Dasar Legalitas Pengelolaan Sumur Tua oleh Paguyuban di Blora Dipertanyakan

Keberadaan sumur tua di Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Keberadaan sumur tua di Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Pengelolaan sumur tua oleh paguyuban, yang sampai saat ini masih belum ada regulasi yang jelas. Djati Walujastono, Kepala seksi Migas Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Blora mempertanyakan keterlibatan oknum Pertamina dalam mempertahankan status kuo. Hingga tidak rela jika penglelolaan sumur tua berpindah  kelola oleh BUMD/KUD.

Dirinya mengaskan Permen ESDM No. 1 tahun 2008 dan Pedoman Tata Kerja 023/PTK/III/2009 perihal pengusahaan dan memproduksi minyak bumi dari sumur tua hanya dilaksanakan oleh KUD/BUMD dengan melakukan pengajuan permohonan kepada K3S dengan tembusan kepala Menteri ESDM dan Dirjen Migas dan Kepala SKK Migas.

Sementara pengelolaan sumur tua yang didasarkan Pengelolaan minyak bumi pada sumur tua oleh Paguyuban Penambang didasarkan Pedoman Tata Kerja 007/SKKO0000/2015/SO masih terjadi perbedaan penafsiran. ”Dalam ketentuan ini, PTK ini tidak menyebutkan mengenai sewa kelola dengan masyarakat. Sehingga tidak jelas mengenai dasar hukum yang digunakan oleh Paguyuban Penambang (Kelompok Masyarakat) dan kedudukannya dalam memproduksi minyak bumi pada sumur tua,” kata Dosen STEM Akamigas Djati Walujastono kepada MuriaNewsCom (28/01/2016).

Djati beranggapan legalitas pengelolaan sumur tua oleh paguyuban atau kelompok masyarakat merupakan hal yang dicari-cari. ”Sehingga dicari-cari peraturan atau regulasi tentang pengelolaan minyak bumi pada sumur tua oleh Paguyuban Penambang dengan Pedoman Tata Kelola 007/SKKO0000/2015/SO,” kata Djati.

Editor : Titis Ayu Winarni

Pengelolaan Sumur Minyak Tua di Blora Oleh Paguyuban Masih Jadi Polemik

Keberadaan sumur tua di Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Keberadaan sumur tua di Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Pengelolaaan sumur minyak tua yang dikelola paguyuban rupaya masih menjadi polemik. Kepala Bidang Pertambangan dan Migas Teguh Wiyono melalui Kepala Seksi Migas Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Blora Djati Walujastono menjelaskan, bahwa pengelolaan sumur minyak peninggalan Belanda tersebut, berdasarkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 1 tahun 2008 dan Pedoman Tata Kerja 023/PTK/III/2009.

“Dari peraturan tersebut sudah jelas disebutkan, bahwa pengusahaan dan memproduksi minyak bumi dari sumur tua hanya dilaksanakan oleh KUD dan BUMD, dengan melaksanakan pengajuan permohonan kepada K3S dengan tembusan Kepala Menteri ESDM melalui Direktorat Jenderal Migas dan Kepala SKK Migas” ujar Djati kepada awak media, Kamis (28/01/2016)

Sementara, lanjut Djati Walujastono, masih ada peraturan lain yakni PTK-007/SKKO0000/2015/SO (Revisi 02) point 1.3.4 buku kesatu tentang Ketentuan Umum Pengelolaan Rantai Suplai tidak menyebutkan adanya pengelolaan minyak bumi pada sumur tua dilaksanakan oleh paguyuban penambang, KUD ataupun BUMD.

Didalam PTK tersebut, membahas mengenai ketentuan umum, kewenangan, pengawasan dan ketentuan peralihan tentang rantai suplai. Tidak dijelaskan mengenai pengusahaan dan memproduksi minyak bumi pada sumur tua oleh paguyuban penambang, KUD dan BUMD.

“Sehingga dapat disimpulkan, di PTK ini tidak menyebutkan mengenai sewa kelola dengan masyarakat. Sehingga tidak jelas mengenai dasar hukum yang digunakan oleh paguyuban penambang dan kedudukannya dalam memproduksi minyak bumi pada sumur tua,” ungkapnya.

Sedangkan, PTK-007/SKKO0000/2015/SO (Revisi 3) tentang Pengadaan Barang dan Jasa, didalamnya menyebutkan mengenai golongan penyedia barang/jasa, yaitu perorangan, perusahaan dalam negeri, perusahaan nasional dan perusahaan asing. Selain itu juga perusahaan dalam negeri dan perusahaan nasional, seperti usaha kecil, usaha menengah dan usaha besar.

Sebagai contoh di Blora, pihak Pertamina EP sendiri sebagai pemegang K3S belum memberikan penjelasan dan menunjukkan mengenai pengelolaan minyak bumi pada sumur tua yang dilaksanakan oleh paguyuban penambang berdasarkan izin pengelolaan yang diberikan oleh PT Pertamina EP mengenai sewa kelola dengan masyarakat.

“Sedangkan dalam seminar sehari yang pernah diadakan oleh ESDM Blora, PT Pertamina Field Cepu Asset 4 memberikan penjelasan bahwa hanya melaksanakan sesuai dengan kebijakan yang diperintahkan oleh PT Pertamina EP Pusat. Sehingga dapat disimpulkan, bahwa kalau pengelolaan minyak bumi pada sumur tua yang dilaksanakan oleh Paguyuban penambang masih tidak jelas dasar hukumnya,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Sumur Tua Blora Dikelola Paguyuban, Efektifkah?

Sumur tua yang sampai saat ini masih aktif beroperasi (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Sumur tua yang sampai saat ini masih aktif beroperasi (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Paguyuban dianggap lebih ideal dalam mengelola sumur tua di Blora. Hal ini dikarenakan dalam operasi pengusahaan sumur tua mengacu pada standar Pertamina. Selain itu, dari sisi kesejahteraan lebih terjamin, karena masyarakat yang notabene sebagai pekerja tambang langsung menerima upah dari hasil pekerjaanya.

Itu diungkapkan oleh Iffah Hermawati, Ketua Komisi C DPRD Blora. Menurutnya, antara paguyuban dengan BUMD/KUD sama bagusnya dalam mengelola sumur peninggalan Belanda itu. Selain itu, kontraktor juga memilki kewenangan dalam pengambilan sikap sebagai upaya optimalisasi sumur. Pihaknya juga mendorong dalam optimalisasi penglolaan sumur tua selama masih dalam koridor dan sesuai aturan. “Pengelolaan sumur tua oleh paguyuban lebih ideal bagi Pertamina,” kata Iffah.

Dalam pengelolaan sumur tua memang memerlukan biaya yang cukup tinggi, terutama dalam pengelolaan operasional. Kalaupun dari BUMD/KUD menghendaki untuk mengelola, menurut komisi yang membidangi pertambangan dan energi ini, maka harus menyediakan anggaran. Karena kalau menggandeng pihak ketiga dalam pengelolaan sumur tua menurutnya sama halnya seperti makelar. “Selama ini BUMD/KUD menggandeng pihak ketiga,” tambahnya.

Hal itu, imbuh politisi Dermokrat, berbeda dengan paguyuban. Karena paguyuban menghimpun dana dari perorangan dan kelompok penambanguntuk melakukan pengelolaan. Sehingga, pendapatan yang diperoleh benar-benar bisa dinikmati oleh penambang.

Editor : Akrom Hazami

Oknum TNI Blora Miliki Sumur Tua Ilegal

Sumur tua yang dikelola secara ilegal mulai dibersihkan (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Sumur tua yang dikelola secara ilegal mulai dibersihkan (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Keberadaan sumur tua yang sebelumnya telah disidak dan diperingatkan oleh Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Blora ternyata ada satu milik oknum TNI.
Menurut Kepala Bidang pertambangan dan Migas Teguh Wiyono melalui Kepala Seksi Pertambangan dan Migas Djati Walujastono mengatakan, sebelumnya dari keterangan yang diperoleh sumur tersebut milik Purmin. “Pada kenyatannya ada satu sumur milik salah satu oknum TNI,” katanya (21/01/2016).

Djati juga mengatakan, bahwa pihaknya telah menemui pemilik sumur tua yang juga anggota TNI yang bertugas di salah satu Koramil di Blora itu. Dia menjelaskan perihal larangan penambangan secara ilegal, selain itu juga masih masa eksplorasi oleh Pertamina.

Dari penjelasan Djati, bahwa beberapa sumur tua selama ini yang masih beroperasi merupakan sumur yang dikelola secara ilegal, telah diperingatkan secara bertahap sebanyak dua kali.

Sementara, Perwira seksi Intel (Pasi Intel) Kodim 0721 Blora Kapt Inf Suahmad mengamini adanya anggota TNI yang terlibat dalam penambangan liar sumur tua. Kasus tersebut, lanjutnya, masih diselidiki lebih dalam. “Ya, namanya Suparno anggota Koramil Japah,” ujarnya.

Suahmad mengungkapkan, bahwa anggota TNI yang terlibat pengelolaan ilegal sumur tua akan dipanggil dan diberi arahan. Dia juga menjelaskan dengan arahan agar anggota TNI tersebut tidak semakin berada pada jalur kesalahan. “Sipil aja kena sanksi, apalagi aparat? Lebih kena,” tuturnya.
Editor : Akrom Hazami

Sumur Tua Diduga Beracun, Warga Tak Berani Evakuasi Jenazah

bunuh diri

KUDUS – Kapolsek Dawe AKP Sunar mengatakan, kabar meninggalnya Ahmad Aziz (20) warga Desa Glagah, Kecamatan Dawe pukul 05.30an WIB pagi tadi, sebenarnya ditemukan awal masih keadaan hidup. Hanya, lantaran Aziz terjebur dalam sumur yang sangat dalam, warga menjadi takut untuk menolongnya.

Terlebih lagi, sumur tersebut dipercayai warga merupakan sumur yang beracun. Sehingga warga juga pikir-pikir jika hendak menolongnya Aziz, saat sekarat dalam sumur tua desa setempat.

”Sumur tua itu sudah lama tidak digunakan, dan warga menduga dan percaya kalau sumur tersebut beracun. Terlebih lagi, kedalaman sumur yang sedalam 30 meter-an juga membuat sulit untuk mengevakuasi,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Untuk itu, jenazah yang sekarat tidak dapat bertahan lama hingga akhirnya meninggal. Sebenarnya, para warga juga sudah menghubungi tim ahli untuk mengangkat jenazahnya.

Hanya karena jarak yang lumayan jauh, sehingga membutuhkan waktu untuk sampai ke lokasi mengangkatnya. ”Mudah-mudahan tidak ada lagi yang terjebur lagi di sana. Dan warga dapat lebih waspada lagi dengan sumur itu,” ujarnya. (FAISOL HADI/TITIS W)