Perajin Gula Tumbu Terdesak Perluasan Pabrik di Pecangaan Jepara

Pekerja melakukan proses pembuatan dan penggilingan tebu menjadi gula merah di Kabupaten Jepara, Selasa. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Desa Gemulung, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, dikenal sebagai satu dari banyak wilayah penghasil gula tumbu (wadah bambu). Namun kini, usaha pembuatan gula tradisional itu kian terdesak dengan perluasan pabrik yang mencaplok lahan tebu. 

Kondisi ini tentu memengaruhi geliat usaha gula rakyat ini. Dari puluhan brak atau tempat pembuatan gula tumbu di tahun 90-an, kini hanya menyisakan belasan yang masih berproduksi. 

Hal itu dikatakan oleh seorang perajin gula tumbu Norkhan (54). Warga asli Desa Gemulung itu mengungkapkan, bagaimana usaha itu sempat berjaya lalu kemudian meredup tahun-tahun belakangan ini. 

“Saya mewarisi usaha ini dari ayah saya yang berusaha sekitar awal tahun 1980an. Lalu kemudian saya teruskan pada pertengahan tahun 90an. Dulu ada sekitar 22 brak atau gudang pembuat gula tumbu, kalau sekarang saya hitung-hitung tinggal 11 buah yang masih berproduksi,” katanya, Selasa (1/8/2017).

Pada masa jayanya penggilingan tebu tradisional milik warga selalu ramai didatangi bakul (pembeli) saat musim panen tebu. Namun kini, ia mengatakan relatif sepi. 

Menyusutnya jumlah brak ditengarai karena ekspansi pabrik tekstil yang mencaplok lahan tebu. Ia mengatakan, lahan tebu yang digunakan oleh pabrik sekitar 40 hektare lebih. “Hal itu tentu saja berpengaruh ke petani. Karena bahan produksinya pasti berkurang,” kata dia. 

Namun demikian, ia tak menampik saat rencana pembelian pabrik dirinya ikut menjual sebagian lahannya. Norkhan mengaku menjual enam kotak lahan tebu miliknya kepada pemilik pabrik. Namun kini, ia sedikit mengaku kecewa. 

“Ya akibatnya sekarang petani tidak dipentingkan merasa tidak diutamakan. Saat ini untuk usaha ini ya sak mlakune (pasrah) seadanya pasokan tebu dan juga karyawan penggiling juga sekarang sulit dicari,” ucap dia. 

Seorang pekerja brak  lain Joko juga mengakui hal serupa. Ia mengatakan saat ini proses penggilingan paling lama memerlukan waktu tiga bulan. Hal itu berbeda dengan beberapa tahun silam.

“Dulu proses penggilingan itu sampai tiga bulan lebih. Namun kini hanya sampai dua setengah hingga maksimal tiga bulan, proses produksi sudah mandeg. Sebabnya ya bahan baku tebu sudah berkurang karena lahannya sudah berubah fungsi. Selain itu juga banyak brak tua sudah tak berproduksi lagi,” ungkapnya. 

Dari sisi harga, ia mengatakan untuk satu tumbu (1,6 kuintal) berkisar sekitar Rp 600 ribu lebih. Gula itu kebanyakan dibeli oleh pedagang asal Gebog, Kabupaten Kudus. Adapun gula tumbu kebanyakan digunakan sebagai bahan baku pembuatan kecap, roti tradisional, bumbu, sambal dan sebagainya. 

Ditengah himpitan tembok pabrik, perajin gula tumbu di Gemulung ada perhatian dari pemerintah untuk mengembangkan luasan ladang tebu. Menurut perajin, hal itu adalah hal pokok untuk mendukung usaha penggilingan dan pemasakan gula tradisional. 

Editor : Akrom Hazami

 

DPN APTRI Akan Gelar Rakernas

Petani tebu saat memanen hasil tanamannya di Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Dewan Pimpinan Nasional Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia ( APTRI ) akan melaksanakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas), di Hotel The Acacia Jalan Kramat Raya Jakarta Pusat.Kamis – Jumat (20-21 Juli 2017).

Rakernas dihadiri oleh utusan pengurus DPD dan DPC APTRI seluruh Indonesia, pabrik gula, direksi pabrik gula, pedagang gula dan unsur pemerintah. Rakernas rencananya akan dibuka oleh Menteri Perdagangan Republik Indonesia.

M Nur Khabsyin Sekretaris Jenderal DPN APTRI mengatakan Rakernas akan menampilkan paparan dari para pengambil kebijakan di bidang pergulaan Nasional. Rakernas akan membahas di antaranya : tindak lanjut pembebasan PPN gula tani, HPP gula tani, HET gula, kebijakan impor gula, revitalisasi pabrik gula, peningkatan rendemen dan lainnya.

“Di samping membahas hal-hal tersebut, rakernas APTRI juga akan membahas program kerja APTRI dan rekomendasi. Di antara usulan-usulan APTRI di bidang pergulaan,” katanya di rilis persnya.

Usulan APTRI  adalah gula tani harus dibebaskan dari pengenaan PPN sampai tingkat konsumen, seperti beras, jagung, dan kedelai. Karena gula termasuk bahan pokok yang bersifat strategis.

Sampai saat ini pedagang gula sekarang masih takut membeli gula tani karena khawatir akan menanggung PPN. Walaupun sudah ada penegasan dari Dirjen Pajak bahwa petani yang omsetnya di bawah Rp 4,8 miliar tidak dikenakan PPN.

“Kami akan mengawal revisi Perpres 71 tahun 2015 tentang penetapan bahan pokok strategis sehingga gula tani bisa masuk,” ujarnya.

Terkait dengan harga acuan gula tani (HPP) Rp 9.100 /Kg dan HET gula Rp. 12.500,-/Kg, petani kurang sependapat karena harga acuan (HPP) gula tani masih di bawah Biaya Pokok Produksi (BPP). BPP gula tani sebesar Rp. 10.600,-/Kg, sedangkan HPP idealnya harus di atas BPP, sedangkan HET harus diatas HPP.

“Kami mengusulkan kepada Menteri Perdagangan HPP gula tani sebesar Rp. 11.000,- sedangkan HET gula sebesar Rp. 14.000. Angka tersebut kami anggap wajar karena satu sisi petani ada keuntungan yang wajar dari usaha tani tebu selama setahun, di sisi lain harga tersebut tidak memberatkan kepada konsumen,” tambahnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Tebu 7 Meter Milik Warga Jepang Mejobo Ini Berkhasiat Sembuhkan Penyakit Dalam

Dwi Achmad Rifai (55) warga Desa Jepang, RT 1 RW 6, Kecamatan Mejobo memperlihatkan tebunya yang panjang dan berkhasiat yang ia tanam di pekarangannya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Dwi Achmad Rifai (55) warga Desa Jepang, RT 1 RW 6, Kecamatan Mejobo memperlihatkan tebunya yang panjang dan berkhasiat yang ia tanam di pekarangannya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Dwi Achmad Rifai (55) warga Desa Jepang, RT 1 RW 6, Kecamatan Mejobo ini mempunyai tebu sakti yang panjangnya hingga 7 meter. Tebu yang dianggap aneh oleh warga sekitar bahkan orang luar daerah tersebut, dinilai bisa mengobati penyakit dalam bahkan dijadikan benteng dari ilmu gaib.

Dwi mengutarakan, dua jenis tebu tersebut merupakan jenis tebu Wulung dan tebu Rejuno. Tebu yang ditanam di depan rumahnya itu sering diminta oleh tetangga atau warga luar kota untuk dijadikan obat atau prasyarat ritual tertentu.

”Untuk kegunaannya, tebu Wulung bisa dijadikan obat penyakit dalam. Yaitu dengan cara diseduh dan nantinya airnya diminum. Selain itu, untuk tebu Rejuno, kegunaannya dijadikan sarana atau prasyarat mendirikan rumah. Supaya bisa terlaksana dengan baik dan lancar,” paparnya.

Meskipun tebu tersebut dianggap berkhasiat, namun Dwi mengaku tidak pernah memberikan pupuk atau merawatnya secara khusus. ”Hanya tebu saya beri penyangga kayu supaya tidak patah jika tertempa angin. Dahulu pernah, ada yang mengaku dari dinas pertanian sempat mengambil tanah halaman rumah ini yang ditanami tebu untuk di test di laboratorium. Tapi tidak tahu lagi kabarnya,” ujarnya.

Terkait dengan perbedaan anatara tebu Wulung dan Rejuno, pihaknya mengatakan perbedaan itu terdapat dibentuk kulitnya. ”Tebu Wulung itu kulitnya agak berwarna hitam kecoklatan. Sedangkan untuk tebu Rejuno, warnanya hijau kekuning-kuningan,” ungkapnya.

Dia  menambahkan, kedua jenis tebu itu tidak asing di telinga masyarakat Jawa. Tetapi banyak orang belum mengetahui manfaat yang terkandung dalam tebu ini. Tanaman tebu itu juga banyak di jumpai di Kudus. ”Dan pastinya tebu ini bisa tumbuh memanjang hingga tak terduga,” katanya. (EDY SUTRIYONO/ TITIS W)

APTRI Tolak Rencana Pemerintah Impor Gula Kristal Putih

istimewa

istimewa

 

KUDUS – Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) secara tegas menolak rencana pemerintah untuk mengimpor gula kristal putih (GKP) sebanyak 200 ribu ton pada tahun 2016. Penolakan tersebut didasarkan pada stok gula nasional yang saat ini masih mencukupi.

Soemitro Samadioen Ketua DPN APTRI mengatakan, dari hasil pantauan APTRI, stok gula nasional sebanyak 1 juta ton pada awal 2016. Stok tersebut dinilai cukup untuk 5 bulan ke depan.

“APTRI menilai tidak cukup alasan bagi pemerintah untuk melakukan impor. Saat ini kondisi harga gula masih stabil dan tidak terjadi kelangkaan gula di pasar,” ungkapnya.

katanya, kebijakan impor gula akan makin memperparah tata niaga gula nasional, karena kondisi saat ini masih terjadi rembesan gula rafinasi di pasar konsumsi dan masuknya gula ilegal dari daerah perbatasan.

Jika bertolak dari kondisi tersebut, menurutnya, mestinya pemerintah lebih memprioritaskan masalah pengawasan di pasar konsumsi, sehingga tata niaga gula nasional lebih sehat. Pihaknya menilai, kebijakan impor tersebut dipastikan akan menurunkan gairah petani tebu untuk meningkatkan produktivitasnya.

Pihaknya juga menyoroti kebijakan pemerintah yang mendorong penggunaan gula rafinasi untuk Industri Kecil dan Menengah (IKM) melalui distributor. Kebijakan tersebut, dinilai merugikan petani, karena akan menjadi sumber kebocoran gula rafinasi ke pasar konsumsi dalam jumlah yang lebih besar lagi.

“Secara tegas kami menolak rencana impor gula kristal putih sebanyak 200 ton melalui Bulog pada 2016 ini. Kemudian kami juga meminta pemerintah membatalkan rencana distribusi gula rafinasi untuk IKM melalui distributor,” pungkasnya. (KHOLISTIONO)

Tebu Layu, Pengusaha Gula di Dawe Lesu

Salah satu pengusaha gula tumbu Desa Cendono Eki Suhendri mengaku produksinya menurun selama musim kemarau ini. Karena kondisi tebu yang tidak banyak mengandung air, sehingga menghasilkan gula sedikit. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Salah satu pengusaha gula tumbu Desa Cendono Eki Suhendri mengaku produksinya menurun selama musim kemarau ini. Karena kondisi tebu yang tidak banyak mengandung air, sehingga menghasilkan gula sedikit. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

KUDUS – Rata rata pengusaha gula tumbu di wilayah Kecamatan Dawe saat ini mengalami penurunan. Hal itu disebabkan tebu mengalami penyusutan kandungan airnya (layu).  Lanjutkan membaca