Beli Rokok dengan Uang Mainan, Pelajar di Pati Ini Berurusan dengan Polisi

Petugas Polsek Wedarijaksa memberikan pembinaan kepada AU, pelajar salah satu SMK di Pati yang membelanjakan uang mainan untuk membeli rokok, Jumat (16/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Petugas Polsek Wedarijaksa memberikan pembinaan kepada AU, pelajar salah satu SMK di Pati yang membelanjakan uang mainan untuk membeli rokok, Jumat (16/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang pelajar di salah satu sekolah menengah kejuruan (SMK) di Pati berinisial AU (17), terpaksa berurusan dengan polisi, lantaran membeli rokok dengan uang mainan. AU yang merupakan warga Langen, Juwana, langsung diamankan polisi, Jumat (16/12/2016).

Kapolsek Wedarijaksa AKP Rochana Sulistyaningrum mengatakan, AU membelanjakan uang mainan yang mirip uang asli senilai Rp 380 ribu di sebuah kios sembako di Desa Bumiayu, Wedarijaksa. Semua uang mainan pecahan Rp 100 ribu, Rp 20 ribu dan Rp 10 ribu tersebut dibelanjakan untuk membeli rokok.

“Saya mendapatkan informasi dari kepala desa setempat. Informasi yang kami terima merupakan uang palsu. Namun, setelah kami cek bersama dengan enam anggota kami, uangnya ternyata bertuliskan uang mainan,” ungkap AKP Rochana.

Untuk menghindari amukan massa, pelajar tersebut dibawa ke Mapolsek Wedarijaksa untuk diberikan pembinaan. Kades setempat dan orang tua AU dihadirkan untuk membuat surat pernyataan agar tidak mengulangi perbuatannya lagi.

Uang mainan yang digunakan pelajar salah satu SMK di Pati untuk membeli rokok. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Uang mainan yang digunakan pelajar salah satu SMK di Pati untuk membeli rokok. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Terhitung, uang pecahan yang diamankan, antara lain Rp 100 ribuan sebanyak dua lembar, empat lembar uang pecahan Rp 10 ribu, dan sisanya uang pecahan Rp 20 ribu hingga berjumlah Rp 380 ribu. Pemilik kios sembako sendiri sadar, setelah uang yang diterima ternyata tebal, licin, dan bertuliskan uang mainan.

Dia mengimbau kepada masyarakat, terutama pedagang untuk jeli menerima uang yang dibelanjakan dari pembeli. Kendati sepintas sama, tetapi uang mainan sangat mudah dibedakan. Sebab, uang mainan dipastikan lebih licin ketika dipegang dan ada keterangan uang mainan.

Editor : Kholistiono

Polisi Buru Bandar Pengedar Uang Palsu di Pati

Uang palsu pecahan Rp 100.000 dan Rp 50.000 yang disita polisi dari pelaku sebagai barang bukti. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Uang palsu pecahan Rp 100.000 dan Rp 50.000 yang disita polisi dari pelaku sebagai barang bukti. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Jajaran Polres Pati terus memburu bandar atau pelaku yang terlibat dalam jaringan pengedar uang palsu di Pati. Hal itu dilakukan, setelah polisi membekuk Kulnaim, warga Tlogorejo, Tlogowungu yang tertangkap saat mencoba mengedarkan uang palsu di kawasan toserba SPBU Joyokusumo, Pati, Jumat (21/10/2016) malam.

“Pelaku sudah diamankan di Mapolres Pati. Dia sudah disidik dan diinterogasi terkait dengan asal usul uang palsu yang diedarkan hingga jumlahnya mencapai Rp 30,75 juta. Jaringan itu akan diburu, diberantas hingga tuntas,” kata Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo, Sabtu (22/10/2016).

Saat ini, pihaknya tengah mengembangkan kasus tersebut untuk mencari pelaku lain yang terlibat dalam pengedaran uang palsu. Pengembangan kasus juga diharapkan bisa membongkar bila ada kemungkinan bandar yang memproduksi uang palsu.

“Kami tidak mengenal kompromi untuk pelaku kejahatan di Pati. Pelaku, baik pengedar, bandar atau produsen uang palsu akan terus kami kejar. Ini sudah meresahkan masyarakat,” imbuh Kompol Sundoyo.

Karena itu, pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk selalu waspada bila ada kemungkinan uang palsu dalam melakukan transaksi. Pasalnya, uang palsu saat ini bentuknya hampir mirip dengan uang asli, sehingga butuh kejelian.

“Cara paling sederhana untuk membedakan uang asli dan palsu dengan 3D, dilihat, diterawang dan diraba. Uang asli warnanya lebih terang. Di pojok kanan bawah ada optical variabel ink, sisi belakang uang asli pasti ada benang pengaman yang ditanam dalam uang,” tuturnya.

Bila diraba, angka, huruf dan gambar pahlawan akan terasa kasar pada uang asli. Beda dengan uang asli yang terasa licin. Uang asli juga terdapat gambar pahlawan bila diterawang.

Pihaknya juga mengimbau kepada warga untuk tidak segan melaporkan kepada polisi bila ada indikasi peredaran uang palsu. Bila dibiarkan, mereka akan melenggang dengan bebas dan menikmati transaksi dari uang palsu yang diedarkan.

Editor : Kholistiono

Masyarakat Jepara Diminta Waspadai Uang Palsu

 Salah satu kasus uang palsu yang ditangani Polres Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)


Salah satu kasus uang palsu yang ditangani Polres Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

  MuriaNewsCom, Jepara – Masyarakat di Kabupaten Jepara diminta untuk lebih waspada terhadap peredaran uang palsu di momen bulan suci Ramadan sampai lebaran nanti. Meski sampai saat ini belum ditemukan uang palsu, namun, jika mengaca tahun-tahun sebelumnya, menjelang lebaran ditemukan banyak beredar uang palsu.

Hal ini disampaikan Kapolres Jepara AKBP Samsu Arifin. Menurutnya, Meskipun pihaknya belum menerima laporan dari masyarakat terkait peredaran uang palsu, namun, informasi terkait beredarnya upal di tengah-tengah masyarakat sudah didapat.

“Kasus peredaran uang palsu di Jepara bukan termasuk kasus yang menonjol. Namun bukan berarti luput dari perhatian. Kami meminta masyarakat untuk selalu waspada terhadap peredaran uang palsu,” ujar Kapolres.

Selain berkaca dari tahun-tahun lalu, pihaknya juga mengaca dari sejumlah kasus di kota-kota lain. Menjelang lebaran seperti saat ini uang palsu banyak beredar. “Saat Ramadan seperti sekarang, perputaran uang cepat sekali. Nah, biasanya para pelaku memanfaatkan momentum seperti saat ini,” katanya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, biasanya para pelaku mengedarkan uang palsu pada malam hari. Terget sasaran peredarannya tidak lagi toko-toko besar, melainkan warung-warung kecil di tepi jalan. Modusnya, uang palsu digunakan untuk berbelanja barang-barang kebutuhan.“Apalagi sekarang para pelaku pemalsu uang ini sudah canggih-canggih. Kalau dilihat sekilas, upal benar-benar menyerupai uang asli,” ungkapnya.

Ia menambahkan, agar tidak menjadi korban peredaran uang palsu, masyarakat diminta jeli meneliti uang. Minimal dengan melihat, meraba dan menerawang. Uang asli, jika diraba memiliki permukaan kasar. Itu karena angka nilai uang dicetak timbul.

Berdasarkan catatan MuriaNewsCom, sepanjang tahun 2015, tercatat tiga kasus peredaran upal berhasil diungkap jajaran Polres. Jumlahnya mencapai puluhan juta. Seperti kasus pada April 2015, belasan juta uang palsu dari Kabupaten Kudus diedarkan di wilayah Kabupaten Jepara berhasil diungkap. Modus peredarannya dengan membelanjakan uang palsu di warung-warung kecil.

Editor : Kholistiono

 

Niat Cari Dukun di Pati, Pria Asal Banyuasin malah jadi Pengedar Uang Palsu

Tiga pelaku pembuat uang palsu di Pati yang sudah diamankan polisi di Mapolres Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Tiga pelaku pembuat uang palsu di Pati yang sudah diamankan polisi di Mapolres Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Seorang berinisial TA yang merupakan warga dari Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan nekat menjadi pengedar uang palsu, karena gagal mencari dukun di Pati. Hal itu dikatakan Kasat Reskrim Polres Pati AKP Agung Setyo Budi.

Ia mengatakan, TA awalnya jauh-jauh datang ke Pati untuk mencari dukun. Hal itu diharapkan bisa menjadikannya kaya, karena memang Pati dikenal sebagai ‘Kota Seribu Paranormal’.

Di tengah jalan, TA bertemu dengan orang Pati berinisial YN. Dari pertemuan tersebut, TA akhirnya tergiur untuk membeli uang palsu dan mengedarkannya di kampung halamannya di Banyuasin.

“Daripada cari dukun, lebih baik bikin uang palsu. Nanti diedarkan di sana. Itu sama-sama bisa bikin kaya,” ujar Agung menirukan pengakuan TA dalam penyidikan.

Saat digerebek polisi, sedikitnya ada uang palsu Rp 50 juta yang sudah disablon dan siap dipotong-potong menjadi selebar uang asli. Biasanya, pengedar rela membeli uang palsu satu banding tiga. Artinya, uang Rp 10 juta asli bisa ditukar dengan uang Rp 30 juta palsu.

“Mereka pindah-pindah, dari satu kos ke kos yang lain sehingga sulit dilacak. Terakhir, mereka ngekos di Desa Geritan, Kecamatan Pati saat kami tangkap,” tuturnya.

Akibat perbuatannya, pelaku pembuat dan pengedar uang palsu diancam dengan pasal 36 ayat 1, 2 dan 3 UU Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang jo Pasal 55 ayat 1. “Mereka terancam mendapatkan pidana maksimal 15 tahun penjara,” tukasnya.

Editor : Akrom Hazami

Terbongkar! Modus Pengedaran Uang Palsu di Pati Sasar Pasar Tradisional

Kasat Reskrim Polres Pati AKP Agung Setyo Budi menunjukkan uang palsu hasil sablonan yang berhasil diamankan di Mapolres Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kasat Reskrim Polres Pati AKP Agung Setyo Budi menunjukkan uang palsu hasil sablonan yang berhasil diamankan di Mapolres Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Pasar modern seperti swalayan yang dilengkapi mesin deteksi uang elektronik membuat pengedar uang palsu memilih pasar tradisional sebagai sasaran utamanya. Hal itu diungkap Kasat Reskrim Polres Pati AKP Agung Setyo Budi, usai menggerebek rumah kos di Desa Geritan, Kecamatan Pati yang digunakan sebagai tempat produksi uang palsu, Rabu (27/1/2016).

”Sasarannya pasar tradisional dan toko-toko yang tidak dilengkapi mesin deteksi uang. Mereka membelanjakan dalam jumlah kecil, sehingga tidak terlalu ketahuan,” ujar Agung kepada MuriaNewsCom, Kamis (28/1/2016).

Ia mengatakan, uang yang dibelanjakan biasanya satu lembar Rp 50 ribuan hingga Rp 100 ribuan dengan nominal belanja mulai Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu. ”Selain dapat barang, mereka juga menukar uang palsu menjadi uang asli. Lagipula, belanja dalam nominal sedikit tidak terlalu ketahuan. Begitu modus dari pelaku,” imbuhnya.

Saat ini, pihaknya masih terus mendalami kasus peredaran uang palsu tersebut. Kendati modusnya sangat konvensional, tetapi peredaran uang palsu sangat meresahkan masyarakat.

Dari hasil penyidikan sementara, polisi menetapkan YN sebagai pengedar uang palsu yang didapat dari Pati ke berbagai pasar tradisional di Banyuasin, Sumatera Selatan. Sementara itu, SKD berlaku sebagai otak di balik pembuatan uang palsu.

Editor : Titis Ayu Winarni

Kasus Rumah Produksi Uang Palsu di Pati Diduga Ada Sindikat

Kasat Reskrim Polres Pati AKP Agung Setyo Budi menjelaskan kasus rumah produksi uang di Desa Geritan, Pati di depan awak media. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kasat Reskrim Polres Pati AKP Agung Setyo Budi menjelaskan kasus rumah produksi uang di Desa Geritan, Pati di depan awak media. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Kasat Reskrim Polres Pati AKP Agung Setyo Budi menyebut kasus peredaran uang palsu di luar Jawa yang dipasok dari “rumah produksi” di Pati terlibat jaringan atau sindikat.

Pasalnya, kasus tersebut ada tiga mata rantai yang saling bekerja. Ada pembuat yang memproduksi uang palsu, ada pengedar, dan ada pasar sebagai tempat untuk mengedarkan.

“Sepertinya ini sindikat. Itu jelas ada pembuat, pengedar dan pasar. Namun, saat ini kami bekerja sama dengan Polres Banyuasin, Sumatera Selatan masih mendalami kasus ini,” ujar Agung kepada MuriaNewsCom, Rabu (27/1/2016).

Pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk selalu hati-hati dalam menerima dan transaksi uang. Perhatikan ketebalan dan kelenturan uang untuk menghindari adanya uang palsu yang beredar.

“Sepintar-pintarnya orang meniru uang palsu, tidak akan tetap sama karena uang asli dibuat dengan kertas khusus dengan ketebalan dan kelenturan tertentu. Gunakan metode 3D, dilihat, diterawang dan diraba. Kalau pedagang, sebaiknya gunakan mesin deteksi uang elektronik,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono 

Tukang Sablon Uang Palsu di Pati Sebut Ada ‘Bos Besar’

Uang palsu Rp 50 ribuan yang diamankan di Mapolres Pati dari rumah kos-kosan Desa Geritan, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Uang palsu Rp 50 ribuan yang diamankan di Mapolres Pati dari rumah kos-kosan Desa Geritan, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Salah satu pelaku yang menyablon uang palsu di Desa Geritan, Kecamatan Pati menyebut ada “bos besar” di balik pembuatan uang palsu yang pernah diedarkan di Pati, Tambakromo dan Luar Jawa.

“Saya cuma nyablon. Saya tidak tahu uang hasil sablonan itu dikirim ke mana saja. Saya cuma nyablon. Ada bos besarnya,” kata salah satu pelaku di depan awak media, Rabu (27/1/2016).

Dalam sehari, pelaku mengaku bisa memproduksi sekitar 50 lembar kertas yang di dalamnya berisi empat potong uang palsu Rp 50 ribuan. Praktis, mereka bisa mencetak Rp 10 juta setiap harinya.

Kasat Reskrim Polres Pati AKP Agung Setyo Budi kepada MuriaNewsCom mengatakan, penggerebekan pelaku pembuat uang palsu dilakukan setelah mendapatkan laporan dari Polres Banyuasin, Sumatera Selatan.

“Pengedar uang palsu di daerah Banyuasin dibekuk Polres Banyuasin. Dari hasil pengakuan, beli uang palsu tersebut dari Pati. Dari laporan itu, kami kemudian melacak dan berhasil menggerebek tiga orang yang sedang bekerja menyablon uang palsu. Ketiganya warga Pati,” tutur Agung.

Sampai berita ini diturunkan, ketiga pelaku masih dalam pemeriksaan. Sementara itu, sejumlah barang bukti berupa uang palsu pecahan Rp 50 ribuan dan peralatan sablon lengkap diamankan di Mapolres Pati.

Editor : Kholistiono 

Polisi Buru Sindikat Pengedar Uang Palsu di Pati

KNT diamankan petugas di Mapolres Pati atas ulahnya mengedarkan uang palsu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

KNT diamankan petugas di Mapolres Pati atas ulahnya mengedarkan uang palsu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Jajaran Polres Pati saat ini tengah memburu sindikat pengedar uang palsu di Pati, setelah satu pengedar berinisial KNT dibekuk. KNT merupakan warga Desa Ronggo, Kecamatan Jaken, Pati yang dibekuk petugas di Kecamatan Tambakromo saat hendak melancarkan aksinya, Rabu (16/12/2015) kemarin.

”Dalam penangkapan itu, kami berhasil membekuk satu orang yang diduga mengedarkan uang palsu. Sementara itu, tiga orang lainnya berhasil kabur. Saat ini, kami tengah memburunya,” ujar Kanit Idik Rimsus II Polres Pati Aiptu Slamet Haryono kepada MuriaNewsCom, Jumat (18/12/2015).

Saat ditanya, KNT mengaku baru sekali membelanjakan uang palsu itu. Pria yang bekerja sebagai tukang kayu ini juga mengaku hanya disuruh ketiga rekannya yang saat ini masuk daftar pencarian orang (DPO).

”Saya baru pertama kali mengedarkan uangpalsu. Itupun hanya disuruh ketiga rekan saya untuk membeli barang-barang,” akunya.

Atas perbuatannya, KNT terancam dengan pasal berlapis, yakni Undang-undang Darurat Nomor 12 Tahun 1952 tentang Kepemilikan Senjata Tajam dengan ancaman maksimal 10 tahun dan UU Nomor 7 Tahun 2011 tentang mata uang dengan ancaman penjara maksimal 15 tahun pejara. (LISMANTO/TITIS W)

Pengedar Uang Palsu Diancam Denda Rp 10 miliar dan 15 Tahun Penjara

Uang-palsu 3

Tersangka pengedar upal diancam denda Rp 10 miliar dan 15 tahun penjara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Tersangka pengedar uang palsu (Upal) asal Blora yang tertangkap di Desa Tunggulpandean, Kecamatan Nalumsari, Jepara diancam denda sebesar Rp 10 miliar dan 15 tahun penjara. Hal itu sesuai dengan pasal yang dikenakan kepada tersangka tentang uang palsu.

”Pasal yang disangkakan, yakni pasal 36 ayat (2) dan (3) Undang-undang RI nomor 7 tahun 2011 jo pasal 245 KUHP. Ancamannya hukuman maksimal 15 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 10 miliar,” ujar Kapolsek Nalumsari Iptu Sugiono kepada MuriaNewsCom, Rabu (16/9/2015).

Lebih lanjut dia mengemukakan, kini tersangka untuk sementara waktu diamankan di Mapolsek setempat. Barangbukti akan dikoordinasikan dengan pemeriksaan secara laboratoris dan riksa saksi ahli dari Bank Indonesia cabang Semarang.

Sementara itu, tersangka pengedar Upal, Febri Siswantoro mengaku hanya sebagai pengedar. Dia mengaku dihadiahi uang sebesar Rp 1.000.000, untuk setiap transaksi pembelian sepeda motor menggunakan uang palsu.

”Saya tidak tahu asal uang itu dari mana. Saya hanya disuruh membeli motor dengan uang palsu,” kata Febri. (WAHYU KZ/TITIS W)

 

Pelaku Edarkan Uang Palsu Lewat Lapak Jual Beli Facebook

uang-palsu

Uang palsu yang dijadikan barang bukti. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Polsek Nalumsari Jepara berhasil mengamankan pelaku pengedar uang palsu (Upal) asal Blora bernama Febri Siswantoro. Pelaku ternyata mengedarkan Upal dengan cara membeli barang yang dijual melalui media sosial Facebook.

”Pelaku tertangkap ketika melakukan transaksi jual beli sepeda motor dengan korban bernama Alex Sembara, warga Desa Tunggulpandean Nalumsari. Ketika Alex (korban) menerima uang dari tersangka merasa curiga. Kebetulan waktu itu sepeda motor yang dijual sedang tidak ada di lokasi, sehingga Alex leluasa untuk meneliti uang yang dia terima,” terang Kapolsek Nalumsari, Iptu Sugiono kepada MuriaNewsCom, Rabu (16/9/2015).

Lebih lanjut, dia menceritakan, korban ternyata memiliki sodara yang punya sinar yang bisa mengecek keaslian uang. Setelah dicek ternyata diduga palsu dan selanjutnya menghubungi Polsek Nalumsari. Dengan sigap, anggota Polsek Nalumsari mendatangi lokasi dan mengamankan tersangka.

”Sebenarnya tersangka bersama tiga rekannya. Tapi, ketiga rekannya hanya di dalam mobil. Setelah mengetahui korban curiga dengan uang yang diberikan tersangka, mereka melarikan diri,” ungkapnya.

Sementara itu, tersangka Febri Siswantoro mengaku disuruh oleh rekannya untuk membeli sepeda motor yang dijual di lapak jual beli Facebook. (WAHYU KZ/TITIS W)

 

Pelaku Mencetak Uang Sendiri, Kemiripan Hampir Sama dengan Asli

Wakapolres Kudus, Kompol Yunaldi dan Kasat Reskrim Kudus AKP Hepi Pria Ambara bersama tersangka Sumartiyono tengah menunjukkan uang Rp 50 ribu palsu yang belum dipotong. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Wakapolres Kudus, Kompol Yunaldi dan Kasat Reskrim Kudus AKP Hepi Pria Ambara bersama tersangka Sumartiyono tengah menunjukkan uang Rp 50 ribu palsu yang belum dipotong. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Aksi pemalsuan uang yang dilakukan Sumartiyono warga Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati, merupakan pemalsuan uang yang canggih. Sebab dari tangan pelaku, polisi mendapatkan kualitas uang yang hampir sama dengan aslinya.

Kasat Reskrim Kudus AKP Hepi Pria Ambara mengatakan, tindakan pelaku dalam memalsukan uang sangat lihai. Bahkan sangat mirip dengan aslinya, mulai benang air, tembus ketika diterawang hingga nomor seri yang berbeda.

”Pelaku sangat lihai, upal ini hampir sama dengan yang asli. Tinggal cara mengenalnya saja yang membedakannya,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, pelaku menjalankan aksinya secara sendiri. Dari keterangan yang dilakukan petugas, pelaku mendapatkan keahlian dari Semarang, yang kini masih dalam pengejaran.

”Kami menyita printer yang rusak dalam perbaikan, lalu kertas lembut, alat set sablon dan juga uang Rp 50 ribu palsu yang belum dipotong,” jelasnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Ditipu Pembeli, Mbok Darmi Belum Berniat Lapor ke Polisi

Darmi penjual jajan keliling alias tenongan di Jepara menunjukkan uang palsu yang diperoleh dari pembeli yang menipu dirinya. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Darmi penjual jajan keliling alias tenongan di Jepara menunjukkan uang palsu yang diperoleh dari pembeli yang menipu dirinya. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Meskipun penjual jajan keliling alias tenongan di Jepara, Darmi (50) warga Kelurahan Pengkol, RT 01 RW 01, Kecamatan Jepara, Kota ditipu pembeli dengan uang palsu. Mbok Darmi (sapaan akrabnya) mengaku belum berniat untuk lapor ke polisi.

Perempuan penjual jajan keliling dengan berjalan kaki ini lebih memilih menunggu sampai kembali ketemu pembeli, yang diduga memberikan uang palsu tersebut. Dia mengaku, hanya ingin menegur dan mengembalikan uang palsu yang telah diterimanya itu.

”Saya masih ingat ciri-ciri orangnya. Kalau ketemu lagi, saya mau menegurnya dan minta ganti uang palsu ini dengan uang asli,” kata Darmi kepada MuriaNewsCom, Rabu (2/9/2015).

Dia menambahkan, ketika nanti sudah ketemu dan sudah ditegur, namun pembeli itu masih tidak bersedia untuk mengganti. Maka tidak menutup kemungkinan, dirinya akan lapor ke polisi. Sebab, kasus tersebut cukup meresahkan terutama bagi pedagang-pedagang kecil seperti dirinya.

”Ini pengalaman buat saya agar lebih berhati-hati kalau menerima uang dengan pecahan besar, agar tidak terulang lagi,” imbuhnya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Ini Ciri-ciri Pembeli yang Bayar dengan Uang Palsu

Darmi seorang penjual jajan keliling alias tenongan di Jepara menunjukkan uang palsu yang diberikan dari seorang pembeli jajannya. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Darmi seorang penjual jajan keliling alias tenongan di Jepara menunjukkan uang palsu yang diberikan dari seorang pembeli jajannya. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Seorang penjual jajan keliling alias tenongan di Jepara, Darmi (50) warga Kelurahan Pengkol, RT 01 RW 01, Kecamatan Jepara, Kota, kini harus menerima kenyataan pahit. Pasalnya, penjual kecil ini ditipu oleh seorang pembelinya di kawasan Shopping Centre Jepara (SCJ) yang bayar dengan uang palsu pecahan Rp 50 ribu.

Darmi dengan yakin membeberkan ciri-ciri pembelinya yang menipu dirinya tersebut. Menurut dia, ciri-ciri dari pembeli tersebut adalah seorang wanita berumur sekitar 40 tahun, mengenakan jilbab dan bersepeda motor.
”Tapi saya tidak ingat sepeda motornya warna apa. Yang saya ingat hanya itu,” kata Darmi kepada MuriaNewsCom, Rabu (2/9/2015).

Menurutnya, wanita tersebut ketika membeli dagangannya berlaga sok akrab. Bahkan, dia juga banyak bercerita tentang berbagai hal sambil memilih-milih jajan yang mau dibeli. Dia menduga, lagak sok akrab tersebut dilakukan untuk mengelabuhi dirinya agar tidak mencermati uang palsu yang diberikan untuk membayar.

”Gayanya sok akrab. Saya juga heran, kok bisa seperti itu padahal saya baru pertama ketemu. Tapi kata dia, dia sering melihat saya di lewat di SMPN 2 Jepara,” imbuhnya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Duh, Penjual Jajan Keliling ini Ditipu Pembeli

Darmi seorang penjual jajan keliling alias tenongan di Jepara menunjukkan uang palsu yang diberikan dari seorang pembeli jajannya. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Darmi seorang penjual jajan keliling alias tenongan di Jepara menunjukkan uang palsu yang diberikan dari seorang pembeli jajannya. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Nasib malang menimpang seorang penjual jajan keliling alias tenongan di Jepara, Darmi (50) warga Kelurahan Pengkol, RT 01, RW 01, Kecamatan Jepara, Kota. Pasalnya, penjual kecil ini ditipu oleh seorang pembelinya di kawasan Shopping Centre Jepara (SCJ).

Darmi mengaku menerima uang dari pembeli dengan pecahan Rp 50 ribu, ketika pembeli membayar jajan yang diambil seharga Rp 15 ribu. Kemudian, dia memberi kembalian senilai Rp 35 ribu. Namun tak disangka, ketika beberapa jam kemudian, dia baru menyadari jika pecahan Rp 50 ribu dari pembeli tadi ternyata palsu.

”Ada pembeli seorang wanita sekitar umur 40 tahun. Dia membayar dengan uang Rp 50 ribu. Setelah beberapa jam, uang itu saya tukarkan ke tukang parkir. Lha tukang parkirnya kok bilang kalau uang itu palsu,” kata Darmi kepada MuriaNewsCom, Rabu (2/9/2015).

Menurutnya, dia semakin yakin dan percaya jika uang tersebut palsu ketika dia cermati betul-betul pecahan Rp 50 ribu tersebut. Dari kualitas kertasnya sudah sangat berbeda, dan warna biru dari uang tersebut juga agak luntur.

”Awalnya saya tidak tau karena setelah menerima uangnya langsung saya masukkan tas kecil. Setelah diberitahu tukang parkir, saya cermati ternyata memang palsu,” tandasnya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Heboh, Uang Palsu di Kudus Persis dengan Uang Aslinya

Polisi meminta keterangan pelaku kejahatan uang palsu di Mapolres Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Polisi meminta keterangan pelaku kejahatan uang palsu di Mapolres Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Uang palsu yang disita oleh pihak Polres Kudus merupakan uang palsu yang sangat mirip dengan aslinya. Bahkan, tingkat kemiripan uang palsu tersebut sampai 70 persen jika dibandingkan dengan uang asli.

Hal itu diungkapkan oleh Wakapolres Kudus Kompol Yunaldi. Menurutnya uang tersebut sangat mirip dengan aslinya. Bahkan terdapat benang air yang nampak pada uang palsu tersebut.
“Sangat mirip, ketika dicek pakai laser infra red juga nampak hologramnya. Namun ada yang membedakan uang tersebut yakni pada cetakan yang terlalu tajam dan seri yang yang sama,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya uang tersebut berasal dari Semarang, dan keterangan pelaku uang palsu, terdata dua orang yang masih dalam pengejaran. Pihaknya mengimbau masyarakat lebih hati hati dengan mengecek uang yang ada. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Nekat Tenan, Pensiunan PNS di Kudus Ini Tebus Motor di Pegadaian Pakai Uang Palsu

Polisi meminta keterangan pelaku kejahatan uang palsu di Mapolres Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Polisi meminta keterangan pelaku kejahatan uang palsu di Mapolres Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Pensiunan PNS di Kudus, melakukan tindak kejahatan dengan mengedarkan uang palsu. Modus yang dilakukan oleh pelaku, yakni dengan menggunakan uang palsu dalam menebus kendaraan bermotor yang digadaikan.

Hal itu diungkapkan Wakapolres Kudus Kompol Yunaldi. Menurutnya pelaku menebus kendaraan yang digadaikan dengan uang palsu senilai pecahan Rp 50 ribu dan Rp 20 ribu.

“Pelaku mengedarkan uang palsu, alasannya dia para pelaku mau menebus kendaraan yang sedang digadaikan,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Dia menceritakan, Moch Soekarno (63) seorang pensiunan PNS Desa Gulang, Kecamatan Mejobo, dan Maskan (44) warga Desa Hadipolo Jekulo pada 4 Agustus lalu datang ke Suwandi untuk menggadaikan kendaraan shogun dengan ganti Rp 1,5 juta. Namun belum genap satu hari, malamnya sekitar pukul 22.00 pelaku datang untuk menebus kendaraannya.

Kejadian tersebut bukanlah aksi pertama, selanjutnya pada 18 Agustus kejadian kembali terjadi. Kali ini dua kendaraan sekaligus digadaikan, yakni Shogun Rp 2 juta dan Supra Fit Rp 1,5 juta. Bedanya pada kedatangan kali ini beserta satu orang asing yakni Karsumi (52) Asal Desa Payaman Mejobo kemudian malamnya sama pelaku mengembalikan uang tersebut.

Karena merasa curiga, lanjutnya, Suwandi segera mengecek uang tersebut. Dan ditemukan bahwa pelaku menggunakan uang palsu dalam aksi yang dilakukan. Setelah itu pelaku langsung dilaporkan ke pihak kepolisian.

“Dari tangan pelaku, polisi mengamankan uang palsu senilai Rp 6 jutaan. Dan kasus tersebut sedang dikembangkan,” ujarnya. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Kapolres Imbau Warga Waspadai Peredaran Uang Palsu Jelang Lebaran

 Kapolres AKBP Blora Dwi Indra Maulana

Kapolres AKBP Blora Dwi Indra Maulana

BLORA – Menjelang Lebaran, Kapolres Blora AKBP Dwi Indra Maulana mengimbau kepada masyarakat untuk tidak lengah ketika melakukan transaksi pembayaran atau penukaran uang dengan seseorang.

“Bila melakukan transaksi dan butuh uang kembalian, tetap harus waspada, apalagi bila dalam jumlah yang lumayan banyak. Silahkan cermat dalam mengamati, jangan tergesa-gesa atau main terima uang saja. Orang yang tidak sadar bisa dimanfaatkan pelaku kejahatan uang palsu,” jelas Kapolres Blora AKBP Dwi Indra Maulana sabtu(11/7//2015).

Menurutnya berdasarkan pengalaman di sejumlah wilayah, pada Ramadan hingga menjelang Idul Fitri pelaku tindak kejahatan uang palsu banyak berkeliaran dan sengaja memanfaatkan kelengahan korbannya.

“Kalau perlu siapkan dan beli alat senter ultraviolet untuk mengecek keaslian uang saat bertransaksi dengan seseoarang,” ungkapnya.

Oleh karena itu, guna menghindari kasus ini terjadi di wilayah hukum Polres Blora, Kapolres telah memerintahkan anggotanya untuk aktif melakukan patroli lingkungan baik secara terbuka maupun tertutup.

“Patroli rutin tetap, meski demikian kita butuh peran serta masyarakat dalam menjaga ketertiban dan kondusifitas wilayah. Kecepatan dalam melapor sangat menentukan penanganan kasus,” tegasnya. (PRIYO/SUWOKO)

Dua Pedagang Diduga Jadi Korban Peredaran Uang Palsu di Rembang

Uang pecahan seratus ribu bernomor seri EHE 737181 ini diduga palsu dan dikabarkan telah beredar di Pasar Kota Rembang dalam sepekan terakhir. (MURIANEWS/AHMADFERI)

REMBANG – Dugaan peredaran uang palsu di kawasan Pasar Rembang semakin menguat seiring munculnya dua nama pedagang yang menjadi korban peredaran uang yang diduga palsu.

Lanjutkan membaca

Kepolisian Kantongi Identitas Pengedar Upal di Blora yang Kini Masih Buron

Korban penipuan pengedar uang palsu, Suroto (baju Putih) memberikan keterangan di Mapolsek Sambong (MURIANEWS / PRIYO)

BLORA – Kapolres Blora AKBP Dwi Indra Maulana melalui Kapolsek Sambong, AKP Joko Priyono mengemukakan, berdasarkan keterangan saksi sekaligus korban bernama Suroto, pihaknya kini mendapatkan petunjuk yang cukup berharga.

Lanjutkan membaca

Uang Palsu Dicetak di Surabaya

Uang palsu yang berhasil diamankan Polres Kudus (MURIANEWS/FAISOL HADI)

KUDUS – Berdasarkan pengakuan tersangka pengedar uang palsu yang diamankan Polres Kudus, uang palsu didapatkan dari Surabaya. Biasanya, pelaku janjian dengan pelaku yang dari Surabaya untuk mendapatkan uang palsu tersebut.

Lanjutkan membaca

Duh..Otak Pengedar Upal yang Ditangkap di Kudus Ternyata Ayah dan Anak

Tersangka pengedar uang palsu ketika diamankan di Mapolres Kudus (MURIANEWS/FAISOL HADI)

KUDUS – Lima tersangka pengedar uang palsu yang diamankan Polres Kudus, yakni Suripan (56) dan Dwi Handoko (30) warga Dukuh Jetak, Kecamatan Kedungdowo, Sunardi (43) Desa Kauman Kecamatan Kota, Ahmad Saerono (49) dan Kasmi (40) warga Desa Tambaharjo Pati.

Lanjutkan membaca