Soal Kaderisasi, Elite Politik PDI-P Pati Tidak Sependapat, Nah Ada Apa?

Ketua DPC PDIP-P Pati Ali Badrudin berorasi menyatakan dukungannya kepada Haryanto-Arifin di depan Kantor KPU Pati beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ketua DPC PDIP-P Pati Ali Badrudin berorasi menyatakan dukungannya kepada Haryanto-Arifin di depan Kantor KPU Pati beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Pilkada Pati 2017 tampaknya mulai memanas, kendati penetapan Calon Bupati dan Wakil Bupati Pati belum dilakukan. Situasi semakin panas, ketika politisi senior Tasiman yang masuk jajaran Dewan Penasehat DPC PDI Perjuangan Pati melontarkan statemen yang mengejutkan.

Dia menilai, banyaknya partai politik yang berbondong-bondong mengusung Haryanto-Arifin mencerminkan parpol gagal melakukan kaderisasi dan pendidikan politik kepada anggotanya. Hal itu termasuk PDI-P sendiri yang dianggap gagal mencetak kader emas untuk diusung sebagai pemimpin pada Pilkada Pati 2017.

Padahal, kata Tasiman, ada sederet tokoh internal PDI-P yang siap maju, seperti Endro Dwi Cahyono, Budiyono (PDI-P), dan Soetarto Oenthersa atau Kokok. Namun, PDI-P justru mengusung calon dari luar partai. Tasiman sendiri mengaku tidak kecewa dengan keputusan PDI-P, karena dia merasa masih menjadi kader partai yang harus tegak lurus.

“Dibilang kecewa ya tidak. Saya kan kader partai, tetap tegak lurus dan ikut dengan apa yang sudah ditetapkan partai. Kalau nanti ditugasi dari DPP untuk mengawal ya tetap ikut. Kami cuma menyayangkan saja, tidak ada kader partai yang maju. Itu berarti pendidikan politik yang dilakukan gagal,” kata Tasiman.

Menanggapi hal itu, Ketua DPC PDI-P Pati Ali Badrudin menolak bila parpol disebut gagal melakukan kaderisasi, hanya karena mengusung dari luar kader. Menurutnya, pengusungan Haryanto-Arifin sebagai cara partai dalam menjunjung tinggi demokrasi.

Hal itu dibuktikan dengan dibukanya penjaringan bakal calon. Dalam penjaringan tersebut, masing-masing figur dikaji. Hasilnya, Haryanto-Saiful Arifin muncul sebagai tokoh dengan elektabilitas dan kualitas yang mumpuni. Hal itu yang membuat PDI-P akhirnya memilih pasangan Haryanto-Arifin.

“Pertimbangan kami sangat matang. Kami tidak memaksakan diri untuk mengusung dari internal partai bila memang ada calon lain yang lebih baik. Ini bagian dari demokrasi yang harus dijunjung tinggi,” ucap Ali.

Pengamat Politik Universitas Diponegoro, Hakim Alif Nugroho memberikan komentar terkait dengan adanya elite partai PDI-P Pati yang saling tidak sependapat tersebut. “Itu sangat menarik dan menjadi bagian dari perkembangan politik yang dinamis. Namun, para elite politik yang tidak sependapat itu bisa muncul pertanyaan dari publik. Ada apa dengan PDI-P?” kata Hakim, singkat.

Editor : Kholistiono

Begini Sikap Demokrat Tanggapi Pernyataan Tasiman yang Anggap Parpol di Pati Gagal Didik Kader

Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Pati Joni Kurnianto. Dia menanggapi statement Tasiman yang menganggap parpol gagal mendidik kadernya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Pati Joni Kurnianto. Dia menanggapi statement Tasiman yang menganggap parpol gagal mendidik kadernya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Pernyataan tokoh senior PDI Perjuangan, Tasiman yang menganggap partai politik di Pati gagal mendidik kader, menuai reaksi dari para petinggi parpol di Kabupaten Pati. Salah satunya, Partai Demokrat yang tidak terima bila kader parpol di Pati disebut tidak berkualitas.

“Delapan parpol mengusung Haryanto-Saiful Arifin itu bukan berarti parpol gagal dalam melakukan kaderisasi. Banyak faktor yang menjadi pertimbangan parpol untuk menentukan koalisi. Tudingan itu tidak benar,” ujar Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Pati, Joni Kurnianto, Jumat (30/09/2016).

Dalam mengusung pasangan calon, kata Joni, parpol mengakomodasi keinginan dan suara masyarakat di tingkat bawah. Bahkan, Demokrat sendiri sebetulnya memiliki banyak kader potensial yang siap dijadikan sebagai calon pemimpin pada Pilkada Pati 2017. Namun, siap saja dianggap tidak cukup bagi Demokrat.

Sebab, Demokrat memperhatikan tiga hal sebelum menentukan siapa yang bakal diusung, di antaranya elektabilitas, dana, dan jaringan yang baik. “Dalam survei yang kita lakukan, hanya Haryanto dan Saiful Arifin yang layak maju,” tutur Joni.

Dengan munculnya Haryanto-Arifin dalam survei, pihaknya mengaku tidak egois dan memaksakan diri untuk mengusung dari internal Demokrat. Pilihan dan keinginan masyarakat yang ingin incumbent maju harus dihargai. Karena itu, Demokrat mengusung Haryanto-Arifin sebagai bentuk upaya parpol untuk mendengarkan aspirasi masyarakat Pati. “Dalam demokrasi, daulat rakyat yang paling tinggi,” ucap Joni.

Sebelumnya, Tasiman secara blak-blakan menyebut tidak ada satu parpol di Pati yang berhasil menyelenggarakan pendidikan politik kepada kadernya. Kegagalan tersebut disebabkan tidak ada satu tokoh parpol pun yang diusung pada Pilkada 2017, sehingga kader disebut tidak ada yang layak untuk maju menjadi pemimpin.

Editor : Kholistiono

Tokoh Senior PDI Perjuangan Ini Sebut Parpol di Pati Gagal Cetak Kader Berkualitas

Politisi senior PDI-P, Tasiman saat memberikan tanggapan soal calon tunggal Pilkada Pati 2017. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Politisi senior PDI-P, Tasiman saat memberikan tanggapan soal calon tunggal Pilkada Pati 2017. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Fenomena calon tunggal pada Pilkada Pati 2017 mendapatkan sorotan publik. Bahkan, seorang politisi senior dari PDI Perjuangan yang pernah menjabat Bupati Pati selama dua periode, Tasiman “berkicau” soal calon tunggal.

“Saya sebetulnya malu. Kenapa parpol tidak ada yang bisa membuka calon lain, selain Haryanto-Arifin. Kenapa parpol malah mendukung semua? Calon tunggal menjadi indikasi parpol di Pati gagal melakukan pendidikan politik kepada kadernya, termasuk PDI Perjuangan. Kok sekadar ikut-ikutan, tidak berani tampil dari kader sendiri,” ucap Tasiman saat berbincang dengan MuriaNewsCom.

Fenomena calon tunggal di Pati disebut-sebut Tasiman sebagai sebuah kemunduran pesat parpol yang ada di Pati. Pasalnya, hal itu menjadi indikasi tidak ada kader partai yang berkualitas, sehingga berbondong-bondong mengusung Haryanto-Arifin.

“Coba turun ke lapangan. Ketemu dengan kader di bawah dan masyarakat. Tampung aspirasi dari masyarakat. Dengan membaur dan menyatu dengan masyarakat, mesti tokoh partai akan dikenal warga. Dengan begitu, bila ada pilkada, mereka siap tampil di depan, bukan sukanya ikut-ikutan,” kata Tasiman.

Ditanya soal apakah Tasiman sebetulnya kecewa dengan keputusan PDI-P karena mengusung Haryanto-Arifin, dia mengelak. Tasiman masih mengaku sebagai orang internal PDI-P yang patuh pada apa yang sudah menjadi keputusan PDI-P.

Dia hanya menyayangkan, tidak ada kader partai yang mau maju dan tampil sebagai pemimpin. Hal itu yang kemudian membuat Tasiman berkesimpulan, pendidikan politik yang dilakukan parpol di Pati gagal membentuk kader berkualitas untuk tampil sebagai pemimpin.

Editor : Kholistiono

Tasiman Sebut Pendaftaran Haryanto-Arifin di KPU Pati Bermasalah

Politisi senior PDI-P, Tasiman memberikan komentar terkait dengan Pilkada Pati 2017. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Politisi senior PDI-P, Tasiman memberikan komentar terkait dengan Pilkada Pati 2017. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Pernyataan mengejutkan muncul dari politisi senior PDI-P, Tasiman terkait soal Pilkada Pati 2017. Dia menyebut, pendaftaran calon bupati dan wakil bupati yang dilakukan Haryanto-Saiful Arifin di Kantor KPU Pati, Kamis (22/09/2016), tidak sah.

Alasannya, belum ada bentuk koalisi yang jelas saat keduanya mendaftarkan diri di KPU Pati. Mereka hanya diusung dari delapan partai, di mana semua parpol mengusung sepaket, yaitu Haryanto-Arifin.

Padahal, kata Tasiman, tidak ada satu parpol di Pati yang memiliki kursi 20 persen di DPRD Pati, sehingga harus membentuk koalisi sebelum mendaftarkan calon. “Untuk mengusung pasangan, harus membentuk koalisi, karena tidak ada satu pun parpol yang punya kursi di DPRD sebanyak 20 persen. Maka, mereka harus berkoalisi sebelum mendaftar ke KPU. Harusnya KPU menolak. Wong kursi di DPRD kurang dari 20 persen kok rekomendasinya sepaket,” ucap Tasiman.

Karena itu, Tasiman berpendapat, KPU harus memberikan kejelasan terkait dengan persoalan itu. Sebab, semua partai mengusung Haryanto-Arifin sepaket, di mana bentuk koalisinya tidak jelas. Padahal, koalisi menjadi syarat wajib, lantaran tidak ada satu parpol pun yang memiliki kursi minimal 20 persen.

Bila KPU tidak segera menyelesaikan masalah tersebut, Tasiman bahkan memprediksi akan menjadi preseden buruk pada Pilkada Pati 2017. “Menurut saya, itu tidak sah. Kalau tidak diselesaikan akan menjadi preseden buruk,” katanya.

Saat dikonfirmasi, Ketua KPU Pati Much Nasich mengaku sudah melaksanakan sesuai dengan prosedur dan aturan. Delapan parpol yang mengusung sudah menandatangani semua sebagai representasi dari gabungan partai.

Editor : Kholistiono

Tasiman Sebut KPU Pati Tak Beri Peluang Calon Independen saat Perpanjangan Pendaftaran

Politisi senior PDIP-P, Tasiman saat memberikan pernyataan, Rabu (28/09/2016), bahwa KPU tidak memberikan peluang bagi calon independen pada masa perpanjangan pendaftaran dari 28-30 September 2016. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Politisi senior PDIP-P, Tasiman saat memberikan pernyataan, Rabu (28/09/2016), bahwa KPU tidak memberikan peluang bagi calon independen pada masa perpanjangan pendaftaran dari 28-30 September 2016. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Pati disebut tidak memberikan peluang kepada calon independen pada masa perpanjangan pendaftaran yang dilakukan selama tiga hari, mulai Rabu (28/09/2016) hingga Jumat (30/09/2016) mendatang. Pernyataan itu muncul dari politisi senior PDI-P, Tasiman.

“Kenapa KPU hanya memberikan peluang perpanjangan pendaftaran calon bupati dan wakil bupati dari kalangan partai politik saja? Kenapa pendaftaran dari perseorangan tidak diberi kesempatan? Padahal, semua diakui undang-undang,” ujar Tasiman, Rabu (28/09/2016).

Karena itu, tokoh yang pernah menjabat sebagai Bupati Pati selama dua periode itu menyayangkan kebijakan KPU Pati yang dianggap tidak memberikan peluang bagi calon independen pada masa parpanjangan pendaftaran. Dia berpendapat, bisa jadi ada calon independen yang ingin mendaftar pada masa perpanjangan.

Sebab, pencalonan menggunakan kendaraan politik disebut-sebut mahal. “Itu artinya, KPU menutup peluang bagi calon independen yang berangan-angan untuk maju, tanpa melalui kendaraan politik karena biayanya mungkin mahal. Kalau peluang itu ada, mungkin ada yang maju,” ungkap Tasiman.

Kendati begitu, Tasiman tidak mau menyebut siapa yang akan maju melalui jalur perseorangan bila ada kesempatan pada masa perpanjangan. Dia hanya menyebut, mungkin ada orang-orang yang akan maju melalui jalur independen.

Menanggapi hal itu, Ketua KPU Pati Much Nasich mengatakan, KPU tidak membuka peluang untuk calon independen pada masa perpanjangan, karena prosesnya lama. Untuk proses verifikasi faktual saja, kata Nasich, butuh waktu 14 hari.

“Kalau kita buka peluang calon independen pada masa perpanjangan, prosesnya akan lama. Ada verifikasi faktual paling tidak 14 hari dan proses lainnya yang akan memakan waktu cukup lama,” kata Nasich.

Editor : Kholistiono

 

Ini Komentar Tasiman Soal Kemungkinan Calon Bupati Pati yang Direkomendasikan PDIP

 Tasiman, Dewan Penasehat DPC PDI Perjuangan Pati berkomentar soal Pilkada Pati 2017. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Tasiman, Dewan Penasehat DPC PDI Perjuangan Pati berkomentar soal Pilkada Pati 2017. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 


MuriaNewsCom, Pati
– Dewan Penasehat DPC PDI Perjuangan Pati, Tasiman mengaku tidak bisa memberikan spekulasi terkait dengan siapa pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Pati 2017 yang akan direkomendasikan DPP PDI Perjuangan. Sebab, rekomendasi calon sudah menjadi wewenang penuh DPP PDIP.

“Rekomendasi PDIP biasanya mepet. Kalau tidak salah, mungkin saja awal-awal September 2016. Tapi, saya tidak bisa menafsir, karena itu sudah menjadi wewenang secara penuh DPP PDIP. Kapan dan siapa pasangan calonnya, saya tidak bisa menafsir,” ujar Tasiman.

Dia menjelaskan, aturan pilkada kali ini berbeda dengan periode lalu. Bila periode lalu kewenangan untuk menetapkan pasangan calon ditentukan di tingkat DPC, kewenangan penetapan pasangan calon saat ini mutlak dilakukan di tingkat pusat.

Karenanya, siapa pun nama yang muncul dalam rekomendasi DPP PDIP, dia berharap agar calonnya benar-benar diambil dari hasil survei yang laik. Dengan begitu, pasangan calon dari PDIP benar-benar berkualitas dan menjadi harapan rakyat Pati untuk lima tahun ke depan.

“Kami yakin, DPP PDIP memberikan rekomendasi secara profesional, sesuai dengan hasil survei yang dilakukan, dan bukan berdasarkan asal senang atau kedekatan secara personal. Siapa pun yang diberi rekomendasi harus diikuti,” katanya.

Editor : Kholistiono

 

 

Politisi Senior Tasiman Angkat Bicara Soal Pilkada Pati 2017

 Penasehat DPC PDIP Kabupaten Pati, Tasiman tengah berbincang tentang Pilkada Pati 2017. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Penasehat DPC PDIP Kabupaten Pati, Tasiman tengah berbincang tentang Pilkada Pati 2017. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Tasiman, politisi senior yang pernah menjabat sebagai Bupati Pati selama dua periode, angkat bicara soal Pilkada Pati yang akan berlangsung pada 15 Februari 2017 mendatang. Kendati tidak berpikir untuk maju lagi dalam panggung politik, tetapi Tasiman mengaku didesak oleh warga.

“Memang ada warga yang mendorong lagi untuk maju. Tapi, saya jawab tidak, karena sudah dua kali jadi bupati. Pasti ada yang berpikir kok tidak bosan? Saya hanya mengamati perjalanan kondisi di Pati saat ini, kadang-kadang memang tidak sesuai dengan hati nurani. Kalau mau maju bupati seolah-olah harus punya uang sekian miliar, padahal waktu mencalonkan diri dulu saya tidak punya uang,” tutur Tasiman.

Karena itu, Mantan Ketua DPRD Kabupaten Pati itu mengaku akan netral dan tidak akan ikut dalam panggung politik Pilkada Pati 2017. Pasalnya, terjun di dunia politik diakui memiliki risiko dan beban hidup tersendiri.

“Di dunia politik, kita kerja tidak nyaman. Tapi, kalau ada orang-orang berpikir lain, mendorong saya untuk ikut dalam panggung politik ya silakan saja,” kata Tasiman. Menurut Mantan Ketua DPC PDI Perjuangan Pati ini, masih banyak yang harus dibenahi di Kabupaten Pati untuk lebih baik lagi.

Meski selama ini terkesan tidak turun langsung di panggung percaturan politik Pilkada Pati 2017, tetapi panasehat DPC PDIP Pati ini mengaku masih mengamati dan mengikuti perkembangan. Bahkan, dia berharap agar pilkada nanti bisa berjalan dengan baik, aman, dan tidak seperti periode sebelumnya hingga menggelar pilkada diulang.

Editor : Kholistiono