Menteri Desa Marwan Jafar Minta Ulama Jangan Tinggal Diam Melihat Kasus Korupsi

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Marwan Ja’far saat memberikan sambutan di acara manaqib kubro di JHK Kudus, Sabtu (7/5/2016). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Marwan Ja’far saat memberikan sambutan di acara manaqib kubro di JHK Kudus, Sabtu (7/5/2016). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Sebelum memukul bedug sebagai pembuka acara Jamiyyah Ahlith Thorikoh Al Mu’tabaroh An Nahdliyah se Jawa Tengah – Daerah Istimewa yogyakarta (DIY) di gedung Jami’atul Hujaj Kudus (JHK) Sabtu (7/5/2016), Marwan Jafar Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI berpesan kepada para ulama supaya bisa ikut berpartisipasi memerangi korupsi.

”Sebenarnya para ulama itu harus bisa proa aktif memerangi tindakan negatif para pejabat. Salah satunya dengan cara menyusup atau masuk ke kalangan para  pejabat untuk membujuk mereka ikut kegiatan Jam’iyyah Thorikoh,” kata Marwan.

Dia menilai, pengawasan terhadap para pejabat, politikus itu bukan hanya tugas pihak aparat penegak hukum. Namun para ulama juga harus bisa turun tangan. Yakni dengan cara mengajari mereka ilmu thorikoh (agama).

Itu dilakukan supaya tugas politikus dan pejabat bisa lurus dan tidak melanggar aturan yang ada. Hususnya pengawasan untuk penggunaan dana desa. Sehingga para ulama juga perlu untuk peran serta dalam itu.

Sementara itu, kegiatan keagamaan thoriqoh juga harus bisa disosialisaksin kepada masyarakat atau pera pejabat. Sehingga mereka bisa ikut mengaji atau thorikah. Selain itu, menrutt dia, ilmu thorikoh harus bisa bermanfaat untuk meluruskan tindakan orang lain selain yang tergabung dalam jamaah tersebut.

“Jika ilmu thorikoh itu bisa menyasar kepada warga lain selain jamaahnya, maka orang itu baik pejabat atau politikus bisa bertugas mengemban amanah rakyat dapat berjalan lurus dan tidak korupsi,” ungkapnya.

Selain itu, dirinya juga berpesan bahwa para ulama harus main poltik supaya perpolitikan yang ada di Indonesia bisa bersih.

”Para ulama itu harus bisa berpolitik, bila mereka bisa berpolitik, maka plotikus tidak akan bisa membohongi para ulama. Sementara itu, ulama juga harus bisa selalu up date berita di media. Supaya bisa tahu akan perjalanan politik. Dan kegiatan jam’iyyah thorikoh juga bisa doiinfoemasikan kepada masyarakat luas dengan menggandeng media sosial atau media (berita),” imbuhnya.

Editor: Supriyadi