Tanah Warga Dihargai Rp 100 Ribu Per Meter untuk Perluasan TPA Landoh

Kondisi TPA Landoh yang akan diperluas pada tahun depan. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang rencananya akan menambah luasan TPA di Desa Landoh, Kecamatan Sulang, Rembang tahun depan.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah Bahan Berbahaya Beracun dan Peningkatan Kapasitas pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Rembang Andreas Edi Gustono mengatakan, luas TPA Landoh saat ini masih terbatas, yaitu 3,2 hektare. Sedangkan idealnya adalah lima hektare.

“Saat ini sudah ada tujuh warga yang mau menjual tanahnya demi perluasan TPA sampah di Landoh. Tetapi kami baru bisa menambahnya pada tahun 2018. Jadi kami pesimistis bisa memperoleh penghargaan Adipura pada tahun depan, jika poin penilaian tetap dititikberatkan ke TPA,” ujarnya.

Menurutnya, penilaian Adipura untuk tahun 2018 akan dimulai pada bulan September atau Oktober tahun ini. Meskipun belum akan menambah luasan TPA, sampah pada tahun ini, pihak DLH masih akan tetap memaksimalkan sistem pengelolaan di TPA Landoh.

“Dari tujuh warga yang mau menjual tanahnya untuk perluasan TPA Landoh, kami akan dapat tambahan luasan 3,5 hektare, sehingga luas TPA akan menjadi 6,7 hektare. Kalau tidak ada hambatan, tahun depan sudah transaksi pembebasan lahan,” katanya.

Andreas menyatakan sudah membicarakan kebutuhan penambahan luasan lahan TPA Landoh kepada Sekretaris Daerah Kabupaten Rembang Subakti. Dinas LH ditunjuk sebagai panitia pembelian tanah untuk perluasan TPA karena lahan yang akan dibeli kurang dari lima hektare.

“Mengenai harga tanah di sana (sekitar TPA Landoh, red.) mulai dari Rp 100-150 ribu per meter2. Panitia pembelian tanah dari Dinas LH sendiri, karena luas lahan yang dibeli di bawah lima hektare,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Dilema Pelebaran TPA Landoh Rembang

Supriyadi
terassupriyadi@gmail.com

MASALAH sampah yang ada di Rembang saat ini menjadi permasalahan serius pemerintah kabupaten setempat. Jika tidak segera diatasi, mereka khawatir masalah ini semakin tak bisa diatasi. Apalagi, setiap harinya sampah selalu bertambah.

Di Rembang sendiri, penambahan sampah dari masyarakat (rumah tangga) setiap harinya mencapai 140 kubik. Sementara luasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sangat terbatas. Untuk sampah di area perkotaan, semua sampah dibuang di TPA Landoh, Kecamatan Sulang.

Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Rembang, luasan TPA Landoh hanya ada sekitar 2,1 hektare dengan kedalaman sekitar 20 meter. Dengan jumlah itu, TPA Landoh hanya bisa dioperasikan paling lama 10 tahun.

Atas dasar itu, BLH Rembang berencana untuk melakukan penambahan luasan TPA Landoh sedikitnya 2 hektare. Perluasan ini, untuk menopang banyaknya sampah dan untuk proses lebih lanjut, termasuk mendaur ulang sampah.

Perluasan lahan ini memang jadi salah satu cara untuk mempertahankan TPA Landoh. Apalagi, pengelolaan sampah untuk bisa didaur ulang tidak mudah. Jika berkaca dari Kudus, pola pemanfaatkan sampah diatur dengan sistem sanitary landfill.

Sistem tersebut adalah sistem pembuangan akhir sampah yang dilakukan dengan cara ditimbun kemudian dipadatkan dengan menggunakan alat berat.

Pola ini, merupakan pengembangan dari pola control landfill atau metode pengelolaan sampah dengan cara ditimbun di TPA kemudian dibuat barisan dan lapisan (SEL). Saat ini kebanyakan kabupaten dan kota di Jawa Tengah masih menggunakan control landfill,  tak terkecuali dengan Rembang.

Dengan pola ini, sampah yang bisa dimanfaatkan dan direduksi hanya lapisan paling bawah. Itupun butuh waktu minimal lima tahun, bahkan bisa lebih.

Hanya saja, rencana tersebut tak diterima dengan oleh masyarakat sekitar. Mereka meyakini perluasan area TPA akan menambah potensi pencemaran lingkungan yang berdampak pada masyarakat Desa Landoh.

Kepala Desa Landoh, Akbar Aji menjelaskan, resapan air dari sampah yang berada di TPA selama ini sudah cukup pemberikan dampak pencemaran kepada masyarakat. Jika perluasan tetap dilakukan, ia khawatir pencemaran akan meningkat dan mengganggu ratusan warganya.

Selama ini, pencemaran tersebut sudah dirasakan warga. Hampis setiap musim hujan ataupun kemarau, sumur warga berasa sampah busuk. Mereka menduga bau busuk tersebut berasal dari TPA.

Permasalahan ini pun sudah sering diadukan ke pemerintah setempat. Akan tetapi, pemerintah belum melakukan tindakan untuk penanganan lebih lanjut. Akhirnya masyarakat pun menolak adanya perluasan lahan karena hal itu.

Dari situ bisa diketahui persoalan penolakan adalah penataan limbah di TPA. Artinya Dinas Lingkungan Hidup (DLH) harus melakukan inovasi mengenai tempat penampungan air limbah sampah.

Selama ini, empat kolam penampungan limbah air sampah kurang berfungsi secara optimal. Dengan kondisi itu, diharapkan DLH Kabupaten Rembang bisa melakukan pengelolaan penampungan limbah air sampah di TPA Landoh. Kondisi itu sebagai optimalisasi empat kolam penampungan limbah air sampah yang saat ini sudah ada.

Jika inovasi dan penataan tersebut sulit dilakukan, rencana pengaktifkan TPA di Desa Sidomulyo Kecamatan Sedan sebagai TPA Stay harus segera direalisasikan. TPA tersebut rencananya akan menampung sampah-sampah yang berasal dari Rembang wilayah timur.

Terkait TPA Sidomulyo, DLH juga harus memikirkan kembali skema pengelolaannya. Bisa saja pemerintah setempat bisa menggunakan sistem sanitary landfill. Dengan sistem ini pemerintah bisa melakukan pemaksimalan sampah yang ditimbun paling bawah sehingga kasus TPA Landoh tidak terulang kembali. (*)

Pemdes Landoh Sarankan Dinas LH Maksimalkan TPA di Sedan

TPA yang berada di Desa Landoh, Kecamatan Sulang. Pihak Pemdes Landoh berharap pemerintah memaksimalkan TPA yang berada di Sedan, bukan justru melebarkan TPA di Landoh. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Rembang – Rencana pelebaran tempat pembuangan akhir (TPA) yang terdapat di Desa Landoh, Kecamatan Sulang, Rembang, yang akan berlangsung pada 2018 mendatang secara tegas ditolak oleh pemerintah desa setempat.

Kepala Desa Landoh Akbar Aji mengatakan, jika pelebaran TPA dilakukan, justru akan menambah pencemaran lingkungan. Sebab, air resapan sampah yang ada selama ini sudah mengganggu ratusan warga karena pencemaran limbah tersebut.

Dirinya menyarankan, agar Dinas Lingkungan Hidup (LH) Rembang memaksimalkan tempat pembuangan akhir (TPA) yang berada di Kecamatan Sedan.  “Masak TPA yang ada di Sedan belum maksimal kok malah merencanakan pelebaran TPA di Landoh. Sebaiknya, TPA di Sedan itu dimaksimalkan saja,” katanya.

Jika rencana pelebaran TPA di Landoh dilakukan, menurutnya, justru hal itu sia-sia. Sebab, keberadaan TPA di Sedan bisa tebengkalai. “TPA di Sedan yang katanya ada seluas 3 hingga 4 hektare itu yang dimaksimalkan. Kalau memang masih ada problem dengan jalan, yang dicarikan solusi dengan warga,” ungkapnya.

Dia melanjutkan, jika rencana pelebaran TPA  di Landoh, justru menurutnya hal itu dianggap seperti memulai dari awal lagi. Karena butuh sosialisai dan pembebasan lahan. Apalagi, kondisi kolam air resapan sampah yang saat ini ada, mencemari sumur warga.

Editor : Kholistiono

Pemdes Landoh Rembang Tolak Pelebaran TPA

Tampak alat berat sedang membuat kolam sementara untuk resapan air sampah di TPA Landoh. Rencananya, TPA Landoh ini bakal diperluas. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Rencana pelebaran tempat pembuangan akhir (TPA) yang terdapat di Desa Landoh, Kecamatan Sulang, Rembang, yang akan berlangsung pada 2018 mendatang secara tegas ditolak oleh pemerintah desa setempat.

Kepala Desa Landoh Akbar Aji mengatakan, jika pelebaran TPA dilakukan, justru akan menambah pencemaran lingkungan. Sebab, air resapan sampah yang ada selama ini sudah mengganggu ratusan warga karena pencemaran limbah tersebut.

“Dengan luas TPA yang ada di sekarang ini saja, air resapan sampahnya sudah mencemari lingkungan. Air resapan tersebut masuk ke sumur warga. Nah, kalau diperluas tentunya akan semakin mengganggu,” ungkapnya.

Dalam hal ini, pihaknya  berharap Dinas Lingkungan Hidup (LH) bisa membuatkan pembuangan air resapan sampah yang bagus, sehingga tidak mencemari sumur warga. Karena selama ini, tempat kolam pembuangan air resapan sampah, dinilai tidak berfungsi baik.

Baca juga : 2018, TPA Landoh Rembang Bakal Diperlebar

Untuk diketahui, luasan TPA Landoh yang saat ini luasnya sekitar 3 hektare, akan diperluas lagi menjadi 5 hektare. Namun demikian, rencana tersebut, saat ini masih terkendala dengan pembebasan lahan warga.

Editor : Kholistiono

2018, TPA Landoh Rembang Bakal Diperlebar

Tampak alat berat sedang membuat kolam sementara untuk resapan air sampah di TPA Landoh. Rencananya, TPA Landoh ini bakal diperluas. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Luasan tempat pembuangan akhir (TPA) di Desa Landoh, Kecamatan Sulang,  kini tidak memungkinkan lagi untuk menampung sampah. Untuk itu, rencana penambahan lahanpun sudah diwacanakan.

Andreas Edy G, Kabid Pengelolaan Sampah Limbah Bahan Berbahaya Beracun dan Peningkatan Kapasitas pada Dinas Lingkungan Hidup (LH) Rembang mengatakan, luasan TPA Landoh ini sekitar 3 hektare. Rencananya, untuk 2018 mendatang akan diperluas.

“Untuk penambahan lahannya ada sekitaran 2 hektare. Dan itupun harus melalui pembebasan lahan warga yang ada di sebelah timur TPA ini,” katanya.

Ia katakan, setiap harinya TPA Landoh ini menampung sampah sebanyak 6 hingga 10 truk sampah. Baik dari daerah Rembang kota maupun sekitarnya. “Wilayah Rembang yang begitu luas, maka setoran sampah yang ditempatkan di TPA ini secara otomatis dapat tidak terkendalikan lagi,” ungkapnya.

Dia melanjutkan, terkati anggaran perluasan lahan, hal tersebut akan dikoordinasikan terlebih dahulu kepada instansi terkait. Sebab, pihak Dinas LH menangani sampah, baru di tahun ini. “Inikan masih masa transisi. Sebab penanganan TPA sebelumnya kan dipegang oleh DPU. Oleh sebab itu, kalau mengenai TPA atau persampahan ini juga harus cermat dan tepat,” paparnya.

Dengan adanya penambahan lahan tersebut, pihaknya berharap supaya penanganan sampah di Rembang bisa maksimal.

Editor : Kholistiono

Dinas LH Rembang Belum Sediakan Dana Kompensasi untuk Warga Terdampak Limbah Resapan Sampah TPA Landoh

Pengurasan kolam penampungan air resapan sampah di TPA Landoh Sulang berlanjut, Selasa (7/3/2017) pagi.(MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Andreas Edy G, Kabid Pengelolaan Sampah Limbah Bahan Berbaya Beracun dan Peningkatan Kapasitas pada Dinas Lingkungan Hidup (LH) Rembang, menegaskan, jika pihaknya belum menyediakan dana kompensasi bagi warga yang terdampak limbah dari air resapan sampah di TPA Landoh, Kecamatan Sulang.

Karena, hingga saat ini belum ada warga yang melapor, baik secara lisan maupun tulisan terkait limbah dari air resapan sampah di TPA Landoh yang mencemari sumur. “Gimana mau menyediakan, lha itu belum ada laporan ke LH mengenai air resapan sampah ini. Apakah memang benar-benar mengganggu warga atau gimana. Kalaupun ada laporan, kita juga akan menganalisa terlebih dahulu,” ungkapnya.

Menurutnya, analisa tersebut diperlukan untuk mengetahui apakah sumur warga tersebut tercemar limbah dari air resapan sampah TPA atau justru tercemar dari sumber lainnya. Dengan begitu, hasilnya bisa diketahui secara transparan.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, puluhan warga Desa Landoh, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang diduga terkena dampak limbah air resapan sampah dari bak penampungan TPA Landoh, rencananya bakal mengadu ke Dinas Lingkungan Hidup (LH) Rembang.

Mirin, salah seorang warga Desa Landoh mengatakan, dengan mengadu ke Dinas LH, diharapkan pengurasan terhadap bak penampungan air resapan sampah segera dilakukan. “Kami juga akan minta kejelasan dari Dinas LH soal kondisi air sumur warga yang tercemar air resapan sampah tersebut,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengatakan, setidaknya ada 40 warga yang terdampak limbah air resapan sampah tersebut. “Kami juga akan meminta kejelasan, apakah warga yang terdampak ini nantinya dapat ganti rugi atau tidak, atau seperti apa,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Jika Tak Hujan, Butuh 5 Hari untuk Kuras Kolam Penampungan Air Resapan Sampah di TPA Landoh

Proses pengurasan kolam penampungan air resapan sampah yang berada di TPA Landoh, Kecamatan Sulang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Proses pengurasan kolam penampungan air resapan sampah dari tempat penampungan akhir (TPA) Landoh, Kecamatan Sulang, saat ini sedang dilakukan. Hal tersebut menyusul banyaknya protes warga, karena air limbah tersebut sudah meluap dan mencemari sumur warga.

Andreas Edy G, Kabid Pengelolaan Sampah Limbah Bahan Berbaya Beracun dan Peningkatan Kapasitas pada Dinas Lingkungan Hidup (LH) Rembang mengatakan, pengurasan kolam tersebut diperkirakan memakan waktu lima hari.

“Ada sebanyak empat kolam yang kita kuras, dan diperkirakan memakan waktu lima hari. Itupun kalau tidak hujan, kalau hujan turun ya bisa lebih lama. Untuk pengurasan sendiri, kita mengerahkan alat berat dan pompa air,” ujarnya.

Dirinya berharap, ketika proses pengurasan ini, cuaca bisa cerah, sehingga berjalan lancar. Sebab, pekan lalu, air kolam sempat meluber. Dalam pengurasan itu, air yang ada di kolam disedot untuk dinaikan ke area TPA supaya bisa meresap. Dan untuk lumpurnya ditempatkan di area lahan pjnggir TPA.

Menurutnya, pengurasan terhadap kolam penampungan air resapan sampah tersebut, terakhir kali dilakukan pada 2011 lalu. Ketika itu, kewenangannya masih di tangan Dinas Pekerjaan Umum (PU).

Editor : Kholistiono

Pembuatan Kolam Sementara untuk Pembuangan Air Resapan Sampah di TPA Landoh Mulai Dilakukan

Dua alat berat disiagakan untuk membuat komlam sementara di TPA Landoh, Kecamatan Sulang, Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Keberadaan kolam yang menampung air resapan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) Landoh, Kecamatan Sulang, Rembang, banyak menuai protes dari warga sekitar. Hal ini, karena limbahnya mencemari air sumur warga.

Terkait hal itu, kini, akan dilakukan pengurasan terhadap air resapan sampah yang berada di kolam tersebut. Namun, sebelum dikuras, terlebih dahulu dibuatkan kolam sementara untuk menampung limbah cair tersebut.

Saat ini, petugas sudah menurunkan alat berat untuk mengecek ketebalan sampah di TPA tersebut. “Kalau memang tumpukan sampahnya agak tipis, akan langsung digali untuk dibikin kolam sementara,” ujar Suyikno, salah satu petugas di TPA Landoh.

Menurutnya, untuk kolam penampungan sementara akan dibuat di area TPA seluas 6 hingga 7 meter dan sedalam 6 meter. Sebab, penampungan sementara itu akan bisa meresap air sampah ke dalam tanah dan tidak bisa mengendap.

Kemudian, terkait kendala saat ini, pihaknya mengakui bahwa di saat hujan tiba, maka pembuatan kolam sementara juga bisa terganggu. Sebab air hujan bisa menggenangi kolam tersebut “Kalau masih hujan kayak ini sulit untuk mengeruk sampah. Sehingga pembuatan kolam sementara juga bisa terganggu,” ucapnya.

Editor : Kholistiono