Komisi D DPRD Pati Desak Aparat Bubarkan Keberadaan Rumah Mesum

Ketua Komisi D DPRD Pati Mussalam Mas'ul mendesak aparat untuk membubarkan rumah-rumah mesum, Jumat (07/10/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ketua Komisi D DPRD Pati Mussalam Mas’ul mendesak aparat untuk membubarkan rumah-rumah mesum, Jumat (07/10/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Fenomena banyaknya rumah-rumah warga yang disewakan untuk tempat mesum di sejumlah daerah di Kabupaten Pati mendapatkan perhatian serius dari kalangan legislatif. Salah satunya, Ketua Komisi D DPRD Pati Mussalam Mas’ul yang mendesak agar aparat membubarkan rumah-rumah tersebut.

“Rumah-rumah yang disewakan untuk mesum harus ditindak tegas. Kalau perlu dibubarkan. Jangan dibiarkan berlarut-larut. Aparat harus berani bertindak tegas,” ujar Mussalam, Jumat (07/10/2016).

Dia menilai, keberadaan rumah esek-esek memiliki dampak yang serius bagi perkembangan sosial dan moral masyarakat di sekitarnya. Bila hal itu dibiarkan tanpa ada penanganan yang tegas, Mussalam menyebutnya akan memiliki dampak buruk bukan hanya lingkungan sekitar, tetapi juga anak cucu masyarakat itu sendiri.

Belum lagi, dari rumah-rumah mesum berskala kecil bisa saja menjadi besar sehingga sulit untuk ditertibkan. Mumpung belum meluas, Mussalam berharap agar pemerintah bersama dengan aparat segera menangani problem tersebut.

“Kalau tidak segera ditangani, dampaknya akan bersifat destruktif dan masif. Bukan hanya sesaat mempengaruhi moralitas di lingkungan sekitar, tetapi juga masa depan anak cucu. Mereka juga akan terkena imbas dari keberadaan tempat yang melanggar norma agama dan masyarakat itu,” ucap Mussalam.

Menurutnya, keberadaan rumah esek-esek liar yang membaur dengan masyarakat akan jauh lebih berbahaya ketimbang lokalisasi yang jauh dari perkampungan. Dalam jangka panjang, keberadaan rumah esek-esek liar dinilai bisa menghancurkan peradaban kecil bernama keluarga, bahkan masyarakat desa.

Editor : Kholistiono

Inilah Sebaran Tempat Prostitusi di Pati

 Suasana kawasan lokaliasi Lorong Indah (LI) pada malam hari di Margorejo, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Suasana kawasan lokaliasi Lorong Indah (LI) pada malam hari di Margorejo, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Pati merilis, ada lima tempat lokalisasi yang ada di Kabupaten Pati. Kelima tempat tersebut tersebar di jalur pantai utara (Pantura) Jawa Kabupaten Pati.

Pada bagian barat Pantura Pati, ada tiga tempat di Kecamatan Margorejo, yaitu Lorong Indah (LI), Kampung Baru, dan kompleks Pasar Hewan Wage. Pada bagian timur pantura Pati, dua lokalisasi berada di Karangrejo Juwana dan Batursari Batangan.

Sementara itu, rumah esek-esek yang tersebar di berbagai tempat di Kabupaten Pati tidak terlokalisir, membaur dengan perkampungan warga. Salah satunya, Desa Sambiroto, Waturoyo Margoyoso, dan Gabus. Beberapa rumah esek-esek lainnya dinyatakan sudah tutup.

“Tempat lokalisasi di Pati tidak ada yang resmi. Yang namanya resmi itu diakui pemerintah. Tapi, tempat-tempat lokalisasi itu sudah terlokalisir dengan baik, jauh dari perkampungan. Di LI, izinnya adalah warung,” ungkap sumber MuriaNewsCom yang enggan disebut namanya, Kamis (06/10/2016).

Menurutnya, pendirian rumah esek-esek disebabkan adanya peluang, kesempatan, dan faktor ekonomi. Penghasilan dari bisnis rumah esek-esek yang cukup menggiurkan menjadi salah satu motif bagi mereka untuk membuat “rumah setan” tersebut, kendati sudah ada lima lokalisasi di Pati.

Hal itu dibenarkan Camat Margoyoso, Suhartono yang wilayahnya terdapat banyak rumah esek-esek. Pendirian rumah esek-esek tidak dibenarkan dalam aturan apa pun. Mereka hanya membuat warung kecil-kecilan, ada peluang untuk meraup keuntungan lebih banyak hingga akhirnya ada pengunjung yang menggunakan jasa short time tersebut.

Dia juga kerapkali menindak pemilik rumah dengan persuasif, yaitu membuat surat pernyataan dengan tanda tangan yang dibubuhi materai. Namun, sebagian dari mereka bandel, sehingga penegakan sepenuhnya diserahkan kepada polisi.

Editor : Kholistiono

Camat Margoyoso Ngaku Sering Kena Tegur Kiai Soal Keberadaan Rumah Esek-esek

 Muspika Margoyoso meminta Muhadi menutup rumahnya dari persewaan untuk esek-esek, tak lama ini. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Muspika Margoyoso meminta Muhadi menutup rumahnya dari persewaan untuk esek-esek, tak lama ini. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Keberadaan rumah yang disewakan untuk kegiatan mesum di berbagai desa di Kecamatan Margoyoso membuat Camat Margoyoso Suhartono gerah. Tak hanya dikhawatirkan merusak mental dan moral generasi warga Margoyoso, keberadaan rumah-rumah tersebut membuat camat sering dikomplain kiai.

Hal itu wajar, mengingat Margoyoso merupakan Kota Santrinya Kabupaten Pati. Terlebih, banyak pondok pesantren sebagai pusat untuk menimba ilmu agama di sana. Karena itu, komplain dari kiai diakui cukup beralasan.

“Keberadaan rumah yang disalahgunakan itu sudah meresahkan masyarakat. Warga khawatir keberadaan rumah mesum berpengaruh pada moral anak-anak yang tinggal di sekitarnya. Terlebih, agama jelas-jelas melarangnya. Belum lagi, saya banyak dikomplain kiai,” ungkap Suhartono.

Hal itu yang membuat pihak Muspika Margoyoso gencar menggelar razia rumah esek-esek di sejumlah tempat di Margoyoso. Hal itu diharapkan agar rumah-rumah tersebut dikembalikan fungsinya sebagai hunian, bukan “hotel kecil” yang menyewakan jasa short time untuk pelaku mesum.

Tercatat, ada sekitar tiga rumah di Margoyoso yang disewakan untuk kegiatan prostitusi. Dua dari tiga rumah di antaranya sudah tutup, yaitu di Desa Semerak dan Desa Margoyoso. Sementara itu, penertiban rumah di Desa Waturoyo masih berlangsung alot.

Belum lagi, ada beberapa warung kopi yang menyediakan minuman keras dan fasilitas karaoke yang kerap dijadikan tempat mangkal bagi wanita-wanita penghibur. “Untuk warung kopi, kami sudah meminta untuk tidak menjual miras dan menutup fasilitas karaoke. Itu bisa memicu terjadinya transaksi mesum,” tandasnya.

Editor : Kholistiono

Begini Reaksi Warga Terkait Adanya “Rumah Mesum” di Pati

Kapolsek Margoyoso AKP Sugino bersama Camat Margoyoso Suhartono meminta pemilik rumah esek-esek di Desa Waturoyo berhenti beroperasi, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kapolsek Margoyoso AKP Sugino bersama Camat Margoyoso Suhartono meminta pemilik rumah esek-esek di Desa Waturoyo berhenti beroperasi, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Bisnis esek-esek di Kabupaten Pati ternyata tidak hanya ditemukan di sejumlah lokalisasi besar, seperti Lorong Indah (LI), Kampung Baru, dan Kompleks Pasar Hewan Wage. Di berbagai daerah, ada semacam rumah yang menyewakan jasa short time untuk digunakan sebagai kegiatan prostitusi.

Tak canggung-canggung, rumah-rumah tersebut berada di sekitar penduduk setempat. Tak jarang, keberadaannya dianggap meresahkan masyarakat. Namun label “penyakit masyarakat” tidak membuat pemilik rumah beralih profesi dan berhenti menyewakan rumahnya untuk aktivitas mesum.

Di Desa Waturoyo, Kecamatan Margoyoso, misalnya. Warga sebetulnya sangat resah dengan adanya rumah yang menyewakan jasa short time untuk mesum. Namun, mereka tidak berani karena pemilik rumah disebut-sebut premannya kampung.

“Warga sebetulnya jelas menolak, cuma masyarakat kadang sama orang seperti itu, ya bagaimana. Tidak berani. Yang dikhawatirkan kalau anak-anak tahu dengan adanya praktik semacam itu di lingkungannya sendiri, sehingga berdampak buruk,” ungkap Sriyatun, warga setempat, Selasa (04/10/2016).

Dia berharap, rumah-rumah mesum bisa ditertibkan secepatnya. Tidak hanya di desanya, tetapi juga sejumlah tempat lain di Kabupaten Pati. Ia khawatir, tempat semacam itu merusak moral anak-anak di sekitarnya.

Senada dengan Sriyatun, Kepala Desa Waturoyo, Sis Susilo juga sangat menentang adanya praktik esek-esek di desanya. Tak hanya soal moralitas, keberadaan tempat semacam itu yang biasanya dilengkapi minuman keras tak jarang menyebabkan gesekan dan konflik antarpemuda.

Padahal, pengunjung tempat-tempat tersebut biasanya dari luar desa, bahkan luar kecamatan. “Jelas saya tidak mendukung, karena sudah meresahkan. Takutnya, nanti lama-lama menjadi tempat prostitusi besar yang berpengaruh pada generasi muda,” ucap Susilo.

Namun, Mashuri Cahyadi, warga Kecamatan Margoyoso memberikan pendapat lain. Dia justru menilai, tempat-tempat seperti itu susah untuk diberhentikan. Karena itu, penertiban dengan membuat lokalisasi dianggap menjadi salah satu solusi.

“Rumah esek-esek ditertibkan saja, dilokalisir seperti di LI. Tapi sebagai peringatan, apakah mereka siap terkena dengan penyakit mematikan HIV/AIDS?” tandas Cahyadi.

Editor : Kholistiono

Begini Cara Anggota Intelijen Intai Tempat Esek-esek di Margoyoso Pati

Kapolsek Margoyoso AKP Sugino (kiri) meminta pemilik warung (kanan) di Desa Margotuhu Kidul, Margoyoso untuk menghentikan aktivitas karaoke dan penjualan minuman keras. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kapolsek Margoyoso AKP Sugino (kiri) meminta pemilik warung (kanan) di Desa Margotuhu Kidul, Margoyoso untuk menghentikan aktivitas karaoke dan penjualan minuman keras. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Jajaran Polsek Margoyoso mendapatkan banyak keluhan terkait dengan merebaknya sebuah tempat yang diduga digunakan untuk aktivitas esek-esek. Laporan dari masyarakat itu kemudian ditindaklanjuti dengan menyebar sejumlah anggota intelijen ke tempat-tempat yang dilaporkan warga.

Sejumlah tempat yang pernah diintai, di antaranya kawasan warung kopi di pinggiran persawahan Desa Margotuhu Kidul, Kecamatan Margoyoso dan rumah tembok berlantaikan tanah yang dihuni sendirian oleh seorang pria paruh baya di Desa Margoyoso.

“Kalau ada informasi dari warga, kami tidak begitu saja percaya. Kami harus melakukan penyelidikan. Karena itu, kalau pemilik warung mengelak, itu percuma karena kami sudah tugaskan sejumlah anggota intel pada malam hari untuk memastikan kabar dari warga,” ungkap Kapolsek Margoyoso AKP Sugino.

Dari informasi yang dihimpun anggota intel Margoyoso, ada aktivitas karaoke di dua warung di Desa Margotuhu Kidul. Selain itu, ada sejumlah pengunjung yang menenggak minuman keras. Sejumlah perempuan juga banyak yang singgah dan mangkal di sana.

Setelah informasi dari warga sesuai dengan hasil penyelidikan, pihaknya melakukan penertiban di tempat-tempat tersebut hari berikutnya. Dari hasil razia, sejumlah botol miras diamankan dan perlengkapan karaoke sederhana diminta untuk tidak digunakan lagi.

Menurutnya, tempat prostitusi besar awalnya dari warung-warung kopi kecil yang digunakan untuk mabuk-mabukan, kemudian datang satu-dua perempuan. Bila hal tersebut tidak diantisipasi sejak awal, kata AKP Sugino, warung-warung kopi tersebut bisa menjadi tempat prostitusi besar. Jika sudah begitu, akan susah ditertibkan.

Editor : Kholistiono