Jangan Salah Menyukai Tantangan

Kholistiono
cak.kholis@yahoo.co.id

SKIP CHALLENGE. Apakah sudah tahu dengan permainan ini, atau malah sudah pernah mencobanya? Jika sudah, sebaiknya jangan diulangi lagi, dan jika belum, pun sebaiknya tidak usah dicoba atau dilakukan.

Meski terkesan menantang, namun, tanpa kita sadari, permainan ini sangat berbahaya. Skip Challenge ini, dimainkan dengan cara menekan dada sekeras kerasnya selama beberapa waktu dan menyebabkan kejang dan pingsan. Setelah beberapa saat, orang yang ditekan dadanya itu akan sadar.

Mereka pingsan bukan tanpa sebab. Pingsannya itu  karena asupan oksigen ke otak terhenti beberapa saat. Hal itu bisa menyebabkan kerusakan sel-sel otak.

Saat ini, Skip Challenge sendiri tengah hits di kalangan remaja di beberapa kota di Indonesia. Hal ini terlihat cukup banyak postingan di sosmed Instagram, YouTube, dan lainnya.

Skip Challenge ini sebenarnya bukan hal baru dan bukan kali pertama dilakukan anak-anak remaja di Indonesia. Awal mulanya, tantangan ini dipraktikkan beberapa tahun yang lalu di Amerika Serikat, dengan sebutan Pass out Challenge.

Yang perlu dicatat,  pada 2008, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS pernah mengeluarkan laporan tentang tren permainan Skip Challenge dan bahayanya, serta sudah ada korbannya.

Pada 2014 lalu, anak umur 11 tahun dari Michigan meninggal di kamar tidurnya setelah orang tua anak itu menemukannya di sana.  Orang tuanya menduga, anaknya main Pass out Challenge.

Kemudian, organisasi nirlaba bernama The Dangerous Behaviors Foundation, Inc. (DBF) mengatakan, ada 26 kematian yang dilaporkan, sebagian besarnya adalah  remaja akhir Oktober 2014. Sejak 2007, ada 183 orang tewas, menurut LSM tersebut.

Melihat adanya video yang beredar di medsos, Skip Challenge ini biasanya dilakukan siswa ketika di sekolah atau tempat lain. Hal itu terlihat, dari mereka yang masih mengenakan seragam sekolah.

Ada beberapa alasan para remaja mengikuti tantangan Skip Challenge tersebut, selain karena tantangan ini memang bisa membuat pelakunya menjadi ketagihan. Anak-anak ingin mencari sebuah tantangan yang mungkin belum pernah ia coba sebelumnya.

Anak-anak dan remaja termasuk individu yang rentan terhadap berbagai fenomena yang ada di hadapannya. Mereka ingin mencari tantangan, dalam arti segala sesuatu yang berbahaya. Ada kecenderungan untuk mengejar tantangan, seperti halnya Skip Challenge ini.

Untuk itu, perlu ada langkah antisipasi agar ke depan tidak ada timbul korban akibat Skip Challenge ini. Peran orang tua dan guru sangat diperlukan untuk melakukan pengawasan terhadap anak atau siswa, agar tidak ada yang melakukan praktik Skip Callenge.

Guru dan orang tua hendaknya melakukan melakukan pendekatan terhadap anak untuk memberikan pemahaman mengenai bahayannya permainan ini. Perlu ada penjelasan yang lebih mudah diterima anak, agar anak justru malah penasaran untuk melakukan Skip Challenge.

Yang tak kalah penting adalah peran dari masyarakat, untuk tidak lagi mengupload video-video permainan Skip Challenge. Karena semakin banyak video yang dilihat, sangat mungkin remaja penasaran dan tertantang untu melakukannya. (*)

Berbahaya, Disdikpora Rembang Larang Siswa Bermain Skip Challenge

(Ilustrasi/Youtube)

MuriaNewsCom, Rembang – Maraknya penyebaran tren ‘Skip Challenge’ yang sedang hits di sosial media, membuat Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Rembang pertanyakan manfaatnya bagi siswa.

Skip Challenge’ sendiri merupakan tren dimana seseorang ditekan dadanya hingga pingsan lalu kejang-kejang dan kemudian kembali sadar. Saat ini tengah hits di kalangan pelajar di beberapa kota di Indonesia. Hal ini terlihat cukup banyak postingan di sosmed Instagram, YouTube, dan lainnya.

Kabid Pembinaan SMP pada Disdikpora Rembang Ahmad Solhan mempertanyakan hal ini. Menurutnya, apakah mereka melakukan sekali atau lebih dan merasa senang tidak ada yang tahu kecuali yang melakukan challenge tersebut.

Ditegaskannya, kegiatan itu bahaya sebab mereka pingsan karena suplai oksigen ke otak berhenti. “Iya kalau hitungan detik oksigen bisa kembali normal, kalau tidak gimana hasilnya? Apakah mungkin akan stroke atau sakit yang berkelanjutan bahkan berujung kematian?” tuturnya.

Kegiatan tersebut tidak ada sisi positifnya sebab nyawa  bukan mainan. Jadi pihaknya mengimbau kepada seluruh kepala sekolah  untuk berinteraksi secara intens dengan guru dan siswanya agar tidak meniru tren tersebut.

Terkait hal ini, pihaknya juga akan mengumpulkan kepala sekolah, kepala UPT Pendidikan, guru bimbingan konseling (BK) dan wali kelas. “Langkah ini perlu kita lakukan agar tidak ada siswa yang melakukan permainan ini, karena berbahaya,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono