Siswa SD Terseret Arus Bengawan Solo di Klaten, Begini Kondisinya ketika Ditemukan

Petugas melakukan pengevakuasian korban tenggelam di Sungai Bengawan Solo di Klaten. (BPBD Klaten)

MuriaNewsCom, Klaten – Reno Fauzi (12), warga Dukuh Kauman RT 02/ RW 09, Desa Bulakan, Kecamatan/Kabupaten Sukoharjo, terseret arus sungai Bengawan Solo di Dukuh Kwogo Kulon, Desa Sidowarno, Kecamatan Wonosari, Selasa (22/8/2017). Baru pada hari ini, Rabu (23/8/2017), bocah itu bisa ditemukan. Dengan lokasi penemuannya sekitar 75 meter dari lokasi korban hilang.

Operator Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten, Arif Fuad Hidayat kepada MuriaNewsCom, mengatakan, korban mulanya bersama delapan temannya pergi dari rumah. Tujuannya, mereka ingin menonton karnaval di Kabupaten Sukoharjo. Belum sampai di lokasi, mereka ingin mencuci kaki di Sungai Bengawan Solo, sekitar pukul 13.15 WIB.

Korban terpeleset dan terjatuh ke tengah sungai. Kemudian korban tenggelam terbawa arus sungai yang cukup deras. Korban saat bermain menggunakan celana pendek merah seragam sekolah.  Warga bersama relawan langsung melakukan pencarian dengan peralatan seadanya.

Mendapati informasi tersebut, polisi beserta Tim SAR Kabupaten Klaten dan SAR Kabupaten Sukoharjo langsung mendatangi tempat kejadian untuk melakukan pencarian korban yang terseret arus. Tim gabungan melakukan penyelaman dan penyisiran mencari bocah yang menjadi korban hanyut di aliran sungai Bengawan Solo. Pencarian tersebut melibatkan 70 orang relawan.

Penyisiran dilakukan dari titik hanyutnya korban di dekat jembatan Desa Sidowarno, Kecamatan Wonosari. Tim juga melakukan penyelaman. Ada juga tim yang menyisir di permukaan menggunakan pelampung. Tim juga memasang jaring di bawah jembatan Sidoretno dan POndok, Sukoharjo.

Pencarian dilakukan kembali pagi tadi. Korban diketemukan pukul 11.30 WIB dengan jarak sekira 75 meter dari lokasi. “Korban dalam keadaan MD, selanjutnya dibawa ke rumah duka,” ujarnya.

Editor : Akrom Hazami

Tak Bisa Berenang, Bocah 9 Tahun Tewas Tenggelam di Embung

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Rembang – Nasib nahas menimpa Ahmad Fadholi (9) warga Desa Sampung, Kecamatan Sarang. Bocah yang masih duduk di bangku kelas 3 Sekolah Dasar (SD) tersebut tewas tenggelam di embung desa setempat, Minggu (7/5/2017) sekitar pukul 08.00 WIB.  Diduga ia tewas karena tidak bisa berenang saat mandi di embung tersebut.

Dari keterangan Kapolsek Sarang, AKP I Made Hartawan, peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 07.00 WIB. Kala itu korban bersama tiga orang temannya yakni Jati, Farouk, dan Arif mandi di embung. Namun, di saat mandi bersama-sama, korban tiba-tiba bergeser ke kolam tengah yang berkedalaman sekitar 2 meter.

Karena tidak bisa berenang, korban terlihat gelagapan. Beberapa kali korban melambaikan tangannya hingga akhirnya tenggelam. Melihat kejadian tersebut, ketiga temannya langsung ketakutan. Mereka pun lari dari embung dan meminta tolong kepada warga. 

Warga yang mendengar kejadian tersebut langsung menuju tempat kejadian. Namun, korban sudah tak terlihat si permukaan. Akhirya, beberapa warga dan perangkat langsung melapor polisi.

Warga bersama pihak kepolisian akhirnya melakukan pencarian hingga satu jam lamanya. Setelah susah payah, korban ditemukan berada di dasar embung dengan kondisi lemas.  Korban sempat diberikan pertolongan pertama, namun tidak berhasil.

“Korban meninggal dunia. Sementara itu, polisi bersama tim medis pun menjalanakan pemeriksaan. Dalam pemeriksaan tersebut, di tubuh koraban tidak ditemukan adanya tanda tanda kekerasan atau penganiayaan. Sehingga korban diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan,” pungkasnya.

Editor: Supriyadi

Bocah Tenggelam di Sungai Lusi Grobogan Ditemukan Tewas

Jenazah korban tenggelam di Sungai Lusi dibawa petugas menuju rumah duka di Dusun Kedungjago, Desa Kedungrejo, Kecamatan Purwodadi, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Setelah setengah hari, anggota Tim SAR gabungan yang menyisir Sungai Lusi Grobogan berhasil menemukan korban tenggelam, Senin (10/4/2017). Korban Moh Multazam Arrsyad (11), ditemukan menjelang zuhur, sekitar pukul 11.30 WIB, dalam kondisi tewas.

“Ya, korban tenggelam sudah berhasil kita temukan. Tadi, sekitar pukul 11.30 WIB ketemunya,” kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Grobogan Budi Prihantoro.

Upaya pencarian korban dilakukan  mulai sekitar lokasi hingga jembatan Lusi di utara kota Purwodadi. Namun, korban berhasil ditemukan sekitar 500 meter di sebelah barat lokasinya tenggelam.

“Setelah diperiksa petugas, jenazah sudah diserahkan pada pihak keluarga untuk dimakamkan,” imbuh Wakapolsek Purwodadi Iptu Supardi.

Baca juga : Bocah 11 Tahun Terpeleset di Sungai Lusi Grobogan

Seperti diberitakan, korban mengalami musibah ketika sedang bermain di pinggiran sungai di Dusun Kedungjago, Desa Kedungrejo, Kecamatan Purwodadi, Grobogan bersama tiga teman sebanya, Minggu (9/4/2017) sekitar pukul 08.00 WIB. Yakni, Kaidar, Moh Faruq, dan Rokhim.

Tenggelamnya korban terjadi saat hendak mengambil sebongkah tanah di pinggiran sungai. Usai mengambil tanah, korban terpeleset dan tercebur ke dalam sungai.

Korban yang tidak bisa berenang sempat berteriak minta pertolongan. Salah seorang temannya yang berdiri di bibir sungai sebenarnya sudah berupaya menarik tangan korban. Namun, setelah pegangan tangan terlepas karena terhempas arus air.

Selanjutnya, rekan korban berteriak minta pertolongan warga. Saat warga berdatangan ke lokasi, korban sudah tidak terlihat karena terseret arus air.  

Editor : Akrom Hazami

 

Pencarian Bocah Tenggelam di Sungai Lusi Grobogan Dilanjutkan

Anggota Tim SAR gabungan melanjutkan pencarian bocah yang tenggelam di sungai Lusi di Dusun Kedungjago, Desa Kedungrejo, Kecamatan Purwodadi (MuriaNewsCom / Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Anggota Tim SAR gabungan kembali melakukan penyisiran aliran Sungai Lusi, Senin (10/4/2017). Tujuannya, untuk mencari keberadaan Moh Multazam Arrsyad (11) yang dilaporkan tenggelam pada Minggu (9/4/2017) kemarin.

Kabid Kedaruratan BPBD Grobogan Masrichan menyatakan, setelah dapat laporan anak tenggelam, tim SAR gabungan sudah berupaya melakukan penyisiran sekitar lokasi hingga jembatan Lusi di utara kota Purwodadi. Namun, hingga petang hasilnya masih nihil.

“Seharian kemarin kita sudah berupaya mencari keberadaan korban tetapi belum ketemu. Hari ini, pencarian kembali kita lanjutkan,” jelasnya.

Pencarian hari kedua akan diawali dari lokasi tenggelamnya korban di Dusun Kedungjago, Desa Kedungrejo, Kecamatan Purwodadi, Grobogan. Penyisiran akan dilakukan pada dua sisi menyusuri aliran sungai ke arah Bendung Klambu.

“Kita juga dapat dukungan dari tim Basarnas pos Jepara. Mudah-mudahan, korban bisa segera ditemukan,” imbuhnya.

Seperti diberitakan, korban mengalami musibah ketika sedang bermain di pinggiran sungai bersama tiga teman sebayanya. Yakni, Kaidar, Moh Faruq, dan Rokhim.

Tenggelamnya korban terjadi saat hendak mengambil sebongkah tanah di pinggiran sungai. Usai mengambil tanah, korban terpeleset dan tercebur ke dalam sungai.

Korban yang tidak bisa berenang sempat berteriak minta pertolongan. Salah seorang temannya yang berdiri di bibir sungai sebenarnya sudah berupaya menarik tangan korban. Namun, setelah pegangan tangan terlepas karena terhempas arus air.

Selanjutnya, rekan korban berteriak minta pertolongan warga. Saat warga berdatangan ke lokasi, korban sudah tidak terlihat karena terseret arus air.  

Editor : Akrom Hazami

Baca juga : Bocah 11 Tahun Terpeleset di Sungai Lusi Grobogan

Tenggelam di Temanggung, Korban Ditemukan di Pantai Bondo Jepara

ILUSTRASI

MuriaNewsCom,Jepara – Susanti (45), warga Tlogowungu, Gemawang, Kabupaten Temanggung, yang tenggelam di Sungai Pupu pada Senin (20/3/2017) akhirnya ditemukan. Susanti di temukan dalam kondisi meninggal dunia di Pantai Bondo, Jepara.

“Jenazah ditemukan pertama kali oleh warga yang sedang mencari ikan di Pantai Bondo,” kata juru bicara Basarnas Jawa Tengah Maulana Affandi, seperti dikutip dari www.antarajateng.com, Jumat (24/7/2017)

Menurutnya, temuan itu kemudian dilaporkan ke petugas kepolisian setempat yang dilanjutkan dengan evakuasi jenazah ke Rumah Sakit Kartini Jepara.

Petugas, kemudian menginformasikan penemuan wanita berumur sekitar 45 tahun yang diperkirakan telah meninggal 3 hingga 4 hari sebelumnya.

Lebih lanjut Affandi menyampaikan, petugas kemudian menginformasikan ke pihak keluarga untuk menanyakan perihal temuan tersebut. “Pihak keluarga sudah membenarkan jenazah yang hanyut sekitar empat hari lalu itu,” katanya.

Untuk diketahui, Susanti dilaporkan hanyut di Sungai Pupu pada 20 Maret 2017. Susanti hanyut ketika menyeberang dengan dua anaknya. Dua anaknya berhasil selamat, sedangkan Susanti terbawa hanyut derasnya arus sungai.

Editor : Kholistiono

Sopir Truk Tewas Tenggelam di Embung Grobogan

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Grobogan – Seorang sopir truk toko material tewas saat mandi di sebuah embung pertanian di Desa Pakis, Kecamatan Kradenan, Kamis (9/3/2017). Peristiwa ini terjadi tidak lama setelah korban menceburkan diri ke dalam embung berukuran 50 x 50 meter tersebut. Identitas korban diketahui bernama Sumardi, (29), warga Desa Rejosari, Kecamatan Kradenan.

Informasi yang didapat menyebutkan, peristiwa orang tenggelam itu terjadi sekitar pukul 12.30 WIB. Sebelum kejadian, korban sempat mengantarkan pasir ke tempat pelanggan di Kradenan. Setelah pulang dan makan siang, korban pamit pada majikannya untuk membersihkan badan di embung yang lokasinya tidak jauh dari tempatnya bekerja.

Begitu sampai di lokasi, korban langsung melepas pakaian dan menceburkan diri ke dalam embung berisi air sedalam 3 meter tersebut. Beberapa menit setelah itu, korban terlihat seperti mengalami kesakitan dan kemudian berteriak minta tolong.

Saat itu, kebetulan ada beberapa warga yang sedang mengambil air dan mancing ikan di embung tersebut. Selanjutnya, beberapa orang di antaranya langsung terjun ke dalam air untuk menolong korban.“Saat melakukan pertolongan sempat mengalami kesulitan. Soalnya, korban waktu itu meronta-ronta sehingga menyulitkan orang yang menolong,” kata Kades Pakis Priyono.

Akhirnya, dibantu beberapa orang lainnya, korban berhasil dievakuasi dari embung. Namun, saat diperiksa, kondisinya sudah meninggal dunia karena sudah cukup banyak kemasukan air. “Korban sebenarnya bisa berenang dan sudah sering mandi di embung. Mungkin tadi sempat kram kakinya ketika mandi,” sambung Priyono.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Grobogan AKP Eko Adi Pramono ketika dikorfirmasi membenarkan adanya info peristiwa orang tenggelam di embung tersebut. “Dari hasil pemeriksaan tidak ada tanda penganiayaan pada tubuh korban. Selanjutnya, korban sudah kita serahkan pada pihak keluarga untuk dimakamkan,” jelasnya

Editor : Akrom Hazami

Warga Wangunrejo Pati Tenggelam di Sungai Rowo saat Cari Ikan

Sejumlah warga berkerumun di Sungai Rowo di mana pencari ikan tenggelam dan hanyut di sana, Sabtu (25/2/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang warga Desa Wangunrejo, Kecamatan Margorejo, Pati, Hartoyo (31) tenggelam di Sungai Rowo, Desa Jambean Kidul, Margorejo, Sabtu (25/2/2017).

Tardi, salah satu saksi mengatakan, saat itu korban tengah mencari ikan dengan jaring. Penduduk setempat menyebutnya dengan istilah anco.

“Korban terlihat akan menyeberang Sungai Rowo. Korban terpeleset hingga akhirnya jatuh dan tercebur ke sungai. Korban tidak bisa berenang sehingga akhirnya tenggelam dan hanyut,” ujar Tardi.

Pada saat korban terseret arus, ada sejumlah saksi yang melihat. Berhubung Sungai Rowo sangat dalam dan lebar, beberapa saksi yang melihat tidak berani menolong. Namun, saksi mencoba meminta pertolongan dan melaporkan kejadian itu kepada perangkat desa setempat.

Tercatat, Sungai Rowo memiliki kedalaman enam meter dan lebar 20 meter dengan arus yang cukup tinggi. Korban hanyut sendiri memiliki badan dengan tinggi 168 cm, mengenakan jaket warna abu-abu celana pendek warna hijau tua dan kaos kaki warna hitam.

Hingga laporan ini diperoleh, korban belum diketemukan. Sementara itu, Tim SAR dari relawan berbagai organisasi dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) tengah melakukan pencarian jasad korban. Peristiwa tersebut sempat mengejutkan masyarakat sekitar.

Editor : Akrom Hazami

Seberangi Sungai Pakai Ember, Nenek Hanyut di Grobogan

Tim SAR BPBD Grobogan sedang menyisir aliran sungai Lusi di Desa Kalanglundo, Ngaringan untuk mencari korban tenggelam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Tim SAR BPBD Grobogan sedang menyisir aliran sungai Lusi di Desa Kalanglundo, Ngaringan untuk mencari korban tenggelam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan –  Peristiwa orang tenggelam di Sungai Lusi terjadi di Desa Kalanglundo, Kecamatan Ngaringan, Rabu (8/2/2017). Korban tenggelam yang hingga sore tadi belum ditemukan diketahui bernama Lasinah, warga yang tinggal di Dusun Guyangan.

Informasi yang didapat menyebutkan, peristiwa tenggelamnya nenek berusia 70 tahun itu terjadi sekitar pukul 10.00 WIB. Sebelum kejadian, korban sedang memupuk tanaman jagung di lahan sawahnya yang ada di seberang sungai.

Untuk menuju sawah, korban menyeberangi sungai dengan bantuan ember yang berfungsi sebagai pelampung. Proses penyeberangan seperti ini sudah lazim dilakukan warga setempat untuk menuju areal sawah.

Setelah selesai memupuk jagung, korban bermaksud pulang. Cara yang ditempuh juga dengan menyeberangi sungai dengan mengandalkan ember. Proses penyeberangan tradisional dalam perjalanan pulang itu awalnya berlangsung lancar. Namun, ketika sampai di tengah, ember yang jadi bantuan menyeberang tiba-tiba lepas ketika ada arus deras. Kondisi itu menyebabkan korban akhirnya hanyut terseret arus.

Tidak lama kemudian, warga setempat berdatangan ke lokasi untuk mencari keberadaan korban. Namun, upaya itu tidak kunjung membuahkan hasil. Akhirnya, warga meminta bantuan tim SAR untuk membantu pencarian korban.

“Saat ini korban belum ditemukan. Warga dibantu tim SAR masih melakukan pencarian di aliran sungai. Korban hanyut informasinya disebabkan ember yang dipakai menyeberang terlepas kena arus. Bagi masyarakat sini, menyeberang sungai dengan bantuan ember sudah biasa dilakukan,” kata Kepala Desa Kalanglundo Supangat, sore tadi.

Editor : Akrom Hazami

 

Nenek Tewas Tenggelam saat BAB di Sungai di Grobogan

Tim SAR mengusung jenazah korban tenggelam yang berhasil ditemukan di Grobogan, sekitar pukul 14.00 WIB. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Tim SAR mengusung jenazah korban tenggelam yang berhasil ditemukan di Grobogan, sekitar pukul 14.00 WIB. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa orang tenggelam terjadi di Desa Ngabenrejo, Kecamatan/Kabupaten Grobogan, Sabtu (31/12/2016). Korbannya diketahui bernama Yasemi, warga RT 04 RW 01, desa setempat.

Informasi yang didapat menyebutkan, peristiwa tenggelamnya korban diperkirakan sudah berlangsung sekitar waktu Subuh. Namun, baru diketahui pihak keluarganya sekitar pukul 07.00 WIB.

Ceritanya, pagi itu anggota keluarganya sedang mencari keberadaan nenek berusia 80 tahun tersebut. Hal itu dilakukan karena tidak lama lagi ada acara hajatan di rumah cucunya yang akan melangsungkan pernikahan. Rumah korban dan tempat cucunya hanya berselisih beberapa rumah saja.

Setelah dicari dirumah tetangga tidak ketemu, anggota keluarga kemudian mencari di pinggiran sungai yang ada di depan rumah Yasemi. Saat menyisir tempat itu, mereka mendapati tongkat kayu yang biasa dipakai Yasemi sehari-hari.

Setelah diperiksa, ada bekas jejak kaki di pinggir sungai seperti bentuk orang terpeleset. Selanjutnya, warga sekitar berupaya melakukan pencarian di sekitar lokasi. Karena tidak kunjung ditemukan, warga kemudian melaporkan pada pihak kepolisian dan meminta bantuan tim SAR BPBD Grobogan.

“Begitu dapat laporan anggota langsung meluncur kesana. Sekitar lokasi yang diperkirakan jadi tempat awal terpelesetnya korban langsung kita sisir tetapi hasilnya masih nihil,” kata Kasi Kedaruratan BPBD Grobogan Masrichan.

Upaya pencarian kemudian diperluas menyisir aliran sungai. Dalam upaya pencarian ini dibantu pula anggota Ubaloka Kwarcab Grobogan dan tim rescue Basarnas pos Jepara.

Setelah menyisir aliran sungai sepanjang 500 meter, anggota tim SAR berhasil menemukan selendang yang diduga milik korban. Kemudian, pencarian diterukan lagi menyusuri aliran sungai menuju wilayah Desa Temon, Kecamatan Brati. Akhirnya, sekitar pukul 14.00 WIB, jasad korban tenggelam ini berhasil ditemukan dan selanjutnya diserahkan pada pihak keluarganya.

Kapolsek Grobogan AKP Sucipto ketika dikonfirmasi menyatakan, dari hasil pemeriksaan tidak ditemukan tanda penganiayaan. Jenazah korban selanjutnya diserahkan pada pihak keluarga untuk dimakamkan.

Menurutnya, dari hasil keterangan sejumlah saksi, sebelumnya korban sempat pamit mau buang air besar (BAB) ke sungai. Biasanya, korban tidak penah buang air besar di sungai. Tetapi hal itu dilakukan karena rumahnya saat itu penuh orang karena cucunya mau menikah. “Kemungkinan, saat buang air besar itulah korban terpeleset karena cuaca masih agak gelap waktu itu,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

Remaja Mejobo Kudus yang Tenggelam di Pantai Bondo Jepara Dimakamkan 

Jenazah korban tenggelam di Pantai Bondo Jepara, Ibnu Abdul Aziz (17) warga Desa Temulus, RT 05/ RW 02, Mejobo, Kudus, saat diturunkan dari mobil ambulans. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Jenazah korban tenggelam di Pantai Bondo Jepara, Ibnu Abdul Aziz (17) warga Desa Temulus, RT 05/ RW 02, Mejobo, Kudus, saat diturunkan dari mobil ambulans. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Ibnu Abdul Aziz (17) warga Desa Temulus, RT 05/ RW 02, Mejobo, Kudus, korban tenggelam di Pantai Bondo Bangsri Jepara dimakamkan, Senin (26/12/2016). Korban dimakamkan di tempat pemakaman umum desa setempat.

Kapolsek Mejobo, AKP Suharyanto mengatakan, jenazah korban tenggelam itu tiba di rumah duka, Senin (26/12/16) sekitar pukul 11.50 WIB. Jenazah diantarkan oleh BPBD Kudus beserta BPBD Jepara. “Setelah sampai di rumah duka, jenazah langsung dimakamkan. Meninggalnya korban jelas membuat luka bagi keluarga yang ditinggalkan,” katanya di rumah korban.

Sebelumnya jasad korban ditemukan oleh tim SAR gabungan, Senin pukul 08.15 WIB. Jasad korban kemudian dievakuasi ke RSUD Kartini, Jepara. Dikatakannya, berdasarkan keterangan pihak keluarga, bahwa keluarga korban sudah mengikhlaskan kepergian almarhum dan menerima hal itu sebagai musibah.

“Dia masih pelajar SMK di Mejobo. Korban meninggal digulung ombak di Pantai Bondo Jepara besar setinggi 1,5 meter. Tingginya ombak tak mampu dikuasai hingga terseret arus dan meninggal,” ungkapnya.

Dia berpesan kepada masyarakat, untuk lebih berhati-hati dalam bepergian. Tak hanya memastikan lokasi aman, namun juga memastikan bahwa cuaca juga mendukung saat berlibur dan bepergian. Selain itu, komunikasi dengan sekitar juga dibutuhkan. Khususnya dengan saudara dan teman saat berlibur bersama. Selain itu, diimbau juga untuk tidak mencoba hal yang membahayakan lantaran bisa berakibat fatal.

Editor : Akrom Hazami

Ditinggal Salat, Bocah 2 Tahun Tewas Tenggelam di Saluran Air di Undaan Kudus

Polisi menunjukkan lokasi yang menjadi tempat tewasnya bocah dua tahun di Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Polisi menunjukkan lokasi yang menjadi tempat tewasnya bocah dua tahun di Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Seorang bocah usia dua tahun tewas terjebur di kubangan air, di Desa Undaan Lor gang IV, Kecamatan Undaan, Kudus, Minggu (18/12/2016) sore. Korban bernama Muhammad Aldino Adiansyah. Bocah nahas tersebut meninggal, sesaat setelah terjebur dalam saluran air yang berada di samping rumahnya.

Kapolsek Undaan Iptu Anwar mengatakan, kejadian berlangsung cukup cepat. Ibu balita, Musrifah meninggalkan anaknya untuk menjalankan salat Magrib. Namun setelah  selesai salat, tiba-tiba anaknya sudah tidak ada di rumah.

“Ibunya mencari ke semua ruangan rumah, dikiranya anaknya masih dalam rumah saja. Namun ternyata di dalam tidak ada, kemudian dicari keluar dan ketemulah anaknya di sana dalam keadaan terapung,” katanya kepada MuriaNewsCom, di lokasi, Senin (19/12/2016).

Menurutnya, saat kejadian tersebut, dalam rumah hanya ada dia dan anaknya saja. Sedangkan suaminya, Jumarto masih belum pulang,  sehingga tak bisa menemani menjaga anak balitanya. Setelah mendapatkan anaknya terapung, kata dia, kemudian balita dilarikan ke Puskesmas Undaan untuk ditangani.

Namun nyawa balita sudah tidak tertolong karena di dalam paru-paru sudah dipenuhi air. “Sebenarnya air tidak dalam, namun karena itu masih balita jadi tidak bisa menguasai kondisi di sana. Sehingga sampai mengakibatkan meninggal. Ini murni kecelakaan,” ujarnya.

Dia berharap warga waspada. Khususnya mereka yang mempunyai anak yang masih kecil. Sebab di Undaan banyak saluran air, atau sejenisnya.

Sementara, Kades Undaan Lor, Kecamatan Undaan Edi Pranoto mengimbau kepada warganya agar senantiasa berhati-hati saat melakukan aktivitas. Penjagaan kepada anak juga harus ditingkatkan. “Masyarakat harus waspada, jangan membiarkan anaknya sendirian, terlebih anaknya masih balita yang butuh perhatian lebih,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Ini Aksi Heroik Kakak yang Tewas Saat Selamatkan Adik di Jepara  

kronologi tewas

Sri Ningsih berada di Puskesmas Nalumsari Jepara setelah diselamatkan dari dalam sumur. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Budiyono warga dukuh Krajan RT 03 RW 02 Desa Muryolobo, Kecamatan Nalumsari, Jepara bernama Budiyono (38) tewas saat menyelamatkan nyawa adiknya Sri Ningsih (30) ketika terjebur sumur.

Kronologi peristiwa bermula dari sekitar pukul 04.30 WIB, Sri Ningsih hendak mandi namun mesin air yang terpasang di dalam sumur mati, sehingga dia melihat sambil mengocak-ocak mesin air dari samping atas bibir sumur. Saat mencoba memperbaiki mesin dengan cara dikocak-kocak kemudian Sri Ningsih ditegur tetangganya yakni Tinah (48) untuk mengambil air di dalam rumahnya saja.

Selanjutnya Sri Ningsih bersedia mengambil air satu ember di sumur milik Tinah. Setelah mengambil air, kemudian Sri kembali mengocak ocak mesin air dan membuka tutup sumurnya dan terpeleset sehingga masuk ke dalam sumur.

Mengetahui Sri tercebur, Tinah berteriak minta tolong dan didengar oleh korban yakni Budiyono. Kemudian ia mencoba menyelamatkan Sri dari dalam sumur.

“Budiyono berhasil mengangkat Sri dari dalam sumur. Namun Budiyono terjatuh dan tenggelam dalam sumur saat dalam proses pengangkatan tubuh Sri dari dalam sumur,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Jepara Lulus Suprayitno melalui Kasi Kedaruratan dan Logistik Pujo Prasetyo kepada MuriaNewsCom, Kamis (28/7/2016).

Mengetahui peristiwa itu, tetanga korban kemudian meminta tolong pada warga. Saat warga mengetahui itu, kemudian melakukan evakuasi korban.

Korban yang pertama kali berhasil dievakuasi adalah Sri Ningsih karena posisinya diatas. Setelah dievakuasi, Sri dibawa ke Puskesmas setempat sekitar pukul 05.30 WIB oleh para warga.

“Sedangkan korban Budiyono yang posisinya di dalam sumur berada di bawah, dievakuasi setelah korban Sri Ningsih. Selanjutnya Budiyono dibawa ke RSI Kudus, namun saat dalam perjalanan, Budiyono meninggal dunia,” terang Kepala Pelaksana BPBD Jepara melalui Kasi Kedaruratan dan Logistik, Pujo Prasetyo kepada MuriaNewsCom.

Diameter sumur yang menjadi saksi bisu sekitar satu meter. Kedalaman sumur 20 meter, serta kedalaman air dalam sumur sekitar 5 meter.

Editor : Akrom Hazami

 

Tidak Ada Tanda Kekerasan, Mbah Jo Meninggal Murni Karena Tenggelam di Sungai Lusi

Petugas sedang mengevakuasi jasad korban (Dok. BPBD Grobogan)

Petugas sedang mengevakuasi jasad korban (Dok. BPBD Grobogan)

MuriaNewsCom, Grobogan – Dari hasil pemeriksaan petugas, Kalijo Tulus yang ditemukan tewas di pinggiran Sungai Lusi murni disebabkan karena tenggelam. Sebab, tidak ditemukan tanda kekerasaan pada tubuh korban saat dilakukan pemeriksaan.

“Tidak ada tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Setelah diperiksa, jenazah korban langsung kita serahkan pada keluarganya,” ungkap Kapolsek Kota Purwodadi AKP Parno.

Menurutnya, korban dilaporkan hilang pada Selasa (8/3/2016) sekitar pukul 17.00 WIB. Sebelumnya, korban sempat mancing ikan di Sungai Lusi. Tepatnya, dibawah jembatan gantung yang menghubungkan Kampung Jengglong, Purwodadi dan Desa Menduran, Kecamatan Brati.

“Begitu ada laporan, anggota langsung kita terjunkan ke lokasi. Selama dua hari, pihak kepolisian dan tim BPBD sudah berupaya melakukan pencarian,” katanya.

Selain kepolisian dan BPBD Grobogan, pencarian orang hilang tersebut juga dibantu petugas Basarnas dari Jepara. Penyisiran orang hilang ini sudah dilakukan cukup jauh hingga menjangkau Bendung Klambu di Kecamatan Klambu. Namun, upaya yang dilakukan belum membuahkan hasil.

Editor : Kholistiono

Baca juga : Jasad Pemancing yang Hilang di Sungai Lusi Grobogan Akhirnya Ditemukan Pencari Ikan

Tim Basarnas Ikut Bantu Pencarian Orang Mancing Hilang di Sungai Lusi

Tim Basarnas ikut melakukan pencarian orang hilang di Sungai Lusi (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Tim Basarnas ikut melakukan pencarian orang hilang di Sungai Lusi (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Pencarian orang hilang ketika mancing di pinggiran Sungai Lusi, tepatnya dibawah jembatan gantung yang menghubungkan Kampung Jengglong, Purwodadi dan Desa Menduran, Kecamatan Brati kembali dilanjutkan pagi ini, Rabu (9/3/2016). Pencarian kali ini melibatkan tim Basarnas yang didatangkan dari Jepara.

“Semalam, kita sudah berupaya menyisir pinggiran sungai untuk mencari orang yang dilaporkan hilang. Tetapi, pencarian itu belum membuahkan hasil dan kali ini kita lanjutkan lagi,” kata Kasat Sabhara Polres Grobogan AKP Lamsir yang ikut naik perahu karet bersama anggota Basarnas dan BPBD Grobogan.

Pencarian yang dimulai pukul 09.00 WIB ini difokuskan lewat jalur air. Dua perahu karet menyisir sungai, mulai dari bawah jembatan gantung menuju kearah barat megikuti aliran air.

Seperti diberitakan sebelumnya, pada Selasa (8/3/2016) petang, seorang warga Jengglong Timur bernama Kalijo Tulus atau lebih dikenal dengan sebutan Mbah Jo dilaporkan hilang saat mancing tidak jauh dari rumahnya.

Menurut penuturan warga, seharian itu, Mbah Jo dan beberapa orang lainnya terlihat memancing ikan dibawah rerimbunan pohon bambu.

Menjelang magrib, beberapa orang merasa curiga karena sandal dan perlengkapan memancing milik Mbah Jo masih ada disitu. Tetapi pemiliknya tidak ada disitu, termasuk ketika dicari di rumahnya ternyata belum pulang.

Baca juga : Misterius, Mbah Jo Hilang saat Mancing di Bawah Pohon Bambu di Kali Lusi Grobogan

Editor : Kholistiono

Pencarian Korban yang Tenggelam di Embung Rowo Blora Butuh Waktu Hingga 18 Jam

Evakuasi korban yang tewas tenggelam di Embung Rowo, Krangjati, Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Evakuasi korban yang tewas tenggelam di Embung Rowo, Krangjati, Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Pencarian terhadap seorang remaja bernama M Nurul Huda (16) warga RT 07 RW 01,DesaTegalgunung, Blora, yang tewas tenggelam di Embung Rowo, Karangjati, Blora, butuh waktu hingga 18 jam.

Pencarian yang dilakukan tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Blora dengan dibantu tim dari Dalmas Polres Blora, kodim, jajaran koramil, tim SAR, MDMC Muhammadiyyah serta Tagana, bahkan sempat terhenti karena hujan deras.

Korban yang hilang tenggelam di Embung Rowo pada Minggu (21/2/2016) sore, baru ditemukan ditemukan pad Senin (22/2/2016) sekitar pukul 10.00 WIB dalam kondisi sudah tidak bernyawa.

Mudakir salah satu anggota Tim MDMC Muhammadiyah Blora mengatakan, korban ditemukan dalam keadaan tak bernyawa. Saat ditemukan, jasad korban masih mengenakan celana pendek yang dipakai saat berenang.

Menurut Mudakir, untuk melakukan pencarian terhadap korban, tim sampai tiga kali menebar jaring. “Jasad korban tidak mengambang di air dan juga tidak berada di dasar embung, tapiberada di tengah-tengah,” jelasnya.

Editor : Kholistiono

Baca juga : Seorang Remaja Tewas Tenggelam di Embung Rowo Blora 

Seorang Remaja Tewas Tenggelam di Embung Rowo Blora

Evakuasi jasad korban yang tenggelam di Embung Rowo Karangjati, Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Evakuasi jasad korban yang tenggelam di Embung Rowo Karangjati, Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Seorang remaja bernama M Nurul Huda (16) warga RT 07 RW 01,DesaTegalgunung, Blora, tewas tenggelam di Embung Rowo, Karangjati Blora.

Peristiwa nahas tersebut terjadi pada Minggu (21/2/2016) sekitar pukul 15.30 WIB. Ketika itu, korban sedang memancing di embung bersama empat temannya. Karena, di lokasi awal tempat korban memancing tidak mendapatkan ikan dan sudah lama menunggu juga tidak kunjung dapat, akhirnya korban pindah tempat yang tak jauh dari tempat pertama.

Bambang Sumiarko, teman korban menyatakan, Nurul Huda pada saat itu, berenang di embung yang kedalamannya diperkirakan 4 meter. Namun, ternyata, saat berenang korban dimungkinkan mengalami keram dan meminta tolong kepada rekannya.

Namun, teriakan minta tolong oleh korban tak seketika direspon teman-temannya, karena, korban dianggap bisa berenang. Namun, karena korban masih terus berteriak, akhirnya dirinya langsung mencoba memberikan pertolongan.

“Kejadiannya begitu cepat, saya langsung nyebur waktu itu. Namun, karena saya tidak kuat, saya akhirnya meminta pertolongan warga,” ujarnya.

Tak selang lama, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Blora dengan dibantu tim dari Dalmas Polres Blora, kodim, jajaran koramil, tim SAR serta Tagana, datang ke lokasi untuk membantu mencari korban.

Editor : Kholistiono

 

Bocah Ini Tewas di Bendungan Sungai Tambahmulyo Pati karena Tak Bisa Berenang

Korban saat dibawa ke masjid setempat, sebelum dibawa ke rumah duka. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Korban saat dibawa ke masjid setempat, sebelum dibawa ke rumah duka. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Agus Lauful Mahfud (14), bocah asal Desa Tambahmulyo, Kecamatan Jakenan, Pati meninggal dunia setelah mencoba untuk mandi di bendungan sungai setempat dengan kedalaman tiga meter, Senin (15/2/2016).
Padahal, bocah dengan tinggi badan 155 cm tersebut tidak bisa berenang. Akibatnya, setelah terjun untuk mandi, bocah malang itupun tenggelam.

“Dari informasi yang dihimpun, anak itu loncat dari atas bendungan untuk mandi. Karena tidak bisa berenang, akhirnya tenggelam. Teman-teman korban yang berjumlah lima orang langsung meminta tolong kepada warga setempat,” ujar Kapolres Pati AKBP R Setijo Nugroho kepada MuriaNewsCom.

Sontak, warga berbondong-bondong mencari korban yang sudah tenggelam. Setelah satu jam dicari, korban ditemukan sudah meninggal dalam keadaan telungkup di dasar air. “Setelah korban ditemukan, langsung dibawa ke masjid. Selanjutnya, korban dibawa ke rumah duka untuk disemayamkan,” tuturnya.

Petugas medis dari Puskesmas Jakenan dr Sutini mengatakan, tidak ada tanda-tanda penganiayaan dalam tubuh korban. Dengan begitu, kematian bocah yang sebentar lagi mengikuti ujian sekolah tersebut dinyatakan kehabisan napas lantaran tenggelam di sungai sedalam tiga meter.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga : Bocah Asal Tambahmulyo Pati Tewas Tenggelam di Bendungan Sungai

Kronologi Kecelakaan Laut yang Tenggelamkan Nelayan Jepara

Ilustrasi Tenggelam

Ilustrasi Tenggelam

 

JEPARA – Kecelakaan laut di wilayah perairan Jepara terjadi pada Kamis (17/12/2015) dini hari. Dua korban tenggelam dalam kecelakaan ini karena perahu yang digunakan mereka terbalik usai diterjang ombak besar. Satu korban ditemukan warga Kabupaten Pati dalam kondisi selamat dan satu korban lain masih dalam proses pencarian.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara Lulus Suprayitno mengatakan, kedua korban tenggelam merupakan kakak beradik. Awalnya, seperti biasa kedua nelayan tersebut berangkat melaut mencari ikan pada Rabu (16/12/2015). Keduanya menggunakan satu perahu sopek di perairan laut Clering Donorojo Jepara.
“Tapi saat tengah malam atau dini hari, perahu yang digunakan mereka terkena ombak besar hingga perahunya terbalik,” kata Lulus kepada MuriaNewsCom, Jumat (18/12/2015).

Menurut dia, pagi harinya pada Kamis (17/12/2015) satu korban yakni Sugiarto (adik) ditemukan nelayan dari Tayu Kabupaten Pati. Sedangkan korban Sugiono (kakak) masih dalam proses pencarian.

“Untuk perahunya juga ditemukan nelayan dari Kajen, Kabupaten Pati. Korban hilang masih dalam proses pencarian,” tandasnya. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

2 Nelayan Kakak Beradik Tenggelam di Laut Jepara

Ilustrasi Tenggelam

Ilustrasi Tenggelam

 

JEPARA – Kecelakaan laut terjadi di perairan wilayah Jepara, tepatnya di kawasan perbatasan Jepara – Pati. Akibat kecelakaan laut tersebut, dua nelayan tenggelam. Satu diketahui ditemukan dalam kondisi selamat dan satu lainnya masih dalam proses pencarian.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara Lulus Suprayitno mengatakan, kecelakaan terjadi pada Kamis (17/12/2015) dini hari. Kedua korban merupakan kakak beradik, yakni Sugiono (kakak) dan Sugiarto (adik). Keduanya warga Dukuh Tawang Rejo RT 06 RW 02 Desa Clering, Kecamatan Donorojo Jepara.

“Iya, memang benar ada kecelakaan laut di wilayah Kecamatan Donorojo. Dua nelayan tenggelam setelah pada tengah malam perahu diterjang ombak besar,” ujar Lulus kepada MuriaNewsCom, Jumat (18/12/2015).

Menurutnya, satu korban ditemukan selamat yakni Sugiarto (adik) di wilayah Tayu, Kabupaten Pati, pada Kamis (17/12/2015). Sedangkan sang kakak Sugiono masih dalam proses pencarian oleh tim dari BPBD Jepara.

“Kami mendapatkan informasi jika satu korban sudah ditemukan nelayan di wilayah Pati. Kemudian kami melakukan pencarian korban hilang,” imbuhnya. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Hati-hati, Embung Goloyo Blora Memakan Korban

Tim BPBD Blora mengavakuasi jenazah tenggelam di Embung Goloyo. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Tim BPBD Blora mengavakuasi jenazah tenggelam di Embung Goloyo. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

BLORA – Embung Goloyo yang terletak di Desa Jurangjero, Kecamatan Bogorejo, Blora pada kamis (10/12/2015) memakan korban. Yakni Sri Temok Binti Nyarmi (14) warga RT 04 RW 01 Desa Jurangjero.

Kronologi tenggelamnya korban tidak diketahui dengan pasti, pasalnya tidak ada saksi mata yang melihat korban saat mandi di embung. Korban baru diketahui baru salah seorang mandor pembangunan embung yang baru dibangun tersebut, menemukan tubuh korban mengapung sekitar pukul 09.00 WIB. Mandor tersebut kemudian memberitahu kepada warga sekitar.

Tim Satuan Pelaksana (satlak) Penanggulangan Bencana (PB) Kecamatan Bogorejo selanjutnya melapor ke Badan penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Setelah menerima laporan tersebut tim BPBD meluncur ke lokasi dan segera mengevakuasi jenazah. Menurut Sri rahayu, Kepala BPBD Blora bahwa tim setelah mengevakuasi korban, juga dilakukan identifikasi forensik yang juga disaksikan oleh Muspika setempat.

”Dari identifikasi korban murni kecelakaan. Selanjutnya korban diserahkan kepada keluarganya,” imbuh Sri Rahayu. (RIFQI GOZALI/TITIS W)

Pamit Mandi di Saluran Irigasi, Rudi Ditemukan Tewas Tenggelam

 

tenggelam

 

GROBOGAN – Nasib tragis menimpa Rudi Aryanto, warga Desa Pilangpayung, Kecamatan Toroh. Pemuda 20 tahun itu ditemukan tewas di sebuah saluran irigasi di Desa Sindurejo, Kecamatan Toroh, sekitar pukul 12.00 WIB, Sabtu (3/10/2015).

Sebelum mengalami nasib tragis, pagi harinya korban sempat pamit pada orang tuanya untuk mandi di saluran irigasi. Hal itu dilakukan lantaran di rumahnya terbatas persediaan air akibat bencana kekeringan.

Menjelang tengah hari, korban tidak kunjung kembali ke rumah. Hal ini membuat keluarganya cemas dan akhirnya menyusul ke saluran irigasi, bersama warga setempat. Saat sampai di saluran, warga mendapati pakaian dan sepeda motor korban berada pinggir tanggul.

”Melihat kondisi ini, beberapa warga kemudian menyelam ke dasar saluran melakukan pencarian. Tidak lama kemudian, korban akhirnya berhasil ditemukan di dasar saluran dalam kondisi sudah meninggal,” kata Kapolsek Toroh AKP Juhari.

Dikatakan, dari hasil pemeriksaan dokter tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan pada tubuh korban. Jadi korban memang meninggal karena tenggelam. (DANI AGUS/TITIS W)

Pemancing yang Terseret Arus di Pantai Kartini Jepara Ditemukan Meninggal Dunia

Tim SAR saat mengangkat jasad korban yang tenggelam di perairan Pantai Kartini (MuriaNewsCom/WAHYU KZ)

JEPARA – Sutrisno, pemcing yang tenggelam lantaran terseret arus ketika mancing di kawasan Pantai Kartini Jepara Selasa (21/7/2015) siang pukul 14.00 WIB, telah berhasil ditemukan oleh tim gabungan dari SAR, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara serta relawan yang terus melakukan pencarian.

Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia tak jauh dari Tempat Kejadian Perkara (TKP), pada Rabu (22/7/2015) pagi tadi sekitar pukul 06.30 WIB.

Kepala Seksi Kedaruratan pada BPBD Jepara Pujo Prasetyo mengatakan, korban berhasil ditemukan setelah melalui proses pencarian panjang di kawasan Pantai Kartini. Namun sayang, korban ditemukan sudah dalam kondisi meninggal dunia.

“Korban sudah ditemukan tadi pagi sekitar pukul 06.30 WIB. Korban meninggal dunia, kemudian dibawa ke rumah sakit dan tak lama dibawa ke rumah duka,” ujar Pujo kepada MuriaNewsCom, Rabu (22/7/2015).

Peristiwa nahas di kawasan Pantai Kartini yang dikenal dengan kawasan Poncol itu bukan kali pertama ini terjadi. Beberapa waktu lalu juga telah memakan korban jiwa ketika memancing di tengah laut tanpa menggunakan alat pengaman, yang menyebabkan korban terseret arus gelombang laut.

Kali ini, korban bernama Sutrisno merupakan warga Desa Bulungan, Kecamatan Pakisaji, Jepara. Sutrisno sebelumnya memancing di kawasan lokasi yang juga dekat dengan Balai Besar Pengembangan Budi Daya Air Payau (BBPBAP) Jepara bersama rekannya. Meski sempat meminta tolong, namun karena derasnya arus, Sutrisno hilang sejak kemarin siang dan baru ditemukan pagi tadi. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Duh, Tim Pencari Korban Tenggelam Karena Terseret Ombak di Pantai Kartini Terkendala Komunikasi

Sejumlah relawan dan tim SAR saat melakukan pencarian korban di kawasan sisi utara pantai Kartini Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Sejumlah relawan dan tim SAR saat melakukan pencarian korban di kawasan sisi utara pantai Kartini Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Tim pencari korban hilang terseret arus di semenanjung Poncol sebelah utara pantai Kartini Jepara terkendala komunikasi. Pasalnya, pencarian terus dilakukan meski sudah malam hari, sehingga antar personil sulit melakukan komunikasi lantaran angin yang kencang dan gelap.

“Senter yang ada masih belum mencukupi untuk digunakan komunikasi. Jadi antar petugas yang melakukan penyisiran sulit komunikasi,” ujar Kasi Kedaruratan pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara, Pujo Prasetyo kepada MuriaNewsCom, Selasa (21/7/2015).

Menurutnya, pencarian dilakukan sesuai dengan arah angin dan arah gelombang air laut di kawasan empat kejadian perkara (TKP). Sejauh ini, pihaknya dengan bantuan relawan, tim SAR dan warga masih belum mampu menemukan korban.

“Jika sampai larut malam belum ketemu, akan dilanjut besok pagi. Mengingat medan yang sulit karena selain angin kencang juga gelap,” kata Pujo.

Meski demikian, pihaknya berkomitmen akan terus melakukan pencarian selama personel yang dikerahkan belum menyerah. Bahkan, pihaknya berharap agar korban segera ditemukan sebelum larut malam. (WAHYU KZ/SUPRIYADI)

BPBD Jepara Lanjutkan Pencarian Korban Tenggelam di Pantai Kartini

Sejumlah relawan dan tim SAR saat melakukan pencarian korban di kawasan sisi utara pantai Kartini Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Sejumlah relawan dan tim SAR saat melakukan pencarian korban di kawasan sisi utara pantai Kartini Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Pencarian korban tenggelam di kawasan sisi Utara Pantai Kartini atau yang lebih dikenal dengan Semenanjung Poncol, bernama Sutrisno sampai malam ini terus dilanjukan. Tim gabungan SAR dan BPBD Jepara serta relawan telah melakukan penyisiran dan pencarian korban di kawasan lokasi hilangnya korban.

Kasi Kedaruratan pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara Pujo Prasetyo mengatakan, pihaknya mengerahkan semua tenaga personel yang ada, sekitar 35 personel untuk mencari korban.

“Kami kerahkan semua personel, ada sekitar 35 personel BPBD ditambah dengan relawan dan SAR Jepara,” ujar Pujo kepada MuriaNewsCom, Selasa (21/7/2015) malam.

Menurutnya, pencarian dan penyisiran dilakukan di kawasan tempat kejadian perkara, di semenanjung Poncol, sebelah utara pantai Kartini Jepara. Namun, hingga berita ini ditulis, pukul 20.45 WIB, korban belum juga ditemukan.

“Kami terus melakuka pencarian dengan semua alat yang kami miliki, seperti perahu karet dan yang lainnya, termasuk senter karena kondisinya gelap,” imbuhnya. (WAHYU KZ/SUPRIYADI)

Puluhan Warga Desa Sinanggul dan Bulungan Bantu BPBD Jepara Cari Korban Tenggelam di Pantai Kartini

Sejumlah relawan dan tim SAR saat melakukan pencarian korban di kawasan sisi utara pantai Kartini Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Sejumlah relawan dan tim SAR saat melakukan pencarian korban di kawasan sisi utara pantai Kartini Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Korban tenggelam di Semenanjung Poncol sebelah Utara Pantai Kartini, warga Desa Bulungan Kecamatan Pakisaji, Sutrisno sampai malam ini belum ditemukan. Tak hanya puluhan personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), SAR dan Relawan kebencanaan saja, namun juga warga sekitar bahkan warga Desa Sinanggul dan Desa Bulungan turut membantu mencari korban.

Hal itu disampaikan Kasi Kedaruratan pada BPBD Jepara Pujo Prasetyo. Menurutnya, korban yang merupakan warga Desa Bulungan, juga merupakan warga asli Desa Sinanggul Kecamatan Mlonggo. Warga Dari kedua Desa tersebut, turut membantu melakukan pencarian korban.

“Kebetulan, korban asli Desa Sinanggul, dan baru menetap di Desa Bulungan. Warga dari Kedua Desa tersebut ikut membantu mencari korban,” kata Pujo kepada MuriaNewsCom, Selasa (21/7/2015)

Pujo merasa senang dengan antusiasme warga untuk turut serta melakukan pencarian korban. Bantuan dari warga tersebut dirasa sangat penting karena selain kondisinya gelap di malam hari, juga memang sangat membutuhkan tenaga tambahan. Sampai berita ini ditulis, korban masih belum ditemukan. (WAHYU KZ/SUPRIYADI)