Asyik Main Judi Capjikia, 6 Warga Ditangkap Polisi di Solo

FOTO ILUSTRASI (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Solo – Kepolisian Resor Kota Surakarta berhasil mengungkap kasus judi capjikia dengan membekuk enam pelaku. Seorang di antaranya perempuan sebagai tambang atau penjual di Jalan Pattimura, Kampung Kemlayan, Kecamatan Serengan, Solo.

Kapolresta Surakarta AKBP Ribut Hari Wibowo melalui Kapolsek Serengan Kompol Giyono di Solo, Kamis (31/8/2017)  mengatakan enam pelaku judi tersebut yakni Sangadi (29) warga Tipes Serengan Solo, Sukardi Siswomartoyo (61) warga Balakan Polokarto Sukoharjo, Sri Sanyo (62) warga Dawung Kulon Serengan Solo, Suroto (28) warga Joyotakan Serengan Solo, Yulianto (23) warga Joyotakan Serengan dan Kristiani (38) warga Dawung Tengah Serengan Solo.

Menurut Giyono, salah satu pelaku Kristiani diduga sebagai sebagai tambang Capjikia, sedang tersangka lainnya pemasang. “Kami juga berhasil menyita sejumlah barang bukti antara lain enam buah handphone, dua lembar kertas rekapan, alat tulis bolpoin, uang tunai Rp216.000,” katanya dikutip dari Antarajateng.com.

Polisi berhasil mengungkap kasus tersebut berkat adanya laporan masyarakat bahwa Jalan Pattimura Serengan Solo sering jadi arena judi capjikia. Polisi melakukan penyelidikan ke lokasi dan menemukan enam orang sedang melakukan transaksi.

“Kami langsung menangkap enam orang pelaku dan salah satunya sebagai tambang atau penjual judi capjikia, pada Rabu (30/8/2017) sekitar pukul 15.00 WIB. Keenam pelaku lasngung dibawa ke Mapolsek Serengan untuk pemeriksaan dan proses hukum,” katanya.

Oleh karena itu, untuk tersangka judi tersebut diduga melakukan tindak pidana dengan dijerat pasal 303 KUHP, tentang Perjudian, dengan ancaman hukuman penjara paling lama 10 tahun. Capjikia merupakan judi menggunakan kartu ceki yang hanya diambil 12 kartu dari keseluruhan kartu ceki. Salah satu kartu dipilih oleh bandar kemudian diletakkan atau dimasukkan dalam kotak tertutup kemudian digantung.

Para pejudi membeli kupon yang disediakan oleh bandar melalui agen atau tambang untuk menebak salah satu dari 12 kartu ceki, kalau beruntung akan mendapat beberapa kali lipat dari uang taruhan.

Editor : Akrom Hazami

 

Kini Parkir di Jalan Adisucipto Ruas Manahan Solo Dilarang

Foto Ilustrasi, Kendaraan melakukan parkir di pinggir jalan raya, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Solo – Arus lalu lintas di Kota Solo terus ditata. Di antaranya adalah memberlakukan larangan parkir kendaraan di pinggir Jalan Adisucipto ruas kompleks Stadion Manahan. Hal itu dilakukan untuk menurunkan tingkat gangguan arus lalu lintas yang kerap terjadi di titik itu.

Kebijakan larangan parkir di Jalan Adisucipto itu tak hanya berlaku saat kompleks Stadion Manahan dipakai untuk acara Pekan Kerja Nyata Revolusi Mental. Kebijakan tersebut akan diberlakukan seterusnya. Kebijakan tersebut sudah diterapkan sejak Minggu (20/8/2017).

warga Kelurahan Kadipiro, Banjarsari, Solo, Hayati, (42), mendukung kebijakan Dishub melarang penggunaan Jalan Adisucipto sebagai lahan parkir terutama bagi pengunjung Sunday Market setiap Minggu. “Keberadaan PKL di Sunday Market kini telah ditata sehingga tersedia cukup lahan parkir di kompleks Stadion Manahan yang bisa dipakai masyarakat,” kata Hayati seperti dikutip dari Solopos.com.

Dia menilai aktivitas keluar masuk mobil yang parkir di Jalan Adisucipto mengganggu para pengguna jalan lainnya.

Sementara itu, Kepala Dishub Solo, Hari Prihatno, menjelaskan selama ini Jalan Adisucipto ruas simpang empat Mapolresta Solo-Bundaran Manahan kerap dimanfaatkan sebagai tempat parkir pengunjung Sunday Market pada Minggu pagi hingga siang. Karena mengganggu kelancaran arus lalu lintas, Dishub memberlakukan larangan parkir di ruas jalan tersebut.

“Kami sudah memasang sejumlah tanda pengumuman di sepanjang Jalan Adisucipto yang menyatakan area tersebut tidak boleh lagi untuk parkir. Kawasan tersebut kini menjadi kawasan steril parkir,” kata Hari.

Dia mengarahkan pengunjung Sunday Market memilih tempat parkir di dalam kompleks Stadion Manahan. Hari menegaskan kebijakan larangan parkir tersebut juga berlaku pada hari biasa, Senin-Sabtu.

“Jalan Adisucipto termasuk jalan protokol yang banyak dilalui kendaraan sehingga jangan sampai aktivitas parkir di badan jalan mempengaruhi kelancaran arus lalu lintas. Kawasan itu bisa digunakan untuk parkir jika ada acara atau kebutuhan khusus,” jelas Hari.

 

Editor : Akrom Hazami

 

2 Penjambret yang Kerap Resahkan Warga Solo Ditangkap 

Dua pelaku penjambretan mempertanggungjawabkan perbuatannya di Mapolresta Surakarta. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Solo – Polresta Surakarta menangkap dua orang penjambret spesialis penumpang mobil. Keduanya adalah Nur Kholik (37) dan Bagas Mardiyansah (20) yang ditangkap di rumah masing-masing di desa yang sama, Tlobong RT 01 RW 09, Sidoharjo, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten. Penangkapan dilakukan pada Kamis (17/8/2017) pagi.

Kasatreskrim Polresta Surakarta, Kompol Agus Puryadi, kepada wartawan saat gelar perkara di Mapolresta Surakarta, Jumat (18/7/2017) pagi mengatakan, kedua pelaku diketahui kerap beraksi di wilayah Solo. Dari pendataan polisi, pelaku telah beraksi di delapan tempat. Biasanya, keduanya naik sepeda motor Vixion berboncengan. Dengan Bagas selaku eksekutor aksi.

Polisi menyita dua sepeda motor dari pelaku, yaitu sepeda motor Smash AD 6323 MT yang dibeli dari hasil jambret dan Vixion AD 2174 OV yang merupakan kendaraan dipakai untuk operasi. Polisi juga menyita STNK sebanyak enam unit kendaraan. Ada juga tiga unit ponsel dompet, sarung, kaos, dan jaket. “Kami sedang memeriksa kasus ini,” katanya.

Saat penangkapan di rumah pelaku, aparat terpaksa menyarangkan timah panas ke kaki Kholik. Sebab Kholik kedapatan berontak. Hal ini tampak saat Kholik dihadirkan dalam gelar perkara. Kholik berjalan dengan pincang, serta kakinya bagian kanan terlihat diperban.

Pengakuannya, kedua beraksi sejak tiga bulan. Pelaku menjambret tas korban yang mau masuk mobil. Jumlah yang didapat dari korban paling banyak sekitar Rp 2 juta. Uang hasil jambret dipakai untuk memenuhi kebutuhan seperti membeli sepeda motor, ponsel, dan lainnya. Kini keduanya harus mempertanggungjawabkan perbuatannya dengan dijerat Pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan hukuman penjara maksimal tujuh tahun.

Polisi mengimbau warga untuk lebih waspada terhadap aksi kejahatan yang sewaktu-waktu terjadi. Terlebih wilayah Solo yang sekarang kondisinya semakin padat.

Editor : Akrom Hazami

Pasar Gading Solo jadi Pasar Tradisional Terbaik Se-Jateng, Ini Rahasianya

Pedagang melakukan aktivitas di pasar. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Solo – Pasar Gading, Kota Solo, meraih penghargaan bergengsi berupa pengelolaan pasar terbaik di tingkat Jawa Tengah (Jateng). Diketahui, pasar ini mengusung Rerajut Ati yang berarti resik (bersih), ramah, jujur, aman, dan simpati.

Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Solo Subagiyo mengatakan, pihaknya akan menerima penghargaan yang diserahkan Gubernur Jateng di Semarang, Selasa (15/8/2017).

Sekadar info, Pasar Gading meraih peringkat pertama pasar tradisional dengan pengelolaan terbaik se-Jawa Tengah. Karena melibatkan pedagang pasar dengan mengusung motto Rerajut Ati tersebut. “Oembeli berbelanja di pasar itu merasa familiar,” kata Subagyo.

Sejauh ini terdapat kesinambungan antara pedagang, pengelola dan pembeli dalam beraktivitas di pasar. Keikutsertaan Pasar Gading, sebelumnya mendapatkan surat dari Pemkot Solo yang datang dari Pemprov Jateng.

Wali Kota Solo F.X Hadi Rudyatmo mengatakan pihaknya memang mempunyai komitmen memajukan pasar tradisional. “Tujuannya biar pasar tradisional bisa bersaing dengan pasar modern,” kata Hadi.

Komitmen itu ditunjukkan dengan merevitalisasi pasar tradisional. Selain itu, kata dia, pihaknya ingin menghilangkan kesan kumuh pasar tradisional yang selama ini masih tersemat.

Pasar Gading yang berada di jalan Veteran kota Solo. Pasar itu telah lama menjadi bagian dari tradisi dan kehidupan warga Kota Solo. Bahkan, pasar ini tetap eksis sampai sekarang dikarenakan para pedagang di pasar ini tidak semat-mata mencari keuntungan ekonomi, tetapi juga mengharapkan berkah dari Kyai Slamet, seekor kerbau bule keramat milik Raja.

Itu tak lepas dari letak Pasar Gading di lingkungan Keraton Surakarta. Sementara Kebo Bule Kyai Slamet adalah milik raja. Ada keyakinan dari para pedagang jika dagangannya dimakan Kyai Slamet alamat akan mendapat rejeki. Itulah sebabnya para pedagang di pasar ini terus bertahan dan berjualan di pasar Gading.

Faktor sejarah ini pula yang kemudian menginspirasi Pemerintah kota Solo untuk tetap memperhatikan nilai-nilai sejarah dan budaya dalam setiap pembangunan fasilitas publiknya, termasuk dalam mendesain bangunan pasar-pasar tradisionalnya yang akan direnovasi. Pemkot Surakarta sendiri mulai membangun Pasar Gadin pada tahun 2008.

Editor : Akrom Hazami