Serunya Momen saat Rama dan Sinta Pawai Lebaran

Salah satu peserta pawai yang menyita perhatian adalah perwakilan dari salah satu komunitas pemuda yang menampilkan tema lakon pewayangan Rama dan Sinta. (MuriaMewsCom/Merie)

MuriaNewsCom,Jepara – Lebaran memang momen yang menggembirakan. Karenanya patut dirayakan dengan kemeriahan yang berbeda.

Itulah yang terlihat saat warga Desa Pecangaan Wetan, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, menggelar pawai malam Lebaran di desa mereka.

Bukan saja iringan musik yang memeriahkan malam Lebaran, namun pawai dengan berbagai tema, juga turut ditampilkan di sana. Suasananya jelas sangat meriah, menambah semarak suasana Lebaran di desa tersebut.

Salah satu peserta pawai yang menyita perhatian adalah perwakilan dari salah satu komunitas pemuda desa tersebut, yang menampilkan tema lakon pewayangan Rama dan Sinta. 

Menjadi menarik karena dua orang yang didapuk menjadi figur Rama dan Sinta, dinaikkan kereta kencana, layaknya raja dan ratu. Mereka lantas diarak keliling desa. Dimulai dari masjid di kawasan tersebut, sampai ke lokasi finish di depan balai desa.

Warga yang melihat kedua figur tersebut, memang memuji mereka. Karena warga melihat bahwa karakter tersebut sangat unik dan berbeda di antara peserta pawai lainnya.

“Unik saja peserta yang satu itu. Karena menampilkan sesuatu yang merupakan seni dan budaya, dipadukan dengan musik yang harmonis. Sangat menghibur juga,” kata Reza Ahmad, salah satu warga setempat.

Selain kedua tokoh tersebut, banyak tema-tema lain yang ditampilkan dalam pawai tersebut. Satu persatu mereka diarak melalui rute yang sudah ditentukan panitia.

Wajar jika kemudian peserta pawai menampilkan tema-tema yang menarik. Pasalnya, atraksi mereka juga dinilai dewan juri, dan akan membuat mereka menjadi juara.

Editor : Kholistiono

Polisi Imbau Takbir Keliling di Jepara Tidak Gunakan Mobil Bak Terbuka

Ilustrasi : Takbir keliling gunakan bak terbuka/Istimewa

MuriaNewsCom, Jepara – Kapolres Jepara AKBP Yudianto Adhi Nugroho mengimbau warga tak berlebihan dalam merayakan malam takbiran. Dalam rangka penyebaran pesan tersebut, Polres menggandeng takmir masjid untuk menyampaikannya kepada masyarakat di lingkungan masing-masing. 

“Kami minta bantuan kepada takmir untuk mensyiarkan agar pelaksanaan takbiran dilakukan di kampung masing-masing. Tidak membunyikan knalpot keras-keras, apalagi menaiki kendaraan truk bak terbuka,” ujar Kapolres Jepara usai menyampaikan amanat di Masjid Kholilurrahman kompleks Mapolres Jepara, Jumat (23/6/2017).

Ia menegaskan, jika membandel petugas polisi di lapangan tak segan menindak takbir keliling yang menggunakan truk bak terbuka. “Kami akan memberikan peringatan kepada yang nekat menggunakan truk bak terbuka sebagai kendaraan takbir keliling. Namun jika membandel, kami tidak segan untk memberikan tindakan,” katanya. 

Ketua MUI Jepara Mashudi mengatakan, masyarakat tetap boleh merayakan malam takbiran. Hanya saja, jangan sampai mengganggu ketertiban umum. 

Sementara itu, Kasat Binmas Polres Jepara AKP Hadi Prastowo mengimbau peningkatan kewaspadaan lingkungan saat Lebaran. 

“Kepada masyarakat yang mudik, hendak menitipkan rumahnya pada tetangga sekitar. Untuk sarana seperti gudang mebel, kami imbau untuk mempekerjakan penjaga malam,” tutup Hadi. 

Editor : Kholistiono

Bupati Larang Takbir Keliling di Pati untuk Hindari Tawuran

Suasana malam takbir di Desa Blaru, Kecamatan Pati tahun lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Bupati Pati Haryanto meminta kepada camat di seluruh Kabupaten Pati untuk menyampaikan larangan kegiatan takbir keliling menjelang Lebaran. Hal itu untuk mengantisipasi adanya tawuran antarkelompok.

Haryanto menyarankan agar kegiatan takbir dilaksanakan di masjid masing-masing desa. Bila terpaksa melakukan takbir keliling, kegiatan itu diharapkan tidak melewati desa lain.

“Kami anjurkan untuk melaksanakan takbir di masjid atau musala. Kalau terpaksa melaksanakan takbir keliling, jangan melewati desa lain, cukup di desa setempat dengan jalan kaki, tidak ada arak-arakan mobil atau sepeda motor,” ungkap Haryanto, Senin (19/6/2017).

Dia berharap, imbauan tersebut bisa dilaksanakan dengan baik untuk menghindari benturan antarkelompok. Sebab, pengalaman tahun-tahun sebelumnya, bentrokan pernah terjadi di sejumlah desa akibat takbir keliling.

Karena itu, para camat di Kabupaten Pati diminta segera berkoordinasi dengan kepala desa untuk memberitahu kelompok atau organisasi masyarakat daerah. Bila imbauan tersebut dilanggar dan apa yang dikhawatirkan terjadi, hal itu menjadi tanggung jawab penyelenggara.

Takbir dijadwalkan jatuh pada Sabtu (24/6/2017) malam. Di sejumlah desa di Pati, agenda takbir biasa dirayakan dengan arak-arakan semacam karnaval mengelilingi kampung sendiri hingga kampung tetangga.

Editor : Kholistiono

Polres Kudus Larang Takbir Keliling

Takbir keliling dengan arak-arakan di salah satu daerah beberapa waktu lalu. Tahun ini, Polres Kudus melarang takbir keliling (MuriaNewsCom)

Takbir keliling dengan arak-arakan di salah satu daerah beberapa waktu lalu. Tahun ini, Polres Kudus melarang takbir keliling (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Polres Kudus mengimbau masyarakat agar tidak menggelar takbir keliling saat malam Hari Raya Idul Fitri. Polisi menyarankan, masyarakat sebaiknya menggelar takbir di masjid atau di musala di wilayahnya masing-masing.

Menurut Kasat Lantas Polres Kudus AKP Aron S,  takbir keliling menggunakan mobil, motor atau kendaraan lain dengan berkonvoi di jalan malah berpotensi menimbulkan masalah. Selain rawan terjadi kerusuhan, juka berpotensi mengganggu pengguna jalan lain, kecelakaan lalu lintas, tawuran dan berbagai hal lain.

“Selain untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, (larangn takbir keliling) juga untuk menjaga keamanan dan kondusifitas selama malam takbiran. Daripada takbiran sambil konvoi, akan lebih bagus jika takbir digelar di masjid atau musala,” kata Kasat Lantas.

Sementara itu, Kepala Kesbangpol Kudus Djati Sholechah menjelaskan, potensi gesekan antarwarga cukup tinggi dan bisa berdampak terhadap kondusifitas keamanan. Sehingga saat malam lebaran, masyarakat diminta agar tetap merayakan di kampung masing-masing.

“Kalau sampai terjadi gesekan bisa bahaya, itulah yang disikapi agar lebih baik berada di daerah masing -masing. Sebab jika terjadi gesekan antarwarga, maka urusan bisa sangat panjang. Kami berharap, masyarakat bisa menjaga situasi yang kondusif, sebab, momen lebaran adalah momen saling memaafkan, bukan saling melakukan gesekan,” ujarnya.

Editor : Kholistiono

Takbir Keliling di Kudus Malam Ini Sungguh Unik

Para peserta pawai takbir keliling melewati jalan Ringroad Utara Singocandi Kudus. (MuriaNewsCom/Akrom Hazami)

Para peserta pawai takbir keliling melewati jalan Ringroad Utara Singocandi Kudus. (MuriaNewsCom/Akrom Hazami)

 

KUDUS – Pawai takbir keliling menyambut Idul Adha1436 dilakukan banyak warga di Kabupaten Kudus, Rabu (23/9/2015) malam. Berbagai cara takbir keliling dilakukan masyarakat.

Salah satunya dilakukan warga Desa Singocandi, Kecamatan Kota, Kudus. Warga melakukan takbir keliling dengan berjalan kaki menyisir jalan-jalan utama dan jalan kampung.

Seperti yang terpantau di Jalan Ringroad Utara Singocandi Kudus. Ratusan warga mulai dari orang tua hingga anak-anak meramaikan pawai. Sambil menyerukan takbir tiada henti, warga menikmatinya.

“Pawai ini biasa dilakukan warga. Hampir sebagian warga ikut pawai ini,” kata salah satu peserta pawai Solikul.

Sementara itu, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, polisi juga mengawal kegiatan pawai tersebut. Di beberapa sudut jalan kota ini juga tampak pawai takbir keliling dengan menggunakan mobil bak, serta pawai sepeda motor. (AKROM HAZAMI)

Takbir Keliling di Kudus Malam Ini Sungguh Unik

Para peserta pawai takbir keliling melewati jalan Ringroad Utara Singocandi Kudus. (MuriaNewsCom/Akrom Hazami)

Para peserta pawai takbir keliling melewati jalan Ringroad Utara Singocandi Kudus. (MuriaNewsCom/Akrom Hazami)

 

KUDUS – Pawai takbir keliling menyambut Idul Adha1436 dilakukan banyak warga di Kabupaten Kudus, Rabu (23/9/2015) malam. Berbagai cara takbir keliling dilakukan masyarakat.

Salah satunya dilakukan warga Desa Singocandi, Kecamatan Kota, Kudus. Warga melakukan takbir keliling dengan berjalan kaki menyisir jalan-jalan utama dan jalan kampung.

Seperti yang terpantau di Jalan Ringroad Utara Singocandi Kudus. Ratusan warga mulai dari orang tua hingga anak-anak meramaikan pawai. Sambil menyerukan takbir tiada henti, warga menikmatinya.

“Pawai ini biasa dilakukan warga. Hampir sebagian warga ikut pawai ini,” kata salah satu peserta pawai Solikul.

Sementara itu, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, polisi juga mengawal kegiatan pawai tersebut. Di beberapa sudut jalan kota ini juga tampak pawai takbir keliling dengan menggunakan mobil bak, serta pawai sepeda motor. (AKROM HAZAMI)

Kudus Macet Total

Jpeg

Jpeg

KUDUS – Malam idul fitri, terjadi kemacetan di sepanjang jalan di Kudus. Hal itu terjadi lantaran hampir semua warga Kudus merayakan aktifitas takbir keliling.

Seperti halnya di sepanjang jalan Kudus Jepara, berdasarkan pantauan MuriaNwsCom jalur mulai Desa Kedundowo hingga simpang tujuh macet parah.

Banyak masyarakat yang menggunakan kesempatan malam ini untuk takbir keliling. Akibatnya, jalan yang terbatas tersbeut sesak dipenuhi peserta takbir keliling.

Selain di jalan Kudus jepara hingga simpang tujuh. Daerah lain di sekitar Desa Panjang juga mengalami kondisi yang agak longgar. Hanya, tidak lama setelah itu peserta takbir keliling juga memadati daerah tersebut dari arah utara dan timur.

Banyaknya peserta takbir keliling nampaknya kurang menghiraukan sekitar. Banyak diantarkan mer3ka yang malah menerobos lampu meriah, seperti yang terjadi di perempatan Peganjaran.

Tidak adanya petugas kepolisian di daerah tersbeut juga menjadi faktur yang membuat warga nekad melakukan hal semacam itu.

Selain itu, simpang tujuh malah mengalami macet parah. Banyaknya peserta takbir keliling yang menggunakan kaset berniat memasuki simpang tujuh semuanya.

Munir, seorang peserta takbir keliling asal Desa Garung lor menjelaskan, rombongan dari desanya diarahkan mengitari kudus, dengan tujuan utama juga melintasi simpang tujuh.

Sekian itu, terdapat pula masyarakt yang lebih memilih menggunakan takbir keliling dengan mengitari kampung halaman dengan perlombaan tingkat Rt.

“Kani menggunakan kegiatan semacam ini tiap tahun. Dan setiap tahun pula masyrakat sangat senang dengan kegiatan semacam ini, jadi pasti kami adakan setiap tahunnya,” ujar panitia traveling desa Sidorekso Kaliwungu M Giok. (FAISOL HADI)

Warga Pati Siapkan Ogoh-Ogoh Songsong Takbir Keliling

Salah seorang warga Dukuh Masong, Desa Margorejo, Kecamatan Wedarijaksa tengah membuat ogoh-ogoh sebagai persiapan jelang malam takbir. (MuriaNewsCom/Lismanto)

PATI – Sejumlah warga Pati sudah mulai membuat ogoh-ogoh untuk menggelar pawai keliling pada malam takbiran yang kurang sepekan lagi. Salah satunya, warga dukuh Masong, Desa Margorejo, Kecamatan Wedarijaksa.

Faqih Hilal, salah satu panitia penyelenggara pawai takbir keliling Dukuh Masong mengatakan, pawai keliling sudah menjadi bagian dari tradisi tahunan pada malam takbir. Karena itu, sejumlah pemuda biasanya sudah menyiapkan ogoh-ogoh sepekan sebelum malam takbir.

”Kami sudah mulai membuat berbagai jenis ogoh-ogoh, mulai dari ilustrusi buroq, sapi, kuda, unta, replika masjid, dan bedug. Semua dibuat dari kerangka bambu, sak, kertas karton, kain, beberapa di antaranya jerami, dan cat warna-warni,” ujarnya kepada MuriaNewsCom, Jumat (10/7/2015). (LISMANTO/SUPRIYADI)

Warga Masong Tantang Pemkab Pati Gelar Takbir Keliling

Seorang warga Dukuh Masong, Desa Margorejo, Kecamatan Wedarijaksa tengah membuat ogoh-ogoh sebagai persiapan jelang malam takbir. (MuriaNewsCom/Lismanto)

PATI – Larangan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati untuk tidak melakukan takbir keliling ternyata tak mempan pada warga Dukuh Masong, Desa Margorejo, Kecamatan Wedarijaksa. Mereka bersikukuh tetap melakukan kegiatan yang sudah menjadi tradisi Lebaran tersebut.

Faqih Hilal, salah satu panitia penyelenggara pawai takbir keliling Dukuh Masong berdalih akan melaksanakan pawai takbir keliling dengan tertib. Salah satunya, tidak menggunakan musik dangdut sebagai pengiring.

Ia juga akan meminta kepada panitia untuk mempersiapkan rute pawai agar tidak membuat kemacetan jalan. ”Kami tetap akan menggelar pawai takbir keliling dengan tertib. Ini sudah menjadi tradisi untuk merayakan Hari Kemenangan bagi umat Islam,” tuturnya.

Ia menambahkan, kalau takbir keliling dilarang, kemeriahan menyambut Lebaran akan hilang. Hanya saja, butuh pengaturan agar penyelenggaraan pawai takbir tertib dan teratur.

”Sudah jadi tradisi tahunan, kok dilarang. Mestinya, ada aturan soal kepatuhan dan ketertiban lalu lintas, serta tidak mengganggu kenyamanan warga. Bukan melarang secara total,” pungkasnya.(LISMANTO/SUPRIYADI)