MUI Pati Haramkan Keberadaan Rumah Esek-esek

Ketua MUI Kabupaten Pati KH Abdul Mudjib Sholeh ketika ditemui MuriaNewsCom di Kantor MUI Pati, Sabtu (08/10/2016). MUI Pati menegaskan keberadaan rumah esek-esek adalah haram. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ketua MUI Kabupaten Pati KH Abdul Mudjib Sholeh ketika ditemui MuriaNewsCom di Kantor MUI Pati, Sabtu (08/10/2016). MUI Pati menegaskan keberadaan rumah esek-esek adalah haram. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Fenomena merebaknya rumah esek-esek di Pati dinilai sudah meresahkan masyarakat dan menjadi sorotan publik. Fenomena tersebut yang membuat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pati angkat bicara.

Ketua MUI Pati KH Abdul Mudjib Sholeh mengaku sangat khawatir dengan keberadaan rumah yang berada di tengah-tengah perkampungan, disewakan untuk kegiatan prostitusi. Hal itu dianggap mencederai etika moral dan agama masyarakat, sekaligus menjadi awal kerusakan bagi generasi emas bangsa.

“Itu sangat mengkhawatirkan, terutama anak-anak generasi emas bangsa yang hidup di sekitarnya. Mental dan moral anak-anak akan dipertaruhkan bila tidak segera ditindak dengan tegas,” ujar KH Mujib saat ditemui MuriaNewsCom di Kantor MUI Pati, Sabtu (08/10/2016).

Dilihat dari perspektif Islam, kata dia, prostitusi masuk dalam perbuatan zina yang menjadi bagian dari sederet dosa paling besar dalam ajaran Islam. Bahkan, hukum Islam memberikan ganjaran berat bagi pelaku zina dengan rajam bagi yang sudah punya pasangan dan cambuk seratus kali untuk pelaku yang masih lajang.

“Siapa yang membantu maksiat, sama dengan orang yang bermaksiat. Kalau ada orang yang menyediakan, memfasilitasi rumah untuk dijadikan tempat maksiat, sama halnya orang yang bermaksiat. Kalau zina haram, rumah yang memfasilitasi zina juga haram,” paparnya.

Editor : Kholistiono

Inilah Sebaran Tempat Prostitusi di Pati

 Suasana kawasan lokaliasi Lorong Indah (LI) pada malam hari di Margorejo, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Suasana kawasan lokaliasi Lorong Indah (LI) pada malam hari di Margorejo, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Pati merilis, ada lima tempat lokalisasi yang ada di Kabupaten Pati. Kelima tempat tersebut tersebar di jalur pantai utara (Pantura) Jawa Kabupaten Pati.

Pada bagian barat Pantura Pati, ada tiga tempat di Kecamatan Margorejo, yaitu Lorong Indah (LI), Kampung Baru, dan kompleks Pasar Hewan Wage. Pada bagian timur pantura Pati, dua lokalisasi berada di Karangrejo Juwana dan Batursari Batangan.

Sementara itu, rumah esek-esek yang tersebar di berbagai tempat di Kabupaten Pati tidak terlokalisir, membaur dengan perkampungan warga. Salah satunya, Desa Sambiroto, Waturoyo Margoyoso, dan Gabus. Beberapa rumah esek-esek lainnya dinyatakan sudah tutup.

“Tempat lokalisasi di Pati tidak ada yang resmi. Yang namanya resmi itu diakui pemerintah. Tapi, tempat-tempat lokalisasi itu sudah terlokalisir dengan baik, jauh dari perkampungan. Di LI, izinnya adalah warung,” ungkap sumber MuriaNewsCom yang enggan disebut namanya, Kamis (06/10/2016).

Menurutnya, pendirian rumah esek-esek disebabkan adanya peluang, kesempatan, dan faktor ekonomi. Penghasilan dari bisnis rumah esek-esek yang cukup menggiurkan menjadi salah satu motif bagi mereka untuk membuat “rumah setan” tersebut, kendati sudah ada lima lokalisasi di Pati.

Hal itu dibenarkan Camat Margoyoso, Suhartono yang wilayahnya terdapat banyak rumah esek-esek. Pendirian rumah esek-esek tidak dibenarkan dalam aturan apa pun. Mereka hanya membuat warung kecil-kecilan, ada peluang untuk meraup keuntungan lebih banyak hingga akhirnya ada pengunjung yang menggunakan jasa short time tersebut.

Dia juga kerapkali menindak pemilik rumah dengan persuasif, yaitu membuat surat pernyataan dengan tanda tangan yang dibubuhi materai. Namun, sebagian dari mereka bandel, sehingga penegakan sepenuhnya diserahkan kepada polisi.

Editor : Kholistiono

Razia “Rumah Mesum” di Margoyoso, Polisi Malah Kasih Uang Pemilik Rumah

Kapolsek Margoyoso AKP Sugino (kanan) memberikan uang kepada Muhadi, pemilik rumah yang disewakan untuk mesum di Desa Margoyoso, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kapolsek Margoyoso AKP Sugino (kanan) memberikan uang kepada Muhadi, pemilik rumah yang disewakan untuk mesum di Desa Margoyoso, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ada kisah menarik dari razia rumah yang disewakan untuk mesum di Desa Margoyoso, Kecamatan Margoyoso, beberapa waktu lalu. Adalah Muhadi, pria paruh baya yang tinggal sebatang kara di sebuah rumah berdinding tembok, berlantaikan tanah tanpa penerangan listrik.

Rumah Muhadi terpaksa didatangi Jajaran Polsek Margoyoso, lantaran rumahnya diduga disewakan untuk mesum dengan tarif Rp 20 ribu sekali ngamar. Muhadi pun mengakui rumahnya disewa muda-mudi yang ingin berhubungan intim.

“Saya hidup sendiri, setelah istri meninggal dunia. Saya tidak punya anak. Suatu ketika, ada seseorang yang meminta untuk pinjam kamar. Saya diberi uang Rp 20 ribu. Saya hanya mau saja, berhubung butuh uang. Dari situ, ada saja muda-mudi yang datang menyewa kamar. Tidak mesti, kadang sehari satu orang, kadang dua hari sekali,” ungkap Muhadi.

Hal itu diakui berlangsung sekitar setahun lamanya. Muhadi sendiri tidak memiliki pekerjaan. Untuk makan sehari-hari, dia membutuhkan uluran tangan dari keponakan yang peduli. Rumah itu satu-satunya harta dari warisan orang tuanya dulu.

Mendengar kisah itu, Kapolsek Margoyoso AKP Sugino merasa iba dan justru memberikan uang kepada Muhadi. Hanya saja, dia meminta agar Muhadi tidak menyewakan rumahnya lagi untuk aktivitas mesum. Bila peringatan itu tidak dipedulikan, terpaksa akan menindak dengan langkah hukum.

Sementara itu, Ngatimah, ipar Muhadi sebetulnya sudah curiga bila rumahnya disewakan untuk mesum. Dia pernah memergoki ada dua sepeda motor yang ditaruh di dalam rumah, sedangkan pintu dikunci rapat-rapat. Namun, Ngatimah tidak menduga bila ternyata iparnya itu menyewakan rumahnya untuk dijadikan ajang mesum bagi muda-mudi.

Editor : Kholistiono

Begini Cara Anggota Intelijen Intai Tempat Esek-esek di Margoyoso Pati

Kapolsek Margoyoso AKP Sugino (kiri) meminta pemilik warung (kanan) di Desa Margotuhu Kidul, Margoyoso untuk menghentikan aktivitas karaoke dan penjualan minuman keras. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kapolsek Margoyoso AKP Sugino (kiri) meminta pemilik warung (kanan) di Desa Margotuhu Kidul, Margoyoso untuk menghentikan aktivitas karaoke dan penjualan minuman keras. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Jajaran Polsek Margoyoso mendapatkan banyak keluhan terkait dengan merebaknya sebuah tempat yang diduga digunakan untuk aktivitas esek-esek. Laporan dari masyarakat itu kemudian ditindaklanjuti dengan menyebar sejumlah anggota intelijen ke tempat-tempat yang dilaporkan warga.

Sejumlah tempat yang pernah diintai, di antaranya kawasan warung kopi di pinggiran persawahan Desa Margotuhu Kidul, Kecamatan Margoyoso dan rumah tembok berlantaikan tanah yang dihuni sendirian oleh seorang pria paruh baya di Desa Margoyoso.

“Kalau ada informasi dari warga, kami tidak begitu saja percaya. Kami harus melakukan penyelidikan. Karena itu, kalau pemilik warung mengelak, itu percuma karena kami sudah tugaskan sejumlah anggota intel pada malam hari untuk memastikan kabar dari warga,” ungkap Kapolsek Margoyoso AKP Sugino.

Dari informasi yang dihimpun anggota intel Margoyoso, ada aktivitas karaoke di dua warung di Desa Margotuhu Kidul. Selain itu, ada sejumlah pengunjung yang menenggak minuman keras. Sejumlah perempuan juga banyak yang singgah dan mangkal di sana.

Setelah informasi dari warga sesuai dengan hasil penyelidikan, pihaknya melakukan penertiban di tempat-tempat tersebut hari berikutnya. Dari hasil razia, sejumlah botol miras diamankan dan perlengkapan karaoke sederhana diminta untuk tidak digunakan lagi.

Menurutnya, tempat prostitusi besar awalnya dari warung-warung kopi kecil yang digunakan untuk mabuk-mabukan, kemudian datang satu-dua perempuan. Bila hal tersebut tidak diantisipasi sejak awal, kata AKP Sugino, warung-warung kopi tersebut bisa menjadi tempat prostitusi besar. Jika sudah begitu, akan susah ditertibkan.

Editor : Kholistiono

 

4 Tempat Esek-esek di Kecamatan Margoyoso Dirazia

Polisi dan jajaran Muspika menyambangi rumah Mudrik di Desa Waturoyo, Margoyoso, Jumat (23/09/2016). Rumah itu selama ini disewakan untuk prostitusi. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Polisi dan jajaran Muspika menyambangi rumah Mudrik di Desa Waturoyo, Margoyoso, Jumat (23/09/2016). Rumah itu selama ini disewakan untuk prostitusi. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sebanyak empat tempat yang diduga digunakan untuk aktivitas prostitusi di Kecamatan Margoyoso, Pati dirazia polisi, Jumat (23/09/2016).  Keempat tempat yang dirazia berlokasi di Desa Waturoyo, Desa Margoyoso, dan Desa Margotuhu Kidul.

Di Desa Waturoyo, penertiban yang dipimpin Kapolsek Margoyoso AKP Sugino melibatkan Camat Margoyoso Suhartono, kepala desa setempat, dan anggota Koramil Margoyoso. Mudrik, pemilik warung dan rumah yang digunakan untuk jasa esek-esek menolak untuk ditertibkan.

Padahal, Mudrik diketahui sudah menandatangani surat pernyataan untuk tidak melanjutkan usaha kamar yang digunakan untuk aktivitas esek-esek. Namun, pria paruh baya bertato itu justru menolak ditertibkan saat Jajaran Muspika mendatangi rumahnya.

“Saya memang ditakdirkan untuk kerja begini ya mau bagaimana lagi. Wong memang sudah ditakdirkan seperti ini. Kalau saya mau dihidupi, saya mau tutup tempat ini,” ujar Mudrik.

Tidak bisa dinasehati, Jajaran Muspika kemudian membuat keputusan untuk melakukan penangkapan bila suatu ketika terbukti masih digunakan untuk aktivitas prostitusi. “Kita beri pembinaan baik-baik, tapi tidak mau. Kalau secara persuasif tidak mau, nanti kita akan tegakkan menggunakan mekanisme hukum karena sudah meresahkan masyarakat,” kata AKP Sugino.

Pihaknya mengaku mendapatkan laporan dari masyarakat terkait adanya tempat yang digunakan PSK untuk melayani pria hidung belang di Desa Waturoyo. Warga setempat resah, karena rumah Mudrik sudah lama disewakan untuk tempat mesum.

Editor : Kholistiono