Menristek RI: Mahasiswa Jangan Hanya Bekerja di Indonesia, Mari Kuasai Luar Negeri

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI Muhammad Nasir. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI Muhammad Nasir. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI Muhammad Nasir, mendorong mahasiwa UMK untuk tidak berpikir mencari pekerjaan dalam negeri saja. Melainkan, para lulusan dapat berpetualang dengan bekerja sebagian tenaga kerja andal di negara lain.

Hal itu disebutkan, lantaran MEA sangat dipengaruhi oleh mahasiswa atau warna negara. Jika hanya berkeinginan bekerja dalam daerah masing masing saja, maka negara tersebut akan tertinggal dengan negara lain.

”Jangan hanya berpikir setelah lulus hanya bekerja di Indonesia atau malah hanya di Kudus. Kuasai negara lain dengan menjadi tenaga kerja yang andal di sana,” katanya, Senin (16/5/2016)

Menurutnya, saat ini negara negara lain sepeti Malaysia, Singapura, Thailand serta negara asia lain sudah mulai berdatangan menjadi tenaga kerja di Indonesia. Dengan demikian, otomatis saingan dalam bekerja dalam negara semakin banyak.

Harapan adanya persebaran tenaga asal Indonesia ke luar negeri sangatlah mungkin. Terbukti, beberapa negara luar terdapat tenaga ahli asli Indonesia.

”Seperti halnya di Swedia, di sana ada dosen asal Indonesia, bahkan sudah menjadi professor. Begitupun negara lain juga demikian, ditemui terdapat warga negara Indonesia yang menjadi tenaga ahli,” ujarnya.

Untuk itu, pemeritah juga memiliki tugas dalam meningkatkan kualitas dan mutu lulusan. Hal itu, dilakukan dengan berbagi hal, mulai dari menyemangati mahasiwa dan meningkatkan kualitas dosen

“Kami ada 2 ribu beasiswa di dalam negeri, sedangkan untuk ke luar negeri ada 300an. Kalau ada dosen atau lulusan yang berminat silakan mendaftar,” ujarnya.

Dia merencanakan dosen minimal memiliki pendidikan S3. Dengan demikian ilmu yang didapat lebih banyak dan berpengalaman.

Sedangkan pemerintah memfasilitasi lain dengan mempercepat proses menjadi guru besar. Jika sebelumnya proses memakan waktu tiga bulan, maka sekarang cukup dua pekan.

Editor: Supriyadi

Banyak Perusahaan Asing di Jepara Tak Kooperatif

WNA Bermasalah 2 (e)

WNA bermasalah yang diamankan oleh petugas imigrasi kelas III Pati beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Seiring dengan keberadaan perusahaan asing atau penanaman modal asing (PMA) yang semakin banyak di Kabupaten Jepara. Membuat jumlah tenaga kerja asing (TKA) juga tak sedikit. Akibatnya, potensi rawan dengan keberadaan TKA bermasalah pun ikut meningkat.

Terlebih, baru-baru ini sejumlah warga Negara Asing (WNA) yang juga berstatus sebagai TKA di Jepara diciduk Kantor Imigrasi Kelas II Pati, lantaran bermasalah. Hal itu menunjukkan Jepara masih rawan dengan TKA bermasalah.

Meski begitu, pemerintah melalui Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Jepara mengaku kesulitan melakukan pengawasan lantaran banyak perusahaan asing yang tak kooperatif. Hal itu disampaikan Kepala Dinsosnakertrans Jepara melalui Kasi Wasnaker Muryanto.

Menurut dia, perusahaan seringkali tidak melaporkan jika mendatangkan TKA. Saat dilakukan pantauan, yang ditunjukkan hanya TKA yang tercatat dalam izin mempekerjakan tenaga asing (IMTA).

”Banyak perusahaan yang tidak kooperatif. Maksudnya, perusahaan kerap merahasiakan TKA yang melanggar ketentuan keimigrasian,” kata Muryanto kepada MuriaNewsCom.

Peraturan yang sering dilanggar yakni soal izin bekerja (visa kerja) maupun izin tinggal. Mereka kerap hanya mengantongi izin (visa) kunjungan. Izin bekerja itu menjadi syarat awal untuk mengurus izin tinggal.

”Meski hanya bekerja di perusahaan itu dalam beberapa hari, dan hanya bertugas memantau kualitas produk pabrik, TKA harus tetap mengurus persyaratan yang ada,” imbuhnya. (WAHYU KZ/TITIS W)