KPU Jepara Persilakan Tim Paslon Kroscek Jumlah Formulir C6 yang Ditarik

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jepara M. Haidar fitri. Dirinya mempersilakan tim sukses paslon untuk mengkroscek data formulir C6 yang dikembalikan ke KPU. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom,Jepara – Ketua  Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jepara M. Haidar fitri mengatakan, pihaknya mempersilakan kepada tim sukses Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Jepara nomor urut 1 Subroto-Nur Yahmah (Sulaiman) untuk untuk mengkroscek data atau jumlah formulir C6 yang ditarik lagi oleh KPU.

Menurutnya, sebelumnya rincian formulir C6 atau formulir pemberitahuan untuk memberikan suara kepada pemilih sudah diberikan kepada semua pasangan calon. Baik untuk Paslon Subroto-Nur Yahman ataupun Paslon Ahmad Marzuqi-Dian Kristiandi.

“Kalau mau mengkroscek ya monggo tak masalah. Akan tetapi, intinya dari pengembalian formulir C6 ke KPU Jepara itu untuk menyelamatkan C6 yang tidak terpakai. Supaya tidak disalahgunakan.Kemudian, kami juga jelaskan, untuk klasifikasi tidak dikenal, itu artinya, bahwa pemilih tersebut lupa dicoret dari DPT, sedangkan untuk yang klasifikasi lain-lain, itu artinya pemilih ganda, dua-duanya dapat formulir C6 maupun cetakan C6-nya ganda. Sedangkan klasifikasi tidak dapat ditemui, itu artinya, pemilih sedang merantau atau keluar kota,” ujarnya.

Sebelumnya, Calon Bupati Jepara nomor urut 1 Subroto mempertanyakan jumlah riil formulir C6, yakni formulir pemberitahuan untuk memberikan suara kepada pemilih yang dikembalikan ke Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jepara sebelum hari pencoblosan.

Menurutnya, jumlah formulir C6 yang dikembalikan ke KPU Jepara dengan jumlah 53.632 lembar, dinilai cukup fantastis dan masih menjadi tanda tanya besar bagi calon bupati. Untuk itu, menurutnya perlu ada pembuktian secara ilmiah dari KPU, sehingga tidak menimbulkan prasangka negatif bagi tim sukses.

“Jumlah itu harus dibuktikan secara ilmiah.Meskipun jumlah itu ada klasifikasinya tersendiri, baik itu mulai dari meninggal dunia, pindah alamat, tidak dikenal, tidak dapat ditemui dan klasifikasi lain-lain.Namun, yang tak habis pikir itu, untuk klasifikasi yang meninggal dunia dan yang jumlahnya mencapai lebih tiga ribu. Masak, orang meninggal dunia sebanyak 3 ribuan orang dalam waktu dua bulan,” ujar Subroto.

Menurutnya, sejak Daftar Pemilih Tetap (DPT) ditetapkan pada Desember 2016 sebanyak 858.958, terhitung selama dua bulan, yakni dari Desember hingga Januari 2017, orang meninggal lebih dari 3 ribu. Jika hal itu dikalkulasi secara ilmiah, katanya, setiap desa ada orang meninggal rata-rata ada 10 hingga 20 orang. Hal itu menurutnya sangat aneh dan sudah dikroscek ke Kantor Disdukcapil, yang datanya disebut tidak sesuai.

Editor : Kholistiono

Subroto Pertanyakan Kepastian Jumlah Formulir C6 yang Dikembalikan ke KPU Jepara

Calon Bupati Jepara Subroto (kanan) saat diwawancarai MuriaNewsCom. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Jepara – Calon Bupati Jepara nomor urut 1 Subroto mempertanyakan jumlah riil formulir C6, yakni formulir pemberitahuan untuk memberikan suara kepada pemilih yang dikembalikan ke Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jepara sebelum hari pencoblosan.

Menurutnya, jumlah formulir C6 yang dikembalikan ke KPU Jepara dengan jumlah 53.632 lembar, dinilai cukup fantastis dan masih menjadi tanda tanya besar bagi calon bupati. Untuk itu, menurutnya perlu ada pembuktian secara ilmiah dari KPU, sehingga tidak menimbulkan prasangka negatif bagi tim sukses.

“Jumlah itu harus dibuktikan secara ilmiah.Meskipun jumlah itu ada klasifikasinya tersendiri, baik itu mulai dari meninggal dunia, pindah alamat, tidak dikenal, tidak dapat ditemui dan klasifikasi lain-lain.Namun, yang tak habis pikir itu, untuk klasifikasi yang meninggal dunia dan yang jumlahnya mencapai lebih tiga ribu. Masak, orang meninggal dunia sebanyak 3 ribuan orang dalam waktu dua bulan,” ujar Subroto.

Menurutnya, sejak Daftar Pemilih Tetap (DPT) ditetapkan pada Desember 2016 sebanyak 858.958, terhitung selama dua bulan, yakni dari Desember hingga Januari 2017, orang meninggal lebih dari 3 ribu. Jika hal itu dikalkulasi secara ilmiah, katanya, setiap desa ada orang meninggal rata-rata ada 10 hingga 20 orang. Hal itu menurutnya sangat aneh dan sudah dikroscek ke Kantor Disdukcapil, yang datanya disebut tidak sesuai.

Kemudian, dirinya juga mempertanyakan di antara jumlah formulir C6 yang dikembalikan ke KPU ada klasifikasi orang tidak dikenal yang jumlahnya mencapai lebih 4 ribu orang.  “Orang tak dikenal saja mencapai 4 ribuan, masak orang tak dikenal kok bisa masuk DPT. Sebab sebelum disahkan menjadi DPT itu kan melalui beberapa proses yang panjang. Seperti halnya memfalidasi data, memantau realitas penduduk yang akan jadi Daftar Pemilih Sementara(DPS), setelah itu coklit (pencocokan dan penelitian) dan yang terakhir yakni jadi DPT. Nah yang menjadikan tak habis pikir yakni mengapa yang  tak dikenal bisa masuk,” tanyanya.

Ia menyebut, jumlah formulir C6 sebanyak 53.632 lembar yang dikembalikan ke KPU tersebut setara dengan 7 persen dari jumlah DPT. Sehingga hal itu perlu pembuktian secara ilmiah, agar pilkada di Jepara bisa berjalan secara berintegritas.

Meski demikian, dirinya belum tahu pasti mengenai langkah apakah persoalan tersebut akan dibawa ke ranah hukum atau tidak. “Yang pasti, kami akan minta klarifikasi kepada KPU tentang formulir C6 ini.Kami minta ada pembuktian secara ilmiah,” imbuhnya.

Lebih lanjut ia juga berharap, agar warga bisa mengubah pola pikir yang kuno, bahwa seorang pemimpin bukan harus dari putra daerah. Karena, siapa saja menurutnya bisa ikut berpartisipasi dalam membangun Jepara, apalagi memiliki kemampuan yang baik.

“Nabi Muhammad saja dari Makkah ke Madinah. Dan di sana beliau bisa memimpin di Madinah dengan sukses dan baik. Oleh sebab itu, pemikiran itu harus bisa diubah,” ujarnya.

Untuk diketahui, jumlah formulir C6 yang dikembalikan ke KPU Jepara sehari sebelum pencoblosan jumlahnya sebanyak 53.632 lembar. Rinciannya, pemilih yang meninggal dunia sebanyak 3.872 lembar, pindah alamat 3.946 lembar, tidak dikenal  4.030 lembar, tidak dapat ditemui 26.214 lembar dan lain lain 15.570 lembar.

Editor : Kholistiono

Pencoblosan Pilkada Jepara Usai, Bagaimana Hubungan Marzuqi dengan Subroto?

Ahmad Marzuqi (kiri) dan Subroto dalam sebuah kesempatan beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Pemungutan suara untuk Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jepara 2017 sudah usai dua hari lalu. Dari hasil hitung cepat yang dilakukan KPU, Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Jepara nomor urut 2 Ahmad Marzuqi-Dian Kristiandi unggul atas lawannya, dengan mendapatkan perolehan suara 319. 837 atau 51.25 persen. Sementara Paslon nomor urut 1 Subroto-Nur Yahman mendapatkan 304.256 suara atau 48.75 persen.

Untuk diketahui, dua kandidat yang maju sebagai calon bupati, merupakan petahana. Marzuqi, saat ini masih menjabat sebagai Bupati Jepara, sedangkan Subroto, saat ini menjabat Wakil Bupati Jepara. Keduanya, bersaing di Pilkada 2017 ini.

Meski pencoblosan telah selesai dan hasil sementara sudah diketahui, namun, ternyata kedua calon bupati ini, hingga kini ternyata masih belum ada komunikasi. Keduanya juga tak ada rencana mengadakan pertemuan khusus, usai pelaksanaan pesta demokrasi ini.

Ahmad Marzuqi mengakui, sejak hari pemungutan suara hingga Jumat (17/2/2017) ini, belum ada berkomunikasi dengan rivalnya Subroto. Terakhir kali ia melakukan komunikasi beberapa hari lalu sebelum hari pencoblosan, dan itu pun melalui pesan singkat.

Ini Hasil Sementara Hitung Cepat KPU untuk Pilkada Jepara

“Ketika itu Pak Subroto menghubungi saya melalui telepon, tapi tidak sempat saya angkat, karena sedang sibuk. Ketika itu, saya sedang ziarah kubur. Kemudian saya balik telepon, tapi juga tak diangkat oleh Pak Subroto. Jadi akhirnya hanya lewat pesan singkat, saling minta maaflah,” kata Marzuqi.

Ketika masuk kantor, nantinya, dirinya juga tak ada agenda untuk melakukan pertemuan secara khusus dengan Subroto. “Kita ketemu hari Senin nanti, ketika masuk kantor. Ya biasa sajalah, tak ada agenda khusus,” imbuhnya.

Marzuqi Minta Pendukungnya Kawal Perolehan Suara Pilkada Jepara

Terpisah, Subroto juga menyampaikan, jika sejauh ini dirinya belum berkomunikasi dengan Marzuqi. “Komunikasi dengan Pak Marzuqi, terakhir sebelum pilkada berlangsung. Saya sampaikan bahwa kompetisi merupakan satu hal yang wajar,” katanya.  

Senada dengan Marzuqi, dirinya juga tak merencanakan pertemuan khusus. Kemungkinan untuk betemu saat di kantor secara bersama-sama menjalankan tugas. ”Kita nanti ketemunya di kantor saja, Senin (20/2/2017). Nanti senin kan apel. Saya biasa-biasa saja, karena pilkada bukan segalanya,” katanya.

Sementara itu, terkait dengan adanya gugatan atau tidak mengenai hasil pilkada, pihaknya belum bisa memberi keterangan secara gamblang. Ia ingin memantau terlebih dahulu. Ia mengakui adanya kejanggalan pada proses pilakda kemarin, namun, belum bisa menyebut satu persatu.

”Ya kita lihat saja nanti. Soalnya yang mengerjakan tim. Kalau saya kan hanya kontestan. Kalaupun saya menggungat, itupun untuk kepentingan rakyat, bukan kepentingan saya,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Bersama Istri, Subroto Mencoblos di TPS 4 Desa Langon Jepara

Subroto bersama istri berjalan kaki menuju TPS di Desa Langong untuk mencoblos. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Jepara – Calon Wakil Bupati Jepara Subroto menggunakan hak suaranya di TPS 4 Desa Langon, Kecamatan Tahunan, Jepara, Rabu (15/2/2017) pagi. Subroto datang bersama istrinya Yunita sert kedua anaknya Bimo dan Seno.

Mereka datang ke TPS sekitar pukul 08.15 WIB dengan jalan kaki. Letak TPS 4 berjarak sekitar 500 meter dari rumahnya. Sesampainya di TPS, Subroto mendapatkan urutan ke 45.

Saat diwawancarai MuriaNewsCom, Subroto mengaku bahwa punya firasat yang positif. “Firasat saya ya mendapatkan pemimpin yang sesuai harapan masyarakat. Sehingga nantinya akan bisa memajukan Jepara,” kata Subroto.

Kemudian, terkait hasil pilkada, dirinya menyampaikan akan menerima dengan bijak apapun hasilnya. Sebab, hal itu merupakan keputusan dari warga dan yang terbaik bagi warga Jepara.

Jika pun, nantinya hasilnya tidak sesuai harapan, dirinya mengaku akan tetap mengabdi kepada warga.  Baik itu kembali ke pekerjaan semula sebagai pengusaha atau dosen.

Sementara itu, Yunita Istri Subroto berharap, nantinya suaminya bisa menang dan nantinya bisa memajukan warga. “Sebagai istri, saya sih berharap bisa menang dan bisa berhasil,” ucapnya.

Editor : Kholistiono