Blora Diminta Tak Berharap Banyak dari Sektor Migas untuk Mendongkrak Perekonomian

Samgautama Karnajaya saat memaparkan isu strategis di hadapan audiens di ruang pertemuan Bappeda Blora beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

Samgautama Karnajaya saat memaparkan isu strategis di hadapan audiens di ruang pertemuan Bappeda Blora beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Blora – Keberadaan minyak dan gas bumi (Migas) di Blora rupanya tidak menjadi konsentrasi sepenuhnya bagiPemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora. Karena, sampai saat ini, dari sektor tersebut masih belum bisa mendongkrak perekonomian secara kolektif di Kabupaten Blora.

Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Blora Samgautama Karnajaya mengungkapkan, bahwa sudah saatnya Blora mandiri dan bangkit dari sektor selain migas. Yakni dengan mengembangkan potensi lokal, mulai dari pertanian, perdagangan sampai sektor jasa.”Ini yang menjadi fokus kita selama lima tahun kedepan,” jelas Samgautama kepada MuriaNewsCom.

Dalam hal ini, pihaknya akan merubah mindset, bahwa pembangunan tidak melulu hanya mengandalkan migas sebagai primadona. Pertanian menjadi fokus, dan dalam lima tahun kedepan pertanian akan digenjot semaksimal mungkin.

Selain itu perdagangan, yakni dengan cara mengembangkan perdagangan di kalangan masyarakat kecil. “Pasar tradisional yang ada di desa, sudah saatnya kita optimalkan. Di Bora sendiri ada sekitar 57 pasar tradisional,” kata dia.

Selanjutnya, perkembangan potensi jasa yang ada di Blora. Salah satunya pariwisata, yang sangat ditekankan untuk bisa berkembang melalui potensi alam dan potensi kesuburan tanah yang ada. “Saya di Blora sejak 1991, saat itu GuaTerawang masih sama dengan saat ini,” kata dia.

Pengembangan pariwisata di Blora tak jarang menemui kendala, karena banyaknya potensi wisata di Blora mayoritas masuk ke dalam kawasan Perhutani.

Mengatasi hal itu, dirinya sedang menyusun program terobosan dengan mengoptimalkan kesuburan tanah yang ada. Yakni dengan menggalakkan program pembibitan massal sesuai dengan kecocokan tanah yang ada. “Seperti di Tunjungan, durian sangat cocok disana. Kalau memang berhasil, Blora bisa berkembang dari sektor agrowisata,” ungkapnya.

Tentu, hal tersebut berbanding terbalik dengan impian Blora atas hasil migas yang dikeluarkan dari perut buminya. Impian yang ada sampai saat ini, kata Samgautama, dirasa sangat tidak seimbang. Karena, sudah bertahun-tahun Blora menginginkan kucuran Dana Bagi Hasil (DBH) dari migas, namun tak pernah sepeserpun bisa didapat.

Hal itu disebabkan, potensi Blora yang masih dalam tataran sumur dangkal, sehingga hasilnya tidak sebanding jika dibandingkan dengan Bojonegoro yang menurutnya sudah sampai tataran sumur dalam.
“Kita sudah bosen menyoal migas. Apalagi ketika harga minyak turun. Selain itu, penghitungan dana bagi hasil migas juga tidak sesederhana yang dibayangkan banyak orang,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Pertamina ADK Kembali Akan Bor Sumur Migas pada Oktober Mendatang

PEPC ADK sosialisasikan rencana kegiatan 2016. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

PEPC ADK sosialisasikan rencana kegiatan 2016. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi Cepu (PEPC) Alas Dara Kemuning (ADK) akankembali melakukan pengeboran sumur eksplorasi di wilayah Kecamatan Jiken. Eksplorasi ini, sebelumnya sempat terhenti pada akhir 2014 silam.

Persiapan demi persiapan pun tengah dilakukan oleh manajemen PEPC ADK, yakni terkait perizinan, sosialisasi dan persiapan teknis lainnya. Sampai saat ini masih dalam tahap pelelangan. “Belum tahu siapa kontraktor yang bakal melaksanakan pengeboran,” ujar Chip Petrolium Enginer PEPC ADK Ari Triansa.

Kali ini, sumur eksplorasi KMD-01 di Lapangan Kemuning diusulkan dibor untuk membuktikan kandungan hidrokarbon pada struktur Kemuning dengan target utama formasi kujung equivalent (Ngimbang) dan target sekunder formasi tawun.

Sebelumnya, PEPC ADK berhenti melakukan eksplorasi pada akhir tahun 2014 dikarenakan habis masa kontraknya. Pada awal 2015, PEPC telah melakukan re-entry terhadap empat sumur di wilayah setempat. Yakni wilayah sumur NGBT-01, sumur NGBU-04, Desa Nglobo, Kecamatan Jiken dan sumur ALSD-01 dan sumur ALSD-04 di Desa Cabak, Kecamatan Jiken.

Pada 26 Desember 2014, muncul semburan lumpur bercampur gas dan air di kawasan persawahan dan hutan jati di Desa Nglobo. Diduga, semburan itu sebagai ekses dari kegiatan re-entry sumur NGBU-04. Jumlah semburan mencapai 41 titik yang tersebar di sejumlah lokasi. Setelah beberapa hari melakukan penanganan, PEPC berhasil menutup semburan tersebut.

Dalam mengantisipasi hal yang tak diinginkan seperti pada sebelumnya, berbagai persiapan tengah dilakukan diantaranya dengan perencanaan keadaan darurat, perencanaan lokasi evakuasi, pemasangan sensor untuk mendeteksi H2S, termasuk sweeper dari radius tertentu dari lokasi pengeboran.

Selain itu, ketersediaan personel yang kompeten sebagai tim penanggulangan H2S juga disiapkan. “Kami juga menyiapkan desain pengeboran yang telah mengakomodir kemungkinan terburuk,” jelas Ari Triansa.

Sementara, Bupati Blora Djoko Nugroho berharap, pengeboran sumur eksplorasi kali ini membuahkan hasil. Menurutnya, dari beberapa kali pengeboran oleh sejumlah perusahaan perminyakan di Blora sejak beberapa tahun lalu, hingga kini belum membuahkan hasil yang menggembirakan.

“Kita berharap dan berdoa bersama, semoga pengeboran kali ini hasilnya bagus untuk cadangan energi nasional,” ujar Kokok, sapaan akrab Djoko Nugroho.
Editor : Kholistiono

Dinas ESDM Blora Kewalahan Tertibkan Sumur Minyak Tua Ilegal

Salah satu sumur minyak tua di Desa Plantungan, Blora yang masih beroperasi (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Salah satu sumur minyak tua di Desa Plantungan, Blora yang masih beroperasi (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Blora kewalahan untuk menertibkan keberadaan sumur minyak tua yang ada di Blora. Sumur-sumur yang dioperasikan secara ilegal tersebut masih eksis hingga kini.

Keberadaan sumur minyak tua yang dinilai telah menyalahi aturan tersebut, beberapa kali telah dilakukan sidak. Namun, hal itu tak lantas membuat pemilik sumur minyak tua kapok untuk mengoperasikan sumur tersebut.

“Setidaknya sudah tiga kali kami melakukan sidak. Namun, mereka masih nekat untuk beroperasi. Padahal, jelas ini sudah melanggar aturan yang berlaku,” ujar Kepala Seksi (Kasi) Migas pada Dinas ESDM Blora Djati Walujastono kepada MuriaNewsCom, Senin (28/3/2016).

Ia katakan, pada sidak pertama, pihaknya telah melayangkan panggilan terhadap pemilik sumur minyak tua, dan pemilik memenuhi panggilan tersebut. Namun, imbauan untuk tidak beroperasi tersebut tidak diindahkan. Hal ini, terbukti pada sidak kedua, pihaknya masih menemukan sumur tersebut beroperasi.

Kemudian, pihaknya melakukan pemanggilan kembali, tapi pemilik sumur tak datang. “Selanjutnya, pada Rabu lalu, kami melakukan sidak kembali dengan pihak kepolisian, dan kami temukan sumur tetap beroperasi. Kami ada menemukan, tripot pada sumur, dan juga water treatmen. Ini menunjukkan, jelas sumur masih beroperasi,” katanya.

Terkait hal ini, pihaknya bakal melakukan tindakan tegas. Bahkan, katanya, Bupati Blora Djoko Nugroho telah mengintruksikan agar semua sumur tua yang dioperasikan secara ilegal ditertibkan. “Bupati telah meminta agar ada tindakan tegas. Ke depan kami akan rangkul Pertamina Hulu Energi (PHE) dan Muspika dalam penertiban sumur tua ini,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Pengelolaan Sumur Minyak Tua di Blora Oleh Paguyuban Masih Jadi Polemik

Keberadaan sumur tua di Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Keberadaan sumur tua di Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Pengelolaaan sumur minyak tua yang dikelola paguyuban rupaya masih menjadi polemik. Kepala Bidang Pertambangan dan Migas Teguh Wiyono melalui Kepala Seksi Migas Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Blora Djati Walujastono menjelaskan, bahwa pengelolaan sumur minyak peninggalan Belanda tersebut, berdasarkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 1 tahun 2008 dan Pedoman Tata Kerja 023/PTK/III/2009.

“Dari peraturan tersebut sudah jelas disebutkan, bahwa pengusahaan dan memproduksi minyak bumi dari sumur tua hanya dilaksanakan oleh KUD dan BUMD, dengan melaksanakan pengajuan permohonan kepada K3S dengan tembusan Kepala Menteri ESDM melalui Direktorat Jenderal Migas dan Kepala SKK Migas” ujar Djati kepada awak media, Kamis (28/01/2016)

Sementara, lanjut Djati Walujastono, masih ada peraturan lain yakni PTK-007/SKKO0000/2015/SO (Revisi 02) point 1.3.4 buku kesatu tentang Ketentuan Umum Pengelolaan Rantai Suplai tidak menyebutkan adanya pengelolaan minyak bumi pada sumur tua dilaksanakan oleh paguyuban penambang, KUD ataupun BUMD.

Didalam PTK tersebut, membahas mengenai ketentuan umum, kewenangan, pengawasan dan ketentuan peralihan tentang rantai suplai. Tidak dijelaskan mengenai pengusahaan dan memproduksi minyak bumi pada sumur tua oleh paguyuban penambang, KUD dan BUMD.

“Sehingga dapat disimpulkan, di PTK ini tidak menyebutkan mengenai sewa kelola dengan masyarakat. Sehingga tidak jelas mengenai dasar hukum yang digunakan oleh paguyuban penambang dan kedudukannya dalam memproduksi minyak bumi pada sumur tua,” ungkapnya.

Sedangkan, PTK-007/SKKO0000/2015/SO (Revisi 3) tentang Pengadaan Barang dan Jasa, didalamnya menyebutkan mengenai golongan penyedia barang/jasa, yaitu perorangan, perusahaan dalam negeri, perusahaan nasional dan perusahaan asing. Selain itu juga perusahaan dalam negeri dan perusahaan nasional, seperti usaha kecil, usaha menengah dan usaha besar.

Sebagai contoh di Blora, pihak Pertamina EP sendiri sebagai pemegang K3S belum memberikan penjelasan dan menunjukkan mengenai pengelolaan minyak bumi pada sumur tua yang dilaksanakan oleh paguyuban penambang berdasarkan izin pengelolaan yang diberikan oleh PT Pertamina EP mengenai sewa kelola dengan masyarakat.

“Sedangkan dalam seminar sehari yang pernah diadakan oleh ESDM Blora, PT Pertamina Field Cepu Asset 4 memberikan penjelasan bahwa hanya melaksanakan sesuai dengan kebijakan yang diperintahkan oleh PT Pertamina EP Pusat. Sehingga dapat disimpulkan, bahwa kalau pengelolaan minyak bumi pada sumur tua yang dilaksanakan oleh Paguyuban penambang masih tidak jelas dasar hukumnya,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

BUMD Diminta Bisa Kelola Sumur Minyak Tua dengan Maksimal

Seminar tentangpengelolaan minyak bumi pada sumur tua berbasis daerah dan lingkungan di ruang rapat Setda Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Seminar tentangpengelolaan minyak bumi pada sumur tua berbasis daerah dan lingkungan di ruang rapat Setda Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

BLORA – Keberadaan ratusan sumur minyak tua yang berada di Blora, saat ini dinilai masih belum maksimal untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Untuk itu, Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Blora Setyo Edy meminta, pengelolaan terhadap sumur minyak tua dapat maksimal. Keberadaan BUMD dan KUD diharapkan mampu mewujudkan hal itu.

“Dengan peran KUD dan BUMD, sumur tua bisa dikelola dan mampu menambah PAD secara maksimal. Makanya, KUD dan BUMD diharapkan jangan sampai bubar. Pasalnya, selama ini yang masih eksis dalam pengelolaan sumur tua adalah BUMD dan KUD,” ujarnya.

Menurutnya, jika penilaian kinerja terhadap BUMD dan KUD kurang baik, pihaknya mengajak untuk membenahi bersama. “Mari dibenahi bersama, kita juga masih baru berusia 5 tahun. Kalau sudah 10 atau 15 tahun mungkin kita bisa mencapai yang diharapkan,” jelasnya. (RIFQI GOZALI/KHOLISTIONO)

Ternyata Ada Sumur Minyak Tua di Desa Banjarejo

Sumur minyak tua yang terdapat di Desa Banjarejo (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Sumur minyak tua yang terdapat di Desa Banjarejo (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan ternyata tidak hanya kaya dengan benda-benda kuno bersejarah saja. Tetapi, di desa yang berjarak sekitar 50 km dari Kota Purwodadi itu juga punya potensi sumber minyak.

Indikasinya, ada dua sumur tua yang mengandung minyak tanah. Lokasinya di sebelah utara Dusun Nganggil. Sumur minyak tua itu berada di tanah tegalan milik Mbah Lamidi.

”Jarak sumur dari perkampungan penduduk sekitar satu kilometer jauhnya. Lokasinya agak terpencil, jadi tidak pernah terekspos media. Beda dengan lokasi penemuan bangunan pondasi batu bata di areal sawah di sebelah selatan Dusun Nganggil,” ungkap Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik.

Jarak kedua sumur itu agak berjauhan, sekitar 400 meter. Sumur yang berbentuk seperti lingkaran itu diameternya sekitar 7 meter. Sementara kedalamannya diperkirakan mencapai 10 meter.

Dari jarak sekitar 5 meter dari sumur sudah tercium bau menyengat, seperti bau solar. Selama ini, sumur itu tidak pernah dimanfaatkan warga setempat. Sebab, jika air dari sumur itu terkena tanaman bisa menyebabkan layu dan akhirnya mati.

“Kata sesepuh disini, sumur minyak itu peninggalan zaman Belanda dulu. Mudah-mudahan, jika diekspos media barangkali ada penelitian disini, sehingga sumur minyak ini bisa mendatangkan manfaat bagi masyarakat,” katanya. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Purwa Aksara Dapat Suntikan Dana Rp 500 Juta untuk Ngebor Minyak

Sumur minyak tua yang rencananya bakal dikelola Purwa Aksara (MuriaNewsCom/DANI AGUS)

Sumur minyak tua yang rencananya bakal dikelola Purwa Aksara (MuriaNewsCom/DANI AGUS)

GROBOGAN – Perusda Purwa Aksara Grobogan akan mendapat penyertaan modal sebesar Rp 500 juta. Dalam pengajuan pada pihak legislatif penambahan modal itu diperlukan seiring rencana perusda tersebut untuk mengelola sumur minyak tua di Kecamatan Gabus pada tahun ini. Setelah dibahas oleh pansus IV, penyertaan modal itu akhirnya disetujui oleh DPRD setempat.

Direktur Utama Perusda Purwa Aksara Bambang Pulunggono menjelaskan, tambahan dana sebesar Rp 500 juta digunakan untuk menambah modal usaha, khususnya berkaitan dengan rencana pengelolaan sumur minyak.

Rencananya, ada 27 sumur minyak tua di Dusun Bapo, Desa Bendoharjo, Kecamatan Gabus yang akan digarap. Terkait hal ini, pihaknya perlu menyiapkan sarana dan prasarana pendukung.

Menurutnya, keberadaan sumur minyak tersebut sudah ada pada zaman penjajahan Belanda. Setelah mereka hengkang dari Indonesia, keberadaan sumur minyak berjumlah 45 itu terbengkalai. Beberapa waktu lalu, sebagian sumur itu sempat dieksplorasi oleh KUD Widoro Kandang bekerjasama dengan pihak ketiga. Namun, kegiatan tersebut hanya berlangsung beberapa tahun saja.

Ditambahkan, untuk mengelola sumur minyak nanti, pihaknya akan bekerjasama dengan pihak ketika selaku investor. Adapun, model kerjasamanya, perusda akan mengurus izin dan lisensi yang diperlukan ke SKK Migas dan Kementerian ESDM. Sedangkan, peralatan, SDM dan biaya operasional akan ditanggung investor. Hasil minyak yang didapat nantinya akan dijual pada Pertamina.

”Hasilnya nanti akan kita bagi bersama dengan investor dan saat ini kami masih menyelesaikan proses perizinannya. Kita harapkan pada tahun ini kegiatan eksplorasi sudah bisa dimulai,” jelasnya. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Sumur Minyak Peninggalan Belanda di Grobogan Bakal Dikelola Purwa Aksara

Salah satu sumur minyak yang rencananya bakal dikelola Perusda Purwa Aksara (MuriaNewsCom/DANI AGUS)

Salah satu sumur minyak yang rencananya bakal dikelola Perusda Purwa Aksara (MuriaNewsCom/DANI AGUS)

GROBOGAN – Sebuah langkah terobosan dilakukan oleh Perusahaan Daerah (Perusda) Purwa Aksara. Dimana, perusda milik Pemkab Grobogan itu rencananya bakal mengembangkan usaha dibidang perminyakan. Tepatnya, mengelola eksplorasi 27 sumur minyak tua di Dusun Bapo, Desa Bendoharjo, Kecamatan Gabus. Lanjutkan membaca