Kaya Nitrogen, Petani Pati Manfaatkan Orok-orok sebagai Pengganti Pupuk Kimia

Seorang petani di Desa Babalan tengah melihat Orok-orok yang dimanfaatkan sebagai tanaman refugia. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Seorang petani di Desa Babalan tengah melihat Orok-orok yang dimanfaatkan sebagai tanaman refugia. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Tanaman orok-orok ternyata tak hanya berperan sebagai refugia yang mendatangkan predator alami bagi hama padi. Tanaman yang merupakan keluarga Fabaceae atau polong-polongan ini ternyata kaya akan unsur Nitrogen (N) yang bisa dimanfaatkan sebagai pengganti pupuk kimia.

Sujak, Ketua Poktan Tanah Mas Desa Babalan, Kecamatan Gabus adalah salah satu petani yang sudah memanfaatkan tanaman Orok-orok sebagai refugia, sekaligus pupuk alami. Kandungan biomasa dan Nitrogen yang mencapai 3,01 persen, membuat orok-orok cocok sebagai pengganti pupuk kimia.

“Dengan mengurangi penggunaan pupuk kimia melalui pemanfaatan Orok-orok, biaya produksi juga berkurang. Hasil panen juga tidak kalah bagus bila menggunakan pupuk kimia. Kalau biasanya saya gunakan 50 kg pupuk ponska dalam satu petak sawah, sekarang tidak lagi. Kami juga sudah tidak pakai pupuk urea,” ungkap Sujak.

Hal itu dibenarkan petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (PPOT) Kecamatan Gabus, Sujianto. Pemanfaatan tanaman Orok-orok bisa lebih hemat penggunaan pupuk kimia mencapai 45 persen.

Unsur N sendiri dikenal punya peran penting untuk pertumbuhan tanaman pertanian, mulai dari penguat akar, batang, dan daun. Karena itu, tanaman yang ditanam di pinggiran pematang sawah ini bisa menjadi alternatif bagi petani sebagai pengganti pupuk kimia.

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Babalan, Eny Prasetya menambahkan, saat ini tanaman refugia banyak dikembangkan di Desa Babalan. Petani sudah mulai tahu manfaat Orok-orok sebagai tanaman refugia, sekaligus alternatif pengganti pupuk kimia.

Sejumlah kalangan menyebut, pupuk kimia selain merusak tanah, juga tidak baik untuk kesehatan. Hasil pertanian yang terkontaminasi dengan pupuk kimia disebut sebagai biang kanker. Lebih dari itu, pupuk kimia cenderung memakan biaya produksi yang tinggi.

 Editor : Kholistiono

 

Petani di Babalan Pati Manfaatkan Tanaman Orok-orok untuk Basmi Hama Pertanian, Ini Keistimewaannya

 Petani dan PPL Desa Babalan melihat tanaman orok-orok di Desa Babalan, Gabus.(MuriaNewsCom/Lismanto)


Petani dan PPL Desa Babalan melihat tanaman orok-orok di Desa Babalan, Gabus.(MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Tanaman bunga jenis orok-orok saat ini mulai dikembangkan petani di Desa Babalan, Kecamatan Gabus, Pati. Tak hanya sebagai tanaman hias yang mempercantik sawah, bunga orok-orok yang mencolok menjadi sumber makanan bagi predator alami yang menjadi musuh hama pertanian.

Ketua Kelompok Tani Tanah Mas Desa Babalan, Sujak mengatakan, tanaman orok-orok punya kemampuan yang baik untuk memikat predator alami hama. Konsep tersebut, disebut sebagai sistem refugia yang sebetulnya sudah pernah dipakai petani masa lalu untuk memerangi hama.

Hanya saja, petani saat ini sudah mulai lupa dengan konsep dan sistem yang dipakai petani masa lalu. Padahal, konsep refugia diakui sangat efektif menanggulangi populasi hama secara alami. Imbasnya, petani menjadi hemat dalam penggunaan pupuk kimia.

“Tanaman orok-orok bisa mengundang lebah yang posisinya sebagai predator bagi hama pertanian. Lebah merupakan musuh alami bagi sejumlah jenis hama, seperti belalang sangit, wereng, penggerek batang, ulat, dan lain sebagainya,” kata penyuluh pertanian lapangan (PPL) Desa Babalan, Eny Prasetya, Jumat (15/7/2016).

Selain orok-orok, kata dia, sejumlah tanaman yang bisa dimanfaatkan untuk sistem refugia adalah kecipir, turi, cokra-cakri, bunga matahari, tanaman bunga kertas, dan lainnya. Sistem refugia memilih jenis tanaman berbunga, lantaran bisa mengundang lebah, kumbang, lalat, kupu-kupu, dan beragam predator alami bagi hama.

Selain Desa Babalan, sejumlah petani yang mulai kembali memanfaatkan sistem refugia, di antaranya petani di Desa Tanjang dan Gabus. Diperkirakan, pemanfaatan tanaman refugia untuk mendukung aktivitas pertanian di Kecamatan Gabus saat ini sudah mencapai 20 persen.

Editor : Kholistiono