Sosialisasi Pemutaran Film Cukai Jadi Ajang Peningkatan Ekonomi Kerakyatan

Warga Desa Tergo, Kecamatan Dawe, Kudus, melihat sosialisasi pemutaran film cukai di lapangan desa setempat, pada Kamis (21/6/2016) malam. Mereka antusias menyaksikan film tersebut sebagai bagian dari pemahaman mengenai dana cukai. (MuriaNewsCom)

Warga Desa Tergo, Kecamatan Dawe, Kudus, melihat sosialisasi pemutaran film cukai di lapangan desa setempat, pada Kamis (21/6/2016) malam. Mereka antusias menyaksikan film tersebut sebagai bagian dari pemahaman mengenai dana cukai. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Ada dampak lain yang dirasakan warga Kabupaten Kudus, saat pemutaran film sosialisasi aturan penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang diterima wilayah ini.

Pasalnya, dalam setiap pemutaran film cukai di masing-masing desa, banyak pedagang kaki lima (PKL) yang kemudian menggelar dagangannya di lokasi pemutaran film. Mereka turut memeriahkan kegiatan yang digelar Bagian Humas Setda Kudus tersebut.

Sebagaimana yang terlihat di Lapangan Desa Tergo, Kecamatan Dawe, Kudus, pada Kamis (21/7/2016) malam. Banyak PKL yang memanfaatkan momen itu, untuk menjual aneka dagangannya. Sehingga suasana menjadi meriah. Warga yang datang, juga banyak yang memanfaatkan momen itu, sambil melihat pemutaran film. “Fenomena ini tentu saja merupakan satu hal yang bagus. Tujuan sosialisasi kita tercapai, juga warga mendapatkan manfaat yang baik dari kegiatan ini,” kata Kepala Bagian (Kabag) Humas Setda Kudus Putut Winarno.

Menurut Winarno, kehadiran PKL di lokasi acara, membuktikan jika sosialisasi tersebut diterima dengan baik oleh warga. “Sehingga apa yang kemudian kita inginkan dengan sosialisasi itu, bisa berjalan dengan baik. Sedangkan warga lainnya juga bisa mendapatkan sesuatu yang lain dari kegiatan itu,” terangnya.

Sebagaimana diketahui, sosialisasi pemutaran film atau video iklan cukai ini, adalah bagian dari memahamkan warga Kudus akan dana cukai itu sendiri. Bagaimana penerimaannya, digunakan untuk apa saja, dan bagaimana manfaatnya untuk warga Kudus itu sendiri.

Kegiatan di Desa Tergo, adalah satu dari sekian banyak desa yang disambangi untuk sosialisasi ini. Roadshow ke desa-desa memang menjadi prioritas dalam sosialisasi film cukai ini.

“Karena bagi kami, warga di seluruh wilayah Kudus harus paham akan aturan cukai ini. Termasuk warga di masing-masing desa. Jadilah kami anggap sosialisasi ke desa-desa ini penting. Sehingga sosialisasi akan bisa meluas ke setiap wilayah di Kudus,” terang Winarno.

Setelah Desa Tergo, sosialisasi akan dilaksanakan di Desa Gribig (Kecamatan Gebog) pada 23 Juli 2016, kemudian Desa Besito (Kecamatan Gebog) pada 27 Juli 2016, Desa Kirig (Kecamatan Mejobo) pada 30 Juli 2016, dan Desa Pladen (Kecamatan Jekulo) pada 6 Agustus 2016 mendatang.

“Ada beberapa desa lagi yang akan kita sambangi, namun jadwalnya baru kita tentukan. Yang jelas, kita akan datangi desa-desa yang ada di Kudus, supaya sosialisasi bisa maksimal,” imbuhnya. (HMS/CUK/SOS)

Editor: Merie

 

 

Tidak Percaya Kudus Bisa Buat Sejahtera, Tonton Saja Filmnya di Desa Tergo

kudus-cukai-film-tergo-pre-murianews-tyg pkl 19.00 wib

Kegiatan pemutaran film sosialisasi cukai yang dilakukan Bagian Humas Setda Kudus, dihadiri warga di mana kegiatan itu digelar.

 

MuriaNewsCom, Kudus – Salah satu tujuan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus saat ini adalah bagaimana membuat warganya bisa sejahtera. Kalau masih tidak percaya, tonton saja film yang membahas soal itu, di Desa Tergo, Kecamatan Dawe.

Ini adalah pemutaran film mengenai aturan penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang diterima Kabupaten Kudus. Lokasi pemutarannya ada di Lapangan Desa Tergo, Kecamatan Dawe, dan akan digelar pada Kamis (21/7/2016), mulai pukul 19.00 WIB.

Ada beberapa judul film yang akan diputar di sana, yang merupakan program sosialisasi dari Bagian Humas Setda Kudus. Salah satunya menceritakan bagaimana dana cukai membuka banyak peluang yang bisa dimanfaatkan warga.

Misalnya saja aneka pelatihan yang dilakukan di Balai Latihan Kerja (BLK) Kudus, yang memang diperuntukkan bagi warga. Dari pelatihan itu, warga kemudian bisa membuat usaha sendiri, yang tentunya digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.

”Di filmnya juga kita sampaikan bahwa tidak usah kemana-mana kalau mau sejahtera. Ada banyak potensi yang bisa digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masing-masing warga,” jelas Kepala Bagian (Kabag) Humas Setda Kudus Putut Winarno.

Kegiatan yang digelar ini, dengan berlandaskan Peratuan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK 07/2008 tentang Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Sanksi atas Penyalahgunaan Alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Peraturan Bupati Kudus Nomor 32 Tahun 2013 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau di Kabupaten Kudus.

Winarno mengatakan, ada banyak tema-tema lain dalam film tersebut, yang bisa menjelaskan bagaimana alur penerimaan dana cukai, bagaimana digunakan, dan hasilnya untuk masyarakat. ”Karena yang terpenting adalah bagaimana memahamkan kepada warga, bahwa dana cukai itu digunakan untuk kesejahteraan mereka,” tegasnya.

Karena itu, langkah yang dipilih Bagian Humas Setda Kudus dengan melakukan sosialisasi melalui media film, adalah satu hal yang tepat. Pasalnya, film adalah hiburan universal bagi setiap orang yang mampu diterima dengan baik. Tidak mengherankan jika dalam setiap pemutaran film yang digelar di desa-desa, banyak didatangi warga.

Winarno mengatakan, sosialisasi keliling pemutaran film ini, memang sangat penting. Ditambah lagi, kehadiran warga di setiap lokasi pemutaran film, menjadi salah satu hal penting, karena tujuannya memang agar film bisa ditonton warga.

”Pemerintah bersama-sama dengan warga, saling bahu membahu untuk bisa mewujudkan cita-cita menyejahterakan warga. Itu bagian utama yang perlu dipahami dari pemutaran film ini. arena warga bisa melihat bagaimana dana cukai itu berasal, maupun digunakan,” terangnya.

Setelah Desa Tergo, kegiatan serupa juga akan digelar di Desa Gribig (Kaliwungu) pada 23 Juli 2016, dan Desa Besito (Gebog) pada 27 Juli 2016. Kemudian Desa Kirig (Mejobo) pada 30 Juli 2016, Desa Pladen (Jekulo) pada 6 Agustus 2016, dan Desa Honggosoco (Jekulo) yang belum ditentukan tanggalnya.  (HMS/SOS/CUK)

Editor: Merie

 

Warga Kedungsari Harus Siap Saksikan Film-Film Ini

kudus-cukai-film-kedungsari-pre-murianews-tyg tgl 19 juli 2016 e

Suasana pemutaran film mengenai sosialisasi cukai yang digelar di beberapa desa sebelumnya. Warga antusias untuk datang, karena ingin melihat sosialisasi yang menghibur.

 

MuriaNewsCom, Kudus – Mau menghabiskan waktu dengan keluarga sambil nonton hiburan yang enak, datang saja ke lapangan Desa Kedungsari, Kecamatan Gebog, Kudus, pada Selasa (19/7/2016) malam ini.

Bagi yang datang, akan ada hiburan berupa pemutaran film gratis di sana. Filmnya adalah soal sosialisasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT), yang diterima Kabupaten Kudus.

”Meski filmnya soal sosialisasi dana cukai, tapi kemasannya sangat menghibur. Juga dibuat dengan rasa lokal Kudus. Ini film soal Kudus masalahnya. Sehingga tetap menghibur,” kata Kepala Bagian (Kabag) Humas Setda Kudus Putut Winarno, Selasa (19/7/2016).

Film ini, menurut Winarno, memang sengaja dibuat pihaknya. Sebagai bagian dari pelaksanaan Peratuan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK 07/2008 tentang Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Sanksi atas Penyalahgunaan Alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Peraturan Bupati Kudus Nomor 32 Tahun 2013 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau di Kabupaten Kudus.

”Memberikan pemahaman kepada warga akan persoalan apapun, memang harus memakai cara-cara yang tidak biasa. Termasuk juga dalam menyosialisasikan aturan penggunaan dana cukai ini. Kalau biasanya hanya sosialisasi saja, namun kita gelar dengan memutarkan film ini,” paparnya.

Kegiatan ini juga sudah digelar di beberapa desa lainnya. Dan terbukti warga antusias menyaksikan setiap pertunjukan yang digelar. Apalagi di sana juga ditampilkan hiburan lainnya, seperti band-band lokal yang menyuguhkan aneka lagu-lagu populer.

Karena itu, langkah yang dipilih Bagian Humas Setda Kudus dengan melakukan sosialisasi melalui media film, adalah satu hal yang tepat. Pasalnya, film adalah hiburan universal bagi setiap orang yang mampu diterima dengan baik.

Ada beberapa film yang memuat soal penerimaan dana cukai, yang diputar malam itu. Kesemuanya dikemas dalam bahasa yang enak dan mampu diterima oleh warga. Sehingga pemahaman akan aturan cukai, bisa sampai.

Desa Kedungsari adalah satu dari sekian banyak desa yang dikunjungi dalam pemutaran film ini. Nantinya, sosialisasi ini akan digelar di sejumlah desa lain, yang memang merupakan target pemutaran film.

Winarno mengatakan, sosialisasi keliling pemutaran film ini, memang sangat penting. ”Ditambah lagi, kehadiran warga di sana, adalah sebagai bagian utama dari pemutaran film tersebut. Karena warga bisa melihat bagaimana dana cukai itu berasal, maupun digunakan,” terangnya.

Setelah Desa Kedungsari, kegiatan serupa juga akan digelar di Desa Tergo (Dawe) pada 21 Juli 2016, Desa Gribig (Kaliwungu) pada 23 Juli 2016, dan Desa Besito (Gebog) pada 27 Juli 2016. Kemudian Desa Kirig (Mejobo) pada 30 Juli 2016, Desa Pladen (Jekulo) pada 6 Agustus 2016, dan Desa Honggosoco (Jekulo) yang belum ditentukan tanggalnya.  (HMS/SOS/CUK)

Editor: Merie

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sosialisasi Film Cukai Harus Miliki Manfaat untuk Warga

kudus-iklan cukai film-jojo-tyg 18 juli 2016 e

Warga Desa Jojo, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, menyaksikan pemutaran film mengenai sosialisasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT), yang digelar Sabtu (16/7/2016) malam.

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kehadiran warga dalam setiap kegiatan pemutaran film mengenai sosialisasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) adalah salah satu hal penting. Pasalnya, sosialisasi itu dilakukan demi kesejahteraan warga sendiri.

Kepala Bagian Humas Setda Kudus Putut Winarno mengatakan, kehadiran warga adalah penting, karena mereka inilah yang diharapkan bisa memahami aturan penggunaan dana cukai.

”Makanya, kita berharap warga bisa hadir sebanyak-banyaknya saat kita gelar kegiatan ini. Sehingga nantinya, warga bisa melihat langsung bagaimana aturan cukai itu dijalankan dengan baik oleh Pemkab Kudus,” jelasnya.

Sosialisasi soal film itu sendiri, dilaksanakan di Desa Jojo, Kecamatan Mejobo, Kudus. Bertempat di lapangan voli Desa Jojo, warga sangat antusias untuk mendatangi acara tersebut.

Dalam film tersebut, diperlihatkan darimana dana cukai itu berasal, kemudian digunakan untuk apa saja. Dengan menggunakan bahasa kudusan yang bisa dipahami warga, sosialisasi tersebut cukup mengena.

Selain film sendiri, acara itu juga dimeriahkan dengan kehadiran grup band, yang memang hadir untuk menghibur warga. Sehingga suasana menjadi lebih segar dan menarik, selama acara berlangsung.

”Warga Jojo kita harapkan juga bisa melihat langsung bahwa dana cukai itu sangat berguna bagi mereka. Ada banyak kegiatan bermanfaat bagi mereka, yang dilakukan dengan menggunakan dana cukai. Misalnya pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan di Balai Latihan Kerja. Semua bisa diikuti warga,” paparnya.

Kegiatan yang digelar ini, dengan berlandaskan Peratuan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK 07/2008 tentang Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Sanksi atas Penyalahgunaan Alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Peraturan Bupati Kudus Nomor 32 Tahun 2013 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau di Kabupaten Kudus.

Winarno mengatakan, pemutaran di Desa Jojo ini, adalah bagian dari desa-desa yang didatangi, khusus untuk kegiatan pemutaran film sosialisasi tersebut. ”Beberapa waktu lalu, kami sudah selenggarakan kegiatan ini di beberapa desa. Termasuk juga di Desa Jojo ini. Nantinya juga akan ada di desa-desa yang sudah kita tentukan jadwalnya,” terangnya.

Output atau keluaran dari sosialisasi yang dilakukan itu, menurut Winarno, adalah bagaimana menyejahterakan warga Kudus itu sendiri. Karena penggunaan dana cukai itu memang dipergunakan untuk kesejahteraan masyarakat secara langsung.

”Roadshow ke desa-desa ini, menurut Winarno, merupakan cara yang efektif. Warga sendiri akan paham soal dana cukai. Kalau sudah paham, mereka bisa merasakan manfaatnya. Sehingga, kesejahteraan akan timbul dari itu,” katanya.

untuk menyosialisasikan aturan penggunaan dana cukai yang diterima Kabupaten Kudus. ”Dana cukai itu digunakan untuk apa, bagaimana bentuk kegiatannya, dan hasilnya bagaimana, harus diketahui masyarakat. Sehingga salah satu bentuk transparansi yang ada, adalah dengan sosialisasi melalui film ini,” paparnya.

Setelah Desa Jojo, kegiatan serupa juga akan digelar di Desa Kedungsari (Gebog) pada 19 Juli 2016, Desa Gribig (Kaliwungu) pada 23 Juli 2016, dan Desa Besito (Gebog) pada 27 Juli 2016. Kemudian Desa Kirig (Mejobo) pada 30 Juli 2016, Desa Pladen (Jekulo) pada 6 Agustus 2016, dan Desa Honggosoco (Jekulo) yang belum ditentukan tanggalnya.

”Kita juga rencananya akan menyambangi empat desa lainnya. Namun menyesuaikan tanggal yang ada terlebih dahulu. Karena kita ingin kegiatan ini benar-benar bisa memberi manfaat kepada warga yang ada di Kudus,” imbuh Winarno. (HMS/SOS/CUK)

Editor: Merie