Kita Semua Terancam jadi Viral 

Akrom Hazami
red_abc_cba@yahoo.com

BELAKANGAN banyak orang mengucapkan kata “Viral”. Sudah pasti yang menjadi viral akan jadi buah bibir. Utamanya di dunia maya. Jika yang menjadi hal viral adalah hal baik, jelas itu jadi prestasi. Tapi bagaimana jika itu adalah hal buruk. Tentu, cacian, makian, atau bahasa akrabnya “bully” akan meninju deras kepada si buah bibir.

Banyak hal yang menjadi viral secara mudah. Lantas, sebenarnya kata “viral” itu artinya apa dan dari bahasa mana. Dikutip dari berbagai sumber, “Viral” berasal dari dua kata dalam Bahasa Inggris yaitu : “Virus” dan “Virtual”.

“Virus adalah satu kata dalam Bahasa Inggris yang memiliki arti penyakit yang disebabkan kuman virus. Sedangkan “Virtual” adalah satu kata dalam Bahasa Inggris yang memiliki arti tidak nyata. Atau penyebaran informasi atau komunikasi melalui dunia maya / media internet.

Dari penjelasan dua kata, kata “Viral” yang belakangan ini sering kita dengar dapat diartikan sebagai sesuatu hal informasi, kejadian, berita dan lainnya yang menyebar luas dan secara cepat sehingga diibaratkan seperti virus, dan dalam waktu yang singkat dapat menjadi gempar melalui dunia maya, internet atau media sosial.

Di Kudus, yang baru saja menjadi viral adalah Aksi Cetno. Yaitu aksi yang terekam di video menggambarkan siswa sedang membentak bapak-bapak. Akibat sepeda motornya diserempet. Ada satu kata terucap di video yakni “Catno”. Video yang direkam warga di Gebog Kudus langsung ramai, tak lama setelah diunggah di akun media sosial Facebook dan Instagram.

Warga di dunia maya Kudus terutama, langsung ramai-ramai bereaksi. “Cetno” menjadi viral seketika. Sebagian besar netizen menyayangkan sikap siswa SMK di video itu. Siswa tidak sopan dalam berucap kepada seorang bapak. Hal itu kian meruncing karena bapak juga berucap kalimat bernada tidak terima jika sebagai orang tua dibentak-bentak.

Tentu siswa SMK itu tak tahu jika apa yang terjadi sedang direkam melalui video. Mungkin kalau siswa itu tahu, sikapnya akan beda. Tapi semua sudah terlanjur. Sekarang yang terjadi, siswa itu merasa tertekan, dan dipojokkan lingkungan. Padahal, siswa telah meminta maaf kepada bapak-bapak itu tak lama usai kejadian. Siswa berharap semua yang terjadi tidak lagi diungkit-ungkit. Sebab dia merasa tak nyaman.

Lingkungan maya dan nyata, benar-benar menghukumnya. Tekanan dari berbagai pihak membuatnya tersudut. Sampai yang bersangkutan juga telah melayangkan surat pengunduran diri dari sekolah. Bahkan, siswa itu juga mendadak jadi pendiam.

Pelajaran yang bisa kita ambil adalah,mari berhati-hati dalam bersikap, di mana saja dan dengan siapa saja. Sebab jika kita tak hati-hati, maka kita pun bisa menjadi viral. Sekali lagi, viral akibat hal buruk sangat menyakitkan bagi si pelaku. Kemajuan gadget atau gawai yang berkembang pesat, dan mudah dimiliki semua orang, membuat semuanya berpeluang jadi viral. Jadi hati-hatilah dan berwapada.

Jangan sampai kita menjadi viral buruk akibat ulah kita yang kebablasan. Atau mungkin akibat ulah kita yang gemar mengumbar marah, mengumbar salah, dan sejenisnya. Kontrol atau kita terancam jadi korban viral. (*)