SMP Keluarga Awali Penerimaan Siswa Didik 2017 Dengan Permainan Liong

Pertunjukan Liong atau Dragon Dance beraksi di SMP Keluarga Kudus, Sabtu. (MuriaNewsCom/Merie)

MuriaNewsCom, Kudus – SMP Keluarga (SMPK) Kudus mempunyai cara unik untuk menyambut masa Penerimaan Siswa Didik 2017. Yakni dengan mengadakan permainan Liong atau Dragon Dance.

Dragon Dance dimainkan oleh siswa kelas VIII tahun ini.  Sejumlah guru hadir dalam kegiatan tersebut. Hadir pula Ketum Federasi Olahraga Barongsay Indonesia (Fobi) Pengkab Kudus Reza Adrianto, dan pelatih Aryawan Wijaya.

Kegiatan juga dihadiri Kabag Pretasi dan Pelatihan Pengprov Fobi Jawa Tengah Harjana Wijaya atau Tjia Eng Bie.

Editor : Akrom Hazami

 

Lulusan SMP di Jepara Pilih Sekolah di Luar Kota

Jpeg

MuriaNewsCom, Jepara – Selain banyak yang tidak melanjutkan sekolah. Siswa lulusan SMP di Kabupaten Jepara juga ternyata banyak yang memilih melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi di luar daerah.

Dari catatan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Jepara, saat ini tercatat 777 siswa lulusan sederaja SMP di Kabupaten Jepara yang memilih melanjutkan sekolah ke daerah lain.

Hal itu seperti yang dikatakan Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Jepara Ali Maftuh. Menurutnya,  ada banyak factor yang melatar belakangi banyaknya siswa lulusan SMP yang enggan melanjutkan sekolah di Kabupaten Jepara.

“Faktornya macam-macam kalau mereka memilih melanjutkan ke sekolah di luar daerah. Ada yang karena orang tua yang kerja di luar kota dan ada yang karena memang memilih sekolah yang mereka anggap lebih bagus dibanding di Jepara,” ungkapnya.

Sayangnya, lanjut Ali, sebagian besar siswa-siswa yang memilih melanjutkan sekolah ke luar daerah adalah siswa berprestasi. Itu yang kemudian menjadi kerugian tersendiri bagi Kabupaten Jepara.

“Kalau mereka memiliki prestasi di ajang nasional maupun internasional, yang dibawa pasti nama sekolahnya. Bukan nama kota asal dia. Itu yang menjadi kerugian tersendiri bagi Kabupaten Jepara karena banyak siswa berprestasi yang sekolah di luar daerah,” jelasnya.

Ia menambahkan, sebaliknya hanya ada sedikit siswa dari luar daerah yang sekolah di Kabupaten Jepara. Rata-rata mereka adalah siswa yang tinggal di wilayah perbatasan dengan Kabupaten Jepara, seperti Demak dan Pati.

“Kalau siswa luar daerah yang sekolah di Jepara setiap tahunnya rata-rata 200 anak. Yaitu anak-anak dari Kabupaten Demak yang tinggal di daerah perbatasan dengan Jepara,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Begini Teknis UN Gabungan yang Bakal Digelar di Jepara

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Jepara – Tahun ini, di Kabupaten Jepara masih ada tujuh sekolah tingkat SMP yang tidak dapat menggelar Ujian Nasional (UN) secara mandiri. Mereka terdiri dari dua SMP dan lima MTs.

Ketujuh sekolah tersebut yakni, SMP MIS Jabal Nur Bandengan, SMP IT Amal Insani, MTs Islamic Center, MTS Salafiyah Al Ikhlas Krapyak, MTS Nahdlatus Shibyan, MTs Urwatil Wutsqo, dan MTs Nurul Islam.

Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Jepara, Mustaqim Umar menerangkan,  berkait teknis penempatan peserta UN dari sekolah gabungan, peserta UN gabungan akan dipisah dengan peserta UN asli sekolah yang didatangi.

”Karena administrasi dari dua sekolah yang berbeda, jadi harus dipisahkan. Jadi ruangannya tetap harus dipisah, karena dari sekolah yang berbeda, administarsinya beda,” ujar Mustaqim, Selasa (3/5/2016).

Kondisi itu berbeda dengan UN di Karimunjawa, yang selama bertahun-tahun lalu juga menggelar UN gabungan, meski letak sekolah yang lain harus menyeberang lautan. Tahun inim sudah tidak ada sekolah yang bergabung ke sekolah lain. SMP Negeri 2 Karimunjawa, mulai tahun ini sudah bisa melaksanakan UN sendiri.

”Tahun lalu siswa SMP Negeri 2 Karimunjawa yang di Pulau Parang masih harus bergabung dengan siswa SMP Negei 1 Karimunjawa di Pulau Karimun Besar, tapi mulai tahun ini sudah bisa melaksanakan UN mandiri,” terangnya.

Selain SMP Negeri 1 dan 2 Karimunjawa, di wilayah terluar Kabupaten Jepara itu masih ada dua sekolah lain. Yaitu MTs Safinatul Huda Kemujan dan PKMB Dewandaru. ”Semuanya melaksanakan mandiri dengan pengawas gabungan,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Duh, 7 Sekolah di Jepara Ini Tak Bisa Laksanakan UN Secara Mandiri

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Jepara – Di zaman yang serba online ini, ternyata masih ada tujuh sekolah di Kabupaten Jepara yang tidak bisa mengikuti Ujian Nasional (UN) secara mandiri. Mereka harus mengelar UN secara gabungan. Ke-tujuh sekolah tersebut adalah tingkat SMP, terdiri dari dua SMP dan lima MTs.

Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Jepara, Mustaqim Umar menjelaskan, Ketujuh sekolah tersebut dipastikan menggelar UN gabungan lantaran belum memenuhi syarat menyelenggarakan UN yang digelar mulai Senin (9/5/2016) pekan depan.

Ke-tujuh sekolah tersebut yakni SMP MIS Jabal Nur Bandengan, SMP IT Amal Insani, MTs Islamic Center, MTS Salafiyah Al Ikhlas Krapyak, MTS Nahdlatus Shibyan, MTs Urwatil Wutsqo, dan MTs Nurul Islam.

”Tahun ini mereka memang tak bisa menggelar UN mandiri. Dua SMP dan lima MTs, itu karena tujuh sekolah tersebut belum memenuhi persyaratan sebagai pelaksana UN,” ujar Mustaqim, Selasa (3/5/2016).

Menurut dia,  beberapa faktor tujuh sekolah tersebut tak dapat melaksanakan UN berkait dengan akreditasi masing-masing sekolah. Selain itu, faktor lain yang membuat tujuh sekolah tersebut tidak dapat menyelenggarakan UN, lantaran sarana dan prasarananya tidak layak. Sehingga para siswa yang akan mengikuti UN terpaksa harus bergabung dengan sekolah lain yang ditunjuk.

“Tahun ini yang siswanya pasti bergabung dengan siswa sekolah lain yaitu SMP MIS Jabal Nur. Karena sudah dilihat dan sarana prasarananya belum layak. Sementara yang lain ada yang bergabung administrasinya saja,” ungkapnya.

Dia menambahkan, khusus di wilayah Terluar Jepara, pelaksanaan UN di Karimunjawa, tahun ini sudah tidak ada sekolah yang bergabung ke sekolah lain. SMP Negeri 2 Karimunjawa, mulai tahun ini sudah bisa melaksanakan UN sendiri.

”Tahun lalu siswa SMP Negeri 2 Karimunjawa yang di Pulau Parang masih harus bergabung dengan siswa SMP Negei 1 Karimunjawa di Pulau Karimun Besar, tapi mulai tahun ini sudah bisa melaksanakan UN mandiri,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Hebat, Siswa SMP 1 Mejobo Kudus Mahir Berpramuka

Pinru dan Wapinru latihan semapur di Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Pinru dan Wapinru latihan semapur di Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)kudus

 

KUDUS – SMP 1 Mejobo Kudus mendidik siswa-siswi supaya paham pengetahuan kepramukaan. Salah satunya mewajibkan seluruh Pimpinan Regu (Pinru) dan Wakil Pimpinan Regu (Wapinru) pramuka di setiap kelas.

Pratama regu Rajawali SMP 1 Mejobo Maulana Afif mengatakan, latihan kepramukaan bagi Pinru dan Wapinru di setiap kelas memang wajib diikuti. “Seluruh kelas wajib mengirimkan Pinru dan Wapinrunya untuk latihan,” kata Maulana.

Tujuan latihan untuk memberikan pengetahuan pramuka secara mendalam. Harapannya, Pinru dan Wapinru tersebut bisa menyalurkan pengetahuan pramukanya kepada seluruh angota.

“Untuk kelas VII itu ada 9 kelas. Sedangkan setiap kelas ada 4 regu. Setiap kelas mengirimkan Pinru putra putri, dan Wapinru putra putri. Bila ditotal ada 36 Pinru putra putri, dan 36 Wapinru putra putri,” katanya.

Latihan yang digelar tiap Sabtu pukul 14.30 WIB- 17.00 WIB tersebut diberikan pula pengetahuan kepramukaan sesuai dengan buku syarat kecakapan umum (SKU).

Mereka juga mempuyai jadwal latihan secara berkala. Untuk Rabu ini latihan semapur, tali temali, dan lainnya.

Selain itu, lanjut Afif, semapur tersebut merupakan suatu simbol komunikasi yang ada dalam ilmu kepramukaan. Seperti dengan melakukan komunikasi menggunakan dua buah bendera kecil. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)