Dicueki Sopir Angkutan, Terminal Gagak Rimang Ngenes

 

Jpeg

Sebuah bus tengah berhenti di depan Blok T, atau eks Stasiun Blora, dibandingkan menunggu penumpang di Terminal Gagak Rimang. MuriaNewsCom (Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Keberadaan Teminal Gagak Rimang Blora makin hari makin ditinggalkan para pemilik jasa transportasi umum. Pasalnya, mereka yang naik kendaraan umum juga menurun jauh.

Inilah yang kemudian menyebabkan para sopir harus memutar otak untuk mendapatkan penumpang. Mereka memilih ngetem di pinggir jalan, dibandingkan masuk ke terminal.

Dan eks Stasiun Blora, atau depan Blok T, menjadi destinasi pemberhentian bus atau angkutan umum yang ada di sana. Begitu juga para penumpang yang terbiasa dengan kondisi itu.

”Saya sudah terbiasa naik dari depan Blok T. Sedangkan kalau dari terminal terlalu lama. Karena harus menunggu penumpang yang lain supaya bisnya penuh. Kalau dari sini bisa naik dan langsung jalan,” ujar Muthohar, warga Jepon, Blora.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Perhubungan Pariwisata Kebudayaan Komunikasi dan Informatika (DPPKKI) Blora Slamet Pamuji melalui Kepala Bidang Lalu lintas dan Angkutan Ignatius Ary Susanto mengatakan, kondisi angkutan umum di Blora semakin memprihatinan.

Hal itu ditengarai semakin melonjaknya jumlah kendaraan pribadi, yang membuat minat masyarakat untuk menggunakan angkutan umum kian menurun. Bus yang beroperasi pun menjadi semakin sedikit.

”Kondisi ini membuat kami semakin kurang bisa optimal dalam melakukan manajemen lalu lintas,” ujar Ignatius Ary Susanto, kepada MuriaNewsCom, Sabtu (30/4/2016).

Dirinya mengatakan, pemberhentian bus di depan Blok T hanya bersifat sementara. Sehingga tidak terlalu mengganggu arus lalu lintas. Jumlah busnya juga sangat terbatas. ”Jika tidak diperbolehkan berhenti justru tidak akan mendapatkan penumpang,” katanya.

Dari data yang dihimpun MuriaNewsCom, untuk angkutan antarkota antarprovinsi ada 175 unit, sedang angkutan antarkota dalam provinsi ada 171 unit, dan angkudes jumlahnya 201 unit.

Ary menambahkan, dari jumlah itu, hanya ada sekitar 40 persen yang masih beroperasi. ”Tentu hal itu merupakan dampak yang sangat signifikan atas melonjaknya jumlah kendaraan pribadi, serta menurunnya minat masyarakat menggunakan angkutan umum,” imbuhnya.

Editor: Merie