Tenggelamnya Pengusung Jenazah di Sungai Lusi Harus jadi Tamparan Keras Buat Pemerintah

Ali Muntoha
muntohafadhil@gmail.com

SEBUAH ironi muncul dari Kabupaten Grobogan yang selama ini getol menggembar-gemborkan upaya perbaikan infrastruktur dan kesejahteraan rakyatnya. Tenggelamnya seorang warga yang tengah menyeberangkan jenazah dan nenek-nenek yang menyeberang menggunakan ember di Sungai Lusi harus menjadi tamparan keras bagi pemerintah.

Tak hanya Pemkab Grobogan, tapi juga menjadi cubitan keras bagi pemprov dan pemerintahan di atasnya. Sungguh sangat ironi sekali, warga di daerah ini harus mempertaruhkan nyawa hanya untuk menyeberangi Sungai Lusi. Sudah bertahun-tahun kondisi ini terjadi, dan korban pun akhirnya berjatuhan.

Sangat getir ketika melihat warga di daerah ini harus menyeberangkan keranda mayat melewati Sungai Lusi yang begitu dalam dan lebar itu, hanya menggunakan pralon yang dibentuk melingkar, agar bisa menopang keranda agar tetap berada di atas air. Tak ada perahu atau sarana lain. Peziarah yang mengantarkan jenazah pun harus berenang melawan arus sembari menggiring keranda ke seberang sungai.

Sudah bertahun-tahun kondisi ini terjadi di Dusun Ndoro, Desa Tanjungsari, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan. Posisi pemakaman yang berada di seberang Sungai Lusi membuat warga di daerah ini harus menyeberang sungai untuk menguburkan jenazah. Memang sangat ironi di era perkembangan teknologi seperti saat ini masih ada kondisi seperti ini.

Tak ada jembatan yang bisa digunakan warga untuk menyeberang. Ada memang jalan lain, namun jaraknya sangat jauh, dan dinilai tak efektif. Apalagi tiap hari juga banyak warga yang menyeberangi sungai ini dengan cara-cara yang konvensional kalau tak mau dibilang primitif.

Menggunakan ember sebagai pelampung misalnya. Ini juga seperti yang terjadi di Desa Kalanglundo, Kecamatan Ngaringan. Nenek berusia 70 tahun bernama Lasinah tenggelam di Sungai Lusi karena menyeberang sungai menggunakan ember. Kejadian tenggelamnya nenek ini juga pada hari yang sama dengan tenggelamnya pengantar jenazah di Desa Tanjungsari, yakni pada Rabu (8/2/2017).

Kondisi yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun itu memunculkan pertanyaan ke mana selama ini pemerintah? Apa iya pemerintah tidak tahu adanya kondisi seperti ini, apa pemerintah desa tak melaporkannya?

Kini ketika sudah ada korban muncul, pemerintah seharusnya tak boleh lagi abai. Pemerintah harus segera bertindak cepat agar tidak lagi muncul korban-korban baru. Yang dibutuhkan warga di pinggir Sungai Lusi dan sangat mendesak adalah jembatan.

Okelah untuk membangun jembatan tak semudah membalikkan telapak tangan. Pemangku kepentingan pastinya akan beralasan masalah anggaran dan tetek bengek birokrasi lainnya. Namun jika berlarut-larut selalu ada pembiaran, bukan tidak mungkin musibah-musibah orang tenggelam di Grobogan akan semakin besar.

Sembari menunggu pembangunan jembatan, khusus untuk Desa Tanjungsari, ada baiknya pemerintah menyediakan ambulans atau mobil jenazah. Karena selama ini memang ada jalan yang bisa sampai ke pemakaman, namun jarak yang ditempuh sangat jauh membuat warga tetap lebih memilih meyeberangkan jenazah dengan cara primitif tadi.

Pengadaan mobil jenazah tidaklah memberatkan. Namun untuk ke depan keberadaan jembatan laying atau jembatan penyeberangan sangat dibutuhkan warga ini. Pemerintah tak boleh hanya diam dan menganggap enteng masalah ini. Karena nyawa warga dipertaruhkan saat menyeberang sungai.

Mereka terpaksa menyeberang dengan berenang ataupun menggunakan ember sebagai pelampung, karena di seberang sungai itulah tempat warga mengais rezeki. Seperti nenek Lasinah yang tenggelam di Sungai Lusi, setiap hari harus bolak balik menyeberangi sungai menuju sawahnya. Saat ia tenggelam juga baru selesai memupuk tanaman jagung.

Kebiasaan warga menyeberangi sungai dengan cara yang membahayakan ini terpaksa mereka lakukan, karena tak adanya infrastruktur yang memadai. Warga berharap pemerintah segera tanggap dan memerhatikan masalah ini. (*)