Siswa SD Terseret Arus Bengawan Solo di Klaten, Begini Kondisinya ketika Ditemukan

Petugas melakukan pengevakuasian korban tenggelam di Sungai Bengawan Solo di Klaten. (BPBD Klaten)

MuriaNewsCom, Klaten – Reno Fauzi (12), warga Dukuh Kauman RT 02/ RW 09, Desa Bulakan, Kecamatan/Kabupaten Sukoharjo, terseret arus sungai Bengawan Solo di Dukuh Kwogo Kulon, Desa Sidowarno, Kecamatan Wonosari, Selasa (22/8/2017). Baru pada hari ini, Rabu (23/8/2017), bocah itu bisa ditemukan. Dengan lokasi penemuannya sekitar 75 meter dari lokasi korban hilang.

Operator Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten, Arif Fuad Hidayat kepada MuriaNewsCom, mengatakan, korban mulanya bersama delapan temannya pergi dari rumah. Tujuannya, mereka ingin menonton karnaval di Kabupaten Sukoharjo. Belum sampai di lokasi, mereka ingin mencuci kaki di Sungai Bengawan Solo, sekitar pukul 13.15 WIB.

Korban terpeleset dan terjatuh ke tengah sungai. Kemudian korban tenggelam terbawa arus sungai yang cukup deras. Korban saat bermain menggunakan celana pendek merah seragam sekolah.  Warga bersama relawan langsung melakukan pencarian dengan peralatan seadanya.

Mendapati informasi tersebut, polisi beserta Tim SAR Kabupaten Klaten dan SAR Kabupaten Sukoharjo langsung mendatangi tempat kejadian untuk melakukan pencarian korban yang terseret arus. Tim gabungan melakukan penyelaman dan penyisiran mencari bocah yang menjadi korban hanyut di aliran sungai Bengawan Solo. Pencarian tersebut melibatkan 70 orang relawan.

Penyisiran dilakukan dari titik hanyutnya korban di dekat jembatan Desa Sidowarno, Kecamatan Wonosari. Tim juga melakukan penyelaman. Ada juga tim yang menyisir di permukaan menggunakan pelampung. Tim juga memasang jaring di bawah jembatan Sidoretno dan POndok, Sukoharjo.

Pencarian dilakukan kembali pagi tadi. Korban diketemukan pukul 11.30 WIB dengan jarak sekira 75 meter dari lokasi. “Korban dalam keadaan MD, selanjutnya dibawa ke rumah duka,” ujarnya.

Editor : Akrom Hazami

Hingga Senin Pagi, Polisi masih Periksa Kasus Kecelakaan KA di Kendal yang Tewaskan 5 Orang

Kondisi bangkai mobil yang ditabrak KA Kaligung di Desa Gebang, Kecamatan Gemuh, Kabupaten Kendal. (tribratanews)

MuriaNewsCom, Kendal – Kecelakaan maut terjadi di Gemuh, Kabupaten Kendal,Minggu (20/8/2017). Kecelakaan melibatkan sebuah mobil berwarna hitam Avanza B 998 RS dan Kereta Api (KA) Kaligung di perlintasan tanpa palang pintu km 32+4/5, di Jalan Gebang Selatan, Kecamatan Gemuh.

Saksi mata, Eko Purwanto (30) melihat kjadian berawal saat mobil akan melewati perlintasan rel kereta api tanpa palang pintu. Tiba-tiba ada kereta api melintas. Nahas, bagian belakang mobil tertabrak KA. Seketika, lima orang penumpang mobil meninggal dunia di tempat kejadian.  Seluruth korban dilarikan ke RSI Muhammadiyah Kendal.

Para korban adalah Muhammad Thamrin (63), Lina Retnowati (32), Nabila Jaquin (13), Muhammad Paris Ramadhan (2 ) dan Renan (8 bulan). Mereka satu keluarga. Sekeluarga itu baru pindah ke Kendal pada awal Ramadan 2017. Semula keluarga tersebut tinggal di Kalideres Jakarta Barat.

Mereka baru menetap di Penyangkringan, Kecamatan Weleri ,kabupaten Kendal. Rencananya, mereka dari Penyangkringan menuju rumah kakeknya, Suwandi, di Tejorejo, Ringinarum, Kendal. “Cucu saya yang SMP itu telepon saya terus. Bilang Kek saya mau main ke rumah kakek,” kata Suwandi kakek korban, menirukan cucunya dikutip dari tribunjateng.com.

Katanya, cucunya telepon sekitar pukul 11.30 WIB. Sekitar 20 menit kemudian Avanza hitam itu mengalami kecelakaan. Saat melintasi perlintasan tanpa penjaga palang pintu, tiba-tiba tersambar KA Kaligung.

Posisi mobil itu sedang berada di atas rel kereta api. Saat itu, KA yang sedang melintas cepat menyambar mobil. Hingga mobil pun terpental dan terseret. Korban terlempar keluar dari mobil dan bergelimpangan.

Suwandi tak tahu apa yang terjadi. Namun ada firasat tak enak hati. Kenapa si cucu tidak menelepon lagi. Dirinya pun telepon ponsel Lina, anaknya. Telepon masuk tapi tak diangkat. Kemudian telepon cucunya, juga masuk dan tidak ada yang mengangkat. Suwandi pun makin deg-degan dan hatinya gundah.

Suwandi menelepon anaknya yang lain. Barulah dikabari jika anak cucunya mengalami kecelakaan tertabrak kereta api. Suwandi berusaha tegar meski sangat berat. Dia pun bergegas ke rumah sakit di Kendal untuk memastikan dan melihat langsung tubuh anak cucunya. Kelima jenazah kemudian dibawa ke rumah kakak pertama Lina di Desa Tejorejo, Ringinarum.

Sementara kondisii KA Kaligung tak mengalami masalah kendati usai menabrak mobil. “Keretanya aman dan normal sampai tujuan. Tak ada kerusakan,” kata Manajer Humas PT KAI Daop 4 Semarang, Edy Kuswoyo.

Baca juga : Kecelakan KA Tewaskan Sekeluarga di Kendal, Pemerintah Harus Ikut Tanggung Jawab

Kapolres Kendal AKBP Adiwijaya melalui Kasat Lantas AKP Edi Sutrisno, mengatakan, kronologi dari tabrakan maut tersebut bermula dari Avanza yang berjalan dari arah barat atau Weleri menuju arah timur ke Gemuh. Sesampainya di lokasi, mobil Avanza tersebut belok kanan melintas jalur kereta api sebidang tanpa palang pintu dan saat itu juga melintas Kereta Api Kaligung jurusan Tegal – Semarang dari arah barat.

“Diduga pengemudi mobil ketika melintas jalur rel kurang berhati-hati dan akhirnya tertabrak Kereta Api hingga terseret ke timur sejauh 25 meter”, terangnya.

Polisi sampai saat ini masih melakukan mendalam ihwal kasus kecelakaan ini. 

Kepala Cabang PT Jasa Raharja Jateng, Harwan Muldidarmawan mengatakan pihaknya bakal segera mencairkan santunan untuk ahli waris korban. Para korban dijamin UU.34 Tahun 1964 tentang Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan. Besar santunan kematian untuk korban meninggal karena kecelakaan adalah Rp 50 juta dan segera diserahkan kepada ahli waris.
Adapun ketentuan ahli waris sudah ada dalam undang-undang tersebut. Pencairannya dilakukan pada hari ini, Senin (21/8/2017).

Editor : Akrom Hazami

Peserta Kemah Pramuka Tewas saat Main di Sungai Ciraja Brebes

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Brebes – Ini menjadi pelajaran bagi pengawas kegiatan kemah. Terutama untuk mereka yang menggelar kemah di Hari Pramuka. Sebab akibatnya adalah akan berujung fatal. Seperti yang terjadi di Kabupaten Brebebs. Seorang peserta kemah meninggal dunia karena tenggelam di sungai.

Adalah Dani Azam (10) warga Dukuh Secang, Desa Terlaya, Kecamatan Bantarkawung, Kabupaten Brebes, tewas setelah tenggelam di Sungai Ciraja, Senin 14 Agustus 2017 sekira pukul 11.30 WIB.

Dikutip dari Panturanews.com, informasi yang diperoleh, korban yang merupakan siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Miftahus Salam tersebut tengah mengikuti kegiatan Perkemahan Pramuka yang dilaksanakan di Lapangan Garuda kecamatan setempat.

Kejadiannya bermula saat korban bersama empat temannya peserta kegiatan perkemahan Pramuka, pergi ke Sungai Ciraja tanpa sepengetahuan dari pembinanya. Kelima siswa tersebut tenggelam bagian kedung sungai yang cukup dalam dan tidak dapat berenang.

Warga setempat yang mengetahui peristiwa itu langsung memberikan pertolongan, namun Dani Azam tak dapat diselamatkan, sementara empat teman lainnya berhasil diselamatkan warga.

Korban langsung dilarikan ke Puskesmas Bantarkawung untuk mendapatkan pemeriksaan dan dinyatakan telah meninggal dunia.

Kapolsek Bantrkawung, Aiptu Hasari membenarkan adanya peristiwa tersebut. Menurutnya, pihaknya masih melakukan penyelidikan atas peristiwa yang merenggut nyawa anak peserta kegiatan Perkemahan Pramuka tersebut.

 

Editor : Akrom Hazami

NGERI, Kakek Tewas Terbakar di Grobogan

Polisi melihat kondisi mayat kakek yang tewas terpanggang di Karangrayung, Grobogan, Sabtu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa kebakaran terjadi di Desa Pangkalan, RT 04 RW 02, Kecamatan Karangrayung, Grobogan, Sabtu (12/8/2017). Kebakaran yang menimpa sebuah rumah ini menyebabkan penghuninnya tewas terpanggang.

Korban tewas diketahui bernama Yaspan (75). Saat rumahnya terbakar, ia tidak bisa menyelamatkan diri karena sudah cukup lama mengalami lumpuh.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, kebakaran terjadi sekitar pukul 13.30 WIB. Saat itu, korban di rumah sendirian karena anggota keluarganya sedang beraktivitas di luar rumah.

Sebelum kebakaran terjadi, sempat terdengar bunyi ledakan cukup keras. Adanya ledakan ini membuat warga keluar dari rumah untuk mencari tahu darimana sumber ledakan berasal.

“Tidak lama kemudian, kami mendapati rumah mbah Yaspan sudah terbakar. Sebelumnya, ada suara ledakan keras dan listrik padam,” kata beberapa warga setempat.

Mengetahui ada rumah terbakar, warga kemudian bergegas melakukan pemadaman sebisa mungkin. Konsentrasi warga juga difokuskan untuk menyelamatkan mbah Yaspan yang diketahui masih ada di dalam rumah.

Namun, upaya pemadaman dan penyelamatan gagal dilakukan. Sebab, kobaran api cepat sekali membesar karena banyak barang mudah terbakar dan adanya hembusan angin cukup kencang.

Kebakaran itu akhirnya berhasil dipadamkan setelah tiga unit kendaraan pemadam kebakaran tiba di lokasi kejadian. Meski demikian, upaya pemadaman masih butuh waktu sekitar satu jam.

Kapolsek Karangrayung AKP Sukardi menjelaskan, hasil penyelidikan sementara, kebakaran itu diduga terjadi karena hubungan arus pendek atau konsleting. “Dalam musibah ini ada satu korban jiwa. Korban diketahui menderita lumpuh. Setelah diperiksa, jenazah sudah kita serahkan pada keluarga untuk dimakamkan,” katanya.

 

Editor : Akrom Hazami 

Tak Bisa Berenang, Bocah 9 Tahun Tewas Tenggelam di Embung

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Rembang – Nasib nahas menimpa Ahmad Fadholi (9) warga Desa Sampung, Kecamatan Sarang. Bocah yang masih duduk di bangku kelas 3 Sekolah Dasar (SD) tersebut tewas tenggelam di embung desa setempat, Minggu (7/5/2017) sekitar pukul 08.00 WIB.  Diduga ia tewas karena tidak bisa berenang saat mandi di embung tersebut.

Dari keterangan Kapolsek Sarang, AKP I Made Hartawan, peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 07.00 WIB. Kala itu korban bersama tiga orang temannya yakni Jati, Farouk, dan Arif mandi di embung. Namun, di saat mandi bersama-sama, korban tiba-tiba bergeser ke kolam tengah yang berkedalaman sekitar 2 meter.

Karena tidak bisa berenang, korban terlihat gelagapan. Beberapa kali korban melambaikan tangannya hingga akhirnya tenggelam. Melihat kejadian tersebut, ketiga temannya langsung ketakutan. Mereka pun lari dari embung dan meminta tolong kepada warga. 

Warga yang mendengar kejadian tersebut langsung menuju tempat kejadian. Namun, korban sudah tak terlihat si permukaan. Akhirya, beberapa warga dan perangkat langsung melapor polisi.

Warga bersama pihak kepolisian akhirnya melakukan pencarian hingga satu jam lamanya. Setelah susah payah, korban ditemukan berada di dasar embung dengan kondisi lemas.  Korban sempat diberikan pertolongan pertama, namun tidak berhasil.

“Korban meninggal dunia. Sementara itu, polisi bersama tim medis pun menjalanakan pemeriksaan. Dalam pemeriksaan tersebut, di tubuh koraban tidak ditemukan adanya tanda tanda kekerasan atau penganiayaan. Sehingga korban diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan,” pungkasnya.

Editor: Supriyadi

Terpeleset di Sungai Lusi, Bocah Berusia 11 Tahun di Kedungrejo Grobogan Dicari Tim SAR

Warga dan anggota Tim SAR gabungan berada di pingggir aliran sungai Lusi di Dusun Kedungjago, Desa Kedungrejo, Kecamatan Purwodadi, untuk mencari korban tenggelam Minggu (9/4/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Belasan anggota Tim SAR gabungan menyisir aliran sungai Lusi di Dusun Kedungjago, Desa Kedungrejo, Kecamatan Purwodadi, Grobogan, Minggu (9/4/2017). Tindakan ini dilakukan menyusul adanya laporan anak tenggelam di sungai tersebut sekitar pukul 08.00 WIB. Korban tenggelam seorang bocah berusia 11 tahun bernama Moh Multazam Arrsyad, warga setempat.

Informasi yang didapat menyebutkan, pagi itu korban sedang bermain di pinggiran sungai bersama tiga teman sebanya. Yakni, Kaidar, Moh Faruq, dan Rokhim.

Tenggelamnya korban terjadi saat hendak mengambil sebongkah tanah dipinggiran sungai. Usai mengambil tanah, korban terpeleset dan tercebur ke dalam sungai.

Korban yang tidak bisa berenang sempat berteriak minta pertolongan. Salah seorang temannya yang berdiri di bibir sungai sebenarnya sudah berupaya menarik tangan korban. Namun, setelah pegangan tangan terlepas karena terhempas arus air.

Selanjutnya, rekan korban berteriak minta pertolongan warga. Saat warga berdatangan ke lokasi, korban sudah tidak terlihat karena terseret arus air.

Beberapa warga sempat pula menyelam di sekitar lokasi jatuhnya korban. Namun, hingga tengah hari hasilnya masih nihil.

“Kita masih melakukan pencarian bersama tim SAR. Semoga korban bisa cepat kita temukan,” kata Kapolsek Purwodadi AKP Sugiyanto.

Editor: Supriyadi

Korban Tewas Kecelakaan Gunungkidul Bertambah 1 Orang  

Korban meninggal dunia akibat kecelakaan di Gunungkidul. (ISTIMEWA

MuriaNewsCom, Kudus – Setelah empat orang dinyatakan meninggal saat kecelakaan lalu lintas di Gunungkidul, DIY, Minggu (2/4/2017) lalu, kini korban meninggal bertambah lagi satu orang. Dia adalah Andi Triono (25) warga RT 05 RW 01, Desa/ Kecamatan Kaliwungu, Kudus.

Kapolsek Kaliwungu AKP Sardi mengatakan, Andy diketahui meninggal Kamis (6/4/2017) siang tadi. Pascakecelakaan, dia memang mengalami luka yang serius hingga akhirnya harus dirawat di RS setempat untuk penanganan.

“Korban meninggal bertambah lagi satu orang. Jenazahnya kini dalam proses perjalanan pulang di Kaliwungu, mungkin malam baru sampai karena jarak yang cukup jauh,” kata Sardi saat dihubungi MuriaNewsCom di Kudus.

Menurutnya, korban meninggal pukul 11.26 WIB, sesuai surat keterangan kematian dari Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dokter Sardjito Yogyakarta. Sebelumnya, korban dirawat di RSUD Wonosari Gunungkidul, namun karena lukanya yang cukup parah kemudian dirujuk ke RSUP Dokter Sardjito.

Dikatakan, Andi memang mengalami luka yang cukup parah di kepalanya. Itu membuatnya  tak sadarkan diri mulai Minggu kemarin hingga Kamis pagi. Berbagai upaya pertolongan sudah dilakukan. “Untuk informasi pemakaman menunggu pihak keluarga. Karena sampai kini jenazah belum juga tiba di rumahnya,” ungkapnya.

Dia menambahkan, saat ini kondisi yang kritis masih satu orang, dia adalah Sulistiani, yang mana merupakan ibu dari korban meninggal Aqila. Saat ini Sulistiani dalam penanganan serius lantaran masih belum sadar.

Sebelumnya empat korban tewas seluruhnya warga RW 01 Desa Kaliwungu, yaitu Aditya Fedo Swastana (22), Khairul Amar (29), Abdul Khafid (22) dan Aqila Nuri, balita berusia satu tahun. Keempat jenazah telah dimakamkan di  pemakaman di Gerung, Senin (3/4/2017). 

Editor : Akrom Hazami

Baca juga : 4 Warga Kudus Tewas di Gunungkidul Akibat Kecelakaan

Tragis, Ayah 2 Balita Ini Tewas Tersetrum saat Kerja di Kedungjati Grobogan

Kapolsek Kedungjati AKP Sapto saat melihat korban tersengat listrik di puskesmas setempat, Kamis.(MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa kecelakaan kerja terjadi di Desa Kedungjati, Kecamatan Kedungjati, Grobogan, Kamis (6/4/2017). Seorang pekerja bangunan benama Ahmad Bandowi (31), warga Desa Jumo, Kecamatan Kedungjati, tewas terkena sengatan listrik saat melakukan aktivitasnya.

Informasi yang didapat menyebutkan, peristiwa tragis terjadi sekitar pukul 09.00 WIB. Saat itu, korban bersama rekannya Sugiyarto sedang bekerja membuat gudang toko bangunan.

Pagi itu, korban kebagian tugas untuk menyelesaikan pemasangan pipa pralon untuk saluran air di lantai II. Sebelum dipasang, terlebih dulu, korban mengukur kebutuhan pipa yang diperlukan menggunakan sebuah alat meteran panjang.

Nahas, saat mengukur pada bagian atas, meteran yang dipegang mengenai kabel listrik tegangan tinggi. Akibatnya, korban akhirnya terkena sengat listrik hingga terpental dan jatuh di rumah warga yang ada di samping toko bangunan tersebut.

Tidak lama kemudian, warga bergegas menuju lokasi kejadian untuk melakukan pertolongan. Korban yang mengalami luka parah dilarikan ke Puskesmas Kedungjati. Namun, nyawa pekerja yang memiliki dua anak berusia balita itu tidak tertolong.

Kapolsek Kedungjati AKP Sapto ketika dikonfirmasi membenarkan adanya pekerja bangunan yang tewas tersengat listrik tersebut. Dari hasil pemeriksaan di lokasi, kejadian itu murni sebuah kecelakaan akibat kurang hati-hatinya korban saat melakukan aktivitas.

“Korban kurang waspada dan kemungkinan tidak tahu kalau di atas bangunan ada kabel listrik tegangan tinggi. Kami minta pada masyarakat supaya memerhatikan keselamatan ketika bekerja di dekat kabel listrik,” jelasnya.

Setelah dilakukan pemeriksaan, jenazah korban kemudian diserahkan pada keluarganya untuk dimakamkan. Pihak keluarga sudah bisa menerima dan menganggap peristiwa itu sebagai sebuah musibah.

Editor : Akrom Hazami

Petani Tewas Tersetrum Listrik di Karangtalun Blora

Warga menunjukkan kabel listrik yang dipegang petani hingga mengakibatkan tersetrum di Desa Karangtalun, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Blora – Seorang warga tewas tersengat listrik di rumahnya di Desa Karangtalun, RT 04/RW 01, Kecamata Banjarejo, Blora, Kamis (16/03/2017). Korban bernama Parjo Bin Padi (42). Yang bersangkutan meninggal dunia saat perjalanan ke puskesmas.

Parjo meninggal akibat tersenggol jek kabel listrik pompa air. Tepatnya sepulang dari sawah saat mau beristirahat. Dirinya sempat berteriak untuk meminta tolong ke tetangga rumahnya. Rupanya nyawa Parjo tidak tertolong saat dalam perjalanan menuju ke puskesmas, Jumat (17/03/17).

Dikutip situs resmi Polres Blora, saksi Mariyatun (30), mengatakan bahwa korban pada saat itu korban pulang dari sawah dan bermaksud untuk beristirahat. Kemudian dia mendengar suara teriakan. Spontan, dirinya bersama Parti (30) tetangga lain, menghampiri dan bermaksud menolong korban. Mereka hendak menarik korban dari kabel listrik tersebut.

“Korban menyenggol kabel listrik, sempat pingsan dan sadar sebentar, akan tetapi kemudian tidak sadarkan diri kembali. Kami sempat membawa korban ke puskesmas untuk mendapatkan pertolongan. Namun sayangnya nyawa korban sudah tidak tertolong dan korban telah meninggal dunia saat dalam perjalanan ke puskesmas,” kata Mariyatun.

Mendapat informasi adanya kejadian warga meninggal tersengat arus listrik, anggota Kepolsian Polsek Banjarejo Polres Blora langsung mendatangi TKP.

Dari hasil identivikasi oleh pihak Medis dari Puskesmas Banjarejo dan Kepolsian Polsek Banjarejo, dipastikan murni kejadian tewas tersengat arus listrik. Tidak ada bekas penganiayaan atau kejanggalan lain yang ditemukan pada tubuh korban.

Editor : Akrom Hazami

 

Sopir Truk Tewas Tenggelam di Embung Grobogan

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Grobogan – Seorang sopir truk toko material tewas saat mandi di sebuah embung pertanian di Desa Pakis, Kecamatan Kradenan, Kamis (9/3/2017). Peristiwa ini terjadi tidak lama setelah korban menceburkan diri ke dalam embung berukuran 50 x 50 meter tersebut. Identitas korban diketahui bernama Sumardi, (29), warga Desa Rejosari, Kecamatan Kradenan.

Informasi yang didapat menyebutkan, peristiwa orang tenggelam itu terjadi sekitar pukul 12.30 WIB. Sebelum kejadian, korban sempat mengantarkan pasir ke tempat pelanggan di Kradenan. Setelah pulang dan makan siang, korban pamit pada majikannya untuk membersihkan badan di embung yang lokasinya tidak jauh dari tempatnya bekerja.

Begitu sampai di lokasi, korban langsung melepas pakaian dan menceburkan diri ke dalam embung berisi air sedalam 3 meter tersebut. Beberapa menit setelah itu, korban terlihat seperti mengalami kesakitan dan kemudian berteriak minta tolong.

Saat itu, kebetulan ada beberapa warga yang sedang mengambil air dan mancing ikan di embung tersebut. Selanjutnya, beberapa orang di antaranya langsung terjun ke dalam air untuk menolong korban.“Saat melakukan pertolongan sempat mengalami kesulitan. Soalnya, korban waktu itu meronta-ronta sehingga menyulitkan orang yang menolong,” kata Kades Pakis Priyono.

Akhirnya, dibantu beberapa orang lainnya, korban berhasil dievakuasi dari embung. Namun, saat diperiksa, kondisinya sudah meninggal dunia karena sudah cukup banyak kemasukan air. “Korban sebenarnya bisa berenang dan sudah sering mandi di embung. Mungkin tadi sempat kram kakinya ketika mandi,” sambung Priyono.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Grobogan AKP Eko Adi Pramono ketika dikorfirmasi membenarkan adanya info peristiwa orang tenggelam di embung tersebut. “Dari hasil pemeriksaan tidak ada tanda penganiayaan pada tubuh korban. Selanjutnya, korban sudah kita serahkan pada pihak keluarga untuk dimakamkan,” jelasnya

Editor : Akrom Hazami

Asyik di Pematang Sawah, Pria Ini Mendadak Tewas di Grobogan

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Grobogan – Seorang warga Desa Toko, Kecamatan Penawangan, ditemukan tewas di pematang sawah, Jumat (3/3/2017). Korban yang diketahui bernama Widiyanto (45), ditemukan tergeletak di pematang sawah di Dusun Duwari, Desa Pengkol, Penawangan, sekitar pukul 19.00 WIB.

Informasi yang didapat menyebutkan, sekitar pukul 14.00 WIB, korban pamit pada keluarganya untuk memperbaiki pematang sawah di Dusun Duwari. Namun, hingga magrib, korban tidak kunjung pulang ke rumah.

Pihak keluarga sempat menanyakan keberadaan korban pada tetangga sekitar. Namun, para tetangga menyatakan tidak bertemu dengan korban.

Selanjutnya, beberapa anggota keluarganya memutuskan untuk mencari di lokasi perbaikan pematang sawah. Saat sampai di lokasi, mereka mendapatkan korban tergeletak di pematang sawah. Ketika diperiksa, korban diketahui dalam kondisi sudah tidak bernyawa.

Kapolsek Penawangan AKP Wakidjo ketika dikonfirmasi membenarkan adanya warga yang ditemukan meninggal dunia di pematang sawah. Menurutnya, dari hasil pemeriksaan medis dan tim Inafis Polres Grobogan, tidak ditemukan tanda kekerasan pada tubuh korban.

“Tidak ada bukti kekerasan atau penganiayaan. Dari keterangan pihak keluarga, korban memang dalam kondisi kurang sehat tetapi memaksakan diri untuk bekerja. Setelah diperiksa, jenazah kita serahkan pada pihak keluarga untuk dimakamkan,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

Siswa MTs Tewas saat Mandi di Air Terjun Ngayonan Grobogan

Warga mengangkat tubuh korban tenggelam di air terjun Ngayonan, Dusun Sarip, Desa Karangasem, Kecamatan Wirosari, Grobogan, Jumat. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga mengangkat tubuh korban tenggelam di air terjun Ngayonan, Dusun Sarip, Desa Karangasem, Kecamatan Wirosari, Grobogan, Jumat. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan –  Warga Dusun Sarip, Desa Karangasem, Kecamatan Wirosari, Grobogan, digegerkan dengan peristiwa orang tenggelam di kawasan air terjun Ngayonan, Jumat (27/1/2017). Korban tenggelam diketahui bernama Agus Kuncoro, warga Dusun Kerten, Desa Pojok, Kecamatan Tawangharjo.

Informasi yang didapat menyebutkan, korban berusia 13 tahun itu tercatat sebagai siswa salah satu MTs di Kecamatan Tawangharjo. Lantaran hari Jumat libur, korban berwisata bersama tiga teman sekolahnya yakni, Lutfi, Syahrur, dan Haris, ke objek wisata air terjun tersebut. Rombongan empat orang ini tiba di lokasi wisata alam sekitar pukul 09.00 WIB. Setelah memarkir kendaraan, Agus bersama tiga temannya sempat menikmati pemandangan sejenak.

Tidak lama kemudian, rombongan turun ke aliran sungai di bawah air terjun untuk swafoto atau foto selfie. Puas berfoto ria, Agus kemudian mengajak tiga temannya untuk mandi ke sungai. Namun, dengan alasan cuaca cukup dingin, tiga rekannya menolak ajakan tersebut. Lantaran tidak mau, Agus kemudian melepas celana panjang dan bajunya hingga tinggal mengenakan celana pendek saja. Kemudian, Agus pamit pada temannya mau mandi sambil terjun ke dalam sungai.

Tidak berselang lama, Agus terdengar berteriak minta pertolongan. Mendengar teriakan ini, tiga temannya yang ada di atas berupaya mencari kayu panjang untuk menjangkau tubuh Agus yang sudah nyaris tenggelam. Upaya ini tidak membuahkan hasil karena tubuh Agus terseret arus air yang cukup deras. Melihat kondisi itu, teman Agus berteriak minta pertolongan warga. Tidak lama kemudian, sejumlah warga yang bisa berenang terjun ke sungai untuk mencari keberadaan korban. Setelah mencari hampir satu jam, tubuh korban akhirnya berhasil ditemukan. Sayangnya, saat itu korban didapati sudah dalam kondisi tidak bernyawa.

Kapolsek Wirosari AKP Zainuri ketika dimintai komentarnya membenarkan adanya kejadian anak tenggelam di air terjun Ngayonan tersebut. Dari hasil pemeriksaan, tidak ada tanda penganiayaan pada tubuh korban. “Kemungkinan korban tenggelam karena tidak mahir berenang. Kebetulan, saat ini kondisi sungai cukup dalam. Setelah dilakukan pemeriksaan, jenazah korban kita serahkan pada pihak keluarga untuk dimakamkan,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

Ibu jadi Korban Tabrak Lari di Gebog Kudus

Polisi berada di lokasi kejadian di Desa Sudimoro, Gebog, Kabupaten Kudus. (ISTIMEWA)

Polisi berada di lokasi kejadian di Desa Sudimoro, Gebog, Kabupaten Kudus. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Seorang ibu, Kusmiyati (51) warga Desa Besito, Gebog, Kudus, diketahui meninggal dunia akibat tabrak lari di jalan Desa Sudimoro, Gebog, Jumat (27/1/2017) pagi.

Korban sebelumnya mengendarai sepeda motor K 2179 K. Namun saat di lokasi kejadian, sebuah minibus melaju searah menyerempetnya. Korban pun tak bisa mengendalikan sepeda motor. Korban pun terjatuh. Akhirnya korban meninggal dunia di lokasi.

Kapolres Kudus AKBP Andy Rifa’i melalui Kanit Laka Iptu Sucipto menyebutkan, kecelakaan terjadi di jalan Desa Sudimoro, Gebog.  “Petugas kami yang datang ke lokasi menemukan korban sudah meninggal. Kejadian saat pagi benar. Meski banyak orang namun tak ada yang menggali minibus tersebut,” kata Sucipto, kepada MuriaNewsCom saat dihubungi.

Korban saat sebelum kejadian mengendarai kendaraan dari arah utara ke selatan dengan kecepatan sedang. Kemudian kendaraan jenis minibus juga melaju dari arah yang sama hingga akhirnya tersenggol oleh minibus. Namun melihat korban terkapar bukannya berhenti, minibus malah tancap gas.

Pihaknya berpesan kepada masyarakat agar lebih berhati-hati saat mengendarai kendaraan. Jangan sampai terburu-buru dan tidak mengetahui situasi sekitar saat sedang berkendara. “Apalagi saat ini adalah musim hujan, tentunya jalanan sangat licin di sejumlah tempat,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Pemotor Tewas Gara-gara Tabrak Ibu di Jalan Purwodadi-Semarang

ILUSTRASI

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pejalan kaki dan sepeda motor terjadi di jalan Purwodadi-Semarang, tepatnya di Desa Mangunsari, Kecamatan Tegowanu, Kamis (26/1/2017).

Kecelakaan yang terjadi sekitar pukul 07.00 WIB itu menyebabkan satu korban tewas dan satu orang mengalami patah kaki.

Korban tewas adalah pengendara motor bernama Handoko (52), warga Kecamatan Pulokulon. Sedangkan korban luka adalah Sulimah (57), warga Tegowanu.

Informasi yang didapat menyebutkan, kecelakaan bermula ketika pengendara motor Kawazaki Kaze B 3752 WR melaju dari timur menuju arah Semarang dengan kecepatan tinggi. Sesampai di lokasi kejadian, ada seorang pejalan kaki yang tiba-tiba menyebrang jalan dari sisi selatan ke utara.

Lantaran jarak sudah sangat dekat, pengendara motor tak bisa menghentikan laju kendaraannya. Tabrakan dengan pejalan kaki itu tidak bisa dihindari.

Akibat kejadian ini, pengendara motor terpental dari atas kendaraannya dan mengalami luka parah di bagian kepala lantaran kena benturan aspal jalan. Sedangkan Sulimah mengalami patah kaki akibat ditabrak motor tersebut. Kedua korban kemudian dilarikan ke RS PKU Muhammadiyah Gubug untuk mendapatkan pertolongan medis.

Kasat Lantas Polres Grobogan AKP Panji Gedhe Prabawa menyatakan, tidak lama setelah dirawat, pengendara motor dinyatakan meninggal dunia karena mengalami luka cukup parah di bagian kepala. Sedangkan pejalan kaki yang mengalami patah kaki selanjutnya diambil pihak keluarganya untuk diobatkan ke pengobatan sangkal putung.

“Kecelakaan ini terjadi karena pengendara motor tidak bisa menguasai kendaraan begitu ada pejalan kaki yang tiba-tiba menyeberang jalan,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

 

Tragis, Balita Tewas Ditabrak saat Menyebrang Jalan untuk Beli Roti

ILUSTRASI

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Grobogan – Seorang bocah berusia 5 tahun (balita) jadi korban kecelakaan lalu lintas di jalan raya Karangrayung-Sedadi, Kabupaten Grobogan, Selasa (24/1/2017). Meski sempat dilarikan ke Puskesmas Karangrayung guna mendapatkan pertolongan medis, namun nyawa bocah bernama Cheri Putri Anggraini itu gagal diselamatkan.  

Informasi yang didapat menyebutkan, peristiwa kecelakaan lalu lintas terjadi sekitar pukul 15.00 WIB dan lokasinya masuk wilayah Desa Mangin, Kecamatan Karangrayung. Saat itu, korban sempat ikut neneknya ke sawah untuk menengok tanaman padi.

Tidak lama kemudian, ada penjual roti keliling lewat di seberang jalan. Melihat ada penjual yang sudah dikenal lewat, Cheri kemudian berlarian menyebrangi jalan untuk membeli roti bakar tanpa bilang pada neneknya.

Pada waktu bersamaan, dari arah timur melaju sepeda motor Honda Fit No Pol K 2341 SF yang dikendarai Faisal Amin (17) dengan kecepatan cukup tinggi. Karena bocah tersebut menyebrang tiba-tiba dan jaraknya sudah sangat dekat, pengendara motor tidak punya waktu menghentikan kendaraannya. Akibatnya, motor langsung menabrak bocah tersebut.

Tidak berselang lama setelah kejadian, warga dan pengendara yang melintas segera melakukan pertolongan dan menghubungi pihak kepolisian. Kedua orang yang terlibat kecelakaan langsung dilarikan ke Puskesmas Karangrayung.

Namun, tidak lama setelah ditangani medis, Cheri dinyatakan meninggal karena lukanya cukup parah. Sedangkan, pengendara motor masih menjalani perawatan dan hanya mengalami luka ringan dibeberapa bagian tubuhnya.

Kasat Lantas Polres Grobogan AKP Panji Gedhe Prabawa ketika dikonfirmasi membenarkan adanya info kejadian tersebut. Dari hasil pemeriksaan di lokasi, kecelakaan itu disebabkan pengendara sepeda motor tidak bisa menguasai kendaraan ketika ada anak kecil menyebrang jalan secara mendadak.

“Dalam peristiwa ini, korban anak kecil meninggal ketika dalam perawatan di Puskesmas. Sedangkan, pengendara mengalami luka-luka di bagian kaki dan dagu serta masih dirawat di puskesmas,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

Pekerja Bangunan Tewas Tersetrum saat Perbaiki Atap Toko di Grobogan

Polisi dan warga mengevakausi jenazah pekerja bangunan yang tewas tersetrum di Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Polisi dan warga mengevakausi jenazah pekerja bangunan yang tewas tersetrum di Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan –Peristiwa kecelakaan kerja terjadi di sebuah toko bangunan di Desa Putat, Kecamatan Purwodadi, Selasa (24/1/2017). Seorang pekerja bangunan tewas setelah terkena sengatan listrik, Selasa sekitar pukul 09.00 WIB. Pekerja yang tewas diketahui bernama Suyono (20), Warga Kampung Gading, Kelurahan Kuripan, Kecamatan Purwodadi.

Informasi yang didapat menyebutkan, pagi itu, korban memperbaiki atap bocor bersama temannya, Ribowo (22), warga Desa Karanganyar, Kecamatan Purwodadi. Sebelum kejadian, korban turun ke bawah untuk mengambik adukan semen guna menambal atap.

Ketika naik ke atas, korban sempat berteriak ‘aduh’ dan langsung terkulai di atas genting. Diduga kuat, korban saat naik ke atas sempat menyentuh kabel listrik tegangan tunggi yang membentang di atas bangunan.Melihat kejadian itu, Ribowo yang masih ada di atas langsung berteriak minta tolong. Mendengar teriakan ini, warga berdatangan untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Setelah tahu ada orang yang kesetrum, warga segera menghubungi polisi dan ada yang laporan ke PLN.

Upaya evakuasi korban baru bisa dilakukan setelah aliran listik dipadamkan. Lokasi kejadian yang berada di pinggir jalan Purwodadi-Semarang itu sempat mengundang perhatian para pengguna jalan yang kebetulan melintas di lokasi.

Kapolsek Kota Purwodadi AKP Sugiyanto menyatakan, dari hasil penyelidikan tidak ditemukan tanda kekerasan pada tubuh korban. Peristiwa itu, murni sebuah kecelakaan kerja lantaran korban kurang waspada saat bekerja. “Di atas bangunan ada kabel listrik tegangan tinggi. Kemungkinan, tubuh korban sempat menyentuh kabel sehingga kena sengatan arus listrik. Jenazah korban sudah kita serahkan pada keluarga untuk dimakamkan,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Kasus Pembunuhan di Grobogan Ini Butuh 7 Tahun untuk Ungkap Motifnya

 

Pelaku pembunuhan Suwarto (pakai peci) saat memperagakan adegan terjadinya peristiwa sadih tujuh tahun lalu yang dilakukan terhadap tetangganya sendiri. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Pelaku pembunuhan Suwarto (pakai peci) saat memperagakan adegan terjadinya peristiwa sadih tujuh tahun lalu yang dilakukan terhadap tetangganya sendiri. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Untuk melengkapi berkas pemeriksaan, satuan Reserse Kriminal Polres Grobogan menggelar rekonstruksi kasus pembunuhan di Dusun Geneng, RT 4 RW 6, Desa Karanganyar, Kecamatan Geyer, Grobogan, Kamis (12/1/2017).

Dalam rekonstruksi ini, pelaku bernama Suwarto (31) diminta memperagakan delapan adegan. Mulai dari aktivitas menenggak miras di pos kamling sampai membunuh korbannya, menggunakan sebilah parang. Korban pembunuhan ini bernama Slamet (33) yang masih tetangga pelaku.

Pelaksanaan rekonstruksi lokasinya tidak dilakukan di tempat kejadian guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Tempatnya dipindahkan di Kampung Sambak, Kelurahan Danyang, Kecamatan Purwodadi.

Kasus pembunuhan sadis itu terjadi pada minggu kedua bulan Agustus tahun 2009 lalu. Pelaksanaan rekonstruksi baru bisa dilakukan sekarang lantaran pelaku pembunuhan baru berhasil diringkus awal Desember 2016 lalu. Pelaku berhasil ditangkap di tempat persembunyian terakhirnya di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.

Dalam rekonstruksi terungkap latar belakang terjadinya pembunuhan sadis itu. Penyebabnya, ternyata hanya masalah sepele.

Pelaku merasa tersinggung saat ditegur korban terkait tindakannya memecah botol minuman di depan rumah korban. Korban menegur pelaku karena khawatir pecahan kaca akan terinjak anak-anak kecil yang sering bermain di depan rumahnya.

Nasihat itu justru membuat pelaku naik pitam dan mengancam akan membunuh korban. Tidak lama kemudian, pelaku pulang ke rumah untuk mengambil parang dan membacok korban hingga meninggal.

Kasat Reskrim Polres Grobogan AKP Eko Adi Pramono mengatakan, pelaksanaan rekonstruksi sengaja digelar di luar lokasi pembunuhan untuk menghindari adanya gangguan dari masyarakat selama proses. Rekonstruksi diperlukan untuk melengkapi berkas perkara.

“Rekonstruksi ini bagian dari penyidikan untuk membuat kasus menjadi jelas. Selama proses rekonstruksi tidak ada hambatan,” katanya pada wartawan.

Menurut Eko, proses penangkapan pelaku memang memakan waktu lama. Soalnya, pelaku selalu bersembunyi dan berpindah-pindah tempat pelarian.

“Tidak lama selakukan pembunuhan, pelaku langsung melarikan diri hingga sampai ke Kalimantan. Kami sempat kesulitan melacak pelaku. Tapi berkat informasi dari masyarakat, pelaku akhirnya bisa kita tangkap,” imbuhnya. 

Editor : Akrom Hazami

Korban Perampasan Sepeda Motor di Grobogan Hampir saja Tewas Dikeroyok, Ini Kisahnya

Korban perampasan sepeda motor saat ini menjalani perawatan di RSUD Purwodadi dan mendapat penjagaan dari anggota polisi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Korban perampasan sepeda motor saat ini menjalani perawatan di RSUD Purwodadi dan mendapat penjagaan dari anggota polisi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Latar belakang yang menyebabkan seorang warga bersimbang darah di dekat saluran irigasi bendung Klambu, Minggu (8/1/2017) akhirnya mulai terungkap.

Berdasarkan keterangan korban Muhammad Abdul Rohim alias Tukul (40), sebelumnya sempat ada 12 orang yang hendak merampas motornya. Karena berusaha mempertahankan, korban  warga Desa Sumberejo, Kecamatan Mranggen, Demak itu, akhirnya dianiaya dan dipukuli dengan batu sampai tak sadarkan diri.

Kapolres Grobogan AKBP Agusman Gurning didampingi Kasat Reskrim AKP Eko Adi Pramono dan Kapolsek Godong AKP Ngadiyo menjelaskan, berdasarkan pengakuan korban, pelakunya berjumlah sekitar 12 orang. Para pelaku datang ke lokasi menggunakan tujuh sepeda motor.  

Sebelumnya, sempat terjadi komunikasi antara korban dengan salah satu pelaku. Salah satu pelaku berjanji akan membeli sepeda motor korban di tempat yang sudah ditentukan.

Begitu ketemu, salah satu pelaku mengatakan jika lupa membawa uang dan minta agar motor korban diserahkan. Tentu saja, korban merasa keberatan menyerahkan motornya sebelum dibayar.

Seketika itu juga korban langsung dikeroyok dan dihantam dengan batu hingga jatuh tersungkur berlumuran darah. Setelah mengetahui korban tak bergerak, para pelaku langsung kabur dengan membawa motor korban.

“Korban mengaku, para pelaku tujuannya tidak sebatas menganiaya saja tetapi sempat terlontar akan menghabisi nyawa korban. Mata sebelah kiri korban jadi sasaran pertama agar korban tidak bisa melihat. Hal itu dilakukan karena mata kanan korban sebelumnya sudah buta permanen. Saat ini, korban masih menjalani perawatan di RSUD Purwodadi,” terang kapolres.

Ditambahkan, korban mengenal dua orang diantara 12 pelaku penganiyaan tersebut. Keduanya dikenal saat sama-sama masih mendekam di rutan beberapa bulan lalu. “Identitas pelaku yang dikenal korban sudah kami ketahui. Saat ini, kami masih melakukan pengejaran  ,” imbuh AKP Ngadiyo. 

Seperti diketahui, hari Minggu kemarin, warga yang melintas di jalan irigasi bending Klambu digegerkan dengan adanya sosok orang yang tergeletak di pinggir jalan. Kondisi korban saat itu cukup mengenaskan karena muka dan pakaiannya berlumuran darah.

Semula, korban sempat dikira sudah meninggal. Namun saat diperiksa ternyata masih hidup. Setelah diperiksa polisi, korban akhirnya dibawa ke RSUD untuk menjalani perawatan.

Editor : Akrom Hazami

Pesta Miras Kerap Dilakukan di Lokasi Penemuan Mayat di Ladang Tebu Gebog Kudus

Warga berkerumun di lokasi penemuan mayat di ladang tebu di Desa Jurang, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom)

Warga berkerumun di lokasi penemuan mayat di ladang tebu di Desa Jurang, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Tempat sekitar penemuan mayat laki-laki, di ladang tebu, Desa Jurang, RT 4 RW 3, Gebog, Kudu,  ternyata sering digunakan tempat kumpul para pemuda. Bahkan, tak jarang saat berkumpul, sekelompok pemuda kerap menenggak minuman keras di sekitar lokasi.

Wawan, seorang warga sekitar mengatakan sekitar ladang tebu kerap menjadi tempat kumpul pemuda pada malam hari. Biasanya, mereka memenuhi lokasi saat malam Minggu.

“Biasanya pada malam Minggu, tempat itu sering digunakan minum-minuman keras. Biasanya mereka berkelompok dengan jumlah pemuda yang banyak,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Dia mencontohkan, beberapa botol miras juga kerap ditinggal di kawasan lokasi. Selain itu, beberapa bungkus obat batuk jenis sirup kerap ditemukan berserakan di lokasi. Diduga, obat batuk itu menjadi bahan oplosan untuk menenggak miras.

Dia berharap, pihak kepolisian dapat lebih mengintensifkan lagi kegiatan patroli. Bahkan tak hanya berkeliling, namun juga dapat sesekali berada di likasi biar tahu aktivitas yang sebenarnya terjadi.

Sebelumnya diberitakan, penemuan mayat terjadi di Kudus. Kali ini mayat berjenis kelamin laki- laki ditemukan di ladang tebu, Desa Jurang, RT 4 RW 3, Gebog, Kudus, Kamis (5/1/2017) siang.

Penemuan mayat tersebut menggegerkan warga sekitar. Lokasi yang terdapat di belakang klinik Sukun  membuat warga berbondong-bondong datang ke lokasi.

Editor : Akrom Hazami

Baca jugaMayat Laki-laki Ditemukan di Ladang Tebu Gebog Kudus

Mayat di Ladang Tebu Gebog Bernama Joko, 5 Saksi Telah Dipanggil

Warga dan polisi saat berada di lokasi penemuan mayat di Desa Jurang, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Kamis (5/1/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga dan polisi saat berada di lokasi penemuan mayat di Desa Jurang, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Kamis (5/1/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kapolres Kudus AKBP Andy Rifa’i melalui Kasat Reskrim AKP Kurniawan Daili, mengungkapkan misteri mayat laki-laki membusuk di ladang tebu Desa Jurang, RT 4 RW 3, Gebog masih ditelusuri.

Pihaknya sudah mengambil sejumlah langkah dalam memecahkan misteri, termasuk dengan memanggil sejumlah saksi. Hal itu diungkapkan kepada MuriaNewsCom saat dihubungi, di Kudus, Jumat (6/1/2017).

Dikatakan kalau hingga kini sudah ada lima saksi yang dipanggil. Saksi tersebut merupakan orang yang diduga tahu soal sosok mayat yang gegerkan warga di Gebog itu.

“Kami meminta masyarakat agar tenang, saat ini kami masih mendalami kasus mayat tersebut. Dan sejumlah saksi juga sudah kami mintai keterangan,” kata Kurniawan.

Reskrim juga masih punya kemungkinan memanggil saksi lainnya. Hal itu dibutuhkan untuk memperkuat data dalam menguak kasus mayat laki-laki yang tergeletak di ladang tebu, Kamis (5/1/2017).

Baca juga : Penemuan Mayat di Ladang Tebu Gebog Kudus, Bapak Ini Ngaku Kehilangan Anaknya 

Dia membenarkan kalau mayat yang ditemukan adalah Joko, warga Gebog. Hal itu terlihat dari slip penarikan ATM yang tertulis nama ayahnya. Slip tersebut tersimpan dalam lipatan dompet cokelat yang dikenakannya dan masih tertinggal dalam saku celana.

Hanya dia belum dapat memutuskan apakah mayat tersebut menjadi korban pembunuhan atau semacamnya. Tentang adanya dugaan hal itu juga tidak berani dikatannya, sebelum sejumlah bukti membenarkan asumsi tersebut.

“Agak susah mengecek kondisi fisik mayat apakah ada tanda aniaya atau tidak. Soalnya sudah membusuk karena lamanya meninggal sekitar dua hingga tiga pekan,” ujarnya.

Soal kabar yang beredar tentang mayat itu dibunuh dan pelaku sudah tertangkap polisi, disangkal olehnya. Karena, sejauh ini petugas masih memanggil saksi dan belum mengarah kesana. Kabar yang beredar diminta tidak ditanggapi.

“Mungkin karena saksi kami bawa ke mapolres, dan saksi juga penampilan garang dengan rambut dicat. Jadi dikira pelakunya. Padahal sebagai saksi,” imbuhnya.

 Editor : Akrom Hazami

Baca juga : Mayat Laki-laki Ditemukan di Ladang Tebu Gebog Kudus 

Penemuan Mayat di Ladang Tebu Gebog Kudus, Bapak Ini Ngaku Kehilangan Anaknya

Polisi mendatangi lokasi penemuan mayat di Desa Jurang, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Kamis. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Polisi mendatangi lokasi penemuan mayat di Desa Jurang, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Kamis. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Seorang bapak mengaku kehilangan anak laki-lakinya. Hal itu disampaikannya saat ikut mendatangi lokasi penemuan mayat laki-laki yang ditemukan di ladang tebu, Desa Jurang, RT 04 RW 03, Kecamatan Gebog, Kudus, Kamis (5/1/2017).

Saat di lokasi, seorang bapak tiba-tiba ingin melihat mayat yang ditemukan. Dikhawatirkan mayat merupakan anaknya yang dua pekan tidak pulang ke rumah. “Anak saya Joko, warga Gondosari sudah dua pekan tidak pulang. Dia 18 tahun dan suka keluyuran pakai motor,” kata bapak yang tak menyebutkan identitasnya itu.

Kapolsek Gebog AKP Muhaimin menanggapi hal tersebut dengan santai. Meskipun dari ciri-ciri benar anaknya, namun kepastian masih belum diketahui. “Lantaran tidak ada identitas yang menunjukkan kalau dia adalah ayah dan anak,” kata Muhaimin.

Baca jugaMayat Laki-laki Ditemukan di Ladang Tebu Gebog Kudus 

Dia menuturkan, jika korban memiliki ciri yang khusus, yakni tanda di kepala dan telinga bagian kanan menggunakan memakai anting warna hitam. Itu merupakan ciri khusus pada fisik korban. “Korban laki-laki dengan tinggi badan kurang lebih 160 cm. Selain itu tidak ditemukan tanda pengenal atau identitas apapun dari tubuh korban yang meninggal,” bebernya.

Menurutnya, ciri lainnya yang nampak dari mayat laki-laki, adalah korban memakai celana jeans warna biru, ikat pinggang hitam bergaris putih dan kaos warna hitam. Selain itu, pada tubuh mayat juga mengenakan celana dalam warna abu abu merk Nike.

Sebelumnya diberitakan, penemuan mayat terjadi di Kudus. Kali ini mayat berjenis kelamin laki- laki ditemukan di ladang tebu, Desa Jurang, RT 4 RW 3, Gebog, Kudus, Kamis (5/1/2017) siang.

Penemuan mayat tersebut menggegerkan warga sekitar. Lokasi yang terdapat di belakang klinik Sukun  membuat warga berbondong-bondong datang ke lokasi.

Yatono,  warga Desa Jurang mengatakan, dia bersama temannya yang kali pertama mendapati ada mayat. Saat itu, dia sedang bekerja di lahan tebu. Dia dikejutkan dengan bau tak sedap dari sekitar.

Baca jugaTelinga Mayat Laki-laki di Ladang Tebu Gebog Kudus itu Bertindik

Editor : Akrom Hazami

 

Telinga Mayat Laki-laki di Ladang Tebu Gebog Kudus itu Bertindik

Warga berkerumun di lokasi penemuan mayat di Desa Jurang, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Kamis. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga berkerumun di lokasi penemuan mayat di Desa Jurang, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Kamis. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Mayat laki-laki yang ditemukan di ladang tebu, Desa Jurang RT 04 RW 03, Kecamatan Gebog, hingga kini belum diketahui identitasnya. Namun, dari tubuh mayat memiliki ciri-ciri yang khusus.

Kapolsek Gebog AKP Muhaimin mengatakan, korban memiliki ciri yang khusus, yakni tanda di kepala dan telinga bagian kanan menggunakan memakai anting warna hitam. Itu merupakan ciri khusus pada fisik korban.

“Korban laki-laki dengan tinggi badan kurang lebih 160 cm. Selain itu tidak ditemukan tanda pengenal atau identitas apapun dari tubuh korban yang meninggal,” katanya kepada MuriaNewsCom di lokasi, Kamis (5/1/2017). 

Menurutnya, ciri lainnya yang nampak dari mayat laki-laki, adalah korban memakai celana jeans warna biru, ikat pinggang hitam bergaris putih dan kaos warna hitam. Selain itu, pada tubuh mayat juga mengenakan celana dalam warna abu abu merk Nike.

Baca jugaMayat Laki-laki Ditemukan di Ladang Tebu Gebog Kudus 

Dikatakan, terdapat kemungkinan kalau mayat memang telah meninggal cukup lama. Lokasi yang cukup jauh dari kerumunan dan kondisi tanah yang basah, membuat mayat cepat membusuk. Terbukti dengan wajah mayat yang sudah sulit untuk dikenali. “Ini sedang diselidiki lebih lanjut, tentang identitas mayat dan juga penyebabnya juga masih ditelusuri lebih jauh,” ujarnya.

Penemuan mayat tersebut menggegerkan warga sekitar. Lokasi yang terdapat di belakang klinik Sukun  membuat warga berbondong-bondong datang ke lokasi.

Yatono,  warga Desa Jurang mengatakan, dia bersama temannya yang kali pertama mendapati ada mayat. Saat itu, dia sedang bekerja di lahan tebu. Dia dikejutkan dengan bau tak sedap dari sekitar.

“Tadi sekitar pukul 10.30 WIB saya kletek tebu. Lha kok ada bau tidak enak dan menyengat dan ternyata ada mayat di sekitar kami saat kerja,” katanya kepada MuriaNewsCom di lokasi.

Editor : Akrom Hazami

Mayat Laki-laki Ditemukan di Ladang Tebu Gebog Kudus

Warga mendatangi lokasi penemuan mayat di Desa Jurang, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Kamis. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga mendatangi lokasi penemuan mayat di Desa Jurang, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Kamis. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Penemuan mayat terjadi di Kudus. Kali ini mayat berjenis kelamin laki- laki ditemukan di ladang tebu, Desa Jurang, RT 4 RW 3, Gebog, Kudus, Kamis (5/1/2017) siang.

Penemuan mayat tersebut menggegerkan warga sekitar. Lokasi yang terdapat di belakang klinik Sukun  membuat warga berbondong-bondong datang ke lokasi.

Yatono,  warga Desa Jurang mengatakan, dia bersama temannya yang kali pertama mendapati ada mayat. Saat itu, dia sedang bekerja di lahan tebu. Dia dikejutkan dengan bau tak sedap dari sekitar.

“Tadi sekitar pukul 10.30 WIB saya kletek tebu. Lha kok ada bau tidak enak dan menyengat dan ternyata ada mayat di sekitar kami saat kerja,” katanya kepada MuriaNewsCom di lokasi.

Mayat tersebut terbujur di kebun tebu. Mayat dalam keadaan tengkurap. Mayat diduga telah meninggal dunia lama. Karena tampak belatung mengerumuni mayat. “Mungkin sudah sepekan meninggal. Tapi persisnya kurang tahu. Hanya mayatnya laki-laki,” ujarnya

Sejumlah anggota kepolisian dan kodim tiba di lokasi. Saat ini tim Inafis juga telah datang mengecek kondisi mayat. Dokter dari Puskesmas Gondosari juga telah mengecek kondisi mayat.

Editor : Akrom Hazami

 

Nenek Tewas Tenggelam saat BAB di Sungai di Grobogan

Tim SAR mengusung jenazah korban tenggelam yang berhasil ditemukan di Grobogan, sekitar pukul 14.00 WIB. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Tim SAR mengusung jenazah korban tenggelam yang berhasil ditemukan di Grobogan, sekitar pukul 14.00 WIB. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa orang tenggelam terjadi di Desa Ngabenrejo, Kecamatan/Kabupaten Grobogan, Sabtu (31/12/2016). Korbannya diketahui bernama Yasemi, warga RT 04 RW 01, desa setempat.

Informasi yang didapat menyebutkan, peristiwa tenggelamnya korban diperkirakan sudah berlangsung sekitar waktu Subuh. Namun, baru diketahui pihak keluarganya sekitar pukul 07.00 WIB.

Ceritanya, pagi itu anggota keluarganya sedang mencari keberadaan nenek berusia 80 tahun tersebut. Hal itu dilakukan karena tidak lama lagi ada acara hajatan di rumah cucunya yang akan melangsungkan pernikahan. Rumah korban dan tempat cucunya hanya berselisih beberapa rumah saja.

Setelah dicari dirumah tetangga tidak ketemu, anggota keluarga kemudian mencari di pinggiran sungai yang ada di depan rumah Yasemi. Saat menyisir tempat itu, mereka mendapati tongkat kayu yang biasa dipakai Yasemi sehari-hari.

Setelah diperiksa, ada bekas jejak kaki di pinggir sungai seperti bentuk orang terpeleset. Selanjutnya, warga sekitar berupaya melakukan pencarian di sekitar lokasi. Karena tidak kunjung ditemukan, warga kemudian melaporkan pada pihak kepolisian dan meminta bantuan tim SAR BPBD Grobogan.

“Begitu dapat laporan anggota langsung meluncur kesana. Sekitar lokasi yang diperkirakan jadi tempat awal terpelesetnya korban langsung kita sisir tetapi hasilnya masih nihil,” kata Kasi Kedaruratan BPBD Grobogan Masrichan.

Upaya pencarian kemudian diperluas menyisir aliran sungai. Dalam upaya pencarian ini dibantu pula anggota Ubaloka Kwarcab Grobogan dan tim rescue Basarnas pos Jepara.

Setelah menyisir aliran sungai sepanjang 500 meter, anggota tim SAR berhasil menemukan selendang yang diduga milik korban. Kemudian, pencarian diterukan lagi menyusuri aliran sungai menuju wilayah Desa Temon, Kecamatan Brati. Akhirnya, sekitar pukul 14.00 WIB, jasad korban tenggelam ini berhasil ditemukan dan selanjutnya diserahkan pada pihak keluarganya.

Kapolsek Grobogan AKP Sucipto ketika dikonfirmasi menyatakan, dari hasil pemeriksaan tidak ditemukan tanda penganiayaan. Jenazah korban selanjutnya diserahkan pada pihak keluarga untuk dimakamkan.

Menurutnya, dari hasil keterangan sejumlah saksi, sebelumnya korban sempat pamit mau buang air besar (BAB) ke sungai. Biasanya, korban tidak penah buang air besar di sungai. Tetapi hal itu dilakukan karena rumahnya saat itu penuh orang karena cucunya mau menikah. “Kemungkinan, saat buang air besar itulah korban terpeleset karena cuaca masih agak gelap waktu itu,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

Oknum TNI Sebabkan Warga Meninggal, Dandim Kudus : Saya Minta Maaf

Dandim 0722 Kudus Letkol (Czi) Gunawan Yudha dan foto lokasi kejadian di Jati, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Dandim 0722 Kudus Letkol (Czi) Gunawan Yudha dan foto lokasi kejadian di Jati, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Dandim 0722 Kudus Letkol (Czi) Gunawan Yudha meminta maaf atas sikap oknum TNI membunuh warga di Kudus. Meskipun hal itu dilakukan atas dasar membela diri lantaran anggotanya dikeroyok, namun sebagai pimpinan, dia meminta maaf.

“Saya minta maaf, sebagai pimpinan saya minta maaf atas anggota saya berinisial T. Yang mana seharusnya hal itu tak dapat terjadi, apalagi sampai mengakibatkan meninggal. Kepada masyarakat saya mohon maaf,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Baca juga : Habis Nyanyi di Tempat Karaoke di Kudus, Pemuda Bertato Tewas Ditusuk 

Pihak kodim juga berupaya  membantu keluarga yang ditinggalkan. Seperti dalam pemrosesan pemulangan jenazah dari rumah sakit menuju kediamannya di Desa Pasuruan Lor.

Selain itu, direncanakan juga Dandim Kudus secara langsung bakal datang ke rumah korban. Kedatangannya bermaksud untuk mengucapkan bela sungkawa dan meminta maaf kepada keluarga secara langsung.

Mengenai tindak lanjut anggota, dipastikan diproses secara aturan yang berlaku. Pihaknya tidak menghalangi proses yang berjalan bahkan mendukung hal tersebut, sesuai dengan prosedur. “Tentang proses sekarang masih dalam penanganan. Dan proses penanganan hingga sampai persidangan akan dilakukan di Semarang,” imbuhnya.

Zainal Arifin, pemuda bertato Warga Pasuruan Lor tewas bersimbah darah di Cafe New Lobby usai nyanyi, Rabu (28/12/2016). Korban sebenarnya mengeroyok seorang oknum TNI, T. “Kami melakukan evaluasi terkait hal ini. Evaluasi ke dalam, kepada anggota, supaya ke depan nanti tidak ada kejadian yang serupa semacam ini,” imbuh dia 

Editor : Akrom Hazami