Ternyata Pernah Ada Bencana Besar di Lokasi Penemuan Fosil Gajah Purba di Banjarejo

Kepala BPSMP Sangiran Sukronedi (kanan) berbincang dengan Kades Banjarejo Ahmad Taufik di lokasi penemuan fosil gajah purba, Rabu (16/8/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Misteri yang terjadi di lokasi penemuan fosil gajah purba di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, mulai terkuak. Antara lain, pada ratusan ribu tahun lalu diperkirakan sempat ada peristiwa bencana alam di sekitar lokasi yang letaknya agak berada di ketinggian atau perbukitan tersebut.

Hal itu disampaikan Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran Sukronedi saat berkunjung ke lokasi penemuan fosil gajah purba di Banjarejo, Rabu (16/8/2017).

“Penelitian masih kita lakukan. Tapi dari analisa sementara, potensi adanya bencana longsor di lokasi ini cukup besar,” jelasnya.

Menurut Sukron, adanya bencana alam diperkuat ketika lokasi penggalian diperlebar hingga berukuran sekitar 12 x 12 meter. Saat proses pelebaran ini berhasil ditemukan lagi sejumlah fosil dari beberapa spesies hewan purba.

Sebelum diperlebar, di lokasi tersebut hanya terlihat fosil satu spesies saja, yakni gajah purba. Setelah pelebaran areal, muncul potongan fosil dari spesies baru. Antara lain, banteng, dan buaya dengan berbagai ukuran.

Penemuan fosil spesies baru itu posisinya berdekatan atau berkumpul dengan fosil gajah purba. Kondisi ini diperkirakan bisa terjadi akibat hewan-hewan itu sebelumnya tertimbun longsoran, sehingga bisa terkumpul dalam satu lokasi.

Misteri lain yang berhasil terungkap adalah kepastian jenis gajah purba. Sebelumnya, fosil itu dinyatakan milik gajah purba jenis stegodon. Namun, setelah diteliti lebih lanjut, fosil itu berasal dari gajah purba jenis elephas.

“Fosilnya bisa kita pastikan milik elephas. Hewan purba ini lebih muda dari Stegodon. Usianya diperkirakan sekitar 400 ribu tahun,” tegasnya.

Editor : Ali Muntoha

Tim Ahli Purbakala Mulai Kaji Penemuan Fosil Stegodon di Banjarejo Grobogan

Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran Sukronedi (baju biru) saat meninjau lokasi penemuan fosil stegodon di Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Upaya penyelamatan temuan fosil gajah purba jenis stegodon di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus mulai dilakukan tim ahli purbakala dari beberapa instansi. Pada tahap awal, tim ahli masih akan melakukan kajian di lokasi penemuan fosil yang berada di areal sawah di Dusun Kuwojo.

“Ada beberapa tahapan yang kita lakukan dalam upaya penyelamatan temuan fosil stegodon. Tahap pertama kita lakukan kajian dulu,” kata Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran Sukronedi, Kamis (13/7/2017).

Menurut Sukron, sebelum melangsungkan kajian, pada bulan puasa lalu pihaknya sudah menurunkan tim kecil ke Banjarejo buat melakukan observasi lapangan. Setelah melihat kondisi di lapangan, fosil yang ditemukan ternyata di luar prediksi.

“Ternyata fosil yang sudah terlihat terdiri dari beberapa bagian tubuh satu individu hewan purba. Ini merupakan temuan yang sangat luar biasa. Semula kita perkirakan penemuan fosil biasa seperti sebelumnya,” jelasnya.

Dari observasi lapangan dan data awal yang didapat, tim memutuskan tidak akan buru-buru mengangkat fosil dari dalam tanah. Sebab, tim akan melakukan penelitian dan mengumpulkan banyak data dari lokasi penemuan fosil tersebut.

“Penemuan fosil terbaru di Banjarejo ini sangat istimewa. Di situs Sangiran saja belum pernah ditemukan fosil gajah purba atau stegodon selengkap ini. Sebelumnya, fosil stagodon yang ditemukan cukup lengkap ada di situs Pati Ayam, Kudus,” jelasnya.

 

Sukron menjelaskan, tim yang dikirimkan ke Banjarejo saat ini cukup lengkap dan berasal dari berbagai latar belakang keahlian. Tim ini akan melakukan penelitian, pengkajian, penyelamatan dan mengungkap nilai-nilai penting dari penemuan benda purbakala terbaru yang ada di Banjarejo.

“Kajian dan penelitian kita lakukan sampai September. Untuk pengangkatan fosil kita lakukan pada tahap terakhir setelah kajian dan penelitian rampung,” tambah Sukron.

selain BPSMP, ada instansi lain yang akan mengirimkan tim ahli. Antara lain, Balai Arkeologi Yogyakarta, Balai Konservasi Borobudur, Balai Pelestarian Cagar Budaya Jateng. Kemudian, dukungan juga akan diberikan dari Dinas Kebudayaan Jateng, Disporabudpar Grobogan serta komunitas fosil Banjarejo.

 

Editor : Akrom Hazami