English Competition Tandai Dimulainya Smasa Euforia 2017

Sejumlah peserta lomba story telling mempersiapkan diri mengikuti lomba EC di SMA 1 Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Smasa Euforia yang diselenggarakan rutin tiap tahun oleh SMA 1 Kudus, Minggu (23/4/2017) kembali dimulai. Dalam kegiatan tahun 2017 ini diawali dengan English Competition (EC).

Wiesma Irnanda, panitia kegiatan mengatakan, dalam Engglish Competition, terdapat beberapa kategori. Berbagai lomba dalam even ini tak hanya untuk tingkat SMA saja, tetapi juga untuk tingkat SMP, dan pesertanya dari wilayah eks-Karesidenan Pati.

“Kategorinya terdiri dari speech untuk SMP diikuti oleh 13 sekolah, story telling diikuti 25 sekolah. Ada juga news report 10 sekolah, speech tingkat SMA 10 sekolah, debat 6 sekolah dan speeling bee 4 sekolah,” katanya, kepada MuriaNewsCom.

Perlombaan menggunakan ruang-ruang kelas di kampus SMA 1 Kudus. Tiap ruang kelas, digunakan untuk satu cabang lomba, lengkap dengan panitia serta jurinya.

Untuk juri, dihadirkan dari berbagai wilayah. Seperti sejumlah dosen UMK, Dosen STIKES Cendekia Utama Kudus dan guru yang ahli membidangi kategori. Hasil dari juri bersifat mutlak, dan penilaian dilakukan tanpa campur tangan pihak luar. “Ini acara rutin, dan tahun ini terlaksana dengan meriah,” ungkap dia.

Editor : Ali Muntoha

 

Video – Wow! SMA 1 Kudus Rogoh Kocek Ratusan Juta untuk Selenggarakan UNBK

Komisi D DPRD Kudus saat sidak di SMA 1 Kudus (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Komisi D DPRD Kudus saat sidak di SMA 1 Kudus (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Pelaksanaan ujian nasional (UN) tingkat SMA sederajat yang berlangsung 4-6 April, sebagian sekolah sudah menggunakan sistem ujian nasional berbasis komputer (UNBK). Termasuk di Kudus, salah satunya adalah SMA 1.

Penyelenggaraan ujian nasional berbasis komputer ini, merupakan kali pertama bagi SMA 1 Kudus. Bahkan, untuk bisa menyelenggarakan ujian dengan sistem komputerisasi ini, pihak sekolah harus menggelontorkan dana hingga ratusan juta.

Kepala SMA 1 Kudus Shodiqun mengatakan, setidaknya lebih dari Rp 200 juta telah dihabiskan dalam persiapan UNBK. Jumlah tersebut, belum lagi ditambah dengan fasilitas lainnya, agar UN berjalan lancar.

“Rp 200 juta sudah dihabiskan untuk membeli perangkat komputer. Itu saja kurang, lantaran komputer yang disiapkan lebih 100 unit,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, biaya tersebut bersumber dari bantuan pemerintah dan bantuan itu diberikan langsung ke rekening sekolah, kemudian dibelanjakan untuk perlengkapan sarana prasarananya.

Saat bantuan didapat, kata dia, pihaknya langsung bertemu dengan Presiden Jokowi. Sebab hanya beberapa sekolah saja yang mendapatkan bantuan semacam itu.

Selain bantuan dari Jakarta, untuk melengkapi kebutuhan UNBK, pihaknya juga meminta bantuan dari alumni. Pelibatan alumni ini, lantaran kebutuhan untuk membeli server UNBK, termasuk server cadangan.

“Kami hanya ada dua server, padahal kebutuhannya adalah delapan unit termasuk cadangan. Sehingga, enam server yang kurang, kami mintakan ke para alumni,” ungkapnya.

Tidak hanya server dan komputer, pihak sekolah juga membutuhkan genset guna mengantisipasi adanya pemadaman listrik. Untuk genset, pihaknya menyewa sejumlah dua unit. Untuk satu unit, harga sewanya sebesar Rp 1,750  juta per hari.

Editor : Kholistiono

 

2 Remaja Diduga Membolos Sekolah, Langsung Diamankan Satpol PP Kudus

Dua remaja dibina di Pos Pol PP Kabupaten Kudus. ADA (14) siswa SMP N kaliwungu (kiri) dan IS (16) warga asal Tasikmalaya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Dua remaja dibina di Pos Pol PP Kabupaten Kudus. ADA (14) siswa SMP N kaliwungu (kiri) dan IS (16) warga asal Tasikmalaya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Dalam operasinya di wilayah lapangan Hawai lebih tepatnya di utara SMAN 2 Kudus, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kudus berhasil mengamankan dua anak yang diduga membolos sekolah.

Kasi Trantibum Satpol PP Kudus Syukrin Subiyanto melalaui anggota Trantibum Supriyadi mengatakan, dalam operasi ini pihaknya mendapatkan laporan dari warga sekitar lapangan Hawai tersebut bahwa banyak remaja berkumpul. ”Sebab lapangan Hawai ini sering dibuat nongkrong anak-anak sekolah atau anak punk disaat jam pelajaran sekolah,” paparnya.

Kedua remaja tersebut pun langsung dibawa ke Pos Satpol PP Kudus untuk dibina. Supriyadi melanjutkan, dari operasi tersebut ada sekitar sembilan anak. Yakni tiga anak berseragam sekolah, dan yang ke tujuh merupakan anak punk. Tetapi yang diamankan dua remaja laki-laki, dan yang lainnya berhasil melarikan diri.

”Yang berhasil kami amankan yaitu siswa yang bersekolah di SMPN di Kaliwungu dan satunya lagi remaja dari daerah Tasikmalaya. Dan ini kami bina, serta menghubungi keluarganya,” ujarnya.

Dia menambahkan, untuk siswa yang bersekolah di SMP Kaliwungu tersebut berinisial ADA (14) warga Karangampel, Kaliwungu. Dan satunya lagi IS (16) warga Tasikmalaya yang tinggal di Kudus sekitar satu tahun silam.

”Diketahui IS dahulunya bekerja di pabrik kerupuk daerah Pasuruhan, Kecamatan Jati. Namun kini menjadi pengangguran,” imbuhnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

SMA 1 Kudus Kembali Jadi RSBI

Shodiqun, Kepala SMA 1 Kudus (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Shodiqun, Kepala SMA 1 Kudus (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Setelah sebelumnya dihapuskan, kini beberapa sekolah kembali masuk dalam daftar Rintisan Sekolah Bertaraf International (RSBI). Di antaranya adalah SMA 1 Kudus, yang juga merupakan satu- satunya sekolah di Kudus yang lolos untuk RSBI.

Pernyataan itu disampaikan Kepala SMA 1 Kudus Shodiqun. Menurutnya, Semenjak 25 November lalu SMA 1 Kudus  kembali menjadi sekolah RSBI.

“Waktu itu dipanggil ke Jakarta, dan  di sana sudah dipersiapkan MoU untuk kembali menggunakan nama RSBI ini,”  katanya kepada MuriaNewsCom

Menurutnya, dalam MoU itu bukan hanya dari Indonesia saja yang hadir. Melainkan pula dari luar negeri seperti Malaysia dan Korea Selatan. Bagi dia, pihaknya juga tidak tahu sampai mendapat panggilan semacam itu.

Di tingkat Jawa Tengah, kata dia, hanya ada dua sekolah yang dipanggil untuk kembali menggunakan RSBI. Selain SMA 1 Kudus,  SMA 1 Semarang juga dipanggil dalam urusan yang sama.

Jawa Tengah memang hanya ada dua sekolah saja. Seperti halnya Jawa Timur yang juga hanya beberapa gelintir sekolah saja yang juga mendapatkannya. Bahkan, Yogyakarta hanya ada satu sekolah yang dipanggil ke Jakarta.

“Kalau total keseluruhan ada 150 sekolah. Dan itu seluruh Indonesia, dan yang dipanggil hanya pilihan saja. Kami juga senang dapat dipanggil,” ujarnya.

Dia mengatakan,  paling banyak yang dipanggil adalah sekolah swasta, khususnya di Jakarta yang memang banyak sekolah internasional yang berada disana. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Kepala Sekolah Pertukaran Luar Jawa Hanya Bisa Menunggu

Ilustrasi kepala sekolah

Ilustrasi kepala sekolah

 

KUDUS – Keempat kepala sekolah yang seharusnya ditukar ke luar Jawa selama 14 hari, hanya bisa menunggu tugas dari Pemkab Kudus saja sebagai kepala sekolah yang terpilih, mereka hanya siap melaksanakan saja.

Seperti halnya kepada SMA 2 Kudus Sri Haryoko, menurutnya kabar tentang dipindah sementara ke luar Jawa sudah didengar. Hanya keberangkatan masih belum diterimanya hingga kini.

”Belum dengar soal hal tersebut, namun yang pasti kami sebagai kepala sekolah menunggu kebijakan pemerintah soal pemindahan tersebut,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Meski diluar Jawa, pertukaran kepala sekolah sementara yang dilakukan selama 14 hari, dipastikan terdapat di daerah yang aman. Hal itu dipastikan lantaran lokasi tersebut sudah diperiksa dan tidak ada hal yang meresahkan.

Hal itu diungkapkan Kepala Disdikpora Kudus Joko Susilo, pada MuriaNewsCom, menurutnya keempat lokasi dilarikan aman dari kementerian. Bahkan masyarakat yang ada disana juga kebanyakan masyarakat dari Jawa, sehingga lebih mudah untuk adaptasi.

”Seperti halnya di SMA N Miado Kabupaten Teluk Bintuni Papua Barat, lokasi tersebut bakal ditempati oleh kepala sekolah SMA 2 Kudus. Kebanyakan masyarakat dan siswa yang sekolah juga berasal dari Jawa,” katanya.

Mengenai tempat tinggalnya, supaya pendidik dari asal Kudus itu akan ditempatkan di rumah guru. Hal itu untuk memudahkan dari tempat tinggal dengan sekolah.

Begitu juga dari SD 2 Besito Sutiono mengampu SD Impres 12 kabupaten Sorong Papua. Lokasinya juga berada di daerah perkotaan sehingga akses juga lebih mudah. (FAISOL HADI/TITIS W)

Sambut Hari Ibu, Anak dan Ibu Adu Kekompakan di Play Group Pelita Nusantara Kudus

Para ibu dan anak menunjukkan hasil lomba menyusun puzzle di Play Group dan Kindergarten Pelita Nusantara Kudus sambut hari Ibu 22 Desember besok. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Para ibu dan anak menunjukkan hasil lomba menyusun puzzle di Play Group dan Kindergarten Pelita Nusantara Kudus sambut hari Ibu 22 Desember besok. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Dalam memperingati hari ibu yang ke 87 di tahun 2015 ini. Play Group dan Kindergarten Pelita Nusantara Kudus mengadakan berbagai lomba. Lomba yang diikuti oleh 62 peserta didik dan ibu tersebut, tentunya dapat memberikan pelajaran psikomotorik terhadap anak.

Salah satu pendidik di Play Group dan Kindergarten Pelita Nusantara Kudus Trisye Sulistiowati mengutarakan, lomba ini ada lima kategori. Selain itu, yang mengikuti lomba tersebut bukan hanya dari peserta didik saja, namun pihak orang tua juga turut serta.

”Ke lima lomba tersebut meliputi, lomba menempel pola organ tubuh manusia yang diikuti 14 anak dari usia 2-3 tahun, lomba meronce (menempel) manik-manik diikuti 21 anak dari usia 3-4 tahun, loma memakai dan melipat baju diikuti 27 anak dari usia 4-6 tahun, lomba anak menyuapi ibu dengan puding, serta lomba ibu merias kue donat,” paparnya.

Diketahui, lomba yang terlaksana sejak Kamis (10/12/2015) hingga Sabtu (12/12/2015) di Play Group dan Kindergarten Pelita Nusantara di Perumahan Jati Indah No 99 Kudus ini diambil tiga kejuaraan di setiap cabang lomba. Sehingga menambah semangat para peserta lomba.

”Kegiatan itu memang diambil tiga kejuaraan dari setiap cabang lomba. Untuk hadiahnya khusus untuk lomba menempel pola organ tubuh yang diikuti anak usia 2-3 tahun akan diberi peralatan permainan semacam puzzle. Selebihnya untuk ke empat lomba lainnya diberikan peralatan sekolah,” ujarnya.

Dia menambahkan, dalam kegiatan ini pastinya dapat memberikan ilmu pengetahuan umum pada anak didik selain materi. Namun mereka juga bisa mempraktikan pengetahuannya. Seperti halnya memakai dan melipat baju, menyuapi ibu dan yang lainnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Gara-gara Sekolah Swasta di Kudus Hebat, Pemkab ‘Iri’

Kepala Disdikpora Kudus Joko Susilo. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Kepala Disdikpora Kudus Joko Susilo. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Banyaknya sekolah unggulan di tingkat swasta, menjadi hal yang membanggakan. Bahkan, Disdikpora Kudus sampai ‘iri’ yakni mengakui keunggulan kemampuan sekolah swasta.

Kepala Dinas Pendidikan,Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kudus Joko Susilo mengatakan di sekolah swasta banyak yang bagus. Mulai jenjang SD hingga SMA.

“Swasta kan banyak, ada SDIT yang terdapat di beberapa titik. Kemudian SMA juga ada satu – satunya yang lolos CBT 2015. Jadi membuktikan lebih bagus,” kata Joko kepada MurianewsCom.

Menurutnya, sekolah swasta lebih bagus karena siswanya memang dididik dengan baik. Sehingga hasilnya adalah siswa yang unggul pula. Dia mencontohkan, tahun lalu sekolah yang lolos UN CNB juga dari swasta, sedangkan untuk sekolah negeri, meskipun itu unggulan tidak lolos  tahun lalu.

“Saya juga melihat fisik siswa swasta lebih kuat, saya lihat waktu upacara TMMD di Desa Getassrabi Gebog beberapa waktu lalu. Banyak siswa termasuk anak-anak itu kuat  upacara meski udara sangat panas. Padahal jika upacara di Simpang Tujuh banyak diikuti sekolah negeri banyak yang pingsan,” imbuhnya. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Sekolah Negeri di Kudus Kalah Saing dengan Swasta

Kepala Disdikpora Kudus Joko Susilo. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Kepala Disdikpora Kudus Joko Susilo. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Banyaknya sekolah swasta, nampaknya menjadi saingan tersendiri bagi sekolah negeri. Sebab, dari data yang ada, sekolah swasta lebih cenderung diminati masyarakat ketimbang sekolah negeri.

Hal itu diungkapkan Kepala Disdikpora Kudus Joko Susilo. Menurutnya saat pertemuan beberapa waktu lalu di Jateng, diungkapkan kalau sekolah swasta lebih diminati warga ketimbang sekolah negeri.

“Dari data yang disampaikan beberapa waktu yang lalu saat pertemuan, jika persentase untuk tingkat SMA, 85 persen masih memilih sekolah swasta. Sedangkan sekolah negeri hanya 15 persen saja,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Untuk SMK juga mengalami hal yang serupa. Untuk SMK swasta, peminat masyarakat masih mendominasi angka 60 persen, sedangkan sisanya 40 persen baru SMK negeri.

Ini sangat aneh, ternyata bagi masyarakat sekolah swasta lebih banyak diminati. Dan sekolahkan sangat banyak sehinggga membuat tugas bersama bagi kami dan sekolah negeri untuk mengembangkannya.

“Bukan berarti sekolah swasta juga tidak dipikirkan. Namun lebih ke minat masyrakat yang memilih sekolah swasta ketimbang negeri,” jelasnya. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

55 Unit PMR Seluruh Sekolah di Kudus Sukses Dikukuhkan

Jpeg

Beberapa anggota PMR SMA 1 Kudus yang dikukuhkan dan siap menjadi mentor di beberapa SD di Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Sekitar 55 unit pengurus Pelang Merah Remaja (PMR) yang berbeda ditingkat SD, SMP dan SMA dikukuhkan di Museum Kretek Kudus, Kamis (17/9/2015). Pengukuhan PMR yang bertepatan dengan HUT PMI ke 70 ini, diikuti sebanyak 1000 anggota PMR mulai dari tingkat Mula, Madya dan Wira.

Ketua panitia kegiatan sekaligus sekretaris PMI Kudus Imam Santosa mengatakan, pengukuhan ke 55 unit PMR ini merupakan puncak acara dari kegiatan HUT PMI. Sebelum pengukuhan, PMI mengadakan acara bakti sosial. Di antaranya penyaluran air bersih, donor darah, pengobatan gratis, dan jalan sehat.

Untuk memberikan kegiatan yang lebih lengkap lagi, maka kepengurusan PMR di tingkat SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA/SMK dikukuhkan di acara HUT PMI tersebut.

Arsi salah satu panita juga mengungkapkan, dalam pengukuhan kepengurusan ini diikuti oleh sekolah yang mempunyai ekskul PMR. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan, sekolah lain juga bisa mengadakan ekskul tersebut di tahun ini.

Dia menilai, dalam kegiatan yang dilaksanakan di Museun Kretek bertujuan menciptakan suasana berbeda. Setiap siswa juga bisa mengenal salah satu tempat wisata dan bersejarah di Kudus. Dengan adanya kegiatan tersebut, pihaknya berharap misi dari bupati Kudus Musthofa untuk mengenalkan tempat wisata terealisasi lewat kegiatan ekstra sekolah. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Usai Dikukuhkan, PMR SMA 1 Kudus Siap Mementori Murid SD

Beberapa anggota PMR SMA 1 Kudus yang dikukuhkan dan siap menjadi mentor di beberapa SD di Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Bertepatan dengan HUT PMI ke 70, Palang Merah Remaja (PMR) SMA 1 Kudus dikukuhkan sebagai pengurus dan keanggotaan PMR di sekolahnya. Kegiatan yang berlangsung di Museum Kretek tersebut, mengukuhkan 200 anggota yang juga bersiap menjadi mentor dibeberapa SD di Kudus.

Materi yang diberikan untuk murid SD, juga disesuaikan dengan program yang dicanangkan anggoata PMR tersebut. Agar murid SD juga mengetahui dan memahami kegiatan kepalang merahan sejak dini. Ketua PMR SMA 1 Kudus Nadhif Sya’adillah A mengatakan, proses mengajar itu berupa penyuluhan, bimbingan terhadap murid SD.

”Kegiatan penyuluhan tersebut memberikan wawasan bagi murid SD. Juga tidak menutup kemungkinan untuk membuka kerja sama bagi sekolah SD yang belum mempunyai ekskul PMR tersebut,” ungkapnya.

Hal senada diiyakan Humas PMR 1 Kudus Virga Rosa Arumningtyas. Dia mengatakan, untuk kerja sama ini biasanya pihak SMA 1 Kudus mengirimkan sebanyak 1 tim yang beranggotakan 20 orang, yang berbagi tugas dalam kegiatan penyuluhan. Baik mulai dari pengenalan materi dan praktik.

”Untuk kegiatan penyuluhan tersebut biasanya pihak SD mengikutkan murid kelas empat dan lima saja. Secara tidak langsung mereka berperan sebagai kader PMR ketika nanti duduk di kelas enam untuk men-share ilmunya untuk adik kelasnya,” ujarnya.

Virga melanjutkan, untuk saat ini yang melakukan kerja sama dalam penyuluhan di antaranya SD 1 Jati Kulon, SD Wergu Wetan, dan SD IT Al Islam Kudus. Dan salah satu di antara SD itu, sudah ada yang menjuarai lomba PMR.

”SD yang berhasil dalam lomba PMR di kategori PMR teladan ialah SD IT Al Islam Kudus. Tetapi sebuah kejuaraan bukanlah tujuan utama, namun lebih kepada bagaimana membimbing murid SD berkegiatan sosial, dan memahami profesi sebagai PMR. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

 

Siswa Harus Bugar Lebih Dulu untuk Ikuti KBM

Basket menjadi keunggulan dari SMA 1 Kudus untuk menggalakkan kebugaran para siswa. (MuriaNewsCom/Hana Ratri)

Basket menjadi keunggulan dari SMA 1 Kudus untuk menggalakkan kebugaran para siswa. (MuriaNewsCom/Hana Ratri)

 

KUDUS – SMA 1 Kudus mengikuti kearifan lokal yang ada di Kabupaten Kudus, salah satunya dengan melatih kebugaran para siswa. Hal itu bertujuan agar dalam menerima pelajaran, mereka tidak mudah lemah sampai jam terakhir pelajaran.

”Kondisi kebugaran siswa sangat memprihatinkan. Ketika pelajaran pertama, kedua, ketiga mereka bersemangat, tapi ketika pelajaran keempat, kelima, sampai kedua belas kondisinya justru ngedrop. Ini yang harus diperbaiki agar kondisi siswa terus bugar saat menerima dan menyerap pelajaran yang diberikan guru,” kata Imam Santoso, wakasek SMA 1 Kudus yang juga guru olahraga ini.

Selain itu, guna menjunjung kearifan lokal, SMA 1 Kudus menerapkan aturan doa bersama sebelum memulai pelajaran. Imam mengatakan, hal itu merupakan contoh sederhana yang diberlakukan di SMA 1 Kudus.

”Setiap pagi, setiap siswa baik muslim atau nonmuslim berdoa bersama dengan bimbingan dari pemimpin doa melalui speaker yang dipasang pararel tiap kelas. Kalau yang nonmuslim kami juga sediakan tempat untuk berdoa bersama,” tambahnya.

Penerapan kearifan lokal ini tidak lepas dari isu-isu pendidikan yang akhir-akhir ini muncul. Seperti tidak diberlakukannya aturan sekolah lima hari di wilayah Kabupaten Kudus. Hal tersebut oleh Imam belum siap diterapkan terlebih di SMA 1 Kudus ini.

”Kondisi kebugaran siswa saja masih memprihatinkan, nanti kalau dipaksakan malah mereka lebih banyak mengeluhnya,” pungkas Imam. (HANA RATRI/TITIS W)

SMA 1 Kudus Masih Pertimbangkan untuk Terapkan Sekolah Lima Hari

Imam Santoso, Wakasek SMA 1 Kudus (MuriaNewsCom/Hana Ratri)

Imam Santoso, Wakasek SMA 1 Kudus (MuriaNewsCom/Hana Ratri)

 

KUDUS – Meski SMA 1 Kudus sudah mendapatkan amanat dari Dinas Pendidikan dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus mengenai penerapan kebijakan sekolah lima hari, namun SMA 1 Kudus sampai saat ini masih mempertimbangkan hal itu.

“Betul sudah dapat surat pemberitahuan dari dinas, tetapi kami belum menerapkan sekolah lima hari tersebut. Ada yang perlu dipertimbangkan, yakni kaitannya pada jam pulang sekolah yang sudah sore, belum lagi dengan ekstrakurikuler yang menambah waktu pulang anak lebih sore lagi,” kata Imam Santoso, Wakasek SMA 1 Kudus.

Menurut Imam, sudah ada beberapa daerah yang menerapkan sekolah lima hari, seperti Semarang, Purwodadi, dan sebagainya. Di Kudus sendiri aturan tersebut belum banyak diberlakukan di sekolah-sekolah, termasuk di SMA 1 Kudus.

Beberapa guru lainnya juga berpendapat yang sama dengan Imam. Seperti Ari Wijaya, guru mata pelajaran TIK SMA 1 Kudus. Menurutnya, sekolah lima hari tidak akan efektif.”Kalau sekolah lima hari pulangnya sore, kasihan para siswanya,” kata Ari.

Moh. Kanzunuddin, pengamat pendidikan dari FKIP UMK, juga mengatakan, jika sekolah lima hari akan diterapkan di Kudus, beberapa kegiatan non akademik yang diharapkan dapat mengembangkan potensi anak akan berkurang. Untuk itu, pihaknya meminta pemerintah agar mengkaji ulang penerapan aturan ini. (HANA RATRI/KHOLISTIONO)

Top, Dara Cantik Kudus Harumkan Indonesia di Korea

Monic ketika menerima plakat penghargaan dari Chung Yoon. (DOK)

Monic ketika menerima plakat penghargaan dari Chung Yoon. (DOK)

 

KUDUS – Tidak ada yang menduga prestasi Monica Janice Wibowo akan mengesankan seperti ini. Termasuk dirinya sendiri, yang berpikir dirinya hanya akan menjadi peserta di The 8th International KSA Science Fair 2015′ yang dihelat di Korea, 14-18 Agustus lalu.

Namun ibu kandungnya, Bondan Nawangsih berpesan kepadanya. “Jangan pesimistis. Lakukan saja yang terbaik!” begitu ujar beliau.
Jadilah Monic, panggilan akrabnya, meraih medali emas yang diserahkan langsung oleh Chung Yoon, Kepala Korea Science Academy. Dia berhasil mengalahkan ratusan pesaing dari puluhan negara yang ikut serta dalam even tersebut.

Perjalanan dara kelahiran Kudus, 21 januari 1999 ini cukup menarik. Monic yang duduk di kelas XII IPA SMA 1 Kudus awalnya bercita-cita menjadi seorang dokter. “Namun kok sepertinya jadi seorang dokter itu harus menghadapi jadwal yang sibuk, jadilah saya beralih keinginan sebagai pengusaha,” ujar Monic sambil memamerkan senyum manisnya.

Namun dirinya tak jauh-jauh dari dunia ilmiah. Oleh Susminingsih, gurunya di SMA 1 Kudus, Monic diminta untuk kirim abstrak tentang penilitian.

“Akhirnya saya kirim abstrak tentang pengubahan sandal jepit menjadi pengganti minyak tanah,” tandas remaja yang hobi membaca buku dan nonton film ini.

Sebagai awalan, abstraknya dikirim ke ke Center for Young Scientist (CYS) Jakarta untuk diseleksi di tingkat nasional. Hingga akhirnya didapatkan empat peserta terpilih dari seluruh Indonesia yang mewakili di Korea.

“Dari empat peserta itu, yang menarik ada tiga yang berasal dari SMA 1 Kudus. Saya, Abbytha dan Lafif. Satunya lagi dari Medan, Fialdy,” kata Monic.

Putri setinggi 165 sentimeter ini sempat menyatakan kekagumannya kepada Fialdy, yang ternyata sering mengikuti kompetisi serupa tingkat internasional.

Setibanya di Korea, Monic tidak bisa berleha-leha. Dirinya harus menyiapkan poster tentang riset yang dinilai juri yang berkeliling mengamati poster yang ada.

“Poster itu dipilih yang akan presentasi via oral. Akhirnya Fialdi dan saya yang terpilih,” imbuh penggemar segala minuman olahan jeruk ini. Tim dari Indonesia dapat giliran presentasi terakhir. Monic gugup karena presentasi para pesaingnya bagus-bagus.

“Tapi saya enjoy selama di sana, karena dalam hati tidak ada beban untuk wajib menang,” ujarnya.

Selain kompetisi utama yang diikutinya, selama di sana dia dan tiga temannya mendapat kuliah dan juga lomba kecil-kecilan
“Di kompetisi untuk terbangkan drone, Abbytha menang dan dapat hadiah dari panitia,” kata Monic.

Selama di Korea, mereka berempat didampingi perwakilan dari CYS Indonesia, Monika dan Aji. Mereka merasakan atmosfer seru, tidak terasa seperti lomba.

Tibalah saatnya closing ceremony dan diumumkan bahwa Monica keluar sebagai peraih gold medal, mengalahkan peraih silver dari Australia dan bronze dari Thailand.

“Waktu itu yang menyerahkan penghargaan adalah Chung Yoon, kepala Korea Science Academy,” ujar Monic.

Monic pun Mendapat tawaran beasiswa melanjutkan pendidikan tinggi di Korea Advanced Insitute of Science and Technology
“Namun saya lebih suka jadi pengusaha. Jadi sepertinya saya akan kuliah di Singapura saja, entah di Singapore Management Universitu atau Singapore Institute of Management,” beber Monic.

Dia mensyukuri kesempatan yang diraihnnya. Selain Dapat banyak kelas yang keren, juga berkesempatan mengikuti pengenalan akademi yang tidak bisa didapatkan di tempat lain

“Dan tentunya Bisa dapat teman dari luar negeri yang benar-benar dekat. Jalan-jalan di sekitar Korea yang ternyata berbeda dari yang biasanya terlihat di TV, tapi orang Korea baik-baik,” tandas Monic.
Dia berharap pencapaiannya bisa diteladani dan menjadi motivasi bagi orang lain dan tentunya adik kelasnya di SMA 1 Kudus, agar berprestasi lebih tinggi dari yang dicapai sebelumnya dan tak lekas berpuas diri. (IQBAL NA’IMY/AKROM HAZAMI)

3 Siswa SMA 1 Kudus Lomba Sains ke Korea Selatan

Shodiqun Kepala SMA 1 Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Shodiqun Kepala SMA 1 Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

KUDUS – Tiga siswa SMA 1 Kudus saat ini masih berada di Korea Selatan. Hal itu dilakukan lantaran mendapat panggilan dari Center For Young Scientists (CYS) yang berafiliasi dengan Surya University, untuk perlombaan sains atau karya ilmiah remaja (KIR) tingkat internasional.

Pembimbing sains SMA 1 Kudus Susminingsih menjelaskan, ketiga siswa itu ialah Abbytha Zweima A.R Wartono XI IPA 2, Rafif Elang Danendra XI IPA 5, dan Monica Janice Wibowo XII IPA 1. Ketiga siswa tersebut bersaing dengan jutaan siswa lainnya di dunia maya di Indonesia untuk bisa lolos seleksi perlombaan bergengsi di Korea Selatan tersebut.

”Bermula dari ke tiga siswa tersebut mengirimkan inti sari karya ilmilah penelitiannya, ke email CYS sekitar 3 bulan lalu. Setelah itu, mereka mendapat panggilan. Mereka lolos seleksi untuk ikut lomba KIR ke Korsel pada 13-19 Agustus 2015,” jelasnya.

Kepala SMA 1 Kudus Shodiqun mengatakan, tahap awal ketiga siswa harus bersaing dari sekolah se-Indonesia. Setelah lolos, mereka akan bersaing unjuk kepandaian dengan 28 negara di Korea Selatan. Saat ini SMA 1 Kudus masih menunggu hasil pasti dari pengumuman yang resmi. Sebab lomba terakhir pada tanggal 19 Agustus ini.

”Semoga siswa kami meraih juara. Materi yang disuguhkan pun bervariasi yaitu Fisika dan Kimia. Untuk tema KIR yang dibuat Abbytha Zweima A.R. Wartono tentang Furvural zat kimia bahan campuran industri sabun dan pewangi. Untuk Rafif Elang Danendra dengan produk pembuatan insektisida (pembunuh ulat), dengan menggunakan bahan buah pare. Sedangkan Monica Janice Wibowo dengan produk pengganti minyak tanah, menggunakan karet berbentuk zat kimia,” paparnya.
Menurutnya, dengan membawa materi yang bervariasi itulah semoga ketiga siswa memperoleh juara dan membawa nama Indonesia di kancah Internasional. KIR tersebut tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak sekolah. Baik guru pembimbing juga peran alumni yang membantu pengembangan pemikiran siswa. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Banyak Tangan Siswa MTs di Kudus Gemetar Saat Membatik. Kenapa?

Siswa belajar membatik di MTs MTs NU Manbaul Ulum, Kecamatan Gebog, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Siswa belajar membatik di MTs MTs NU Manbaul Ulum, Kecamatan Gebog, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Banyak tangan siswa MTs di Kudus yang gemetar saat membatik. Hal ini tampak dilakukan siswa MTs NU Manbaul Ulum, Kecamatan Gebog, Kudus, saat mengikuti kegiatan membatik.

Salah satu peserta membatik Alfiarurrohmaniyh mengatakan, dia memang pertama kali memegang canting.
”Gemetar tangan saya. Sebab harus menorehkan tinta atau malam tersebut ke atas kain dengan alat canting. Selain itu, torehan canting tersebut harus sesuai dengan garis polanya,” katanya.

Dia menilai latihan membatik memberikan manfaat banyak terhadap pengetahuan siswa. “Sebab rata rata anak muda sekarang terlalu mengunggulkan kebudayaan asing ketimbang kebudayaannya sendiri,” ujarnya.

Meskipun hanya latihan serta pengenalan sistem membatik, namun 45 siswa tersebut sangat antusias dengan kegiatan ini.

“Dalam kegiatan ini kami dikenalkan mulai dari motif batik. Seperti halnya batik Kudus itu terdiri dari motif cengkeh, rumah kembar niti semito mupun motif menara kudus, dan lainnya,” tambahnya.

Selain itu, kegiatan yang biasanya menggandeng pengusaha batik kudus Ummu Asiyati ini memang selalu memberikan kepuasan tersendiri bagi siswa. Sebab meraka bisa mendapatkan pengetahuan membatik.

Siswa juga diajari untuk membuat pola, membatik dengan canting, serta pencelupan kain batik untuk menghilangkan bekas malamnya.

Meskipun hanya sekadar pengenalan serta percobaan untuk membatik, siswa berharap setidaknya kegiatan itu bisa dilakukan satu bulan sekali atau 2 minggu sekali. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)

Fani Masturina, Jagoan Fisika dari SMA 2 Kudus

Fani Masturina (MuriaNewsCom/M Iqbal Na’Imy)

Fani Masturina (MuriaNewsCom/M Iqbal Na’Imy)

 

 

KUDUS – Fani Masturina hampir tak percaya ketika menerima surat dari Surya Foundation yang berisi tentang undangan mengikuti Asian Science Camp di Thailand. Ketika itu, dirinya tengah disibukkan dengan UN di sekolahnya SMA 2 Kudus.

“Jadi sambil tetap belajar, saya mengurus segala keperluan untuk berangkat ke Thailand, seperti paspor dan lain sebagainya,” ujar Fani kepada MuriaNewsCom, Kamis (13/8/2015).

Remaja kelahiran Jakarta, 23 April 1998 ini pun menjadi satu dari 10 delegasi Indonesia yang mengikuti even tersebut, 2-8 Agustus lalu. Selama disana, dia mengaku belajar banyak hal baru.

“Para delegasi mendapat berbagai macam pengalaman, inspirasi dan cultural knowlegde tentang Thailand. Saya juga beruntung bertemu banyak orang hebat dan mendapat kuliah dari mereka,” ujar dara berpostur 155 centi meter ini.

Diantara tokoh yang ditemuinya, adalah Hitoshi Murayama, peraih sejumlah penghargaan internasional yang mengajar kuliah umum. Ada juga peraih nobel 2002 di bidang kimia, Ada Yunat dan Yongyuth Yuthavong yang mengajar biokimia.

“Meski hanya sebagai partisipan, saya sangat bersyukur bisa merasakan kesempatan emas tersebut. Semoga kedepannya akan ada banyak kesempatan untuk melampaui prestasi tersebut,” ungkapnya.

Fani mengungkapkan, bahwa kakak kelasnyalah yang menjadi tokoh inspiratif dalam kehidupannya sehari-hari. “Ada Kak Ivan dan Kak Aviv yang sudah lebih dulu bersinar lewat prestasi dan pencapaian yang luar biasa. Mereka sering ikut kompetisi dan menjadi juara,” lanjut Fani.

Semangatnya terlecut ketika mendengar selentingan bahwa siswa SMA 2 Kudus tidak bisa berprestasi lebih baik ketimbang sekolah unggulan lainnya.”Itu yang membuat semangat saya semakin membara dan ingin membuktikan bahwa siswa SMA 2 Kudus juga bisa berprestasi di tingkat internasional. Tentu saja akan bikin bangga keluarga dan pihak sekolah,” imbuh Fani.

Selain di bidang Fisika, ternyata Fani juga jago dalam berbahasa. Buktinya, setelah tahun lalu didaulat menjadi wakil Kudus dalam debat Bahasa Inggris tingkat provinsi, pada 2015, Fani dan temannya ganti menjadi perwakilan dalam lomba debat Bahasa Indonesia.

“Hanya saja saya merasa gagal di lomba debat terakhir. Mungkin karena faktor ketidaktahuan dan kurang beruntung,” ungkapnya.

Ketika itu, dia dan rekan-rekannya gagal karena terbiasa mengikuti debat Bahasa Inggris, yang tata cara dan sistem penilaiannya jauh berbeda dibanding lomba debat Bahasa Indonesia.”Saya bahkan sempat keceplosan ngomong pakai Bahasa Inggris,” kata Fani.

Siswi kelas XII jurusan IPA ini merasa tiga tahun yang didapatnya ketika mengenyam masa SMA masih kurang. “Saya ingin mengulangi lomba debat terakhir. Namun mungkin di universitas nanti saya akan coba debat Bahasa Inggris yang semoga bisa mencapai level internasional,” tutup Fani. (IQBAL NA’IMY/KHOLISTIYONO)

Siswa di Kudus Akrab Gara-gara Main Sandal Teklek

Siswa mengikuti lomba balap sendal kayu atau biasa disebut teklek. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Siswa mengikuti lomba balap sendal kayu atau biasa disebut teklek. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Siswa MTs NU Nurul Huda Kaliwungu, mengadakan lomba balap sandal kayu atau biasa disebut teklek.
Kegiatan itu merupakan suatu acara tambahan seusai pulang sekolah. Kegiatan itu memang untuk mengisi waktu kosong siswa supaya bisa bermanfaat.

Salah satu siswa bernama Arif Rohmad menjelaskan, pihaknya senang mengikuti kegiatan tersebut. ”Meskipun hanya sekadar untuk mengisi waktu luangnya, namun kegiatan ini memang syarat akan kemeriahan,” katanya, Rabu (12/8/2015).

Kegiatan yang diikuti kelas tujuh tersebut, merupakan aplikasi dari kegiatan kepramukaan. Sehingga pengadaan lomba teklek bisa menghilangkan rasa jenuh akan rutinitas dalam kegiatan Pramuka.

”Kalau dengan berbagai jenis kegiatan semacam ini, memang membuat kita lebih betah. Sebab kalau Pramuka kan, materinya memang itu-itu saja. Kadang-kadang bosan juga. Nah, saat diadakan lomba teklek ini, kami senang sekali. Meski tidak ada hadiahnya,” paparnya.

Selain itu, lanjut Arif, lomba teklek ini juga sebagai salah satu cara untuk mengetahui kekompakan dari siswa itu sendiri. Apalagi saat berlomba, memang irama dari masing-masing peserta harus seirama agar bisa sampai ke garis finish.

”Setidaknya dengan adanya kegiatan ini, bisa menambah keakraban dengan siswa lainnya. Jadi lebih kenal satu sama lain,” imbuhnya. (EDY SUTRIYONO / AKROM HAZAMI)

Mbois Tenan, 3 Siswa SMA 1 Kudus Siap Bersaing di Korsel

ILUSTRASI MILIK SMA 1 Kudus.

ILUSTRASI MILIK SMA 1 Kudus.

 

KUDUS – Tiga Siswa SMA 1 Kudus menembus Korea selatan. Ketiganya merupakan tim yang akan mewakili Indonesia dalam lomba Karya Ilmiah Remaja (KIR) tingkat internasional.

“Tadi pagi jam 09.00 mereka berangkat ke Semarang untuk bertolak ke Jakarta. Pak Shodiqun (perwakilan SMA 1 Kudus, res) melepas ketiganya didampingi dua orang guru dari SMA 1 Kudus,” kata Imam Santoso, guru SMA 1 Kudus saat dikonfirmasi, Selasa (11/8/2015).

Ketiga siswa tersebut, Monica, Abbytha, dan Rafli, akan bersaing dengan peserta lain dari berbagai negara. Keberangkatan mereka diiringi dengan dukungan dan semangat dari kepala sekolah, guru, dan teman-teman sekelasnya. “Mereka ini terdiri dari kelas XI dan XII. Dua dari kelas XI, satu orang dari kelas XII. Mereka memang aktif dalam kegiatan KIR ini,” tambah Imam.

Dua guru yang ikut mendampingi yakni Ambar dan Kusminingsih. Keduanya merupakan guru Bahasa Indonesia dan Kimia.

Mereka hanya menemani ketiga murid tersebut sampai ke Jakarta saja. Setelah itu, ketiganya akan bertolak ke Seoul bersama kontestan lain dari Indonesia. (HANA RATRI/AKROM HAZAMI)

Ulang Tahun, SMA 1 Kudus Berobsesi Kumpulkan ”Balung Pisah” Para Alumni

 Shodiqun, Kepala SMA 1 Kudus. (MuriaNewsCom/Hana Ratri)


Shodiqun, Kepala SMA 1 Kudus. (MuriaNewsCom/Hana Ratri)

KUDUS – Hari ini, 1 Agustus 2015, SMA 1 Kudus merayakan ulang tahunnya yang ke-55. Shodiqun, Kepala SMA 1 Kudus saat ditemui MuriaNewsCom pagi ini, mengatakan dalam peringatan ulang tahun ini, pihaknya berharap seluruh alumni SMA 1 Kudus dapat bertemu kembali.

”Pada halal bihalal kemarin, kami juga kedatangan para alumni SMA 1 Kudus. Mengumpulkan balung pisah, artinya mengumpulkan kembali para alumni dalam acara tersebut. Kami berusaha agar pada ulang tahun SMA 1 Kudus, semua alumni dari berbagai angkatan dapat bertemu kembali,” ungkap Shodiqun.

Dalam kesempatan itu, Shodiqun menjelaskan sejarah singkat berdirinya SMA 1 Kudus ini. Menurut Shodiqun, SMA 1 Kudus resmi berdiri pada 1 Agustus 1960. Sebelum menempati di jalan Pramuka 41, Mlati Lor, SMA 1 Kudus menempati asrama militer Jati.

Meski saat itu sudah resmi berdiri, namun belum juga diresmikan. Baru pada 17 Agustus 1960, SMA 1 Kudus oleh Letkol Mudigdo yang saat itu menjabat sebagai Danrem 073 Makutarama Salatiga berkenan menggunting pita peresmian SMA 1 Kudus.

“Ulang tahun SMA 1 Kudus memang pada 1 Agustus, tetapi untuk perayaannya kami akan selenggarakan pada 15 Agustus 2015 nanti. Rencananya, akan ada acara potong tumpeng untuk para guru, kemudian setiap kelas juga mengadakan tumpengan. Ada rencana juga untuk jalan sehat keluarga besar SMA 1 Kudus. Nantinya akan keliling sekitar SMA 1 Kudus. Juga mengadakan ziarah ke makam dan silaturahmi dengan para pendahulu kami,” ungkap pria yang dilantik menjadi kepsek SMA 1 Kudus pada 28 Februari silam. (HANA RATRI/SUPRIYADI)

Latih Kedisiplinan dan Kerapian Peserta MOPD Melalui Karya Bakti

Siswa baru ikuti apel sebelum karya bakti dimulai (MuriaNewsCom/HANA RATRI)

Siswa baru ikuti apel sebelum karya bakti dimulai (MuriaNewsCom/HANA RATRI)

KUDUS – Di SMA 1 Kudus, Masa Orientasi Peserta Didik (MOPD) TA 2015/2016 dimeriahkan dengan acara karya bakti. Peserta didik baru diberikan tugas membawa tanaman hias dan alat kebersihan. Mereka diminta membersihkan seluruh areal SMA 1 Kudus yang dilaksanakan pukul 15.30 WIB.

“Tujuannya ya karena sekolah kami perlu dibersihkan lagi agar tampak lebih indah dan mengajarkan kedisiplinan, kebersihan, dan kerapian,” ungkap Reynaldi Meifantri, Ketua Osis SMA 1 Kudus, saat ditemui MuriaNewsCom di lapangan indoor SMA 1 Kudus.

Sebanyak 391 siswa baru tampak mengenakan topi dan rangkaian pita biru yang diikat pada rambut para siswa putri. Juga papan nama sebagai tanda pengenal masing-masing. Pantauan MuriaNewsCom melihat beberapa siswa membawa berbagai tanaman yang akan ditanam di sekitar lapangan SMA 1 Kudus.

“Mereka juga akan diajak membersihkan bagian luar sekolah, ” tambah Aldi, sapaan Reynaldi Meifantri.
Sebelumnya, para siswa baru ini mengumpulkan barang-barang yang akan disumbangkan ke panti asuhan pada hari Sabtu besok. Aldi menuturkan barang-barang seperti mie instan sudah terkumpul hari ini. (HANA RATRI/KHOLISTIONO)

SMA 1 Kudus Kembali Aktifkan Materi Kewirausahaan

Ari Wijaya, guru TIK SMA 1 Kudus yang menginspirasi siswa untuk berwirausaha mandiri. (MURIANEWS/HANA RATRI)

Ari Wijaya, guru TIK SMA 1 Kudus yang menginspirasi siswa untuk berwirausaha mandiri. (MURIANEWS/HANA RATRI)

KUDUS – Ari Wijaya, guru SMA 1 Kudus mengakui usaha yang dilakukan siswanya berbeda dengan berjualan online yang diajarkan. Namun, guru mata pelajaran TIK ini percaya mereka dapat melakukan pekerjaan tersebut dengan baik. Mengenai keuntungan yang mereka dapatkan, Ari mengatakan sudah pernah menjelaskan tentang laba atau rugi yang diterima jika menjalankan usaha. Dengan begitu, pihaknya percaya siswanya dapat mengelolanya dengan baik. Lanjutkan membaca

Siswa SMA 1 Kudus Aplikasikan Ilmu Wirausaha Sejak Dini

Wirausaha 1 (e)KUDUS – Libur sekolah bukan menjadi penghalang bagi Yasinta dan kawan-kawannya yang masuk dalam kelompok Karya Anak Bangsa (KAB). Kelompok yang terdiri 34 siswa kelas XI IPA 2 yang akan naik kelas XII IPA 2 SMA 1 Kudus. Seperti yang diberitakan Murianews.com, mereka tengah berwirausaha dengan berjualan takjil jelang buka puasa, ternyata tidak diketahui oleh sebagian guru-gurunya. Lanjutkan membaca