Ibu TKI Asal Gabus Pati Pingsan Berkali-kali Usai Dikabari Anaknya Tewas di Korsel

Jpeg

Eko, kakak kandung korban tengah menceritakan kabar meninggalnya Sutejo Wibowo kepada wartawan. (MuriaNewscom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – TKI asal Desa Gabus RT 1 RW 2, Kecamatan Gabus, Sutejo Wibowo dikabarkan meninggal dunia di kamar apartemennya di Kota Ansan, Korea Selatan.

Kabar dari Korea itu berhembus ke Pati pada Selasa (28/6/2016) malam. Eko Susilo, kakak kandung korban tidak percaya begitu saja dengan kabar tersebut. Namun, ia percaya setelah beberapa teman korban mengabarkan hal serupa, termasuk Kementerian Luar Negeri RI.

“Tidak ada firasat apapun. Tiba-tiba dapat kabar adik meninggal. Ibu beberapa kali pingsan mendengar kabar duka itu. Kami masih menunggu hasil autopsi dan berharap jenazah segera tiba di rumah duka,” ungkap Eko kepada MuriaNewsCom, Rabu (29/6/2016).

Bahkan, sejumlah foto Sutejo yang dipajang di rumah disembunyikan. Hal itu untuk mengurangi rasa duka mendalam dari keluarga korban.

“Foto-foto yang dipajang disembunyikan semua, biar keluarga tidak menangis terus. Terus terang, Sutejo meninggal mendadak. Kami rasanya tidak percaya,” kata Eko.

Tercatat, Sutejo berangkat ke Korea pada 2008 dan pulang ke Tanah Air pada 2013. Sutejo kemudian berangkat lagi ke Korea pada 2014 dan rencana pulang ke rumah pada 2019 mendatang.

Namun, anak keempat dari lima bersaudara ini harus menghembuskan napas terakhir sebagai pahlawan devisa negara, sebelum pulang ke kampung halaman. Sumi, ibu korban dan beberapa kerabat tak henti-hentinya meneteskan air mata.

Editor : Akrom Hazami

 

Baca juga : TKI Asal Gabus Pati Mendadak Tewas di Korea Selatan

 

 

TKI Asal Gabus Pati Mendadak Tewas di Korea Selatan

 

TKi

Suasana duka di rumah korban di Desa Gabus RT 1 RW 2, Gabus, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Seorang tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Desa Gabus RT 1 RW 2, Kecamatan Gabus bernama Sutejo Wibowo (27) dikabarkan tewas di Korea Selatan.

Eko Susilo, kakak korban saat ditemui MuriaNewsCom di kediamannya, Rabu (29/6/2016) mengatakan, keluarga mendapatkan kabar kematian Sutejo dari Kementerian Luar Negeri pada Selasa (28/6/2016) malam sekitar pukul 19.00 WIB.

“Saya dan keluarga kaget dan tidak percaya perihal meninggalnya Sutejo. Sebab, dia sehat-sehat saja dan setiap hari selalu telepon rumah untuk menanyakan kabar. Waktu mendapatkan kabar, jenazah adik saya sudah berada di kamar mayat di salah satu rumah sakit di Korea,” ungkap Eko.

Dikatakan, saat itu Sutejo tidur di kamarnya di apartemen perusahaan tempat bekerja. Seorang teman mengingatkan untuk bekerja, tetapi Sutejo bilang mendapatkan jatah kerja sif malam.

“Temannya sudah pulang kerja dan menyambangi adik saya untuk kembali mengingatkan kerja, ternyata sudah meninggal dunia. Kami sudah menyerahkan sepenuhnya kepada Kemenlu dan KBRI untuk menyelesaikan masalah tersebut,” tuturnya.

Eko sebetulnya diberikan kesempatan pihak perusahaan untuk berangkat ke Korea dan menyepakati adanya autopsi dan kepolisian setempat. Namun, ia lebih memilih untuk menyerahkan kepada KBRI karena butuh waktu yang cukup lama bila dirinya berangkat ke Korea.

“Kalau saya berangkat ke Korea, saya harus mengurus visa dan segala macamnya. Itu butuh waktu yang cukup lama, sehingga untuk proses autopsi dan lainnya kami serahkan KBRI Seoul,” imbuhnya.

Saat ini, rumah duka sudah terpasang tenda tratak. Rencananya, keluarga akan mengadakan pengajian dan doa bersama di rumah duka mulai malam ini.

Editor : Akrom Hazami