Kudus sedang melakukan pameran di salah satu lokasi. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom,Kudus – Empat kota besar, yakni Jakarta, Semarang, Yogyakarta dan Purwokerto, bakal dijadikan target expo untuk puluhan UMKM Kudus. Hal itu disampaikan oleh Plt Perdagangan dan Pengelolaan Pasar Disdagsar Kudus Sudiharti.

Menurutnya, kegiatan yang berjudul Sosialiasi Pengenalan Produk Produk Perdagangan Kudus itu bakal berlangsung lama. Sebab, untuk tiap daerah akan berlangsung lima hari.

“Khusus untuk Jakarta akan ada tiga tempat berbeda. Jadi, total khusus Jakarta 15 hari lamanya,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Pelaksaan juga masih menunggu waktu pasnya. Hanya untuk target akan dilaksanakan pada September atau Oktober.

Adapun untuk lokasi mana saja yang dipilih, hingga kini masih belum final. Yang jelas, lokasinya akan berada di tempat keramaian.

Untuk tiap even, akan dielakkan 30 UMKM, mulai dari makanan, produk, pakaian dan lain sebagainya. Yang jelas, jumlahnya ada sekitar 30 UMKM.

“Kami lakukan seleksi. Jadi tidak semua yang mengajukan akan kami ajak. Sekarang ini juga masih dalam proses seleksi, dan bakal kami umumkan dalam waktu dekat,” ujarnya.

Untuk fasilitas, tiap peseta bakal mendapatkan transportasi, penginapan selama pameran dan stan. Sedangkan untuk pemilik ditugasi menghias stan semenarik mungkin.

Tujuan dari kegiatan ini adalah mempromosikan produk Kudus ke luar. Berbeda dengan expo lainnya yang di Kudus, karena semuanya produk Kudus.

“Total anggaran Rp 7 miliar. Jumlah itu untuk semuanya, termasuk pula dengan publikasi,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Busyet, Biaya Pelatihan IKM di Kudus Telan Dana Hingga Rp 1 Miliar

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Pelatihan Industri Kecil Menengah (IKM) yang digelar Dinas Perindustrian, Koperasi dan UMKM untuk pelaku IKM di Kudus ternyata memakan dana cukup besar. Tak tanggung-tanggung, Pemkab Kudus menganggarkan uang senilai Rp 1 miliar untuk kegiatan pelatihan selama satu tahun.

Kabid Perindustrian pada Dinas Perinkop dan UMKM Koesnaini mengatakan, sumber dana tersebut menggunakan anggaran dari Dana Bagi Hasil Cukai dan Tembaka (DBHCT).

”Biaya pelatihan ke Boyolali yang dilakukan 150 pelaku IKM Kudus, juga diambilkan dari dana tersebut,” katanya.

Menurutnya 150 peserta yang ikut dalam pelatihan tersebut bermacam macam. Mereka adalah pengusaha yang bergerak di bidang usaha olahan tahu, jenang, susu, dan daging.

Masing-masing jenis usaha pemberian materi teori dibagi dalam empat lokasi. Yakni lokasi tempat pelatihan LIK, Gedung Dekopindo, Kelurahan Mlatinorowito, dan balai Desa Mlati Kidul.

”Dana itu juga digunakan pelatihan dan magang bagi pelaku usaha untuk batik. Ada lima pelaku batik berasal dari Colo, Dawe, dari IKM Manjeng Werni. Mereka akan magang di Pekalongan selama sebulan,” jelasnya.

Tujuan akhirnya, kata dia, bisa mengurangi pengangguran dan mengentaskan kemiskinan. Ini, sesuai dengan empat pilar pembangunan Bupati Kudus Musthofa tentang menumbuhkembangkan sektor industri kecil, pengentasan kemiskinan, dan pengurangan pengangguran.

”Dengan banyaknya pelatihan ini, kami harap para pengusaha bisa menangkap peluang usaha dengan jeli. Baik itu dari jenang, susu, tahu, dan daging,” tambahnya.

Editor: Supriyadi

BACA JUGA: 150 Pelaku IKM di Kudus Timba Ilmu ke Boyolali

150 Pelaku IKM di Kudus Timba Ilmu ke Boyolali

Sejumlah pekerja industri rumahantengah menjahit bahan kain untuk membuat celana. (MuriaNewsCom)

Sejumlah pekerja industri rumahantengah menjahit bahan kain untuk membuat celana. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Dinas Perindustrian, Koperasi dan UMKM Kudus mengajak 150 pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) ke Boyolali. Ratusan pelaku usaha tersebut ditujukan untuk belajar lebih serius tentang pengembangan produk.

Kabid Industri Dinas Perindustrian, Koperasi dan UMKM Koesnaeni mengatakan, Boyolali merupakan kabupaten yang memiliki pengembangan usaha cukup bagus. Karena itu pelaku usaha diharapkan bisa menimba ilmu untuk membuat usahanya laris manis.

”Rencananya selain pelatihan, para pelaku usaha akan melakukan kunjungan sesuai dengan bidang usahanya masing-masing. Misalkan, pengusaha tahu ya mereka kunjungannya ke IKM yang mengolah tahu. Begitupun yang lainnya,” katanya

Ia mengatakan, acara nimba ilmu ke Boyolali ini, merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan Dinas. Sebelum diajak ke sana, peserta dilatih terlebih dahulu guna mendapatkan bekal, barulah diajak studi lanjut.

”Pelatihan dimulai Senin (9/5) sampai kemarin. Para pelaku diberikan materi teori mulai Senin (9/5) sampai Rabu (11/5),” ungkapnya.

Ia mengakui, dengan adanya kunjungan IKM ke Boyolali untuk mengetahui kreasi dan inovasi pengusaha di sana. Sehingga, peserta pelatihan memiliki pengetahuan tentang hal tersebut.

Harapannya, dengan adanya studi banding mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas produknya. Yang nantinya akan membuat produk semakin menarik dan berkembang.

Editor: Supriyadi

Hadapi MEA, Media Online jadi Sasaran Pengusaha Kudus untuk Promosi

f-UMKM


MuriaNewsCom, Kudus
– Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), para pelaku usaha di Kudus memiliki cara tersendiri untuk mampu bersaing. Mulai dari meningkatkan kualitas produk hingga promosi. Pada tahun ini, pelaku usaha di Kudus lebih melirik media online atau media sosial untuk sarana promosi.

Hal ini disampaikan Kepala Dinas Perindustrian Koperasi dan UMKM Kudus Hadi Sucipto melalui Kabid Perindustrian Koesnaini. Dia mengungkapkan, para pelaku usaha memanfaatkan media online yang kini semakin trend. Pelaku usaha dapat memasarkan produk kepada konsumen dimanapun berada di kapan saja.

“Untuk saat ini, pelaku usaha sudah melek teknologi. Sehingga  mereka memanfaatkan secara maksimal kemajuan teknologi, seperti gadget yang sudah dilengkapi dengan beragam fitur untuk memudahkan konsumen mengakses layanan internet dengan puas,” katanya.

Menurutnya, secara tidak langsung pelaku usaha di Kudus siap dengan MEA, dan saat ini, yang dilakukan  adalah dengan menggenjot promosi, sehingga produk dari Kudus semakin dikenal luas dan kemudian bisa meningkatkan taraf ekonomi masyarakat.

Meski demikian, diakui nya persaingan pangsa pasar tetap ada. Untuk itu pelaku usaha juga diminta untuk lebih kreatif dan bisa membaca peluang.

“Sekarang ini sudah memasuki era MEA. Pelaku usaha semua sudah tahu, apa yang harus dikerjakan dan pasang strategi untuk pemasaran dan promo,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

 

Jangan Heran, Padurenan Gebog Kudus Mampu Kembangkan UMKM Berkonsep Digital

Kegiatan konsep digital dalam pengembangan UMKM di Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Kegiatan konsep digital dalam pengembangan UMKM di Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Warga Desa Padurenan, Kecamatan Gebog berupaya mengangkat konsep digital dalam mengembangkan UMKM desanya.

Di antara usaha yang dikembangkan adalah produk konveksi dan bordir. Pemerintah desa melakukan kerja sama dengan PT Telkom.

“Ya kami sebagai fasilitator bekerja sama dengan pihak pemerintah desa dalam memajukan usaha warga setempat,” kata Sumaryono, staf PT Telkom kepada MuriaNewsCom.

Dalam upaya pengembangan, dibagi berbagi kelompok pelatihan. Untuk satu kelompok dibagi menjadi 30 anggota. Meski itu dikhususkan bagi warga setempat, namun warga desa lain juga dapat ikut, tentu setelah ada persetujuan Koperasi desa.

Menurutnya, Desa Padurenan menjalin kemitraan dengan PT Telkom Indonesia, khususnya KSU Padurenan Jaya yang merupakan wadah dari UMKM. Khususnya UMKM bordir dan konveksi. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Loram Expo 2015 Siapkan 120 Stan UMKM

Duta Wisata Loram Kulon yang turut hadir di Loram Expo juga membantu memperkenalkan potensi daerahnya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Duta Wisata Loram Kulon yang turut hadir di Loram Expo juga membantu memperkenalkan potensi daerahnya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Sedikitnya 120 stan usaha mikro kecil menengah (UMKM) akan disedikan panita Loram Expo 2015. Pameran usaha kecil yang digelar di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, juga sekaligus untuk menyemarakkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1436 H.

Panitia Loram Expo Anis Aminuddin mengutarakan, untuk stan yang tersedia kurang lebih ada 120 tempat. Dan itupun harus mengacu pada kegiatan sebelumnya. Untuk sementara ini pendaftar sudah ada sekitar 60 pelaku UMKM. Baik dari Desa Loram ini maupun luar daerah. Dengan adanya pameran UMKM ini tentunya untuk meningkatkan kemajuan bagi pelaku usaha kecil.

”Untuk stan, nantinya kami bagi menjadi tiga tempat. Yakni Gedung Muslimat NU Loram Kulon, halaman Balai Desa Loram Kulom, dan sebelah utara Balai Desa Loram Kulon,” paparnya.

Dari informasi yang dihimpun MuriaNewsCom, acara tesebut digelar satu pekan sebelum acara maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada Kamis (24/12/2015).

”Acara ini dimulai tanggal 18 hingga 24 Desember 2015. Selain itu, untuk administrasi stan kami kenakan ada tiga kelas. Yakni yakni kelas I yang  berada dalam gedung Muslimat dikenakan Rp 250 ribu/pekan, kelas II yang berada di halaman balai desa Rp 150 ribu/pekan, serta kelas III yang ada disebelah utara balai desa Rp 125 ribu/pekan,” ujarnya.

Dia menambahkan, dari ke 120 stan yang disiapkan nantinya ada lima stan khusus yang berada di  gedung Muslimat yang diperuntukan untuk pelaku UMKM baru. Lima stan tersebut pun tanpa dipungut biaya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Belasan Ribu Pelaku UMKM di Kudus Akan Semakin Sejahtera

Pelaku UMKM di Kabupaten Kudus seolah dimanjakan dengan berbagai program yang digelar Pemkab Kudus untuk mereka. Di antaranya adalah program kredit tanpa agunan, serta pameran atau ekspo yang sering digelar.(ISTIMEWA)

Pelaku UMKM di Kabupaten Kudus seolah dimanjakan dengan berbagai program yang digelar Pemkab Kudus untuk mereka. Di antaranya adalah program kredit tanpa agunan, serta pameran atau ekspo yang sering digelar.(ISTIMEWA)

 

KUDUS – Dari data yang ada, jumlah usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Kabupaten Kudus mencapai lebih dari 14 ribuan usaha. Semuanya tersebar di sembilan kecamatan yang ada di Kabupaten Kudus ini.

Untuk itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus tidak mau main-main untuk terus mengusahakan supaya pelaku UMKM tersebut, semakin sejahtera. Beragam program digagas demi kesejahteraan mereka.

Misalnya saja dalam hal permodalan. Pemkab Kudus sudah menyediakan program Kredit Usaha Produktif (KUP) yang kemudian sangat membantu para pelaku usaha tersebut.

Program yang digagas oleh Bupati Kudus H Musthofa tersebut, memang dibuat untuk menjembatani pelaku UMKM yang kesulitan permodalan dalam mengembangkan usahanya.

Pasalnya, kredit ini adalah sebuah kredit tanpa agunan, yang akan mempermudah pelaku UMKM untuk memperoleh pinjaman, guna membesarkan usaha yang dilakukannya.

”Apa yang kemudian sudah di Kudus ini. Semua ada, tinggal kita kembangkan saja. Kalau ada potensi yang belum tumbuh, kita bantu dengan adanya KUP ini. Tidak usah pakai agunan atau jaminan yang terkadang memang memberatkan mereka. Silakan datang saja ke Bank Jateng untuk mendaftar sebagai penerima kredit,” tutur bupati.

Program KUP ini sendiri, bahkan sudah disosialisasikan ke seluruh Jawa Tengah. Beberapa kabupaten atau kota sangat mengapresiasnya, bahkan berharap pemerintah mereka juga menjalankan program ini.

Apa yang diinginkan bupati agar seluruh warganya bisa mengakses kredit ini memang tidak main-main. Bupati mempersilakan siapa saja yang berminat untuk mengajukan kredit ini. Bahkan, pedagang pasar sekalipun, terbuka untuk mendapatkan kredit.

Kemudian upaya yang dilakukan Pemkab Kudus lainnya adalah dengan menggelar berbagai macam pameran atau ekspo. Kegiatan ini memang diperuntukkan bagi pelaku UMKM yang ingin memamerkan produk mereka, sehingga bisa dilihat banyak kalangan.

Bahkan, bupati berharap ekspo diadakan setiap bulannya. Sehingga kesempatan bagi pelaku UMKM untuk ”pamer” hasil produksinya, bisa berlangsung terus menerus.
”Saya yakin bahwa inovasi dari pelaku UMKM itu memang terus berkembang setiap saatnya. Karenanya sangat patut untuk dipamerkan. Jadi, saya harap ada ekspo yang berlangsung setiap bulannya. Selain pelaku UMKM bisa memamerkan produknya, masyarakat juga akan semakin mendapatkan pencerahan untuk juga bisa membuat usaha serupa,” imbuhnya. (MERIE / ADS)

Pelaku UMKM Diajak Daftarkan Hak Cipta Produknya

Sosialisasi izin usaha mikro kecil dan hak kekayaan intelektual di Gedung Pemkab Kudus lantai 4 (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Sosialisasi izin usaha mikro kecil dan hak kekayaan intelektual di Gedung Pemkab Kudus lantai 4 (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Belakangan banyak kemudahan yang didapat kelompok Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), dalam melakukan pendaftaran hak cipta. Dari memangkas waktu, hingga lebih mudah dan cepat, bahkan sampai tidak perlu membayar alias gratis.

Penerapan hal tersebut sebagai antisipasi produk dalam negeri dijiplak pihak lain. Karena itu, pemerintah daerah diminta aktif untuk mendaftarkan hak cipta dari produk UMKM, khususnya guna keperluan ekspor.

Hal tersebut disampaikan Deputi BidangPengembangan dan Restrukturisasi Usaha Kementrian Koperasi dan UMKM BramanSetyo dalam sosialisasi izin usaha mikro kecil dan hak kekayaan intelektual di Gedung Pemkab Kudus lantai 4.

”Mereka kerap diminta untuk pameran ke luar negeri, tapi produknya justru kerap dijiplak dan diklaim. Ini yang ditakutkan, karena mereka yang diminta untuk untuk membayar hak cipta,” katanya.

Rumitnya administrasi serta lamanya pembuatan hak patentersebut membuat para pelaku usaha produktif enggan untuk mendaftarkanke Kemenkumham. Akan tetapi saat ini Kementerian Koperasi dan UMKM siapmemfasilitasi pembuatan atau pendaftaran hak paten tersebut.

“Memang saya akui bahwa pelaku usaha akan bilang mendaftarkan hakpaten tersebut sulit dan lama. Akan tetapi untuk saat ini pembuatanhak paten di Kemnkumham bisa sekitar 14 hari, dan tidak dipungut
biaya,” paparnya.

Untuk pendaftaran, katanya ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan. Yakni, KTP, produk yang diusulkan original, uraian bahan produk produk jelas dan membuat surat pernyataan tidak menjiplak. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)

Asyik! Kini Pelaku UMKM Bisa Lebih Mudah Mengakses Modal di Bank

Deputi Bidang Pengembangan dan Restrukturisasi Usaha Kementerian Koperasi dan UKM Braman Setyo (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Deputi Bidang Pengembangan dan Restrukturisasi Usaha Kementerian Koperasi dan UKM Braman Setyo (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Sebagian besar pelaku usaha mikro dan kecil, saat ini masih dihadapkan dengan persoalan klasik, yakni masih sulitnya memperoleh legalitas izin usaha. Namun, jangan khawatir, karena saat ini sudah ada program dari pemerintah yang bisa menjadi solusi terkait hal itu.

Adalah Izin Usaha Menengah Kecil (IUMK), yang merupakan program yang diterbitkan oleh Kementerian Koperasi dan UMKM.

IUMK merupakan izin usaha mikro kecil yang diberikan oleh lurah/kepala desa atau camat secara gratis serta dapat ditukarkan ke perbankan, dalam hal ini adalah BRI.Dengan sebuah kartu IUMK, nantinya dapat digunakan sebagai alat dan persyaratan untuk mengakses modal.

Deputi Bidang Pengembangan dan Restrukturisasi Usaha Kementerian Koperasi dan UKMBraman Setyo mengatakan, salah satu tujuan penerbitan kartuizin usaha tersebut, selain menjamin kepastian hukum dalam usaha, yakni bisamemberikan akses pembiayaan, akses pendampingan usaha serta akses
pemberdayaan usaha.

Menurut Braman, penerbitan IUMK tersebut sudah didasari Perpres Nomor 98 Tahun 2014 tentang Perizinan Usaha Kecil. Untuk sementara, dari 550 kabupaten , hanya 140 kabupaten yang sudah menerbitkan IUMKini.

Memang sejak awal dirancangnya IUMK tersebut, pihaknya ingin IUMK menjadi solusi bagi masalah klasik UMKM yakni perizinan usaha, permodalan, hingga pencatatan untuk kepentingan update data base pelaku usaha bagi pemerintah.

“Kami memang menggandeng perbankan yakni BRI dan Asosiasi Perusahaan Penjaminan guna mengoptimalkan fungsi IUMK yang nantinya akan dimodifikasi menjadi kartu IUMK. Jadi memang setelah mendapatkan surat izin dari lurah atau camat yang selembar itu, UMK tinggal datang ke BRI untuk mendapatkan semacam kartu IUMK yang bisa digunakan seperti kartu kredit. Jadi bisa langsung digunakan untuk mengakses modal tanpa perlu syarat lain apapun,” pungkasnya. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)

Pelaku UMKM di Kudus Diharapkan Bisa Bentuk Kelompok

Bupati Kudus H Musthofa mengajak setiap warganya untuk mengembangkan usaha atau menjadi wirausahawan. Sehingga akan bisa meningkatkan taraf perekonomian dengan baik. (ISTIMEWA)

Bupati Kudus H Musthofa mengajak setiap warganya untuk mengembangkan usaha atau menjadi wirausahawan. Sehingga akan bisa meningkatkan taraf perekonomian dengan baik. (ISTIMEWA)

 

KUDUS – Untuk lebih mengembangkan usahanya, pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Kabupaten Kudus, diharapkan bisa membentuk kelompok sesuai bidangnya masing-masing.

Pembentukan kelompok ini, akan semakin memudahkan untuk mengembangkan produksi dan pemasaran dengan baik. ”Kalau kemudian pelaku UMKM yang memiliki ketrampilan itu bisa membentuk kelompok, saya yakin mereka bisa maju bersama untuk lebih produktif,” jelas Bupati Kudus H Musthofa.

Bupati mengatakan, ada beragam program yang diluncurkan Pemkab Kudus untuk membangun pelaku UMKM. Misalnya saja dalam hal pelatihan keterampilan, yang memang sudah berlangsung beberapa tahun silam hingga sekarang.

”Dan ternyata setelah mengikuti pelatihan secara berkelompok, kesadaran, kemauan, dan semangat masyarakat pelaku UMKM itu muncul untuk semakin meningkatkan kualitas produksi,” terangnya.

Menurut bupati, jika kualitas produksi bisa meningkat, maka pemasaran produk juga akan semakin meluas. Karena dari sistem kelompok, maka akan bisa terpasarkan dari satu pihak ke pihak lainnya.

”Itu sebabnya, kelompok atau jaringan sangat penting. Dari sana, akan saling sharing satu sama lain mengenai kekurangan, kualitas, dan juga tips-tips lainnya. Sehingga pelaku UMKM akan sangat terbantu,” jelasnya.

Apalagi, saat ini sudah ada program Kredit Usaha Produktif (KUP) yang kemudian memfasilitasi pelaku UMKM yang belum tersentuh kredit dari perbankan. Sehingga ini akan mempermudah pelaku UMKM untuk bisa mengembangkan usahanya.

”Sudah ada KUP. Manfaatkan saja. Jangan ragu. Kita tahu bahwa banyak pelaku UMKM yang belum tersentuh perbankan dalam hal kredit. Karenanya kita fasilitasi dengan KUP yang tidak perlu jaminan ini,” paparnya.

Karena itu, bupati berharap apa yang sudah dilakukan pemerintah dengan memberikan berbagai macam program kepada pelaku UMKM. ”Karena itu, manfaatkan sebaik-baiknya. Jangan ragu untuk bertanya kepada dinas atau instansi terkait jika ada kesulitan,” tegasnya.

Bupati menyadari bahwa pertumbuhan UMKM yang bagus di Kabupaten Kudus ini, akan semakin mendongkrak tingkat perekonomian yang ada. Termasuk juga menekan pengangguran.

”Bayangkan kalau semua orang bisa memiliki jiwa wirausaha yang kemudian bisa mengangkat warga lain yang masih pengangguran. Maka Kabupaten Kudus akan semakin sejahtera,” imbuhnya. (MERIE)

Pelaku UMKM di Payaman Kudus Maksimalkan KUP

Pemantauan KUP dilalukan di Desa Payaman, Mejobo, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Pemantauan KUP dilalukan di Desa Payaman, Mejobo, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Pemerintah Desa Payaman, Kecamatan Mejobo, Kudus, berupaya mensukseskan program Pemerintah Kabupaten Kudus terhadap penyaluran Kredit Usaha Produktif (KUP) kepada pengusaha kecil.

Ke depannya, program KUP diharapkan bisa memberikan peningkatan perekonomian terhadap pengusaha kecil. Kepala Desa Payaman Sayudi mengatakan, program KUP itu harus dikawal. Baik itu dengan cara memantau usaha kecilnya atau memberikan arahan kepada warga supaya mereka bisa aktif pembayarannya.

“Program KUP itu dapat mensejahteraka karena dibantu untuk mengembangkan usaha kecil, jadi harus dipantau,” kata Sayudi.

Dengan adanya pemantauan tersebut, setidaknya bisa membuat para pelaku usaha kecil bersungguh-sungguh dalam menerima fasilitas KUP itu.

“Bila 35 penerima KUP itu bisa dipantau, maka pengembangan usaha kecil dari program KUP bisa dibuat contoh oleh warga lain yang berminat untuk mengajukan persyaratan tertsebut,” paparnya.

Sebenarnya program KUP itu bagus untuk warga yang memang mempunyai usaha kecil, kata Sayudi. Akan tetapi para pelaku usaha kecil tersebut juga harus bisa memanfaatkan modal tersebut.

“Terutama melakukan pembayaran secara aktif dan membesarkan usahanya dengan baik,” imbuhnya. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)

Pelaku UMKM Berharap Bisa Tampil di Pameran

Perangkat Desa Megawon saat memantau perkembangan UMKM di desa tersebut (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Perangkat Desa Megawon saat memantau perkembangan UMKM di desa tersebut (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Salah satu pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) sangkar burung Moh. Mujianto yang tinggal di RT 1 RW 1 Megawon, Kecamatan Jati mengutarakan, usaha kreatif dari warga bisa difasiltasi dalam sebuah pameran.

“meskipun usaha ini bisa melayani pembelian sampai ke luar Kudus. Akan tetapi alangkah bijaknya bila para pelaku usaha kecil ini bisa difasilitasi pihak terkait untuk menggelar pameran,” katanya.

Dengan adanya pameran, maka secara otomatis bisa membuat para pelaku usaha kecil dapat berlomba- lomba untuk menarik peminat terbarunya. Sehingga, mereka juga tidak hanya tergantung kepada pelanggan yang sudah ada.

“Biasanya para pelaku usaha kecil bisa dikenal banyak orang ya memang ikut serta pameran yang dibiayai pemrintah terkait. Sehingga teman, rekan, bahkan langganannya juga bertambah,” ujarnya.

Selain itu, lajut Mujianto, untuk mengembangkan usaha katanya,harus ada peran pemerintah, bukan hanya melulu soal uang, tetapi juga pangsa pasar. Seperti halnya melalui pameran.

Dia menambahkan, pihaknya berharap sekali dengan uluran pemerintah yang lebih mendalam lagi. Supaya para pelaku usaha kecil tetap berdiri, serta bisa mencipatakan lapangan pekerjaan untuk warga sekitar. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)

Pemdes Megawon Tetap Gerilya Pantau Perkembangan UMKM

Perangkat Desa Megawon saat memantau perkembangan UMKM di desa tersebut (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Perangkat Desa Megawon saat memantau perkembangan UMKM di desa tersebut. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Untuk mendukung kemajuan perekonomian warganya, Pemerintah Desa Megawon, Kecamatan Jati, terus memantau kemajuan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang ada di wilayahnya.

Dalam hal ini, pihak desa langsung menerjunkan perangkat desa beserta ketua RT dan RW serta tokoh masyarakat. Hal ini dimaksudkan agar pelaku usaha bisa mendapatkan arahan serta bimbingan.

Kepala Desa Megawon Nurasag menjelaskan, kegiatan tersebut bukan berarti pemdes ikut campur dalam manajemen usaha kecil yang ada di desa tersebut. Intinya, katanya, pihak desa harus tahu kemajuan tersebut. Sehingga para pelaku usaha bisa terdata dalam program Bupati Kudus terkait kredit usaha produktif (KUP).

Dirinya mengatakan, meskipun di desanya beberapa usaha kecil, seperti halnya, usaha pembuatan sangkar burung sudah realtif lancar, namun, desa tetap memiliki peran aktif agar usaha tersebut terus bertambah maju.

“Setidaknya bila kita pantau, maka sekitar 115 pengusaha sangkar burung yang ada di Megawon, khususnya di RW 2 bisa mendapatkan informasi terhadap program pemerintah kabupaten. Sehingga, di saat mereka nantinya didata untuk program tertentu, maka bisa langsung bersiap-siap menyiapkan persyaratannya,” paparnya. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)

Pelaku Usaha: Kami Butuh Bimbingan dan Modal

Usaha konveksi di Desa Peganjaran. Banyak UMKM Desa Peganjaran setuju akan pengelompokan UMKM yang dilaksanakan pemdes. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Usaha konveksi di Desa Peganjaran. Banyak UMKM Desa Peganjaran setuju akan pengelompokan UMKM yang dilaksanakan pemdes. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Salah satu pelaku usaha kecil di Desa Peganjaran, Kecamatan Bae, Juwariyah mengatakan, pihaknya setuju jika Pemdes membentuk kelompok UMKM, namun yang juga tak kalah diperhatikan yaitu bantuan modal usaha.

”Pembinaan terhadap pelaku usaha kecil supaya tidak bersaing sengit itu memang baik. Namun kami juga butuh modal, semoga dengan pengelompokan tersebut bisa lebih memperbaiki perekonomian warga di sini,” kata Juwariyah.

Menurutnya, jika hanya berupa pembinaan usaha tidak akan bisa maju. Maka sebaiknya pembinaan dan bantuan modal bisa berjalan beriringan.

Hal senada diungkapkan pengusaha lainnya Heni, yang penting langkah Pemdes  dijalankan dahulu. Yaitu membentuk kelompok usaha dan membimbing seluruh pelaku UMKM. Sehingga kedepannya bisa bersaing dengan baik. Tidak saling banting harga.

”Saya sangat antusias sekali jika diberikan bimbingan untuk pelaku UMKM. Selain menambah ilmu, juga menjadi ajang silaturahmi antar UMKM di Peganjaran,” katanya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Atasi Persaingan Sengit, Pemdes Peganjaran Bentuk Kelompok UMKM

Juwariyah salah satu pedagang toko kelontong di Peganjaran. Baginya yang terpenting adalah usaha dapat berjalan lancar dan mendapat bantuan modal untuk memperbesar usaha. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Juwariyah salah satu pedagang toko kelontong di Peganjaran. Baginya yang terpenting adalah usaha dapat berjalan lancar dan mendapat bantuan modal untuk memperbesar usaha. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Untuk mengurangi persaingan negatif diantara pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), maka pemerintah Desa Peganjaran, Kecamatan Bae memberlakukan pengelompokan pengusaha. Hal itu dilakukan untuk memantau, serta mendata usaha tersebut. Supaya tercipta pertumbuhan ekonomi warga yang baik tanpa adanya persaingan tidak sehat.

Kepala Desa Peganjaran Munaji menjelaskan, di desanya terdapat 115 UMKM, mulai toko kelontong, pedagang kecil, dan usaha konveksi. Itu yang terlihat secara kasat mata, karena masih banyak lagi usaha kecil yang baru bermunculan. Namun untuk meredam persaingan negatif diantara mereka, pemdes membuat kelompok usaha dan mendatangkan dinas terkait untuk melakukan pembinaan.

”Kami hanya sekadar mewadahi atau menengahi saja. Namun untuk pembinaannya, nanti kita datangkan dinas terakait supaya pelaku UMKM bisa diarahakan, dibina, dan dibantu permodalannya,” paparnya.

Selain itu, jika dibentuk kelmpok usaha, maka mereka bisa saling berkomunikasi dan bekerja sama memasarkan produknya. Mereka juga bisa memperbesar kinerja mereka dalam berorganisasi. Sehingga terbentuk sebuah usaha yang besar.

Dengan pengelompokkan UMKM yang disesuaikan dengan jenis usaha dan besar kecilnya usaha tersebut. Diaharapkan membuat pertumbuhan usaha kecil di wilyah Peganjaran berjalan maksimal. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Hingga September, Pemkab Kudus Lakukan Survey UMKM

Ilustrasi

Ilustrasi

 
KUDUS – Jumlah UMKM yang senantiasa bertambah membuat Kudus semakin banyak pelaku usaha. Hanya, banyaknya pengusaha yang pasang surut juga menjadi tugas tersendiri bagi pemkab Kudus. Untuk itu, hingga September dilakukan survey untuk mengetahui jumlah persis UMKM di Kudus sekarang.

Plt Kepala Dinas Perinkop dan UMKM Bambang Tri Waluyo mengatakan, pelaksanaan survey sudah dimulai pada Agustus ini. Dan diperkirakan September pelaksanan survey sudah rampung dilaksanakan.

”Nantinya dilakukan pembinaan lebih intensif mengenai UMKM di Kudus, namun sebelumnya kita bagi dulu kategori UMKM yang di Kudus sesuai dengan kelompoknya,” ujarnya.

Setelahnya, barulah diketahui kendala yang dihadapai dalam mengembangkan UMKM, apakah karena modal, persaingan atau lain sebagainya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Di Kudus, Mayoritas UMKM PKL

Ilustrasi

Ilustrasi

 

KUDUS – Belasan ribu UMKM di Kudus, sebagian besar di dominasi dari kalangan Pedagang Kaki Lima (PKL). Hal itu diyakini pemkab lantaran hampir di semua tempat terdapat PKL yang berjualan.

”Pelaku usaha jenis tersebut sangat banyak diminati karena menggunakan modal yang cenderung terjangkau. Selain itu hasil yang diperoleh juga cukup besar,” katanya Plt Kepala Dinas Perinkop dan UMKM Bambang Tri Waluyo kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, para pelaku UMKM kebanyakan terkendala dalam hal modal. Khususnya pada UMKM yang mikro. Untuk itu pemkab menyarankan dengan mengikuti Progam KUP.

Menurut dia, selain para PKL yang mengisi kelompok yang besar. Kelompok warung makan dan pertokoan juga penyumbang UMKM yang tinggi. Terlebih disemua desa dipastikan terdapat pengusaha yang membuka toko, semakin menambah data UMKM di Kudus.

”Kalau pembinaan yang kami lakukan hanya sampai pada tingkatan mikro saja. Kalau sudah menjadi kelompok usaha yang kecil, maka kami melepasnya dan membina kelompok UMKM yang mikro lainnya. Sebab kami menilai jika sudah enggel-enggel menjadi kecil modal lebih dari Rp 50 juta, berarti mereka dapat hidup. Begitu seterusnya dengan siklus yang diatur,” tuturnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Peningkatan UMKM di Kudus Makin Tinggi

Ilustrasi

Ilustrasi

 

KUDUS – Plt Kepala Dinas Perindustrian, Koperasi dan UMKM Kudus Bambang Tri Waluyo mengatakan, selama beberapa tahun terakhir ini, UMKM di Kudus meningkat pesat. Hal itu disebabkan kesadaran masyarakat dalam membuka usaha, dibandingkan dengan menjadi karyawan.

”Data yang kami miliki, sekitar 11 ribuan lebih, jumlah tersebut mulai dari 2014 lalu hingga 2015,” katanya kepada MuriaNewsCom, Selasa (18/8/2015).

Menurutnya, pada 2013 jumlah UMKM di Kudus mencapai 11.659 UMKM. Jumlah tersebut sangat meningkat jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya di 2012, yang hanya 1.500 UMKM saja.

Menurutnya, jumlah di 2012 juga mendapat peningkatan, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya di 2010, yang jumlah UMKMnya hanya sekitar 9000-an saja. Pihaknya yakin, dalam tahun-tahun berikutnya, UMKM Kudus terus meningkat.

Dia mengatakan, UMKM di Kudus dibagi menjadi beberapa kelompok. Mulai dari kelompok mikro, dengan modal dibawah Rp 50 juta, kemudian UMKM kecil. UMKM menengah dan pengusaha golongan besar.

”Kebanyakan yang terdapat di Kudus adalah kelompok UMKM mikro, didominasi para PKL yang berada di Kudus. Jadi PKL juga kami data dalam jajaran UMKM. Hanya saja mengenai jumlah persisnya kami tidak mengetahui, karena berada dalam kawasan Dinas Dagsar,” imbuhnya. (FAISOL HADI/TITIS W)