Begini Harapan Bupati Musthofa Terhadap Lulusan STAIN Kudus

Bupati Kudus Musthofa dalam penandatangan MoU di bidang pendidikan, pelatihan, dan pengabdian masyarakat (P3M) dengan STAIN Kudus. (Foto : Pemkab Kudus)

MuriaNewsCom, Kudus – Bupati Kudus Musthofa menaruh harapan besar terhadap para lulusan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus. Diharapkan, para lulusan ini bakal bisa menjadi calon pemimpin yang mempunyai performa kekinian dan berjiwa agamis.

Hal ini disampaikan Musthofa saat penandatanganan MoU antara Pemkab Kudus dengan STAIN Kudus, Kamis (6/7/2017). Kerja sama ini digelar dalam bidang pendidikan, pelatihan, dan pengabdian masyarakat (P3M).

Dalam sambutanya Musthofa berharap kerja sama ini bisa segera terimplementasi dengan baik. Agar segera bisa memberikan manfaat secara nyata secara luas, termasuk manfaat bagi masyarakat.

Menurut dia, mahasiswa STAIN dengan basic agama, bisa menjadi modal penting bagi keberhasilan dalam segala hal. Dikatakannya, mahasiswa jangan hanya bergantung dari kampus secara normatif. Tetapi ilmu yang didapat sebagai landasan integritas bagi dirinya.

“Saya berharap nantinya jadi lulusan STAIN yang kekinian. Dan harus memiliki performance yang baik,” pesannya.

Musthofa menyebut, sebagai calon pemimpin harus memiliki penampilan yang bagus, hati dan jiwa yang bersih, memiliki kemampuan komunikasi yang baik, serta dermawan. Artinya mudah dan ringan tangan untuk membantu apabila ada yang membutuhkan.

“Untuk pengembangan diri, jangan hanya berpikir normatif. Tetapi berpikirlah secara liar untuk memiliki kualitas diri yang lebih,” imbuhnya.

Ketua STAIN Dr Fathul Mufid. Menurutnya potensi mahasiswa yang lebih dari 10.000 orang ini potensi yang luar biasa. Apalagi mamfaat dari integrasi ilmu ini bisa membawa kemajuan umat dan bangsa Indonesia.

Puket Akademik STAIN Kudus Dr Saekhan Muchit menyebut, kerja sama ini akan mendukung harapan lulusan STAIN sebagai insane yang cerdas dan kreatif. Ia pun menyampaikan terima kasih pada Bupati Kudus yang berkomitmen terhadap pendidikan keagamaan. (nap)

Editor : Ali Muntoha

KKN di Pati, Ratusan Mahasiswa STAIN Kudus Diminta Ikut Kembangkan Potensi Lokal

Penerimaan mahasiswa KKN STAIN Kudus di Pendapa Kabupaten Pati, Rabu (27/4/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sebanyak 517 mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus mengikuti kuliah kerja nyata (KKN) di Pati, Kamis (27/4/2017). Mereka ditempatkan di dua kecamatan, yakni Batangan dan Jaken.

Kedua kecamatan tersebut dianggap perlu mendapatkan pemberdayaan mahasiswa, baik dari aspek sumber daya manusia (SDM) maupun sumber daya alam (SDA). Karena itu, mereka diminta ikut mengembangkan potensi lokal di desa tujuan KKN.

“Kami berharap, nanti ada potensi desa yang bisa diangkat. Nanti akan diadakan ekspo sebelum Ramadan. Harapannya, potensi apa yang ada di desa bisa digali dan dikembangkan untuk kemandirian desa supaya maju,” ujar Bupati Pati Haryanto.

Selain itu, mahasiswa diminta ikut membantu administrasi desa, serta melakukan penyuluhan dan pembinaan desa. Pasalnya, pembinaan dinilai bisa menjadi bekal bagi masyarakat secara berkelanjutan.

“Pembinaan sangat penting supaya menjadi bekal bagi masyarakat secara kontinyu. Jadi, bukan hanya kegiatan fisik saja, tetapi bisa meninggalkan sesuatu yang bisa dipakai warga, baik itu pengetahuan, pengalaman atau keterampilan,” tambah Haryanto.

Sementara itu, Wakil Ketua I Rektor STAIN Kudus Saekan Muchith mengaku senang karena mahasiswanya bisa diterima langsung Bupati Pati. Sebab, tahun lalu, Bupati belum bisa menerima dan memberikan pengarahan secara langsung kepada mahasiswa.

“KKN sudah menjadi kewajiban bagi setiap mahasiswa yang sudah menyelesaikan mata kuliahnya. KKN menjadi cara bagi mahasiswa untuk mengabdi kepada masyarakat secara langsung, bagaimana keberadaannya bisa memberikan manfaat kepada masyarakat,” ujar Saekan.

Annisa Nailal Husna, mahasiswi jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) menuturkan, dia bersama teman-temannya akan mengabdi di Desa Kebonturi, Kecamatan Jaken selama 40 hari. Saat ini, kelompoknya tidur di Balai Desa Kebonturi.

“Aku tidurnya di balai desa. Pak kadesnya baik. Baru semalem di sini. Sejumlah program sudah kami rencanakan, baik berupa pemberdayaan maupun kegiatan fisik,” tandas Annisa.

Editor : Kholistiono

Kelenteng Hok Hien Bio Kudus jadi Tempat Belajar

Kegiatan studi yang dilakukan mahasiswa STAIN Kudus di Kelenteng Hok Hien Bio. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kegiatan studi yang dilakukan mahasiswa STAIN Kudus di Kelenteng Hok Hien Bio

 

MuriaNewsCom, Kudus – Pengelola Kelenteng Hok Hien Bio Kudus mengaku senang dengan kunjungan mahasiswa yang mau belajar bersama. Seperti halnya yang dilakukan mahasiswa dari STAIN Kudus, beberapa hari terakhir ini.

Hudlori, penjaga kelenteng mengatakan, kunjungan akademisi dari berbagai kalangan ini membuat dirinya lebih terbuka untuk bisa saling berbagai pengetahuan kepada sesama. Kunjungan yang dilakukan oleh mahasiswa tersebut yakni untuk menggali lebih dalam lagi terkait ajaran yang diterapkan mereka.

“Biasanya kunjungan mahasiswa-mahasiswi dari STAIN, perguruan Islam yang ada di Semarang, UMK dan banyak lagi. Kalau tidak keliru hingga April 2016 ada sekitar 8 perguruan tinggi yang berkunjung ke kelenteng,” ujarnya.

Kunjungan mahasiswa atau mahasiswi itu biasanya merupakan bagian dari mata kuliah di kampusnya. Dengan kunjungan itu, pengelola kelenteng pun membuka pintu lebar bagi siapa saja yang mau belajar.

Editor : Akrom Hazami

 

 

KOPMA STAIN Kudus Harus Kreatif Mengelola Keuangan

Anggota Koperasi Mahasiswa STAIN Kudus berfoto bersama. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Anggota Koperasi Mahasiswa STAIN Kudus berfoto bersama. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Kesuksesan berorganisasi tak luput ditunjang oleh fasilitas serta finansial yang mumpuni. Oleh karenanya anggota Koperasi Mahasiswa (KOPMA) STAIN Kudus ini dituntut untuk bisa memutar uang modal agar nominalnya semakin bertambah.

Putaran uang modal tersebut bukan berarti untuk dipergunakan sebagai kegiatan simpan pinjam. Akan tetapi perputaran itu berupa belanja modal berbentuk produk atau barang nantinya dapat diperjual belikan.

”Untuk perputaran uang itu meliputi dana simpanan pokok sebesar Rp 10 Ribu per bulan untuk setiap anggota, simpanan sukarela, dan tabungan wajib bagi anggota baru sebesar Rp 5 ribu per angota,” kata Ali Sofyan, pengurus Koperasi Mahasiswa STAIN Kudus.

Dia menilai, uang dari anggota tersebut bisa dimanfaatkan untuk belanja modal berupa barang alat tulis kantor, makanan ringan yang nantinya dijual di koperasi. Selain itu, uang anggota terebut juga dapat dijadikan cadangan berwirausaha. Sehinga tidak serta merta menggantungkan modal dari kampus.

Dia menambahkan, keuntungan atau laba yang didapat dari penjualan produk koperasi selama satu tahun, maka setiap bulan Januari akan diadakan pembagian sisa hasil usaha (SHU) serta akan diadakan reorganisasi keanggotaan dan kepengurusan KOPMA yang baru. Selain itu untuk SHU nya sendiri bisa sampai mendapat Rp 150 ribu hingga Rp 200 Ribu per anggota tiap tahunnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

120 Mahasiswa STAIN Kudus Digembleng Menjadi Pengusaha Sukses

Suasana seminar yang digelar oleh Koperasi Mahasiswa STAIN Kudus (KOPMA) ini diselenggarakan di gedung haji Kecamatan Undaan dengan mengambil tema "Membentuk Kader Koperasi yang Loyal, dan Kreatif dengan Prinsip Kekeluargaan”. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Suasana seminar yang digelar oleh Koperasi Mahasiswa STAIN Kudus (KOPMA) ini diselenggarakan di gedung haji Kecamatan Undaan dengan mengambil tema “Membentuk Kader Koperasi yang Loyal, dan Kreatif dengan Prinsip Kekeluargaan”. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – 120 mahasiswa dari berbagai jurusan di STAIN Kudus, saat ini digembleng untuk menjadi pengusaha sukses. Kegiatan yang digelar oleh Koperasi Mahasiswa STAIN Kudus (KOPMA) ini diselenggarakan di gedung haji Kecamatan Undaan dengan mengambil tema “Membentuk Kader Koperasi yang Loyal, dan Kreatif dengan Prinsip Kekeluargaan”.

Salah satu pengurus KOPMA Mega Puspitasari mengatakan, dalam kegiatan ini pihaknya menggandeng dari dinas perindustrian koperasi dan UMKM Kudus. Sehingga nantinya materi yang disampaikan bisa cocok. Sebab acara ini merupakan pendidikan dasar anggota baru KOPMA (Koperasi Mahasiswa STAIN Kudus).

Dengan adanya kegiatan yang diselenggarakan mulai 9 sampai dengan 11 Oktober 2015 tersebut, diharapkan dapat mencetak pengusaha sukses. ”Untuk materinya yang disampaikan itu mulai dari kepemimpinan berorganisasi koperasi, membedah kreativitas anggota koperasi, kerja keras anggota koperasi dan sebagainya,” ujarnya.

Dia menambahkan, untuk mengaplikasikan materi yang sudah diberikan oleh pembicara dari Dinas Perindustrian Koperasi dan UMKM tersebut, nantinya peserta pendidikan dasar koperasi melaksanakan kunjungan industri ke Sosro dan Nissan Semarang. Supaya mereka bisa melihat pola menajemen dan kepemimpinan di dalam perusahaan tersebut. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Agama Harus Dilihat Dari Segi Tekstual dan Konstektual

Moh. Rosyid, dosen STAIN NU Kudus. (MuriaNewsCom/Hana Ratri)

Moh. Rosyid, dosen STAIN NU Kudus. (MuriaNewsCom/Hana Ratri)

 

KUDUS – Pengaruh radikalisme telah menyebar hampir di seluruh dunia. Termasuk di Indonesia. Pengaruh tersebut begitu mudah masuk ke dalam tubuh manusia. Terlebih paham radikalisme yang mengatasnamakan agama. Moh. Rosyid, dosen jurusan Tarbiyah STAIN NU Kudus, mengatakan adanya sebagian orang masuk ke dalam lingkup seperti itu dikarenakan kurang memahami agama yang dianutnya.

”Seharusnya anak-anak muda sekarang ini perlu memahami agamanya dengan dua segi yakni tekstual maupun konstektual. Saya sebagai dosen di STAIN NU kerap mengajarkan kepada para mahasiswa untuk berteman dengan siapa saja. Tanpa memandang apa agamamu, apa sukumu. Sehingga ketika mahasiswa memahami agama secara tekstual dan konstektual, maka tidak terbawa dengan pengaruh radikalisme tersebut,” ungkapnya, saat ditemui di rumahnya, di daerah Kayuapu Wetan, Gondangmanis, Kudus siang ini.

Pria asal Demak ini mencontohkan sebuah buku yang ditulisnya. Buku “Mendialogkan Ahmadiyah, Belajar dari Cikeusik dan Kudus” merupakan salah satu buku yang dibuat untuk mengingatkan para mahasiswa tentang sejarah yang terjadi di era tahun 2000-an. Ia beralasan penulisan buku ini sangat perlu.

”Sejarah itu tidak boleh dilupakan, makanya saya tulis supaya mengingatkan tentang peristiwa tersebut,” ungkap Rosyid.
Selain pemahaman agama, Rosyid juga berpesan kepada anak-anak muda agar tidak fanatik terhadap agamanya. Menurutnya, fanatisme itu terjadi karena tidak melihat agama secara konstektual. Hal tersebut dapat dihindari dengan cara mengikuti berbagai kegiatan positif. Seperti kegiatan rebana yang dilakukan mahasiswa STAIN dalam sebuah PKM atau kegiatan lainnya. (HANA RATRI/AKROM HAZAMI)

HMJ Tarbiyah STAIN Kudus Ajak Mahasiswa Peringati Hardiknas 

Mahasiswa Jurusan Tarbiyah STAIN Kudus melakukan kegiatan memperingati Hardiknas. (MURIA NEWS/IKA NIKMAH)

KUDUS – Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Tarbiyah STAIN Kudus menyelenggarakan beberapa kegiatan untuk memperingati haribpendidikan nasional yang jatuh 2 Mei lalu. Acara yang diselenggarakan tersebut bekerja sama dengan ketua Jurusan Tarbiyah. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa STAIN secara umum dan khususnya mahasiswa tarbiyah.

Lanjutkan membaca