Ratusan Koleksi Benda Purbakala di Desa Banjarejo ’Diobrak-abrik’ Orang

Tim ahli purbakala dari BPSMP Sangiran mulai melakukan proses penelitian fosil di Desa Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Tim ahli purbakala dari BPSMP Sangiran mulai melakukan proses penelitian fosil di Desa Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Ratusan benda purbakala di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus yang disimpan di rumah Kades Ahmad Taufik, Rabu (16/3/2016) diobrak-abrik orang. Dimana, koleksi benda purbakala berupa potongan fosil hewan purba yang sebelumnya ditata rapi di dalam rumah, jadi berpindah tempat. Yakni, disebar berserakan di teras rumah.

Jangan salah. Ditempatkannya ratusan fosil di teras itu bukan untuk dirusak. Tetapi, memang sengaja dilakukan oleh para petugas Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran yang memang tengah melangsungkan penelitian di situ.

”Sejak pagi tadi, sebagian fosil yang ada di dalam kita pindahkan ke teras rumah. Sengaja kita taruh di situ untuk memudahkan proses penelitian karena tempatnya lebih lapang,” kata Taufik.

Menurutnya, selain mengambil gambar, beberapa petugas juga melakukan proses konservasi fosil hewan purba berusia ribuan tahun yang ditemukan di wilayah Banjarejo dalam beberapa tahun terakhir. Beberapa potongan fosil juga dipilah-pilah berdasarkan bagian tubuh maupun jenis hewannya.

”Koleksi fosil ini jumlahnya sekitar 400 termasuk potongan kecil. Fosil paling besar adalah tulang kepala kerbau raksasa. Adapun jenis hewan purba berdasarkan fosil yang ditemukan jumlahya sekitar 11 binatang. Untuk lebih lengkapnya, nanti setelah proses penelitian selesai akan jelas semuanya,” sambung Taufik.

Seperti diberitakan, sebanyak 20 orang ahli purbakala dari BPSMP Sangiran mulai tiba di Desa Banjarejo Selasa (15/3/2016). Ahli purbakala itu dibagi menjadi tiga tim kecil yang melakukan tugas berbeda.

”Jadi, personel yang datang ke Banjarejo cukup komplit. Ada, ahli arkelogi, kimia, biologi, hingga desain komunikasi visual. Mereka melangsungkan penelitian selama dua pekan,” jelas Kepala BPSMP Sangiran Sukronedi.

Editor : Titis Ayu Winarni

Lakukan Penelitian di Banjarejo, Ahli Purbakala dari BPSMP Sangiran Dibagi Dalam 3 Tim Kecil

Tim Ahli Purbakala BPSMP Sangiran saat berada di rumah Kades Banjarejo (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Tim Ahli Purbakala BPSMP Sangiran saat berada di rumah Kades Banjarejo (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Sebanyak 20 orang ahli purbakala dari BPSMP Sangiran yang melakukan penelitian di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus akan dibagi menjadi tiga tim kecil. Masing-masing tim akan melakukan tugas berbeda.

“Nanti, rekan-rekan yang dilapangan akan dibagi jadi tiga tim. Tiap tim, bekerja sesuai spesifikasi yang dimiliki,” ungkap Ketua BPSMP Sangiran Sukronedi.

Dijelaskan, tim pertama akan melakukan penelitian, pengkajian dan mengungkap nilai-nilai penting dari penemuan benda purbakala yang ada di Banjarejo. Misalnya, soal struktur tanah, dan titik penemuan benda purbakala.

Kemudian, tim kedua akan melakukan upaya konservasi, registrasi, dan identifikasi benda purbakala yang sudah ditemukan selama ini. Mereka nanti akan melakukan perawatan terhadap benda purbakala agar awet dan tidak rusak. Beberapa potongan fosil juga akan dikumpulkan sesuai jenis hewannya.

Sedangkan, tim ketiga akan fokus pada pendisplaian dan penataan benda-benda purbakala biar terlihat rapi. Tim ini juga akan membuatkan tulisan singkat berisi cerita tentang benda purbakala tersebut.

“Jadi, personel yang datang ke Banjarejo cukup komplit. Ada ahli arkelogi, kimia, biologi, hingga desain komunikasi visual. Mereka akan melangsungkan penelitian selama dua minggu, terhitung mulai hari ini,” jelas Sukron.

Editor : Kholistiono

Puluhan Ahli Purbakala BPSMP Sangiran Mulai Lakukan Penelitian di Desa Banjarejo Grobogan

Tim Ahli Purbakala BPSMP Sangiran saat berada di rumah Kades Banjarejo (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Tim Ahli Purbakala BPSMP Sangiran saat berada di rumah Kades Banjarejo (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Janji Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran untuk melangsungkan penelitian di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, pada tahun 2016 ini ternyata bukan omong kosong. Hal ini dibuktikan dengan sudah datangnya puluhan ahli purbakala dari BPSM ke desa yang kaya penemuan benda purbakala itu, Selasa (15/3/2016).

“Tim dari BPSMP Sangiran sudah tiba sekitar pukul 10.00 WIB. Jumlah rombongan kali ini cukup banyak,yakni 20 orang,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Menurutnya, begitu sampai di Banjarejo, rombongan dari Sangiran itu langsung menuju ke rumahnya. Soalnya, semua koleksi benda purbakala yang ditemukan selama beberapa tahun terakhir kebetulan disimpan dirumahnya.

Taufik mengaku sangat lega sekaligus gembira dengan datangnya para pakar purbakala dari BPSMP Sangiran yang akan melangsungkan penelitian hingga dua pekan lamanya. Dengan kegiatan itu, setidaknya akan bisa mengungkap lebih banyak lagi misteri yang ada didesanya.

“Masyarakat Banjarejo sudah menantikan kedatangan ahli purbakala yang akan melangsungkan penelitian disini. Mudah-mudahan, pelaksanaan penelitian nanti berjalan lancar dan bisa mengungkap tabir yang ada di bumi Banjarejo ini,” jelasnya.

Dikatakan, beberapa waktu sebelumnya, sejumlah ahli juga sudah datang ke Banjarejo untuk melakukan observasi lapangan. Antara lain, dari Balai Arkeologi Yogyakarta dan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) berserta Disbudpar Jawa Tengah.

Editor : Kholistiono

Ini yang Bikin Bangga Kades Banjarejo Grobogan Terkait Banyaknya Penemuan Benda Purbakala

Kades Banjarejo Ahmad Taufik (MuriaNewsCom)

Kades Banjarejo Ahmad Taufik (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Banyaknya penemuan benda purbakala, cagar budaya serta aneka perhiasan di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus dalam beberapa tahun terakhir, memang menyedot perhatian banyak pihak. Yang pertama, tentu saja dari masyarakat. Hal ini ditandai dengan banyaknya pengunjung dari berbagai daerah yang datang kesana untuk melihat koleksi benda bersejarah.

Kemudian, para peneliti dari berbagai instansi pemerintahan juga sudah berdatangan untuk melakukan observasi lapangan. Seperti, dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran, Balai Arkeologi Yogyakarta, Disbudpar Jateng serta Disporabudpar Grobogan.

“Banyaknya penemuan disini memang menyedot perhatian dari berbagai pihak. Hal ini saya rasa luar biasa dan diluar dugaan,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Satu hal lagi yang perlu mendapat apresiasi dan bikin bangga adalah, makin meningkatnya kepedulian warga terhadap penemuan benda bersejarah. Dimana, benda-benda yang ditemukan langsung diserahkan dengan suka rela, agar menambah koleksi yang sudah ada.

“Kehadiran ribuan orang dari berbagai daerah ke sini, secara tidak langsung menjadi sarana edukasi buat warga sini. Sejak beberapa bulan terakhir, beragam temuan benda purbakala maupun cagar budaya langsung ditunjukkan pada saya. Terus terang, saya bangga dengan meningkatnya kepedulian warga akan benda warisan nenek moyang ini,” cetusnya.

Menurutnya, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, sebenarnya ada banyak benda kuno yang berhasil ditemukan warga. Sayangnya, sebagian besar benda bersejarah itu sudah dijual.

Kondisi itu, sempat membuat Taufik prihatin. Akhirnya, upaya penyelamatan awal dilakukan. “Agar tidak hilang semua, benda kuno yang masih disimpan warga dikumpulkan sebisanya. Bahkan, sekadar foto bendanya juga dikumpulkan karena nantinya akan bermanfaat untuk referensi penelitian,” kata Taufik.

Editor : Kholistiono

 

Baca juga : Meski Hanya Gambar, Benda Purbakala yang Ditemukan di Banjarejo Grobogan Terus Dikumpulkan

Mantap, Koleksi Fosil yang Ada di Banjarejo Bikin Takjub Ahli Fosil dari Balai Arkeologi

Ahli fosil dari Balai Arkeologi Yogjakarta Sofwan Nurwidi (lengan panjang) ditemani Plt Kadisporabudpar Grobogan Wiku Handoyo (baju hijau) sedang mengamati fosil yang ada di Desa Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Ahli fosil dari Balai Arkeologi Yogjakarta Sofwan Nurwidi (lengan panjang) ditemani Plt Kadisporabudpar Grobogan Wiku Handoyo (baju hijau) sedang mengamati fosil yang ada di Desa Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski baru pertama berkujung namun peneliti yang juga ahli paleontologi dari Balai Arkeologi Yogyakarta Sofwan Nurwidi, mengaku takjub dengan koleksi fosil purbakala yang ada di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. Hal itu diungkapkan ketika Sofwan melakukan observasi guna melihat koleksi fosil yang sementara ini tersimpan di rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik, Sabtu (20/2/2016).

”Koleksi fosil yang ada di sini selain banyak jumlahnya, ternyata sangat beragam jenisnya dan usianya juga sangat tua. Dari observasi ini bisa saya katakan kalau di Banjarejo ini sangat potensial untuk dijadikan tempat penelitian,” kata Sofwan.

Saat berkunjung ke Banjarejo tersebut, Sofwan tidak sendirian. Plt Disporabudpar Grobogan Wiku Handoyo beserta Kabid Kebudayaan Marwoto dan beberapa stafnya ikut pula menyertai ahli fosil tersebut ke Banjarejo.

Sofwan menjelaskan, dari pengamatannya ternyata ada banyak spesies hewan yang hidup di situ pada masa lampau. Antara lain, gajah, badak, kuda nil, penyu, banteng, kerbau, buaya, sapi, hiu, dan kerang.

Satu fosil lagi yang dinilai sangat fantastis adalah tulang kerbau raksasa. Dimana, selama ini sangat jarang ada penemuan tulang kepala kerbau dalam kondisi lengkap. Terutama, kedua tanduknya bisa ketemu semua. ”Fosil kepala kerbau ini luar biasa. Sangat jarang ada penemuan fosil kepala kerbau seperti yang ada di sini,” cetusnya.

Plt Kadisporabudpar Grobogan Wiku Handoyo menambahkan, kedatangan ahli fosil itu menindaklanjuti surat yang dilayangkan beberapa waktu sebelumnya. Dimana, pihaknya meminta agar penemuan aneka benda purbakala di Banjarejo agar diteliti pihak Balai Arkeologi. Selain itu, permohonan serupa juga disampaikan pada Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran dan Disbudpar Jawa Tengah.

”Dalam beberapa bulan terakhir, banyak temuan benda purbakala maupun cagar budaya di Banjarejo. Oleh sebab itu, kami berharap agar penemuan ini bisa diteliti lebih lanjut oleh mereka yang ahli di bidangnya. Kami juga berpesan agar temuan ini dirawat dan dijaga sebaik mungkin,” kata Wiku didampingi Kabid Kebudayaan Marwoto.

Editor : Titis Ayu Winarni

Desa Banjarejo Sekarang Punya Perpustakaan Prasejarah Mini

Sejumlah siswa sedang asyik membaca buku pengetahuan prasejarah (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Sejumlah siswa sedang asyik membaca buku pengetahuan prasejarah (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Selain bisa menyaksikan beragam koleksi benda cagar budaya dan purbakala, pengunjung di “Museum” Banjarejo, Kecamatan Gabus juga bisa menambah wawasan mengenai masalah prasejarah atau kehidupan dan peradaban masa lampau. Hal ini seiring adanya koleksi buku-buku prasejarah di lokasi penyimpanan ratusan barang temuan yang berada di rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

“Ya, baru-baru ini kita dapat sumbangan buku-buku pengetahuan prasejarah dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran. Jumlah bukunya ada 9 eksemplar ditambah ratusan brosur,” jelas Taufik.

Meski masih sedikit, namun keberadaan buku itu sudah dirasakan manfaatnya. Dimana, pengunjung yang datang bisa makin paham dengan masalah prasejarah setelah membaca buku tersebut.

Misalnya, mereka jadi tahu bentuk-bentuk hewan prasejarah yang pernah hidup di bumi jutaan tahun lalu. Kemudian, pengetahuan mengenai manusia purba juga bisa didapat dalam buku tersebut. Sebelumnya, informasi masalah itu hanya diketahui secara sepintas dari cerita orang maupun dalam pelajaran sekolah.

“Kalau mau membaca buku ini pasti pengetahuan masalah prasejarah bisa makin komplit. Soalnya, saya sudah membuktikan sendiri. Tetapi, untuk sekarang, buku prasejarah ini hanya bisa dibaca disini tidak boleh dipinjamkan dulu,” katanya.

Untuk menambah wacana, dia juga menambah koleksi bacaan semampunya. Yakni, dengan memperbanyak berita soal penemuan benda bersejarah di Banjarejo yang sudah ditayangkan di beberapa media. Baik media cetak maupun online.

Rencananya, dia juga akan mencari koleksi buku-buku bekas yang berkaitan dengan masalah purbakala. Hal itu perlu dilakukan agar jika ada banyak pengunjung yang datang tidak saling berebutan untuk membaca atau sekedar melihat-lihat buku bacaan.

“Kalau ada yang punya buku-buku seperti ini dan sudah tidak terpakai bisa ditaruh disini. Biar mendatangkan manfaat bagi orang banyak daripada tersimpan dalam lemari,” imbuh Taufik. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)