Siswa SMP Ini Nekat Jual Terompet demi Bantu Orang Tua di Kudus

M Faisal Abbas (13), warga Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, menata jualannya berupa terompet di area GOR Bung Karno Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

M Faisal Abbas (13), warga Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, menata jualannya berupa terompet di area GOR Bung Karno Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Masa liburan sekolah biasanya dilakukan dengan berlibur bersama keluarga atau bersama teman. Namun tidak untuk remaja yang masih duduk di bangku SMP ini. Dia memilih berjualan terompet ketimbang berlubur karena ingin belajar mandiri.

Dia adalah M Faisal Abbas (13), warga Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati. Selama liburan kali ini, dia berjualan terompet di kompleks GOR Kudus sekitar kantor KONI. Di tepi jalan, dia menunggu pembeli yang datang ke lapaknya. “Memang biasanya juga seperti ini berjualan terompet. Apalagi ini pas akhr tahun jadi bisa jualan. Hitung-hitung dapat membantu orang tua juga,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurut siswa yang duduk di SMP 2 Undaan itu, dalam berjualan tidak kulakan sendiri. Namun orang tuanya yang kulakan terompet dan dia hanya membantu menjualkannya saja. Sementara orang tuanya jualan terompet di lokasi yang tak jauh dari GOR.

Dia mengatakan, sebenarnya ingin juga berlibur seperti teman teman lainnya. Namun dia tak tega melihat keluarganya hidup dengan kondisi pas-pasan. Untuk itulah dia nekat dan tak malu jika harus berjualan terompet. “Ini kan juga halal, bukan barang haram. Selain itu juga mampu membantu orang tua membuat saya senang,” ujarnya.

Dalam sehari, penghasilan dari jualan terompet tak bisa dipastikan. Sebab pada tahun ini pembeli terompet tergolong sepi oleh pembeli. Namun, biasanya pembeli akan berdatangan mendekati malam tahun baru dan detik-detik pergantian tahun.

Dalam membuka dagangan, dia jualan mulai pukul 08.00 WIB hingga sore hari. Khusus malam tahun baru berjualan hingga malam hari. Lokasi yang ramai membuatnya tak takut, terlebih sesekali orang tua juga mengeceknya.

Terompet yang dijual juga harganya macam-macam. Harga yang dipatok milai dari Rp 5 ribu, hingga paling mahal berbentuk naga besar seharga Rp 25 ribu. Harga itu dianggap umum. “Biasanya barang dagangan selalu sisa tiap tahun. Jadi harus disimpan dengan rapi dan dapat dijual tahun depan,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Terompet dari Sampul Alquran Ditemukan di Grobogan

Salah satu anggota Polsek Gubung menunjukan barang bukti kertas lembaran Alquran yang digunakan sebagai bahan terompet. (dok. Polsek Gubug)

Salah satu anggota Polsek Gubung menunjukan barang bukti kertas lembaran Alquran yang digunakan sebagai bahan terompet. (dok. Polsek Gubug)

 

GROBOGAN – Razia terompet yang dilakukan aparat Polres Grobogan dalam beberapa hari terakhir akhirnya membuahkan hasil. Dimana, saat merazia di Kecamatan Gubug, petugas mendapati ada terompet yang dibuat dari sampul Alquran.

Informasi yang didapat menyebutkan, terompet itu ditemukan dari salah satu penjual di kawasan bundaran Gubug. Dari puluhan barang yang dijajakan, setelah diambil sampel, ternyata ada satu terompet yang kertasnya berasal dari sampul Alquran.

“Dari kegiatan yang kita lakukan memang menemukan terompet yang kertasnya berupa sampul Alquran. Lokasi penjual terompet ada di bundaran Gubug,” kata Kapolsek Gubug Iptu Dedy Setya, Rabu (30/12/2015).

Menurut Dedi, terompet dari kertas sampul Alquran itu memang tidak terlihat dari luar. Sebab, terselip dengan bahan kertas lainnya.

Dijelaskan, berdasarkan keterangan penjual, terompet itu tidak dibuat sendiri. Tetapi, dibeli dari pedagang terompet di kawasan Pasar Johar, Semarang.

“Saat kita tanya, pedagang terompet itu mengaku tidak tahu kalau barang yang dijual terdapat kertas sampul Alquran. Soalnya, dia beli barang tersebut dari pedagang di Pasar Johar, Semarang. Saat ini, barang bukti yang ditemukan sudah diamankan di mapolsek,” kata Deddy.

Sementara itu, Kapolres Grobogan Indra Darmawan Iriyanto meminta agar masyarakat tidak terprovokasi dengan masalah tersebut dan memercayakan penanganan pada pihak kepolisian.

Terkait dengan temuan terompet di Gubug, pihaknya sudah melakukan pendataan dan pemeriksaan serta melaporkan kasus itu ke Polda Jateng.

“Penjual terompet untuk sementara masih kita amankan untuk dimintai keterangan. Kami harapkan, masyarakat tetap tenang dan tidak terprovokasi,” katanya. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Warga Wonogiri Ini Rela Hijrah ke Rembang untuk Jualan Terompet

Purnomo menjajakan terompet dagangannya di Jalan Kartini depan Hotel Pantes Rembang, Selasa (29/12/2015). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Purnomo menjajakan terompet dagangannya di Jalan Kartini depan Hotel Pantes Rembang, Selasa (29/12/2015). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

REMBANG – Perayaan tahun baru ternyata menjadi berkah tersendiri bagi sebagian warga, salah satunya warga Wonogiri yang bernama Sarmo Wartoyo (54). Tak tanggung-tanggung, demi mendapatkan laba dari jualan terompet yang digelutinya itu, dia rela merantau ke Rembang.

Ia mengaku sudah sangat lama mengais rezeki di Rembang dengan menjajakan terompet. “Saya sudah lama berjualan terompet, sudah sejak tahun 1970,” katanya ketika berbincang dengan MuriaNewsCom, Selasa (29/12/2015).

Bahkan, dia rela datang ke Rembang dua kali dalam setahun untuk menjual terompet yang dibelinya dari Solo. Selain itu, dia ternyata tidak datang sendirian tetapi bersama keponakannya. “Keponakan saya juga saya ajak, jualan ke sini,” katanya.

Terpisah, keponakan Sarmo, Purnomo (34) mengatakan, setiap tahun laba yang didapatnya tidak bisa diprediksi, tergantung modal dan waktu untuk menjajakan terompet. “Untuk tahun ini modalnya hampir 5 juta. Sejak Sabtu kemarin mulai jualan, rencananya sampai tanggal 2 Januari. Semoga bisa membawa pulang uang 9 Juta,” imbuhnya.

Harga terompet yang ditawarkannya juga bervariatif, tergantung model terompetnya. Mulai dari kisaran Rp 5.000- Rp 13.000. “Kalau yang biasa harganya Rp 5 ribu, yang bentuk naga Rp 10 ribu. Sedangkan yang paling mahal Rp 13 ribu,” bebernya.

Kemudian, terkait dengan adanya adanya terompet yang berbahan kertas sampul Alquran, katanya, sempat ada pihak dari kepolisian Polres Rembang yang mengecek barang dagangannya. Namun dia menegaskan tidak ada terompet dari sampul Alquran yang dijualnya.

“Sudah lama saya mengetahui kabar itu, di daerah Kendal ditemukan terompet terbuat dari sampul Alquran. Kemarin juga ada pihak kepolisian mengecek terompet disini, namun memang terompet yang saya jual tidak ada yang terbuat dari sampul Alqur’an,” pungkasnya. (AHMAD WAKID/KHOLISTIONO)

Kemenag dan MUI Grobogan Dukung Razia Terompet yang Dilakukan Polisi

Kasat Sabhara Polres Grobogan AKP Lamsir tengah memeriksa terompet yang dijajakan di depan Pasar Induk Purwodadi (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kasat Sabhara Polres Grobogan AKP Lamsir tengah memeriksa terompet yang dijajakan di depan Pasar Induk Purwodadi (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Meski sempat muncul ketakutan dari pedagang, namun pelaksanaan razia terompet yang dilakukan aparat Polres Grobogan hari ini mendapat dukungan dari sejumlah pihak. Salah satunya datang dari Kemenag Grobogan.

“Adanya razia dari kepolisian terhadap pedagang terompet kita apresiasi positif. Sebab, itu merupakan langkah pencegahan agar di Grobogan tidak ada peredaran terompet dari bahan kertas yang berasal dari lembaran salah satu kitab suci,” kata Kepala Kemenag Grobogan Moh Arifin.

Meski sudah mendengar kabar ini, namun Arifin mengaku belum mengetahui secara pasti bentuk atau model kertas yang dibuat terompet tersebut. Dia berharap agar situasi yang kondusif tidak dinodai dengan tindakan yang bisa memperkeruh suasana.

Sementara itu, dukungan terhadap razia pedagang terompet juga dilontarkan Sekretaris MUI Grobogan M Mahbub Ulil Albab. Secara tegas, Mahbub menyatakan, pembuatan terompet dengan bahan kertas yang berasal dari lembaran salah satu kitab suci itu merupakan sebuah pelecehan.

“Kalau memang ada yang bikin terompet dengan bahan kertas yang berasal dari lembaran salah satu kitab suci, itu berarti sebuah pelecehan. Hal ini harus ditindak dengan tegas agar peristiwa ini tidak terulang lagi,” tegas Mahbub.

Mahbub menyatakan, meniup terompet dinilai merupakan salah satu ritual kaum Yahudi sehingga tidak perlu ditiru. Dia meminta, agar perayaan tahun baru diisi dengan introspeksi diri terhadap apa yang sudah dilakukan selama satu tahun terakhir. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Polres Pati Razia Terompet yang Terbuat dari Sampul Alquran

Kapolsek Wedarijaksa AKP R Sulistyaningrum tengah mengecek terompet di salah satu toko modern di Wedarijaksa. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kapolsek Wedarijaksa AKP R Sulistyaningrum tengah mengecek terompet di salah satu toko modern di Wedarijaksa. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Jajaran Polres Pati menggelar razia terhadap terompet yang berkemungkinan terbuat dari sampul Alquran, Senin (28/12/2015). Hal itu dilakukan tiga kepolisian sektor, yakni Polsek Gabus, Juwana, dan Wedarijaksa.

Operasi yang dilakukan di sejumlah toko modern dan penjual terompet tersebut diharapkan bisa meminimalisasi terhadap kemungkinan adanya terompet berlafadz Alquran yang beredar luas di masyarakat.

Kapolres Pati AKBP R Setijo Nugroho melalui Kasubbag Humas Polres Pati AKP Sri Sutati mengatakan, pengecekan tersebut dilakukan sebagai tindak lanjut informasi dari Polda Jawa Tengah terkait adanya toko modern yang menjual terompet terbuat dari kertas bertuliskan lafadz Alquran.

“Kami diperintahkan untuk melakukan pengecekan di tempat yang menjual terompet dari bahan kertas. Tak hanya penjualnya, sentra pembuatan juga kami cek,” katanya.

Hasil operasi menunjukkan, terompet dari kertas Alquran tidak ditemukan di Kecamatan Gabus, Juwana, dan Wedarijaksa. Kendati begitu, pihaknya akan tetap menggelar operasi di kecamatan lainnya.
“Operasi serupa akan kami gelar di sejumlah kecamatan lainnya. Hal ini untuk mengantisipasi adanya pelecehan atau penistaan agama,” imbuhnya.

Sementara itu, Kapolsek Wedarijaksa AKP R Sulistyaningrum menambahkan, setidaknya ada lima toko modern yang telah dilakukan pengecekan. Seperti Polsek lain, pihaknya juga belum mendapatkan terompet berlafadz Alquran.

“Kami hanya menemukan terompet biasa. Tapi, monitor akan tetap kami lakukan. Jika ada masyarakat yang menemukan, kami harap bisa segera melaporkan kepada petugas kepolisian,” tukasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Pedagang Terompet di Purwodadi Mendadak Ketakutan

Kasat Sabhara Polres Grobogan AKP Lamsir tengah memeriksa terompet yang dijajakan di depan Pasar Induk Purwodadi (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kasat Sabhara Polres Grobogan AKP Lamsir tengah memeriksa terompet yang dijajakan di depan Pasar Induk Purwodadi (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Sejumlah pedagang terompet tahun baru sempat dibuat kaget saat menjajakan barang dagangannya dipinggiran jalan Kota Purwodadi. Hal ini terkait adanya razia yang dilakukan anggota Polres Grobogan, Senin (28/12/2015) terhadap para pedagang terompet yang sejak beberapa hari terakhir sudah berjualan di berbagai lokasi.

“Terus terang saya tadi sempat ketakutan ketika didatangi petugas. Soalnya, selama bertahun-tahun jualan terompet, baru kali ini ada pengecekan dari pihak keamanan,” kata Darmiyati, salah seorang pedagang terompet di Jl R Suprapto Purwodadi.

Kekagetan para pedagang itu hanya berlangsung sejenak. Setelah mendapat penjelasan dari petugas terkait kegiatan yang dilakukan, para pedagang akhirnya bisa mengerti dan merasa lega.

Kasat Sabhara Polres Grobogan AKP Lamsir menjelaskan, kegiatan itu bertujuan untuk mengantisipasi beredarnya terompet dari bahan kertas yang berasal dari lembaran salah satu kitab suci. Langkah itu dilakukan menyusul adanya kabar ditemukannya terompet dari bahan kertas yang berasal dari lembaran salah satu kitab suci di daerah lain.

“Hari ini, kita merazia semua pedagang terompet yang ada di kawasan Kota Purwodadi. Dari kegiatan yang sudah kita lakukan, sejauh ini kami belum menemukan kasus tersebut di Grobogan,” kata Lamsir yang memimpin langsung kegiatan tersebut.

Lamsir menambahkan, meski tidak ditemukan terompet dari bahan kertas yang berasal dari lembaran salah satu kitab suci, pihaknya akan terus memantau semua pedagang. Selain terompet, penjualan petasan juga akan dapat pantauan hingga menjelang pergantian tahun baru 2016 mendatang. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Video – Penjualan Terompet di Jepara Cenderung Menurun

Purwanto, salah satu perajin terompet di Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Purwanto, salah satu perajin terompet di Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Terompet, menjadi benda yang tak terpisahkan bagi sebagian masyarakat dalam merayakan pergantian tahun. Hal ini, menjadi berkah tersendiri bagi para perajin terompet. Meski demikian, jika dibanding tahun-tahun lalu, penjualan terompet saat ini cenderung menurun.

Hal ini seperti yang dialami perajin terompet yang tinggal di Kelurahan Ujung Batu, Kecamatan Kota Jepara, Purwanto.Warga asli Kabupaten Wonogiri tersebut mengaku mengurangi jumlah terompet yang dibuat, dibanding tahun lalu. Sebab, stok terompet lama masih ada, sehingga pembuatan terompet kali ini dikurangi.

“Saya sudah belasan tahun jadi perajin terompet. Dibanding tahun-tahun lalu, sekarang cenderung berkurang jumlah ordernya,” kata Purwanto kepada MuriaNewsCom, Senin (28/12/2015).

Menurutnya, untuk harga, dia mengaku menaikkan dibanding tahun lalu. Tetapi, kenaikan harganya tidak terlalu signifikan. Dirinya mengaku hanya menaikkan harga sekitar Rp 500 saja.

“Naik sedikit saja, cuma Rp 500. Ya wajarlah, semua kebutuhan lain termasuk bahan juga ada kenaikan harga,” ungkapnya.

Dia menambahkan, sejauh ini penjualan dagangannya tersebut sudah lancar. Sejumlah penjual terompet dari beberapa wilayah di Jepara mendatangi lokasi dia tinggal untuk mengambil barang. Sehingga, dia merasa tidak kesulitan untuk menjualnya. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

 

Pedagang Terompet Musiman di Blora Mulai Bermunculan

Penjual terompet di Jalan Gatot Subroto Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Penjual terompet di Jalan Gatot Subroto Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

BLORA – Menjelang tahun baru 2016, penjual terompet di Blora mulai bermunculan. Salah satunya adalah Laskar (28) warga Blora yang semula hanya sebagai petani, kini mencoba mengambil peruntungan dengan menjual terompet.

Ia menjajakan terompetnya di Jalan Gatot Subroto, Blora mulai pagi hingga malam hari. “Kalau menjelang tahun baru, saya biasa menjual terompet,” jelasnya.

Untuk harga terompet bervariasi, mulai dari Rp 5 ribu hingga yang termahal Rp 20 ribu. Keuntungan yang diperolehnya setiap hari berkisar Rp 50 ribu hingga Rp 70 ribu. “Lumayan hasilnya, ketimbang mencangkul di sawah,” katanya.

Setiap hari ia mampu menjual 20 terompet lebih. Mendekati tahun baru, katanya, ia biasanya mampu menjual hingga lebih dari itu.”Yang pasti, kalau sudah menjelang hari H, pasti pembeli ramai berdatangan,” tutur Laskar.

Ia mengaku, terompet yang ia jual bukan buatannya sendiri, melainkan orderan dari temannya yang sama-sama penjual terompet musiman menjelang tahun baru. “Saya ambil terompet dari teman, saya mengambil keuntungan per terompet hanya Rp 2 ribu saja,” ungkap Laskar.

Di Blora sendiri, sampai saat ini masih belum terlalu banyak penjual terompet. Hal itu, membuat Laskar tak perlu khawatir atas saingan penjualan terompet. (RIFQI GOZALI/KHOLISTIONO)

Tahun Baru, Pedagang Terompet Musiman Siap Kantongi Puluhan Juta Rupiah

Suyono mulai membuat dan menjual terompet di kawasan Desa Getas, Jati, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Suyono mulai membuat dan menjual terompet di kawasan Desa Getas, Jati, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Menjadi pedagang musiman memang selalu memberikan keuntungan tersendiri bagi pelakunya. Baik itu berdagang buah durian, rambutan ataupun berdagang terompet disaat malam Tahun Baru.

Begitu juga yang dilakukan Suyono (37) Warga Purwodadi ini. Pria yang sehari-harinya menjadi tukang becak ini, disaat jelang tahun baru pasti beralih profesi menjadi pedagang terompet.

”Ya untuk menunjang ekonomi keluarga, saya nyambi dagang dan membuat terompet. Karena penghasilan menjadi tukang becak hanya berkisar Rp 600 ribu/bulan. Sedangkan untuk membuat terompet dan menjualnya bisa peroleh untung hingga Rp 10 juta,” katanya.

Biasanya terompet akan laku keras ketika malam tahun baru. Suyono pun dibantu berjualan oleh sang istri Asniati (35) di daerah Getaspejaten, Jati dan berkeliling hingga di depan gedung DPRD Kudus.
”Biasanya kami mangkal di dua tempat. Selain itu, kami juga melayani pembelian secara grosir,” paparnya.

Suyono pun pandai membuat beragam jenis terompet. Setidaknya ada tiga jenis terompet yang ia buat, di antaranya bentuk corong, naga, dan gitar.

”Untuk harganya, yang paling murah Rp 3 ribu dan yang paling mahal Rp 30 ribu. Akan tetapi pembeli saya ini rata-rata dari pedagang ecer. Selain itu, untuk pedagang ecer yang sudah berlangganan kepada saya itu ada sekitar 20 pedagang dari berbagai daerah. Baik Jepara, Demak, Pati dan Kudus,” ujarnya.

Meskipun menjadi tukang becak setiap harinya, tetapi kebutuhannya selalu bisa tertopang dengan penjualan terompet ini. Yaitu dengan berdagang terompet Suyono mampu meraup omzet hingga puluhan juta rupaih. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)