Warga Kuwawur Pati Mulai Manfaatkan Jagung sebagai Makananan Pokok

Perangkat Desa Kuwawur, Sukolilo, Pati menyantap nasi jagung sebagai sumber makanan pokok alternatif selain nasi beras. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Perangkat Desa Kuwawur, Sukolilo, Pati menyantap nasi jagung sebagai sumber makanan pokok alternatif selain nasi beras. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Warga Desa Kuwawur, Kecamatan Sukolilo, Pati saat ini mulai memanfaatkan jagung sebagai sumber makanan pokok, selain beras. Kondisi tersebut mendapatkan tanggapan dari Kantor Ketahanan Pangan (KKP) Kabupaten Pati.

Kepala KKP Pati, Pujo Setijanto kepada MuriaNewsCom, Senin (31/10/2016) mengatakan, masyarakat Indonesia mayoritas mengonsumsi nasi beras sebagai makanan pokok. Padahal, produksi padi di tingkat petani mengalami penurunan setiap tahunnya.

Hal itu disebabkan banyaknya area persawahan yang dialihfungsikan sebagai pemukiman. Karena itu, pihaknya mendukung bila ada warga Pati yang memanfaatkan nasi jagung sebagai alternatif sumber pangan, selain nasi beras.

Terlebih, hasil jagung di kawasan Pati selatan meningkat setiap tahunnya. Pemanfaatan nasi jagung dianggap sebagai salah satu upaya masyarakat untuk menyukseskan program swasembada pangan di Indonesia.

“Seperti kita tahu, ada banyak sumber karbohidrat di Indonesia, selain nasi. Untuk mewujudkan program swasembada pangan, semua potensi memang perlu dioptimalkan, termasuk potensi nasi jagung,” kata Pujo.

Menurutnya, nasi jagung di kalangan masyarakat masih terkesan dengan makanan masyarakat kalangan ekonomi rendah. Namun, tanpa disadari, nasi jagung punya kadar gizi yang tidak kalah dengan nasi beras. Terlebih, nasi jagung memiliki kadar rendah gula sehingga baik untuk kesehatan.

Di Pati sendiri, produksi padi masih sangat melimpah dan selalu menjadi penopang ketahanan pangan nasional. Namun, pemanfaatan nasi jagung sebagai makanan pokok alternatif diakui bukan hal yang keliru.

“Produksi padi di Pati selalu mengalami surplus setiap tahunnya, bahkan bisa menopang ketahanan pangan untuk daerah lain. Tapi, tidak ada salahnya kalau ada masyarakat memanfaatkan nasi jagung sebagai sumber makanan pokok alternatif, karena rendah gula dan baik untuk kesehatan,” ucap Pujo.

Pada 2015, panen padi di Pati mencapai 646.068 ton, jagung sebanyak 138.075 ton, dan kedelai 4.172 ton. Dia berharap, semua potensi alam pertanian di Pati bisa dimanfaatkan dengan baik, tidak harus melulu pada padi.

Editor : Kholistiono

Mandi di Sendang Jibing Pati Diyakini Bikin Awet Muda

Kondisi air Sendang Jibing yang jernih dan mulai dipadati pengunjung. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kondisi air Sendang Jibing yang jernih dan mulai dipadati pengunjung. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Mandi di Sendang Jibing yang merupakan bekas tamansari pada zaman Kasunanan Prawoto di Desa Prawoto, Sukolilo, Pati diyakini bisa membuat awet muda. Hal itu diungkapkan Kepala Desa Prawoto, Ahmad Hyro Fachrus.

“Warga yang mandi di sini percaya akan membuat awet muda. Hal itu sudah menjadi keyakinan masyarakat. Airnya berasal dari sumber mata air alam,” ujar Fachrus kepada MuriaNewsCom.

Ia mengatakan, sendang yang sempat dirawat pemerintah Belanda itu dulunya merupakan tamansari pada zaman Kasunanan Prawoto sekitar tahun 1546 an. Hal itu yang diyakini warga bisa membuat awet muda bagi yang mandi di sana.

Sejumlah pengunjung yang mandi di lokasi, berasal dari luar daerah seperti Demak. Mereka awalnya ziarah di Makam Sunan Prawoto, kemudian melanjutkan agenda dengan mandi di Sendang Jibing.
Baca juga : Sendang Jibing, Peninggalan Belanda di Sukolio Pati, Mulai Ramai Wisatawan

Saat ini, sendang yang memiliki luas 28×25 meter tersebut diminati pengunjung lintas generasi, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Airnya yang jernih menjadi daya tarik tersendiri.

“Kalau bawa anak-anak mesti didampingi orang tua dan harus berada di kolam dengan kedalaman khusus anak-anak. Itu untuk menjaga keselamatan anak supaya tidak menjebur di bagian kedalaman 1,8 meter yang khusus untuk dewasa,” pesannya.

Editor : Akrom Hazami

Bupati Pati Beri 2 Syarat untuk Investor Pabrik Jagung di Sukolilo Pati

Bupati Pati Haryanto bersama dengan calon investor (kanan) berdialog soal rencana pendirian pabrik pengolahan jagung di Sukolilo. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Bupati Pati Haryanto bersama dengan calon investor (kanan) berdialog soal rencana pendirian pabrik pengolahan jagung di Sukolilo. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Kondisi pertanian jagung di Kecamatan Sukolilo yang mengantongi 30 persen luas lahan pertanian jagung di Kabupaten Pati, menarik minat investor untuk mendirikan pabrik jagung. Sedikitnya ada 6.000 hektare lahan jagung di Sukolilo.

Hal itu dinilai sangat memadai apabila didirikan pabrik pengolahan jagung yang berdiri di atas lahan tiga hektare. “Suatu daerah bisa didirikan pabrik jagung bila ada lahan pertanian jagung minimal 2.000 hektare. Di Sukolilo, ada 6.000 hektare lahan jagung dan itu sangat memadai. Nantinya, pabrik ini juga akan menyerap jagung bukan hanya di Sukolilo, tetapi juga Pati dan sekitarnya,” kata Lunardi, calon investor pabrik pengolahan jagung di Sukolilo.

Kendati begitu, Bupati Pati Haryanto tidak dengan mudah mengizinkan investor mendirikan pabrik pengolahan jagung. Ia memberikan dua syarat kepada calon investor supaya pabrik itu diberikan izin berdiri.

Pertama, investor bisa menjamin bila keberadaan pabrik jagung itu bisa menyerap tenaga kerja lokal dari Sukolilo sendiri dan Pati. Kedua, investor harga jual dari petani harus kompetitif sehingga tidak merugikan petani.

“Kami mengajukan dua syarat, yaitu keberadaan pabrik harus bisa menyerap tenaga kerja lokal dan menjamin bahwa harga jagung dari petani harus kompetitif. Dengan begitu, keberadaan pabrik bisa menyejahterakan petani sekaligus warga setempat yang menjadi tenaga kerja,” kata Haryanto.

Bila dua syarat itu dipenuhi, maka Pemkab Pati akan mendukung pabrik pengolahan jagung tersebut. Bahkan, petani yang menyuplai jagung diakui bukan hanya dari Sukolilo dengan luas lahan jagung lebih dari 6.000 hektare saja, tetapi juga dari berbagai daerah di Pati seperti Kayen, Tambakromo, Pucakwangi, dan daerah penghasil jagung lainnya seluas 20 ribu hektare.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga : Dilirik Investor, Sukolilo Pati Bakal Punya Pabrik Jagung

Ini Kisah Mengharukan Relawan di Pati yang Selalu Siaga Hadapi Bencana

Sejumlah relawan RAPI Pati tengah membantu mengevakuasi rumah yang roboh akibat diterjang angin puting beliung di Kecamatan Sukolilo, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah relawan RAPI Pati tengah membantu mengevakuasi rumah yang roboh akibat diterjang angin puting beliung di Kecamatan Sukolilo, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Ada kisah menarik dari cerita relawan yang tergabung dalam Radio Antarpenduduk Indonesia (RAPI) Pati yang belakangan ini gencar membantu korban bencana di sejumlah daerah di Kabupaten Pati.

Tak hanya siap siaga membantu mengevakuasi korban saat terjadi bencana, tetapi jiwa dan raganya dipertaruhkan saat membantu melakukan evakuasi. ”Kalau ada bencana pada malam hari, kami langsung berkoordinasi untuk merapatkan barisan dan turun di lapangan,” ujar Ketua RAPI Pati Gunawan kepada MuriaNewsCom, Rabu (9/12/2015) saat kerja bakti di Kecamatan Sukolilo karena terkena bencana banjir bandang.

Bahkan, lanjutnya, sumber biaya yang digunakan untuk membantu korban bencana berasal dari swadaya tanpa ada support dana dari manapun. ”Namanya juga relawan. Harus rela tanpa ada pamrih. Bahkan, biaya itu dari swadaya sendiri,” imbuhnya.

Dalam menjalankan tugasnya, mereka biasanya menumpang kendaraan dari dinas atau instansi terkait. Jika tidak ada kendaraan, Gunawan mengaku biasanya berupaya bagaimana caranya agar ada kendaraan yang bisa dijadikan tumpangan untuk menuju lokasi bencana.

”Untuk transport, kami biasanya nebeng dari instansi. Kalau nggak ada yang ditebengi, ya piye carane (bagaimana caranya) biar bisa menuju lokasi untuk membantu korban bencana,” tuturnya.
Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah relawan RAPI Pati yang dibiayani dari dana pribadi tersebut harus berulang kali menuju lokasi bencana, mulai dari bencana angin puting beliung di Kecamatan Gabus, Jaken, Jakenan, hingga Sukolilo. Mereka bekerja tanpa pamrih dengan satu misi, yaitu kemanusiaan. (LISMANTO/TITIS W)

115 Rumah Porak Poranda Diterjang Puting Beliung di Sukolilo Pati

Sejumlah warga tengah memperbaiki genteng rumah yang berjatuhan diterjang angin puting beliung. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah warga tengah memperbaiki genteng rumah yang berjatuhan diterjang angin puting beliung. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Angin puting beliung yang melanda Desa Pakem, Kecamatan Sukolilo, Pati mengakibatkan sekitar 115 rumah rusak ringan dengan genteng yang berjatuhan. Sementara itu, dua rumah diketahui roboh dan luluh lantak.

Kepala Dusun Ngandong, Desa Pakem, Marjan kepada MuriaNewsCom, Rabu (9/12/2015) mengatakan, angin yang tidak tahu asal muasalnya tersebut tiba-tiba saja bergerak dari arah utara menuju selatan.

”Angin yang berputar-putar itu bergerak dari utara menuju selatan. Langsung saja rumah yang berada di jalur angin dihajar. Banyak rumah yang rusak seperti genteng berjatuhan. Ada sekitar 115 an rumah,” tuturnya.

Parahnya, kata dia, rumah milik Kasmirah dan Watinah harus roboh dan rata dengan tanah karena angin puting beliung tepat menghantam kedua rumah tersebut.

”Kerusakan parah terjadi di rumah Kasmirah dan Watinah. Soalnya, angin menerjang tepat di dua rumah tersebut. Ratusan rumah lainnya hanya terpapar. Itupun genteng banyak berjatuhan,” imbuhnya.

Dari informasi yang dihimpun MuriaNewsCom di lapangan, sedikitnya tiga orang mengalami luka dari insiden tersebut. Kasmirah yang merupakan pemilik rumah dibawa lari ke Puskesmas Klambu, Grobogan.

Selain itu, anak Kasmirah juga sempat mengalami luka ringan. Tak hanya itu, satu orang yang diketahui warga Desa Taruman, Kecamatan Purwodadi, Grobogan juga tertimpa pohon saat melintas di Dukuh Ngandong hingga dilarikan ke Puskesmas setempat. (LISMANTO/TITIS W)

Banjir Bandang di Sukolilo Pati Sebabkan Satu Kampung Terisolasi

Sejumlah warga tengah membersihkan lumpur akibat banjir bandang. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah warga tengah membersihkan lumpur akibat banjir bandang. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Banjir bandang yang melanda Desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo, Pati, Rabu (9/12/2015) mengakibatkan satu kampung terisolasi, yakni Dukuh Domasan.

Pasalnya, banjir bandang yang disertai lumpur tersebut mengakibatkan tumpukan lumpur sampai sekitar 45 cm sehingga menutup akses jalan. Akibatnya, akses jalan dari Kampung Domasan menuju Kampung Plosokerep tertutup.

Kepala Dukuh Domasan Haryanto kepada MuriaNewsCom mengatakan, sedikitnya ada 1.550 warga yang terisolasi tidak bisa akses menuju Pati. Padahal, sejumlah sumber mata air bersih juga tertutup lumpur.

”Kalau mau keluar, ya lewat Kudus atau Grobogan. Jalan kaki juga bisa,” katanya.
Kendati demikian, sejumlah warga dibantu dengan relawan dari berbagai organisasi sudah melakukan kerja bakti untuk membersihkan lumpur tersebut.

”Lumpurnya sangat banyak. Hari ini kami bersama relawan dibantu untuk membersihkan lumpur. Semoga cepat selesai agar kami tidak terisolasi lagi,” tandasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Bencana Angin Kencang dan Banjir Bandang Serang Sukolilo Pati

umah yang luluh lantak karena dihantam angin puting beliung di Kecamatan Jaken beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

umah yang luluh lantak karena dihantam angin puting beliung di Kecamatan Jaken beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Usai meluluhlantakkan ratusan rumah di Kecamatan Gabus, Jaken, dan Jakenan, kini angin puting beliung menghantam sebuah permukiman di Dukuh Ngandung, Desa Pakem, Kecamatan Sukolilo, Pati hingga menyebabkan dua rumah roboh, Selasa (8/12/2015) sekitar pukul 17.00 WIB.

Dua rumah yang roboh tersebut milik Kasmirah dan Watinah. Keduanya beralamat di Desa Pakem RT 4 RW 1, Sukolilo.

Kendati hanya merobohkan dua rumah, tetapi bencana tersebut menyebabkan satu orang bernama Kasmirah terluka dan dirawat di UUPTD Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Klambu, Purwodadi.

Pada saat yang sama di tempat terpisah, banjir bandang melanda Desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo yang menggenangi Dukuh Domasan dan Dukuh Plosokerep.

Akibatnya banjir bandang tersebut, jalan akses menuju Dukuh Plosokerep terputus. Tak hanya itu, banjir bandang juga mengakibatkan kerusakan pada sejumlah infrastruktur desa.

“Tidak ada korban jiwa dalam bencana alam tersebut, baik angin puting beliung maupun banjir bandang,” ujar Anggota Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana Pati Sunarto kepada MuriaNewsCom, Rabu (9/12/2015) pagi.

Saat ini, pihaknya bersama dengan Tim Relawan Pati Disaster Volunteers berangkat ke tempat yang terdampak bencana untuk membantu warga melakukan evakuasi dan kerja bakti. “Pagi ini kami berangkat ke daerah tersebut untuk kerja bakti,” tukasnya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)