UN SMP dan MTs di Jepara Diikuti 18.121 Peserta

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Ujian Nasional (UN) 2017 jenjang SMP/MTs di Jepara diikuti oleh 18.121 peserta. Sementara itu dari jumlah 192 SMP dan MTs, belum semuanya menyelenggarakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), pada Selasa (2/5/2017).

Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Jepara Ali Maftuh mengatakan, persiapan untuk UN 2017 telah dilakukan jauh-jauh hari. Hari ini Senin (1/5/2017) pihaknya menglklaim semua persiapan telah mencapai tahap akhir dan berlangsung lancar. “Kalau persiapan, hari ini berjalan lancar tidak ada masalah,” ujarnya. 

Ia menyebut, UN untuk jenjang SMP diikuti oleh 9.934 siswa. Jumlah itu terdiri dari 2.797 siswa pengikut UNBK, sedangkan sisanya sebesar 7.137 mengikuti Ujian Nasional berbasis Kertas Pensil (UNKP). 

Sementara itu di jenjang MTS, peserta UN adalah 8.187. Mereka terdiri dari 1.771 peserta yang mengikuti UNBK dan 6.416 pengikut UNKP. “Adapun sekolah yang menyelenggarakan UNBK masih sedikit. Untuk SMP sebanyak 18 sekolah dan MTS 11 sekolah,” ujar Maftuh. 

Untuk sekolah yang menyelenggarakan UNKP, di SMP terdapat 69 sekolah sedangkan Madrasah Tsanawiyah ada 94 sekolah.

Editor : Kholistiono

Beberapa SMP dan MTs di Jepara Belum Bisa Selenggarakan UN Mandiri

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Beberapa siswa SMP/MTs di Jepara terpaksa mengikut ujian nasional di sekolah lain. Hal itu lantaran, sekolah belum bisa menyelenggarakan ujian nasional (UN) secara mandiri. 

Hal itu diungkapkan Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Jepara Ali Maftuh, Senin (1/5/2017). Menurutnya, hal itu terjadi karena sebagian sekolah belum mendapatkan akreditasi. Mereka adalah sekolah yang relatif masih baru. Hal lain yang menyebabkan adalah, kurangnya siswa kelas IX yang mengikuti ujian.

“Banyak hal yang menyebabkan hal itu, yang menentukan dari badan asesor negara. Kalau dia sudah terakreditasi walaupun C, dia bisa menyelenggarakan ujian nasional sendiri. Biasanya adalah sekolah yang relatif masih baru sekitar lima tahun, tiga tahun,” katanya. 

Catatan Disdikpora Jepara, tahun 2017 dari jumlah 87 SMP se-Kabupaten Jepara hanya 79 di antaranya yang melaksanakan UN. Sementara di jenjang MTS, dari jumlah 105, hanya 90 yang menggelar ujian nasional.

Terkait siswa yang tak bisa mengikuti ujian di sekolahnya sendiri, Maftuh menyebut tak menjadi soal. Hal itu karena siswa yang bersangkutan tak perlu pergi ke luar daerah yang jauh untuk berujian nasional. 

“Misalnya, sekolah asalnya di Donorojo, ya dia (siswa) bisa memilih yang menyelenggarakan ujian nasional di dekat daerah itu,” tambahnya.

Di samping itu, mekanisme ujian nasional sudah ditentukan oleh sekolah yang menjadi induk. “Kalau menggabung ke sekolah lain, yang bertanggung jawab yang digabungi. Mulai dari penyediaan ruang kelas dan sebagainya,” jelas Maftuh.

 Editor : Kholistiono

Disdik Rembang Imbau Agar Pihak Sekolah Tetap Gelar Simulasi UN

Muttaqin, Kabid Kurikulum pada Dinas Pendidikan Rembang. Dirinya menegaskan, bahwa pihak sekolah diminta untuk tetap melaksanakan try out terkait ujian nasional. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Muttaqin, Kabid Kurikulum pada Dinas Pendidikan Rembang. Dirinya menegaskan, bahwa pihak sekolah diminta untuk tetap melaksanakan try out terkait ujian nasional. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Meski ada wacana dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan menghapus pelaksanaan ujian nasional (UN), namun Dinas Pendidikan (Disdik) Rembang tetap mewajibkan setiap sekolah untuk menggelar simulasi ujian.

Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang (Kabid) Kurikulum pada Dinas Pendidikan Rembang Muttaqin. Menurutnya, simulasi ujian nasional tersebut, bisa memberikan motivasi kepada semua siswa.

“Try out atau simulasi akan tetap dilakukan. Sepanjang belum ada surat edaran resmi dari Kemendikbud, tentang penghapusan ujian nasional, maka kita akan mewajibkan pihak sekolah menjalankan simulasi UN. Supaya siswa terus terpacu semangatnya,” kata Muttaqin.

Sementara itu, pihaknya juga akan terus berusaha untuk bisa selalu berkoordinasi, berkomunikasi terhadap semua kepala sekolah terkait ujian nasional. “Misalkan saja, tahun kemarin ada keputusan bahwa kelulusan siswa itu bukan dilihat dari nilai UN, namun berdasarkan nilai raport. Hal itu malah disambut siswa dengan santai. Apalagi ini ada wacana penghapusan UN, sehingga, kita akan terus memompa motivasi kepada seluruh siswa untuk selalu belajar, belajar dan belajar,” ungkapnya.

Dia menambahkan, pihak sekolah diminta tetap menjalankan simulasi UN, sebab, jika nantinya pelaksanaan UN tidak jadi dihapus, maka, siswa sudah siap dengan adanya try out tersebut. “Namun bila jadi dihapus, maka mereka juga tak kaget. Sebab segala cara, baik try out atau lainnya sudah dijalankan dengan baik dan maksimal,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Selama US, Disdikpora Kudus Ogah Fasilitasi Ujian di Rumah

Sekretaris Disdikpora Kudus, Hartono. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Sekretaris Disdikpora Kudus, Hartono. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Banyaknya siswa yang sakit dan terpaksa mengikuti US Susulan lantaran tidak ada pilihan lain ternyata memiliki banyak sebab. Selain tak bisa mengerjakan maksimal karena sakit, pihak Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kudus enggan menggelar US di rumah.

Sekretaris Disdikpora Kudus Hartono mengatakan, untuk dapat melakukan ujian di rumah terdapat banyak persyaratan yang harus siikuti. Selain keinginan siswa, dokter dan pihak penyelenggara juga harus tahu jauh-jauh hari.

”Jadi tidak bisa mepet. Kalau sakit dan mau ujian ya harus bilang jauh hari dan tidak mepet. Sehingga panitia dapat menyiapkan segala sesuatunya,” ungkapnya kepada MuriaNewsCom, Senin (23/5/2016)

Ia menyebutkan, karena sakit yang tak terduga-duga, US tahun ini ada beberapa siswa yang mengerjakan US dengan tertatih-tatih. Salah satunya di MI Muhamadiyah 1 Kudus, dua orang siswa terpaksa mengikuti ujian dalam keadaan sakit. Setelah pihak sekolah konsultasi dengan UPT, jawaban UPT Pendidikan agar siswa yang sakit untuk ikut susulan saja, sebab tidak bisa untuk UN di rumah.

Mendengar hal itu, pihak sekolah membicarakan dengan siswa yang terkait. Lantaran ingin menjalankan ujian, akhirnya memilih UN di sekolah bersama dengan teman temannya.

”Dengan adanya US susulan, maka siswa dapat benar-benar pulih dulu. Sedangkan masih disediakan susulan bagi siswa yang memang berhalangan,” katanya

Dia menambahkan kalau melaksanakan Ujian di rumah, panitia juga harus menyiapkan pengawas lebih. Hal itu harus dipersiapkan  lebih awal untuk hal itu.

Editor: Supriyadi

BACA JUGA: 9 Siswa di Kudus Ikuti US Susulan

9 Siswa di Kudus Ikuti US Susulan

Sekretaris Disdikpora Kudus, Hartono. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Sekretaris Disdikpora Kudus, Hartono. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Sembilan siswa Sekolah Daar (SD) di Kabupaten Kudus terpaksa mengikuti Ujian Susulan (US) mulai hari ini. Kesembilan siswa harus mengerjakan ujian secara pribadi, untuk mendapatkan kelulusan.

Sekretaris Disdikpora Hartono mengatakan, kesembilan siswa tersebut terpaksa mengikuti US susulan karena sakit. Hanya, dari sembilan siswa itu, ada yang hanya mengikuti US susulan dalam satu mata pelajaran dan ada pula yang mengikuti di semua mata pelajaran.

”Sembilan siswa yang mengikuti US susulan berasal; dari berbagai sekolah. Semuanya tidak bisa mengikuti US lantaran sakit, dengan bukti surat dokter. Karena itu, kami beri kesempatan untuk mengikuti ujian susulan,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Ia menyebutkan, untuk hari ini, Senin (23/5/2016), pada mata pelajaran Bahasa Indonesia hanya ada dua siswa yang mengikutinya. Yakni pada siswa SD 3 Gondosari dan siswa MI NU Attanbiyatul Islamiyah.

Sedangkan, yang mengikuti semua mata pelajaran di tiga hari ke depan, di antaranya SD 3 Megawon, SD 1 Jojo, SD 1 Jati Wetan dan beberpa SD lainnya. Sedangkan yang SD Jurang, hanya mengikuti pada hari terahir rabu mendatang saja.

”Masing masing ada satu siswa untuk tiap sekolah. Modelnya sama dengan US sebelumnya, yakni mengerjakan pada ruangan khusus yang disediakan sekolah,” ungkapnya.

Dia berharap, meski mengerjakan soal sendiri, namun hasil yang didapat tetaplah maksimal. Terlebih peseta US susulan dapat kelonggaran dengan waktu belajar yang lebih lama, sehingga mampu persiapan lebih.

Editor: Supriyadi

Selain DB, 1 Siswa MI Muhammadiyah Kudus Juga Diserang Typus

Para peserta Ujian Sekolah serius mengerjakan ujian. (MuriaNewsCom)

Para peserta Ujian Sekolah serius mengerjakan ujian. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Dinda Hamidah ternyata bukan satu satunya siswa di MI Muhammdiyah yang sakit dalam menghadapi ujian. Namun ada satu anak lagi yang sakit typus saat mengikuti ujian, yakni Amalia Khansa.

”Kalau Amalia rawat jalan, dan keduanya sudah ada surat keterangan dokter diperkenankan ikut US,” kata kepala MI Muhammdiyah 1 Kudus Saiful Umam, Kamis (18/5/2016)

Terkait hal itu,  ada pengawasan khusus yang disiapkan pihak sekolah seperti diberi dispensasi tidak ikut les. Karena, siswa lainnya setelah US masih ada les untuk persiapan ujian madrasah (UM).

Saiful menjelaskan, sebelum US ada ujian UM yang dilaksanakan Jumat (13/5/2016) dan Sabtu (14/5/2016) lalu. Dan, dilanjutkan Kamis (19/5/2016) sampai Sabtu (21/5/2016).

Dia menambahkan, Biasanya jadwal UM tidak bebarengan dengan US, hal ini dikarenakan bulan Juni sudah puasa sehingga dipadatkan. Hal itu juga yang membuat siswa lebih padat dalam proses pembelajaran.

Berserakan informasi yang didapat, peseta absen dalam US sejumlah empat siswa. Semuanya lantaran sakit sehingga akan mengikuti ujian susulan.

Editor: Supriyadi

Hari Pertama, Belasan Ribu Siswa SD di Kudus Berjuang Hadapi Bahasa Indonesia

Kabid Dikdas pada Disdikpora Kudus Kasmudi. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Kabid Dikdas pada Disdikpora Kudus Kasmudi. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Hari ini, Ujian Sekolah (US) untuk SD/ MI dimulai. Pada hari pertama, mata ujian yang dihadapi siswa jelas VI adalah Bahasa Indonesia.

Kabid Dikdas pada Disdikpora Kudus Kasmudi mengatakan, US dilaksanakan selama tiga hari dengan masing masing satu mata ujian. Di hari pertama dimulai dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia, kemudian Matematika dan terakhir IPA.

“Itu merupakan jadwal yang kami peroleh, sehingga tiap sekolah akan sama,” katanya kepada MuriaNewsCom

Meski jadwal selalu, lanjutnya, pihaknya memastikan keamanan naskah US selalu terjaga. Apalagi, masing-masing sekolah baru diperbolehkan mengambil soal US pada hari H. ”Pagi ini, semua sekolah dasar di Kudus baru dapat mengambil naskah soal sebelum ujian dilaksakan,” ujar Kasmudi.

Selain itu, soal yang diambil juga juga hanya satu mata ujian saja. Yakni mata ujian yang saat itu dikerjakan. Sehingga, pada esok hari saat ujian hari kedua dan ketiga tiap sekolah akan melakukan hal yang sama.

”Mudah mudahan berjalan dengan lancar, tidak ada halangan yang sampai menganggu pelaksanaan Ujian. Bagaimanapun meski tidak menjadi penentu kelulusan namun ini tetaplah ujian,” ujarnya

Dia mengimbau kepada sekolah agar dapat menjaga siswanya agar dalam.kondisi prima, sehingga, dalam mengerjakan soal dapat hasil yang maksimal pula.

Untuk diketahui, ujian sekolah tahun ini, jumlah siswa yang siap mengikuti mencapai 13.382 siswa. Jumlah itu meliputi 440 SD dengan jumlah siswa 9.900 dan 135 MI dengan jumlah siswa 3.488 siswa.

Sementara, untuk SDLB tahun ini diikuti oleh empat siswa saja. Keempat siswa tersebut terdapat di tiga SDLB se Kudus.

Editor: Supriyadi

BACA JUGA: Lembar Soal Diterima Disdikpora, 13.382 Siswa SD di Kudus Siap Ikuti US

Tak Usah Khawatir Bocor, Naskah US Dijaga Ketat Polisi Bersenjata

Petugas Disdikpora mencoba menata soal US SD sederajat yang diterima dinas, Jumat (13/5/2016) siang tadi. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Petugas Disdikpora mencoba menata soal US SD sederajat yang diterima dinas, Jumat (13/5/2016) siang tadi. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom Kudus – Naskah soal Ujian Sekolah (US) SD sederajad yang dilangsungkan pada Senin mendatang, telah sampai di Kudus siang tadi. Pengawalan petugas kepolisan nampak dalam pendistribusian soal.

Seperti soal ujian sebelumnya, pengiriman soal dikawal oleh petugas kepolisan dengan dilengkapi senjata lengkap.

Sekretaris Disdikpora Hartono mengatakan, pendistribusian soal menang dikawal petugas kepolisan. Hal itu dilakukan untuk menjamin keamanan naskah mulai dari pertanian hingga kabupaten kota masing masing.

”Memang setiap pengiriman soal ada petugas. Mulai dari SMA, SMP hingga soal US untuk SD ini. Jadi kepolisian memang mengamankan,” katanya kepada MuriaNewsCom, Jumat (13/5/2016)

Petugas Kepolisan ditugaskan dalam mengamankan naskah UN. Petugas bersenjata juga mendampIngi dalam pendistribusian soal dan duduk dalam mobil pengiriman.

Bukan hanya sampai di Kudus saja, namun pula sesampainya di Kudus juga dikawal oleh petugas kepolisan bersenjata. Petugas akan disiagakan selama soal datang dan hingga didistribusikan ke sekolah.

”Senin baru didistribusikan ke sekolah. Itupun untuk mata pelajaran yang diujikan saja. Sedangkan untuk yang lain tidak,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Lembar Soal Diterima Disdikpora, 13.382 Siswa SD di Kudus Siap Ikuti US

Ratusan boks soal Ujian Sekolah SD Sederajat sampai di Disdikpora Kudus, Jumat (13/5/2016) siang. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Ratusan boks soal Ujian Sekolah SD Sederajat sampai di Disdikpora Kudus, Jumat (13/5/2016) siang. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Puluhan ribu lembar soal Ujian Sekolah (US) dan ujian madrasah sudah sampai di Disdikpora Kudus, Jumat (13/5/2016) siang tadi. Belasan ribu soal tersebut akan digunakan dalam ujian tingkat SD-MI mulai Senin (16/5/2016) mendatang.

Kabid Dikdas pada Disdikpora Kudus Kasmudi mengungkapkan, jumlah soal yang datang sangat banyak. Sebab jumlahnya melebihi jumlah siswa lantaran ada cadangan serta naskah soal ujian susulan.

”Terdapat 575 utama box, untuk ujian sekolah. Sedangkan untuk susulan sejumlah tujuh kardus dan untuk peserta ujian paket A satu buah kardus,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya soal sampai di Kudus memang sudah cukup siang, yakni sekitar pukul 13.00 WIB. Itu lantaran soal yang dicetak di Gresik jaraknya cukup jauh untuk ke kudus. Meski begitu, soal sampai di Kudus dengan kondisi selamat.

”Yang penting soal yang datang sudah sesuai dengan berita acara,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pada ujian sekolah tahun ini, jumlah siswa yang siap mengikuti mencapai 13.382 siswa. Jumlah itu meliputi 440 SD dengan jumlah siswa 9.900 dan 135 MI dengan jumlah siswa 3.488 siswa.

Sementara, untuk SDLB tahun ini diikuti oleh empat siswa saja. Keempat siswa tersebut terdapat di tiga SDLB se Kudus.

Untuk mata ujian, Belasan Ribu Siswa SD akan mengerjakan soal selama tiga hari. Pada Senin (16/5/3016) mendatang, siswa akan mengerjakan Bahasa Indonesia, pada Selasa Matematika dan Rabu IPA.

”Kalau ujian susulan dilakukan mulai Senin 23 Mei mendatang. Namun mudah mudahan tidak ada yang ikut susulan,” imbuhnya .

Editor: Supriyadi

Jangan Sedih, Peserta UN Paket B di Kudus yang Tak Lulus Bisa Mengulang Tahun Depan

Para peserta Ujian Nasional kejar paket B melakukan ujian dengan serius. (MuriaNewsCom)

Para peserta Ujian Nasional kejar paket B melakukan ujian dengan serius. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Meski dipastikan tidak dapat lulus tahun ini dalam kejar Paket B, peserta UN tersebut masih memiliki kesempatan mengikuti UN lagi. Sebab, tahun depan peserta yang tahun ini absen dapat mengikuti ujian.

Hal itu sudah menjadi aturan pemerintah. Sehingga, mereka yang masih tetap mengizinkan ijazah dan lulus dapat mengikuti UN pada tahun berikutnya.

Kabid Pendidikan Non Formal Informal pada Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kudus Moch Soleh, mengatakan UN Paket B tahun depan masih dilaksanakan. Sehingga dapat dimanfaatkan untuk mengikuti ujian.

”Itu cara satu satunya. Jadi silakan nanti dapat berkoordinasi dengan LKBM masing masing agar dapat mengikuti UN pada tahun depan,” katanya.

Terkait hal itu, tugas LKBM juga bertambah. Mengingat para peserta juga masih takut meminta izin, sehingga dia menginstruksikan kepada LKBM supaya lebih memotivasi peserta agar dapat mengikuti UN.

Pada pelaksanan UN kejar paket tahun ini, terkumpul peserta sejumlah 117 peserta. Ratusan peserta tesebut tersebar di lima rayon di Kudus dengan delapan satuan pendidikan.

”Para peserta itu mengikuti UN selama tiga hari dengan dua mata pelajaran. UN juga dimulai sore dengan jam 13.30 hingga 18.00,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

8 Peserta UN Paket B di Kudus Tak Lulus

Kabid Pendidikan Non Formal Informal pada Disdikpora Kudus Moch Soleh. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Kabid Pendidikan Non Formal Informal pada Disdikpora Kudus Moch Soleh. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Delapan siswa paket B yang mengikuti Ujian Nasional (UN), dipastikan tidak lulus tahun ini. Semuanya tidak lulus lantaran tidak mengikuti UN, karena lebih memilih mundur dari pada mengerjakan soal.

Kabid Pendidikan Non Formal Informal pada Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kudus Moch Soleh mengatakan, delapan siswa dari kejar paket B yang mundur dari UN,  dengan alasan bekerja. Baik itu bekerja sebagai buruh pabrik, buruh lepas, hingga ikut suami merantau.

Padahal, lanjutnya, perusahaan sudah melakukan komunikasi dengan dinas dengan memberikan izin mengikuti UN. Namun, ia menduga sebagai karyawan, mereka terlalu takut jika meminta izin sehingga memilih absen.

”Mereka pilih bekerja ketimbang mengikuti UN. Jadi tidak bisa mengikuti UN semenjak hari pertama hingga hari ini,” kata Soleh, kepada MuriaNewsCom.

Otomatis, dengan tidak mengikuti UN maka tidak dapat lulus. Sebab syarat kelulusan adalah mengikuti UN tidak dapat dipenuhi oleh para peserta UN kejar paket B.

Sholeh menambahkan, kedelapan peserta itu berasal dari berbagai tempat. Yakni warga Desa Dukuhwaringin Dawe satu orang, warga Desa Jepang lima orang dan dua orang lainnya berasal Kaliwungu.

”Itu sudah menjadi pilihan mereka, jadi tidak dapat berbuat apa apa. Kecuali kalau sakit, dengan dilengkapi surat dokter dapat diupayakan mengikuti susulan,” ungkapnya.

Editor: Supriyadi

Peserta UN Paket B di Kudus Ini Kerjakan Ujian Sambil Menyusui

Para peserta UN Paket B mengerjakan soal UN di TPQ Desa Garung Kidul. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Para peserta UN Paket B mengerjakan soal UN di TPQ Desa Garung Kidul. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Semangat belajar yang ditunjukkan peserta paket B di LKBM Karangturi patut diacungi jempol. Ini antaran dalam mengikuti ujian yang dilangsungkan di TPQ Desa Garung Kidul tersebut sampai membawa anak untuk disusui.

Hal itu disampaikan ketua LKBM Karangturi Hadi Prawoto. Menurutnya dalam mengikuti ujian para peseta sangat semangat dan serius. Seperti halnya peserta asal desa setempat yang sampai membawa anak untuk mengikuti ujian.

”Ada tadi, ibu-ibu yang membawa anaknya. Bahkan sampai menyusui dulu sebelum mengerjakan soal, hingga akhirnya adiknya mengajak pulang sang bayi,” katanya kepada MuriaNewsCom

Pihak pengelola memperbolehkan hal itu lantaran tidak menunggu. Itu pun tidak lama dan langsung mengerjakan soal seperti peserta lainnya.

Dia mengatakan, rata rata peserta UN Paket B kisaran usia 30an. Mereka yang bergantung memilih paket B bervariatif, ada yang alasan ekonomi, pekerjaan dan ada pula yang dikeluarkan lantaran kenakalan waktu sekolah.

Meski demikian, hal itu sudah tidak ditunjukkan lagi. Sebab para peserta sangat serius mengikuti paket B itu. Hal itu juga ditunjukkan dengan kepatuhan yang dilaKukan oleh para peseta.

”Mereka diminta membawa sepatu ya dibawa, diminta memakai seragam ya pada memakai seragam. Mereka sangat serius,” imbuhnya.

Tidak hanya itu, kata dia sedikit nya 80 persen peserta juga berencana melahirkan ke paket C. Dia berharap semuanya dapat melanjutkan serta ilmu dan ijazah yang didapat dapat bermanfaat.

Editor: Supriyadi

Hebat, Siswa SMAN 1 Cepu Ini Raih Nilai UN Tertinggi untuk Mata Pelajaran IPA

Para peserta UN SMA saat mengikuti UN pekan lalu. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Para peserta UN SMA saat mengikuti UN pekan lalu. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – SMAN 1 Cepu patut berbangga. Pasalnya, hasil nilai ujian nasional tertinggi jurusan IPA di Kabupaten Blora diraih oleh Bulqis Ines Sakinah dengan nilai ujian nasional (UN) kolektif 520,5.

Sedangkan untuk terbaik kedua diraih oleh Dinar Limarwati dengan nilai Un kolektif 514,0 dan  tempat ketiga diraih oleh Luqman Hasan Nahari dengan nilai UN kolektif 494,5. Keduanya merupakan siswa SMA N 1 Blora.

Aunur Rofiq, Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Blora mengatakan, nilai tersebut didapat dari hasil rekap seluruh peserta ujian tingkat SMA se-Kabupaten Blora. ”Hasil itu berdasarkan rekap yang dilakukan dinas. Saat ini di mata pelajaran IPA, memang diraih Bulqis,” katanya.

Ketiga siswa tersebut patut diacungi jempol. Sebab, ia mampu menunjukkan taringnya dari segi kognitif. Tercatat, ada 9110 peserta UN tingkat SMA sederajat yang masuk dalam daftar nominasi tetap. Itu artinya, ketiga siswa tersebut mampu bersaing diantara ribuan siswa yang lain.

”Nilai memang memperngaruhi lulus atau tidaknya siswa dalam menempuh jenjang pendidikan. Namun, tidak seluruhnya, sebab, ada indikator lain. Jadi, selain siwa harus mampu secara kognitif. Juga harus memiliki sikap baik,” ujarnya.

Sementara itu, untuk nilai siswa dari jurusan IPS dan bahasa pihaknya masih melakukan rekapitulasi. ”Untuk hasil IPS dan bahas masih belum bisa dikatakan final, masalahnya untuk hasil dari jurusan bahasa dan IPS masih belum kami rekap. Jadi, masih belum diketahui nilai tertinggi,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Ikut Suami Merantau, 2 Peserta UN Paket B di Kudus Absen

Para peserta Ujian Nasional kejar paket B melakukan ujian dengan serius. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Para peserta Ujian Nasional kejar paket B melakukan ujian dengan serius. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Sejumlah dua peserta UN Paket B dari LKBM Karangturi memilih absen mengikuti UN tahun ini. Mereka berhenti, lantaran memilih mengikuti suami mereka yang bekerja merantau.

Hal itu disampaikan ketua LKBM Karangturi Hadi Prawoto. Menurutnya dua siswa peserta UN kejar paket yang diterimanya absen sekitar sebulan lalu. Hal itu lantaran mereka ikut merantau bersama suaminya.

”Keduanya perempuan, yang satu ke luar Jawa dan satunya lagi ke Jawa Timur. Keduanya bekerja membantu suaminya di sana,” katanya kepada MuriaNewsCom, Selasa (10/5/2016)

Ia pun menyayangkan atas apa yang dilakukan keduanya. Ini lantaran, waktu ujian terbilang cukup singkat untuk mendapatkan sebuah ijazah setelah mengikuti ujian.

Sebelumnya, kedua peserta UN yang absen juga sudah mengikuti pembelajaran cukup lama. Bahkan, mereka juga sudah melakukan try out sebanyak tiga kali.

”Di sini ada 24 peserta, namun karena dua absen jadi tunggal 22 saja. Dalam UN menggunakan dua ruangan milik madrasah di Desa Garung Kidul,” imbuhnya.

Desa Garung Kidul dipilih lantaran semua peserta kejar paket adalah berasal dari Garung Kidul. Tahun ini pula, merupakan UN terkahir kejar paket B di desa tersbeut.

Editor: Supriyadi

Hebat, Sudah Lulus S1, Wanita di Jepara ini Ikuti UN Kejar Paket B

Peserta UN kejar paket B di SD Panggang 02 Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Peserta UN kejar paket B di SD Panggang 02 Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Ada yang menarik dari pelaksanaan Ujian Nasional (UN) paket B di SD Negeri Panggang 02 Jepara. Pasalnya, ada seorang wanita yang telah lulus Sarjana Strata Satu (S1) justru menjadi peserta UN Paket B.

Dia adalah Listiyani (39), warga Desa Sinanggul Kecamatan Mlonggo Jepara. Dia menjadi peserta UN layaknya belasan peserta lainnya, meski telah memiliki ijazah S1. Tak hanya telah memiliki ijazah S1, Listiyani juga berstatus sebagai seorang guru, namun tak malu mengikuti UN kejar paket B.

Ketika ditanya mengapa dia mengikuti UN kejar paket B ini, dia mengaku terpaksa mengikuti UN kejar Paket B lantaran ijazah SD dan SMPnya terbakar.

“Terpaksa mengikuti UN kejar paket B agar dapat mengikuti proses sertifikasi bagi guru. Saya sudah lulus S1 dan sekarang sudah mengajar di MTs,” ujar Listiyani, Senin (9/5/2016).

Listiyani menceritakan, sebelumnya dirinya telah berusaha untuk meminta surat keterangan pengganti ijazah dari sejumlah intansi. Namun, dokumen pengganti tersebut tidak dapat dijadikan berkas syarat pendukung sertifikasi guru.

“Mengikuti ujian ini tidak ada persiapan apa-apa, hanya persiapan mental saja,” kata Listiyani.

UN Kejar Paket B akan berlangsung selama tiga hari. Pada hari pertama UN, mata pelajaran yang diujikan PKn dan Bahasa Indonesia. Setiap mata pelajaran, peserta diberi waktu 120 menit untuk mengerjakan soal-soal.

Editor: Supriyadi

SMP 1 Kudus Pastikan UNBK Tak Terganggu

Peringatan untuk tetap tenang terpampang jelas di salah satu pintu masuk ke ruangan SMP 1 Kudus karena siswa sedang mengerjakan UNBK. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Peringatan untuk tetap tenang terpampang jelas di salah satu pintu masuk ke ruangan SMP 1 Kudus karena siswa sedang mengerjakan UNBK. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Meski sempat terdapat gangguan dua komputer mati, namun pihak sekolah mengklaim pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tak ada gangguan. Apalagi, matinya komputer sudah diatasi dalam hitungan menit.

Kepala SMP 1 Kudus Achsan Noor mengunggulkan, pihaknya dalam mempersiapkan SMP 1 Kudus ke UNBK tidaklah mudah. Mulai dari komputer juga yang digunakan siswa juga sudah disiapkan jauh lebih banyak dari peserta di ruangan.

”Setiap ruang yang digunakan untuk UNBK, komputernya pasti kami kasih lebih. Tidak hanya satu dua, namun kami lebihkan hingga empat komputer. Hal itu untuk antisipasi adanya gangguan,” katanya

Dalam UNBK tahun ini, SMP 1 Kudus menggunakan empat ruangan dengan masing masing ruangan 30 komputer. Sedangkan, tiap ruang yang digunakan hanya 26 komputer, sesuai dengan kebutuhan kelas.

Menurutnya, selain menyiapkan komputer cadangan, hal yang dilakukan sekolah juga menyediakan genset. Satu genset disiagakan sekolah selama UNBK berkapasitas 50 ribu watt.

Selain genset, sekolah juga menyiapkan internet agar lancar dan stabil. Karena, UNBK juga mengandalkan stabilnya internet yang digunakan siswa.

”Sebenarnya kami juga sudah menyurati PLN dan pihak Telkom. Agar selama UN tidak ada gangguan sehingga dapat berjalan dengan lancar,” ungkapnya.

Mengenai UNBK, dia mengaku siswa lebih menyukainya. Dengan waktu yang lebih efisien sehingga mampu membuat dalam mengerjakan UN lebih lancar dan cepat.

Editor: Supriyadi

BACA JUGADiduga Korslet, 2 Komputer UNBK SMP 1 Kudus Tiba-tiba Mati 

Bupati Blora Ajak Siswa SMP Junjung Tinggi Kejujuran saat UN

Djoko Nugroho, Bupati Blora, saat meninjau pelaksanaan UN di SMP N 1 Menden. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Djoko Nugroho, Bupati Blora, saat meninjau pelaksanaan UN di SMP N 1 Menden. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Hari pertama Ujian Nasional (UN) tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) sederajat menjadi momen tersendiri bagi Bupati Blora, Djoko Nugroho. Orang nomor satu di Blora tersebut menyempatkan diri meninjau pelaksanaan UN di SMP Negeri 1 Menden.

Dalam kesempatan tersebut Djoko menekankan, dalam mengerjakan soal saat UN yang terpenting adalah kejujuran dan percaya diri. Tanpa itu, tak ada gunanya UN digelar.

”Saya harap siswa bisa jujur dalam mengerjakan soal,” kata Djoko Nugroho (9/5/2016)

Selain itu, ia berharap, agar siswa yang saat ini sedang melaksanakan UN bisa lulus semua dengan hasil nilai yang memuaskan. ”Nilai yang mereka dapatkan saya harap dari hasil mereka sendiri, bukan dari hasil curang,” imbuhnya.

Ia melanjutkan, bahwa UN merupakan evaluasi akhir yang harus dilalui setiap pelajar agar mengetahui sejauh mana kemampuan selama menempuh pendidikan formal. “Agenda tahunan ini saya harap siswa tidak menjadikannya momok. Namun, menjadi penyemangat dengan mensiasatinya dengan belajar yang giat,” pengkasnya.

Dalam tinjauan tersebut, Kokok, sapaan akrab Djoko Nugroho, didampingi oleh Achmad Wardoyo, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga kabupaten Blora. Setelah meninjau pelaksaan UN di SMP Negeri 1 Menden Kokok juga menyempatkan diri meninjau pelaksanaan UN di  SMP Negeri Kedungtuban.

Editor: Supriyadi

Guru di Kudus Dengarkan Ini, UNBK Bukan untuk Adu Gengsi

Para peserta UN SMP sedang mengerjakan UNBK, Senin (9/5/2016). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Para peserta UN SMP sedang mengerjakan UNBK, Senin (9/5/2016). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Meski UNBK memiliki segudang keunggulan ketimbang Ujian Nasional (UN) tertulis atau Paper Based Test (PBT), namun untuk dapat mengikuti UN secara online itu tidaklah mudah. Sebab selain syarat yang disiapkan, sekolah juga harus merogoh kocek mahal lantaran biayanya sangat mahal.

Kepala Dinas pendidikan Jateng Nurhadi Amiyanto berpesan untuk sekolah jangan terlalu memaksakan untuk mengikuti UNBK. Sebab diakuinya untuk mempersiapkan saja membutuhkan anggaran yang tidak sedikit

”Kalau memang sekolah tidak bisa ya tidak masalah, hal ini bukanlah sebuah kewajiban yang harus dipenuhi oleh pihak sekolah,” katanya kepada MuriaNewsCom

Besarnya biaya dapat terlihat dari fasiltas yang dibutuhkan. Mulai dari komputer yang minimal sepertiga jumlah siswa, kemudian ditambah lagi fasiltas internet yang mumpuni juga menjadi tambahan biaya.

Dengan demikian sekolah tidak usah gengsi jika tidak menggunakan UNBK. Sebaliknya, UNBK bukanlah untuk gaya gayaan atau gengsi semata.

“Sekolah itu untuk belajar dan mencari ilmu. Jadi bukan untuk gaya gayaan apalagi gengsi,” ujarnya.

Terlebih lagi, jika sekolah sampai menarik iuran untuk UNBK. Hal itu tidak dapat dilakukan lantaran tidak sesuai prosedur. Bahkan, pengadaan UNBK dari dana BOS juga tidak diperbolehkan karena bukan operasional sekolah.

”Banyak sekolah yang belum UNBK, ada 83.163 sekolah se jawa tengah yang masih belum UNBK. Itu tidak menjadi persoalan,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Kemenag Kudus: Motivasi Nilai UN Jangan Dipaksakan

Salah satu spanduk menghadapi UN terpampang jelas di MTs N 1 Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Salah satu spanduk menghadapi UN terpampang jelas di MTs N 1 Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kepala Kemenag Kudus Hambali menilai apa yang dilakukan oleh MTs N 1 Kudus dengan memberikan hadiah umroh dan motor kepada peraih hasil UN terbaik memang menjadi hal yang positif. Karena itu, ia meminta sekolah yang lain untuk meniru hal tersebut sesuai kemampuan masing-masing.

”Memotivasi siswa sangatlah penting, namun tidak harus juga dengan yang mahal. Melainkan disesuaikan dengan kebutuhan sekolah,” katanya kepada MuriaNewsCom

Menurutnya, kemampuan sekolah satu dengan lainnya berbeda. Dan cara memotivasi siswa juga sangat banyak, tidak hanya dengan memberikan hadiah yang mewah.

”Sebenarnya cara mendapatkan hasil UN terbaik juga sudah dilakukan kebanyakan madrasah. Mulai dari istighotsah, khotmil Quran dan usaha kainnya. Sehingga pemberian hadiah sifatnya hanya menjadi pendukung untuk memotivasi siswa,” ungkapnya.

Sementara itu, Eka Hikamtul Izza, siswi MTs N 1 Kudus mengaku gembira dengan adanya hadiah itu. Bahkan dia juga mempersiapkan khusus guna meraih hadiah yang sediakan sekolah.

”Belajar pasti, les juga. Namun menghadapi UN lebih mendekatkan diri kepada yang kuasa. Yakni dengan lebih rajin sholat lima waktu, sholat malam dan lain sebagainya,” terangnya.

Dia pun berharap bisa mendapatkan sepeda motor, yang dapat digunakan untuk sekolah pada jenjang yang lebih tinggi nanti. Namun yang pasti tujuan utama adalah mendapatkan nilai yang sangat memuaskan.

Editor: Supriyadi

BACA JUGA: MTs N 1 Kudus Siapkan Umroh dan Motor Gratis untuk Peraih Hasil UN Terbaik

Diduga Korslet, 2 Komputer UNBK SMP 1 Kudus Tiba-tiba Mati

Siswa SMP 1 Kudus mengerjakan Ujian Nasional dengan sistem UNBK, Senin (9/5/2016). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Siswa SMP 1 Kudus mengerjakan Ujian Nasional dengan sistem UNBK, Senin (9/5/2016). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Pelaksanaan UNBK di SMP 1 Kudus di hari permana terjadi gangguan. Dua buah komputer yang digunakan siswa untuk ujian tiba-tiba mati.

Riski Liliantika, siswi SMP 1 Kudus mengatakan, saat mulai mengerjakan di shift pertama, dua komputer di ruangannya tiba tiba mati. Kondisi itu sempat menjadi perhatian siswa lantaran khawatir tak bisa mengerjakan UN.

”Komputer itu satu ruangan. Matinya tidak lama, sebab hanya satu menitan saja. Saat mati teman-teman juga panik karena takut kalau matinya lama,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Dia mengungkapkan jumlah komputer yang mati dua unit. Matinya dua komputer itu hampir bersamaan. Diduga, komputer yang mati lantaran korslet ringan.

Dia menjelaskan, meski sempat mati, namun tidak mengganggu berjalannya UNBK. Sebab, matinya hanya satu menit dan mengerjakan UNBK lebih cepat ketimbang UN biasa.

”Lebih enak Pakai UNBK. Lebih cepat pula, namun saat baru mengerjakan tadi sempat deg degan, karena baru kali pertama mengerjakan UN,” ungkapnya.

Dia berharap UN berikutnya berjalan lancar, sehingga proses mengerjakan soal juga dapat lebih maksimal lagi tanpa adanya gangguan dalam hal apapun.

Editor: Supriyadi

Tiga Siswa Luar Biasa di Jepara Ikuti UN SMP

Tiga Siswa SMPLB di Jepara mengikuti UN hari pertama, Senin (9/5/2016). (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Tiga Siswa SMPLB di Jepara mengikuti UN hari pertama, Senin (9/5/2016). (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Tiga siswa yang sekolah di SMP Luar Biasa (SMPLB) di Kabupaten Jepara mengikuti Ujian Nasional (UN). Sedangkan siswa yang lainnya, hanya mengikuti ujian sekolah.

“Tahun ini hanya tiga siswa yang mengikuti UN. Sedangkan siswa lainnya, yakni 16 siswa hanya mengikuti ujian sekolah saja,” ujar Kepala Sekolah LB, Suwandi kepada MuriaNewsCom, Senin (9/5/2016).

Menurut dia, siswa yang bisa mengikuti UN hanya ada tiga kategori, yakni tuna rungu, tuna netra, dan tuna daksa. Sedangkan tuna grahita hanya ujian sekolah.

Hanya, untuk di Jepara, ketiga siswa yang mengikuti UN merupakan siswa tuna rungu. Sementara, 16 siswa tuna grahita sehingga hanya mengikuti ujian sekolah.

”Kebetulan tahun ini siswa kami hanya tuna rungu, Untuk siswa yang tuna grahita hanya mengikuti ujian sekolah,” kata Suwandi.

Dia menambahkan, siswa tuna grahita tidak mengikuti UN, karena kemampuan berfikir anak-anak tersebut di bawah rata-rata. Nantinya, setelah lulus dari SMPLB, siswa tuna grahita tidak dapat melanjutkan ke sekolah reguler.

“Tapi kalau tuna rungu, tuna netra, dan tuna daksa kalau nilainya bagus bisa melanjutkan ke SMA reguler, tidak harus di SMALB,” imbuh Suwandi.

Editor: Supriyadi

Salut, Siswa di Kudus Ini Anggap Soal UN Bahasa Indonesia Terlalu Gampang

Puluhan siswa keluar dari ruangan Ujian Nasional setelah menyelesaikan UN. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Puluhan siswa keluar dari ruangan Ujian Nasional setelah menyelesaikan UN. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Hari pertama Ujian Nasional (UN) dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia di MTs N 1 Kudus sukses. Para siswa pun terlihat sumringah dan penuh percaya diri setelah keluar ruangan. Ini lantaran, naskah soal yang dikerjakan dianggap terlalu gampang.

Firda Luthfiana Nada, siswi MTs N 1 Kudus sekaligus peserta UN mengatakan, UN yang diikuti pada hari pertama sangat gampang. Bahkan dia dapat menyelesaikan dalam waktu yang lebih cepat ketimbang waktu yang disediakan.

”Tadi dimulai pukul 07.30 WIB hingga 09.30 WIB. Namun pada jam 09.15 WIB sudah selesai, jadi bisa keluar lebih cepat,” katanya kepada MuriaNewsCom, Senin (9/5/2016)

Menurutnya, soal yang dikerjakan juga lebih mudah ketimbang try out yang dilakukan pihak sekolah. Hal itu, membuatnya sangat lantaran yakin dapat nilai yang bagus.

Pernyataan sama juga diungkapkan Riski lilitalia, siswi SMP 1 Kudus yang mengikuti UN pada shift pertama. Dia menuturkan kalau soal yang dikerjakan juga gampang di hari pertama.

”Senang ya, sudah selesai. Mudah mudahan pada hari berikutnya juga dapat dilakukan dengan baik, dan bisa mengerjakan soal semuanya,” ujarnya.

Dia menambahkan Pada hari pertama UN, mata ujian yang dikerjakan adalah Bahasa Indonesia. Sebelum mengikuti UN, 30 menit  Dia sudah hadir untuk belajar sebelum masuk ruangan.

Editor: Supriyadi

Catat, Inilah Keunggulan UNBK Ketimbang UN PBT

Sejumlah siswa SMA di Kudus melakukan Ujian Nasional Berbasis Kompetensi. (MuriaNewsCom)

Sejumlah siswa SMA di Kudus melakukan Ujian Nasional Berbasis Kompetensi. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Kudus – UNBK yang banyak diinginkan oleh sekolah di Kudus, memiliki beberapa keunggulan ketimbang UN bisanya. Pada UNBK, para peserta dapat lebih jujur lantaran soal yang diterima berbeda satu dengan lainnya.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Jateng Nurhadi Amiyanto. Menurutnya, UNBK jelas lebih jujur ketimbang UN tertulis atau Paper Based Test (PBT). Para peseta UN dapat lebih fokus pada komputer yang ada di depannya. Hal itu akan membuat siswa konsentrasi pada soal di komputer saja.

”UNBK dapat menyalurkan keinginan pemerintah untuk menciptakan UN yang jujur. Sebab risiko untuk mencontek sangatlah kecil,” katanya.

Menurutnya, untuk sekarang sudah bukan zamannya lagi sistem mencontek. Sebab kerahasiaan soal sangat terjamin sehingga bocor diklaim tidak mungkin.

Selain itu, UNBK juga lebih cepat dalam pengerjaannya. Ini karena siswa tidak usah menyiapkan alat tulis untuk menjawab, melainkan cukup klik dalam menjawab.

”Dengan UNBK maka jawaban bakal langsung sampai ke pusat, sehingga tidak perlu proses mengantarkan lembar jawaban,” ungkapnya

Ia menambahkan di Jawa Tengah, sekolah yang sudah menerapkan UNBK cukup banyak. Tercatat, ada 65 sekolah yang menerapkan UNBK pada UN tahun ini. Jumlah tersebut terdiri dari 63 SMP dan dua MTs.

”Harapan nya pada UN tahun berikutnya sekolah yang menerapkan UNBK lebih banyak. Sehingga aspek kejujuran akan lebih meningkat,” harapnya.

Editor: Supriyadi

UN Dimulai, Belasan Ribu Siswa SMP di Kudus Berjuang untuk Lulus

Ilustrasi. (MuriaNewsCom)

Ilustrasi. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Pelaksaan Ujian Nasional (UN) untuk jenjang tingkat SMP sederajat, dilaksanakan mulai hari ini Senin (9/5/2016). Belasan ribu siswa peserta UN akan berjuang mengerjakan soal UN selama empat hari dengan tiap hari satu mata ujian.

Kepala Disdikpora Kudus Joko Susilo mengatakan, peserta yang mengikuti UN secara keseluruhan adalah 15.456 siswa dari tingkat SMP sederajat. Selama tiga hari ke depan mereka akan melangsungkan UN di semua jenjang sekolah tingkat menengah pertama.

”Pelaksanaan dimulai hari ini hingga Kamis, 12 Mei nanti. Materi ujian adalan Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa inggris, dan IPA,” katanya

Empat hari tersebut juga berlaku untuk UNBK. Berbeda dengan SMA, yang menggelar UNBK selama enam hari lantaran tiap hari satu mata ujian. Sedangkan SMP tiap hari hanya satu mata ujian saja

Kabid Dikdas pada Disdikpora Kudus Kasmudi mengatakan Untuk UNBK SMP di Kudus, terdapat dua sekolah yang mengikuti, yakni SMP 1 Kudus dengan Assaidiyah. Keduanya lolos mengikut UN karena memenuhi syarat yang sudah ditentukan.

Hanya, karena menggunakan UNBK, maka setiap hari saat UN, akan berlangsung selama seharian. Hal itu lantaran komputer yang disediakan sepertiga jumlah siswa sehingga berdampak pada penggunaan yang bergantian.

”Jadi modelnya shift atau bergantian. Ada tiga shift yakni pagi, siang dan sore. Jadi siswa ada yang mengikuti jam pagi siang dan sore hari sesuai dengan jadwal yang diperoleh,” ujarnya

Mengenai pengawas di UNBK SMP juga dilakukan silang. Silang kali ini juga berbeda dengan SMA. Jika SMA silang dalam tiap hari, maka pada SMP dilakukan silang shift. Jadi pengawas pertama hingga shift ketiga bakal berbeda.

”Kalau untuk UN biasa, sama saja, sebab hanya satu mata pelajaran pelaksana yang di UN kan,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

 

Busyet, Hanya Ada Satu Sekolah SMP di Grobogan yang Melaksanakan UNBK

Sejumlah orang tua siswa didampingi guru SMPN 1 Purwodadi sedang melihat ruangan yang akan digunakan untuk menggelar UNBK. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Sejumlah orang tua siswa didampingi guru SMPN 1 Purwodadi sedang melihat ruangan yang akan digunakan untuk menggelar UNBK. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Jumlah sekolah SMP di Grobogan yang melaksanakan ujian nasional berbasis komputer (UNBK) hanya ada satu sekolah. Yakni, SMPN 1 Purwodadi dengan jumlah peserta ujian sebanyak 327 siswa.

”Tahun ini, untuk pertama kalinya ada sekolah SMP yang melaksanakan UNBK. Sekolah yang melaksanakan UNBK hanya ada satu, yakni, SMPN 1 Purwodadi,” kata Kabid Pendidikan SMP, SMA, SMK Mus Hadi Purwanto.

Ia menjelaskan, untuk jumlah keseluruhan peserta UN tingkat SMP sederajat ada 22.937 siswa. Rinciannya, untuk siswa SMP ada 15.058, MTs 7.171, SMPLB 6 dan kejar paket B 702.

”Mengenai jumlah sekolah, untuk SMP ada 137 dan MTs 89. Sedangkan SMP luar biasa ada satu sekolah dan kejar paket B ada 23 tempat,” katanya.

Mus Hadi menegaskan, terkait pelaksanaan ujian khususnya di sekolah yang mengadakan UNBK, pihaknya menaruh perhatian khusus. Salah satu yang dilakukan adalah membuat kerjasama dengan pihak PLN dan Telkom untuk mendukung pelaksanaan ujian supaya berjalan lancar.

”Sebelumnya, kami memang sudah menyampaikan surat resmi pada PLN dan Telkom terkait pelaksanaan ujian nasional ini. Kami minta dua instansi itu ikut memberikan suport agar pelaksanaan ujian bisa lancar. Yakni, tidak ada kendala listrik atau koneksi internet,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi