Alasan Kenapa Bus Kini Dijauhi Masyarakat

Bus tampak melintas di jalan di Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

Bus tampak melintas di jalan di Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

 

KUDUS – Terminal Jetak yang terletak di Kecamatan Kaliwungu Kudus menjadi salah satu pemberhentian bus dan angkot perbatasan Kudus-Jepara. Terminal yang tergolong vital tersebut saat ini sepi. Hal tersebut dapat terlihat dari sedikitnya bus yang masuk ke area terminal.

Bejo Sutrisno, staf retribusi terminal Jetak mengatakan saat ini banyak dari kondektur dan sopir bus yang mengeluh semakin berkurangnya jumlah penumpang setiap harinya. “Sehingga berpengaruh pula pada omzet retribusi yang dikelola oleh Dinas Perhubungan Kudus, ” ungkapnya.

Hal tersebut sudah berlangsung lama. Beberapa hal yang menjadi penyebabnya adalah budaya masyarakat yang lebih memilih membawa kendaraan pribadi.

“Setelah diamati memang karena kebiasaan masyarakat yang kini sudah bergeser dengan membawa kendaraan seperti motor sendiri yang dianggap lebih praktis, ” imbuhnya.

Suhartini,salah satu karyawan pabrik di Kudus mengatakan dulunya memang dirinya bersama teman-teman lebih mengandalkan bus. “Sekarang harga motor bisa dicicil murah dan untuk sehari-harinya sudah terbiasa membawa motor. Jadi lebih praktis, ” ungkapnya.

Apalagi dengan kredit kendaraan saat ini yang tergolong murah dan mudah sehingga banyak orang yang lebih memilih untuk membeli kendaraan pribadi ke manapun. (AYU KHAZMI/AKROM HAZAMI)

Angkot oh Angkot! Nasibmu Begitu Suram

Angkot berjejer menunggu antrean untuk dapat menarik penumpang di terminal Jetak Kudus. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

Angkot berjejer menunggu antrean untuk dapat menarik penumpang di terminal Jetak Kudus. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

 

KUDUS – Melihat lalu lalang angkutan kota (angkot) dengan berbagai warna, menjadi pemandangan yang khas dimiliki oleh Kudus. Transportasi umum yang memiliki banyak warna tersebut selalu menghiasi berbagai sudut Kudus dengan jalur yang berbeda-beda.

Namun keramaian angkot tersebut saat ini sudah mulai luntur tergantikan dengan banyaknya kendaraan pribadi yang memenuhi ruas jalan. Bahkan menimbulkan kemacetan yang sudah menjadi pemandangan sehari-hari.

Berubahnya budaya masyarakat yang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi tersebut sangat dirasakan oleh para sopir angkot. Yang paling terasa adalah penurunan pendapatan para sopir dan pemilik angkot setiap harinya.

“Dulu, angkot menjadi langganan masyarakat karena lebih merakyat dan mampu mengantarkan keberbagai tujuan. Bahkan lebih mudah jika seseorang membawa barang bawaan yang banyak, ” ujar Nur Rahmat salah satu penarik angkot di Kudus.

Dirinya menambahkan, angkot bahkan sangat ramai di jam-jam tertentu seperti saat karyawan pabrik, pedagang pasar dan anak sekolahan berangkat dan pulang. Akan tetapi di jam tersebut sekarang seperti waktu biasa, bahkan sangat sepi.

Menurut Bejo Sutrisno, salah satu staf retribusi terminal jetak Dinas Perhubungan Kudus bahkan banyak dari angkot yang memilih untuk tidak beroperasi. “Dulunya ramai sekali tapi dapat dilihat sekarang hanya sedikit angkot yang tersisa,” ujarnya.

Bagaimana tidak, dengan jumlah penumpang yang sedikit akan mengurangi setoran. “Itu belum terhitung mereka harus antre untuk menunggu penumpang. Namun karena lamanya menunggu antrean dan penumpang membuat angkot yang terakhir datang kerap tidak jadi beroperasi, ” imbuhnya.

Bahkan jika tidak ditunjang dengan adanya bus dari jurusan Jepara, bisa saja angkot makin tidak eksis lagi. (AYU KHAZMI/AKROM HAZAMI)