Besok Drama Tari Kidung Nglarung Asal Jepara Akan Dipentaskan di Semarang


Latihan yang dilakukan oleh murid-murid MIN Jepara, menyongsong pertunjukan drama tari Kidung Nglarung yang akan digelar di PRPP Semarang, Sabtu (19/8/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Besok pagi drama tari bertajuk Kidung Nglarung  asal Jepara akan dipentaskan di Pusat Rekreasi Promosi dan Pembangunan (PRPP) dalam ajang Jateng Fair 2017. Tari kreasi tersebut, mengisahkan tentang tradisi lomban yang hingga kini masih dilestarikan masyarakat yang ada di pesisir utara Laut Jawa itu. 

Sekretaris Dewan Kesenian Daerah Jepra Rhobi Shani mengatakan, sebanyak 30 penari anak-anak dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) Negeri Jepara dan seniman muda mementaskan tarian tersebut. 

“Tema besar Jateng Fair tahun ini adalah Karimunjawa, oleh sebab itu kami mengangkat tradisi lomban atau larungan,” katanya, Jumat (18/7/2017).

Ia menyebut, penyajian tarian tersebut bertujuan agar tradisi larungan di pesisir Jepara dikenal oleh masyarakat secara luas. Hal itu mengingat, tradisi itu juga menjadi magnet bagi pariwisata Kabupaten Jepara, karena menyedot perhatian banyak masyarakat. 

Rhobi mengatakan, tradisi larungan di Jepara tak hanya satu macam. Hal itu dilihat dari jenis sajian yang dilarung ke tengah laut. 

“Beda-beda yang dilarung, misalnya di Kelurahan Ujungbatu Kecamatan Jepara yang dilarung adalah kepala kerbau. Kalau di Karimunjawa kepala kambing, sedangkan di Desa Bondo, Kecamantan Bangsri yang dilarung adalah gunungan hasil bumi dan laut,” tambahnya. 

Adapun, prosesi larungan atau lomban biasanya digelar seminggu seusai merayakan Idul Fitri. Pada hari tersebut, masyarakat nelayan berbondong-bondong mengikuti ajang larungan. Oleh Pemkab Jepara, prosesi itu pun dibuat sebagai atraksi wisata. Bahkan Bupati dan pejabat di kabupaten tersebut biasanya turut ambil bagian. 

Acara tersebut bertujuan untuk mensyukuri berkat illahi yang telah didapat selama setahun melaut. Dengan larungan, masyarakat nelayan berharap hasil yang diperoleh setahun kedepan makin melimpah. 

“Nelayan di Jepara menyadari laut merupakan sumber kehidupan dan ekonomi, maka anugerah tersebut wajib dijaga dan disyukuri,” pungkas Sutradara pementasan tersebut Heru Susilo. 

Editor: Supriyadi