Beredar Kabar Saluran Limbah Industri Tahu-tempe ke Sungai ‘Hitam’ Jepara Ditutup, Ini Kebenarannya

Kondisi Sungai Karangrandu Jepara yang airnya menghitam akibat pencemaran. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Belum tuntasnya penanganan limbah yang mengalir di alur Sungai Gede Karangrandu, Jepara, yang airnya menghitam menjadi bola liar.

Belakangan muncul pesan melalui aplikasi perpesanan What’s App bahwa Pemerintah Desa Karangrandu menutup saluran pembuangan limbah dari perajin tahu-tempe yang mengarah ke sungai. 

Berita Gembira…!!! Baru saja aku diberitahu bpk maskuri ladu, bhw corongan limbah tahu/tempe sebagian besar sdh disumpal pakai semen oleh tem pemdes Karangrandubersama dengan warga pecangaan kulon yang terkena dampak limbah. Dan selebihnya yang belum akan segera disumpel lagi. Demikian harap maklum. Alhamdulillahi rabbil alamin…Terimakasih Pak petinggi Karangrandu. Terimakasih pak Maskuri dan teamnya…Terimakasih warga Pecangaan kulun yang turut serta mbunteti paralon limbah…!!!, tulis pesan yang dikirimkan oleh akun yang bernama Musyafak pada grup perpesanan WA Jepara Berintegritas, Minggu (27/8/2017) malam.

Menerima informasi tersebut, MuriaNewsCom berusaha mengkroscek pada sumber pengirim dan menghubungi melalui nomor yang tertera. Namun saat dihubungi, nomor tersebut tidak aktif.

Petinggi (Kepala Desa) Karangrandu Syahlan, menampik keras kabar tersebut. Ia menyebut pihaknya selaku pemerintah desa tak pernah melakukan aksi menutup saluran limbah tahu tempe.

“Hal itu tidak benar, kami pemerintah desa tidak pernah melakukan hal itu. Tidak ada perintah atau seruan menutup saluran limbah, yang mengarah ke sungai, yang juga mengalir ke Sungai Gede Karangrandu,” tegasnya ditemui di ruangan kerjanya, Senin (28/8/2017). 

Namun demikian, ia mengakui pernah ada warga yang sempat mengutarakan berniat menutup saluran limbah tahu tempe. Akan tetapi dirinya hanya mendiamkan, tidak mengiyakan juga tidak melarang.

“Warga dalam keadaan terganggu, karena kondisi sungainya tercemar menjadi hitam dan berbau. Memang pernah ada warga yang bilang mau menutup saluran limbah, namun saya tidak menging (melarang) apalagi ngongkon (menyuruh). Informasinya ada yang di-bunteti enam atau berapa, tapi saya tidak tahu kepastian itu,” imbuh dia. 

Menurutnya, sebagai pemerintah desa ia berusaha tidak memihak. Ia memahami perasaan warganya yang merasa terganggu akan limbah, namun dirinya juga tidak bisa bergerak sendiri, karena Pemkab Jepara sudah turun tangan.

Syahlan memastikan, akan segera memanggil orang yang mengirimkan pesan tersebut. Ia mengaku sudah mengetahui siapa orang yang melakukan hal itu.  “Ini nanti dia akan kami panggil ke sini,” urainya. 

Dirinya berharap kepada Pemkab Jepara  segera ada penuntasan akan permasalahan aliran limbah di Sungai Gede Karangrandu. 

Terpisah seorang perajin tahu tempe Ahmad Maryanto, mengaku belum tahu akan adanya aksi tersebut. “Nek kabarnya begitu, tapi kalau ada atau tidaknya aksi itu (penutupan saluran limbah dengan semen) sejauh pengetahuan saya belum ada,” kata warga Pecangaan Wetan itu. 

Adapun, lokasi perajin tahu-tempe di Pecangaan Wetan memang berdekatan dengan alur sungai. Mereka memang terbiasa membuang limbah tahu ke sungai. Meski demikian, akhir-akhir ini Maryanto mengaku sudah tak membuang limbahnya ke sungai.

Diberitakan sebelumnya, air Sungai Gede Karangrandu menjadi hitam dan berbau sebulan belakangan. Dari hasil laboratorium, sungai tersebut tercemar zat Fenol dan BOD-COD. Langkah sementara telah diambil pemkab Jepara dengan melakukan pembersihan alur sungai. Namun seminggu setelah itu, air sungai tetap menghitam dan bau.

Editor : Ali Muntoha

Enam Hari Dibendung, Air Sungai Gede Karangrandu Jepara Masih Hitam

Air Sungai Gede Karangrandu, Jepara menghitam. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Kondisi air Sungai Gede Karangrandu masih hitam. Hal itu dikatakan oleh Petinggi (Kepala Desa) Karangrandu Syahlan, Kamis (24/8/2017). 

“Keadaan air sekarang masih hitam, padahal sudah enam hari bendung dibuka dan pengerukan (endapan) sungai dilakukan, namum memang baru ada separuh (pengerukannya) belum selesai semua,” katanya. 

Ia mengaku hal itu memengaruhi kualitas air baku yang dipergunakan oleh masyarakat. Sebab kebanyakan sumur warga ikut menghitam, karena sumbernya berdekatan dengan sungai. 

Dirinya berharap agar sumber penyebab dari menghitamnya sungai, segera ditangani agar warganya lekas menikmati air bersih. “Harapannya sumber-sumber pencemar entah itu dari tahu tempe dan sebagainya tidak lagi dialirkan ke sungai, sehingga airnya tidak menghitam,” tuturnya.

Ditanya tentang bantuan air dari Pemkab Jepara, Syahlan mengaku belum menerimanya. Hal itu lebih disebabkan karena proses pendataan warga yang membutuhkannya belum diselesaikan oleh pihak pemerintah desa. 

“Belum mendapatkan droping air, karena kami belum menyelesaikan pendataan warga yang membutuhkan bantuan air bersih. Bau separuh diantaranya yang sudah selesai. Kalau dihitung kira- kira yang membutuhkan droping air ada sekitar 25 kepala keluarga lebih,” urai Syahlan. 

Dirinya menambahkan, masih akan melakukan kerjabakti pembersihan daerah aliran sungai setempat. 

Sebelumnya, pemkab Jepara melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mengatakan akan segera mengambil tindakan evaluatif dan melakukan pengawasan. Akan tetapi hal itu disikapi secara bijak. 

“Kita tidak lantas bisa menutup usaha tahu tempe karena tempat itu juga memperkerjakan banyak orang, selain itu golongan usahanya juga UMKM. Untuk pabrik tekstil akan kami lakukan pengawasan dan pemantauan terhadap fasilitas pengolah limbahnya,” ujar Kasi Kasi Perencanaan dan Kajian Dampak Lingkungan (PDKL) M. Ikhsan, saat konferensi pers, Senin (21/8/2017).

Sementara itu Kepala DLH Jepara Fatkurrahman mengatakan solusi yang diberikan kepada pelaku UMKM tahu tempe adalah dengan memberikan fasilitas Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). 

Perlu diketahui, berdasarkan hasil uji laboratorium, menghitamnya sungai gede karangrandu, karena tercemar limbah. Adapun zat yang memperlihatkan peningkatan tak wajar adalah Fenol yang biasanya digunakan oleh perusahaan tekstil dan unsur BOD-COD ( Biological Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD) yang berasal dari limbah organik seperti limbah tahu tempe atau dari sampah. 

Adapun, disepanjang aliran tersebut terdapat beberapa industri yakni lndustri tekstil dan industri tahu tempe skala rumahan.  

Editor: Supriyadi

Uji Lab Sudah Dilakukan, DLH Jepara Tunggu Hasil Akhir

Warga memperlihatkan air sungai yang menghitam di Desa Karangrandu, Kecamatan Pecangaan, Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jepara telah melakukan uji laboratorium, terhadap air di Sungai Gede Karangrandu. Namun demikian, hingga kini hasilnya belum diketahui. 

“Iya kami sudah melakukan pengujian laboratorium terhadap air sungai tersebut. Kami menggandeng laboratorium swasta dari Semarang untuk melakukannya. Namun untuk hasilnya belum bisa diketahui, karena proses pengujiannya pun harus mengantre,” ucap Kabid Penataan dan Penaatan DLH Aris Widjanarko, Sabtu (12/8/2017). 

Ia sendiri mengaku tak ikut langsung dalam tim lapangan. Namun demikian, ia memastikan pengambilan sampel air dilakukan secara baik, meliputi kawasan non industri dan sesudahnya. 

Baca Juga: Petani Jepara Takut Tanaman Padi Mati Tercemar Air Sungai Karangrandu

“Di sana kan ada beberapa usaha (pabrik) maka pengambilan sampel dilakukan sebelumnya (pabrik) dan sesudahnya,” imbuhnya. 

Dirinya memastikan, kualitas laboratorium yang digandeng oleh DLH bisa dipertanggungjawabkan. Bahkan, ia tak meragukan sedikitpun keindepensian laborat. Karenanya apapun hasilnya akan dijadikan patokan untuk melangkah ke depan.

“Kami menggandeng laboratorium swasta dari Semarang yang sudah terakreditasi. Kami sendiri memiliki laboratorium, namun itu untuk konsumsi lingkungan sendiri,” urai Aris. 

Editor: Supriyadi

Petani Jepara Takut Tanaman Padi Mati Tercemar Air Sungai Karangrandu

Kerbau milik petani di Karangrandu sedang berkubang di Sungai Gede. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Menghitamnya sungai Gede Karangrandu membuat petani di desa tersebut khawatir. Mereka takut hal itu memengaruhi kehidupan tanaman padi yang baru mereka semai. 

Mariyatun (60) satu di antaranya. Ia mengaku memiliki tiga bahu (0,74 hektare) sawah yang baru ia tanami padi. Baru sepuluh hari ditanam, air yang mengaliri persawahannya mengitam. 

“Nanti kalau mati bagaimana, wong air kok bisa sampai menghitam. Dulu tidak pernah sampai seperti ini,” ujarnya Jumat sore. 

Disamping itu, ia juga mengeluhkan bau busuk yang menyertai menghitamnya air sungai. 

Baca Juga : Air Sumur Ikut Tercemar, Pemkab Jepara Didesak Segera Atasi Sungai Karangrandu

Sementara itu Marsuni (80) mengatakan heran akan fenomena yang terjadi di kampungnya itu. Sepanjang pengetahuannya, ia belum pernah melihat Sungai Gede Karangrandu begitu menghitam.

“Kalau dulu itu hitamnya wajar, mungkin karena tanah liat yang ada didasar terurai. Namun kali ini kok begitu hitam. Apa penyebabnya sampai seperti ini, saya tidak tahu,” terang pribumi Karangrandu itu. 

Perlu diketahui, dipakai untuk pengairan, air sungai Karangrandu juga digunakan peternak kerbau untuk memandikan peliharaan

Editor: Supriyadi

Air Sumur Ikut Tercemar, Pemkab Jepara Didesak Segera Atasi Sungai Karangrandu

Warga melakukan musyawarah di tepian Sungai Gede Karangrandu. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Masyarakat Karangrandu mendesak Pemkab Jepara segera bertindak terkait dugaan pencemaran yang mengakibatkan air di Sungai Gede Karangrandu menghitam. Desakan itu diwujudkan segenap warga dengan menggelar “Aksi Jagongan” di tanggul sungai tersebut, Jumat (11/8/2017) sore.

Bukan saja warga yang hadir, petugas Babinsa, Bhabinkamtibmas, Satpol PP Kecamatan Pecangaan, dan perangkat Desa Karangrandu nampak terlihat. 

Syahlan Petinggi (Kepala Desa) Karangrandu mengatakan, upaya tersebut merupakan ikhtiar guna mendorong pemkab dan pihak terkait segera bertindak mengatasi menghitamnya Sungai Gede. 

“Keadaan ini (menghitamnya sugai) tidak wajar, beberapa sumur warga kami sudah mulai terkena imbas rembesan sungai. Mereka tak bisa mengonsumsi air sumur tersebut, kalau untuk memasak warga terpaksa meminta air dari sumur tetangga yang belum tercemar,” katanya. 

Baca Juga : DLH Jepara Siap Turun Tangan Teliti Menghitamnya Air di Desa Karangrandu

Selain menuntut respon dari pemerintah kabupaten, ia juga berencana untuk berkomunikasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Jratun Seluna mengenai fenomena yang dialami warga. Syahlan mengaku keadaan seperti ini tak boleh dibiarkan berlarut-larut.

“Air ini ya dipakai untuk pertanian, untuk hewan juga. Sehingga keadaan ini tak boleh dibiarkan terlalu lama. Jika tidak takutnya akan terjadi lahan sawah tidak bisa ditanami misalnya,” ujarnya. 

Terakhir, ia mengatakan penyebab dari menghitamnya sungai Gede Karangrandu harus segera diusut. “Ada akibat pasti ada sebabnya, kami meminta segera ditemukan apa permasalahannya supaya normal kembali air sungai ini,” tutur dia. 

Editor: Supriyadi

DLH Jepara Siap Turun Tangan Teliti Menghitamnya Air di Desa Karangrandu

Air sungai di Desa Karangrandu, Kecamatan Pecangaan, Jepara tak layak konsumsi karena warnanya menghitam. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara –  Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jepara berjanji akan segera turun tangan menelisik penyebab air Sungai Gede Karangrandu yang menghitam. 

Selain turun langsung, pihak DLH juga menampik dugaan penyebab menghitamnya air hanya dari pabrik garment. Hal itu mengingat pihaknya telah menerima hasil uji laboratorium buangan limbah pabrik.

“Kami sudah menerima uji lab dari pabrik garment Jiale, yang dilakukan oleh laboratorium swasta. Hasilnya di bawah baku mutu. Artinya masih bisa ditoleransi. Terkait warnanya, kami lihat hasil uji lab untuk pabrik tersebut tidak begitu keruh,” kata Kabid Penataan dan Penaatan DLH Aris Widjanarko, Selasa (8/8/2017). 

Apalagi, lanjutnya, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) pabrik tersebut juga telah diperbaiki dan tak merembes lagi. Sementara, di aliran sungai tersebut bukan saja terdapat pabrik garmen. Adapula industri rumahan tahu dan tempe.

Namun dirinya mengungkapkan belum melakukan uji laboratorium terhadap home industry tersebut. Selain itu, banyak warga yang membuang sampah di aliran sungai tersebut.  

Oleh karenanya, ia belum mengetahui apa penyebab menghitamnya sungai disekitar Desa Karangrandu tersebut. 

Hal serupa diungkapkan oleh Nuraini, Kabid Pengendalian dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup. Ia menyebut, hingga kini belum mengadakan penelitian air di Desa Karangrandu yang mengitam. Padahal, permasalahan itu telah terjadi pada tahun 2016 silam. 

“Kalau meneliti kualitas, ataupun penyebab mengapa air di sungai (Karangrandu) tersebut menjadi hitam kami belum melakukannya. Tahun lalu pun kami belum melakukan penelitian tentang air disana. Namun jikalau uji laboratorium untuk pabrik garmen sudah kami lakukan. Hasilnya cukup baik, disekitar pabrik airnya juga masih cukup bagus pengelolaan air limbahnya,” tutur dia. 

Namun, baik Aris maupun Nuraini berjanji akan segera menyelidiki penyebab dan uji kualitas air di sungai tersebut. Hal itu untuk menjawab rasa penasaran warga, akan menghitamnya air di Sungai Gede Karangrandu.

“Secepatnya lah kami akan turun ke lapangan untuk melakukan uji laboratorium terkait kualitas air di sana,” janji keduanya. 

Diberitakan sebelumnya, air di Sungai Gede Karangrandu menghitam dan berbau tidak sedap. Hal itu menimbulkan pertanyaan bagi warga, sebab kejadian juga terjadi pada tahun 2016.

Baca Juga: Air Sungai Karangrandu Jepara Menghitam 

Editor: Supriyadi