Taman di Jepara Tak Representatif

Terlihat di foto, kebersihan taman di areal Stadion GBK tak dijaga, sampah yang baru saja dibersihkan tidak dibuang pada tempatnya, Jumat (28/7/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Jepara masih minus. Padahal warga masyarakat sejatinya mendamba terwujudnya areal publik yang mendukung aktivitas luar ruangan. 

Yunita (19) mengatakan, untuk areal publik berupa taman di Jepara masih jauh dari harapan. Di sana-sini banyak sekali kekurangan yang menuntut pembenahan serius. 

“Fasilitasnya kadang kurang memenuhi, seperti tempat sampah yang penuh tapi belum dibuang,” ujar warga Desa Krapyak, Kecamatan Tahunan,Jepara, Jumat (28/7/2017). 

Ia juga mengutarakan, taman-taman di Jepara juga kurang nyaman. Hal itu berbanding berbalik dengan anggaran yang dihabiskan untuk membuat fasilitas tersebut. 

“Sejauh pengamatan dan informasi yang saya terima, anggaran untuk membuat taman setahu saya besar namun kok jadinya seperti itu-itu saja. Saya malah penasaran kan ada rencana bangun city walk nanti jadinya seperti apa bagus atau tidak,” kata dia. 

Warga lain Landiana (19) berkata, banyak taman yang jauh dari perawatan. “Di taman kanal itu kan ada tulisan yang dipasangi lampu, tapi ada yang tidak hidup. Adapula taman yang kotor, kalau duduk kita tidak nyaman,” ungkap warga Tegalsambi, Kecamatan Tahunan. 

Dirinya menginginkan taman-taman di Jepara ditambah dengan fasilitas olahraga, seperti jogging track. “Sekarang tidak ada fasilitas buat pull up, jogging track. Kalau ada akan lebih ramai. Kalau sekarang begitu-begitu saja, malah takutnya disalahgunakan hanya buat pacaran saja misalnya,” pinta Landiana. 

Editor : Kholistiono

Taman Lampion Kudus Hanya Dibuka Tiga Malam

Warga menikmati Taman Lampion di Kabupaten Kudus, Selasa (10/1/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga menikmati Taman Lampion di Kabupaten Kudus, Selasa (10/1/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Wisata malam yang baru di Kudus, berupa Taman Lampion, ternyata tidak bisa dinikmati setiap hari selama sepekan penuh. Namun, lokasi di areal Taman Krida itu, hanya dapat dinikmati tiga hari saja.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus Yuli Kasianto mengatakan, Taman Lampion hanya dibuka selama tiga hari. Mulai dari Jumat malam, Sabtu malam dan Minggu malam. “Tiga hari tersebut supaya masyarakat Kudus tidak bosan. Selain itu juga pada malam itu merupakan malam paling ramai pengunjung,” katanya kepada MuriaNewsCom, Selasa (10/1/2017).

Menurutnya, meski dibuka pada tiga malam, namun pihak dinas juga melakukan pembatasan jam bukanya. Yakni mulai dapat dinikmati pada pukul 17.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB. Tiga malam tersebut merupakan evaluasi dari dinas. Sebab sebelumnya rencana buka hanya dua hari saja yakni malam Sabtu dan malam Minggu. Namun karena tingginya permintaan masyarakat, maka juga dibuka pada malam Senin.

“Kami gambarannya itu, penikmat kebanyakan pemuda dan pelajar. Jika sampai sepekan penuh, maka dikhawatirkan dapat mengganggu sekolah,” ujarnya

Keberadaan Taman Lampion jelas mengundang minat banyak masyarakat. Terlebih kalangan muda-mudi yang penasaran dengan tempat itu. Terbukti, dalam akhir tahun lalu saat uji coba mampu memperoleh pendapatan tak sedikit. “Dulu dicoba hingga tiga hari buka, tiga hari itu kami mendapatkan pemasukan hingga Rp 30 juta. Itu juga yang menambah pemasukan PAD,” ungkap dia.

Pihaknya membatasi waktu operasi tempat wisata juga alasan perawatan taman. Jika pengunjung makin banyak maka potensi kerusakan juga lebih besar. “Kami menyiapkan petugas yang keliling tiap malam. Petugas itulah yang memantau kawasan taman agar tetap apik dan rapi supaya dapat awet,” ungkapnya.

Selain itu, pihaknya juga mengalokasikan biaya penambahan CCTV di Taman Lampion. Rencananya, CCTV akan dipasang di sejumlah titik pada Taman Lampion. Dengan CCTV itu dapat membantu memantau pengunjung taman. Tidak hanya itu, juga ada penambahan lampu penerangan. Hanya lampu penerangan tidak diarahkan ke arah taman karena khawatir mengganggu keindahan cahaya lampion.

Editor : Akrom Hazami

Nikmati Taman di TPA Tanjungrejo Kudus, Anda Akan Jatuh Hati

Warga menikmati taman di TPA Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Senin (2/1/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga menikmati taman di TPA Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Senin (2/1/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Saat liburan panjang pada tahun baru ini, TPA di Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo, Kudus, nampak dipadati sejumlah warga. TPA kini menjadi lokasi liburan alternatif masyarakat yang merayakan liburan bersama keluarga 

Selama ini, TPA yang identik dengan sampah dan bau tak sedap , mulai berubah. Keberadaan taman dan penataan yang menarik membuat daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Selain itu, bau tak sedap lingkungan TPA juga mulai menghilang.

Rohadi, warga Tanjungrejo saat berkunjung mengatakan, kalau untuk berlibur tak membutuhkan lokasi yang jauh. TPA mampu menjadi wadah alternatif dirinya merayakan liburan bersama dengan keluarga. “Baunya hilang ya. Enggak tercium bau sama sekali di lingkungan TPA, khususnya pada bagian tamannya,” katanya kepada MuriaNewsCom saat berada di TPA, Senin (2/01/2017)

Dia mengaku kaget dengan perombakan yang terdapat di TPA. Dia tak menyangka kalau penataan TPA mampu menyulap dari lokasi yang kumuh menjadi lokasi yang menyenangkan dan nyaman dikunjungi. Namun, dia mengkritik kalau pintu masuk TPA masih kurang bagus. Selain itu, meski bau di lokasi taman nyaris hilang, namun saat baru masuk masih tercium bau yang menyengat. Barulah ketika sampai di taman, bau tak sedap hilang.”Sayangnya tidak ada binatangnya. Kalau ada pasti bakal lebih bagus lagi dan tentunya menarik banyak masyarakat,”kritiknya.

Dia berharap TPA terus dikembangkan. Seperti halnya dengan penambahan satwa.  Tujuannya supaya semakin nyaman dan menjadi tempat berlibur bersama keluarga. Berdasarkan pantauan, tak Hanya kalangan dewasa saja yang berkunjung, tapi sejumlah anak-anak dan remaja juga menikmati lokasi.  Kondisi taman yang tertata rapi, dengan sejumlah gazebo membuat lokasi terlihat apik. Selain itu, wahana bermain seperti ayunan dan sebagiannya membuat anak-anak betah berlama-lama.

Dalam menyulap TPA membutuhkan biaya yang tak sedikit. Berdasarkan data pemerintah setempat, pembangunan menganggarkan dana Rp11,4 miliar untuk proyek revitalisasi TPA Tanjungrejo. Proyek revitalisasi yang dilaksanakan pada tahun lalu. Pembangunan terbagi dalam tiga paket kegiatan fisik. Yakni, pembuatan talud, taman, dan pagar yang mengeliling TPA Tanjungrejo.

Editor : Akrom Hazami

Rampung Dibangun, Taman Lampion Kudus Siap Dibuka

 Warga melintas di dekat pintu masuk Taman Lampion di Kudus, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)


Warga melintas di dekat pintu masuk Taman Lampion di Kudus, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Pembangunan tempat wisata malam di Taman Krida, sudah rampung diselesaikan. Taman Lampion  berbahan akrilik itu, ditargetkan siap dibuka awal Januari 2017.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Yuli Kasianto melalui Kabid Pariwisata Dwi Yusi Sasepti mengatakan, Taman Lampion sudah siap dinikmati masyarakat, baik Kudus maupun luar kota. Untuk menikmatinya juga sangat murah lantaran cukup membayar dengan Rp 3 ribu per orang.

“Tiket masuk masih Rp 3 ribu  saja. Itupun tiket masuk Taman Krida. Lain halnya jika nantinya Perda Wisata Malam ini sudah dibuka, pasti harganya akan berbeda pula,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, perda terkait hiburan malam di Kudus itu, masih belum dibahas. Rencananya, pada 2017 mendatang baru akan dibahas sehingga baru bisa digunakan kisaran pertengahan hingga akhir tahun mendatang.

Pembangunan Taman Lampion, mencapai Rp 2,5 miliar. Jumlah tersebut juga dihabiskan untuk pembangunan pagar pada sebelah barat luar taman yang kini juga sudah dirampungkan.

“Kami konsepnya juga warna-warni, jadi tidak hanya satu warna karena cenderung membosankan. Jadi unsur warna-warni kami terapkan,” ujarnya.

Pembangunan rencana akan dilanjutkan pada tahun depan. Namun pembangunan tahun depan lebih pada pembuatan kandang hewan serta renovasi aula Taman Krida. Untuk itu sudah diusulkan sejumlah Rp 3 miliar

“Jadi supaya lebih maksimal dan nyaman, kalau kini bagian timur, nanti bagian barat. Jalan bagian dalam mulai barat sampai timur juga kami tata supaya tidak membosankan dan menarik,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Taman Rafflesia Arnoldi di Pati Jadi Tempat Favorit Foto Selfie

Taman Rafflesia Arnoldii di Pati yang sepi karena tidak ada tempat duduk untuk melepas penat. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Taman Rafflesia Arnoldii di Pati yang sepi karena tidak ada tempat duduk untuk melepas penat. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Satu lagi taman di Pati Kota yang cocok sebagai tempat selfie. Jika taman kran melayang sempat menjadi taman yang paling digemari warga Pati untuk berselfia ria, kini Taman Rafflesia Arnoldi bisa menjadi pilihan.

Taman ini berada di Jalan Pati-Kudus, tepat berseberangan dengan Patung Kereta Berkuda, sebelah timur SMAN 1 Pati. Dilengkapi dengan tiga lampu hias yang cantik, taman ini bisa menjawab kebutuhan pengunjung saat ingin selfie pada malam hari.

Sayangnya, taman yang menghabiskan anggaran sekitar Rp 200 juta ini ditutup dengan pagar dan tidak ada tempat duduk. Sehingga sebatas berfungsi sebagai pemercantik kota dan ruang terbuka hijau (RTH) publik. Pengunjung tidak punya kesempatan untuk duduk-duduk santai untuk sekadar nongkrong.

Yang lebih tidak representatif lagi, pengunjung yang datang harus berdiri di pinggiran trotoar sehingga akan mengganggu pejalan kaki yang kebetulan lewat. Namun begitu, Taman Rafflesia Arnoldi bisa menjadi alternatif tepat untuk mengabadikan foto bersama.

Ali Munir, misalnya. Warga Desa Kalimulyo, Kecamatan Jakenan ini sebetulnya kurang setuju dengan konsep taman yang berfungsi sebagai ruang terbuka hijau (RTH) publik, tetapi tidak bisa digunakan sebagai tempat untuk sekadar melepas penat.

”Taman ini mestinya bagus. Ada replika Bunga Rafflesia Arnoldi. Taman dibuat dengan konsep berundak dan dilengkapi dengan rumput hijau, sehingga bisa menjadi alternatif untuk melepas penat. Sayangnya, tidak ada tempat duduk untuk sekadar beristirahat,” kata Munir kepada MuriaNewsCom.

Karena itu, taman hijau tersebut tak lain sebatas hanya berfungsi sebagai tempat untuk foto selfie dan pemenuhan ruang terbuka hijau publik.

”Memang, kalau taman itu bisa diakses publik, menurut saya, risikonya taman cepat kotor dan rusak. Biasanya sih seperti itu. Bagaimanapun juga, taman yang berada di pinggir jalur pantura itu cocok untuk selfie,” tandasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Rencana Pembuatan Taman Menara di Kudus ‘Sisakan’ Tangisan Perih

Tempat yang direncanakan untuk membangun Taman Menara, Kudus. (MuriaNewsCom)

KUDUS – Kelompok usaha di daerah Menara Kudus, meliputi tukang ojek, becak menara, angkutan menara dan Pedagang Kaki Lima (PKL) terpaksa menerima rencana pembuatan taman Menara yang ditempatkan di terminal pangkalan ojek.

Para paguyuban terpaksa menerima lantaran tidak ada pilihan lain selain menerimanya.

Satu dari puluhan yang menolak Baidlowi, mengaku terpaksa menerima adanya pembuatan taman. Mereka khawatir jika dibuatkan taman, hanya akan mengancam sumber penghasilannya.

”Kalau pangkalannya dipindah, maka peziarah tidak akan mampir ke sini. Selain itu kalau dipindah juga bakal menunggu pembangunan usai,” katanya kepada MuriaNewsCom

Dia mengatakan, 70 warga yang datang ke Dinas Dagsar Kudus tersebut untuk mendapatkan keterangan dari pihak pemkab. Dan sementara mereka menerima rencana pemkab tersebut..

”Banyak yang menggantungkan ekonominya, seperti PKL jumlahnya sekitar 90 orang, penarik ojek sepeda motor 500 orang, awak angkutan 20 dan penarik becak 100 orang. Jika dipindah, berapa yang dikorbankan untuk pembuatan taman,” ujarnya.

Dia mengapresiasi rencana pemkab guna menara kawasan tersebut, namun para pedagang khawatir jika hal itu hanya akan mengurangi penghasilan para pedagang. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Walah-Walah! Bangun Taman Saja, Pemkab Kudus Habiskan Rp 3 Miliar

Tempat yang direncanakan untuk membangun Taman Menara, Kudus. (MuriaNewsCom)

KUDUS – Rencana pembuatan taman Menara yang terletak di pangkalan Menara atau alun alun lama Kudus, positif dilaksanakannya. Pembangunan taman baru tersebut direncanakan terlaksana pada September mendatang.

Plt Kepala Dinas Perdagangan dan Pengelolaan Pasar (Dagsar) Kudus Sudiharti mengatakan, proses pembangunan taman Menara sudah pasti dilaksanakan dan menghabiskan anggaran Rp 3 miliar. Sedangkan mengenai perkembangannya kini sudah memasuki tahapan perencanaan akhir.

“Ini sudah mau selesai perencanaan, sebentar lagi tahap fisik. Jadi sebentar lagi juga bakal dibangun, rencananya pembangunan bakal dilaksankan pada September mendatang,” katanya kepada MuriaNewsCom, Rabu (18/8/2015).

Menurutnya, mengenai pedagang tetap diberikan hak berjualan. Dalam perencanaan pemkab sudah menyiapkan tempat di pangkalan baru mendatang. Selain itu, para pedagang juga tidak dipungut biaya dalam menempati lapak baru mendatang.

“Kita bangunkan kembali, kita tidak mengurangi hak mereka untuk berjualan, karena kita sifatnya hanya menata saja,” jelasnya. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)