Mengenal Laesan, Tradisi Lasem Rembang yang Mulai Dilupakan

Leasan, sebuah tradisi budaya di Lasem, Rembang. (Istimewa)

Leasan, sebuah tradisi budaya di Lasem, Rembang. (Istimewa)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Lasem, adalah sebuah kota kecil yang letaknya di antara kota Rembang di Jawa Tengah dan Tuban di Jawa Timur. Namun kota ini masuk Kabupaten Rembang.
Di daerah Lasem, warga setempat mempunyai kesenian hebat, Laesan. Menilik kata Laesan, adalah sebuah kata yang kemungkinan besar berasal dari bahasa Arab, Laesun yang berarti hampa. Kalau di masyarakat pantura barat seperti Pamanukan, Indramayu, Cirebon, Kuningan, dan Pekalongan bentuk kesenian seperti ini yang bernama Sintren. Tapi di Lasem adalah Laesan.

Dari beberapa sumber yang dihimpun, seni tradisi Laesan Lasem ini, merupakan seni pertunjukan rakyat yang terdiri dari unsur tari, nyanyi, dan musik dengan atmosfer magis yang kental. Biasanya dipertunjukkan di tanah lapang biasa. Dalam bentuk lingkaran dan berdurasi kurang lebih 2 jam.
Biasanya, pemain Laesan terdiri dari pemeran Laesan 1 orang, dalang, 1 orang penjaga Laesan, 3 orang penabuh, 8 orang penyanyi. Dengan properti tampah sajen, kembang setaman dan pisang emas Kurungan (2 buah), kurungan ayam besar diselubungi kain putih kostum, pakaian hitam-hitam dan ikat kepala hitam untuk Laesan.

Adapun alat musiknya adalah Jun (terbuat dari tembikar), dan potongan bambu. Biasanya ada ritual sebelum pementasan, di antaranya 24 jam sebelum pementasan, Laesan mensucikan dirinya dengan melakukan ritual puasa. Sebelum memulai ritual itu Dalang memberikan wejangan dan mantra-mantra pada Laesan. Sesaat sebelum pertunjukan, Dalang ”membersihkan lokasi pertunjukan dari energi-energi negatif yang muncul.

Pertunjukan dimulai dengan dimainkannya tembang ’Ela-Elo’ oleh para penabuh dan penyanyi. Laesan diikat tubuhnya menggunakan tali oleh penjaga Laesan. Kemudian Laesan dituntun dalang mengelilingi kurungan dimasukkan pada kurungan yang di dalamnya telah berisi seperangkat kostum berwarna hitam dan dupa kemenyan yang telah dibakar.

Selanjutnya, tembang ’Uculno Bandanira’ dimainkan. Di dalam kurungan yang penuh dengan asap dupa, Laesan mulai trance. Sebelum kurungan dibuka biasanya Laesan minta tembang kepada penjaga Laesan yang mendekat ke kurungan dan permintaan ini harus segera dilayani. Laesan kemudian berontak dengan cara menggoyang-goyangkan kurungan minta keluar.

Kurungan dibuka oleh penjaga atau dalang. Laesan masih duduk bersila dengan tali lilitan yang telah terlepas dan telah berganti baju mengenakan pakaian kebesarannya yang berwarna hitam-hitam. Dalang mendekat ke arah Laesan dan mencoba untuk mengagetkan Laesan dengan berteriak di telinga Laesan. Laesan kaget dan tersentak kemudian berdiri dan memulai tariannya dalam keadaan trance dan dengan mata yang terpejam.

Trance atau kondisi hipnosis adalah kondisi pikiran yang secara alamiah dialami setiap individu. Dalam menjalankan aktivitas sehari-hari setiap individu pasti secara alamiah dan berkelanjutan masuk dan keluar kondisi trance. Kedalaman trance yang mereka masuki berbeda antara satu individu dengan yang lain dan juga berbeda dari waktu ke waktu. Semuanya terjadi secara alamiah dan mudah.

Selanjutnya, Laesan akan terus menari selama tidak ada yang salah dalam permainan musiknya. Laesan akan terjatuh jika dia menemukan ada yang salah pada musik yang mengiringinya. Jika Laesan terjatuh, Laesan akan didudukkan dan kemudian dikurungi lagi sampai dia berontak lagi minta dikeluarkan dari kurungan.

Ketika Laesan yang sedang menari meminta tembang ’Kembang-Kembang Gedhang’. Biasanya akan ada sedikit keriuhan di antara penonton karena penonton tahu kalau Laesan ingin ditemani menari. Laesan akan menghampiri penonton, menyentuh salah seorang penonton, meniup telinganya sehingga orang itu menjadi trance dan menari bersama Laesan.

Ketika Laesan meminta tembang ’Jaran Dawuk’ dan tembang itu mulai dimainkan, Laesan akan menghampiri penonton, menyentuh salah seorang penonton, meniup telinganya sehingga orang itu menjadi trance, Penjaga Laesan akan memberikan sapu yang kemudian digunakan oleh Penari Baru sebagai kuda tunggangan seperti permainan Kuda Lumping.

Ketika Laesan dari dalam kurungan meminta tembang ’Luruo Sintren’, Dalang akan memasukkan Tampah Sajen ke dalam kurungan. Laesan berontak dan dikeluarkan dari kurungan. Laesan sambil terus menari, membawa Tampah Sajen keliling dan memberikan bunga atau pisang emas pada penonton yang disukainya

Dalang akan memberikan ruang dan waktu pada penonton yang ingin mengisi atau menghilangkan ”aura” senjata tajam milik mereka oleh Laesan diiringi tembang ’Lereng-lereng’.
Ketika Dalang meminta lagu ’Lara Tangis’ itu menandakan bahwa pertunjukan akan selesai. Dalang membuka kurungan kemudian menyadarkan Laesan dari kondisi trance.
Semoga, kesenian Laesan akan selalu dilestarikan oleh generasi sekarang. Sehingga tak akan punah dimakan zaman.

Editor : Akrom Hazami

Pintu Peninggalan Mantan Kades Loram di Masjid Wali Kudus Diselidiki

Jpeg

Pengurus Masjid Wali Attakwa Loram Kulon, Jati, Kudus, memperlihatkan pintu peninggalan mantan kades. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Juru pelihara Masjid Wali Attaqwa Loram Kulon, Afroh Aminuddin mengatakan, asal muasal pintu kenang-kenangan mantan Kepala Desa (Kades) Loram yang berada di masjid, masih jadi misteri.

“Oleh sebab itu, kita akan menggali lebih dalam. Baik itu bertanya kepada para ulama Kudus, atau bahkan kepada orang orang tua yang ada di desa ini,” kata Afroh.

Pintu kenang-kenangan kades di masjid diletakan di dalam masjid bagian selatan. Yakni berada di arah tempat wudu, sebelum tahun 1990-an. Kemudian letaknya berubah karena pada 1990-an, masjid mengalami renovasi. Akhirnya, pintu peninggalan kades dipindah ke bagian tengah.

Pintu itu sekaligus jadi pembatas tempat salat jemaah laki-laki dan perempuan. Ketika 2011, masjid ini kembali renovasi. Pintu peninggalan kades dilepas dan diletakan di serambi masjid. Supaya bisa dilihat dan dibaca orang.

Masyarakat setempat tidak tahu banyak tentang pintu. Termasuk mengenai siapa pembuatnya, siapa pencetusnya, dan yang terkait lainnya. Karenanya, warga akan mencari tahu soal yang terjadi sebenarnya.

Masjid peninggalan dari menantu Sunan Kudus, Sultan Hadlirin, juga menerima benda unik lainnya, pada tahun 1597. Yaitu berupa gapura masjid yang menyerupai pintu.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :
Unik, Setiap Mantan Kades Loram Kudus Beri Kenang-Kenangan Pintu Masjid, Salut http://www.murianews.com/2016/04/09/78452/unik-setiap-mantan-kades-loram-kudus-beri-kenang-kenangan-pintu-masjid-salut.html

Unik, Setiap Mantan Kades Loram Kudus Beri Kenang-Kenangan Pintu Masjid, Salut

Jpeg

Tampak pintu kenang-kenangan setiap Kades Loram, Jati, Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyiono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Setiap mantan Lurah Desa Loram, Kecamatan Jati, Kudus meninggalkan kenang-kenangan berupa pintu di Masjid Attaqwa, Loram Kulon,Kecamatan Jati.

Juru pelihara Masjid Wali Attaqwa Loram Kulon Afroh Aminuddin mengatakan, kenang kenangan berupa pintu masjid ini bertuliskan nama nama kades.”Nama dicantumkan di pintu ini kades pertama hingga ke tujuh,” kata Afroh.

Dari pantauan MuriaNewsCom, pintu berbahan kayu jati yang mempunyai tinggi 2 meter dan lebar 1 meter tersebut bertuliskan huruf Arab. Beberapa nama yang tertera adalah nama kades Satjoyo, Trendito, Siwongso, dan Werjoyo. Dengan tanggal yang tertera Senin Legi, 8 Zulhijah 1248 H. “Namun untuk kades nomor 5 hingga 7 kemungkinan tiak bersedia ditulis,”ujarnya.

Dia melanjutkan, sebenarnya Desa Loram ini merupakan desa tua. Sebab dulu belum ada Loram Kulon dan Loram Wetan. Diketahui, Desa Loram telah dipimpin sebanyak 14 kades.

Editor : Akrom Hazami

Tradisi Barikan jadi Ikon Baru Pesona Karimunjawa

Warga melakukan kegiatan tradisi Barikan di Karimunjawa, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Warga melakukan kegiatan tradisi Barikan di Karimunjawa, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Menjelang musim baratan tahun ini warga Karimunjawa menggelar tradisi Barikan sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan dan permohonan agar selalu mendapatkan perlindungan dan limpahan rizeki.

Tradisi tersebut diharapkan mampu menjadi ikon baru pesona Karimunjawa yang selama ini telah terkenal sebagai wisata alam yang mendunia.

Harapan tersebut disampaikan Camat Karimunjawa, M Tahsinul Khuluq. Dia berharap, ritual kebudayaan masyarakat Karimunjawa tersebut dapat menjadi alternatif andalan pariwisata Karimunjawa. Karena hingga saat ini industri pariwisata Karimunjawa masih mengandalkan keindahan alam. Wisata budaya hingga kini belum tergarap maksimal.

“Ini bisa menjadi andalan baru pariwisata budaya yang hingga saat ini belum tergarap maksimal. Diharapkan, kedepan kegitan bisa dikembangkan, selain menjaga tradisi dan kerukunan warga, juga menunjang sektor pariwisata,” ujarTahsin kepada MuriaNewsCom, Kamis (5/11/2015).

Ribuan warga Karimunjawa berkumpul di perempatan desa, tepatnya di perempatan Puskesmas Karimunjawa, Kamus sore.

Tokoh masyarakat Karimunjawa, Kundhori, menyampaikan, ketika berkumpul di perempatan, kemudian menggelar doa. Usai doa bersama di perempatan jalan desa, sembilan tumpeng besar diarak diiringi ribuan warga. Satu tumpeng paling besar langsung dibawa menuju pelabuhan ikan

Karimunjawa. Sementara, delapan tumpeng besar lainnya di arak ke tengah alun-alun Karimunjawa. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Ini Tradisi Hindari Bencana di Sonean Pati

 

PATI – Tradisi Lamporan di Desa Sonean, Kecamatan Margoyoso, Pati berlangsung meriah, Kamis (5/11/2015) malam. Lamporan merupakan tradisi warga Sonean agar masyarakatnya terhindar dari bencana.

Dalam tradisi yang diharapkan mendatangkan keselamatan dan kesejahteraan tersebut, warga menggelar aksi pawai dengan membawa obor dari bambu. Obor sendiri merupakan alat penerangan orang Nusantara masa lalu, sehingga tradisi ini seperti kembali ke zaman dulu.

Tak hanya pawai obor, sejumlah warga juga menampilkan berbagai kesenian tradional menarik seperti tarian tradisional, patung sapi yang terbuat dari bambu sebagai simbol hewan ternak, dan beragam atraksi lainnya.

Tradisi Lamporan yang unik tersebut menarik perhatian warga. Tak hanya warga Desa Sonean, sejumlah pengunjung justru banyak berdatangan dari berbagai daerah seperti Kecamatan Pati Kota dan beberapa di antaranya dari luar daerah seperti Jepara.

“Ini tradisi setiap setahun sekali. Pada tahun 1984, tradisi ini sempat berhenti hingga pada 1997 tradisi yang menjadi leluhur kami ini dihidupkan kembali,” ujar Qodim, Plt Kepala Desa Sonean kepada MuriaNewsCom.

Ia berharap, tradisi yang digelar pada bulan Suro tersebut bisa menjadi salah satu cara untuk mengusir pagebluk yang mengancam hewan ternak dan tanaman. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Tradisi Unik Barikan di Karimunjawa yang Keren

Warga berdoa di perempatan desa dalam rangka Barikan, di Karimunjawa, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Warga berdoa di perempatan desa dalam rangka Barikan, di Karimunjawa, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Adzan Salat Asar sudah berkumandang, sejumlah warga menunaikan ibadah. Selepas salat, ribuan warga Karimunjawa berkumpul di perempatan desa, tepatnya di perempatan Puskesmas Karimunjawa. Warga didominasi ibu-ibu dengan mengenakan bawahan kain sarung dan membawa tumpeng kecil dari nasi kuning. Ya, mereka memulai pelaksanaan tradisi Barikan.

Tokoh masyarakat Karimunjawa, Kundhori, menyampaikan, warga berkumpul di perempatan, kemudian menggelar doa. Usai doa bersama di perempatan, sembilan tumpeng besar diarak diiringi ribuan warga. Satu tumpeng paling besar langsung dibawa menuju pelabuhan ikan Karimunjawa. Sementara, delapan tumpeng besar lainnya di arak ke tengah alun-alun Karimunjawa.

“Barikan ini sebagai bentuk wujud syukur dan berbagi kepada sesama makluk ciptaan Tuhan yang ada di laut. Untuk itu, tumpengnya tidak hanya hasil bumi, tapi juga ada hasil laut, karena warga Karimunjawa tidak hanya menggantungkan hidupnya dari hasil bumi, tapi juga dari laut,” papar Kundhori kepada MuriaNewsCom, Kamis (5/11/2015).

Warga meyakini, barang-barang yang ada di tumpeng, seperti hasil bumi dan laut, dapat membawa berkah bagi siapa saja yang mendapatkannya. Namun, yang paling jadi rebutan warga adalah kacang hijau dan garam yang ada di puncak tumpeng.

“Garam dan kacang hijaunya nanti disebar keliling rumah untuk tolak balak,” kata seorang warga peserta Barikan, Navi. Sementara itu, Kundhori kembali menandaskan, selain wujud syukur, Barikan kali ini dimaksudkan untuk menyambut datangnya musim baratan. Dengan harapan, selama musim baratan berlangsung, warga Karimunjawa tetap diberi keselamatan dan limpahan rejeki.

“Kalau musim baratan ombak besar dan angin kencang. Lewat barikan ini diharapkan warga Karimunjawa selalu diberi keselamatan dan limpahan rezeki,” kata Kundhori. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Sambut Musim Baratan, Warga Karimunjawa Gelar Selamatan

Warga Karimunjawa berkumpul di perempatan desa memulai tradisi Barikan sore tadi. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Warga Karimunjawa berkumpul di perempatan desa memulai tradisi Barikan sore tadi. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Menyambut musim baratan tahun ini, warga di Desa Karimunjawa, Kecamatan Karimunjawa menggelar selamatan dengan menyelenggarakan tradisi yang diberi nama Barikan, pada Kamis (5/11/2015) sore tadi.

Warga yang didominasi ibu-ibu dengan mengenakan bawahan kain sarung dan membawa buceng (tumpeng kecil dari nasi kuning), berkumpul dari empat penjuru jalan berkumpul di perempatan desa, setelah waktu salat asar tadi.

Tokoh masyarakat Karimunjawa, Kundhori menjelaskan, berdasarkan tradisi yang sudah berlangsung secara turun temurun, Barikan diselenggarakan setiap sepekan sekali, yaitu setiap malam Jumat Wage (perhitungan Jawa).

Namun, seiring berjalannya waktu, ritual Barikan, sebagai wujud syukur atas hasil bumi dan laut, kini dilaksanakan setiap sebulan sekali. Itu pun tidak semua warga terlibat.

”Barikan ini sebagai wujud rasa syukur kami kepada Tuhan yang telah memberikan rezeki yang melimpah dan berkah. Selain itu juga untuk menyambut datangnya musim Baratan,” ujar Kundhori kepada MuriaNewsCom.

Lebih lanjut dia menjelaskan, bertepatan dengan bulan Sura ini, dan akan datangnya musim Baratan, Barikan kali ini dibuat besar. Selain buceng yang dibawa setiap warga, sembilan tumpeng berukuran besar diarak. Satu tumpeng besar dilarung ke laut, delapan tumpeng besar lainnya menjadi rebutan warga. (WAHYU KZ/TITIS W)

Ada Tradisi Unik Jamaah Salat Idul Adha di Desa Bangoan Usai Salat

Sejumlah jamaah usai salat Idul Adha di masjid Al Mutaqin bersiap untuk menyantap nasi tumpeng bersama-sama. Hal itu merupakan tradisi sejak dahulu di desa Bangoan setiap usai salat ied. (MuriaNewsCom/Priyo)

Sejumlah jamaah usai salat Idul Adha di masjid Al Mutaqin bersiap untuk menyantap nasi tumpeng bersama-sama. Hal itu merupakan tradisi sejak dahulu di desa Bangoan setiap usai salat ied. (MuriaNewsCom/Priyo)

 

BLORA – Hari ini sebagian umat Islam merayakan hari raya Idul Adha. Begitu juga masyarakat di Desa Bangoan, Dukuh Banyubang, Kecamatan Jiken, yang sebagian besar melaksanakan salat ied Adha hari ini di masjid Al Mutaqin. Namun jamaah yang hadir tidak sebanyak ketika salat Idul Fitri beberapa waktu lalu.

”Salat hari raya Idul Adha tahun ini tidak bersamaan, ada yang sudah merayakannya kemarin. Namun meskipun tidak bersamaan, di sini tetap rukun dan berjalan lancar,” jelas salah satu tokoh Agama Sujono, Kamis (24/9/2015).

Ia menjelaskan, salat Idul Adha dimulai pukul 06.00 WIB. Diperkirakan jamaahnya berkurang hampir 20 persen. ”Jamaahnya lebih sedikit, dikarenakan banyak warga yang merantau tidak pulang ke kampung halaman. Berbeda pada saat hari raya Idul Fitri mereka pulang semua dan halaman masjid penuh. Sebagian besar para pelajar juga mengikuti salat ied di sekolahnya,” ungkapnya.

Susanto sebagai khotib mengajak para jamaah salat ied, untuk bisa memaknai hari raya kurban ini dengan mengingat dan belajar dari keikhlasan Nabi Ibrahim AS. ”Mari kita tingkatkan iman dan takwa kita kepada Allah, agar nantinya kita dapat syafaat di akhir yaumil nanti,” jelasnya.

Pihaknya juga tak lupa mengajak jamaah untuk berkurban bagi yang mampu dan mengajak mulai hari ini untuk bisa lebih mendekatkan diri pada sang kuasa. Sehingga makna untuk selalu mengenang ketika Nabi Ibrahim AS harus menyembelih putranya Ismail AS untuk berkurban, demi kecintaan Ibrahim kapada Allah harus dijadikan tauladan bagi semua umat Islam, bahwa apa yang menjadi kehendak Allah harus kita lakukan dengan ikhlas.

Sekedar diketahui usai salat ied sebagian jamaah tak lekas pulang. Mereka membawa tumpeng untuk dimakan bersama. Hal ini sudah menjadi tradisi di desa tersebut, untuk mempererat rasa persaudaraan antar warga. (PRIYO/TITIS W)

Hi..!Ada Hantu Diarak di Makam Desa di Jepara

Warga mengarak Memeden Gadu di Desa Kepuk, Bangsri, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Warga mengarak Memeden Gadu di Desa Kepuk, Bangsri, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Untuk melestarikan tradisi nenek moyang, warga Desa Kepuk, Kecamatan Bangsri, Jepara menggelar sedekah bumi dengan mengarak tumpeng hasil bumi dan memeden gadu, Senin (31/8/2015) sore tadi. Acara ini dimeriahkan ribuan warga setempat.

“Ini sebagai wujud rasa syukur atas hasil bumi yang melimpah. Serta dijauhkan dari serangan hama, warga Desa Kepuk, mengarak tumpeng raksasa hasil bumi dan ratusan memeden gadu. Acara ini dikemas dalam tema festival memeden gadu,” ujar Jatmiko, panitia kegiatan.

Menurutnya, arak-arakan tumpeng raksasa hasil bumi sebagai wujud syukur atas hasil bumi yang dipanen petani melimpah. Sedangkan, memeden gadu yang merupakan hantu-hantunan sawah yang biasa digunakan para petani untuk mengusir hama, dijadikan sebuah simbol agar dijauhkan dari hama.

“Ini sekaligus bentuk syukur warga atas hasil bumi yang melimpah. Diharapkan, pada masa-masa yang akan datang para petani dijauhkan dari berbagai bencana dan serangan hama,” tuturnya.

Seluruh rangkaian kegiatan Festival Memeden Gadu ini digelar di kompleks makam tokoh desa setempat, Mbah Bolem. Meski dilaksanakan di pemakaman desa, tak mengurangi niat masyarakat datang menyaksikan pentas tarian Memeden Gadu yang juga dipentaskan. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Sssttt..! Begini Tradisi Unik Desa di Kudus Biar Tak Diserang Hawa Jahat

Peserta acara tradisi Apitan di Desa Megawon, Kecamatan Jati, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Peserta acara tradisi Apitan di Desa Megawon, Kecamatan Jati, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Hari ini Sabtu (29/8/2015), ribuan warga Desa Megawon, Kecamatan Jati, menggelar tradisi Apitan. Acara yang identik dengan sedekah bumi tersebut dijadikan ajang untuk berdoa bersama, supaya desa diberi keselamatan.

Salah satu perangkat Desa Megawon, Zainuri mengatakan, Apitan atau bulan apit ini memang waktunya untuk bersedekah bumi. “Karena itu semua warga harus bisa mengikuti acara tersebut,” katanya.

Namun untuk menyemangati warga supaya bisa ikut serta, pihak desa menyelipkan dengan karnaval desa yang di ikuti oleh RT, RW dan sekolah yang ada di wilayah ini.

Adapun rute dimulai dari lapangan Megawon sampai ke Pertigaan Megawon. Keberadaan karnaval tersebut akan membuat Apitan ini bisasemarak. Selain itu, lanjut Zainuri, meskipun acara Apitan atau sedekah bumi ini baru berjalan dua kali. Yakni tahun kemarin dan tahun ini. Akan tetapi acara tersebut sangat bermanfaat.

Selain sakral, di dalamnya juga diselipkan doa untuk keselamatan, kemajuan, serta kebaikan warga semua.

Dengan adanya kirab budaya Apitan tersebut, diharapkan pemerintahan Desa Megawon, Kecamatan Jati bisa berjalan dengan baik dan kondusif. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)

Pantai Kartini Jepara Optimistis Capai Target Rp 800 Juta

Pintu masuk dan loket di pantai Kartini dipenuhi pengunjung. Pihak pengelola pantai optimistis bisa lampaui target yang dipatok Pemkab Jepara sebesar Rp 800 juta per tahun. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Pintu masuk dan loket di pantai Kartini dipenuhi pengunjung. Pihak pengelola pantai optimistis bisa lampaui target yang dipatok Pemkab Jepara sebesar Rp 800 juta per tahun. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Manajer Pantai Kartini Jepara, Joko Wahyu mengemukakan, selama pekan Syawalan, pengunjung didominasi warga luar kota di antaranya Demak, Kudus, Semarang, Ungaran, Magelang dan beberapa daerah lain yang tidak ada pantai. Meski demikian, pengunjung lokal Jepara juga cukup banyak.  Lanjutkan membaca

Pekan Syawalan, Pantai Kartini Lampaui Target 45 Ribu Pengunjung

Sejumlah wisatawan memenuhi lokasi objek wisata pantai Kartini dan memanfaatkan jasa foto di depan kura-kura raksasa. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Sejumlah wisatawan memenuhi lokasi objek wisata pantai Kartini dan memanfaatkan jasa foto di depan kura-kura raksasa. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Selama pekan Syawalan kemarin, pengunjung di beberapa tempat wisata di Kabupaten Jepara membludak. Bahkan, di objek wisata pantai Kartini yang sebelumnya ditarget 45 ribu pengunjung untuk pekan Syawalan tahun ini, mampu melampaui target tersebut. Selama pekan Syawalan yang juga dimeriahkan dengan pesta lomban, pantai yang terkenal dengan kura-kura raksasa itu dikunjungi 46.783 wisatawan.  Lanjutkan membaca

Budiyono Berharap Tradisi Lomban di Pati Jadi Wisata Budaya

Sejumlah warga akan melarung kepala kerbau dalam tradisi lomban yang di kawasan pesisir di Kecamatan Tayu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah warga akan melarung kepala kerbau dalam tradisi lomban yang di kawasan pesisir di Kecamatan Tayu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

PATI – Wakil Bupati Pati Budiyono berharap agar tradisi lomban yang digelar di sejumlah kawasan pesisir di Pati, seperti Juwana dan Tayu menjadi destinasi wisata budaya. Ia juga berharap, tradisi tersebut bisa dilestarikan.  Lanjutkan membaca

Perayaan di Hari Besar, Belum Tentu Kebudayaan

Warga Desa Undaan Lor sedang menggelar acara gunungan apeman beberapa waktu lalu. Tradisi tersebut merupakan tradisi baru yang mulai diadakan lima tahun lalu, dan akan terus dilakukan berkala sebagai ciri khas dan kekayaan tradisi daerah Undaan, Kudus. (Edy Sutriyono/MuriaNewsCom)

Warga Desa Undaan Lor sedang menggelar acara gunungan apeman beberapa waktu lalu. Tradisi tersebut merupakan tradisi baru yang mulai diadakan lima tahun lalu, dan akan terus dilakukan berkala sebagai ciri khas dan kekayaan tradisi daerah Undaan, Kudus. (Edy Sutriyono/MuriaNewsCom)

KUDUS – Terkait maraknya perayaan kegiatan keagamaan maupun yang lainnya, Sugiyono, Kasi Seni, Budaya, Tradisi, dan Bahasa Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus menganggap hal tersebut bukan berarti diartikan sebagai kebudayaan. Lanjutkan membaca