Ulat Ini jadi Kuliner Unik Ala Blora

ulat

Kuliner ulat atau ungker.

 

MuriaNewsCom, Blora – Di Kabupaten Blora terdapat jenis kuliner yang aneh. Yaitu, ulat atau kepompong. Atau disebut juga enthung/ ungker.

Kepompong berwarna cokelat tua ini berukuran satu hingga dua sentimeter. Biasanya, digoreng  atau dioseng-oseng.

Sekali Anda merasakan, rasanya akan terasa sangat gurih dan renyah. Namun terkadang makanan ini terasa gatal di lidah. Terutama jika dikonsumsi dalam jumlah banyak.

Terlebih ketika mengunyah bagian kulitnya. Bagi yang belum pernah mencoba, makanan ini akan terasa sedikit aneh di lidah dan jijik. Tapi silakan dicicipi. Rasanya tidak akan pernah kamu lupakan.

Bagi warga Blora, kepompong ulat jati yang lebih dikenal dengan sebutan ungker merupakan menu yang nikmat. Biasanya, ungker digoreng secara dioseng memakai bumbu irisan bawang, cabe hijau, tomat, daun salam dan daun kedondong.

Ungker biasanya terasa gurih dan kaya protein. Sedangkan bagi warga luar Blora, ungker dikategorikan sebagai kuliner ekstrem.

Salah satu warga Desa Sambongrejo, Kecamatan Sambong, Par mengatakan biasanya warga memasak ungker sebagai lauk. Yang lauk biasanya dimakan sendiri.   Yang lainnya, dijual ditepi jalan.

Biasanya ungker dengan ukuran gelas, tiap satu gelas dijual seharga 15.000 ribu. “Warga dari Kota Blora maupun Cepu yang biasanya mampir membeli ungker. Tidak perlu jauh-jauh menjualnya ke pasar. Cukup dijual di tepi jalan saja sudah banyak pembeli yang menghampiri,” ujar Par..

Sampai saat ini, jarang ada warung makan yang menjual menu ungker. ini, sehingga kebanyakan harus membeli mentah lalu memasaknya sendiri.

Editor : Akrom Hazami

 

Tenyata, Ulat Bulu Sudah Sepekan Serang Warga di Kudus

ulat 2

Ulat bulu di salah satu pohon di Jalan A Yani Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Wabah ulat bulu yang menyerang kawasan Jalan A Yani Kudus diperkirakan sudah hampir sepekan.

Hal itu disampaikan Plt Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kudus Edi Suprayitno. Menurutnya, lantaran waktu yang lama itulah, pihaknya menyemprot hama ulat bulu secepatnya.

“Makanya disemprotkan pestisida segera mungkin. Soalnya wabah ulat bulu sudah menyerang sepekan lamanya,” katanya.

Pihaknya sangat berterima kasih atas laporan warga. Sebab dari laporan itulah, pihaknya menindaklanjuti.

Laporan dapat dilakukan dengan cara mengirim pesan pendek (SMS) kepada petugas, atau bisa langsung datang ke kantor dinas, di kompleks perkantoran Mejobo.

“Sudah beberapa kali ada laporan ulat bulu. Berdasarkan laporan, maka kami langsung tindak lanjut dengan membasminya. Sebab itu dapat membahayakan masyarakat,” ujarnya.

Editor : Akrom Hazami