Cegah Pembajakan, Setiap Desa Didorong untuk Patenkan Tradisi yang Dimiliki

Salah satu kebudayaan Perang Obor di Desa Tegal Sambi Jepara yang kini masih digelar saat acara tertentu. Pemkab berharap, setiap desa yang memiliki tradisi untuk bisa mematenkan. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Salah satu kebudayaan Perang Obor di Desa Tegal Sambi Jepara yang kini masih digelar saat acara tertentu. Pemkab berharap, setiap desa yang memiliki tradisi untuk bisa mematenkan. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Jepara – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara mendorong setiap desa yang memiliki tradisi atau kebudayaan untuk segera mamatenkan tradisi yang dimiliki itu. Hal tersebut untuk menghindari pembajakan atau menjamin keberlangsungan dari tradisi itu sendiri.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jepara Deni Hendarko melalui Kabid Kebudayaan Agus mengatakan, hampir di tiap desa di Jepara memiliki tradisi masing-masing. Beberapa desa di antaranya memilki tradisi yang khas dan telah berkembang pesat dan tiap tahun selalu menyedot perhatian. “Beberapa telah menjadi ikon kebudayaan dengan daya tawar wisata bagi Jepara,” kata Agus, Jumat (20/1/2017).

Di antara tradisi yang dianggap bahkan telah mendunia itu, seperti Perang Obor di Tegal Sambi, Jembul di Tulakan, Memeden di Gadhu Kawak, Jembul di Banyumanis, Pesta Baratan di Kalinyamatan dan Pekan Syawalan (pesta lomban).

Katanya, di antara tradisi-tradisi tersebut, baru Pekan Syawalan yang penyelenggaraannya langsung ditangani pemkab. “Yang lainnya masih dikelola desa masing-masing. Disparbud sebatas hanya memfasilitasi.
Pematenan tradisi itu diharapkan diikuti dengan pembentukan yayasan,” ungkapnya.

Dia melanjutkan, bila tak dikelola dengan baik, maka ada kekhawatiran tradisi itu dibajak oleh daerah lain, atau bahkan negara lain.

Di sisi lain, pihaknya juga ingin memastikan tradisi tersebut tetap berlanjut atau tak mati serta terkelola dengan baik. Termasuk dalam hal promosi. “Jika dikelola dengan baik, sebenarnya banyak tradisi di Jepara yang bisa dijual karena berpotensi mendatangkan wisatawan,” ucapnya.

Saat ini, pihaknya sudah menyampaikan hal itu ke desa-desa yang memiliki tradisi khas tersebut. Namun, pihaknya tak bisa memaksa, lantaran itu menjadi hak masing-masing desa. Sehingga dalam hal ini hanya sebatas memberikan pembinaan dan memfasilitasi saja.

Editor : Kholistiono

Baru Ada 11 Tradisi yang Dibina Pemkab Jepara

Perang obor yang merupakan salah satu tradisi di Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Perang obor yang merupakan salah satu tradisi di Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom,Jepara – Hampir semua desa yang ada di Kabupaten Jepara memiliki tradisi warisan leluhur. Hanya saja, baru ada segelintir tradisi yang populer, seperti perang obor dan lomban. Padahal, semua tradisi bisa dijadikan daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke Jepara.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jepara Agus Tri Harjono mengatakan, saat ini tercatat baru ada 11 tradisi yang tersebar di sejumlah desa yang mendapat campur tangan Pemkab Jepara dalam hal ini Disparbud.

“Memang hanya sebagian saja yang mampu dibina oleh pemkab. Ini kaitannya dengan keterbatasan, terutama terkait anggaran,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Dia membeberkan, 11 tradisi yang dibina oleh Pemkab Jepara adalah Perang Obor Tegal Sambi, Jembul Tulakan, Jembul Banyumanis, Jondang Kawak, Memeden Gadu Kepuk, Festival Baratan Kalinyamatan, Lomban di Ujung Batu, Demaan dan Karimunjawa, Buka Luwur Mantingan, dan Khoul Sonder. Dari belasan tradisi itu, yang terpopuler hanya Perang Obor dan Lomban Ujung Batu.

“Desa-desa di Jepara yang memiliki tradisi warisan leluhur diharapkan untuk lebih serius dalam mengelolanya. Selain memang merupakan bentuk pelestarian, pengelolaan yang baik bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pariwisata,” ungkapnya.

Dia juga mengatakan, hampir semua desa memiliki tradisi yang unik. Baik desa yang berada di Lereng Muria Jepara, hingga wilayah pesisir. Hanya saja, pengemasan selama ini lebih banyak ala kadarnya.

“Tradisi ini perlu dilestarikan, selain memang terbukti sebagai alat perekat sosial, juga memiliki daya tarik wisata. Contoh lumrahnya di Bali. Jepara sebenarnya bisa. Yang diperlukan adalah pengemasannya,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

Baca juga : Ingin Tradisi di Desamu Terkenal Seperti di Bali? Ini Caranya