Enam Hari Dibendung, Air Sungai Gede Karangrandu Jepara Masih Hitam

Air Sungai Gede Karangrandu, Jepara menghitam. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Kondisi air Sungai Gede Karangrandu masih hitam. Hal itu dikatakan oleh Petinggi (Kepala Desa) Karangrandu Syahlan, Kamis (24/8/2017). 

“Keadaan air sekarang masih hitam, padahal sudah enam hari bendung dibuka dan pengerukan (endapan) sungai dilakukan, namum memang baru ada separuh (pengerukannya) belum selesai semua,” katanya. 

Ia mengaku hal itu memengaruhi kualitas air baku yang dipergunakan oleh masyarakat. Sebab kebanyakan sumur warga ikut menghitam, karena sumbernya berdekatan dengan sungai. 

Dirinya berharap agar sumber penyebab dari menghitamnya sungai, segera ditangani agar warganya lekas menikmati air bersih. “Harapannya sumber-sumber pencemar entah itu dari tahu tempe dan sebagainya tidak lagi dialirkan ke sungai, sehingga airnya tidak menghitam,” tuturnya.

Ditanya tentang bantuan air dari Pemkab Jepara, Syahlan mengaku belum menerimanya. Hal itu lebih disebabkan karena proses pendataan warga yang membutuhkannya belum diselesaikan oleh pihak pemerintah desa. 

“Belum mendapatkan droping air, karena kami belum menyelesaikan pendataan warga yang membutuhkan bantuan air bersih. Bau separuh diantaranya yang sudah selesai. Kalau dihitung kira- kira yang membutuhkan droping air ada sekitar 25 kepala keluarga lebih,” urai Syahlan. 

Dirinya menambahkan, masih akan melakukan kerjabakti pembersihan daerah aliran sungai setempat. 

Sebelumnya, pemkab Jepara melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mengatakan akan segera mengambil tindakan evaluatif dan melakukan pengawasan. Akan tetapi hal itu disikapi secara bijak. 

“Kita tidak lantas bisa menutup usaha tahu tempe karena tempat itu juga memperkerjakan banyak orang, selain itu golongan usahanya juga UMKM. Untuk pabrik tekstil akan kami lakukan pengawasan dan pemantauan terhadap fasilitas pengolah limbahnya,” ujar Kasi Kasi Perencanaan dan Kajian Dampak Lingkungan (PDKL) M. Ikhsan, saat konferensi pers, Senin (21/8/2017).

Sementara itu Kepala DLH Jepara Fatkurrahman mengatakan solusi yang diberikan kepada pelaku UMKM tahu tempe adalah dengan memberikan fasilitas Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). 

Perlu diketahui, berdasarkan hasil uji laboratorium, menghitamnya sungai gede karangrandu, karena tercemar limbah. Adapun zat yang memperlihatkan peningkatan tak wajar adalah Fenol yang biasanya digunakan oleh perusahaan tekstil dan unsur BOD-COD ( Biological Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD) yang berasal dari limbah organik seperti limbah tahu tempe atau dari sampah. 

Adapun, disepanjang aliran tersebut terdapat beberapa industri yakni lndustri tekstil dan industri tahu tempe skala rumahan.  

Editor: Supriyadi

Positif Tercemar, Begini Langkah Pemkab Jepara Atasi Sungai Karangrandu

Air sungai di Desa Karangrandu, Kecamatan Pecangaan, Jepara tak layak konsumsi karena warnanya menghitam. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Sungai Gede Karangrandu positif tercemar, lalu apa yang akan dilakukan oleh Pemkab Jepara? 

Wakil Bupati Jepara Dian Kristiandi mengatakan akan segera mengambil langkah evaluatif, terhadap hal itu. “Terlepas itu limbah dari industri tahu tempe atau yang lain-lain kami akan memberikan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) kepada pelaku UMKM (pengusaha tahu-tempe) kami akan kaji betul terkait hal itu, mungkin akan memberikan wadah yang cukup besar,” ucapnya, dalam jumpa pers, Senin (21/8/2017).

Diberitakan sebelumnya, kontribusi pencemar Sungai Gede Karangrandu berasal berbagai sumber. Namun dari 26 parameter, ada dua unsur yang nampak tidak wajar yakni Fenol dan  Bylogical Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD). Perlu diketahui Fenol biasanya diketemukan dalam industri tekstil dan penggunaan pestisida. Sementara BOD-COD dihasilkan dari limbah organik semisal tahu-tempe, sampah dan sebagainya. 

Dalam hasil uji laborarium Cito yang dibacakan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jepara, ada kadar Fenol sebesar 300 mg/liter dari ambang baku 1 mg/liter tiga kilometer setelah pabrik garmen di Gemulung. Sementara itu kandungan BOD-COD sebesar 61 mg/l dari ambang baku mutu 50. 

Dititik setelah industri tahu tempe, Fenol tetap bertahan pada kadar 300mg/l, sedangkan BOD-COD meningkat hingga 1.120 mg/l. Lalu pada sampel yang diteliti dari Sungai Gede Karangrandu, kadar Fenol hanya berkurang sedikit menjadi  290 mg/l dan BOD-COD merosot menjadi 58 mg/liter.

Ditanya mengenai kadar fenol yang diduga dihasilkan dari limbah industri tekstil, Wakil Bupati Jepara kemudian menyodorkan mikrofon kepada  Kasi Perencanaan dan Kajian Dampak Lingkungan DLH Jepara M. Ikhsan. 

“Sesuai dengan kewajiban perusahaan dalam mengolah limbah, hal itu akan dilakukan pantauan nanti kita lihat outletnya (saluran pembuangan limbah pabrik tekstil). Intinya evaluasi akan dilakukan terus menerus dilakukan,” papar Ikhsan.  

Editor: Supriyadi

Sungai Gede Karangrandu Jepara Tercemar Limbah Fenol dan Chemical Oxygen Demand

Warga memperlihatkan air sungai yang menghitam di Desa Karangrandu, Kecamatan Pecangaan, Jepara. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Dinas Lingkungan Hidup  (DLH) Jepara telah menerima hasil laboratorium terkait Sungai Gede Karangrandu. Hasilnya, alur sungai tersebut dalam kondisi tercemar ringan.

Hal itu diungkapkan oleh Kabid Penataan dan Penaatan DLH, dalam konferensi pers, Senin (21/8/2017). Menurutnya, faktor pencemar dihasilkan oleh beberapa faktor. 

“Penyebab (pencemaran) tidak hanya berasal dari satu sumber saja. Dari hulu hingga hilir terdapat kontribusi yang menyebabkan air Sungai di Karangrandu menghitam dan berbau,” paparnya. 

Hal itu dipertegas oleh Kasi Perencanaan dan Kajian Dampak Lingkungan (PDKL) M. Ikhsan. Menurutnya, pengambilan sampel dilakukan oleh Laboratorium Cito, di tiga titik. 

Adapun titik tersebut adalah, tiga kilometer dari pabrik garmen, sepanjang aliran sungai yang dipergunakan untuk industri tahu-tempe dan di bendung Sungai Gede Karangrandu. Dari 26 indikator, ada tiga zat yang nampak memperlihatkan kondisi tidak wajar.

“Pertama kami temukan adanya Fenol (C6H6O) yang biasa digunakan pada pabrik tekstil, kemudian zat Bylogical Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD) yang bisa disebabkan oleh limbah organik, sampah dan sebagainya disepanjang sungai,” tuturnya. 

Lebih lanjut ia mengatakan, disepanjang alur sungai diketemukan zat-zat tersebut. Namun demikian, pada beberapa titik zat tersebut ada yang terurai dan ada yang tetap, namun demikian semua zat tersebut sudah melebihi ambang baku mutu.

“Fenol ambang baku mutunya adalah 1, namun diketemukan di air sungai setelah pabrik (garmen) sejumlah 300. BOD dan COD setelah pabrik garmen sebanyak 61 dari ambang baku mutu 50. Kemudian dari sampel setelah industri tahu-tempe angka fenol tetap, sementara BOD-COD meningkat hingga 1.120. Lalu di sekitar Sungai Gede Karangrandu, kadar Fenol turun menjadi 290, sedangkan kadar BOD-COD menurun menjadi hanya 58,” urainya. 

Menurutnya, zat BOD-COD akan terurai jika mendapatkan cukup air dan arus yang lancar. Ikhsan menambahkan, BOD-COD tidak hanya dihasilkan oleh limbah pabrik tahu, akan tetapi juga oleh limbah lain seperti sampah dan sebagainya. 

“Begitu pula dengan Fenol tidak semata-mata dihasilkan oleh garmen, namun pestisida juga bisa menghasilkan limbah tersebut. Hal itu karena disepanjang alur sungai ada lahan pertanian,” ungkapnya. 

Berdasarkan uji laboratorium tersebut, maka disimpulkan air sungai Gede Karangrandu tercemar, namun ringan.

Editor: Supriyadi

Upacara 17-an Unik di Atas Sungai Jepara Ini Penuh Nuansa Sindiran

Upacara bendera HUT ke-72 Kemerdekaan RI di Desa Karangrandu dilakukan di jembatan, sebagai bentuk protes air sungai yang menghitam. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Masyarakat Desa Karangrandu, Kecamatan Pecangaan-Jepara menggelar upacara kemerdekaan ke-72 RI di atas jembatan Sungai Gede Karangrandu, Kamis (17/8/2017). Hal itu mereka lakukan karena merasa sungai yang mengaliri persawahan di desa itu tercemar limbah, sehingga warnanya menjadi hitam dan berbau busuk.

Di jembatan yang digunakan untuk upacara bendea juga terbentang spanduk bertuliskan ”Karangrandu Lumbung Padi Jepara, Kaliku Ojo Digawe Peceren”.

Ada juga peserta upacara yang membawa tulisan sindiran karena sungai yang tercemar, seperti tulisan ”Racunmu Mateni Kaliku” atau juga ”Ireng buasin ora iso manding”. Beberapa warga juga mengusung poster protes terhadap kondisi cemaran sungai.

Kegiatan itu dimulai sejak pukul 7.30 WIB pagi. Ratusan orang dari murid-murid sekolahan, pemerintah desa dan warga sekitar memadati tanggul dan jembatan.

Layaknya upacara pada umumnya, warga juga dengan khidmat menaikan bendera merah putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Siswa peserta upacara membawa poster sindiran akibat sungai yang tercemar. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

Kepala Desa Karangrandu Syahlan menyampaikan, upacara tersebut merupakan bentuk keprihatinan akan kondisi sungai yang tercemar limbah. Padahal menurutnya, air sungai itu digunakan sebagai irigasi sawah dan sebagai air baku masyarakat setempat.

“Upacara ini adalah solidaritas masyarakat dalam memperingati hari kemerdekaan 17 Agustus. Kami ingin menunjukan bahwa kali (sungai) ini dalam keadaan tercemar, warnanya hitam. Oleh karena itu kami minta pemerintah segera mengambil tindakan atas kondisi ini,” tuturnya. 

Baca juga : Air Sungai Karangrandu Jepara Menghitam

Dirinya mengungkapkan, banyak warganya yang khawatir terhadap dampak tercemarnya sungai Gede Karangrandu. Ia mengklaim, kawasannya sebagai lumbung padi, namun dengan kondisi tersebut, lambat laun akan memengaruhi pertanian desa tersebut.

Sementara itu, koordinator warga Busro Karim menyebut kondisi sungai tersebut lebih mirip comberan. Dirinya menuntut agar pemerintah segera mengambil tindakan menormalisasi kondisi sungai.

“Sungai ini sudah seperti peceren (comberan) kotor dan kumuh, kami minta segera diambil tindakan tegas dan cepat untuk mengantisipasi kondisi ini. Segera normalisasi keadaan sungai ini seperti semula. Disamping kami juga meminta pemerintah mengambil tindakan tegas terhadap pelaku pencemar sungai itu” tutur dia. 

Baca juga : Petani Jepara Takut Tanaman Padi Mati Tercemar Air Sungai Karangrandu

Perlu diketahui, kondisi menghitamnya sungai karangrandu sudah terjadi sebulan belakangan. Selain menjadi hitam masyarakat juga mengeluhkan bau dari cemaran limbah tersebut.

Editor : Ali Muntoha

Air Sumur Ikut Tercemar, Pemkab Jepara Didesak Segera Atasi Sungai Karangrandu

Warga melakukan musyawarah di tepian Sungai Gede Karangrandu. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Masyarakat Karangrandu mendesak Pemkab Jepara segera bertindak terkait dugaan pencemaran yang mengakibatkan air di Sungai Gede Karangrandu menghitam. Desakan itu diwujudkan segenap warga dengan menggelar “Aksi Jagongan” di tanggul sungai tersebut, Jumat (11/8/2017) sore.

Bukan saja warga yang hadir, petugas Babinsa, Bhabinkamtibmas, Satpol PP Kecamatan Pecangaan, dan perangkat Desa Karangrandu nampak terlihat. 

Syahlan Petinggi (Kepala Desa) Karangrandu mengatakan, upaya tersebut merupakan ikhtiar guna mendorong pemkab dan pihak terkait segera bertindak mengatasi menghitamnya Sungai Gede. 

“Keadaan ini (menghitamnya sugai) tidak wajar, beberapa sumur warga kami sudah mulai terkena imbas rembesan sungai. Mereka tak bisa mengonsumsi air sumur tersebut, kalau untuk memasak warga terpaksa meminta air dari sumur tetangga yang belum tercemar,” katanya. 

Baca Juga : DLH Jepara Siap Turun Tangan Teliti Menghitamnya Air di Desa Karangrandu

Selain menuntut respon dari pemerintah kabupaten, ia juga berencana untuk berkomunikasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Jratun Seluna mengenai fenomena yang dialami warga. Syahlan mengaku keadaan seperti ini tak boleh dibiarkan berlarut-larut.

“Air ini ya dipakai untuk pertanian, untuk hewan juga. Sehingga keadaan ini tak boleh dibiarkan terlalu lama. Jika tidak takutnya akan terjadi lahan sawah tidak bisa ditanami misalnya,” ujarnya. 

Terakhir, ia mengatakan penyebab dari menghitamnya sungai Gede Karangrandu harus segera diusut. “Ada akibat pasti ada sebabnya, kami meminta segera ditemukan apa permasalahannya supaya normal kembali air sungai ini,” tutur dia. 

Editor: Supriyadi